true became fiction when fiction's true

Sunday, 11 November 2018

The Result when I Time Leaped Chapter 30 Bahasa Indonesia


Darmawisata Sekolah - Bagian 5

Malam kedua.
Fujimoto dan yang lainnya kurang energik dibandingkan hari pertama, dan karena kelelahan, mereka cepat tertidur. Padahal, aku berharap ada semacam perang bantal ...
Melihat semuanya tertidur nyenyak. Aku juga berniat untuk tidur saat ponselku mulai bergetar.
"..."
Supaya tidak mengganggu orang lain karena cahaya ponselku, aku menutupi diriku dengan selimut.
“Apa kamu masih bangun? Aku ingin melihatmu, Seiji-kun. ”
Guu ... Hiiragi-chan langsung membuat undangan yang tak terduga.
"Tapi, Sensei, bukannya ini waktunya untuk tidur?"
"Mou, dasar pelit ~!"
Ah Imutnya…
Kalau begitu, kita ketemuan di tempat lain saja.
Karena semuanya sudah tertidur pulas, kalau aku pergi sekarang, mungkin tidak ada yang tahu. Yah, aku bilang tak ada masalah karena lampunya sudah dimatikan, jadi ayo kita lihat dewi yang terlalu imut ini. Setelah mengatur yukataku, aku memeriksa penampilanku di cermin dan meninggalkan ruangan.
"Ah, akhirnya kamu keluar juga!"
"Uwah!?"
Aku ditangkap oleh Hiiragi-chan yang sudah menunggu.
"Tunggu, ini masih di lorong!"
Aku berusaha keras melepasnya saat dia mencoba yang terbaik untuk mendekapku. Aku sangat terkejut ... Yah, kurasa dia berpikir kalau aku pasti akan keluar?
Sial, instingnya bagus juga.
"Sensei, apa yang sedang anda lakukan di sini?"
"Hiiragi-senseei, saat ini ... sedang berpatroli!"
Funya, Hiiragi-chan memberi hormat*. Dia mabuk lagi ... Dia mengenakan yukata, dan rambutnya tergerai lurus, tidak dikuncir seperti biasanya.
(TN : Hormat ala polisi atau pas upacara)
"Karena sudah masuk jam tidur, sebagai guru, aku harus memeriksa apakah ada murid nakal yang masih keluyuran."
"Benarkah?"
“Aku menangkap satu murid yang nakal, get it.”
Funi funi, dia bermain-main dengan pipiku. Astaga dia ini ...
"Tapi, kau memanggilku—"
"Kamu mencuri hati Hiiragi-sensei, dasar murid nakal."
Dia cengengesan. Uugh, dia benar-benar dalam mode mabuknya. Ayolah, dadamu itu, aku bisa melihatnya dengan jelas! Kau tidak memakai bra lagi, ya?
... Yah, kurasa itu karena cara berpakaian yukata ...?
“Seiji-kun, kamu selalu menatap dadaku. Dasar cabul
"Di-Diam. Si-Siapa juga yang melihatnya. Bukannya kau sedang bekerja? ”
"Ya."
"Karena kau selalu seperti ini, saat kau sadar, kamu akhirnya akan menyesali itu, ‘kan?"
"... Baiklah, aku minta maaf ..."
"Bar kesenangan" Hiiragi-chan terlihat berkurang pada saat itu. Ah, sekarang akulah yang merasa buruk padanya.
“Karena hanya aku guru yang lebih muda, aku dipaksa untuk melakukan tugas berpatroli, tahu? Mou. "
Sambil menyuarakan keluhannya, Hiiragi-chan cemberut. Dia merapikan yukatanya yang berantakan, dan berjalan tanpa tujuan. Jika kami ketahuan berjalan berdua seperti ini setelah lampu padam, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Hiiragi-chan yang dalam mode mabuk dan tak berdaya, mana mungkin aku membiarkannya sendirian, jadi aku mengikutinya.
"Karena aku merasa cemas, aku akan menemanimu."
"Siswa nakal akan ditahan."
Ucapnya, sembari meraih tanganku.
“Aku juga, aku menemukan seorang guru yang tak berdaya, erotis, dan imut.”
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Tentu saja, menangkapnya."
Aku juga, menggenggam tangannya yang lembut sebagai balasan.
"Kurasa, kita berdua saling menangkap."
Ayolah, jangan mengatakan sesuatu yang manis begitu. Aku nanti lebih mencintaimu, loh.
Sambil berbincang dan berpatroli, Hiiragi-chan berjalan menjauh dari tanda-tanda orang lain. Tidak ada siswa menempati kamar area ini. Kami berdua terus menyusuri lorong , lalu melewati jembatan, menuju gedung yang tidak terpakai.
Di dekat gedung itu, ada ruang istirahat kecil, dan di seberang penghalang kaca besar, ada halaman yang diatur dengan indah. Untuk bisa menikmati pemandangan itu, kami duduk di sofa dan saling berpegangan tangan dengan damai. Hiiragi-chan kemudian menyandarkan kepalanya ke pundakku.
Meski belum sepenuhnya sadar, aku bisa merasakan kehangatan telinga dan pipinya melalui yukataku. Semua lampu sudah padam, dengan disinari cahaya bulan perak yang menggantung di langit. Nnnnnnn ... mesin penjual otomatis di belakang sedang membuat suara rintihan kecil.
"... Kamu tahu, tempat ini benar-benar bagus, dan aku selalu berpikir untuk datang kesini denganmu Seiji-kun."
Aku tidak tahu bagus atau jeleknya kebun ini. Namun, sekarang aku tidak tahan untuk tidak melihatnya. Tampaknya, cara pandangmu itu tergantung pada orang yang bersamamu. Kemudian, kami berbicara satu sama lain dengan tenang. Kejadian apa saja yang terjadi hari ini. Aku pikir itu, oh, aku pikir... Ini percakapan yang tidak berarti sama sekali.
"Satu tahun dan sepuluh bulan lagi."
"Sampai aku lulus?"
"Ya. Dan, entah kenapa membuatku sedikit sedih. Diam-diam menyelinap di ruang staf, saling menyuapi, atau saling berciuman di ruang persiapan. Itu takkan terjadi lagi. ”
Terakhir kali saat aku lulus, yang bisa kulakukan hanyalah melihat Hiiragi-chan dari kejauhan, tanpa meminta nomor ponselnya dan tanpa mengungkapkan perasaanku padanya. Aku menyadari bahwa jika terus berusaha keras dan berjuang, hidupmu bisa berubah.
"Itu benar, tapi kalau di akhir pekan, kita bisa saling bertemu, kan?"
“Ini dan itu adalah hal yang berbeda. Jika Hiiragi-sensei tidak melihat Seiji-kun di sekolah, dia tidak bisa bersemangat lagi ... ”
"Aku menyukai Haruka-san yang bekerja keras."
"Aku akan melakukan yang terbaik!"
Oi,Oi apa tidak masalah kalau hanya begitu saja …... Maksudku, itu juga bagian lucu darinya.
Ayo kita beritahu dia sesuatu yang sudah lama aku pikirkan. Ini percakapan yang lumayan serius. Jadi, aku harus bisa mengatakannya sekarang.
“Haruka-san, kau pernah bilang kalau aku sudah lulus, aku tidak perlu bekerja, atau melanjutkan sekolah, ‘kan?”
"Ya. Aku akan merawatmu.”
"Tentang itu, emmm…. kupikir aku akan bekerja."
“Eh, kenapa? Kamu tidak perlu memaksakan diri. ”
Aku sama sekali tidak memaksakan diri. Itulah yang aku coba utarakan saat aku menjelaskan lebih lanjut.
“Kau terus melakukan yang terbaik sebagai guru meski itu pekerjaan yang keras, kan? Aku juga sama, aku ingin mencoba yang terbaik dalam sesuatu demi dirimu. ”
"Dan itu menjadi pekerjaan?"
"Ya itu benar."
"Pernyataan yang begitu dewasa…... meski kamu hanya kelas 2 SMA ..."
Mungkin karena terkejut, Hiiragi-chan berkedip beberapa kali. Karena di dalam diriku sudah bermental dewasa, aku sangat memahami apa artinya bekerja.
“Kurasa itu tidak baik untuk mendorong semua hal yang merepotkan pada Haruka-san. Selain itu, jika aku memperkenalkan diri kepada orang tuamu, bukannya nanti akan berakibat buruk kalau aku dicap sebagai pengangguran?. ”
Uuuuu, kamu ini masih SMA, banyak pilihan masa depan yang bisa kamu pilih ...”
Merengek sedikit, Hiiragi-chan hampir menangis.
"Jangan menangis."
"Tapi aku sangat senang …….. kamu sudah memikirkan masa depan kita bersama ..."
Fumiii, dan dengan cara yang aneh, air matanya jatuh mengalir di pipinya. Namun, jika aku tidak mengatakan ini dengan benar, hidupku akan berakhir seperti kehidupan benalu. Aku pikir bahwa jika itu untuk orang yang aku cintai, maka aku harus melakukan yang terbaik sambil melakukan pekerjaan yang membosankan.
Gusu gusu, setelah membersihkan hidungnya, HIiragi-chan mengusap air matanya.
“Itu adalah sesuatu yang aku harapkan ... tapi jika Seiji-kun mengatakan sesuatu seperti itu, aku akan menyerah. Lagian, itu hanya keinginan egoisku sendiri ... ”
"Apa?"
"Ya ... Jika kamu akan bekerja, bagaimana kalau kita bekerja bersama-sama?"
"Hmmm? Bersama?"
"Betul. Jika Kamu lulus dan kuliah, Kamu bisa menjadi guru. Dan kemudian Seiji-kun bisa menjadi guru di sekolah ini. ”
"Haa ... guru ... Haa!?"
"Maksudku, Kamu ‘kan pintar ... dan aku pikir kalau kamu mau bekerja, lebih baik kalau kita bekerja di tempat yang sama ... Kemudian, itu bisa seperti perkawinan di tempat kerja."
"Jika aku melakukan itu, apa kau mau menunggu sampai saat itu ...?"
Saat aku lulus SMA, dengan kesabaran yang dia miliki sampai sekarang, batas kesabarannya akan meledak pada saat itu.
“A-A-Aku bisa menunggu kok. ... Ah, tapi, menikah saat kamu masih kuliah, juga sesuatu yang mungkin ... mungkin ... ”
Dia langsung terguncang !?
“Yah, terlepas dari apa aku akan menjadi guru atau tidak, ayo sama-sama pikirkan itu nanti."
"Ya. Bersama."
Dug, dahi kami saling menempel dan kami pun berciuman. Saat aku membuka mataku, Hiiragi-chan sedang menatapku, dan entah kenapa itu membuatku tersipu malu dan kami berdua tertawa satu sama lain. Sampai fajar menyingsing, kami berdua terus bermain mata seperti ini.

Beberapa hari kemudian.
Cangkir yang dibuat di bengkel keramik sudah sampai di sekolah. Sentuhan akhir yang dibuat untuk kali ini ternyata cukup baik. Aku meminjam pita dari ruangan klub dan mendekorasinya seperti hadiah. Saat istirahat makan siang, aku menaruhnya di kantong kertas, dan membawanya ke ruang persiapan sejarah dunia.
“... Sensei. Aku punya sesuatu yang ingin aku berikan kepada anda. ”
"Ya. Aku juga sama, ada sesuatu yang ingin kuberikan pada Sanada-kun. ”
Seperti yang direncanakan, ini adalah pertukaran hadiah yang harmonis. Tapi, dia masih merasa senang.
"Terima kasih. Aku akan menghargainya!"
Ucapnya dengan senyum cerah seraya memeluk kantong kertas pemberianku.




3 comments:

  1. Replies
    1. Makasih banyak gan, terus dukung FT kecil ini ya :D

      Delete
  2. Nah gitu dong kerja. Jangan jadi neet

    ReplyDelete

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat