Chapter 2 — Tahun Pertama Perkuliahan, Bulan Desember, Ayase Saki
Kekaisaran
Romawi berada di puncak kemakmurannya tepat di depan mataku. Perkuliahan
kedua hanya tinggal tersisa 10 menit. Kuliah ‘Sejarah Masyarakat Barat’ yang diampu oleh dosen pembantu membahas
tentang kejayaan Kekaisaran Romawi. Dia sedang menjelaskan tentang bagaimana
wilayah kekaisaran mencapai puncaknya dan bagaimana pemerintahan yang sangat
baik dijalankan.
Dosen
pembantu tersebut berbicara dengan lancar dan fasih tentang kemakmuran
kekaisaran, menunjukkan bahwa ia mungkin telah memberikan kuliah ini
berkali-kali sebelumnya. Gambaran Kekaisaran Romawi pada masa kejayaannya
muncul dengan jelas di hadapan mataku.
Aku terpesona mendengarkan kuliah yang disampaikan dengan gaya yang menawan.
Kejayaan
kekaisaran tampak kokoh berkat pemerintahan yang stabil. Tak tergoyahkan. Kuat
dan kokoh. Namun—sebagai seseorang yang menyukai sejarah, meskipun
pengetahuanku hanya sebatas ujian masuk universitas, aku tahu. Dari sini,
Kekaisaran Romawi akan menuju kejatuhannya.
Kekaisaran Romawi yang pernah megah akan terpecah menjadi dua bagian dan pada
tahun 476, Kaisar Romawi Barat, Romulus Augustulus, akan dilengserkan. Dengan demikian, Kekaisaran Romawi Barat yang
pernah mencapai puncak kejayaan akan menghadapi kehancuran.
“Jika
kalian ingin tahu lebih banyak daripada yang kusampaikan di sini, silakan
merujuk pada literatur yang kusebutkan sebelumnya dan pelajari sendiri,” kata dosen pembantu sebelum
mengakhiri pembicaraannya tentang kemakmuran kekaisaran. Pada perkuliahan berikutnya, kemungkinan besar
akan membahas tentang kemunduran
kekaisaran.
Kejayaan
pasti akan berakhir. Meskipun tampak stabil dan kokoh, sebenarnya benih
kehancuran bisa tersembunyi di mana saja. Itulah ironi sejarah. Sambil
merenungkan hal-hal semacam itu, dosen pembantu mengakhiri lima menit terakhir
dengan obrolan ringan dan perkuliahan di jam kedua pun selesai.
Setelah
keluar dari ruang perkuliahan, aku menuju kantin. Sambil
berjalan, pikiranku melayang tentang stabilitas dan kemunduran Kekaisaran
Romawi. Tiba-tiba, wajah ibu terlintas di benakku. Meskipun tampaknya tidak ada
hubungannya, tapi aku
segera menemukan alasannya.
Beberapa yang hari lalu, saat ibu memberi tahu
tentang kehamilannya, dia mengatakan bahwa dia akhirnya memasuki masa stabil.
Itu adalah hasil dari permainan asosiasi kata antara “masa stabil” dan “stabil”. Selain
itu, mungkin bukan hanya itu...
Risiko
bagi ibu dan anak akan berkurang seiring dengan masuknya masa stabil. Ini
adalah periode di mana ibu hamil tidak
perlu terlalu khawatir. Itulah sebabnya ibu membagikannya. Namun, setelah itu
aku melakukan berbagai penelitian dan mengetahui lebih dalam tentang risiko
yang meningkat lagi saat memasuki bulan terakhir dan saat melahirkan, yang
kupelajari di kelas kesehatan.
Terutama, kalimat yang menyebutkan bahwa pada usia ibu, itu termasuk dalam
kategori kehamilan berisiko tinggi—meskipun setelahnya dibahas tentang
pengurangan risiko akibat kemajuan kedokteran modern—aku ingat merasa
seolah-olah jantungku serasa diremas.
Bahkan di
dalam stabilitas, terdapat benih ketidakpastian. Ibu
bukanlah Kekaisaran Romawi, jadi tidak selalu berakhir dengan tragedi. Proses
besar yang dihancurkan oleh aliran waktu tidak bisa disamakan dengan stabilitas
dan ketidakstabilan kesehatan individu.
Hal itu sudah jelas. Namun, otak manusia
sepertinya hanya mampu berfungsi dengan baik dalam situasi seperti ini, dan
imajinasi buruk muncul tanpa henti. Ketika aku mencoba mengingat kata ‘masa stabil’ dan meyakinkan diri bahwa ‘semuanya akan baik-baik saja,’ dalam sekejap aku terbayang ‘bagaimana kalau’ yang
muncul di benakku tanpa izin.
Kejayaan
dan kehampaan. Kejayaan pasti berakhir. Tidak, tidak. Ibu tidak akan mengalami
hal seperti itu. Tapi—jika seandainya saja.
Aku belum
pernah mengalami keadaan di mana ada bayi di dalam rahim ibuku, atau bahkan di dalam tubuh
orang terdekatku. Meskipun aku tahu secara teori, ketika hal itu terjadi di
depan mata, hatiku tidak dapat mengikutinya. Aku bisa memahami tubuhku sendiri
sampai batas tertentu, tetapi meskipun aku tinggal bersama ibu di rumah yang
sama setiap hari, aku sama sekali tidak tahu bagaimana kondisi tubuhnya. Karena
aku tidak mengetahuinya—aku jadi merasa takut.
◇◇◇◇
Dalam
perjalanan pulang dari kantor desain. Aku melewati pintu keluar stasiun dan
melintasi pusat perbelanjaan. Di bulan Desember, lampu hias di kota Shibuya
dipenuhi dengan nuansa
warna Natal, menciptakan suasana yang meriah. Di balik etalase, manekin-manik
mengenakan busana yang menyerupai Sinterklas dan rusa kutub, menggoda
orang-orang yang lewat dengan gerakan pinggul mereka. Di bawah kaki mereka, kotak-kotak hadiah yang dihiasi
pita tersebar, dan di jendela, ada salju besar yang terbuat dari stiker putih
yang menempel, semuanya terlihat meriah.
Sambil
berjalan di tengah pemandangan itu, biasanya aku akan dengan santai memeriksa
tren yang diterapkan pada pakaian manekin, tetapi sekarang aku lebih tertarik
pada papan iklan apotek dan fasilitas kesehatan.
Hanya dengan melihat tanda palang
merah di iklan digital yang terpampang di dinding gedung, jantungku berdegup
kencang, dan ketika aku menemukan kata-kata seperti ‘kehamilan’, ‘persalinan’, dan
‘pengasuhan anak’ dalam iklan, aku tak bisa
menahan diri untuk menatapnya. Setiap kali aku merasa kakiku akan berhenti, aku buru-buru mempercepat langkahku.
Aku
merasa aneh. Padahal ibuku yang hamil
dan melahirkan, bukan aku.
Tak peduli
seberapa banyak aku mencemaskannya, hal itu takkan mengubah apa pun, dan
tidak ada gunanya khawatir. Di tambah
lagi, ini adalah kehamilan kedua bagi ibu, dan dia pasti tahu dengan baik apa
yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Aku tidak perlu merasa
cemas.
Namun—.
Aku
mempercepat langkahku dan
keluar dari pusat perbelanjaan. Melalui jalan di samping taman, aku akhirnya
melihat cahaya dari apartemen dan merasa lega.
Setibanya
di rumah, aku membuka pintu dan menyapa, “Aku
pulang,” dan suara menjawab, “Selamat datang kembali”. Ibuku, yang mengambil cuti dari
pekerjaannya sebagai
bartender dan menjadi ibu rumah tangga, tidak berubah sama sekali. Dengan
senyuman yang sama seperti biasa, dia menjawab pertanyaan samarku, “Bagaimana keadaanmu, bu?” dengan, “Semuanya baik-baik saja." Aku tidak
bisa menahan diri untuk menatap perutnya yang semakin membesar, meskipun
perutnya belum terlihat jelas. Ketika ibu menyadariku menatapnya, dia tersenyum
sambil berkata, “Menatapnya
seperti itu tidak akan mengubah apa pun, loh?”
Ibuku tampak normal. Dia berperilaku
seperti biasa sesuai dengan pernyataannya,
dan dia berharap aku juga bisa bersikap normal. Dan sejauh ini, tidak ada
tanda-tanda perubahan.
Meskipun
tidak ada perubahan yang terjadi, mengapa aku merasa tidak bisa merasa normal
seperti ini?
“Yosh,”
“Ah,
biar aku yang mengangkatnya!”
Aku
mengatakan itu saat ibu mencoba meletakkan lobak besar di atas talenan.
“Eh?
Apa?”
Satu
lobak besar sudah terletak di atas talenan, dan saat aku berbicara, itu sudah
dipotong setengah. Ibu dengan cepat membungkus bagian yang masih ada daunnya
dengan kertas dapur dan memasukkannya ke dalam lemari sayuran. Dia kemudian
mengeluarkan ikan.
“Hari
ini aku berencana membuat lobak dengan ikan buri,”
katanya.
“Ah,
ya.”
“Jadi,
apa kamu tadi mengatakan sesuatu?”
“…Aku
bilang aku akan membantu.”
“Kalau
begitu, bisakah kamu mengupas dan memotong lobak?”
“Iya.
Aku akan meletakkan barang-barangku dulu.”
Aku
kembali ke kamar untuk meletakkan barang-barangku dan berganti pakaian. Aku
harus cepat kembali ke dapur untuk membantu. Sambil menggantung jas yang biasa kupakai ke kantor, aku merenungkan
tindakanku sebelumnya.
Setiap
penyimpangan dari ‘rutinitas
biasa’ pasti
akan terlihat jelas.
Pengecualian menciptakan makna. Dengan
logika itu, mengapa hatiku bergetar meskipun tidak ada yang terjadi?
Jawabannya
sederhana.
Karena akulah yang telah berubah. ‘Perasaanku’-lah yang menciptakan pengecualian
itu.
◇◇◇◇
Hari-hari
berlalu saat aku mencoba mempertahankan ketenanganku dan mengingat bahwa semuanya
baik-baik saja.
Tiga hari
kemudian. Ketika aku pulang ke rumah, tidak ada jawaban untuk sapaanku, dan aku
merasa curiga saat melihat ke ruang tamu.
Oh, aku
merasa bingung sejenak. Di musim dingin, ibu biasanya duduk di depan televisi
seperti raja di dalam kotatsu,
tetapi sekarang tidak ada sosok ibu di sana. Saat aku mengalihkan pandanganku ke arah sofa yang dipindahkan ke sudut, aku
melihat ibu terbaring dengan mata tertutup.
Aku panik
karena dia ada di sana tetapi tidak menjawab. Ketika aku memanggilnya, dia
membuka matanya sedikit.
“Apa ibu baik-baik saja?”
Dengan
suara yang selalu ceria, dia menjawab, “Aku baik-baik
saja, aku baik-baik saja,” tetapi aku merasa wajahnya
terlihat lebih pucat dari biasanya. Meskipun tidak seputih kertas, warnanya
tampak seperti saat mengalami anemia.
Aku bergegas ke kamar tidur dan mengambil selimut. Setelah kembali ke ruang tamu, aku menyelinuti ibu yang masih terbaring di sana. Aku juga membawa air minum dan
handuk, meletakkannya di meja rendah di samping sofa, di tempat yang bisa
dijangkaunya.
Sebenarnya, aku pikir air hangat lebih baik daripada air dingin, tapi aku harus
merebus air terlebih dahulu.
Aku
sedikit menaikkan suhu pemanas. Tidak baik membiarkannya
kedinginan.
“Saki,
kamu sangat cekatan,” kata ibu
sambil tertawa.
Meskipun
dia mengatakan itu, sampai sejauh ini, perawatannya masih dalam batas yang bisa
kubayangkan ketika dia sakit atau mengalami menstruasi yang berat.
“Aku
hanya melakukan hal yang seharusnya,”
jawabku berusaha mengeluarkan suara yang normal, tetapi suaraku terdengar kaku dan tegang.
Meskipun
ibuku tersenyum, dia masih tidak
berusaha untuk bangkit.
“Ibu
bisa tinggal di sini dan beristirahat. Aku akan membuat makan malam nanti.”
“Oh,
kalau begitu, boleh aku menyerahkannya padamu?”
“Ya.
Serahkan saja padaku.”
Malam
itu, karena ayah tiri pulang lebih
awal dan membantu, aku bisa menjalankan pekerjaan rumah seperti biasa meskipun
ibu terbaring. Ayah tiri tamoak
terkejut sejenak saat melihat
ibu yang beristirahat di sofa, tetapi ia tidak menunjukkan ketegangan seperti diriku. Aku merasa heran apa pengalaman
bisa menenangkan seseorang sampai sebegitunya.
Aku
bahkan mulai berpikir bahwa akulah satu-satunya yang merasa cemas dan tertekan di dalam rumah
ini. Aku jadi berharap seandainya
Yuuta ada di sini bersamaku.
Aku tidak
menyangka bahwa satu-satunya perubahan, yaitu kehamilan ibuku, akan berdampak begitu besar
pada perasaanku. Itulah yang kupikirkan.
Aku
bahkan merasa tidak bisa merasakan rasa makan malam.
Ke mana
perginya semua ketenanganku?
◇◇◇◇
Keesokan
harinya adalah hari Jumat, dan akhir pekan sudah di depan mata.
Aku
berusaha untuk bersikap normal saat menuju universitas.
Hari ini,
aku memiliki kuliah bahasa
Prancis, yang merupakan bahasa asing keduaku, di jam kedua. Aku bertemu dengan
Kyouka dan Mayu di sana. Setelah itu, kami akan memiliki waktu istirahat makan
siang, jadi kami bertiga bisa makan bersama. Aku merasa sedikit lega. Mungkin
kedua orang itu akan bersikap seperti biasa. Meskipun aku belum bisa mengatakan
bahwa hubunganku dengan mereka sedekat seperti Maaya, aku merasa jika aku
berbicara dengan mereka tentang hal-hal sepele, aku bisa mengingat kembali
perasaanku yang biasa.
Setelah
melewati jam perkuliahan pertama
dan istirahat sejenak, aku pindah ke ruang kuliah, lalu menemukan Kyouka serta Mayu yang sudah ada di dalam kelas, membuka
buku pelajaran di atas meja.
Aku
berpikir bahwa jarang sekali mereka datang begitu awal, lalu aku duduk di
sebelah mereka.
“Saki,
kamu tampak santai banget, ya.” kata Kyouka.
“Maksudnya santai?”
Ketika aku
bertanya balik, Kyouka dan Mayu menunjukkan wajah aneh.
“Tidak,
hari ini kita bakalan giliran kita,
‘kan, membaca dan menerjemahkan?”
“Eh?”
Aku seketika merasa panik dan mencoba
mengingat kembali. Dalam kelas bahasa Prancis, pada pertemuan pertama, kami
dilarang berpindah tempat duduk oleh dosen. Alasannya adalah dosen tersebut
selalu meminta kami membaca buku pelajaran dan menerjemahkannya berdasarkan
urutan tempat duduk. Minggu lalu, kami sudah dibaca hingga deretan sebelah
kami.
Jadi,
tidak peduli bagaimana aku
memikirkannya, hari ini memang giliran kami.
“Jangan
bilang, kamu lupa?” tanya Mayu, dan aku mengangguk
sambil merasa canggung.
Aku harus
memeriksa pengucapan dan arti kata-kata tersebut, jika tidak, itu akan menjadi bencana yang cukup
besar. Aku harus bersiap-siap untuk membaca dengan terputus-putus, mengaku
tidak bisa membaca kata-kata yang tidak kuketahui, dan bersiap untuk
ditertawakan karena terjemahan yang aneh. Astaga. Ini sungguh kesalahan besar. Aku hanya
melakukan persiapan seadanya.
“Tumben-tumbennya
Saki melupakan hal seperti ini.”
“Aku
sudah memeriksa kata-kata yang mungkin muncul sebelum dan sesudahnya, jadi kamu boleh melihatnya jika mau?”
Mayu
menggeser buku teksnya ke arah aku. “Terima
kasih,” jawabku sambil menundukkan
kepala.
“Beneran tumben banget Saki sampai melupakan
PR-nya!”
Kyouka, kamu tidak perlu mengulanginya sampai dua kali juga. Namun, aku tidak ingat kapan
terakhir kali aku melakukan kesalahan seperti ini.
Dengan
bantuan persiapan Mayu, aku berhasil melewati perkuliahan tersebut. Ketika jam kedua
berakhir, aku merasa sangat kelelahan secara mental.
“Terima
kasih atas kekuatan persahabatan! Guru
pelupa!”
“Menjadi
murid dari guru pelupa berarti Kyouka ingin melupakan sesuatu?”
“Kurasa
dia hanya menggodaku...”
Aku menatap
Kyouka dengan tajam karena sudah dipanggil dengan nama yang tidak menunjukkan
rasa hormat.
“Yah,
itu tidak penting.”
Jika itu
tidak penting, tolong jangan panggil aku dengan julukan
aneh seperti itu. Meskipun begitu, aku merasa
lega dengan perdebatan konyol yang sesuai dengan dugaanku.
“Ayo
ke kantin! Aku sudah lapar nih!”
Kyouka
berkata sambil mengabaikan tatapanku. Karena aku tidak keberatan dengan
pendapat itu, kami bertiga bergerak menuju kafetaria (atau lebih tepatnya,
kantin) di kampus.
Aku
menatap papan pengumuman yang menampilkan menu hari ini sambil berpikir tentang
apa yang akan kumakan. Oyakodon
atau chuka-don? Makanan dalam mangkuk harganya cukup
terjangkau.
Bukannya itu
terdengar seperti bukan makan
siang para mahasiswi muda?
Jangan
berpikir bahwa menu di kafetaria di kampus wanita semuanya adalah makanan yang
stylish. Itu hanya ilusi. Produk-produk yang ditawarkan kepada mahasiswi yang harus menghemat uang selalu
ada untuk memenuhi kebutuhan para gadis di masa-masa yang membutuhkan
penghematan. Jadi, tidak mengherankan jika tempat ini cukup ramai.
Dan jujur
saja, keuanganku untuk bulan ini cukup sulit.
Karena setelah ini, aku harus membeli hadiah untuk Yuuta.
Ketika aku
sedang mempertimbangkan pilihan, Kyouka yang berdiri tepat di depanku mulai berbicara. Sepertinya
dia tidak memiliki pilihan untuk hanya diam dan antre.
“Apa
yang akan kamu berikan sebagai hadiah?”
“Hah?”
Tiba-tiba
apa sih yang dia bicarakan?
“Sebentar
lagi Natal, ‘kan? Apa yang
akan kamu berikan untuk pacarmu? Aku ingin bertanya pada Shisho untuk referensi.”
“…Hah? Aku belum memikirkannya. Dan
tolong jangan panggil aku Shisho.”
Sekarang,
guru apa lagi ini?
“Shisho
Natal.”
“Kalau
begitu, sebaiknya kamu pergi ke Finlandia saja untuk mencarinya.”
“Aku
lebih menyukai Saki yang lebih berkelas
daripada kakek berjanggut
itu.”
Mendengar
itu, Mayu yang biasanya pendiam tiba-tiba membantah.
“Kyouka,
jika kamu memperlakukan orang tua seperti itu, Sinterklas tidak akan datang.
Dan ingat, hadiah itu seharusnya membuat penerimanya senang, bukan? Apa yang
kamu pilih berdasarkan selera mu tidak selalu benar. Itu tergantung pada orang
yang kamu berikan.”
“Aku
menyukai kakek berjanggut itu. Tapi, seleranya pasti kuno!
Lihat saja kostumnya!”
“Itu
bukan kostum.”
“Kalau
begitu, apa?”
Kyouka
bertanya padaku. Ketika aku kebingungan menjawab,
Mayu mengambil alih.
“Yah,
mungkin itu pakaian kerja tradisional. Betul kan, Saki? Seperti pakaian
pendeta.”
“Ya...
mungkin.”
Menurutku
itu mungkin pakaian uskup atau semacamnya. Jika kita
mengelompokkan pakaian yang dikenakan oleh orang-orang religius, itu mungkin
mirip... iya ‘kan?
Apa aku
akan dimarahi? Semoga tidak.
“Dan
Kyouka, kamu justru mengabaikan
sesuatu.”
“Apa?”
“24
Desember adalah musim panas di belahan bumi selatan. Jika Sinterklas mengenakan
pakaian itu untuk memberikan hadiah kepada anak-anak, dia pasti akan pingsan
karena terkena heatstroke.”
“Serius?”
“Iya.
Kakek berbaju merah itu akan mengganti
pakaiannya menjadi baju renang
saat melewati garis khatulistiwa.”
“Jadi,
saat memberikan hadiah kepada anak-anak di belahan bumi selatan, dia mengenakan
baju renang! ...Aku tidak menyadarinya. Oh,
dan aku mau tempura yang banyak!”
Aku
memotong pembicaraan dan menaikkan nada suaraku.
Setelah menerima udon dengan banyak tempura sebagai ganti tiket makanan, Kyouka
berkata, “Aku akan
ambil tempat duduk,” lalu
berjalan menuju meja.
Mayu
memilih omurice, dan akhirnya aku memilih chuka-don dan menerimanya. Aku
mengikuti Kyouka.
Kyouka
menunggu sampai aku dan Mayu duduk di meja.
“Ayo
cepat makan!”
“Iya,
iya.”
Aku
memecahkan sumpit menjadi dua
dan mulai makan.
“Tapi,
Sinterklas itu kan membagikan semua hadiah dalam satu hari, ‘’kan?”
Pembicaraan
itu masih berlanjut.
“Kalau
begitu, dia harus berkeliling dengan sangat cepat di antara anak-anak di
seluruh dunia, jadi dia pasti bisa berganti pakaian dengan sangat cepat.”
Mayu
mengangguk seolah-olah setuju dengan kata-kata Kyouka.
“Dikatakan
bahwa dia berganti pakaian lebih cepat dari suara.”
“Woahh!”
“Jadi,
menurutmu selera Kakek berbaju merah
yang menampilkan pertunjukan luar biasa setiap tahun, sudah ketinggalan zaman?”
“Aku
belum kepikiran mengenai hal itu.
Hei, bagaimana menurutmu, Saki?”
Aku
hampir saja memberikan jawaban yang masuk akal tapi membosankan—sesuatu
seperti, “Tidak ada
hubungannya antara
seberapa cepat kamu berpakaian dan selera fesyenmu”—ketika aku menghentikan diriku
sendiri. Percakapan-percakapan konyol seperti ini justru penting. Terutama bagiku yang
tidak bisa tetap tenang di depan ibuku.
Dengan melakukan percakapan yang tidak serius semacam
ini, aku bisa menjalani hari-hari yang lebih santai, dan itu
membuat ibuku merasa
lebih tenang. Jadi, seharusnya aku bisa memberikan tanggapan yang lebih
menarik.
“...
Mungkin tidak semua Sinterklas itu kakek-kakek
tua.”
“Jadi, Sinterklas tuh ada banyak, ya?”
“Di
zaman modern ini, jumlah anak-anak jauh lebih banyak dibandingkan saat
Sinterklas pertama kali muncul. Mungkin mereka mempekerjakan asisten.”
Aku
memberikan tanggapan yang tidak terlalu menarik. Ternyata aku tidak memiliki
bakat untuk membuat lelucon seperti Maaya. Ketika aku mulai merasa tidak
enakan, Kyouka tiba-tiba tertarik.
“Ah,
jadi begitu rupanya. Dengar-dengar ada banyak gadis miko saat perayaan tahun baru juga
merupakan pekerja paruh waktu! Jadi, seperti itulah maksudnya.”
Dia
bertepuk tangan dengan kedua tangan.
Dalam
sekejap, aku berpikir bahwa di meja ini, kami sedang melakukan percakapan
paling bodoh seantero Jepang,
tetapi berbicara tentang hal-hal konyol seperti ini dapat mengusir kekhawatiran
yang tidak perlu dari pikiranku.
“Ya,
ya, benar.”
“Jadi, maksudnya, ada juga Sinterklas wanita yang
mengenakan kostum renang yang seksi dan imut
saat membagikan hadiah, ya.”
Percakapan
ini justru tiba-tiba melenceng ke arah yang
aneh.
“Seksi
dan imut?”
“Yang begini!”
Sambil
berkata demikian, Kyouka mengetuk ponselnya dan mengarahkan layarnya ke arahku.
Mayu
membuka mulutnya lebar-lebar dan berkata, “Uwahh!” Mungkin jika dia berbicara dalam
bahasa Inggris, dia akan berkata “Wow!”
“Kostum
Sinterklas ini sangat seksi dan imut,
bukan?”
Layar itu
tampak seperti unggahan seseorang di Instagram, mungkin dari akun pemiliknya.
Itu adalah wanita yang tampaknya sebaya denfanku.
Dari warna yang digunakan, aku bisa memahami bahwa dia sedang berpura-pura
menjadi Sinterklas. Warna dasarnya merah. Ada bulu putih di lengan dan tepi
pakaiannya. Dia mengenakan topi merah dengan pom-pom putih. Jadi, kostum tersebut sudah pasti kostum Sinterklas.
Tetapi
jika dia keluar dengan pakaian itu di tengah musim dingin, dia pasti akan
membeku kedinginan.
Panjang
pakaiannya begitu pendek, hanya sampai di bawah
dada. Aku bahkan bisa melihat sekilas
bagian bawah payudaranya. Pusarnya terlihat, dan roknya adalah rok super mini
jauh di atas lutut, memperlihatkan kaki
rampingnya. Mungkin dia memakai stocking, atau aku berharap
begitu.
Hanya
melihatnya saja sudah membuat aku merasa kedinginan. Pakaiannya sudah hampir
seperti pakaian renang.
“Ako-chan, dia benar-benar berani sekali ya.”
“…
Jaangan-jangan kamu mengenalnya?”
“Ya.
Teman SMA.”
“Be-Begitu ya.”
“Kelihatan
menggoda banget, ya ‘kan?”
Aku
mengerti bahwa pakaian ini memang seksi. Jika gadis
semacam ini muncul di depan anak-anak dengan pakaian seperti
ini dan membagikan hadiah, aku khawatir akan ada masalah dalam pendidikan
moral. Siapa yang bilang Sinterklas yang muncul di belahan bumi selatan pasti
mengenakan pakaian renang?
“Tapi,
menurutku anak-anak harus terbiasa dengan
hal semacam ini sejak kecil. Baik laki-laki
maupun perempuan.”
… Aku
tidak seharusnya membahas topik seperti ini dengan Mayu.
Pola
pikir kami sudah terlalu
berbeda.
Kyouka
menunjukkan gambar sambil menggulir layar ponselnya.
“Kalau
begitu, bagaimana kalau kita mengenakan pakaian seperti ini untuk berkumpul?
Pesta Natal.”
“Enggak mau.”
Aku
menjawab secara refleks. Memang benar kalau aku
diundang untuk menghadiri pesta Natal perempuan. Namun, jika pakaian ini
menjadi syarat wajibnya, itu bakalan jadi cerita yang berbeda.
“Eh?”
“Enggak
mau.”
“Padahal
seksi dan imut banget begini, loh?”
“Maksudku,
rasanya agak menyebalkan ketika kamu mengatakannya dengan nada
seperti, 'Aku tidak mengerti mengapa kamu
menolak sesuatu yang begitu menakjubkan.' Mengapa
kita membutuhkan sesuatu yang seksi dan imut di acara malam khusus perempuan?”
“Seksi
itu penting. Kesehatan yang utama!” ucap Kyouka.
Aku tidak
mengerti.
Memangnya
seksi bisa membuat seseorang sehat? Apa iya?
Mayu juga mengangguk setuju.
Aku merasa kedua orang ini lebih berani dalam pembicaraan seperti ini dibandingkan
Shiori-san…
“Yah, benar
juga. Bagaimana dengan ini? Yang begini bahkan
lebih berani. Kalau mau
melakukannya, gimana kalau sampai sejauh ini?”
Mayu yang
sejak tadi sibuk memainkan ponselnya tiba-tiba mengarahkan
layarnya ke arahku. Itu adalah gambar wanita lain dengan kostum Sinterklas. Aku
tidak bisa menahan diri untuk menelan ludah. Karena pakaian yang ditampilkan terlalu
terbuka.
“Owahhh.
Keren. Hampir kelihatan banget~.”
Aku tidak
mengatakan apa yang dimaksud Kyouka.
“Aku bahkan
lebih enggak mau.”
“Kalau
sesama perempuan tidak ada masalah, ‘kan?
Lagipula tidak perlu merasa malu segala.”
“Ya, kurasa juga begitu. Mungkin pakaian begini tidak bisa ditunjukkan
kecuali kepada sesama perempuan.”
“Eh,
lihat yang ini juga. Lihat deh.”
“Yang itu
sih bukan kain lagi, itu cuma
tali.”
Melihat Kyouka dan Mayu bersemangat melihat
foto-foto kostum Sinterklas
yang seolah-olah menghancurkan definisi pakaian, aku merasa khawatir apa aku
yang aneh. Apa begini ‘suasana sekolah laki-laki’ yang hanya kudengar dari rumor?
… Tapi, kurasa
Shiori-san bisa mengikuti suasana. Aku mulai bisa membayangkan wajah Senpai-ku yang sangat suka candaan jorok. Jadi, apa ini justru perilaku khas sekolah
perempuan? Atau universitas perempuan? Menghabiskan waktu di siang hari dengan bersemangat melihat gambar Sinterklas
yang hampir seperti pakaian dalam.
“Yah,
aku tidak akan menghentikan kalian kalau ingin
melakukannya, tapi aku akan enggak
ikutan.”
Rencanaku
adalah menghabiskan Natal bersama keluarga, dan ketika aku mengatakan itu,
Kyouka menyeringai lebar.
“Dasar Saki,
bukan begitu, ya ‘kan. Bukan
dengan keluargamu, tapi
dengan pacarmu!”
“Eh…”
"Kamu
akan berkencan pada hari Natal, ‘kan? Kamu tidak perlu menyembunyikannya segala. Tidak mungkin sampai kuliah
masih merayakan Natal di rumah, itu bukan alasan yang masuk akal.”
“Sebentar,
tunggu dulu sebentar.”
Kenapa
pembicaraannya malah jadi begitu?
Aku buru-buru menambahkan.
“Aku
benar-benar merayakannya bersama
keluargaku!”
Yah memang,
di antara keluarga itu ada Yuuta. Jadi, mungkin separuh dari imajinasi Kyouka itu benar, tetapi tetap saja tidak sepenuhnya juga.
“Jadi,
kamu tidak akan merayakan Natal dengan pacarmu?”
“Merayakannya
sih.”
“Jadi,
kamu akan merayakannya.”
Aku
merasa seolah-olah dia memiliki pemahaman yang sedikit melenceng. Bahasa Jepang
itu memang sulit.
“Jadi,
jika begitu, bukannya ini ide yang bagus?”
“Hah?”
“Jadi,
kamu bisa melakukannya pada pesta Natal dengan pacarmu. Kenakan kostum ini,
tambahkan pita di tubuhmu, dan katakan bahwa kamu lah hadiahnya.”
Mayu
sedikit menyipitkan matanya dan
berkata dengan nada skeptis.
“Kyouka…
kamu serius dengan itu?”
Iya, ‘kan. Aku tidak bisa setuju dengan
itu—
“Menurutku
kostum Saki sebagai Sinterklas adalah ide yang luar biasa, tapi jika itu adalah
hadiah untuk pacarnya, itu berarti kita tidak bisa melihatnya, dong.”
“Ah,
benar juga. Yup.
Itu tidak bisa.”
“‘Kan?”
“Baiklah.
Kamu tidak perlu memakai begitu dengan pacarmu,
jadi mari kita pakai kostum ini untuk pesta Natal perempuan?”
“Tidak
mau.”
“Cih.
Ternyata khusus untuk
pacarmu doang, ya.”
“Curang.
Aku juga ingin yang itu.”
“Bukan
itu maksudnya, aku takkan memakainya sama sekali."
“Pacarmu itu, eh… Asamura… Yuda-kun,
kan?”
“Yuuta.”
Jangan
membicarakan pacar orang lain seolah-olah ia adalah
pengkhianat. (TN: Yuda aka
Judas, dikenal sebagai murid Yesus yang mengkhianati-Nya dengan menyerahkan
Yesus kepada imam-imam kepala dengan imbalan 30 keping perak. Karena
tindakannya itu, ia disebut sebagai “pengkhianat” dan menjadi simbol kejatuhan
moral.)
“Itu
dia. Yunta-kun. Ia pasti
sangat senang! Mana ada
pacar yang tidak menyukai pakaian seksi dan
imut!”
Jangan sembarangan berasumsi. Dan kamu salah lagi, namanya Yuuta.
Aku masih
memiliki sedikit akal sehat untuk tidak mempercayai kata-kata itu. Tentu saja, itu
bukan sesuatu yang bisa dipercaya. Aku bahkan
merasa kalau pakaian semacam itu tidak cocok untukku, dan itu
bukan seleraku.
──Hadiah
itu seharusnya membuat penerimanya senang, bukan? Apa yang kita pilih berdasarkan selera kita tidak selalu benar. Semuanya tergantung pada penerimanya.
...Hmm.
Apa yang
membuat Yuuta senang
tidak ada hubungannya dengan seleraku. Itu benar. Selera orang berbeda-beda.
Itu benar, tetapi... Namun, ketika kami memilih pakaian bersama, ia kelihatan senang mengenakan pakaian
yang kupilih. Ah, tunggu. Mari kita pikirkan dengan baik. Apa yang dipikirkan Yuuta
tentang pakaian yang biasanya aku kenakan?
Atasanku
di tempat intern,
Ruka-san, sering mengatakan bahwa ‘bagus’ dan ‘suka’ adalah dua hal yang
berbeda.
Bisa juga
dikatakan bahwa penilaian dan selera merupakan
hal yang terpisah. Meskipun bisa mengakui bahwa sesuatu dibuat dengan baik, tapi itu berarti kamu akan menyukainya. Mengakui
kelezatan masakan Prancis tetapi lebih suka makan masakan Jepang adalah hal
yang biasa.
Apa yang
diharapkan pacar dari penampilan pacarnya adalah──.
...Tidak,
apa aku benar-benar termasuk orang
yang berpikiran seperti
itu? Pakaian yang kukenakan adalah karena aku ingin memakainya, dan itulah
sebabnya ini ‘persenjataan’-ku.
Namun, bukan begitu inti pembicaraan tadi.
Apa sesuatu seperti ini bisa diterima sebagai hadiah kejutan Natal...?
Aku mulai
bingung. Mana jawaban yang
benar?
“...Aku
sama sekali tidak berniat membelinya, tapi di mana sih mereka menjual barang
seperti itu?”
“Eh,
di mana ya?”
“Kurasa
di Don Quijote atau semacamnya?"
Oh, kalau
di Don Quijote..... mungkin ada di Shibuya juga.
“Loh, Loh~? Kamu
tertarik? Pacar Saki benar-benar beruntung, ya~”
Kyouka
berkata sambil menyeringai.
Sudah
kubilang, aku tidak akan memakainya!
...Yup. Aku takkan
memakainya.
Yah... untunglah
kita bisa mengobrol konyol seperti itu sampai-sampai saat kita meninggalkan
kantin, aku bahkan tidak ingat lagi apa yang kukhawatirkan…?
Setelah
itu, saat aku sendirian, aku mencari pakaian itu
melalui ponsel dan memeriksa kostum dengan seksama. Menurutku itu imut, tetapi aku tidak yakin
apa Yuuta akan senang melihatku
memakainya. Meskipun begitu, aku bisa sedikit melupakan kegelisahan di kepalaku
yang terus-menerus memikirkan tentang kesehatan ibuku dan kehamilannya.
Aku
memutuskan untuk melupakan bahwa aku sempat teringat tentang ungkapan ‘menggunakan racun untuk mengatasi
racun’.
Lagipula,
hari ini aku ada pekerjaan magang
di tempat Ruka-san sore nanti. Aku berhasil menekan kecemasanku. Aku harus
berusaha keras menjadi asisten Ruka-san...
◇◇◇◇
Ketika
aku tiba di 『Lucca
Design. Studio』,
aku sedang menyelesaikan berbagai tugas dan persiapan seperti biasa.
Aku sedang menulis balasan email dan membuka
jadwal untuk memeriksa kemajuan. Saat aku menjalankan tugas yang sudah aku
kuasai dengan baik, Ruka-san memanggil aku dengan “sebentar”.
Ketika
aku mengikuti isyaratnya, aku dibawa ke ruangan yang dipisahkan oleh partisi.
Di dalam ruangan itu terdapat satu meja besar dengan enam kursi yang bisa
diletakkan di sekelilingnya. Singkatnya, itu adalah ruang rapat.
Aku
diminta untuk duduk dan menunggu.
“Terima
kasih sudah menunggu.”
Orang yang masuk
dengan suara ketukan adalah Wada-san. Meski
jabatannya adalah petugas administrasi, tetapi sebenarnya dia
adalah wakil presiden dan anggota tertua di perusahaan. Wada-san membawa
sekumpulan cetakan.
“Sebenarnya,
ada proyek baru yang datang.” Ucap Ruka-san.
Proyek di
sini merujuk pada permintaan pekerjaan.
“Selamat!
Apa ini tentang penjadwalan?”
Bukan
pertama kalinya hal seperti ini terjadi.. 『Lucca Design. Studio』 adalah biro desain kecil, dan pekerjaan yang
ditangani juga masih kecil. Namun, beruntungnya, kinerja kami baik dan kami
memiliki reputasi yang cukup baik di industri, sehingga proyek terus masuk
tanpa terputus.
Namun untuk proyek kecil, kami biasanya
hanya diberitahukan melalui alat komunikasi bisnis, jadi fakta bahwa Ruka-san
dan Wada-san, dua orang teratas di
perusahaan kami, sengaja mengadakan rapat di dalam partisi, hal tersebut menunjukkan bahwa ini
adalah pekerjaan yang cukup besar.
Aku menunggu
mereka berbicara sambil memperkirakan seperti itu, dan Wada-san
membagikan lembaran cetakan yang dibawanya.
Ruka-san
mengambil salah satu cetakan dengan jarinya dan mengibaskannya sambil
berkata,
“Tentu
saja, kita perlu menyesuaikan jadwal juga,
tapi kupikir aku juga ingin sedikit bantuan dari Saki.”
“Eh?
Dariku?”
“Ini
bukan pekerjaan desain, maaf.”
“Ah.”
Meski ini
biro desain, tetapi bukan pekerjaan desain? Apa maksudnya?
“Pertama-tama,
aku ingin kamu membaca materi ini sekilas.”
“Baik.”
Aku
membaca materi yang dibagikan dengan hati-hati. Sebagai sekretaris Ruka-san,
aku tertarik dengan rincian proyek dan perlu menanyakan jika ada yang
membingungkan.
Materi
tersebut terdiri dari empat lembar kertas A4.
Pada
lembar pertama, jantungku berdebar kencang saat
aku melihat judul yang ditulis dengan huruf gaya ghotic kapital tebal
(dan berwarna merah pula).
“Pameran
Horor”
Aku tidak
sengaja menelan ludah. Meskipun aku merasa keringat dingin muncul di bawah
lenganku, aku terus membaca.
Pada musim
panas ini, 『Lucca
Design. Studio』berpartisipasi
dalam acara [Roppongi Art
Festa] sebagai direktur kreatif. Itu
adalah pameran besar yang menjadikan jalanan Roppongi sebagai lokasi
pameran.
[Pameran
Horor]
kali ini memiliki skala yang sedikit lebih
kecil dibandingkan pameran sebelumnyatampak
seperti pameran pribadi dengan tampilan terbuka yang menggunakan satu tempat.
Namun kali ini, kami bertanggung jawab tidak hanya untuk konsep pameran dan
pembagian, tetapi juga desain keseluruhan ruang.
Artinya,
meskipun skala tempatnya kecil, sebagai biro desain, ruang lingkup tanggung jawab
yang diberikan lebih luas daripada sebelumnya.
“Ini
proyek yang cukup besar, bukan?”
Ruka-san berkomentar demikian. Dia
terlihat senang.
“Ya...
Sepertinya sulit.”
“Justru
itulah yang membuatnya menarik.”
Sambil
berkata begitu, Ruka-san melirik ke arahku. Aku merasakan tatapannya dan terus
membaca materi tersebut.
Sejujurnya,
aku tidak menyukai hal-hal
yang berhubungan dengan horor. Atau
lebih tepatnya, kurasa
aku memiliki toleransi yang rendah terhadap semua yang membuat takut.
Suara petir
yang keras, kegelapan yang begitu pekat
sampai-sampai tidak bisa melihat di depan hidung, dan tentu
saja film horor. Meskipun temanku,
Maaya, menikmati hal-hal yang
menakutkan, aku justru semakin menjadi
lebih takut ketika menyadari bahwa aku sedang ketakutan....
Di bagian
belakang cetakan, terdapat gambar-gambar horor yang jelas-jelas digunakan
sebagai referensi. Alih-alih gambar makhluk supernatural yang jelas-jelas
fiktif, banyak gambar yang lebih realistis seperti pisau berlumuran darah, alat
penyiksaan, dan foto rumah sakit kosong.
Dengan kata
lain, gambar-gambar tersebut
membuatmu membayangkan peristiwa mengerikan yang mungkin benar-benar terjadi. Bahkan ada juga foto yang terlihat
seperti hantu bayi atau anak-anak... dan gambar yang mengingatkan pada wanita
malang atau kelahiran yang tidak bahagia, yang sangat merangsang sarafku hanya
dengan melihatnya──.
“Saki?”
Aku
terkejut dan mengangkat wajahku.
Ruka-san
tampak khawatir saat melihat ke arahku.
“Jangan-jangan,
kamu merasa tidak nyaman? Ada orang-orang di luar sana yang tidak bisa
menangani hal seperti ini, jadi jika kamu merasa tidak bisa menanganinya, aku bisa mengeluarkanmu
dari proyek ini.”
Aku
menyadari bahwa aku menunjukkan kegelisahan di wajahku. Tanpa sadar, aku
menggenggam lembaran materi
itu dengan kuat, sehingga tepi cetakan menjadi berkerut. Saat itu aku memahami
mengapa aku dipanggil ke dalam partisi. Tentu saja, [Pameran Horor] ini tampaknya akan
menjadi acara yang dipilih oleh orang-orang tertentu untuk dinikmati. Bagi
mereka yang tidak suka, acara ini justru
menjadi acara yang sangat menakutkan. Dan mungkin, menurut penilaian Ruka-san, mungkin hanya aku
satu-satunya di kantor ini yang tidak menyukai
horor.
──Jika
tidak bisa menanganinya,
aku bisa mengeluarkanmu
dari proyek ini.
Ruka-san
memberiku kesempatan untuk mundur.
“Aku...
apa yang harus kulakukan?”
Jika
hanya pekerjaan sebagai sekretaris, aku tidak akan keberatan meskipun temanya
horor. Dalam pekerjaan manajemen jadwal, aku tidak perlu terlibat dalam isi
karya tersebut. Mungkin aku akan ikut serta dalam survei lokasi sih.
“Semua
orang di kantor kami memiliki toleransi yang tinggi terhadap horor.”
Tentu
saja, sudah kuduga...
"Sebelum
kamu bergabung, kami pernah menyewa penginapan pemandian
air panas di Nagano untuk melakukan pelatihan belajar. Itu
adalah penginapan yang berusia 60 tahun, di mana kami belajar desain di siang
hari dan berendam di onsen di malam hari.”
“Aku
ingin melakukannya lagi.”
Wada-san
berkata dengan nada nostalgia.
“Namun,
kami menjadi sangat sibuk. Jadi, setiap malam, kami melakukan sesi cerita.”
“...Apa
yang diceritakan?”
“Cerita
hantu. Pengalaman menakutkan. Semua orang sangat menyukainya. Aku tidak tahu
dari mana mereka mendapatkan cerita-cerita itu, tetapi mereka tahu banyak
sekali. Ah, tidak masalah. Aku tidak akan mulai bercerita di sini.”
Aku
menghela napas yang tertahan. Untung saja.
“Jadi,
terus terang saja, tanpa
pandangan orang yang penakut,
kami tidak dapat merancang cara untuk menakut-nakuti orang.”
“Pandangan
orang yang penakut...”
“Tentu
saja, karena ini adalah pameran yang akan dibuka untuk umum, ada batasan dalam
hal ketakutan. Namun, semua orang di sini sudah terlalu terbiasa dengan hal-hal
menakutkan, jadi kami sangat menginginkan pendapat dari orang-orang yang gampang takut.”
“Jadi,
apa yang kamu butuhkan bantuan dariku?”
“Monitor.”
“Apa
itu berarti aku akan menjadi penonton awal?”
“Ya,
itu. Jika memungkinkan, aku ingin pendapat dan masukan tentang ide-ide yang
kami ajukan sejak tahap desain ruang.”
Itu
berarti aku akan dapat bekerja lebih dekat dengan tim produksi.
“Jadi...
apa keputusanmu?”
Dia
bertanya dengan serius.
Aku
berpikir sejenak. Pengalamanku baru-baru ini
semakin menunjukkan bahwa aku memang gampang takut. Aku pernah mendengar bahwa hal
yang paling menakutkan dalam ketakutan adalah yang tidak diketahui──.
Petir,
kegelapan, dan kapak berlumuran darah semuanya menakutkan. Namun, aku menyadari
bahwa hal yang paling menakutkan bagiku adalah ketidakpastian. Melahirkan anak,
serta menjadi seorang kakak, adalah pengalaman yang belum pernah kualami.
Karena tidak tahu, hal-hal itu terasa menakutkan.
Namun,
jika aku terjebak dalam ketakutan dan berhenti melangkah, ketidakpastian akan
tetap menjadi ketidakpastian.
Aku bisa
menjadi yang pertama merasakan desain sebelum selesai dari seorang desainer
profesional dan memberikan pendapat. Aku
bisa berpartisipasi di lokasi yang lebih dekat dengan proses produksi.
Apa aku
akan melewatkan kesempatan seperti itu hanya karena ketakutan? Ketika aku
memikirkannya seperti itu, tidak mungkin aku bisa menolak...
Aku
menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara.
“Terima
kasih atas perhatiannya. Sejujurnya, aku merasa takut, tetapi aku
baik-baik saja. Izinkan
aku untuk mencobanya.”
Ruka-san
terlihat lega.
“Itu
sangat membantu. Tidak baik jika tim hanya terdiri dari orang-orang yang tahan
horor.”
Aku
mengangguk. Aku tidak tahu seberapa banyak pendapat atau komentar yang bisa
kuberikan, tapi keinginanku untuk melihat langsung proses desain jauh lebih
kuat daripada hanya mengelola jadwal dan email sebagai sekretaris.
“Baiklah, kalau begitu, Saki, kamu akan menjadi
monitor setiap saat.”
“Ya.”
Setelah
itu, aku mulai berkonsentrasi menuntaskan
tugas-tugas sekretaris, termasuk memahami
jadwal.
Di dalam
kereta pulang, aku membuka aplikasi pesan untuk memberi tahu Yuuta bahwa pekerjaan baru telah
dimulai. Tentu saja, aku tidak bisa membahas rincian pekerjaan yang bersifat
rahasia. Namun, aku harus memberi tahu bahwa pekerjaan
intern yang sebelumnya relatif santai akan menjadi
sibuk.
Memikirkan
hal itu, aku mulai menulis pesan dan hendak mengirimnya, tetapi kemudian
berhenti. Jika aku
mengirim pesan panjang, kemungkinan besar Yuuta
juga akan membalas dengan pesan panjang.
Yuuta menyadari bahwa aku sedikit
sensitif setelah pengakuan tentang kehamilan ibu. Namun, karena aku tidak
mengatakan apa-apa, Yuuta juga
tidak berani bertanya. Ia tidak
bertanya, “Kamu
baik-baik saja?” Mungkin,
selama aku tidak mengeluarkan keluhan, dirinya
akan bersikap seperti biasa. Namun, jelas bahwa ia memperhatikan
keadaanku.
Dalam
situasi seperti itu, jika aku menulis bahwa “pekerjaan
intern-ku akan menjadi sibuk",
ia pasti akan bertanya, “Apa kamu
baik-baik saja?”.
Itu akan menjadi
masalah.
Aku bisa
melihat kemungkinan di mana aku mulai bergantung secara berlebihan pada Yuta
tergantung pada situasinya. Setelah banyak pertimbangan, aku
akhirnya hanya mengirim stiker kucing sebagai salam.
◇◇◇◇
Malam
harinya, aku menerima pemberitahuan dari Yuuta yang mengajakku untuk melakukan video
call setelah sekian lama. Saat
menjawab panggilan, wajah Yuuta
yang familiar namun sudah lama tidak kulihat muncul di layar kecil.
Akhir-akhir
ini, Yuuta sering tidak bisa meluangkan
waktu, sehingga kami tidak melakukan video call secara rutin. Begitu melihat
wajahnya, aku tidak bisa menahan napas berat yang keluar dari mulutku.
Rasa
sakit yang tajam menusuk dadaku. Aku merasakan campuran kerinduan dan kemarahan yang tak beralasan
karena merasa sudah lama sekali aku tidak melihat wajah ini.
Namun,
saat menatapnya, aku melihat ada nuansa penuh
kelelahan di wajah Yuuta.
“Apa
kamu... lelah?”
Dirinya memang bilang sibuk dengan
pekerjaan paruh waktu dan studinya...
“Ya,
sedikit.”
Setelah
mengucapkan itu, kali ini gilirannya yang
bertanya, “Bagaimana
denganmu, Saki?”
Pertanyaan
itu mengguncang hatiku. Aku ingin mengatakan bahwa aku juga sedikit lelah.
Lihat,
Saki. Seperti yang kuduga.
“Aku...
baik-baik saja.”
Hampir
saja.
Aku
hampir saja mengungkapkan keluhanku padanya.
“Aku
merasa suaramu sedikit kaku.”
“Tidak
mungkin.”
Yuuta menatap wajahku dengan penuh
perhatian seolah ingin mencari jawaban.
Aku tidak bisa menahan diri untuk mengalihkan pandangan. Ia menunggu tanpa mengatakan
apa-apa, menungguku untuk berbicara.
Aku
akhirnya──.
“Namun...
baru pertama kalinya aku... merasakan ada anak di dalam perut ibu.”
“Ya.”
Aku tahu
bahwa aku terlalu khawatir. Aku seharusnya bersikap biasa seperti yang dia
katakan.
Yuuta tidak terburu-buru.
Keluhanku
terus menumpuk di dalam diriku.
Aku
khawatir ada sesuatu yang terjadi pada ibu, dan ketika membayangkan saat-saat
di mana aku mungkin menjadi seorang ibu, aku berpikir aku tidak mampu
melakukannya......
“Jadi──”
Aku merasa
takut.
Aku
hampir saja mengucapkan kata-kata itu. Aku tidak ingin membebani Yuuta dengan keluhanku.
Apa yang
kukatakan adalah justru hal
yang bertolak belakang.
“Umm,
jadi begini. Sepertinya ada pekerjaan baru yang akan dimulai di tempat Ruka-san.”
Mata Yuuta menatapku dengan penuh
perhatian. Dia mencoba membaca perasaan yang tersembunyi di balik kata-kataku,
apakah itu benar-benar apa yang ingin kubicarakan. Berbeda denganku, Yuuta memiliki kemampuan untuk
memahami dengan baik.
“Sepertinya
kamu bakalan sibuk, ya?”
“Ya,
mungkin. Tapi tidak apa-apa. Kamu juga sibuk, kan?”
“Ya,
lumayan.”
“Jadi...
aku tidak bisa memberi tahu banyak tentang isi pekerjaannya, karena belum
diumumkan. Tapi, kurasa aku harus menonton film horor untuk pekerjaan itu.”
Karena Yuuta tahu kalau aku cukup penakut, aku
berharap dengan mengatakan ini, aku bisa menyembunyikan ketidaknyamananku yang
sebenarnya.
Aku pikir
dia mengerti alasan kecemasanku.
Aku merasa takut karena tidak tahu.
Hanya itu
saja. Kehamilan ibu, memiliki adik laki-laki atau perempuan, adalah hal yang
biasa di masyarakat, dan banyak orang sudah mengalaminya. Namun, bagiku, itu
terasa sangat asing
Aku tidak
ingin membuat Yuuta merasa
terganggu oleh hal-hal sepele seperti itu.
“Umm,
jadi tentang rencana kita untuk merayakan ulang tahun
bersama.”
Aku
memaksakan diri untuk mengalihkan topik pembicaraan. Jika aku terus membahas hal ini,
aku khawatir kalau aku akan
terus-menerus membebani
Yuuta
dengan kecemasanku.
Daripada
itu, rasanya lebih baik memikirkan hal yang
lebih menyenangkan. Kami sudah lama tidak berbicara seperti ini.
Yang
terpenting, aku bisa bertemu langsung dengan Yuuta di
perayaan ulang tahun bersama akhir pekan ini.
Aku bisa bertemu dengannya, bahkan menyentuhnya. Hanya memikirkan itu saja
sudah membuat perasaan hangat muncul di dalam diriku.
Senyum
tulus tersungging di bibirku.
Yuuta menunjukkan ekspresi lega
melihat senyum yang kubuat.
Aku
berpikir, “Syukurlah”. Ya. Aku
baik-baik saja. Aku baik-baik saja. Aku mengulanginya pada diriku sendiri saat
mengakhiri panggilan video.
Dan
akhirnya, akhir pekan tiba. 17 Desember. Hari Sabtu. Hari untuk merayakan ulang
tahun bersama akhirnya datang──.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
