true became fiction when fiction's true

Saturday, 27 April 2019

The Result when I Time Leaped Chapter 46 Bahasa ndonesia




Diskusi Bagian 01

Tampaknya, Hiiragi-chan sudah memberitahu Natsumi-chan tentang diriku. Tentu saja, bukan sebagai pacanya, tapi sebagai murid yang akrab dengannya. 
“Pada akhirnya, Natsumi agak cemberut, tapi dia tampaknya penasaran tentang dirimu?”
“Penasaran? Sama aku? ... Mungkin dia meragukanmu? " 
“Bi-Bisa jadi ... Tapi, jika memang begitu, maka aku akan melakukan semampuku untuk meyakinkannya. Jangan khawatir. ” 
Dalam rencana untuk menghindari rintangan di masa depan dengan cara mendapatkan calon sekutu, Hiiragi-chan tampaknya mendukungnya. 
"... Tapi, dia ingin bertemu denganmu dan berbicara sekali lagi." 
Kalau itu yang dia inginkan, lalu ini akan menjadi kesempatan yang bagus untuk membiarkannya tahu lebih banyak tentang diriku. Karena itu, pada akhir pekan, kami berencana bertemu di tempat Hiiragi-chan, jadi aku mengayuh sepedaku  untuk menuju ke sana.
"Nyaa ~? Nyaa nyaa nyaaa ~? ” 
Saat aku baru tiba, aku melihat Natsumi-chan, berbicara dalam bahasa kucing. Lawan bicaranya adalah kucing liar. 
Nyaa, si kucing mendengkur dan kemudian berjalan pergi. 
“Ma-Masih ada waktu lagi ... Cuma sebentar lagi aja ... ” 
Setelah memeriksa area sekelilingnya, dia mengikuti kucing itu. 
Kau lagi ngapain, sih? Kita akan bertemu dan berbicara setelah ini, tahu? Yah, aku juga sedikit tertarik, jadi aku mengikutinya. Jika Natsumi tidak ada, maka pembicaraan pun tak bisa dilakukan. 
Setelah memarkir sepedaku, aku mengikutinya dengan langkah kaki yang tenang. 
Natsumi mengejar kucing liar, yang tiba di area rerumputan terbuka. Dari tempat persembunyianku, aku mengawasi gerak-geriknya. 
“Nyaa ~ nyaa? Nyanyanya ~? ”
Ini Beneran. Dia bener-bener berbicara dengan kucing.
“Jika sudah begini ..."
Dia mengeluarkan sebuah mainan ekor kucing dan mencoba menarik perhatian kucing itu. 
*Wush* Wush*, * Wush Wush * 
"Bagaimana dengan ini? Myaa ~? Mya mya myaa ~? 
Ngomongnya yang bener coba! (wkwkwkwkwk) 
Pu pu. Pu — kusukusu. 
Seharusnya si kucing yang ingin mendapatkan perhatian, tapi karena si Kucing tidak terlalu tertarik, ini malah membuatnya terlihat seperti dia yang ingin si kucing memberi perhatian padanya.
Ngomong-ngomong, begitu kucing melihat mainan itu, ia menjadi waspada, dan menjauh darinya. 
... Aku mengeluarkan ponselku untuk mengambil video. 
"Kucing-san? Ayo ke sini, ke sini ~ ” 
*Pui*, kucing itu berbalik. 
"Ah ..." 
Merasa sedikit kecewa, Natsumi-chan pindah ke arah yang berlawanan dari si kucing.
"Myaa Myaa ~? Mya mya myaa? ” 
Itu muncul lagi !! Bahasa kucing! (wokwowkwok) Baik "Nyaa" atau "Myaa" itu mustahil. 
Ap-Apa yang harus aku lakukan? Ini terlalu bikin ngakak, perutku jadi sakit ... Kucing itu tidak memperhatikannya. 

"Nya ~ n? Nyaa ”
Sekarang berubah jadi “nyaa ”lagi !? 
Natsumi-chan membuat tangannya meniru jadi cakar, dan menggerakkan tangannya seperti kucing. 
"Nya ~ o" 
Sambil menggerakkan tangannya seperti itu, dia mencoba merangkak dan secara paksa menghadang kucing yang berjalan. 
Oi oi. Ini mungkin perasaanku saja, atau emang dia berpura-pura jadi kucing?
"Funyaa ~"
Dia mencoba meregangkan punggungnya seperti kucing. 
A-aku tidak salaaaaahhhhhhhhhh! Gadis itu, dia berpura-pura jadi kucing !! Dia sama sekali tidak malu, karena dia mengira tidaka ada yang melihat!
Jika aku mendadak muncul di depannya sekarang…. 
“Lama tak bertemu, Natsumi-chan. Apa yang sedang kau lakukan? ”Dan aku mengatakan sesuatu seperti itu, pasti akan menakjubkan. Tapi, aku ingin melihat tingkahnya sedikit lebih lama. 
Karena ini pemandangan lucu yang langka. 
Kucing itu berdiri dan mulai berjalan. Natsumi-chan, yang berpura-pura menjadi kucing, mengikutinya dengan merangkak. 
"Nyanyaa ~" 
Tolong berhenti melakukan itu, aku sudah tak sanggung menahan tawaku.  Kucing itu semakin mendekat ke arahku. 
"Nyaa, Nyanyanyaa ~ n!" 
Tentu saja, Nyatsumi-chan yang mengejar kucing, juga ikut mendekat. Sudah terlambat untuk kabur karena kucing itu sudah terlalu dekat. Mereka berdua muncul di hadapanku. 
"Nyanyaa? Nyaan, nya ………. Ap– !? ” 
* Pffft * Dia sangat terkejut!
"Ha-halo. Lama tak bertemu. " 
Pupu, pupupu ... Ini gawat, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. 
Natsumi-chan yang wajahnya memerah mendadak berdiri.

"Y-Ya, lama tak bertemu juga ... Hari ini cuacanya sangat bagus sekali, ya?"
"Ya, itu benar, cuaca yang pas untuk menjadi kucing." 
“Kamu me-me-me-me -me-me-me-melihatnya!? Da-Dari kapan !? ” 
“Dari saat kau mulai mencoba dan menarik perhatian si kucing dengan menggunakan bahasa kucing. ” 
“ Bukannya itu sejak awal !! ” 
“ Ahh, itu cukup mengejutkan. Tingkahmu yang saking pengennya jadi kucing terlihat sangat menarik. " 
“Kenapa kamu tidak memanggilku?!?!?!?! " 
“Aku sudah merekam video, apa kau ingin melihatnya? " 
“Tidaaaaaaaak. Hapus itu ... Ah, maksudku, tolong hapus itu. kumohon…"
Karena aku bukan orang jahat yang menertawakan kesengsaraan orang lain, aku langsung menghapus videonya. 
“Bahkan Sensei takkan pernah berpikir kalau Natsumi-san akan mencoba berpura-pura kucing.” 
“Ja-Jangan bilang pada Haru-chan ...!” 
“Tapi kau tahu, dengan kemampuan untuk menirukan kucing yang sangat ahli seperti itu, aku pasti ingin beliau melihatnya juga. Cukup bagus untuk pertunjukkan! ”
Pukuku. 
Jika aku memikirkan hal ini di malam hari, aku pasti akan tertawa terus sampai pagi. 
"Tolong, aku minta maafffffffffffffffff ... Tolong jangan bilang Haru-chaaannnnnnnnn." 
Sepertinya aku terlalu menggodanya tentang kucing. Natsumi-chan sudah hampir menangis. 
"Maaf, cuma bercanda kok. Ayo pergi, ke rumah Sensei. ”
Aku berjalan sembari mendorong sepedaku, Natsumi-chan langsung menyusul di sampingku.
“Sejak saat itu, aku dengar kalau kamu semakin akrab dengan Haru-chan. Apa itu benar? " 
“ Ya. aku sering bertemu Sensei dan berbicara dengannya tentang berbagai hal.” 
Begitu ya, balasnya. Sepertinya dia merasa ucapan sopan terlalu kaku dan tidak dibutuhkan. 
“Kamu sudah kenal Haru-chan dari sebelumnya, ‘kan? Maksudku, bukan karena kamu tidak tahu tentang Haru-chan pada waktu itu, tapi kamu memang mengenalnya, atau sesuatu seperti itu. ”
Seperti yang diduga, dia orang yang peka. Tentu saja, dia benar. 
Saat aku menjawab "Tentu saja tidak", Natsumi-chan mengangguk dengan ambigu. 
“Aku juga anak SMA, tapi masuk di sekolah khusus perempuan, kau tahu?” 
Dia mulai dengan topik itu. Di dalam prefektur kami, hanya ada sekolah SMA khusus perempuan.
“Tentu saja, ada guru laki-laki juga di sana, tapi mereka semua tipe yang populer. Bukankah itu luar biasa? ”
Apa-apaan itu? Luar biasa ... 
"Dari apa yang aku dengar ... ada murid cewek yang diam-diam berpacaran dengan mereka." 
"O-oh ...? Tapi, kurasa antara murid dan guru tidak boleh berpacaran ... ” 
Begitulah percakapan kami seraya meletakkan barang di rak. Yah, kurasa akal sehat tidak selalu benar. Tidak ... Karena cewek di sekolah khusus perempuan memiliki citra yang lebih eksklusif daripada sekolah lain, mungkin hal semacam itu adalah hal biasa di sana. 
"Ya. Aku juga berpikir begitu. Tapi, seorang gadis yang sedang jatuh cinta memiliki banyak kekuatan, loh? ” 
“ Ha-Haaa ... ” 
Natsumi-chan mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah.
“Rasanya sangat memalukan untuk mengatakan ini, tapi ... bagi anak cewek, menjadi seorang wanita memiliki batas waktu. Itu adalah sesuatu yang aku pelajari di kelas biologi. ” 
Itu, yah, saat seorang wanita bertambah dewasa, mereka tidak bisa memiliki anak lagi, kan? Untuk fungsi reproduksi, pria tidak memiliki masalah, bahkan setelah bertambah tua. Itu sebabnya, seorang wanita bisa dikatakan memiliki "masa hidup" yang lebih pendek daripada pria. 
“Itu sebabnya, perasaan cinta seorang gadis lebih kuat daripada laki-laki." 
Natsumi-chan menepak bahuku dengan ringan untuk menyembunyikan rasa malunya. 
Sudah kuduga, dia mungkin sudah tahu hubunganku dengan Hiiragi-chan.
Aku hanya ingin menghindari situasi di mana aku akan berkata, "Kita berdua berpacaran," dan dia menjawab dengan kaget "APAAAAAAA!?"
Ngomong-ngomong tentang sekolah khusus perempuan di dalam prefektur, sekolah tersebut memiliki standar yang tinggi, dan ada banyak cewek dari kalangan atas yang mendaftar di sana. Tempatnya juga cukup jauh dari sini. 
“Intinya sih, semua cewek di sana bagaikan kura-kura dalam tempurung, dan entah itu menyukai atau disukai seseorang, mereka semua masih belum memahaminya. Bahkan jika mereka agak ragu-ragu, tapi mereka semua anehnya ... bagaimana aku harus mengatakan ini, karnivora? ”
Tanpa diduga dia tahu banyak tentang ini. Tentang hubungan cinta antara murid dan guru. Jika itu masalahnya, mungkin aku harus bertanya. 
"Jika kakakmu ... Sensei, memiliki seseorang seperti itu ... seseorang yang dia cintai, dan akhirnya berpacaran dengan seseorang yang seharusnya dilarang—
"Hmm ..." Natsumi-chan berpikir sejenak seraya menatap langit. Lalu, dia membalas, "Jika Haru-chan bahagia, maka tak masalah ... Jika orang yang dia cintai adalah seseorang yang bisa diandalkan, maka aku akan mendukung cinta mereka." 
“Meski ada perbedaan usia di antara mereka?" 
“Cinta tidak memandang usia, ‘kan? ” 
Itu benar. Aku jatuh cinta padanya bukan karena dia guruku atau karena dia lebih tua dariku. 
Meski pertemuan pertamaku dengannya sangat aneh, setelah berbicara dengan Natsumi-chan, aku tahu kalau dia adalah gadis yang baik.


1 comment:

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat