The Result when I Time Leaped Chapter 116



Kari Khas Keluarga Sanada

Hari ini adalah hari acara festival sekolah. Karena kemarin tidak ada jam pelajaran, selama sepanjang hari, setiap kelas dan klub melakukan persiapan festival sekolah. Setelah tiba di sekolah dan absen,  aku langsung menuju ke ruang klub tata boga. Semakin dekat menuju ke ruang klub, semakin jelas aroma kari yang sedap tercium. Setelah mengintip ke dalam, Hiiragi-chan, Sana, dan Kanata mengeluarkan suasana jengkel.
“…Apa yang terjadi?”
Di depan mereka masing-masing, ada berbagai panci besar yang digunakan untuk memasak.
“... Baru saja, kita mau bersaing kari siapa yang akan dijual.”
Kanata menjelaskannya dengan sederhana.
“Kedengarannya menarik.”
Mungkin mereka akan berusaha lebih keras dengan cara begini, ketimbang cuma menjual kari asal-asalan. Jadi, itu sebabnya Sana pulang larut kemarin. Bahkan ketika datang ke sekolah, dia berangkat lebih pagi dariku.
Kemarin, kami bertiga kecuali Sana, sudah menyiapkan bahan-bahan yang telah kami beli. Kami mengupas kentang dengan cara dijejer. Di tengah jalan, tampaknya kelas Sana berjalan lancar, lalu Sana bergabung dengan kami, dan melanjutkan memasak.
“Lalu, itu berarti bahan dasarnya sama. Ini cuma kompetisi yang didasarkan pada bagaimana roux diatur. ”
“Sanada-kun, lihat saja nanti. Kari punyaku akan terjual paling cepat.”
Seperti biasa, ketika menyangkut kompetisi memasak, Hiiragi-chan berubah menjadi kekanak-kanakan dan menganggapnya serius.
Sambil berusaha mengintip ke dalam panci mereka masing-masing, warna roux-nya mempunyai warna yang sama dengan yang dijual di toko-toko, tapi tercium aroma agak pedas di dalamnya. Bahkan dalam masakan kari, ada banyak jenisnya. Dalam panci Kanata, keunikannya terlihat jelas. Warna karinya berwarna agak kuning. Aku bisa melihat ada sedikit paprika di dalamnya.
“Jadi ini kari Thailand.”
“… Benar. Kemarin, aku membeli bahan-bahan yang cukup sambil masih dalam cakupan anggaran.”
Begitu ya. Secara harfiah, ada sentuhan tersendiri pada rasa.
“…”
“... A-apa ....?”
Sana balas menatapku sambil mengaduk panci.
“Yah, walau kau tidak menjual seporsi pun, jangan terlalu depresi, oke? Itulah kenyataannya ... Ya, jangan khawatir!”
“Tolong jangan memutuskan seenaknya kalau Sana akan mengalami depresi, dan kemudian mencoba menghiburku. Bodoh.”
Yah, maksudku ... Seperti yang bisa kalian tebak, masakan kari Sana adalah jenis kari produksi massal yang biasa dibuat dengan memasukkan roux yang dibeli di toko ke dalam kari tanpa keunikan apa pun. Kurasa bila kau lapar rasanya bakal lezat ... namun bila membandingkan dengan yang lain, jelas siapa yang lebih rendah. Terus, saat aku tidak melihatnya, Sana mungkin memasukkan sesuatu ke dalam kari. Pada poin itu saja sudah meningkatkan level bahaya ke tingkat maksimal ...
“Saat Sana berperan jadi hantu, Nii-san yang akan menjaga karinya.”
“Haah? Kenapa harus aku?”
“Maksudku, ini adalah cita rasa khas keluarga Sanada.”
“Jangan memutuskan sesuatu yang kamu buat mewakili keluarga Sanada.”
“Ini akan baik-baik saja ... setidaknya itulah yang dikatakan penasihat kemarin.”
“Tolong jangan panggil Ibu sebagai penasihat.”
“Rasa manis dan pedasnya berbanding sekitar 7 : 3. Tidak salah lagi! Karena sudah cukup manis, aku yakin banyak gula ditambahkan.”
... Rasa manis itu bukanlah jenis rasa manis dari gula, oke? Bukannya ada gula di dalam roux. Pada awalnya, pemikiran bahwa kari dengan banyak gula terasa enak, berarti jalan pikiranmu sudah terlalu melenceng.
Yah, roux yang dibeli di toko memang lumayan. Mungkin kari buatan Sana takkan sesukses ketimbang yang lainnya, tapi juga takkan menghasilkan kegagalan. Ini sempurna untuk seseorang yang menggunakan autopilot.
Kita bisa melihat halaman sekolah dari jendela ruang klub tata boga. Ada tenda yang juga digunakan untuk festival olahraga. Di lapangan sekolah pun sama.
“Bahan dan roux-nya sedikit berbeda, jadi, apa yang akan kalian lakukan dengan harganya? Apa di sama ratakan? Atau punya harga masing-masing?”
Hmmm, mereka bertiga berpikir.
“Buatku, bukan berarti kita sedang mencoba untuk memulai bisnis atau semacamnya, jadi aku percaya sedikit rugi pun tak masalah.”
Karena bahan-bahannya dibeli dengan dana klub.
“... Aku tidak mau rugi, jadi aku ingin mendapat untung.”
“Sana setuju dengan Kana-chan.”
Seharusnya sudah diatur sepaket dengan nasi, dan bisa dijual dengan harga 400 yen. Setidaknya itu akan membuat kami tetap di atas rata-rata.
“Aku merasa tidak enakan jika ada yang tersisa, jadi harga 400 yen saja sudah lebih dari cukup.”
“Sensei, kamu sangat bisa diandalkan.”
“Eheheh. Tentu saja ya ‘kan?”
Setelah berpikir sebentar, Kanata lalu memutuskan.
“... Bagiku, harganya 500 yen. Paprika, dan santan ...”
Aku kira itu mungkin mahal. Tapi, kari Thailand dengan harga segini pasti masih dianggap murah, aku yakin. Karena itu buatan Kanata, mungkin rasanya juga enak.
“Fufu. Aku melihat semuanya kurang percaya diri.”
Sana membusungkan dadanya yang rata.
Bukannya mereka kurang percaya diri, mereka cuma bersikap realistis.
“Sana akan mematok harga 600 yen! Kari khas keluarga Sanada setidaknya sepadan dengan harga segitu. ”
“Dari mana kepercayaan itu berasal?”
“Harga yang tepat untuk barang yang tepat. Sana membuatnya dengan sangat hati-hati.”
“Padahal persiapan masak dan memanaskan kompornya itu dilakukan olehku semua?”
Berbicara tentang apa yang telah dilakukan Sana, dia hanya memasukkan roux. (Jika kau mengecualikan tambahan aneh yang telah dibuatnya) ... Dia mengambil bagian terbaik dari membuat kari.
“Tolong jangan mempermalukan keluarga Sanada ...”
Aku sudah bisa membayangkan orang-orang merasa kasihan padanya dan kemudian membelinya.
Ada sekitar 200 porsi di antara ketiganya, jadi setiap orang punya sekitar 65 porsi. Jika berjalan dengan baik, mungkin bisa habis terjual dalam waktu 2-3 jam.
“Untuk persiapannya dimulai pukul 10:30 dan stan baru dibuka pada pukul 11. Tergantung siapa yang menjual, kalian juga akan membuat bagian untuk besok.”
Tidak ada yang mengeluh atas saran yang kuberikan.
Aku menyiapkan piring kertas dan sendok untuk kari, dan memeriksa nasi yang sudah dimasak. Dan, sejumlah uang receh untuk uang kembalian.
Di pamflet festival sekolah, stan-stan serta lokasinya ditulis lengkap. Permen kapas, frankfurter, cumi bakar, dll. Itu adalah deretan standar dari festival. 
Aku tidak tahu mengenai para gadis, tapi untuk murid laki-laki, semuanya tentang mendapatkan hasil maksimal sebisa mungkin dengan harga semurah mungkin. Selain itu, kami punya metode periklanan terkuat Hiiragi-chan. Karena itu buatan langsung.
“Ini ... pasti akan menimbulkan keributan ...”
Layaknya seorang nelayan veteran yang memandang ke laut, aku memandang ke arah lapangan dengan pandangan mata yang jauh.
“Sana akan bertugas di rumah berhantu mulai jam 1:00. Pada saat itu, Sana akan menyerahkannya pada Nii-san ...! ”
“Kau benar-benar selalu seenaknya saja.”
“Tunjukkan pada mereka kebanggaan dari keluarga Sanada!”
“Tolong jangan seenaknya mengira kalau kita ini satu tim.”
Sama seperti ini, waktu terus mengalir sampai jam 10:00.
Untuk mulai mempersiapkan stan, kami membawa alat-alat yang diperlukan. Panci besar diletakkan di atas tiga kompor gas yang digunakan untuk menjaga agar makanan tetap hangat.
“Uwaaah ... aromanya sedap sekali ...!”
“Klub mana itu?”
“Klub tata boga ... kamu bisa memakan kari buatan Hiiragi-sensei ...?”
Kami mearik perhatian dari berbagai siswa yang sedang bekerja di sekitar kami.
“Tunggu sebentar, oke ♪ Kita akan mulai sekitar jam 11:00!”
Ketika Hiiragi-chan mengatakan itu, para murid laki-laki di sekitar langsung mengangguk serempak.
Di tengah ada Hiiragi-chan, di sebelah kanan ada Kanata, dan sebelah kiri adalah Sana. Aku bekerja di belakang layar, bertanggung jawab atas pembayaran dan nasi. Tiga lainnya akan berada di depan panci kari, menerima pesanan, dan membagikan kari.
Dengan begini, meski sibuk, kita pasti akan baik-baik saja.
Aku menulis berbagai kalimat di selembar kertas, dan menempelkannya di papan nama di depan meja.
[Kari Buatan Hiiiragi-sensei - 400 yen]
[Ayo kita buat hari ini sedikit lebih menarik! Kari Thailand - 500 yen]
[Kari yang dibuat semampunya oleh Sanada Sana dari Kelas 1E - 600 yen]
Baiklah, ini pasti sudah cukup bagus. Punya Hiiragi-chan mungkin yang habis duluan.
Dari kiri sampai ke kanan: terlihat lezat, terlihat lezat, terasa seperti ranjau darat. Itulah barisan yang akan ditampilkan.
“Tunggu dulu, Nii-san!”
Adik perempuanku langsung mengeluh. Lagian ini adalah kari yang dia buat. Tergantung pada kelas memasaknya—
“Tulis dengan benar sebagai kari khas keluarga Sanada!”
“Menurutmu, seberapa tangguh kari khas keluarga Sanada itu?”
Sebaliknya, bagian itu yang kau keluhkan?
Mereka bertiga menyalakan kompor gas dan mulai menghangatkan kari. Aroma yang menyebar tampaknya menjadi cara beriklan yang kuat karena ada banyak siswa yang berhenti bergerak di depan kami.
“Heeey, Sanada?”
Ada Fujimoto datang.
“Ada apa? Aku lagi sibuk.”
“Apa ini tempat di mana aku bisa memakan kari buatan Hiiragi-chan dan Sana-chan?”
“Ya, kurasa begitu.”
“Untuk kafe kelas, kau sepertinya punya pekerjaan, jadi datanglah setelah jam dua, oke.”
Ya ya, aku memastikan untuk memberikan jawabanku. Namun, Fujimoto masih belum pergi.
“... Sanada, kau mungkin sendirian, ‘kan ...? Setelah selesai, ayo kita pergi bersama-sama.”
Menampilkan giginya yang putih berkilau, Fujimoto memberiku acungan jempol.
Saat festival sekolah terakhir kali, kami sama-sama jomblo ... Sambil menonton pasangan yang berpegangan tangan dan berjalan berdampingan, itu adalah festival sekolah yang penuh dengan helaan nafas ... Festival sekolah yang sangat menyedihkan.
“Maaf. Pria jomblo. Sayangnya, aku sudah ada janji sebelumnya.”
Aku tidak bisa jalan-jalan menikmati festival bersama Hiiragi-chan, tapi aku punya senjata rahasia.
“Kuu ... padahal kau cuma Sanada.”
“Sampai jumpa lagi. Maju terus dan lakukan pekerjaan untuk kelas. Lalu, agar tidak diakui sebagai penyendiri, gentian shift dengan orang lain dan diakui sebagai pria yang baik hati dan tidak berbahaya. Itu mungkin akan menjadi yang terbaik.”
“Sialan ... sialan ...! Jangan menyuarakan apa yang akan aku lakukan bahkan sebelum aku mulai melakukannya!”
Sambil menyeka air matanya, Fujimoto pun berlari.
Tak kusangka bahwa Fujimoto mungkin akan melakukannya karena alasan itu, aku sudah ... sudah ... tidak bisa menahan tawa lagi ...
Setelah mencari-cari barangnya dengan susah payah, Hiiragi-chan mengeluarkan topi dan celemek.
“Tadah! Aku menyiapkannya hanya untuk hari ini. Semuanya bisa samaan. Bukankah ini hebat?”
Topi itu benar-benar memunculkan perasaan seperti kedai kari. Celemek denim yang dipadukan dengan topi, memberi kesan seperti pegawai di sebuah toko.
Tapi, tadah ... Hiiragi-chan, itu terdengar, kejutan macam itu sudah ketinggalan zaman ...
“... Ya, sepertinya bagus.”
“Sana juga tidak membencinya.”
Aku bahkan juga ikut dikasih, karena semua orang memakainya. Entah bagaimana, rasanya menyenangkan karena kita semua terasa seperti satu tim.
Di depan stan kari, para siswa sudah membentuk antrian.
“Sekarang sudah jam 11:00. Ayo mulai.”



close

1 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama