Downer-kei Gyaru Chapter 10 Bahasa Indonesia

 

Chapter 10 — Laporan

 

“Hmm, jadi kalian akhirnya resmi berpacaran ya,” kata Haru sambil bersantai di sofa, melihat ke arahku dan Tsukino. 

Kami baru saja memberitahu Haru dan Kijima bahwa kami telah menjadi sepasang kekasih. Aku merasa cukup tegang, tetapi mereka menerimanya dengan sangat mudah, sehingga aku merasa sedikit terkejut. 

“Ada apa, Nagacchi? Kenapa wajahmu terlihat bingung begitu?” 

“Tidak… aku tidak pernah menyangka kalian akan menerimanya dengan mudah…” 

“Yah, karena itu sudah seperti yang diperkirakan. Dari sudut pandang orang luar, kalian berdua jelas-jelas saling menyukai.” 

Ketika Haru berkata demikian, Kijima juga mengangguk seolah setuju. 

“Kalau kalian berdua mau bersama, itu pasti saat yang tepat. Ini memang sudah takdir.” 

“Wah… kamu benar-benar berpikir seperti karakter manga, ya.” 

Haru tertawa terbahak-bahak mendengar Kijima yang berbicara dengan percaya diri. Menurut mereka, perasaan suka kami sudah sangat jelas terlihat dari luar. 

Entah kenapa, rasanya… sangat memalukan, ya?” 

Wajah Tsukino memerah saat dia berkata demikian. Aku pun sangat setuju dengan perasaannya. 

Sudah, sudah, intinya, selamat ya buat kalian berdua!” 

Rasanya bakalan canggung kalau kalian berpisah, jadi tolong jangan sampai putus ya!” 

“Oi, Kijima! Jangan bilang begitu!” 

Tanpa kusadari, kedua orang ini sudah sepenuhnya nyaman di ruangan ini. Situasi ini hampir tidak memiliki privasi untukku, tetapi itu tidak masalah. Aku merasa jauh lebih bahagia dibandingkan saat sendirian. 

Duhhh… mana mungkin kami akan putus. Kentaro adalah milikku.” 

“Woahh~ Tsukino yang biasanya dingin bisa bersikap manis begini…” 

Sepertinya Tsukino sudah tidak merasa malu lagi. Kini, cuma aku satu-satunya yang merasa malu. 

...Eh, tapi seriusan, apa sebaiknya kita tidak terlalu mengganggu kalian?” 

Haru bertanya dengan wajah serius. Kami sudah membicarakan hal ini sebelumnya. 

“Selama kalian berdua baik-baik saja, aku harap kita bisa tetap seperti ini.” 

“Eh, seriusan? Memangnya kalian tidak merasa terganggu?” 

“Tentu saja tidak.” 

“Syukurlah… Jika kita tidak bisa bermain berempat lagi, rasanya jadi sangat mengecewakan.” 

“Itu juga yang aku rasakan.” 

Baik Haru maupun Kijima adalah teman yang berharga bagiku. Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada menjauh dari mereka. 

──── Teman berharga, ya. 

“Eh, kenapa kamu malah tertawa? Nagai.” 

“Ah, tidak… bukan apa-apa kok?” 

Aku menjawab sambil menggelengkan kepala pada Kijima yang terlihat bingung. Aku hanya sedikit terkejut dengan diriku sendiri yang berusaha menjaga hubungan persahabatan. 

“Yah… meskipun ada bagusnya perasaan cinta kalian membuahkan hasil, tapi belajar sudah mulai membosankan, ya…” 

“Benar…” 

“Ah! Aku ingin segera membuat kostum!” 

Haru berteriak sambil melihat bahan cosplay yang menumpuk di sudut ruangan. Kami sudah sepakat untuk fokus belajar selama periode ujian, tanpa melanjutkan pekerjaan. 

Meskipun begitu, mana mungkin untuk sepenuhnya menekan perasaan kami────. 

“Aku juga kesulitan menggambar manga… aku hanya bisa menggambar dua jam sehari, ini seperti siksaan.” 

“Eh… kamu sudah menggambar cukup banyak, kan?” 

“Apa yang kamu bicarakan, Yukikawa? Latihan menggambar harus lebih dari tiga jam sehari. Itu sudah menjadi norma.” 

“Kalau begitu sih kamu harus mengurangi waktu tidur, ya?” 

“Benar juga, itu bisa jadi solusi.” 

Kijima kadang bisa sangat bodoh. 

“Ah… ya, aku akan melakukannya… tapi aku tidak mau mengikuti remedial.” 

Sambil berkata begitu, Haru kembali menghadapi buku soal.

Aku mulai berkonsentrasi, dan setelah beberapa saat, aku merasa lelah. Ketiga  orang lainnya juga sepertinya sudah lelah, mereka secara bersamaan mengeluarkan napas panjang. 

“... Gimana kalau kita istirahat sebentar?” 

“Duhhh... kita sudah cukup fokus, ya. Rasanya sangat melelahkan, tapi berkat Nagacchi, aku mulai mengerti banyak hal. Terutama matematika!” 

Haru yang kurang pandai matematika, pada awalnya mengalami kesulitan yang cukup besar. 

Namun, setelah diajari menghafal rumus-rumus yang diperlukan, sepertinya dia sudah menguasai dasar-dasarnya. Meskipun masih ada banyak kesalahan di soal-soal penerapan, sepertinya dia bisa menghindari nilai merah. Terlepas apa dia bisa melebihi nilai rata-rata atau tidak itu tergantung pada usaha Haru. 

“Apa kita bubar untuk hari ini?” 

“Aku sih mau pulang. Karena hari ini kan ulang tahun adikku.” 

“Kalau begitu, aku juga pulang.” 

“Eh, kamu akan mengantarkanku?” 

Enggaklah, kamu yang harus mengantarkanku.” 

“Ahaha, aku tidak mengerti apa yang kamu katakan.” 

Sambil tertawa, Haru mulai bersiap untuk pulang bersama Kijima. 

Tsukino tampaknya akan tetap di sini dan tidak bergerak. 

“Eh iya, Nagacchi.” 

“Ada apa?” 

“Mulai besok, biarkan aku menyapamu seperti biasa di sekolah, ya.” 

Aku mengernyitkan dahi mendengar kata-kata Haru. 

“Karena ada Yuka dan Yamanaka, aku berusaha untuk tidak menyapamu. Tapi sekarang, sepertinya tidak diperlukan lagi, kan? Oh, tapi... jika kamu tidak mau, aku akan tetap seperti sebelumnya.” 

Haru berkata dengan nada menyesal. Jika diartikan, itu berarti Haru dan yang lainnya tidak berniat untuk bergaul dengan Yamanaka lagi. 

Aku tidak memiliki rasa simpati sama sekali terhadap mereka yang membuat Tsukino menangis… 

“Aku sudah berniat untuk bergaul denganmu sejak awal.” 

“Ya ampun, kamu ini memang bodoh.” 

Kijima mengatakannya dengan percaya diri, dan Haru memukulnya. 

“Jadi, bagaimana, Nagacchi?” 

“... Mana mungkin aku menolak. Sebenarnya, aku ingin kalian membantu.” 

“Membantu?” 

“Sedikit saja... Aku ingin memperbaiki sifatku yang menyebalkan ini dan menjadi lebih ramah.” 

Sambil berkata demikian, aku tersenyum pahit. 

Ketidaknyamananku terhadap hubungan sosial sudah ada dalam diriku sejak lama. Tidak ada alasan khusus. Aku memang sudah seperti ini dari awal. Aku ingin membenarkan diri sendiri. Aku terus mengatakan bahwa itu tidak bisa dihindari. 

Namun... setelah bertemu dengan Tsukino, Haru, dan Kijima, aku menyadari bahwa aku telah memanjakan diri sendiri. 

“Tidak enak rasanya jika terus-menerus dibantu oleh semua orang.”

Apa aku bisa berubah atau tidak, aku masih belum tahu. 

Tapi, aku ingin berubah. Supaya aku bisa mengatakan bahwa aku menyukai diriku yang sekarang. 

“Hmm… kamu sepertinya sangat bersemangat ya.” 

Tsukino menyolek perutku. Melihat wajahnya yang senang, sepertinya tujuanku tidak salah. 

“Kalau begitu, aku akan bergaul tanpa ragu!” 

Haru melihat bahan kostum dan menghela napas kecil. 

“... Sebenarnya, aku berpikir untuk berhenti cosplay setelah masuk SMA.” 

Dari sikapnya yang biasanya, aku tidak bisa membayangkan hal itu dan terdiam. Ternyata Haru juga memiliki masalah yang tidak diketahui orang lain. 

“Dulu saat aku SMP, teman-temanku hampir tahu tentang akun media sosialku. Karena malas, aku berpikir untuk mengungkapkannya sendiri, tapi... teman terdekatku bilang, ‘Haru tidak mungkin melakukan hal aneh seperti itu.’ Sejak saat itu, aku merasa lebih baik menyembunyikannya.” 

“Haru...” 

Dengan ekspresi rumit, Haru menggaruk pipinya. 

Meskipun wajahnya terlihat ceria, mata Haru menyiratkan nuansa kesedihan karena perasaannya yang ‘disangkal’. Di sana pasti ada luka mendalam di hatinya. 

“Ketika aku bingung tentang apa yang harus dilakukan... aku bertemu Tsukino dan Nagacchi di toko kerajinan. Jika tidak bertemu kalian berdua saat itu, mungkin kita tidak akan berkumpul seperti ini.” 

“... Ya, benar.” 

“Betul banget! Ahh~, aku senang tidak berhenti cosplay.” 

Haru dan Tsukino tertawa bersama. Meskipun kebetulan, aku merasa senang sebagai teman karena hatinya terselamatkan. 

“Jika ada teman sehobi, kamu tidak perlu menyembunyikan diri lagi! Aku akan berbicara tentang otaku dengan bebas di sekolah!” 

Kami semua mengangguk mendengar kata-kata Haru. 

Jika ada teman──── itu adalah kalimat yang klise. 

Namun, itu benar. 

Di antara kami, tidak ada satu pun yang meremehkan hobi orang lain. 

“... Jadi, ayo pulang, Kijima. Gadis imut Haruru-chan ini akan mengantarmu.” 

“Eh? Biasanya yang mengantar itu cowok, kan?” 

“Jangan lupa apa yang kamu katakan! Ayo!” 

Sambil bercanda, mereka berdua berdiri. 

“Sampai jumpa, kalian berdua!” 

“Sampai besok di sekolah.” 

Dengan kata-kata itu, mereka meninggalkan ruangan. Kami yang tersisa di ruangan saling memandang. 

“... Entah kenapa, anehnya jadi merasa gugup ya?” 

“Jangan bilang begitu... aku jadi ikutan gugup, tau.” 

Selain hari itu, ini adalah pertama kalinya kami berduaan seperti ini sejak kami mulai berpacaran. Kami berdua memang resmi menjadi sepasang kekasih, tetapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Pengalamanku masih kurang, levelku masih rendah. 

“Untuk sementara... bagaimana kalau kita minum kopi?” 

“Ya.” 

Kalau tidak tahu, aku tinggal melakukan saja seperti biasa. Aku membuatkan dua cangkir kopi dan meletakkannya di meja. 

“Terima kasih. Aku akan menikmatinya.” 

Iya...” 

Di ruangan yang tenang, kami berdua minum kopi. 

Awalnya aku gelisah dan tidak nyaman, tetapi saat seperti ini, aku menyadari bahwa hubungan kami tidak berubah sama sekali. 

Tiba-tiba aku menoleh ke samping, Tsukino sedang menghembuskan kopi untuk mendinginkannya. Melihat betapa imutnya gerakannya itu, aku tidak bisa menahan senyum. 

──── Seriusan...dia benar-benar sangat cantik. 

Siapa pun yang melihat pasti akan menganggap wajahnya sempurna. Rambut peraknya yang diwarnai sesuai dengan warna aslinya adalah keindahan yang tidak bisa dilupakan setelah sekali melihatnya.

Aku masih merasa cemas apakah ini semua hanyalah mimpi ketika memikirkan kalau aku memiliki pacar pertama seperti dirinya. Namun, dia pasti ada di sini, dan dari bahu kami yang hampir bersentuhan, aku merasakan suhu tubuhnya yang nyata. 

“... Kamu melihat apa? Rasanya bikin malu tau.” 

“Ah, maaf. Aku cuma terpesona sedikit.” 

“Eh... h-haa!? Tiba-tiba seperti itu—” 

Pipi Tsukino memerah. Melihat reaksinya yang begitu, rasa maluku juga muncul kembali. Kami berdua berusaha mengalihkan rasa malu dengan fokus minum kopi. 

──── Apa-apaan dengan situasi konyol ini

Rasanya begitu bodoh dan konyol sehingga tanpa disadari aku mulai tertawa. Sepertinya Tsukino merasakan hal yang sama, dan kami berdua tertawa lepas. 

“Ahahahaha! Bisa-bisanya aku merasa gugup seperti ini di depan Kentaro... rasanya konyol.” 

Seharusnya aku yang bilang begitu.” 

Karena pada dasarnya, kami berdua hanyalah otaku biasa. 

Tidak peduli seberapa berbeda penampilan kami, tidak peduli seberapa berbeda latar belakang kami, kami adalah teman yang menyukai anime dan manga. 

Tidak perlu takut. Jika kami berdua bersama, pasti akan selalu menyenangkan. 

“... Walau begitu, rasanya sulit dipercaya kita baru bertemu dua bulan yang lalu, ya?” 

“Kalau dipikir-pikir, rasanya memang terasa singkat.” 

“Biasanya tuh.... butuh waktu berapa lama sih orang-orang mulai berpacaran? Karena ini juga pertama kalinya aku punya pacar...” 

“‘Juga’... kamu sudah memutuskan bahwa aku juga yang pertama, ya?” 

Karena aku ini memang pacar pertamamu, ‘kan?” 

“... Iya sih.” 

Fakta bahwa aku belum pernah punya pacar sebelumnya adalah benar, dan aku memang mengolok-olok diri sendiri tentang hal itu, tapi saat diputuskan begitu, rasanya agak berbeda... seolah-olah harga diriku sedikit terluka. 

Dengar-dengar katanya hubungan percintaan antara dua orang yang belum berpengalaman itu cukup sulit, lho?” 

“Benarkah?” 

“Aku sudah mencari tahu beberapa hal... eh, rasanya seperti malah aku berharap terlalu banyak.” 

Tsukino memegangi pipinya sambil menggeliat. Sepertinya dia lebih menikmati situasi ini daripada yang aku bayangkan. 

──── Tapi... sebagai sesama yang belum berpengalaman... 

Aku penasaran apa aku dan Tsukino juga akan melakukannya suatu hari nanti? Yang disebut... “aktivitas malam”. 

Ak-Aku mau menenangkan diri dulu...” 

“Eh? O-Oke...” 

Aku berlari ke kamar mandi dan mencuci wajahku dengan air dingin. Apa sih yang sedang aku bayangkan? 

Karena kami sudah menjadi sepasang kekasih, aku yakin kami akan melakukan sesuatu seperti itu suatu hari nanti. Namun, memikirkannya sekarang tidak ada gunanya. Aku dan Tsukino baru saja mulai berpacaran. 

Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Aku masih seorang pemula dalam percintaan. Tentu saja, jika tiba-tiba ada banyak hal yang dikatakan, aku tidak bisa melakukannya. Pertama-tama, aku harus menyelesaikan hal-hal yang ada di depanku satu per satu. 

Fyuuh...” 

“...” 

“... Tsukino?”

Saat aku kembali ke ruang tamu, entah kenapa Tsukino menatapku dengan pandangan sinis

“... Dasar mesum.” 

Ap────” 

“Kamu pasti membayangkannya ketika aku bilangpertama kali, kan! Makanya, kamu pergi untuk menenangkan diri!” 

“Ti-Tidak... ah, tidak! Tapi! Kalau kamu bilang begitu, berarti Tsukino juga membayangkan sesuatu, kan!?” 

“H-Hah!? Eng-Eng-Eng-Enggak kok! Maksudku... hal-hal itu sebaiknya dipikirkan lebih... perlahan-lahan.” 

Kami berdua kehilangan kata-kata, dan keheningan menyelimuti kami sejenak

“... Haa, ayo hentikan? Membahas topik semacam ini.” 

“... Ya, benar.” 

“Sebenarnya, aku mungkin akan lebih senang jika kita menunggu sedikit lebih lama untuk hal-hal seperti itu.” 

Melihat Tsukino menundukkan kepala, aku mengerti bahwa ini adalah pembicaraan serius. 

“Aku tidak ingin disalahpahami, tapi bukan berarti aku tidak ingin melakukannya dengan Kentar, kok? Hanya saja, aku masih belum siap.” 

“... Aku tahu.” 

Karena, aku juga merasakannya. 

Jika kami melakukannya dengan terburu-buru, biasanya hasilnya tidak baik. Aku merasa, suatu saat nanti, hari itu akan datang dengan sendirinya. 

Mari kita menjalani semuanya dengan ritme kita sendiri. Santai, dan tidak terburu-buru.” 

“... Iya, benar juga.” 

Suasana yang biasa akhirnya kembali. 

Aku merasa senang dengan kembalinya waktu ini. 

“Yah, tapi. Sekarang kita sudah resmi menjadi sepasang kekasih, kan? Jadi mulai sekarang, kamu tidak perlu curi-curi pandang lagi.” 

Ap... Apa yang sedang kamu bicarakan?” 

“Entahlah, kira-kira tentang apa, ya~.” 

Tsukino tertawa nakal ketika melihat tanggapanku yang sangat gelisah.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama