The Result when I Time Leaped Chapter 53 Bahasa Indonesia




Hujan

Musim hujan mulai menunjukkan eksistensinya bersamaan dengan hari-hari panas yang terus berlanjut. Hari ini juga, udara terasa lembab sepanjang hari. Awan-awan sudah bekerja keras sampai sepulang sekolah, sebelum akhirnya membiarkan ribuan air hujan turun ke bumi. Aku terjebak digedung sekolah karena tak bisa pulang. Ramalan cuaca bilang kalau cuaca hari ini cuma  berawan, jadi aku tidak membawa payung.
“Duh, gimana nih?”
Pichon, pichon, aku bergumam pada diriku sendiri sambil menonton tetesan hujan yang jatuh ke atap. Pada hari di mana cuaca hujan begini, Hiiragi-chan biasanya berangkat kerja menggunakan mobil. Mungkin dia akan memberiku tumpangan pulang, tapi aku tidak tahu kapan dia selesai kerja.
“Nii-san? Apa kamu lupa membawa payung?”
Ketika aku berbalik, ada Sana di sana.
“Bukan lupa sih, aku pikir hari ini ngga bakal hujan, jadi aku tidak membawanya.”
“Begitu ya…”
Setelah merogoh-rogoh di dalam tasnya, dia mengeluarkan payung lipat dengan pegangan berbentuk kelinci.
Emangnya ini tamasya anak SD atau semacamnya?
“Sana cuma bawa satu payung lipat, tapi jika Nii-san memaksa ikut, maka aku tidak punya pilihan selain membiarkanmu bergabung.”
“Siapa juga yang memaksa, cepat pulang sana. Mungkin hujan akan lebih deras lagi, loh?”
“Ka-Kamu ini cukup keras kepala ya, Nii-san. Jika kamu benar-benar ingin bergabung, bilang yang jujur coba.
“Sampai jumpa. Sana. Aku akan pulang saat hujan mulai reda.”
“Eh, tu — tunggu ... Mou, Nii-san bisa basah kuyup nanti. Kalau begitu, hati-hati kalau pulang, oke !? ”
Jadi Kau masih akan berdoa untuk keselamatanku?
Fuun, dia mendengus marah, Sana mengambil payung bunny-chan yang biasa di gunakan anak SD, membukanya, dan pulang menuju rumah.
Asal kau tahu Sana,  wanita yang berusia tiga puluhan takkan bisa menggunakan payung itu. Payung yang dapat dilipat biasanya digunakan hanya oleh satu orang. Jika aku ikutan bergabung denganmu di bawahnya, Kau sendiri yang akan basah kuyup nanti.
Kurasa pergi ke perpustakaan untuk menghabiskan waktu tidak buruk juga.
Aku berbalik dan berjalan menyusuri lorong, lalu aku melihat sosok Hiiragi-chan yang membawa beberapa dokumen di lengannya berjalan menuju ke arahku.
“Ada masalah apa, Seiji-kun?”
“Aaah, ada yang harus aku lakukan di perpustakaan.”
“Mencari sesuatu? Kamu rajin belajar seperti biasanya. ”
Hiiragi-chan menunjukkan senyum mode gurunya.
Melihat senyum normalya memang bagus, tapi senyum mode gurunya di sekolah adalah dua hal yang berbeda.
“Bukan belajar sih, yah… hujan turun cukup deras sekarang, jadi aku berencana untuk baca-baca di perpus sampai hujan sedikit reda.”
“Kamu tidak membawa payung? Yah, aku juga tidak membawanya sih.”
Aku menjelaskan kepadanya hal yang sama dengan yang aku bilang pada Sana, dan Hiiragi-chan menerimanya.
Dia melirik arloji di tangan kirinya.
“Yah, aku masih punya waktu sedikit …... tunggu di sini sebentar!”
Dia lari dan kembali dengan payung hitam.
“Pakai ini, payung yang selalu tertinggal di ruang guru.”
“Tidak, aku tidak bisa menggunakannya. Mungkin saja ada guru lain yang tidak membawa payung. Lagian, rumahku tidak terlalu jauh, jadi aku cuma perlu menunggu hujan reda sedikit. ”
“Begitu ya ... Lalu, bagaimana kalau aku mengantar Seiji-kun pulang.”
“Pakai mobil?”
“Enggak. Hari ini aku berangkat pakai sepeda. Jadi, kita akan berjalan kaki."
Hiiragi-chan membuat usulan yang seolah-olah dia sangat menantikannya. Mengantarku pulang dengan berjalan kaki? Dan, Hiiragi-chan tidak punya payung sendiri ... Dan, cuma ada satu payung yang dapat digunakan. 

uuuu

“Ayo pergi, ayo pergi ♪"
Dia melompat-lompat dengan gembira. Aku sedang menunggu di gerbang belakang sekolah sebagai tempat pertemuan, lalu Hiragi-chan muncul dengan payung hitam.
“Ayo, ayo, ke sini. Mungkin sedikit sempit untuk dua orang.”
“Jadi begitu ya ...”
Kuputuskan untuk menerima ajakannya, dan akhirnya berbagi payung dengan Hiiragi-chan. Nampaknya ini alasan dia sengaja memutuskan untuk bertemu di gerbang belakang.
“Sebenarnya, aku selalu ingin melakukan ini ~ Berbagi payung dengan orang yang kusukai.”
“Persis seperti anak SD.”
“Eh !? Seperti anak SD !? ”
Ekspresi Hiiragi-chan benar-benar kaget.
“Ap-Apa ini yang disebut pe-perbedaan generasi.”
“Begitu sudah menginjak bangku SMA, kurasa kau tidak ingin melakukannya.”
“Itu tidak benar. Barusan Sana-chan, dia juga mengajakmu, ‘kan? Untuk berbagi payung.”
“Kau tadi melihatnya ...? Aku ragu kalau dia ingin berbagi payung ... ”
Dari jarak dekat, bahu kami bersentuhan, Hiiragi-chan mendekatkan wajahnya ke arahku, lalu bibirnya menyentuh pipiku.
“Hei, jika kita melakukan ini
“Tenang saja, kan masih ada payung yang menyembunyikan kita. Sana-chan, dia mungkin berniat menciummu seperti ini juga ... ”
“Mana mungkin dia melakukan hal seperti ini. Memangnya kau pikir adik perempuanku orang macam apa? ”
“Super duper Brocon.”
“…”
Kesampingkan bagian super dupernya, aku tidak bisa menyangkal bagian brocon.
“Aku sedikit iri dengan kalian berdua saat aku melihatnya, tapi kemudian kamu tidak pulang bersamanya. Jadi, kupikir di hadapan Seiji-kun yang bermasalah, Haruka-san bisa tampil cukup gagah. ”
Dari awal sampai akhir, dia melihatnya.
“Begitu ya. Jadi, Kau memutuskan untuk mengantarku pulang sambil berbagi payung.”
“Jaraknya juga tidak terlalu jauh, jadi aku mungkin bisa mengantarmu pulang dan kemudian kembali bekerja.”
Tik, tik, tik…., suara tetesan air hujan yang menghantam bagian atas payung bisa terdengar. Karena suara hujan yang menghantam tanah begitu berisik, jarak di antara kami secara alami mendekat untuk mendengarkan apa yang dikatakan pihak lain.
“Seiji-kun, bahumu basah, tuh.”
Hiiragi-chan lalu memiringkan payung ke arahku.
“Eh. Aaah. Tidak apa-apa, kok. Cuma basah sedikit. Nanti kalau sudah sampai rumah, aku ganti baju. ”
“Jangan gitu. Kamu bisa masuk angin, loh.”
Aku kalah oleh dorongannya dan payung tersebut dimiringkan ke arahku. Otomatis payung menjadi tidak mampu menutupi bagian Hiiragi-chan sepenuhnya.
“Haruka-san, bahumu juga basah.”
“Basah segini sih tak masalah.”
“Badan seorang gadis tidak boleh kedinginan, nanti bisa gawat."
Atau, begitulah seseorang memberitahuku. Kenapa bisa gawat, aku sendiri tidak begitu tahu.
“Kalau begitu, ayo lebih dekat lagi?”
Dia lalu menggandeng tanganku, jadi kami berjalan dengan tangan yang saling terkait. Tidak ada yang akan mengenali kami karena payung, dan karena hujan pula, mungkin jarang ada orang. Kami mungkin tidak akan ketahuan.
“Belum seperti ini sejak kencan kita di kota, ‘kan?”
“Benarkah?”
“Itu — Hyaaaa !? Aku menginjak genangan air secara tidak sengaja ….. sekarang, kakiku basah semua ... "
Mulut Hiiragi-chan menjadi cemberut.
Aku kira dia sudah mengantisipasi hal seperti itu karena ingin berbagi payung dan bergandengan tangan saat melakukannya, tapi aku kira dia bukan tipe yang benar-benar merencanakan sejauh ini. Namun, meski sudah basah kuyup karena hujan, dan sepatunya menginjak genangan air, Hiiragi-chan tampak seperti menikmati semuanya.
“Pulang ke rumah dengan orang yang aku cintai seperti ini, selalu menjadi salah satu impianku. Hanya sekali saja pun tak masalah. Maaf, karena begitu ngotot mengenai ini.”
“Tak usah dipikirkan. Aku bermasalah karena aku tidak membawa payung. Sebaliknya, rasanya sempurna. ”
Sekarang aku berpikir tentang itu, aku tidak terlalu tahu tentang masa lalu Hiiragi-chan. Dari apa yang dikatakan Natsumi-chan terakhir kali, boro-boro pacar, teman cowok yang dekat saja dia tidak punya.
“Haruka-san, saat masih jadi murid dulu, apa kau populer?”
“Eeeh? Aku tidak populer sama sekali, kok. “
“Benarkah…? Di antara para cowok, Hiiragi-sensei dikagumi oleh semua orang sebagai karakter Onee-san. ”
“Heeeh, yang bener? Jadi itu artinya, orang yang dikagumi semua orang diam-diam dicuri oleh Seiji-kun. ”
“Yah begitulah adanya.”
“Tapi kau tahu, itu membuatku senang.”
Hehehe, Hiiragi-chan tertawa cengengesan.
“Jika aku terlihat seperti orang populer, terlepas dari penilaian diriku sendiri, itu berarti di mata Seiji-kun, aku cukup menarik, bukan?”
Iya ‘kan,? iya ‘kan? Hiiragi-chan menggunakan sikunya untuk menyolek tubuhku.
“Jika bukan itu masalahnya, maka aku takkan jatuh cinta padamu.”
“——— ... Mo-Mouuuu, Seiji-kun, dasar orang Italia!"
Sudah kubilang, aku ini orang Jepang.
Saat jarak kami semakin dekat dengan rumahku, langkah kaki Hiiragi-chan menjadi lebih lambat. Karena enggan melepaskanku, tangannya yang terjalin dengan tanganku mencengkram lebih kuat.
“…….”
Waktu ngobrol kami semakin berkurang ketika dia melirik ke arahku dari samping dengan bibir tertutup dalam kesepian.
“Bagaimana kalau kita mengambil jalan memutar dulu?”
“Ti-tidak apa-apa. A-Aku harus kembali ke sekolah karena aku masih punya pekerjaan.”
Walau dia bilang begitu, langkah kakinya melambat. Rasanya mudah untuk membaca pikiran Hiiragi-chan saat ekspresinya tiba-tiba menjadi lebih cerah.
Kami tidak benar-benar pergi ke mana pun, cuma berjalan-jalan di dekat rumahku. Setelah kembali ke keadaan semula, kami mengobrol dengan topic yang tidak penting. Nampaknya kita bisa melakukan hal-hal seperti pasangan normal pada hari-hari hujan seperti ini.
“Apa ada yang salah?”
Kugelengkan kepalaku ketika Hiiragi-chan menoleh untuk bertanya.
Mou, aku sudah basah kuyup begini, sampai kulit di kakiku, mungkin sudah keriput sekarang ...”
“Jangan pedulikan itu.”
“Jika sudah begini, tak peduli seberapa basahnya, semuanya tetap sama ...”
Mufufufufu, usai tertawa seperti itu, Hiiragi-chan melompat ke genangan air terdekat. Percikan airnya menyiprat ke arahku.
“Uwah!? –Kayak anak kecil saja!”
“Ahahahahah.”
Namun, jalan pulang bareng di bawah payung yang sama sudah cukup untuk membuatnya senang.


close

1 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama