true became fiction when fiction's true

Friday, 2 November 2018

The Result when I Time Leaped Chapter 29 Bahasa Indonesia


Darmawisata Sekolah Bagian 4

Hari kedua wisata sekolah.
Sesudah sarapan, kami mengunjungi tempat pembuatan keramik terdekat.
"Kenapa ke lokakarya keramik sih, kita ini bukan orang tua ..." (Murid jomblo A)
"Membosankan sekali ..." (Murid jomblo B)
"Ah ... ini sangat menyebalkan ..." (Fujimoto)
Semua siswa termasuk Fujimoto menyuarakan keluhan mereka. Terakhir kali, aku juga memiliki pendapat yang sama seperti omereka. Namun, kali ini aku merasa ini lumayan menarik.
“Jangan banyak mengeluh! Jika kita berpartisipasi dengan serius, aku yakin itu akan menyenangkan. Oke?"
Hiiragi-chan tersenyum pada Fujimoto dan siswa lainnya yang mengeluh.
"" "Ya ... jika Hiiragi-chan bilang begitu ..." "”
Kekuatan senyum sang Dewi memang sungguh luar biasa. Sebaliknya, semuanya benar-benar tersipu! Apa mereka benar-benar senaif ini !? Sepertinya mereka tidak terguncang karena itu Hiiragi-chan, tapi karena itu adalah senyum dari lawan jenis.
"Aku minta maaf karena terlalu berlebihan kemarin, oke ...? Aku… terlalu gegabah…. ”
Sambil menjatuhkan bahunya dan menunduk ke bawah, Hiiragi-chan akhirnya meminta maaf tentang kemarin. Setelah kembali ke kamarnya sendiri, dan menjernihkan pikirannya dari mabuk, tampaknya dia sangat merenungkan tindakannya, jadi aku tidak berhak untuk memarahinya. Sepertinya dia tidak mabuk, tapi kurasa dia masih banyak minum.
"Ti-Ti-Tindakan seagresif begitu ... Rasanya memalukan sekali ..."
Sepertinya dia berguling-guling di tempat tidurnya karena malu pada waktu itu.
“Kau bebas minum-minum dalam perjalanan ini, dan yah… aku tidak benar-benar menolaknya. Namun, lain kali, tolong jangan terlalu berlebihan lagi.”
Saat aku bilang begitu padanya, Hiiragi-chan mengangguk dengan sekuat tenaga. Semuanya sudah dikatakan dan selesai, kami berdua masih pemula dalam hal percintaan, jadi pengendalian diri kami masih sedikit longgar. Ketika kami tiba di lokakarya, kami memakai saat menguleni tanah liat sesuai dengan ajaran instruktur. Aku sangat suka bekerja dengan tenang dan hening seperti ini.
Sebelumnya, aku mengeluh dengan Fujimoto dan siswa lainnya sambil mengadoni tanah liat. Namun, kali ini, Fujimoto dan yang lainnya tidak bisa mengatakan sepatah kata pun setelah melihat senyuman Hiiragi-chan.
"Sedikit lagi di ujung ..."
“Hei, Fujimoto. Kau lagi buat apa sih?"
"Kau bisa tahu hanya dengan melihatnya."
"Apa maksudmu…?"
Apa ini? Apa itu lobak?
"Ini adalah kepala kura-kura."
“Jangan membuat hal-hal yang aneh seperti itu. Sebaliknya, tidak ada gunanya memberi bentuk sekarang, tahu? ”Beshan, kepala kura-kura itu dihancurkan dengan kepalan tangan.
"Tidaaaaaaaaaakkk!? Kon*** ...! "
Sudah kuduga. Saat aku melirik Hiiragi-chan, yang berada di dekatnya, wajahnya merah padam.
"Lihat, wajah Sensei memerah karena kau membuat bentuk cabul seperti itu."
"Jika kau ingin melihat yang asli maka kita bisa —"
"Hentikan itu. Dasar cabul. "
Hiiragi-chan melirik ke arah kami dan mengangguk seolah mengerti.
"Jadi itu ... Ja-jadi begitu ya bentuknya ..."
Dia benar-benar tertarik !? Dia juga sedang menguleni tanah liatnya, membuatnya menjadi bentuk semacam binatang.
"Selesai! Ini trenggiling! ”
Jika kau mau membuat sesuatu, buatlah sesuatu yang lebih bagus!
“Sensei, apa Anda membuat cangkir teh, atau mangkuk sup?” (Siswi A)
Gadis di sebelahnya bertanya. Gaan, Hiiragi-chan yang mendengar pertanyaan itu terlihat kaget.
"Ah, tapi, ini bukan trenggiling biasa, loh, ini trenggiling raksasa."
“Sensei, tidak masalah yang mana. Tapi, bukan itu masalahnya. ” (Siswi A)
Gadis di sebelahnya menbalasnya dengan serius, jadi aku bisa menonton dengan lega. Sebaliknya, Kenapa kau berpikir itu bagus selama itu adalah trenggiling raksasa.
"Jadi ini masalah kualitas, ya?"
"Baik kualitas tinggi maupun kualitas rendah, bukan itu poin utamanya." (Siswi A)
Ada seseorang yang benar-benar serius di sebelah Hiiragi-chan, jadi aku harus berkonsentrasi pada pekerjaanku sendiri. Aku memiliki pengalaman dari waktu sebelumnya, jadi kali ini sudah menjadi yang kedua bagiku. Aku yakin kalau aku bisa melakukannya lebih baik ketimbang terakhir kali.
Setelai selesai menguleni tanah liat, sekarang saatnya menggunakan roda tembikar untuk membentuk tanah liat. Perasaan dari tanah liat terasa cukup bagus. Melihat di sekelilingku, tidak peduli bagaimana kau melihatnya, aku adalah orang yang melakukan yang terbaik. Instruktur, di sisi lain, berkeliling membantu siswa membentuk tanah liat mereka, yang semuanya menjadi keras dan kaku.
"Ah."
Saat Hiiragi-chan mengangkat suaranya, mata kami saling bertatapan.
... Keramik, roda tembikar, kekasih ...
Apa yang terlintas dalam pikirannya, aku langsung mengerti. Aku tidak tahu namanya, tapi ini mirip  itu. Adegan terkenal yang sering ditampilkan di film.
"Aku cukup khawatir dengan yang lainnya, jadi aku akan pergi berkeliling dan memeriksa semuanya ♪."
Kau mengatakannya pada siapa, sih. Rasanya mencurigakan sekali karena dia tidak langsung datang ke tempatku berada. Setelah membuat jalan memutar, aku  menjadi orang terakhir untuk diperiksanya ...!
Aku melihat karya Hiiragi-chan sendiri, dan menyadari kalau karyanya berubah  menjadi sangat kaku. Kau bukan dalam posisi membimbing orang lain, tahu!
“Kalian terlihat hebat! Hmm? Hmmm? Sanada-kun, kamu belum membuat apapun. ”
"Be-Benarkah ..."
Tapi karyaku yang paling bagus!
"Aku akan membantumu . "
"Daripada mencemaskanku, anda seharusnya lebih khawatir tentang diri sendiri ..."
Hiiragi-chan yang pura-pura tuli, duduk tepat di belakangku, lalu meletakkan lengannya di pundakku, lalu telapak tangannya berada di atas tanganku. Rasanya seolah dia memelukku dari belakang.
"Kamu harus melakukannya begini ♪."
Guru jahat ini tahu kalau dia mendorong dadanya ke punggungku.
"Sensei, ini sedikit memalukan ... jadi aku ingin jika anda berhenti ..."
"Tapi jika aku tidak melakukan ini, aku takkan bisa mengajarimu dengan benar, ‘kan?"
Tatapan semua siswa laki-laki terfokus pada kami berdua.
"Sialan ... jika aku juga melakukannya dengan sangat buruk, aku juga bisa menjadi intim — maksudku, dipandu oleh Hiiragi-chan." (Murid Jones A)
“Apa-apaan itu, bikin aku iri — maksudku, aku juga ingin dipandu menggunakan gaya mengajar Hiiragi-chan.” (Murid Jones B)
“Aah. Ini buruk. Benar-benar buruk. Jika aku tidak mendapatkan bantuan, aku tidak bisa membuat apa-apa ... ” (Fujimoto)
Fujimoto, yang melirik ke arah Hiiragi-chan, akhirnya dibantu oleh instruktur pria.
"Bukan ini yang kuinginkan ...!"
Pupupu, jangan pikirkan itu, Fujimoto. Dengan bantuan tangan Hiiragi-chan, tanah liat yang kubikin mulai berubah bentuk, tapi tiba-tiba mulai berubah menjadi bentuk yang aneh.
"..."
"... Hei."
"... Un-untuk membuatnya dengan baik, terkadang butuh yang namanya kegagalan, iya ‘kan?"
Walaupun kau bilang begitu, jika kita mencoba buat ulang, mungkin tidak jauh berbeda  dengan keterampilan tanganmu yang mengerikan itu, Hiiragi-chan. Karena sudah begini, jadi apa boleh buat. Aku diam-diam meletakkan tanganku di atas tangannya.
"Biar aku coba."
"Ah ... ya ... "
Dengan suara tenang, kami melakukan percakapan rahasia.
"Di sini, kita melakukan ini, dan ini ...."
Pada akhirnya, alih-alih aku diajar oleh Hiiragi-chan, justru aku yang mengajarinya. Saat sudah selesai, Hiiragi-chan dengan enggan kembali ke tempat duduknya sendiri, dan melanjutkan karyanya sendiri.
"Mumumumu ... ini sulit ..."
Seperti yang kuduga, dia tidak mahir dalam kerajinan tangan, tapi, dia berhasil membuat sesuatu setelah berusaha. Karena butuh waktu lama untuk sentuhan akhir, produk jadi akan dikirim ke sekolah nanti.
Untuk mengetahui siapa saja yang membuat, semua siswa diminta untuk menandatangani karya mereka dengan cara yang unik. Terakhir kali, aku hanya menuliskan namaku, Sanada, tapi kali ini, aku akan mengubahnya sedikit.
S for H
Dari awal, aku berencana memberikan ini padanya, jadi aku akan membiarkannya begitu saja. Saat aku meletakkan karyaku sendiri, Hiiragi-chan datang untuk meletakkan karya miliknya.
"Ah…"
Dia mengeluarkan teriakan kecil, dan melihat bolak-balik antara wajahku dan cangkir yang telah aku buat. Fuguu, dia mengeluarkan suara lucu dan menekan dadanya.
"Hatiku berdetak sangat kencang dan kupikir aku akan mati."
"Sensei, apa yang anda buat?"
"Ini."
Dengan malu-malu, Hiiragi-chan menunjukkan vas bunga yang dia buat? Atau setidaknya itulah penampilan dari karya yang dibuatnya. Di dekat bagian bawah, ada tanda tangannya.
H for S
Dia bekerja keras demi diriku ...? Aku juga, aku harus menahan dadaku.
"Sanada-kun, ada apa?"
“Sesaat. Hatiku berdetak kencang dan kupikir aku akan mati ... ”
Mungkin karena merasa malu, Hiiragi-chan membersihkan tenggorokannya.
Kohon. Aku tidak tahu pada siapa cangkir yang kau buat itu, tapi aku kira kita berdua memiliki pemikiran yang sama, mungkin? ”
“Ya ... jadi ada orang lain yang juga berpikiran sama. Yah, meski aku tidak tahu untuk siapa vas bunga itu. ”
“Ini bukan vas bunga! Ini cangkir. Me-meski tidak terlalu bagus sih ... ”
"Ah, ini bentuknya unik, jadi tidak apa-apa."
“Itu benar, ini adalah karya unik hasil dari kerja kerasku. "
Saling bertatapan dengan Hiiragi-chan yang berkemauan keras, kami berdua tersenyum.
"Tidak apa-apa, orang yang akan anda beri nanti pasti merasa senang."
“Be-Benarkah? Syukurlah. Kamu juga, aku yakin orang yang kamu beri nanti akan sangaaaaaaaaaaaaaaat senang, loh?  Aku menantikan bagaimana produk jadinya. ”
Saat aku mengangguk, di saat tidak ada orang lain melihat, kami menyentuh punggung tangan kami masing-masing. Perasaan yang kurasakan sangat campur aduk, ada rasa malu namun juga ada rasa bahagia.
Seperti yang kuharapkan, pacarku adalah yang terbaik.




6 comments:

  1. ane sempat bingung pas di percakapan yang melibatkan murid sekelasnya, menurut saya kalo ada percakapan yang melibatkan teman sekelas di kasih nama ( (teman sekelas pria) (teman sekelas perempuan) )

    ReplyDelete
  2. Akhirnya Saya membaca dengan tenang tanpa banyak senyum-senyum X3

    Nice chapter, Thank you for the translating Kaito Translation :)

    ReplyDelete

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat