The Result when I Time Leaped Chapter 66


Kegiatan Klub Tata Boga - Bagian Pertama

(TN:Klub ekonomi rumah diganti jadi tata boga)
“Hei, kalian berdua mau pergi kemana?”
Sepulang sekolah, saat kami berdua masuk ke mobil Hiiragi-chan untuk membeli barang untuk kegiatan klub, Sana memergok kami.
“Uuuuu ... padahal hampir saja ...”
Hiiragi-chan bergumam dengan suara rendah.
“Apa? Aku pergi dengan Sensei untuk membeli perlengkapan klub kita. ”
“Kalau begitu, Sana juga ikut.”
Dan begitulah, hampir semua anggota klub ikut. Karena akan menyedihkan jika cuma Kanata saja yang ditinggal, jadi kami juga mengajaknya, dan kami berempat pergi bersama untuk membeli barang-barang keperluan klub.
“Sensei, Anda ingin membeli apa?”
Sana menjulurkan kepalanya dari kursi belakang.
“Terakhir kali kita praktik memasak, ‘kan? Jadi kali ini, kita akan mencoba kerajinan tangan!”
“Ke-rajin-an...?”
Dengan wajah yang mengatakan kalau dia tidak mengerti sama sekali, Sana berbalik ke arah Kanata.
“Kerajinan tangan berarti kegiatan seperti menjahit”
“Ah, jadi begitu!”
“Awalnya, kupikir akan memilih satu-satu untuk kalian. Tapi karena semua orang ada di sini, kalian bebas memilih apa yang ingin kalian buat. ”
Begitu Hiiragi-chan mengatakan itu, Sana berbisik di telingaku.
“Ngomong-ngomong, apa yang kamu buat dengan kerajinan tangan?”
“Ada banyak pilihan, misalnya saja, lap debu, celemek, dan barang-barang lainnya."
“Ap-Apa yang harus Sana lakukan ...? Sana bahkan belum pernah membuat lap debu ...”
Kalau tidak salah, Natsumi pernah punya tugas PR menyerahkan lap debu, bukan? Dia melakukan kecurangan dan menyerahkan lap debu yang dibelinya dari toko 100 yen.
Berdasarkan isi kegiatan klub, klub tata boga telah berubah menjadi klub pelatihan pengantin.
“Ah, Sana-chan, apa mungkin kamu payah dalam kerajinan tangan?”
“Sana tidak payah dalam hal itu! Gampang banget malah!”
Dasar pembohong.
Ketika kami tiba di swalayan terdekat, kami mengunjungi toko kerajinan yang menjual kain dan barang-barang lainnya.
“Uangnya berdasarkan dari anggaran klub, jadi kalian harus membeli apa yang kalian inginkan, oke? Jika terlihat kemahalan, kamu perlu bertanya terlebih dahulu. ”
Ujar Hiiragi-chan.
Yah, secara teknis aku masih anggota klub, jadi aku harus membuat sesuatu juga.
Chon chon, Kanata menarik seragamku, dan menyeretku ke sudut kain.
“Ada apa?”
“... Mana yang bagus?”
Kanata menggunakan jarinya untuk menunjuk benang yang berbeda.
“Apa kau sudah memutuskan apa yang ingin kau buat, Kanata?”
“... Ya”
... Terus, kenapa dia malah membuatku untuk memutuskan?
Kemudian yang ini dan yang ini, aku memilih acak benang berwarna biru dan putih.
“Apa yang ingin kau buat?”
"... Seiji-kun, apa kamu ingin membuatnya juga? Misanga1.”
“Sepertinya itu sesuatu yang aku sendiri bisa buat ...”
“... Ya. Ayo kita lakukan bersama-sama. ”
Piku, Hiiragi-chan dan Sana, yang sedang ada di dekat kami, berhenti bergerak.
“... Apakah kamu ingin tukaran nanti?”
“Ah. Kedengarannya bagus. ”
“Sana juga tertarik pada misanga.”
“Kalau begitu, mungkin Sensei juga akan membuat misanga.”
Nampaknya sekarang kita semua ingin membuat misanga. Namun, sepertinya tujuan dari ketiga gadis itu agak sedikit berbeda.
“Cuma ada satu misanga yang dibuat oleh Seiji-kun!”
“Lalu, Sana dan Nii-san akhirnya akan bertukar misanga, ‘kan ...?”
“Apa yang kamu katakan, Sana-chan. Sanada-kun akan bertukar dengan Sensei, tahu?”
“... Sensei, itu tidak benar. Seiji-kun lah yang akan memilih ...”
Mereka bertiga serentak menatapku.
“Ak-Aku yang memilih?”
“ “ “ Betul!” ” ”
Pada akhirnya, aku harus bertukar misanga yang akan aku buat, dengan salah satu yang aku pilih dari tiga yang akan mereka buat. Bukannya lebih baik kalau kita masing-masing membuat misanga yang kita sukai ...? Tentu saja, aku telah membuat saran itu, tapi tak satu pun dari mereka yang mau mendengar saranku.
“Bukannya tak masalah asal kita semua menikmati apa yang kita buat ...”
“Buatan tangan Nii-san.”
“... Benda yang dibuat oleh Seiji-kun.”
“Sei ... Sanada-kun akan membuatnya.”
“ “ “Aku mau!” ” ”
Mereka bertiga serempak jika pada hal-hal yang aneh.
Bersama dengan tiga gadis itu, aku mulai membandingkan berbagai jenis benang. Karena aku juga akan membuatny, aku mengambil beberapa jenis benang dan membelinya.
“Sana punya senjata terkuat kasih sayang antar saudara.”
“... Dengan kata lain, kamu cuma punya kasih sayang antar saudara saja.”
Kanata benar-benar tanpa ampun.
“Sensei punya kasih sayang antara murid dan guru, atau lebih tepatnya cinta itu sendiri——itu dipenuhi dengan cinta."
Hei, Hiiragi Haruka. Jangan bilang hal yang tidak perlu.
Hiiragi-chan masih kekanak-kanakkan seperti biasa, karena dia dengan cepat ikut bergabung dalam kompetisi antar sesama murid. Dari sudut pandang seorang guru, Kupikir kau akan mengambil selangkah, dua langkah, tidak, bahkan mungkin tiga langkah ke belakang untuk menahan diri. Namun, dia bergerak maju dengan akselerasi penuh. Bachi bachi, mereka bertiga saling memandang dan ada semacam ilusi mereka mengeluarkan percikan api.
“Tenggat waktunya hari Kamis, tiga hari dari sekarang. Sepulang sekolah, kita berkumpul lagi di sini dan menyuruh Sanada-kun untuk memilih. ”
“… Aku tak keberatan.”
“Sama seperti yang aku inginkan!”
Dan begitulah, kami diberi waktu tiga hari untuk mengerjakannya.

uuuu

Ketika aku menggunakan komputer di rumah untuk mencari video tentang cara membuat misanga, aku mendengar suara ribut dari dapur.
“Okaa-saaan !? Ini bagaimana caranya !? ”
Meski dia berbicara sok, Sana masih kikuk seperti biasa ...
Sebaliknya, memangnya Kaa-san tahu jika kamu bertanya padanya?
“Mou, kenapa enggak tahu, sih !? Sana juga tidak tahu!”
Tampaknya rencananya dengan cepat terhenti.
Saat aku melanjutkan punyaku, aku merasakan tatapan seseorang ...
Sana mengintip melalui celah pintu padaku.
“Uwah !? Kau mengagetkanku ... ada apa? ”
“Se-Sepertinya kamu mengalami kemajuan dengan baik? Sana cuma mau melihat kemajuan Nii-san. ”
Oke, oke. Karena aku melakukannya dengan lancar, kau mungkin datang untuk mengintip bagaimana aku melakukannya. Sepertinya dia terserang penyakit yang mencegahnya untuk jujur ​​meminta bantuan.
“Jika kamu bertukar dengan orang aneh, Sana takkan menyukainya.”
“Bisakah kau benar-benar berbicara tentang orang lain?”
Pletak, Sana memberiku jitakan ringan.
“Coba aku lihat.”
Aku meminjam benang yang Sana buat berantakan total.
“Lihat baik-baik, oke? Dengan ini, kau melakukan ini, dan di sini akan menjadi seperti ini. Lalu kau melakukan ini ...”
Sana meletakkan tangannya di pangkuanku dan mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap erat ke tanganku.
Wajahnya terlalu dekat. Pipi putih dan bulu mata yang panjang, gadis ini ... padahal aku menggunakan sampo yang sama dengannya, tapi apa ini cuma perasaanku atau emang Sana yang lebih harum.
“Ini mirip seperti mengepang rambut. Karena kau anak cewek,  kau bisa melakukannya? ”
“Sana belum pernah mengepang rambutnya sendiri ... dari dulu jarang dikepang.”
Sekarang dia menyebutkannya, rambut Sana memang jarang dikepang. Seringnya sih dibiarkan tergerai. Paling-paling,  rambunya cuma dikuncir kuda. Saat dia kecil, kadang-kadang rambutnya bergaya twin-tail.
“Sekarang kau coba sendiri,” Ucapku saat mengembalikannya ke Sana.
Dia mencoba menggerakkan jari-jarinya dengan cara yang benar, tapi dia sangat kikuk dan tidak berkembang dengan baik.
“... Ni-Nii-san ... Siapa yang kamu inginkan?”
“…Eh?”
“Ti-tidak jadi!”
Karena panik, Sana langsung meninggalkan kamarku.
Saat terbiasa melakukannya, membuat misanga ternyata sangat menyenangkan juga.
Lebih penting lagi, kenapa dia menginginkan misanga yang aku buat ...? Jika Kau membuatnya sendiri, kau bisa membuat apapun yang kau suka ...
“Yah, Sana punya sifat keras kepala dan tidak mau kalah ... jadi dia mungkin ikut terbawa suasana saja.”
Mungkin itu adalah motif nomor satu Sana.



close

1 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama