The Result when I Time Leaped Chapter 82



Festival Olahraga - Bagian 2

Acara perlombaan terus berjalan tanpa hambatan, dan setelah beberapa saat, lomba cheerleading antara tim merah dan putih pun dimulai.
Lomba cheerleading merupakan acara lomba yang tidak terlalu banyak melibatkan panitia, jadi kebanyakan panitia cuma duduk dan menonton perlombaan. Setelah orang-orang dari tim merah naik ke panggung, Kanata, yang mengenakan seragam sekolah versi cowok tiba dengan sepuluh orang lain di belakangnya.
Seragam yang dirancang untuk cowok benar-benar tidak cocok dengan Kanata ...
Hmmm? Jika dia berpakaian seperti itu, itu artinya ...?
Dodon, suara taiko drum bisa terdengar ketika Kanata melakukan manuver yang mirip dengan drummer.
“... Hoooraay, ... Hoooraay, ... Ti —m Me— ra—h  ...”
Suaranya kecil sekali! Rasanya seperti dia dipaksa untuk melakukannya! Klub penyiaran, tolong pinjamkan dia mikrofon!
Jelas-jelas, dia tidak cocok untuk peran itu. Siapa yang menyuruhnya melakukannya? Lebih penting lagi, Kanata ….. Jangan takut buat menolak! Semua orang punya kecocokan masing-masing, oke?
Lomba cheerleading berakhir dengan aman (?), Dan istirahat makan siang akhirnya tiba.
“Dorobo-kun, apa yang kamu rencanakan untuk makan siang?”
Saat aku melewati kursi penonton, Natsumi-chan memanggilku dan bertanya dengan nada ingin tahu.
“Aku akan makan siang bersama Sana.”
“Haru-chan membuat bekal untukku. Bagaimana kalau kita semua makan siang bareng? Malahan, setelah melihat jumlahnya, aku yakin kalau porsimu juga termasuk ...”
Natsumi-chan mengangkat kotak bekalnya. Itu adalah kotak empat tingkat yang terlihat cukup berat. Sepertinya Haruka-san benar-benar berusaha keras untuk membuatnya.
Dia bilang akan menunggu di tempat teduh di bawah pohon, lalu menyelonong pergi tanpa mendengarkan jawabanku. Aku tidak punya alasan khusus untuk menolak, jadi aku mencari Sana dan menyuruhnya menemaniku ke tempat pertemuan.
Kanata bilang, “... Orang tuaku datang untuk menonton pertunjukan panggungku yang mencolok, jadi kami akan makan bersama,” dan dia menolak ajakanku dan makan siang bersama orang tuanya.
Apa itu bisa disebut pertunjukkan yang mencolok ...? Seperti biasa, Kanata penuh misteri.
Natsumi-chan sudah meletakkan selembar kain.
“Ini..”
Aku menerima teh di cangkir kertas.
“Ya terima kasih.”
“….…”
Sana masih diam seribu bahasa.
“Sana-chan, kenapa? Apa yang terjadi? Apa kamu marah?”
“Bukan apa-apa ... Sana tidak marah ...”
Natsumi-chan tertawa sambil dengan sengaja menaikkan suaranya, “Aku paham!”
“Sana-chan, kamu tidak terpilih sebagai orang yang disukai Onii-chan, jadi sekarang kamu ngambek, ‘kan?”
“Eng-Enggak kok. Kenapa Sana harus ngambek karena hal begituan? ”
Hiiragi-chan kebetulan tiba di saat yang sama ketika Sana mengalihkan pandangannya ke arah sebaliknya.
“Haaah, rasanya capek banget ... Menjadi guru yang bertanggung jawab atas festival olahraga benar-benar bukan sesuatu yang bisa aku lakukan ... Mou ...”
Hiiragi-chan yang kelelahan mengambil secangkir teh dan meneguknya.
“Sensei, terima kasih atas kerja keras anda.”
“Ya terima kasih banyak.”
Hiiragi-chan juga menyadari suasana hati Sana yang buruk.
“Sana-chan, apa ada yang salah?”
“………”
Adik perempuanku bertingkah cemberut, mirip dengan keadaannya selama beberapa waktu.
“Sepertinya dia tidak bisa menerima kalau Dorobo-kun memilih Haru-chan dan bukan dirinya.”
“Sa-Sana enggak bilang hal seperti itu!”
“Kamu gampang kebaca. Mou… ”
Di samping Natsumi-chan yang tersenyum masam, dan Sana, yang mulutnya cemberut, Hiiragi-chan dan aku mengambil piring kami masing-masing dan mulai memakan bentou.
“Bagaimana rasanya, Sanada-kun?”
“Ya. Meski udah dingin, tapi rasanya masih enak. ”
“Ah~syukurlah
Ahahaha, ufufufu, sementara Hiiragi-chan bertingkah seperti dirinya yang ceria, Sana akhirnya membentak.
“Nii-san, menunjukkan ekspresi cabul adalah sesuatu yang Sana tidak bisa tolerir!”
Dia mulai mengambil cangkir kertas, dan melemparkannya kepadaku satu demi satu.
Subooh. Pyuun.
“Aduh!?”
“Apa-apaan denganmu? Menunjukkan ekspresi seolah-olah kamu tidak puas! ”
Subooh. Pyuun.
Subooh. Pyuun.
“Waah. Hei, hentikan, idiot! ”
“Kenapa, apa-apaan dengan percakapan tadi, 'Rasanya enak', 'ah syukurlah '! Jangan menyeringai seperti itu saat melakukan percakapan seperti orang pacaran!
Subooh, subooh, subooh. Pyuun pyuun pyuun!
“Aduh, itu sakit!”
Mau bagaimana lagi, karena kita memnag pacaran.
Kedua Saudari Hiiragi mungkin juga memikirkan hal yang sama.
“Ah, aku memikirkan ide yang bagus!”
Baiklah, Natsumi-chan mengangkat tangannya.
Aku bisa tahu kalau itu jelas-jelas bukan 'ide yang bagus' ...
“Sana-chan, yang tidak bisa menerimanya, VS, Haru-chan, yang baru saja 'kebetulan' dipilih. Kamu cuma perlu  menggunakan lomba halang rintang yang bisa diikuti siapa saja sebagai kompetisi! ”
“Hei, hei, hei, jangan coba-coba ...”
“Aku akan melakukannya!!”
Waah, Sana langsung mengambil umpan. Gadis ini benar-benar gampang diprovokasi.
“Eeeh? Tapi aku sibuk sebagai guru yang bertanggung jawab ...”
“Sensei, apa anda mau melarikan diri?”
Sana dalam mode pertempuran, sementara Hiiragi-chan membuat ekspresi bermasalah.
Sebagai seorang guru, Hiiragi-chan masih ada kerjaan, jadi kalau bisa, dia harus menghindari kompetisi ini.
Aku menepuk dadaku dengan lega setelah memikirkan kemungkinan ini.
“Pemenangnya boleh meminta Dorobo-kun untuk mendengarkan satu hal yang pemenang ingin lakukan! Bagaimana!?”
“Aku akan melakukannya! Hiiragi Haruka akan menunjukkan keseriusannya yang hanya bisa dia lakukan setiap empat tahun sekali ...! ”
Tampaknya keseriusan Hiiragi-chan menyala dengan cara yang sama seperti Olimpiade.
“Bisa meminta Nii-san melakukan satu hal yang aku minta padanya, itu tidak ada hubungannya dengan ini. Ini bukans seberapa ... Namun, Sana akan mengerahkan seluruh upayanya untuk mengalahkan Sensei ...! ”
Garururu, saat Sana menggeram pada Hiiragi-chan, ilusi percikan api bisa terlihat di antara mereka.
Hiiragi-chan sepertinya juga menganggap ini serius.
“Sana-chan, Sanada-kun hanya membuat pilihan yang aman, jadi kurasa kamu tak perlu marah karenanya. Sebaliknya, aku pikir akan lebih aneh baginya untuk memilih adik perempuannya. Siscon, menjijikkan, mungkin ada orang di luar sana yang akan berpikiran begitu jika Ia memilihmu, bukannya kamu setuju?”
“Siscon dan menjijikkan adalah dua hal yang benar, jadi bukannya itu baik-baik saja?”
“Hei, Imouto. Jika kamu terus berbohong dan melebih-lebihkan seperti itu, orang-orang pasti akan mengeluh kepada J*RO.”
Pufufu, Natsumi-chan berguling-guling sambil tertawa.
“Aku benar-benar menantikan ini.”
Dia terus menuangkan bensin ke dalam api. Orang ini ... dia benar-benar memiliki kepribadian yang menakjubkan.
“Perlombaan halang rintang akan segera dimulai. Siapa pun yang ingin berpartisipasi, silakan menuju ke garis start.
Segera setelah mendengar pengumuman, Sana dan Hiiragi-chan berdiri dan berjalan menuju garis start.
“Tidak masalah untuk menikmati ini, tapi tolong jangan menyeretku ke dalam masalah ini.”
“Engga masalah. ‘kan? Toh biarpun Sana-chan menang, mengingat kepribadiannya, dia mungkin akan mempertahankan harga dirinya dan tidak meminta sesuatu yang terlalu berani. ”
“Dan jika Sensei menang?”
“Kamu mungkin tidak bisa tidur di malam hari ...”
Oi…oi…..
Lomba halang rintang mirip seperti acara sampingan saat makan siang, jadi sekitar 20 orang akhirnya berpartisipasi. Ketika perlombaan secara bertahap berlanjut, giliran Hiiragi-chan dan Sana pun tiba.
“Kamu bersorak buat siapa?”
“Sana relatif lebih atletis, jadi aku bersorak untuk Sensei.”
“Haru-chan memang agak ceroboh.”
Bang, pistol ditembakkan, menunjukkan awal perlombaan.
Ketika lomba dimulai, Sana berlari lurus.
“Aku pasti takkan kalah ...!”
“Aku juga, aku tidak akan kalah ...!”
Hiiragi-chan mengayunkan tangannya dengan keras sambil berlari.
Jarak antara Sana dan yang lainnya semakin lebar.
“Sangat lambat!”
Hiiragi-chan bergerak dengan kecepatan yang bisa dituliskan dalam sejarah.
Merangkak melalui jaring, berjalan melintasi balok keseimbangan, dan rintangan lainnya, Sana terus menyelesaikan banyak rintangan dengan mudah. Perbedaannya selebar jika seorang atlet bergabung dengan kompetisi di antara para amatir. Hiiragi-chan malah sebaliknya, tersandung di zona rintangan memutar.
“Kyuuu ~ ... Seiji-kun ...”
“Pufu, fufu ... Haru-chan, dia lucu sekali ...”
Natsumi-chan tertawa terbahak-bahak sambil menenadang tanah.
Mengapa kepribadian mereka sangat berbeda meski mereka saudara kandung?
Hiiragi-chan hanya lagi apes karena salah memilih lawan.
Sana adalah orang pertama yang mencapai garis finish, ketika dia meraih kemenangan, dia membuat pose yang serius.
“Sana-tan, kamu sangat keren!”
“Sana-tan hari ini juga sangat langsing. Kakimu indah.”
“Seperti yang diharapkan dari Sana-tan!”
Ketika gadis-gadis dari kelasnya memanggilnya, Sana secara bertahap meringkuk kembali. Sepertinya dia dipanggil sebagai Sana-tan oleh teman sekelasnya.
“Ra-Rasanya memalukan jadi jangan panggil Sana sebagai Sana-tan ...”
“Sana-tan yang sangat imut!”
“Diam.”
“Luar biasa, tsukkomi tsundere-mu dalam kondisi bagus hari ini!”
“Si-Siapa yang kamu panggil tsundere !?”
Untuk menyembunyikan rasa malunya agar tidak marah, dia kembali ke tempat kami menunggu.
Hiiragi-chan entah bagaimana bisa sampai ke garis finish sambil berjalan sempoyongan.
“Seperti yang diharapkan, Sana menang.”
“Lagipula, Sana jago dalam olahraga. Namun, itu mungkin buruk bagi Sensei ... ”
“Sana-chan, apa yang akan kamu lakukan? Dorobo-kun akan mendengarkan apapun yang ingin kamu minta, loh? ”
Aku masih belum memberikan persetujuanku untuk mendengarkan keinginan mereka.
Hmmmm, setelah memikirkannya sebentar, Sana tersenyum.
“Aku akan berpikir tentang hal ini nanti…. Nii-san, persiapkan dirimu, oke? ”
Aku ingin tahu apa yang gadis ini rencanakan?
Hiiragi-chan, yang benar-benar kehabisan nafas, entah bagaimana berhasil kembali.
“Sana-chan, kamu terlalu cepat ...”
“Sensei, anda terlalu lambat.”
“Aku tidak terlalu jago dalam olahraga ...”
Sambil mengambil napas dalam-dalam, Hiiragi-chan duduk.
“Lalu, kenapa anda malah menerimanya?”
“Umm, itu karena aku ingin akrab dengan Sana-chan.”
Hiiragi-chan tersenyum.
Melihat senyum Hiirahi-chan, Sana langsung mengalihkan pandangannya.
“Ini bukan berarti Sana membenci Sensei atau semacamnya, jadi Sana tidak keberatan untuk bisa akrab dengan Sensei...”
“Terima kasih. Gyuuu ~ ”
Hiiragi-chan memeluk Sana.
“Yaah, tunggu, apa !? Hentikan.”
“Tidak, aku takkan berhenti.”
“Moou ... Ap-Apa boleh buat ...hiss…hehehe”
Sambil menatap keduanya dengan gembira, Natsumi-chan berbisik kepadaku.
“Haru-chan, dia tak terkalahkan, bukan?”
“Ya. Dia memang tidak memiliki musuh. ”
Dia memang kalah dalam pertempuran, tapi Hiiragi-chan memenangkan perang.



close

1 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama