Gimai Seikatsu Volume 17 Chapter 2

 Chapter 2 — Tahun Pertama Perkuliahan, Bulan Desember, Ayase Saki

 

Kekaisaran Romawi berada di puncak kemakmurannya tepat di depan mataku. Perkuliahan kedua hanya tinggal tersisa 10 menit. Kuliah Sejarah Masyarakat Barat yang diampu oleh dosen pembantu membahas tentang kejayaan Kekaisaran Romawi. Dia sedang menjelaskan tentang bagaimana wilayah kekaisaran mencapai puncaknya dan bagaimana pemerintahan yang sangat baik dijalankan.

Dosen pembantu tersebut berbicara dengan lancar dan fasih tentang kemakmuran kekaisaran, menunjukkan bahwa ia mungkin telah memberikan kuliah ini berkali-kali sebelumnya. Gambaran Kekaisaran Romawi pada masa kejayaannya muncul dengan jelas di hadapan mataku. Aku terpesona mendengarkan kuliah yang disampaikan dengan gaya yang menawan.

Kejayaan kekaisaran tampak kokoh berkat pemerintahan yang stabil. Tak tergoyahkan. Kuat dan kokoh. Namun—sebagai seseorang yang menyukai sejarah, meskipun pengetahuanku hanya sebatas ujian masuk universitas, aku tahu. Dari sini, Kekaisaran Romawi akan menuju kejatuhannya. Kekaisaran Romawi yang pernah megah akan terpecah menjadi dua bagian dan pada tahun 476, Kaisar Romawi Barat, Romulus Augustulus, akan dilengserkan. Dengan demikian, Kekaisaran Romawi Barat yang pernah mencapai puncak kejayaan akan menghadapi kehancuran.

Jika kalian ingin tahu lebih banyak daripada yang kusampaikan di sini, silakan merujuk pada literatur yang kusebutkan sebelumnya dan pelajari sendiri, kata dosen pembantu sebelum mengakhiri pembicaraannya tentang kemakmuran kekaisaran. Pada perkuliahan berikutnya, kemungkinan besar akan membahas tentang kemunduran kekaisaran.

Kejayaan pasti akan berakhir. Meskipun tampak stabil dan kokoh, sebenarnya benih kehancuran bisa tersembunyi di mana saja. Itulah ironi sejarah. Sambil merenungkan hal-hal semacam itu, dosen pembantu mengakhiri lima menit terakhir dengan obrolan ringan dan perkuliahan di jam kedua pun selesai.

Setelah keluar dari ruang perkuliahan, aku menuju kantin. Sambil berjalan, pikiranku melayang tentang stabilitas dan kemunduran Kekaisaran Romawi. Tiba-tiba, wajah ibu terlintas di benakku. Meskipun tampaknya tidak ada hubungannya, tapi aku segera menemukan alasannya.

Beberapa yang hari lalu, saat ibu memberi tahu tentang kehamilannya, dia mengatakan bahwa dia akhirnya memasuki masa stabil. Itu adalah hasil dari permainan asosiasi kata antara masa stabil dan stabil. Selain itu, mungkin bukan hanya itu...

Risiko bagi ibu dan anak akan berkurang seiring dengan masuknya masa stabil. Ini adalah periode di mana ibu hamil tidak perlu terlalu khawatir. Itulah sebabnya ibu membagikannya. Namun, setelah itu aku melakukan berbagai penelitian dan mengetahui lebih dalam tentang risiko yang meningkat lagi saat memasuki bulan terakhir dan saat melahirkan, yang kupelajari di kelas kesehatan. Terutama, kalimat yang menyebutkan bahwa pada usia ibu, itu termasuk dalam kategori kehamilan berisiko tinggi—meskipun setelahnya dibahas tentang pengurangan risiko akibat kemajuan kedokteran modern—aku ingat merasa seolah-olah jantungku serasa diremas.

Bahkan di dalam stabilitas, terdapat benih ketidakpastian. Ibu bukanlah Kekaisaran Romawi, jadi tidak selalu berakhir dengan tragedi. Proses besar yang dihancurkan oleh aliran waktu tidak bisa disamakan dengan stabilitas dan ketidakstabilan kesehatan individu.

Hal itu sudah jelas. Namun, otak manusia sepertinya hanya mampu berfungsi dengan baik dalam situasi seperti ini, dan imajinasi buruk muncul tanpa henti. Ketika aku mencoba mengingat kata masa stabil dan meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja, dalam sekejap aku terbayang bagaimana kalau’ yang muncul di benakku tanpa izin.

Kejayaan dan kehampaan. Kejayaan pasti berakhir. Tidak, tidak. Ibu tidak akan mengalami hal seperti itu. Tapi—jika seandainya saja.

Aku belum pernah mengalami keadaan di mana ada bayi di dalam rahim ibuku, atau bahkan di dalam tubuh orang terdekatku. Meskipun aku tahu secara teori, ketika hal itu terjadi di depan mata, hatiku tidak dapat mengikutinya. Aku bisa memahami tubuhku sendiri sampai batas tertentu, tetapi meskipun aku tinggal bersama ibu di rumah yang sama setiap hari, aku sama sekali tidak tahu bagaimana kondisi tubuhnya. Karena aku tidak mengetahuinya—aku jadi merasa takut.

 

◇◇◇◇

 

Dalam perjalanan pulang dari kantor desain. Aku melewati pintu keluar stasiun dan melintasi pusat perbelanjaan. Di bulan Desember, lampu hias di kota Shibuya dipenuhi dengan nuansa warna Natal, menciptakan suasana yang meriah. Di balik etalase, manekin-manik mengenakan busana yang menyerupai Sinterklas dan rusa kutub, menggoda orang-orang yang lewat dengan gerakan pinggul mereka. Di bawah kaki mereka, kotak-kotak hadiah yang dihiasi pita tersebar, dan di jendela, ada salju besar yang terbuat dari stiker putih yang menempel, semuanya terlihat meriah.

Sambil berjalan di tengah pemandangan itu, biasanya aku akan dengan santai memeriksa tren yang diterapkan pada pakaian manekin, tetapi sekarang aku lebih tertarik pada papan iklan apotek dan fasilitas kesehatan. Hanya dengan melihat tanda palang merah di iklan digital yang terpampang di dinding gedung, jantungku berdegup kencang, dan ketika aku menemukan kata-kata seperti kehamilan, ‘persalinan’, dan ‘pengasuhan anak dalam iklan, aku tak bisa menahan diri untuk menatapnya. Setiap kali aku merasa kakiku akan berhenti, aku buru-buru mempercepat langkahku.

Aku merasa aneh. Padahal ibuku yang hamil dan melahirkan, bukan aku.

Tak peduli seberapa banyak aku mencemaskannya, hal itu takkan mengubah apa pun, dan tidak ada gunanya khawatir. Di tambah lagi, ini adalah kehamilan kedua bagi ibu, dan dia pasti tahu dengan baik apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Aku tidak perlu merasa cemas.

Namun—.

Aku mempercepat langkahku dan keluar dari pusat perbelanjaan. Melalui jalan di samping taman, aku akhirnya melihat cahaya dari apartemen dan merasa lega.

Setibanya di rumah, aku membuka pintu dan menyapa, Aku pulang, dan suara menjawab, Selamat datang kembali. Ibuku, yang mengambil cuti dari pekerjaannya sebagai bartender dan menjadi ibu rumah tangga, tidak berubah sama sekali. Dengan senyuman yang sama seperti biasa, dia menjawab pertanyaan samarku, Bagaimana keadaanmu, bu? dengan, Semuanya baik-baik saja." Aku tidak bisa menahan diri untuk menatap perutnya yang semakin membesar, meskipun perutnya belum terlihat jelas. Ketika ibu menyadariku menatapnya, dia tersenyum sambil berkata, Menatapnya seperti itu tidak akan mengubah apa pun, loh?

Ibuku tampak normal. Dia berperilaku seperti biasa sesuai dengan pernyataannya, dan dia berharap aku juga bisa bersikap normal. Dan sejauh ini, tidak ada tanda-tanda perubahan.

Meskipun tidak ada perubahan yang terjadi, mengapa aku merasa tidak bisa merasa normal seperti ini?

Yosh,”

Ah, biar aku yang mengangkatnya!

Aku mengatakan itu saat ibu mencoba meletakkan lobak besar di atas talenan.

Eh? Apa?

Satu lobak besar sudah terletak di atas talenan, dan saat aku berbicara, itu sudah dipotong setengah. Ibu dengan cepat membungkus bagian yang masih ada daunnya dengan kertas dapur dan memasukkannya ke dalam lemari sayuran. Dia kemudian mengeluarkan ikan.

Hari ini aku berencana membuat lobak dengan ikan buri, katanya.

Ah, ya.

Jadi, apa kamu tadi mengatakan sesuatu?

…Aku bilang aku akan membantu.

Kalau begitu, bisakah kamu mengupas dan memotong lobak?

“Iya. Aku akan meletakkan barang-barangku dulu.

Aku kembali ke kamar untuk meletakkan barang-barangku dan berganti pakaian. Aku harus cepat kembali ke dapur untuk membantu. Sambil menggantung jas yang biasa kupakai ke kantor, aku merenungkan tindakanku sebelumnya.

Setiap penyimpangan dari rutinitas biasa pasti akan terlihat jelas. Pengecualian menciptakan makna. Dengan logika itu, mengapa hatiku bergetar meskipun tidak ada yang terjadi?

Jawabannya sederhana.

Karena akulah yang telah berubah. Perasaanku’-lah yang menciptakan pengecualian itu.

 

◇◇◇◇

 

Hari-hari berlalu saat aku mencoba mempertahankan ketenanganku dan mengingat bahwa semuanya baik-baik saja.

Tiga hari kemudian. Ketika aku pulang ke rumah, tidak ada jawaban untuk sapaanku, dan aku merasa curiga saat melihat ke ruang tamu.

Oh, aku merasa bingung sejenak. Di musim dingin, ibu biasanya duduk di depan televisi seperti raja di dalam kotatsu, tetapi sekarang tidak ada sosok ibu di sana. Saat aku mengalihkan pandanganku ke arah sofa yang dipindahkan ke sudut, aku melihat ibu terbaring dengan mata tertutup.

Aku panik karena dia ada di sana tetapi tidak menjawab. Ketika aku memanggilnya, dia membuka matanya sedikit.

Apa ibu baik-baik saja?

Dengan suara yang selalu ceria, dia menjawab, “Aku baik-baik saja, aku baik-baik saja, tetapi aku merasa wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya. Meskipun tidak seputih kertas, warnanya tampak seperti saat mengalami anemia.

Aku bergegas ke kamar tidur dan mengambil selimut. Setelah kembali ke ruang tamu, aku menyelinuti ibu yang masih terbaring di sana. Aku juga membawa air minum dan handuk, meletakkannya di meja rendah di samping sofa, di tempat yang bisa dijangkaunya. Sebenarnya, aku pikir air hangat lebih baik daripada air dingin, tapi aku harus merebus air terlebih dahulu.

Aku sedikit menaikkan suhu pemanas. Tidak baik membiarkannya kedinginan.

Saki, kamu sangat cekatan, kata ibu sambil tertawa.

Meskipun dia mengatakan itu, sampai sejauh ini, perawatannya masih dalam batas yang bisa kubayangkan ketika dia sakit atau mengalami menstruasi yang berat.

Aku hanya melakukan hal yang seharusnya, jawabku berusaha mengeluarkan suara yang normal, tetapi suaraku terdengar kaku dan tegang.

Meskipun ibuku tersenyum, dia masih tidak berusaha untuk bangkit.

“Ibu bisa tinggal di sini dan beristirahat. Aku akan membuat makan malam nanti.

Oh, kalau begitu, boleh aku menyerahkannya padamu?

Ya. Serahkan saja padaku.

Malam itu, karena ayah tiri pulang lebih awal dan membantu, aku bisa menjalankan pekerjaan rumah seperti biasa meskipun ibu terbaring. Ayah tiri tamoak terkejut sejenak saat melihat ibu yang beristirahat di sofa, tetapi ia tidak menunjukkan ketegangan seperti diriku. Aku merasa heran apa pengalaman bisa menenangkan seseorang sampai sebegitunya.

Aku bahkan mulai berpikir bahwa akulah satu-satunya yang merasa cemas dan tertekan di dalam rumah ini. Aku jadi berharap seandainya Yuuta ada di sini bersamaku.

Aku tidak menyangka bahwa satu-satunya perubahan, yaitu kehamilan ibuku, akan berdampak begitu besar pada perasaanku. Itulah yang kupikirkan.

Aku bahkan merasa tidak bisa merasakan rasa makan malam.

Ke mana perginya semua ketenanganku?

 

◇◇◇◇

 

Keesokan harinya adalah hari Jumat, dan akhir pekan sudah di depan mata.

Aku berusaha untuk bersikap normal saat menuju universitas.

Hari ini, aku memiliki kuliah bahasa Prancis, yang merupakan bahasa asing keduaku, di jam kedua. Aku bertemu dengan Kyouka dan Mayu di sana. Setelah itu, kami akan memiliki waktu istirahat makan siang, jadi kami bertiga bisa makan bersama. Aku merasa sedikit lega. Mungkin kedua orang itu akan bersikap seperti biasa. Meskipun aku belum bisa mengatakan bahwa hubunganku dengan mereka sedekat seperti Maaya, aku merasa jika aku berbicara dengan mereka tentang hal-hal sepele, aku bisa mengingat kembali perasaanku yang biasa.

 

Setelah melewati jam perkuliahan pertama dan istirahat sejenak, aku pindah ke ruang kuliah, lalu menemukan Kyouka serta Mayu yang sudah ada di dalam kelas, membuka buku pelajaran di atas meja.

Aku berpikir bahwa jarang sekali mereka datang begitu awal, lalu aku duduk di sebelah mereka.

Saki, kamu tampak santai banget, ya.” kata Kyouka.

“Maksudnya santai?

Ketika aku bertanya balik, Kyouka dan Mayu menunjukkan wajah aneh.

Tidak, hari ini kita bakalan giliran kita, kan, membaca dan menerjemahkan?

Eh?

Aku seketika merasa panik dan mencoba mengingat kembali. Dalam kelas bahasa Prancis, pada pertemuan pertama, kami dilarang berpindah tempat duduk oleh dosen. Alasannya adalah dosen tersebut selalu meminta kami membaca buku pelajaran dan menerjemahkannya berdasarkan urutan tempat duduk. Minggu lalu, kami sudah dibaca hingga deretan sebelah kami.

Jadi, tidak peduli bagaimana aku memikirkannya, hari ini memang giliran kami.

“Jangan bilang, kamu lupa? tanya Mayu, dan aku mengangguk sambil merasa canggung.

Aku harus memeriksa pengucapan dan arti kata-kata tersebut, jika tidak, itu akan menjadi bencana yang cukup besar. Aku harus bersiap-siap untuk membaca dengan terputus-putus, mengaku tidak bisa membaca kata-kata yang tidak kuketahui, dan bersiap untuk ditertawakan karena terjemahan yang aneh. Astaga. Ini sungguh kesalahan besar. Aku hanya melakukan persiapan seadanya.

“Tumben-tumbennya Saki melupakan hal seperti ini.

Aku sudah memeriksa kata-kata yang mungkin muncul sebelum dan sesudahnya, jadi kamu boleh melihatnya jika mau?

Mayu menggeser buku teksnya ke arah aku. Terima kasih, jawabku sambil menundukkan kepala.

Beneran tumben banget Saki sampai melupakan PR-nya!

Kyouka, kamu tidak perlu mengulanginya sampai dua kali juga. Namun, aku tidak ingat kapan terakhir kali aku melakukan kesalahan seperti ini.

Dengan bantuan persiapan Mayu, aku berhasil melewati perkuliahan tersebut. Ketika jam kedua berakhir, aku merasa sangat kelelahan secara mental.

Terima kasih atas kekuatan persahabatan! Guru pelupa!

Menjadi murid dari guru pelupa berarti Kyouka ingin melupakan sesuatu?

“Kurasa dia hanya menggodaku...

Aku menatap Kyouka dengan tajam karena sudah dipanggil dengan nama yang tidak menunjukkan rasa hormat.

“Yah, itu tidak penting.

Jika itu tidak penting, tolong jangan panggil aku dengan julukan aneh seperti itu. Meskipun begitu, aku merasa lega dengan perdebatan konyol yang sesuai dengan dugaanku.

Ayo ke kantin! Aku sudah lapar nih!

Kyouka berkata sambil mengabaikan tatapanku. Karena aku tidak keberatan dengan pendapat itu, kami bertiga bergerak menuju kafetaria (atau lebih tepatnya, kantin) di kampus.

Aku menatap papan pengumuman yang menampilkan menu hari ini sambil berpikir tentang apa yang akan kumakan. Oyakodon atau chuka-don? Makanan dalam mangkuk harganya cukup terjangkau.

Bukannya itu terdengar seperti bukan makan siang para mahasiswi muda?

Jangan berpikir bahwa menu di kafetaria di kampus wanita semuanya adalah makanan yang stylish. Itu hanya ilusi. Produk-produk yang ditawarkan kepada mahasiswi yang harus menghemat uang selalu ada untuk memenuhi kebutuhan para gadis di masa-masa yang membutuhkan penghematan. Jadi, tidak mengherankan jika tempat ini cukup ramai.

Dan jujur saja, keuanganku untuk bulan ini cukup sulit. Karena setelah ini, aku harus membeli hadiah untuk Yuuta.

Ketika aku sedang mempertimbangkan pilihan, Kyouka yang berdiri tepat di depanku mulai berbicara. Sepertinya dia tidak memiliki pilihan untuk hanya diam dan antre.

Apa yang akan kamu berikan sebagai hadiah?

“Hah?

Tiba-tiba apa sih yang dia bicarakan?

“Sebentar lagi Natal, ‘kan? Apa yang akan kamu berikan untuk pacarmu? Aku ingin bertanya pada Shisho untuk referensi.

Hah? Aku belum memikirkannya. Dan tolong jangan panggil aku Shisho.

Sekarang, guru apa lagi ini?

“Shisho Natal.

Kalau begitu, sebaiknya kamu pergi ke Finlandia saja untuk mencarinya.

Aku lebih menyukai Saki yang lebih berkelas daripada kakek berjanggut itu.

Mendengar itu, Mayu yang biasanya pendiam tiba-tiba membantah.

Kyouka, jika kamu memperlakukan orang tua seperti itu, Sinterklas tidak akan datang. Dan ingat, hadiah itu seharusnya membuat penerimanya senang, bukan? Apa yang kamu pilih berdasarkan selera mu tidak selalu benar. Itu tergantung pada orang yang kamu berikan.

Aku menyukai kakek berjanggut itu. Tapi, seleranya pasti kuno! Lihat saja kostumnya!

Itu bukan kostum.

Kalau begitu, apa?

Kyouka bertanya padaku. Ketika aku kebingungan menjawab, Mayu mengambil alih.

Yah, mungkin itu pakaian kerja tradisional. Betul kan, Saki? Seperti pakaian pendeta.

Ya... mungkin.

Menurutku itu mungkin pakaian uskup atau semacamnya. Jika kita mengelompokkan pakaian yang dikenakan oleh orang-orang religius, itu mungkin mirip... iya ‘kan?

Apa aku akan dimarahi? Semoga tidak.

Dan Kyouka, kamu justru mengabaikan sesuatu.

Apa?

24 Desember adalah musim panas di belahan bumi selatan. Jika Sinterklas mengenakan pakaian itu untuk memberikan hadiah kepada anak-anak, dia pasti akan pingsan karena terkena heatstroke.

Serius?

“Iya. Kakek berbaju merah itu akan mengganti pakaiannya menjadi baju renang saat melewati garis khatulistiwa.

Jadi, saat memberikan hadiah kepada anak-anak di belahan bumi selatan, dia mengenakan baju renang! ...Aku tidak menyadarinya. Oh, dan aku mau tempura yang banyak!

Aku memotong pembicaraan dan menaikkan nada suaraku. Setelah menerima udon dengan banyak tempura sebagai ganti tiket makanan, Kyouka berkata, Aku akan ambil tempat duduk, lalu berjalan menuju meja.

Mayu memilih omurice, dan akhirnya aku memilih chuka-don dan menerimanya. Aku mengikuti Kyouka.

Kyouka menunggu sampai aku dan Mayu duduk di meja.

Ayo cepat makan!

“Iya, iya.

Aku memecahkan sumpit menjadi dua dan mulai makan.

Tapi, Sinterklas itu kan membagikan semua hadiah dalam satu hari, ‘’kan?

Pembicaraan itu masih berlanjut.

Kalau begitu, dia harus berkeliling dengan sangat cepat di antara anak-anak di seluruh dunia, jadi dia pasti bisa berganti pakaian dengan sangat cepat.

Mayu mengangguk seolah-olah setuju dengan kata-kata Kyouka.

Dikatakan bahwa dia berganti pakaian lebih cepat dari suara.

“Woahh!

Jadi, menurutmu selera Kakek berbaju merah yang menampilkan pertunjukan luar biasa setiap tahun, sudah ketinggalan zaman?

Aku belum kepikiran mengenai hal itu. Hei, bagaimana menurutmu, Saki?

Aku hampir saja memberikan jawaban yang masuk akal tapi membosankan—sesuatu seperti, Tidak ada hubungannya antara seberapa cepat kamu berpakaian dan selera fesyenmu—ketika aku menghentikan diriku sendiri. Percakapan-percakapan konyol seperti ini justru penting. Terutama bagiku yang tidak bisa tetap tenang di depan ibuku. Dengan melakukan percakapan yang tidak serius semacam ini, aku bisa menjalani hari-hari yang lebih santai, dan itu membuat ibuku merasa lebih tenang. Jadi, seharusnya aku bisa memberikan tanggapan yang lebih menarik.

... Mungkin tidak semua Sinterklas itu kakek-kakek tua.

Jadi, Sinterklas tuh ada banyak, ya?

Di zaman modern ini, jumlah anak-anak jauh lebih banyak dibandingkan saat Sinterklas pertama kali muncul. Mungkin mereka mempekerjakan asisten.

Aku memberikan tanggapan yang tidak terlalu menarik. Ternyata aku tidak memiliki bakat untuk membuat lelucon seperti Maaya. Ketika aku mulai merasa tidak enakan, Kyouka tiba-tiba tertarik.

Ah, jadi begitu rupanya. Dengar-dengar ada banyak gadis miko saat perayaan tahun baru juga merupakan pekerja paruh waktu! Jadi, seperti itulah maksudnya.

Dia bertepuk tangan dengan kedua tangan.

Dalam sekejap, aku berpikir bahwa di meja ini, kami sedang melakukan percakapan paling bodoh seantero Jepang, tetapi berbicara tentang hal-hal konyol seperti ini dapat mengusir kekhawatiran yang tidak perlu dari pikiranku.

Ya, ya, benar.

Jadi, maksudnya, ada juga Sinterklas wanita yang mengenakan kostum renang yang seksi dan imut saat membagikan hadiah, ya.

Percakapan ini justru tiba-tiba melenceng ke arah yang aneh.

“Seksi dan imut?

“Yang begini!

Sambil berkata demikian, Kyouka mengetuk ponselnya dan mengarahkan layarnya ke arahku.

Mayu membuka mulutnya lebar-lebar dan berkata, “Uwahh! Mungkin jika dia berbicara dalam bahasa Inggris, dia akan berkata Wow!

Kostum Sinterklas ini sangat seksi dan imut, bukan?

Layar itu tampak seperti unggahan seseorang di Instagram, mungkin dari akun pemiliknya. Itu adalah wanita yang tampaknya sebaya denfanku. Dari warna yang digunakan, aku bisa memahami bahwa dia sedang berpura-pura menjadi Sinterklas. Warna dasarnya merah. Ada bulu putih di lengan dan tepi pakaiannya. Dia mengenakan topi merah dengan pom-pom putih. Jadi, kostum tersebut sudah pasti kostum Sinterklas.

Tetapi jika dia keluar dengan pakaian itu di tengah musim dingin, dia pasti akan membeku kedinginan.

Panjang pakaiannya begitu pendek, hanya sampai di bawah dada. Aku bahkan bisa melihat sekilas bagian bawah payudaranya. Pusarnya terlihat, dan roknya adalah rok super mini jauh di atas lutut, memperlihatkan kaki rampingnya. Mungkin dia memakai stocking, atau aku berharap begitu.

Hanya melihatnya saja sudah membuat aku merasa kedinginan. Pakaiannya sudah hampir seperti pakaian renang.

Ako-chan, dia benar-benar berani sekali ya.

Jaangan-jangan kamu mengenalnya?

Ya. Teman SMA.

“Be-Begitu ya.

“Kelihatan menggoda banget, ya ‘kan?”

Aku mengerti bahwa pakaian ini memang seksi. Jika gadis semacam ini muncul di depan anak-anak dengan pakaian seperti ini dan membagikan hadiah, aku khawatir akan ada masalah dalam pendidikan moral. Siapa yang bilang Sinterklas yang muncul di belahan bumi selatan pasti mengenakan pakaian renang?

Tapi, menurutku anak-anak harus terbiasa dengan hal semacam ini sejak kecil. Baik laki-laki maupun perempuan.

… Aku tidak seharusnya membahas topik seperti ini dengan Mayu.

Pola pikir kami sudah terlalu berbeda.

Kyouka menunjukkan gambar sambil menggulir layar ponselnya.

Kalau begitu, bagaimana kalau kita mengenakan pakaian seperti ini untuk berkumpul? Pesta Natal.

“Enggak mau.

Aku menjawab secara refleks. Memang benar kalau aku diundang untuk menghadiri pesta Natal perempuan. Namun, jika pakaian ini menjadi syarat wajibnya, itu bakalan jadi cerita yang berbeda.

Eh?

“Enggak mau.

“Padahal seksi dan imut banget begini, loh?

“Maksudku, rasanya agak menyebalkan ketika kamu mengatakannya dengan nada seperti, 'Aku tidak mengerti mengapa kamu menolak sesuatu yang begitu menakjubkan.' Mengapa kita membutuhkan sesuatu yang seksi dan imut di acara malam khusus perempuan?

Seksi itu penting. Kesehatan yang utama!” ucap Kyouka.

Aku tidak mengerti.

Memangnya seksi bisa membuat seseorang sehat? Apa iya? Mayu juga mengangguk setuju. Aku merasa kedua orang ini lebih berani dalam pembicaraan seperti ini dibandingkan Shiori-san

“Yah, benar juga. Bagaimana dengan ini? Yang begini bahkan lebih berani. Kalau mau melakukannya, gimana kalau sampai sejauh ini?

Mayu yang sejak tadi sibuk memainkan ponselnya tiba-tiba mengarahkan layarnya ke arahku. Itu adalah gambar wanita lain dengan kostum Sinterklas. Aku tidak bisa menahan diri untuk menelan ludah. Karena pakaian yang ditampilkan terlalu terbuka.

“Owahhh. Keren. Hampir kelihatan banget~.

Aku tidak mengatakan apa yang dimaksud Kyouka.

“Aku bahkan lebih enggak mau.

Kalau sesama perempuan tidak ada masalah, ‘kan? Lagipula tidak perlu merasa malu segala.

Ya, kurasa juga begitu. Mungkin pakaian begini tidak bisa ditunjukkan kecuali kepada sesama perempuan.

Eh, lihat yang ini juga. Lihat deh.

“Yang itu sih bukan kain lagi, itu cuma tali.

Melihat Kyouka dan Mayu bersemangat melihat foto-foto kostum Sinterklas yang seolah-olah menghancurkan definisi pakaian, aku merasa khawatir apa aku yang aneh. Apa begini suasana sekolah laki-laki yang hanya kudengar dari rumor?

… Tapi, kurasa Shiori-san bisa mengikuti suasana. Aku mulai bisa membayangkan wajah Senpai-ku yang sangat suka candaan jorok. Jadi, apa ini justru perilaku khas sekolah perempuan? Atau universitas perempuan? Menghabiskan waktu di siang hari dengan bersemangat melihat gambar Sinterklas yang hampir seperti pakaian dalam.

Yah, aku tidak akan menghentikan kalian kalau ingin melakukannya, tapi aku akan enggak ikutan.

Rencanaku adalah menghabiskan Natal bersama keluarga, dan ketika aku mengatakan itu, Kyouka menyeringai lebar.

“Dasar Saki, bukan begitu, ya ‘kan. Bukan dengan keluargamu, tapi dengan pacarmu!

Eh…

"Kamu akan berkencan pada hari Natal, kan? Kamu tidak perlu menyembunyikannya segala. Tidak mungkin sampai kuliah masih merayakan Natal di rumah, itu bukan alasan yang masuk akal.

Sebentar, tunggu dulu sebentar.

Kenapa pembicaraannya malah jadi begitu? Aku buru-buru menambahkan.

Aku benar-benar merayakannya bersama keluargaku!

Yah memang, di antara keluarga itu ada Yuuta. Jadi, mungkin separuh dari imajinasi Kyouka itu benar, tetapi tetap saja tidak sepenuhnya juga.

Jadi, kamu tidak akan merayakan Natal dengan pacarmu?

“Merayakannya sih.

Jadi, kamu akan merayakannya.

Aku merasa seolah-olah dia memiliki pemahaman yang sedikit melenceng. Bahasa Jepang itu memang sulit.

Jadi, jika begitu, bukannya ini ide yang bagus?

Hah?

Jadi, kamu bisa melakukannya pada pesta Natal dengan pacarmu. Kenakan kostum ini, tambahkan pita di tubuhmu, dan katakan bahwa kamu lah hadiahnya.

Mayu sedikit menyipitkan matanya dan berkata dengan nada skeptis.

Kyouka… kamu serius dengan itu?

Iya, ‘kan. Aku tidak bisa setuju dengan itu

“Menurutku kostum Saki sebagai Sinterklas adalah ide yang luar biasa, tapi jika itu adalah hadiah untuk pacarnya, itu berarti kita tidak bisa melihatnya, dong.

“Ah, benar juga. Yup. Itu tidak bisa.

“‘Kan?

Baiklah. Kamu tidak perlu memakai begitu dengan pacarmu, jadi mari kita pakai kostum ini untuk pesta Natal perempuan?

Tidak mau.

Cih. Ternyata khusus untuk pacarmu doang, ya.

Curang. Aku juga ingin yang itu.

Bukan itu maksudnya, aku takkan memakainya sama sekali."

Pacarmu itu, eh… Asamura… Yuda-kun, kan?

Yuuta.

Jangan membicarakan pacar orang lain seolah-olah ia adalah pengkhianat. (TN: Yuda aka Judas, dikenal sebagai murid Yesus yang mengkhianati-Nya dengan menyerahkan Yesus kepada imam-imam kepala dengan imbalan 30 keping perak. Karena tindakannya itu, ia disebut sebagai “pengkhianat” dan menjadi simbol kejatuhan moral.) 

Itu dia. Yunta-kun. Ia pasti sangat senang! Mana ada pacar yang tidak menyukai pakaian seksi dan imut! 

Jangan sembarangan berasumsi. Dan kamu salah lagi, namanya Yuuta. 

Aku masih memiliki sedikit akal sehat untuk tidak mempercayai kata-kata itu. Tentu saja, itu bukan sesuatu yang bisa dipercaya. Aku bahkan merasa kalau pakaian semacam itu tidak cocok untukku, dan itu bukan seleraku. 

──Hadiah itu seharusnya membuat penerimanya senang, bukan? Apa yang kita pilih berdasarkan selera kita tidak selalu benar. Semuanya tergantung pada penerimanya

...Hmm. 

Apa yang membuat Yuuta senang tidak ada hubungannya dengan seleraku. Itu benar. Selera orang berbeda-beda. Itu benar, tetapi... Namun, ketika kami memilih pakaian bersama, ia kelihatan senang mengenakan pakaian yang kupilih. Ah, tunggu. Mari kita pikirkan dengan baik. Apa yang dipikirkan Yuuta tentang pakaian yang biasanya aku kenakan? 

Atasanku di tempat intern, Ruka-san, sering mengatakan bahwa bagus’ dan suka adalah dua hal yang berbeda. 

Bisa juga dikatakan bahwa penilaian dan selera merupakan hal yang terpisah. Meskipun bisa mengakui bahwa sesuatu dibuat dengan baik, tapi itu berarti kamu akan menyukainya. Mengakui kelezatan masakan Prancis tetapi lebih suka makan masakan Jepang adalah hal yang biasa. 

Apa yang diharapkan pacar dari penampilan pacarnya adalah──. 

...Tidak, apa aku benar-benar termasuk orang yang berpikiran seperti itu? Pakaian yang kukenakan adalah karena aku ingin memakainya, dan itulah sebabnya ini persenjataan’-ku. Namun, bukan begitu inti pembicaraan tadi. Apa sesuatu seperti ini bisa diterima sebagai hadiah kejutan Natal...? 

Aku mulai bingung. Mana jawaban yang benar? 

...Aku sama sekali tidak berniat membelinya, tapi di mana sih mereka menjual barang seperti itu? 

Eh, di mana ya?

Kurasa di Don Quijote atau semacamnya?"

Oh, kalau di Don Quijote..... mungkin ada di Shibuya juga. 

“Loh, Loh~? Kamu tertarik? Pacar Saki benar-benar beruntung, ya~” 

Kyouka berkata sambil menyeringai

Sudah kubilang, aku tidak akan memakainya! 

...Yup. Aku takkan memakainya. 

Yah... untunglah kita bisa mengobrol konyol seperti itu sampai-sampai saat kita meninggalkan kantin, aku bahkan tidak ingat lagi apa yang kukhawatirkan…? 

Setelah itu, saat aku sendirian, aku mencari pakaian itu melalui ponsel dan memeriksa kostum dengan seksama. Menurutku itu imut, tetapi aku tidak yakin apa Yuuta akan senang melihatku memakainya. Meskipun begitu, aku bisa sedikit melupakan kegelisahan di kepalaku yang terus-menerus memikirkan tentang kesehatan ibuku dan kehamilannya

Aku memutuskan untuk melupakan bahwa aku sempat teringat tentang ungkapan menggunakan racun untuk mengatasi racun

Lagipula, hari ini aku ada pekerjaan magang di tempat Ruka-san sore nanti. Aku berhasil menekan kecemasanku. Aku harus berusaha keras menjadi asisten Ruka-san...

 

◇◇◇◇

 

Ketika aku tiba di Lucca Design. Studio, aku sedang menyelesaikan berbagai tugas dan persiapan seperti biasa. 

Aku sedang menulis balasan email dan membuka jadwal untuk memeriksa kemajuan. Saat aku menjalankan tugas yang sudah aku kuasai dengan baik, Ruka-san memanggil aku dengan sebentar

Ketika aku mengikuti isyaratnya, aku dibawa ke ruangan yang dipisahkan oleh partisi. Di dalam ruangan itu terdapat satu meja besar dengan enam kursi yang bisa diletakkan di sekelilingnya. Singkatnya, itu adalah ruang rapat. 

Aku diminta untuk duduk dan menunggu. 

Terima kasih sudah menunggu.

Orang yang masuk dengan suara ketukan adalah Wada-san. Meski jabatannya adalah petugas administrasi, tetapi sebenarnya dia adalah wakil presiden dan anggota tertua di perusahaan. Wada-san membawa sekumpulan cetakan. 

Sebenarnya, ada proyek baru yang datang.” Ucap Ruka-san. 

Proyek di sini merujuk pada permintaan pekerjaan. 

Selamat! Apa ini tentang penjadwalan?

Bukan pertama kalinya hal seperti ini terjadi.. Lucca Design. Studio adalah biro desain kecil, dan pekerjaan yang ditangani juga masih kecil. Namun, beruntungnya, kinerja kami baik dan kami memiliki reputasi yang cukup baik di industri, sehingga proyek terus masuk tanpa terputus. 

Namun untuk proyek kecil, kami biasanya hanya diberitahukan melalui alat komunikasi bisnis, jadi fakta bahwa Ruka-san dan Wada-san, dua orang teratas di perusahaan kami, sengaja mengadakan rapat di dalam partisi, hal tersebut menunjukkan bahwa ini adalah pekerjaan yang cukup besar. 

Aku menunggu mereka berbicara sambil memperkirakan seperti itu, dan Wada-san membagikan lembaran cetakan yang dibawanya

Ruka-san mengambil salah satu cetakan dengan jarinya dan mengibaskannya sambil berkata, 

Tentu saja, kita perlu menyesuaikan jadwal juga, tapi kupikir aku juga ingin sedikit bantuan dari Saki. 

Eh? Dariku?

Ini bukan pekerjaan desain, maaf.

Ah.

Meski ini biro desain, tetapi bukan pekerjaan desain? Apa maksudnya? 

Pertama-tama, aku ingin kamu membaca materi ini sekilas.

Baik.

Aku membaca materi yang dibagikan dengan hati-hati. Sebagai sekretaris Ruka-san, aku tertarik dengan rincian proyek dan perlu menanyakan jika ada yang membingungkan. 

Materi tersebut terdiri dari empat lembar kertas A4. 

Pada lembar pertama, jantungku berdebar kencang saat aku melihat judul yang ditulis dengan huruf gaya ghotic kapital tebal (dan berwarna merah pula). 

“Pameran Horor”

Aku tidak sengaja menelan ludah. Meskipun aku merasa keringat dingin muncul di bawah lenganku, aku terus membaca. 

Pada musim panas ini, Lucca Design. Studioberpartisipasi dalam acara [Roppongi Art Festa] sebagai direktur kreatif. Itu adalah pameran besar yang menjadikan jalanan Roppongi sebagai lokasi pameran. 

[Pameran Horor] kali ini memiliki skala yang sedikit lebih kecil dibandingkan pameran sebelumnyatampak seperti pameran pribadi dengan tampilan terbuka yang menggunakan satu tempat. Namun kali ini, kami bertanggung jawab tidak hanya untuk konsep pameran dan pembagian, tetapi juga desain keseluruhan ruang.

Artinya, meskipun skala tempatnya kecil, sebagai biro desain, ruang lingkup tanggung jawab yang diberikan lebih luas daripada sebelumnya. 

Ini proyek yang cukup besar, bukan? 

Ruka-san berkomentar demikian. Dia terlihat senang. 

Ya... Sepertinya sulit.

Justru itulah yang membuatnya menarik.

Sambil berkata begitu, Ruka-san melirik ke arahku. Aku merasakan tatapannya dan terus membaca materi tersebut. 

Sejujurnya, aku tidak menyukai hal-hal yang berhubungan dengan horor. Atau lebih tepatnya, kurasa aku memiliki toleransi yang rendah terhadap semua yang membuat takut. 

Suara petir yang keras, kegelapan yang begitu pekat sampai-sampai tidak bisa melihat di depan hidung, dan tentu saja film horor. Meskipun temanku, Maaya, menikmati hal-hal yang menakutkan, aku justru semakin menjadi lebih takut ketika menyadari bahwa aku sedang ketakutan.... 

Di bagian belakang cetakan, terdapat gambar-gambar horor yang jelas-jelas digunakan sebagai referensi. Alih-alih gambar makhluk supernatural yang jelas-jelas fiktif, banyak gambar yang lebih realistis seperti pisau berlumuran darah, alat penyiksaan, dan foto rumah sakit kosong. 

Dengan kata lain, gambar-gambar tersebut membuatmu membayangkan peristiwa mengerikan yang mungkin benar-benar terjadi. Bahkan ada juga foto yang terlihat seperti hantu bayi atau anak-anak... dan gambar yang mengingatkan pada wanita malang atau kelahiran yang tidak bahagia, yang sangat merangsang sarafku hanya dengan melihatnya──. 

Saki? 

Aku terkejut dan mengangkat wajahku

Ruka-san tampak khawatir saat melihat ke arahku. 

“Jangan-jangan, kamu merasa tidak nyaman? Ada orang-orang di luar sana yang tidak bisa menangani hal seperti ini, jadi jika kamu merasa tidak bisa menanganinya, aku bisa mengeluarkanmu dari proyek ini. 

Aku menyadari bahwa aku menunjukkan kegelisahan di wajahku. Tanpa sadar, aku menggenggam lembaran materi itu dengan kuat, sehingga tepi cetakan menjadi berkerut. Saat itu aku memahami mengapa aku dipanggil ke dalam partisi. Tentu saja, [Pameran Horor] ini tampaknya akan menjadi acara yang dipilih oleh orang-orang tertentu untuk dinikmati. Bagi mereka yang tidak suka, acara ini justru menjadi acara yang sangat menakutkan. Dan mungkin, menurut penilaian Ruka-san, mungkin hanya aku satu-satunya di kantor ini yang tidak menyukai horor. 

──Jika tidak bisa menanganinya, aku bisa mengeluarkanmu dari proyek ini. 

Ruka-san memberiku kesempatan untuk mundur. 

Aku... apa yang harus kulakukan?

Jika hanya pekerjaan sebagai sekretaris, aku tidak akan keberatan meskipun temanya horor. Dalam pekerjaan manajemen jadwal, aku tidak perlu terlibat dalam isi karya tersebut. Mungkin aku akan ikut serta dalam survei lokasi sih

Semua orang di kantor kami memiliki toleransi yang tinggi terhadap horor. 

Tentu saja, sudah kuduga... 

"Sebelum kamu bergabung, kami pernah menyewa penginapan pemandian air panas di Nagano untuk melakukan pelatihan belajar. Itu adalah penginapan yang berusia 60 tahun, di mana kami belajar desain di siang hari dan berendam di onsen di malam hari.

Aku ingin melakukannya lagi.

Wada-san berkata dengan nada nostalgia. 

Namun, kami menjadi sangat sibuk. Jadi, setiap malam, kami melakukan sesi cerita. 

...Apa yang diceritakan?

Cerita hantu. Pengalaman menakutkan. Semua orang sangat menyukainya. Aku tidak tahu dari mana mereka mendapatkan cerita-cerita itu, tetapi mereka tahu banyak sekali. Ah, tidak masalah. Aku tidak akan mulai bercerita di sini.

Aku menghela napas yang tertahan. Untung saja

Jadi, terus terang saja, tanpa pandangan orang yang penakut, kami tidak dapat merancang cara untuk menakut-nakuti orang. 

Pandangan orang yang penakut...

Tentu saja, karena ini adalah pameran yang akan dibuka untuk umum, ada batasan dalam hal ketakutan. Namun, semua orang di sini sudah terlalu terbiasa dengan hal-hal menakutkan, jadi kami sangat menginginkan pendapat dari orang-orang yang gampang takut.

Jadi, apa yang kamu butuhkan bantuan dariku? 

Monitor.

Apa itu berarti aku akan menjadi penonton awal?

Ya, itu. Jika memungkinkan, aku ingin pendapat dan masukan tentang ide-ide yang kami ajukan sejak tahap desain ruang. 

Itu berarti aku akan dapat bekerja lebih dekat dengan tim produksi. 

Jadi... apa keputusanmu?

Dia bertanya dengan serius. 

Aku berpikir sejenak. Pengalamanku baru-baru ini semakin menunjukkan bahwa aku memang gampang takut. Aku pernah mendengar bahwa hal yang paling menakutkan dalam ketakutan adalah yang tidak diketahui──.

Petir, kegelapan, dan kapak berlumuran darah semuanya menakutkan. Namun, aku menyadari bahwa hal yang paling menakutkan bagiku adalah ketidakpastian. Melahirkan anak, serta menjadi seorang kakak, adalah pengalaman yang belum pernah kualami. Karena tidak tahu, hal-hal itu terasa menakutkan. 

Namun, jika aku terjebak dalam ketakutan dan berhenti melangkah, ketidakpastian akan tetap menjadi ketidakpastian. 

Aku bisa menjadi yang pertama merasakan desain sebelum selesai dari seorang desainer profesional dan memberikan pendapat. Aku bisa berpartisipasi di lokasi yang lebih dekat dengan proses produksi. 

Apa aku akan melewatkan kesempatan seperti itu hanya karena ketakutan? Ketika aku memikirkannya seperti itu, tidak mungkin aku bisa menolak... 

Aku menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara

Terima kasih atas perhatiannya. Sejujurnya, aku merasa takut, tetapi aku baik-baik saja. Izinkan aku untuk mencobanya.

Ruka-san terlihat lega. 

Itu sangat membantu. Tidak baik jika tim hanya terdiri dari orang-orang yang tahan horor.

Aku mengangguk. Aku tidak tahu seberapa banyak pendapat atau komentar yang bisa kuberikan, tapi keinginanku untuk melihat langsung proses desain jauh lebih kuat daripada hanya mengelola jadwal dan email sebagai sekretaris. 

Baiklah, kalau begitu, Saki, kamu akan menjadi monitor setiap saat.

Ya.

Setelah itu, aku mulai berkonsentrasi menuntaskan tugas-tugas sekretaris, termasuk memahami jadwal. 

Di dalam kereta pulang, aku membuka aplikasi pesan untuk memberi tahu Yuuta bahwa pekerjaan baru telah dimulai. Tentu saja, aku tidak bisa membahas rincian pekerjaan yang bersifat rahasia. Namun, aku harus memberi tahu bahwa pekerjaan intern yang sebelumnya relatif santai akan menjadi sibuk. 

Memikirkan hal itu, aku mulai menulis pesan dan hendak mengirimnya, tetapi kemudian berhenti. Jika aku mengirim pesan panjang, kemungkinan besar Yuuta juga akan membalas dengan pesan panjang. 

Yuuta menyadari bahwa aku sedikit sensitif setelah pengakuan tentang kehamilan ibu. Namun, karena aku tidak mengatakan apa-apa, Yuuta juga tidak berani bertanya. Ia tidak bertanya, “Kamu baik-baik saja? Mungkin, selama aku tidak mengeluarkan keluhan, dirinya akan bersikap seperti biasa. Namun, jelas bahwa ia memperhatikan keadaanku. 

Dalam situasi seperti itu, jika aku menulis bahwa pekerjaan intern-ku akan menjadi sibuk", ia pasti akan bertanya, Apa kamu baik-baik saja?”. 

Itu akan menjadi masalah. 

Aku bisa melihat kemungkinan di mana aku mulai bergantung secara berlebihan pada Yuta tergantung pada situasinya. Setelah banyak pertimbangan, aku akhirnya hanya mengirim stiker kucing sebagai salam. 

 

◇◇◇◇

 

Malam harinya, aku menerima pemberitahuan dari Yuuta yang mengajakku untuk melakukan video call setelah sekian lama. Saat menjawab panggilan, wajah Yuuta yang familiar namun sudah lama tidak kulihat muncul di layar kecil. 

Akhir-akhir ini, Yuuta sering tidak bisa meluangkan waktu, sehingga kami tidak melakukan video call secara rutin. Begitu melihat wajahnya, aku tidak bisa menahan napas berat yang keluar dari mulutku. 

Rasa sakit yang tajam menusuk dadaku. Aku merasakan campuran kerinduan dan kemarahan yang tak beralasan karena merasa sudah lama sekali aku tidak melihat wajah ini. 

Namun, saat menatapnya, aku melihat ada nuansa penuh kelelahan di wajah Yuuta. 

Apa kamu... lelah?

Dirinya memang bilang sibuk dengan pekerjaan paruh waktu dan studinya... 

Ya, sedikit. 

Setelah mengucapkan itu, kali ini gilirannya yang bertanya, Bagaimana denganmu, Saki? 

Pertanyaan itu mengguncang hatiku. Aku ingin mengatakan bahwa aku juga sedikit lelah. 

Lihat, Saki. Seperti yang kuduga. 

Aku... baik-baik saja.

Hampir saja. 

Aku hampir saja mengungkapkan keluhanku padanya

Aku merasa suaramu sedikit kaku.

Tidak mungkin.

Yuuta menatap wajahku dengan penuh perhatian seolah ingin mencari jawaban. Aku tidak bisa menahan diri untuk mengalihkan pandangan. Ia menunggu tanpa mengatakan apa-apa, menungguku untuk berbicara. 

Aku akhirnya──. 

Namun... baru pertama kalinya aku... merasakan ada anak di dalam perut ibu.

Ya.

Aku tahu bahwa aku terlalu khawatir. Aku seharusnya bersikap biasa seperti yang dia katakan. 

Yuuta tidak terburu-buru. 

Keluhanku terus menumpuk di dalam diriku. 

Aku khawatir ada sesuatu yang terjadi pada ibu, dan ketika membayangkan saat-saat di mana aku mungkin menjadi seorang ibu, aku berpikir aku tidak mampu melakukannya...... 

Jadi── 

Aku merasa takut. 

Aku hampir saja mengucapkan kata-kata itu. Aku tidak ingin membebani Yuuta dengan keluhanku. 

Apa yang kukatakan adalah justru hal yang bertolak belakang. 

“Umm, jadi begini. Sepertinya ada pekerjaan baru yang akan dimulai di tempat Ruka-san. 

Mata Yuuta menatapku dengan penuh perhatian. Dia mencoba membaca perasaan yang tersembunyi di balik kata-kataku, apakah itu benar-benar apa yang ingin kubicarakan. Berbeda denganku, Yuuta memiliki kemampuan untuk memahami dengan baik

“Sepertinya kamu bakalan sibuk, ya?

Ya, mungkin. Tapi tidak apa-apa. Kamu juga sibuk, kan?

Ya, lumayan.

Jadi... aku tidak bisa memberi tahu banyak tentang isi pekerjaannya, karena belum diumumkan. Tapi, kurasa aku harus menonton film horor untuk pekerjaan itu.

Karena Yuuta tahu kalau aku cukup penakut, aku berharap dengan mengatakan ini, aku bisa menyembunyikan ketidaknyamananku yang sebenarnya. 

Aku pikir dia mengerti alasan kecemasanku. 

Aku merasa takut karena tidak tahu. 

Hanya itu saja. Kehamilan ibu, memiliki adik laki-laki atau perempuan, adalah hal yang biasa di masyarakat, dan banyak orang sudah mengalaminya. Namun, bagiku, itu terasa sangat asing 

Aku tidak ingin membuat Yuuta merasa terganggu oleh hal-hal sepele seperti itu. 

“Umm, jadi tentang rencana kita untuk merayakan ulang tahun bersama. 

Aku memaksakan diri untuk mengalihkan topik pembicaraan. Jika aku terus membahas hal ini, aku khawatir kalau aku akan terus-menerus membebani Yuuta dengan kecemasanku

Daripada itu, rasanya lebih baik memikirkan hal yang lebih menyenangkan. Kami sudah lama tidak berbicara seperti ini. 

Yang terpenting, aku bisa bertemu langsung dengan Yuuta di perayaan ulang tahun bersama akhir pekan ini. Aku bisa bertemu dengannya, bahkan menyentuhnya. Hanya memikirkan itu saja sudah membuat perasaan hangat muncul di dalam diriku. 

Senyum tulus tersungging di bibirku. 

Yuuta menunjukkan ekspresi lega melihat senyum yang kubuat. 

Aku berpikir, “Syukurlah. Ya. Aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja. Aku mengulanginya pada diriku sendiri saat mengakhiri panggilan video. 

 

Dan akhirnya, akhir pekan tiba. 17 Desember. Hari Sabtu. Hari untuk merayakan ulang tahun bersama akhirnya datang──.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama