The Result when I Time Leaped Chapter 121

Setelah Pesta

 

Hari kedua festival sekolah.

Ketika aku tiba di sekolah, Fujimoto memanggilku.

“Apa yang akan kau lakukan sepulang sekolah hari ini?”

“Memangnya ada apa?”

“Mereka mengajak cewek dan cowok secara sukarela untuk berdansa di halaman sekolah nanti.”

Aah. Itu benar, setelah bersih-bersih selesai, masih ada acara itu. Aku tidak berbicara dengan siapa pun tentang hal itu, jadi aku benar-benar lupa.

Berdansa…

Jika itu dengan Hiiragi-chan ... Tidak, itu mustahil. Aku sempat memikirkannya, tapi masih ada banyak orang.

Selama musim festival sekolah, mengajak seseorang dari lawan jenis dengan kalimat, "Tolong berdansa dengan aku," sama saja dengan pengakuan. Itu sebabnya, menari dengan berani sebagai pasangan cewek dan cowok menyebabkan mereka diakui sebagai pasangan atau menjadi pasangan. Dengan kata lain, itu semakin mustahil.

“Uhhh ... aku mungkin langsung pulang begitu bersih-bersih selesai.”

“Hmm ~. Begitu, ya? Yah, kurasa tidak ada untungnya untuk terus tinggal, memang lebih baik langsung pulang.”

Fujimoto merasa puas dengan jawabanku ketika Ia menepuk pundakku.

Begitu guru wali kelas hadir, kami akan bebas melakukan apa yang kami inginkan. Mereka yang melakukan kafe atau menjaga toko membuat persiapan mereka, sementara ada juga pasangan yang berniat jalan-jalan.

Untuk hari ini, aku tidak punya shift di kafe, jadi aku punya banyak waktu luang. Persiapan buat klub sudah selesai sejak kemarin juga.

Begitu aku tiba di ruang klub tata boga, tiga orang lainnya sudah ada di sana. Untuk memenuhi waktu pembukaan di jam 11:00, aku harus mulai menyiapkan nasi.

Baik Hiiragi-chan dan Kanata sepertinya sudah selesai membuat kari kemarin dan membiarkannya beristirahat sampai hari ini. Mereka baru saja memanaskannya lagi dan melakukan pemeriksaan akhir.

“Ni-Nii-san ... hari ini, setelah kamu selesai dengan stan, apa yang kamu lakukan?”

“Apa yang aku lakukan ... Yah, aku akan berkeliling dan memakan jajanan yang aku tidak bisa makan kemarin ... Karena ada pertunjukan band atau teater di gedung gedung olahraga, mungkin aku akan melihat-lihat di sana juga.”

“Hmmm? Sana juga punya sesuatu yang ingin dia lihat, jadi kita bisa menonton bareng hanya untukmu. ”

“Apa kita tidak bisa berkeliling secara terpisah?"

“Ah, begitu ya! Baik, lihat saja sendiri sana!”

Kenapa dia malah marah-marah?

Sana mengerutkan kening saat menggerutu.

Hiiragi-chan yang melihatnya malah tertawa.

“Ii-san, apa kamu punya rencana? Festival sekolah berlangsung sampai jam 4 sore, ‘kan? ”

“... Aku tidak punya rencana apa-apa.”

“Syukurlah. Kalau begitu, kenapa kita tidak berkeliling festival bersama-sama? ”

“Se-Sensei juga ...?”

“Apa tidak baik bagiku untuk ikut?”

“Itu……tidak apa-apa…”

Sana membuat ekspresi rumit sambil mengerutkan kening.

“Fufufu. Terima kasih, Sana-chan. ”

“It-Itu bukan sesuatu ... yang anda perlu ucap terima kasih...”

Sepertinya Natsumi-chan tidak datang hari ini, jadi kami berempat dari klub tata boga akan menikmati festival bersama.

Setelah piring, sendok, dan peralatan lainnya disiapkan, yang tersisa tinggal membawanya ke ruang klub tata boga.

“Ayo bekerja keras hari ini juga! Ayooooo ♪ ”

Hiiragi-chan dengan gembira bersorak sendirian.

“““….…”””

Kami hanya menatapnya dengan wajah serius.

“Kenapa kalian tidak melakukannya !? Ayo kita bersorak bersama-sama! ”

Ekspresi kami sepertinya membuatnya merasa malu.

“Sensei, jika Anda tidak bilang dulu, kita tidak bisa mengikutinya.”

“Eh? Ah, begitu. Ma-Maaf. Aku terlalu bersemangat. Ummm, ulang sekali lagi ...”

Wajah Hiiragi-chan memerah saat dia batuk dan sekali lagi berbicara.

“Ayo bekerja keras hari ini juga!”

“““Oooo!”””

Hari kedua festival dimulai begitu saja.

 

uuuu

 

Stan takkan buka sampai jam 11:00 siang. Namun, bahkan sebelum waktu pembukaan, para anak SMA yang kelaparan sudah membentuk antrian. Karena kami bisa menyelesaikan persiapan dengan cepat, kami memutuskan untuk membuka toko, dan kari pun langsung diserbu habis. Ada pelanggan yang mampir lagi dari kemarin, orang-orang yang mendengarnya dari teman-teman, dan bahkan orang-orang yang memutuskan untuk mencobanya setelah melihat antrian yang ramai.

“Kari keluarga Sanada tidak punya kelemahan!”

“Kau berisik!”

Karinya lebih populer dari kemarin, jadi Sana jauh lebih bersemangat.

Rasanya masih sama seperti kemarin, tapi itu dijual dengan harga yang sama seperti Hiiragi-chan dan Kanata ... Seperti yang diharapkan, apa itu berkat harga dan apa yang tertulis di papan?

[Kari manis lembut oleh 1-E Sanada Sana - 500 yen]

“Kurasa itu bagus karena kau tidak perlu mengalami kondisi menyedihkan dari kemarin?”

“Itu pasti karena apa yang ditulis Nii-san kemarin.”

Aku pikir itu juga ada hubungannya dengan harga yang kau patokkan kemarin.

“Aku hanya berpikir bahwa ada orang yang tidak suka pedas tetapi masih ingin makan kari.”

“Ini kemenangan Sanada-kun karena memahami perspektif itu. Untuk orang yang tidak suka makanan pedas, kari yang belum pernah mereka makan sebelumnya mungkin membuat mereka khawatir. ”

“... Kerja bagus, Onii-chan”

Dipanggil Onii-chan oleh Kanata entah bagaimana rasanya jadi agak aneh.

Mulai dari kiri, pedas, sedang, dan ringan ... Aku pikir bisa membedakan seperti itu adalah hal yang baik.

Tanpa butuh waktu 2 jam setelah stan dibuka, kami benar-benar terjual habis. Stan kari tutup lebih cepat.

“Kemenangan telak!”

Mata Sana berbinar-binar karena bahagia.

“Lain kali, Sana akan membuatnya untukmu di rumah.”

“Baiklah, baiklah. Seberapa besar kepercayaan yang kau miliki?”

Kami memasang tulisan yang berbunyi, [Terima kasih sudah datang, tapi kami sudah habis], dan segera mulai menarik diri ke ruang tata boga.

“Bersih-bersih festival dimulai pukul 4:00 dan berakhir pada jam 5:00. Ayo cuci piring saat itu. ”

Dengan cara bicara yang mirip guru, Hiiragi-chan membuat pengumuman begitu.

Sekarang bahkan belum jam 1 siang, jadi kami punya banyak waktu luang. Sesuai rencana, kami memutuskan untuk pergi ke halaman sekolah dan mengunjungi stan-stan yang ada di sana.

“…”

Dengan ekspresi seperti hantu dan gerakan gelisah, Fujimoto melihat ke arah sini, seolah-olah Ia menginginkan beberapa teman. Karena itu, kami membiarkannya masuk ke kelompok kami.

“Chan-Sana, apa yang ingin kamu makan sekarang? Paisen-mu ini akan mentraktirmu sesuatu!” (TN : Cara bicara gaul, paisen itu kebalikan dari senpai :v)

“Umm ... tidak usah ... Aku punya uang saku, jadi tidak apa-apa ...”

Setelah berubah energik, Fujimoto gagal memancing Sana. Dia sudah waspada terhadapnya, dan akhirnya bersembunyi di belakangku seolah-olah aku adalah tamengnya.

“Nii-san, siapa orang itu?”

“Orang yang duduk di sebelahku.”

“Heeey, setidaknya panggil aku teman, teman dekat!”

“Ia tampaknya bangga seolah-olah berkata, “Kami biasanya sangat dekat, " Nii-san. Selain itu, Ia bertingkah terlalu akrab denganmu. ”

Fujimoto yang bersemangat tampaknya sangat tidak disukai oleh klub tata boga.

“Ah, Senpaaai.”

Rei-chan datang berlari sambil melambaikan tangannya melewati kerumunan.

“Aku datang!”

“Selamat datang!”

“Apa kalian mau makan siang? Bisakah aku ikut bergabung?”

“Ya. Tidak apa-apa.”

Dengan begini, bocah pelompat waktu juga ditambahkan ke dalam kelompok teman kami yang gembira.

Kami dengan bersemangat berjalan-jalan melihat-lihat stan. Kami membagi takoyaki di antara kami semua dan mengunjungi pameran yang dipajang oleh kelas-kelas di sekolah. Kemarin cukup sibuk, tapi hari ini menyenangkan.

“Senpaaaai. Aku ingin makan es serut! ”

“Bagaimana Onii-chan ini membelikannya untukmu?”

Ketika Fujimoto memaksakan diri, Rei-chan mengerutkan alisnya.

“Tidak, tapi ketika seseorang yang lebih muda dariku memberitahuku untuk memanggil mereka Onii-chan ... anak SMA kelas 2 masih terlalu bocah, itu membuatku tidak ingin ditraktir sesuatu.”

Rei-chan, perkataanmu cukup nyelekit. Jadi, sekali lagi, Fujimoto gagal memberi umpan pada seseorang.

“Sa-Sanada ... Sanada ... aku dipanggil bocah ... oleh bocah kelas empat SD ...”

“Umm, yah, Rei-chan bertingkah seolah-olah dia jauh lebih tua dari dirinya sebenarnya.”

“Bagiku, seorang cowok yang tenang dan mapan seperti Senpai adalah sempurna.”

Rei-chan memeluk pinggangku dengan sedikit erat.

“Kita berdua ini sebaya ... mengapa semua orang berpikir Sanada berbeda ...?”

“Jangan pedulikan itu, Fujimoto.”

“Umm, kau tahu—”

Sana berjalan mendekat.

“Aku sudah kepikiran dariiiiiiiiiiiii tadi, tapi berhenti menempel pada Nii-san!”

“Ngga masalah, ‘kan? Aku belum bejumpa dengannya beberapa saat. Kamu selalu bersamanya sebagai adik perempuannya. Apa kamu tidak bisa menyewakan Senpai sebentar? ”

“Gunakan bahasa yang lebih sopan terhadap seseorang yang lebih tua darimu, anak SD.”

“Jika itu masalahnya, aku akan mengembalikan kata-kata itu!”

“Berhenti memanggilnya Senpai juga!”

“Ini tidak ada hubungannya dengan bagaimana aku memanggil Senpai, ‘kan?”

Muuuuuu, kedua orang itu mulai saling melotot. Hiiragi-chan menatap mereka sambil tersenyum. Itu mengingatkanku pada ungkapan, perkelahian hanya bisa terjadi di antara orang-orang dari tingkat yang sama.

“Tingkat mental mereka benar-benar berbeda dengan kita”

Kelompok kami pergi mengunjungi gedung olahraga, di mana kami menyaksikan berbagai pertunjukan teater dan band. Selama itu, waktu pun berlalu dan dengan cepat menjadi jam 4 sore.

“Senpai, aku akan datang lagi!”

“Hati-hati saat pulang, oke?”

“Ya!”

Sambil melambaikan tangan, Rei-chan pergi dengan sepeda anak kecil.

“Bocah itu kadang-kadang datang ke rumah kami. Dia penguntit, penguntit pro.”

Ujarnya sambil mendengus, suasana hati Sana agak buruk.

Penyiar dari sekolah menyatakan bahwa festival sekolah telah berakhir, dan sekarang menjadi waktu pembersihan. Setelah itu selesai, kami kembali ke ruang kelas dan mendapat homeroom dari wali kelas.

“Sanada ... Terima kasih ... karena menganggapku sebagai salah satu kawanmu ..”

Fujimoto mengatakan sesuatu yang mungkin dikatakan oleh prajurit sebagai kata-kata terakhir mereka. Sepertinya Ia dimurnikan karena dapat berinteraksi dengan beberapa gadis hari ini.

“Gadis-gadis itu ... berharga ...”

“Fujimoto Putih ...”

Begitu penjelasan dari wali kelas berakhir, Fujimoto putih pergi untuk pulang sebelum pesta dansa dimulai.

“Sekarang, di mana Hiiragi-chan?”

Aku sudah mengiriminya SMS, tapi belum ada balasan. Mungkin karena dia biasanya meninggalkannya di meja ruang guru saat dia di sekolah. Dia cukup serius di tempat-tempat yang aneh.

Di UKS, ruang tata boga, aku perlahan berkeliling ruangan yang berbeda satu per satu. Dia tidak ada dimanapun.

Ada pesan dari Sana, tapi mungkin itu bukan masalah besar.

Ketika aku tiba di ruang materi sejarah dunia, pacarku tercinta sedang memandang ke luar jendela.

“Aku menemukanmu.”

“Kamu menemukan aku.”

Dia tersenyum manis.

Di luar agak gelap, hanya cahaya remang-remang oleh beberapa lampu yang belum dimatikan.

“Apa yang sedang kau lihat?”

“Cuma melihat para siswa yang pergi ke halaman sekolah. Aku hanya berpikir kalau mereka benar-benar menikmati masa muda mereka. ”

“Sepertinya kau sedang mempertimbangkan Sana hari ini. Terima kasih.”

Ketika aku mengucapkan itu, Hiiragi-chan memiringkan kepalanya dengan wajah heran.

“Bukannya kamu bilang sendiri kalau kita semua akan pergi bersama di waktu luang kita?”

“Aaaah. Jadi itu yang kau maksud. Aku hanya ingin lebih dekat dengannya.”

Sekarang setelah kupikir-pikir lagi, Hiiragi-chan bereaksi positif terhadap semua yang Sana ingin lakukan. Itu bahkan terjadi ketika kami berkeliling stan.

“Dan ... entah bagaimana rasanya aku jadi egois dan menjaga semua masa mudamu untuk diriku sendiri.”

“Aku tidak keberatan sama sekali.”

Bagaimanapun juga, karena ini adalah yang kedua kalinya.

“Kalau begitu sykurlah. Kadang-kadang aku berpikir bahwa jika aku anak SMA juga, maka aku tidak perlu khawatir tentang semua ini.”

Di luar, anggota komite festival menggunakan pengeras suara untuk memberikan arahan sebelum acara dansa dimulai. Dalam kualitas yang sedikit buruk, suara musik mengalir keluar dari beberapa speaker.

“Semua orang sepertinya bersenang-senang.”

“Haruka-san, maukah kau menari bersama ...? Apa kau mau menari denganku ...?”

Mengajak seseorang seperti ini, rasanya agak memalukan ...

“Eh? Disini? Bukannya ini sedikit sempit? ”

“Ti-tidak apa-apa. Bagaimanapun juga, cuma kita yang ada di sini. ”

“Ahahaha. Baik. Ayo lakukan ... Apa kamu tahu caranya?”

“Hanya sedikit.”

“Kalau begitu, aku akan menyerahkanmu untuk memimpin."

Hiiragi-chan datang ke sampingku dan memegang tanganku. Kami mengambil satu langkah.

“Seiji-kun, kamu cukup bagus.”

“Itu melegakan…”

Aku tertarik oleh perasaan lembut tangan Hiiragi-chan dan aroma rambutnya, sampai pinggulku menyentuh sudut meja.

“Aduh.”

“Itu sebabnya aku bilang di sini itu sempit ... Fu, fufu ... Ahaha ....”

“Kau tidak perlu tertawa segitunya ‘kan.”

Sambil meminta maaf, Hiiragi-chan menyeka air mata dari sudut matanya.

“Terima kasih sudah mengajakku, aku benar-benar bahagia.”

“Sama-sama.”

Dia melepaskan salah satu tanganku, dan berputar di tempat.

“Di sini, kau harus mencium pasanganmu.”

“Apa benar-benar seperti itu?”

“Kenapa kita tidak melakukan itu?"

Karena Hiiragi-chan memasukkan aturannya sendiri, kami akhirnya saling mencium hampir satu kali setiap menit.

“Fufufufu, ini aneh ... Ahahaha.”

“Jangan katakan itu karena kau sendiri yang mengubah aturannya.”

Dipengaruhi oleh Hiiragi-chan, aku juga tertawa.

Dengan begini, kedua kalinya aku mengadakan festival sekolah, sedikit sibuk, tapi ini adalah dua hari yang memuaskan.





close

1 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama