true became fiction when fiction's true

Sunday, 22 December 2019

The Result when I Time Leaped Chapter 99



Ibu Hiiragi - Bagian 2
Seperti yang diharapkan dari cewek tajir, saat Natsumi-chan menelpon seseorang untuk menjemput kami, sebuah mobil hitam mewah tiba di jalanan yang kasar.
“Padahal pakai mobilku juga bisa.”
“Haru-chan, jika kamu yang nyetir, Mama akan marah, tau?”
“Aku tidak mau mendengar apapun yang dikatakan ibu.”
“Aaah, Haru-chan benar-benar menjadi lebih buruk.”
Melihat Hiiragi-chan yang merajuk, Natsumi-chan hanya bisa tertawa. Sekarang dia mengungkitnya, Hiiragi-chan memang tidak menuruti perintah orang tuanya.
Seorang lelaki setengah baya yang mengenakan setelan pengemudi membuka pintu ke kursi belakang.
“Haruka-ojousama, lama tidak bertemu.”
“Yoshinaga-san. Anda tampak sehat-sehat saja.”
Setelah menunjukkan senyumannya, Hiiragi-chan naik ke mobil. Bahkan seorang amatiran sepertiku bisa tahu kalau senyum yang ditunjukkan Natsumi-chan dan Hiiragi-chan sama-sama hanya formalitas belaka.
Di sisi lain, si pengemudi, Yoshinaga-san, melirikku, dan kemudian mendekatkan wajahnya.
“Jadi, kau yang namanya Sanada Seiji.”
“Haaah ... Itu benar.”
“Aku sudah mendengarnya dari Tuan. Aku sudah lama menjadi sopir, mengantar Haruka-ojousama sejak dia masih kecil. ”
Ia menunjukkan ukuran dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.
... Seberapa kecilnya Hiiragi-chan? Apa dia semacam cebol atau kurcaci?
“Aku menyaksikan pertumbuhannya lebih dari orang lain. Bocah tengil sepertimu tiba-tiba berpacaran dengan Haruka-ojousama, aku takkan menerimanya. ”
Sebelum aku bisa mengatakan sesuatu, aku ditarik dari belakang dengan Hiiragi-chan yang menyeruduk.
“Seiji-san adalah kekasihku. Ia sudah dikenali oleh Natsumi. Ini bukan sesuatu yang kamu, Yoshinaga-san, ikut campuri.”
“Tapi….”
“Tapi, tapi apa? Menghina seseorang yang kuakui, sama saja menghina diriku. Apa pekerjaanmu? Memelototi kekasihku? Aku mengerti. Jadi, mundurlah. ”
Ooooh ... Hiiragi-chan, dia sangat keren. Namun, nadanya benar-benar berbeda dari biasanya.
Natsumi-chan memandang dengan cemas, tapi karena tidak ada yang terjadi, dia menepuk dadanya dengan lega.
Yoshinaga-san tetap diam ketika Ia melihat kami duduk di belakang, dan kemudian menutup pintu.
“Menuju ke kediaman utama.”
Setelah memberi tahu begitu, Ia menginjak pedal gas.
Namun, itu adalah reaksi yang cukup wajar. Melihat supirnya bertindak seperti itu terhadap pasangannya, hanya itu saja bisa terlihat bahwa Hiiragi-chan sangat dihargai oleh orang lain.
“Haru-chan, tidak menyukai kalau orang rumah bersikap seperti itu.”
Seolah dia tidak mendengar suara Natsumi-chan, Hiiragi-chan terus memegang tanganku sambil menatap ke luar jendela dengan melamun. Melihat itu, wajah pengemudi, Yoshinaga, yang ditampilkan lewat cermin, berubah getir sesaat.
“Karena terlalu berharga, kurasa Haruka-san berubah menjadi lebih buruk.”
“Aku tidak berubah menjadi lebih buruk. Setelah kau menjadi dewasa, kau menjadi mandiri, bukan? ”
Untuk ukuran rumah tangga biasa, bukanlah hal yang aneh bagi seseorang untuk mulai hidup sendiri setelah lulus kuliah dan mulai bekerja. Tetapi untuk rumah tangga yang tidak perlu bekerja seperti keluarga Hiiragi, mereka takkan cocok dengan kejadian normal itu.
Karena penasaran bagaimana kehidupan sehari-hari Hiiragi-chan, Yoshinaga mengajukan pertanyaan, yang mana dia hanya memberikan jawaban seperlunya dengan senyum paksa.
Setelah mengendarai mobil selama sekitar satu jam, kami tiba di tempat tujuan. Kelihatannya seperti rumah besar yang dibuat setelah memotong bagian dari gunung, dan karenanya, itu cukup besar. Dari gerbang utama, masih ada jarak untuk sampai ke pintu depan rumah.
“Bagaimana? Dorobo-kun.”
“Aku tidak bisa bilang kalau rumah ini lebih besar dari apa yang aku bayangkan.”
Aku melirik Hiiragi-chan, dan menyadari kalau dia terlihat tidak terlalu sehat. Kalau dipikir baik-baik, sejak dia masuk mobil, dia belum banyak bicara.
“Apak kau baik-baik saja, Haruka-san?”
“Terakhir kali ... tahanan rumah ...”
Apa kejadian itu menyebabkan trauma !?
Ketika kami tiba di pintu masuk, seorang pelayan muda menyambut kami, “Haruka-ojousama, Natsumi-ojousama, selamat datang di rumah” dan kemudian membuka pintu besar.
Tentu saja, pelayan tersebut juga melirikku.
Pelayan itu mengulurkan tangannya ketika Natsumi-chan secara alami menyerahkan tas kecilnya.
“Natsumi-chan, apa orang-orang di rumah ini tahu kalau aku akan datang?”
“Aku hanya memberitahu mereka kalau ada teman yang bakal datang.”
Jika kau bilang seorang teman, dan membawa cowok, kurasa akan menimbulkan berbagai kesalahpahaman.
“Tidak ada apa-apa di kamar Haru-chan, jadi mari kita pergi ke kamarku dulu.”
Sambil berjalan di karpet yang meredam langkah kaki kami seperti di hotel mewah, Natsumi-chan menuntun kami ke kamarnya. Kamarnya jauh lebih luas ketimbang kamar apartemen Hiiragi-chan, dan tentu saja, kamarku juga. Dengan sejumlah koleksi boneka binatang yang diletakkan di dekat jendela, kamar ini benar-benar terasa seperti kamar anak perempuan.
“Ojou-sama, haruskah saya membawakan teh?”
“Tidak usah.”
Dia menyuruh pelayan keluar, dan tinggal kami bertiga.
“Dorobo-kun, jangan terlalu sering lirik-lirik, oke?”
“Aku takkan melakukan sesuatu yang tak sopan begitu.”
Aku duduk di sofa. di sebelahku ada Hiiragi-chan yang tampak lesu dan tak bersemangat.
“Mama sebentara lagi akan pulang, jadi aku akan mengenalkanmu. Aku pikir dia ingin aku memperkenalkanmu kepadanya tanpa diminta.”
“Orang seperti apa ibumu?”
“Dia agak ketat dalam hal sopan santun, tapi selain itu, dia cukup normal. Yah, untuk Dorobo-kun mungkin akan terasa seperti wanita kelas atas yang kuat.”
Aku benar-benar melihatnya pada kejadian di restoran hotel, tapi karena aku tak berbicara tatap muka, aku merasa cemas. Aku datang dalam penampilan apa adanya, apa ini baik-baik saja?
Kami memutuskan beberapa hal setelah mendiskusikan rencana menghadapi Mama Hiiragi. Pertama, aku akan diperkenalkan sebagai teman Natsumi-chan dan bertukar salam serta basa-basi. Mengenai diriku yang menjadi temannya, yah, itu tidak bohong sih, jadi tidak masalah. Kemudian, kami akan melihat bagaimana situasinya, dan mengungkapkan kebenarannya.
Berdasarkan apa yang dikatakan Natsumi-chan, Hiiragi Papa sudah memberi tahu Hiiragi Mama mengenai diriku. Aku juga ada di sana pada hari wawancara pernikahan, jadi ada kemungkinan kalau mereka berbicara tentangku.
“Haru-chan, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu ikut menemui Mama?”
“Aku…”
Hiiragi-chan sedari tadi diam terus. Level energinya sangat rendah.
“Haru-chan, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk bertemu dengannya, tau?”
Hmm? saat aku kembali ke masa sekarang, Hiiragi-chan mengatakan kalau dia sedang bertengkar dengan Hiiragi Mama.
Apa itu ... sesuatu yang terus berlanjut dari sekarang?
“Kau bertengkar dengan ibumu?”
“Ya ... begitulah adanya.” Balas Hiiragi-chan dengan lesu.
“Terakhir kali, ketika kau kembali, itu benar-benar tidak biasa.”
“Bagiku juga ... Kupikir setelah menjadi dewasa dan belajar lebih banyak akal sehat, aku bisa berani berbicara dengan ibu, tetapi dia memaksaku ke wawancara pernikahan itu ...”
Ketika dia akan melanjutkan untuk mengatakan sesuatu, suara ketukan datang dari pintu. Setelah Natsumi-chan memberi tahu kalau mereka bisa masuk, ada pelayan masuk.
“Nyonya sudah kembali. Apa yang akan anda lakukan?”
... Berpikir kalau ini sudah waktunya, aku akhirnya menjadi gugup. Namun, Hiiragi-chan memiliki reaksi yang lebih kuat dariku. Aku tak memiliki kesan  kalau ibunya adalah orang yang menakutkan, tapi mungkin ada sesuatu yang menimbulkan beberapa trauma dari tahanan rumah, atau mungkin karena mereka sedang bertengkar.
“Terima kasih. Beritahu Mama kalau dia harus menunggu kita di ruang tamu.”
“Dimengerti.”
Pelayan tersebut melangkah mundur dan menutup pintu.
Pertama-tama aku akan diperkenalkan sebagai teman Natsumi-chan, dan jika Hiiragi-chan hadir, mungkin akan ada berbagai komplikasi. Itulah yang diputuskan Natsumi-chan.
Hiiragi-chan yang tidak bersemangat menunggu sebentar di sini, kami berdua meninggalkan ruangan.
“Apa mereka benar-benar dalam kondisi yang mengerikan?”
“Bagi Haru-chan, bukan seburuk itu. Hanya saja Mama selalu menentang segala yang dilakukan Haru-chan. Diam-diam mendapatkan lisensi guru untuk bisa mandiri, mengajar di sekolah, hidup sendiri ... itu saja yang aku tahu. ”
Sebagai hasilnya, Hiiragi-chan akhirnya bisa memenuhi keinginannya sendiri. Karena tak ada alasan baginya untuk bekerja, bukan berarti aku tidak mengerti alasan penolakannya. Tapi tetap saja, kupikir itu tidak benar untuk terus bertengkar seperti ini.
Jika ini terus dibiarkan, Hiiragi-chan akan terus memikul beban ini di masa depan dan akhirnya menikah tanpa persetujuan orang tuanya. Dan itu sama saja dengan kawin lari.
Begitu kami tiba di ruang tamu, aku duduk di sebelah Nastumi-chan. Rasanya benar-benar terasa seperti ruang tamu orang tajir. Sofa yang kududuki terasa nyaman, dan dindingnya dihiasi dengan lukisan-lukisan yang tak ternilai harganya.
Seorang pelayan segera membuka pintu, dan kemudian Hiiragi Mama masuk.
Aku berdiri dan membungkuk sedikit.
“Terima kasih telah mengizinkan saya untuk berkunjung ke sini. Nama saya adalah Sanada Seiji.”
Keterampilan bisnisku berfungsi dalam kecepatan penuh. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh anak SMA biasa.
“Terima kasih sudah bersikap sopan. Apa kamu teman yang dibicarakan Natsumi?”
“Iya. Kami bertemu secara kebetulan, dan hari ini, aku diundang untuk berkunjung. ”
“Betul sekali.”
Dia terlihat seperti orang yang ramah, dan wajahnya memiliki nuansa yang mirip dengan Natsumi-chan, dicampur dengan perasaan lembut dari Hiiragi-chan.
Ya. Dia benar-benar tampak seperti ibu dari dua saudari perempuan. Dia tampak berusia pertengahan 40-an dan dari ujung kepala sampai ujung kaki dibaluti dengan pakaian elegan.
Hiiragi Mama, mengenakan pakaian Jepang, duduk di seberang kami. Karena didesak untuk duduk, aku juga menurut untuk duduk.
“Pasti bukan teman dari sekolah, kan?”
“Iya. Seorang teman dari luar sekolah.”
“Pacar?”
Ketika dia bertanya dengan nada menggoda, Natsumi-chan menggelengkan kepalanya.
“Bu-Bukan itu! Sanada-san hanya memiliki hubungan pertemanan denganku, makan bersama atau minum teh.”
“Oh? Benarkah?”
Percakapannya berbalik ke arahku, jadi aku dengan tegas menganggukkan kepala.
“Iya. Saya kebetulan bertemu Natsumi-san beberapa kali di luar, dan jadi hal itu menjadi seperti ini. "
Natsumi-chan mengangguk dengan pipi yang memerah saat aku memberikan komentar pendukung.
“Apa Nastumi-chan sering merepotkanmu?”
“Mama!?.”
“Tidak, tidak. Bukan seperti itu. Dia orang yang cukup bertanggung jawab ..”
Sama seperti ini, Hiiragi Mama bertanya tentang bagaimana Natsumi-chan ketika berada di luar rumah.
Sungguh. Jika kau mengesampingkan fakta kalau  dia orang kaya, ini seperti yang Natsumi-chan katakan, dia adalah ibu normal. Entah bagaimana, Agak mengecewakan.
Tapi, jika memang begitu, aku ingin tahu apakah Hiiragi-chan bisa berbaikan dengannya.
“Natsumi yang bertanggung jawab, rasanya tak disangka sekali.”
“Karena Onee-sama begitu dungu, wajar saja kalau aku menjadi seperti ini, ‘kan?”
Meski beliau tampak tenang, tapi saat mengungkit nama Hiiragi-chan, tatapannya tiba-tiba berubah menjadi dingin.
Natsumi-chan mengalihkan pandangannya ke arahku. Dia mungkin akan mengatakannya.
“Mama, Sanada-san ... kamu salah paham dan menganggapnya sebagai pacarku, tapi dia sebenarnya sudah memiliki kekasih.”
“Oh? Sayang sekali ya, Natsumi.”
“Se-Seperti yang sudah kubilang, itu bukan alasanku menemaninya ... Aaaah, alasan aku bersamanya di sini adalah murni sebagai teman ... ummm ....”
Hiiragi Mama mulai tertawa setelah melihat keraguan Natsumi-chan. Sepertinya, meski dia tahu kalau Hiiragi-chan punya kekasih, dia mungkin tidak ingat namaku.
Demi membantu Natsumi-chan, aku mulai berbicara mengenai tujuan kami yang sebenarnya.
“Gadis yang aku kencani adalah ... Kakak Natsumi-san, Haruka-san.”
“Ah, begitu ya. Jadi, itu kamu ...”
Yang beliau lakukan hanyalah mengeluarkan suara terkejut. Tak ada reaksi khusus seperti yang terjadi dengan Hiiragi Papa. Ketika aku melihat matanya, ketertarikan yang dia punya ketika membahas pacar Natsumi-chan sudah tidak ada lagi.
“... Memang ada sedikit perbedaan umur, tapi kami serius berpacaran satu sama lain. Su-Suatu hari nanti, kami akan mempertimbangkan untuk menikah satu sama lain. ”
“Eeeeeeeeeeh!? Yang beneeeeeeeeeeeeeeeeeeeeerrrrr!?”
Natsumi-chan berbalik ke arahku karena terkejut.
“Ka-Kalian sudah di tingkat itu—”
“Natsumi. Jangan berteriak seperti itu. Sangat memalukan. Juga, jaga kata-katamu baik-baik.”
Baik, balas Natsumi-chan dan kemudian duduk di sofa lagi.
Ketika aku menatap Hiiragi Mama dengan takut-takut, dia mengangguk beberapa kali.
“Sanada-san, aku sudah mendengar jelas mengenai tekadmu. Silahkan lakukan apa yang kamu mau.”
Eh?
Eeeeeeeeeeehhhh !?
Kita dapat restuuuuuuuuuuuuuuuu!?



1 comment:

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat