The Result when I Time Leaped Chapter 115


Perasaan Jujur

“... Saa-chan sepertinya sedang berusaha keras.”
Waktu sepulang sekolah selama kegiatan klub, Kanata berbicara tentang seseorang yang tidak hadir di ruangan klub.
Orang-orang yang berada di kelas yang perlu menyiapkan sesuatu, mungkin ikut membantu. Mereka yang masuk klub, melakukan hal yang sama pula. Jadi, kebanyakan orang bebas sepulang sekolah untuk melakukan apa yang perlu mereka lakukan.
“Dia berperan jadi hantu, ‘kan?”
Aku juga bisa saja untuk memilih membantu kelasku, tapi tidak banyak yang bisa kubantu di sana. Karena itu, aku duduk di sini seperti ini, berbicara dengan Kanata di ruang klub tata boga. Seperti biasa, Kanata fokus menatap layar konsol portabel yang menampilkan permainan yang sedang dia mainkan.
“... Seiji-kun, pada hari festival budaya, bisakah kamu pergi dan mengunjunginya?”
“Eh? Yah, kurasa tidak apa-apa ...”
“... Dia mungkin membuatnya tampak seperti dia tidak mau kamu melihatnya, tapi mungkin ada beberapa bagian dari dirinya yang ingin kamu lihat.”
“Itu sebabnya dia bekerja keras?”
Kanata mengangguk. 
Aku percaya itu agak aneh bahwa seseorang yang memainkan peran hantu ingin dilihat.
“Kanata, apa kamu suka game?”
“... Itu pertanyaan bodoh.”
Yah, memang. Lagipula dia sedang bermain game saat ini.
“Di masa depan, model ponsel saat ini akan berevolusi, dan akhirnya memiliki spesifikasi seperti konsol portabel ...”
“… Apa yang sedang kamu bicarakan?”
“Tentang masa depan game. Kau bisa memainkan game di ponselmu sendiri sama seperti halnya kau bermain di konsol portabel. ”
“... Itu cuma perumpamaan, ‘kan?”
Itu beneran terjadi di era kita, sih.
“... Jika kamu membicarakan game mobile, sudah ada beberapa saat ini, tapi kamu berbicara tentang lebih dari itu?”
“Itu hanya sebuah kemungkinan ... tapi jika ada jenis permainan semacam itu, bukannya akan lebih menarik untuk membuatnya?”
“…”
Dia menatapku seperti kucing liar yang waspada, sebelum mengembalikan pandangannya ke tangannya.
“... Itu ... mungkin ... menarik ...”
Aku mendengar sedikit dari Sana. Tentang karir masa depan Kanata. Sepertinya dia mengincar sekolah tinggi kejuruan, yang memfokuskan pemrograman game, grafik, dan mata pelajaran lain semacam itu. Walau dia belum tahu subyek spesifik apa yang ingin dia kejar.
Sebelumnya, aku diberitahu bahwa minat dan pekerjaan adalah dua hal yang berbeda, dan aku merasa itu benar, tapi aku pikir itu memang benar bila kau benar-benar meluangkan waktu untuk memikirkannya.
“Maaf sudah membuat kalian menunggu ~”
Dengan suara ceria, Hiiragi-chan masuk ke ruang klub.
“Ada banyak bahan yang harus dibeli, jadi ayo belanja pakai mobilku.”
Sana adalah orang yang menganjurkan klub tata boga untuk membuat kari, tapi dianya sendiri malah sibuk, jadi akhirnya kita yang mengerjakannya. Bagaimanapun juga, kita tidak bisa menyerahkan semua tugas ke Hiiragi-chan.
“Mungkin agak lama, jadi aku akan mengantar kalian langsung pulang setelah itu, oke?”
Karena itu yang terjadi, Kanata dan aku membereskan barang-barang kami, dan keluar dari pintu masuk. Segera setelah itu, Hiiragi-chan mengendarai mobil untuk kami.
Aku baru saja akan duduk di kursi sebelah pengemudi ketika Kanata duduk duluan. Kurasa tidak ada pilihan lain, jadi aku duduk di kursi belakang.
“... Kursi penumpang ini ...”
"Ii-san, ada apa?"
“... Sensei, apa kamu punya pacar?”
“!?”
Hiiragi-chan, kamu terlalu gugup.
“Tidak — aku — tidak punya – kok”
Keringatmu bercucuran deras tuh. Apa kau baik-baik saja?
“…Benarkah? Kursi penumpang ... Aku pikir kursi ini diposisikan cukup jauh ke belakang. Aku berpikir bahwa seseorang yang tingginya sekitar 170 sampai 180 cm, akan duduk di sini.”
Emangnya kau ini esper ya !? Tinggiku 175 cm. Kau benar, selamat.
“Mu-Mungkin ayahku yang duduk di sana?”
“... Ah, begitu ya.”
Untungnya tidak ada pertanyaan lagi setelah itu. Hiiragi-chan dan aku menghela napas lega.
Kami akan berbelanja bahan-bahan, tapi jumlahnya cukup banyak. Mana mungkin kita bisa mendapatkannya di supermarket ... Apa yang akan dia rencanakan?
“Ada petani yang menjual banyak kentang dan bawang. Wortel dijual oleh petani yang berbeda. Kita akan membelinya di sana.”
Dia tampak seperti mengelola toko sungguhan. Menurut Hiiragi-chan, harganya lebih murah untuk membeli di sana, ketimbang membeli dari supermarket.
Kari yang dijual akan dibatasi sampai 200 porsi sehari, dan itu untuk dua hari pada festival sekolah. Bila dilihat dari catatan Hiiragi-chan, jumlah kentang, bawang, dan wortel tidak ditulis dalam hitungan, tapi lebih ke berat per kilogramnya…. Jika kita menjual produk buatan tangan Hiiragi-chan, mereka mungkin bisa dijual dengan harga dua kali lipat. 
Kami tiba di rumah petani pertama sekitar dua puluh menit dan memberi salam.
“Aaah, semuanya sudah disiapkan.”
Ujarnya, saat kami dipandu ke tempat seperti gudang. Kami membeli banyak kentang dan bawang. Sama seperti itu kami tiba di rumah petani kedua, dan membeli wortel juga.
Awalnya, Hiiragi-chan mungkin berencana mengajakku. Rasanya memang berat bagi seorang gadis untuk membawa semua ini. Bagasi belakang dan setengah kursi belakang dipenuhi bahan-bahan.
Setelah itu, kami mengantar Kanata kembali ke rumahnya, dan hanya ada kami berdua di dalam mobil. Ketika percakapanku dengan Hiiragi-chan berhenti, aku teringat kembali pada apa yang dikatakan Rei-chan.
“Senpai, itu cuma daya tarik langsung.”
Aku memutuskan untuk bertanya kepada Hiiragi-chan, yang telah memutar setir ke arah rumahku.
“Haruka-san.”
“Hmm? ya?”
Minggu lalu, dia mungkin tak kepikiran atau bahkan memimpikan bahwa aku mungkin sudah bangun pada saat itu.
“Haruka-san, apa kau pernah berpikir ingin melakukan ….. hal-hal mesum?”
“Eeeeeh !? Ke-ke-kenapa !? Ke-kenapa kamu tiba-tiba tanya begitu ...?”
Dia tampak terguncang.
“Aaaaah, depan, lihat ke depan!”
Mobil yang dikemudikan jalan berkelok-kelok saat menyapa jalur yang berlawanan. Tepat saat aku memikirkan itu, mobil itu terpojok di sekitar pagar pengaman.
“Be-Berhenti juga. Aku pikir aku akan mati ...”
“Y-ya ..”
Dia mengarahkan mobil ke pinggir jalan dan berhenti. Hampir tidak ada mobil atau orang yang lewat, jadi tidak apa-apa.
“Kenapa kamu menanyakan itu?”
“... Kenapa, yah, aku mendengar bahwa bahkan wanita juga punya keinginan semacam itu.”
“Ah, itu juga ditulis!”
... Itu sudah ditulis? Sebenarnya, apa yang kau baca?
Ohon, Hiiragi-chan terbatuk seakan mencoba menyampaikan apa yang dia katakan.
“Itu salah satu dari tiga keinginan dasar manusia. Jadi, tentu saja aku mau. Setidaknya sedikit.”
Dia duduk di kursi pengemudi, sementara aku di kursi belakang, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi aku bisa melihat bahwa telinganya terlihat memerah.
“Ada perlawanan ...?”
“Ti-tidak ... mungkin ... Sa-sa-sa-sa-saat itu ... aku mungkin tidak kompeten, tapi aku akan melakukan yang terbaik.”
Dia telah menciutkan lehernya, jadi aku mengerti bahwa Hiiragi-chan telah melakukan yang terbaik untuk mengeluarkan keberaniannya.
Seperti yang kuduga, Airi-san yang bertanya apakah kita sudah melakukan hal itu , mungkin menginspirasinya.
Aku sudah bilang jangan terlalu dipikirkan dan kita bisa melakukannya dengan tempo kita sendiri, tapi jika Hiiragi-chan berkata baik-baik saja, maka tidak ada alasan untuk ragu.
“Aku akan ...  melakukan yang terbaik juga.”
Pufu, Hiiragi-chan tertawa. 
“Kamu bilang begitu, tapi jika kamu terlihat berpengalaman, aku akan menangis ...”
Dia melirikku sambil cemberut dengan bibirnya.
“Itu karena aku melakukan pelatihan membayangkannya.”
Fufu, Hiiragi-chan tertawa lagi.
Syukurlah. Suasana yang serius mulai mencair.
Membuka pintu pengemudi, Hiiragi-chan masuk ke kursi belakang. Karena semua barang bawaan, rasanya jadi cukup sempit.
Dengan berlatar matahari terbenam, kami berdua berciuman. Kenikmatan dari ciuman membuat bagian belakang kepalaku mati rasa. Sambil menutup mataku, aku bisa dengan jelas merasakan napas kami bercampur. Mungkin itu karena percakapan aneh yang barusan, tapi ciuman Hiiragi-chan sangat bersemangat dan agresif hari ini.
“Seiji-kun, kamu bilang itu baik-baik saja dengan tempo kita sendiri ...”
“Ya.”
Menatap lurus ke arah Hiiragi-chan yang imut, membuatku sedikit malu. Dengan pipinya yang diwarnai dengan warna yang sedikit berbeda dari matahari terbenam, Hiiragi-chan menatapku dengan mata menengadah.
“Aku pikir ... se-sekarang……..juga…..tidak masalah ...”
“Ah, seperti yang diharapkan.”
“Apa maksudmu seperti yang diharapkan?”
Bukan apa-apa, aku menggelengkan kepala.
“Aku juga ... umm, perlu mempersiapkan hatiku, jadi ... mungkin mustahil untuk beberapa hari ke depan, tapi ...”
“A-apa itu oke...?”
“~~~~~~~…”
Hiiragi-chan mengangguk dua kali sambil memejamkan matanya.
“Pa-Pada saat itu, tolong lakukan dengan lembut ya?”
“Y-Ya aku akan berusaha sebisa mungkin.”
Itu bersyarat, tapi sama seperti ini, aku mendapat persetujuan dari Hiiragi-chan.
(TN : Wadaaaaaauuuuuu akhirnya mereka mau ena-ena pemirsa :v)




close

5 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

  1. Meledaklah dasar Riajuu :v

    BalasHapus
  2. Min plis jangan disensor lg..kalau bisa admin yg buat sendiri adegan 18+nya(kalau gak ada.wkwkw)

    BalasHapus
  3. Siaalaaaaaaaan!! Akhirnya eue juga!! Kejayaaan teameue telah tiba!

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama