Our Dating Story Vol.2 Chapter 04 & 04.5 Bahasa Indonesia

Chapter 4

 

Sejak pagi tadi, pada hari terakhir semester pertama suasananya entah kenapa terasa agak aneh.

“Ah, lihat tuh…”

“Hee, mukanya kelihatan sangat polos, tapi lumayan lah, ya…”

Begitu aku tiba di sekolah, teman sekelas yang belum pernah aku ajak bicara sebelumnya melirik ke arahku sambil berbisik.

Apa ini tentang Shirakawa-san? Tapi, sudah cukup lama sejak kami mengumumkan hubungan kita, jadi sekarang ada masalah apa lagi?

Saat aku memasuki kelas dan hendak menuju ke tempat dudukku, Ichi yang sedang duduk di kursinya melihatku dan ekspresinya berubah.

“Kashi !!”

Ia dengan cepat berdiri dan menghampiriku, mengayunkan tubuh besarnya.

“Pagi, Ichi…”

“Apa yang sudah kamu perbuat, hah!?!”

“Eh?”

“Pokoknya, cepet ke sini!!”

Setelah membawaku keluar dari ruang kelas dan tiba di sudut koridor, aku melihat wajah temanku, bahkan tanpa memahami apapun.

“A-Ada apa, Ichi?”

“Kamu juga, ada apa denganmu !? Kashi, apa kamu selingkuh dengan Kurose-san!?! ”

“Eeh… !?”

Aku dibuat terkejut.

Tentu saja, aku tidak… berpikir untuk berselingkuh. Namun…

“Siapa yang memberitahumu?”

“Semuanya sudah tahu! Semua orang membicarakannya sejak aku datang ke sekolah. Bahkan aku diajak bicara oleh cowok-cowok riajuu dan ditanya 'apa ini asli?'

“Kenapa mereka…”

“Kamu kepikiran sesuatu di kepalamu, ‘kan?”

Ditatap oleh mata sipit Ichi, aku akhirnya tanpa sadar mengalihkan tatapanku.

“Tidak, aku tidak selingkuh, tapi…”

Memang benar kalau aku bertemu Kurose-san secara pribadi dalam jangka waktu dua hari. Jika beberapa bagiannya dipotong dan disalahpahami maka… Tapi, emangnya ada bukti tidak langsung yang membuat mereka menyimpulkan "Ia selingkuh"?

Mungkin…

“Ah, Hei! Tunggu, Kashi! ”

Tanpa mengindahkan suara Ichi yang memanggilku, aku kembali ke ruang kelas.

“Hei, apa kamu ngwee dengannya !? Apa kamu juga ngwee dengan gadis cantik sepertinya saat kamu memiliki seseorang seperti Shirakawa-san!?!? Sial!! Dasar bajingan-suram-palsu !!! ”

Saat aku memasuki ruang kelas sementara Ichi yang kesal menginjak-nginjak lantai dan bergema dari koridor, tatapan teman sekelasku dengan cepat terfokus padaku lalu menghilang.

Shirakawa-san masih belum bisa ditemukan di ruang kelas.

Aku menuju ke tempat dudukku dan meletakkan tasku di sana.

“Kurose-san, apa kamu punya waktu sebentar?”

Aku memanggilnya yang beada di kursi di sebelahku.

Bahu Kurose-san tersentak dan menengok ke arahku. Keadaannya tampak siap untuk diajak bicara .

“…Tentu”

Wajahnya ketika dia menjawabku tampak sangat sedih.

Kami pergi ke ruang kelas kosong terdekat.

Begitu aku menutup pintu, Kurose-san membuka mulutnya.

“Itu bukan aku”

Kurose-san masih memasang wajah depresi. Aku bisa melihat area di sekitar matanya tampak agak bengkak, seolah-olah dia baru saja menangis kemarin hingga larut malam.

“Tapi kenapa…”

“Ini hanya hal kedua, balas dendamku pada Runa. Aku hanya .. ingin dicintai oleh Kashima-kun… ”

Seolah-olah meratapi, Kurose-san mengucapkan kata-kata tersebut.

“Meski harapanku tidak menjadi kenyataan, aku takkan melakukan hal yang tak berguna… seperti menyebarkan rumor. Bahkan aku punya harga diriku sendiri.”

Dilihat dari keadaannya, kurasa dia tidak berbohong.

“… Begitu, maafkan aku karena sudah mencurigaimu.”

Saat aku meminta maaf, Kurose-san membuat senyum tak berdaya.

“Aku juga, maafkan aku karena telah mendorongmu. Dan aku juga akan memblokir LINE-mu, oke”

"…Ya…"

Pada akhirnya, aku merasa tidak ada pilihan selain menjadi seperti ini.

“Baiklah ... ayo pergi”

Saat itulah, ketika aku hendak meletakkan tanganku di pintu untuk kembali ke kelas.

“Hei, Kashima-kun”

Aku dipanggil untuk berhenti. Ketika aku melihat ke belakang, aku menemukan Kurose-san sedang tersenyum padaku. Ini berbeda dari beberapa saat yang lalu. Wajahnya itu, meski tampak putus asa, ada sedikit semburat kegembiraan.

“Dulu, jika aku membalas OK saat Kashima-kun menembakku ... Saat ini, aku ingin tahu apakah orang yang berdiri di samping Kashima-kun adalah aku, dan bukan Luna”

Kurose-san…

Saat aku tetap diam tanpa menjawab sama sekali, sekali lagi, senyum Kurose-san berubah menjadi gelap.

“…Cuma bercanda. Percuma saja memikirkan hal itu, iya kan”

Lalu…

“Ayo kembali ke kelas”

“Ya”

Aku membalas begitu dan kali ini, aku membuka pintu.

Saat itulah sesuatu terjadi.

“Kyaaa !!”

Seseorang di depanku berteriak, dan pang !, ada sesuatu yang jatuh mengenai kakiku.

Ternyata itu adalah smartphone bercasing yang aku kenal dengan baik, jadi aku segera melihat ke atas untuk melihat pemiliknya.

Orang yang ada di sana adalah Shirakawa-san.

Dan di belakangnya, aku juga melihat Yamana-san berdiri dengan ekspresi yang terlihat seperti topeng hannya.

“Ryuuto…”

Dengan ekspresi tidak percaya, Shirakawa-san sedikit menggelengkan kepalanya.

“Dulu… gadis yang Ryuuto tembak dan ditolak adalah… Maria?”

Ah.

Aku ditanya.

Tentang hal yang belum kuberitahukan pada Shirakawa-san…

“Kenapa… kenapa kamu tidak memberitahuku…?”

“Maaf, tadi itu ...”

“Kenapa kamu meminta maaf segala?”

Dengan ekspresi tersakiti, suara Shirakawa-san gemetar.

“Apa kamu .. melakukan sesuatu yang perlu membuatmu meminta maaf…?”

“Tidak, yang ini berbeda, itu…”

“Aku tidak ingin mendengarnya !!”

Mendengar teriakan Shirakawa-san untuk pertama kalinya, tubuhku membeku dan tidak bisa bergerak.

Shirakawa-san menatapku dengan tatapan seakan telah dikhianati, dan kilatan mulai muncul dari mata itu.

“Mengapa? Ryuuto… Aku benci ini, aku tidak bisa… menerimanya ”

Setelah mengatakan itu, Shirakawa-san berbalik.

“Shirakawa-san !!”

Tanpa menanggapi suaraku, dia berlari menyusuri koridor.

Aku harus mengejarnya!

Namun, sebelum melakukannya, aku mencoba mengambil smartphone Shirakawa-san yang terjatuh di depanku. Dan saat aku hendak mengambilnya, tanganku yang terulur berhenti karena terkejut.

Ada fotoku dan Kurose-san sedang berpelukan ditampilkan di layar yang retak seperti jaring laba-laba. Aku pikir layarnya mungkin retak karena benturan saat terjatuh.

“….”

Ini foto kemarin di taman. Sudut foto ini sepertinya diambil secara diagonal dari belakangku. Jika seperti ini, kamu bahkan tidak akan tahu bahwa Kurose-san menangis, atau bahwa tanganku tidak merangkul tubuhnya.

Saat kembali tersadar, aku mencoba mengambil smartphone lagi. Namun, itu diambil sebelum aku seolah-olah smartphone itu direnggut tepat di depan mataku.

Orang yang mengambilnya adalah Yamana-san. Yamana-san memelototiku dengan ekspresi marah, memindahkan telepon ke tangan kirinya, dan melakukan ayunan besar dengan tangan kanannya.

“COWOK BRENGSEKKK!!!!”

Bersamaan dengan suara plakk, rasa sakit yang pedih menjalar di pipiku.

Wajahku menoleh ke samping secara spontan dan aku mengerti bahwa aku telah ditampar.

“… .Dasar cowok keparat…”

Yamana-san menatapku sekilas, lalu berlari mengejar Shirakawa-san.

“…Apa kamu baik-baik saja? Kashima-kun? ”

Aku menoleh ke belakang saat namaku dipanggil dan melihat Kurose-san memandangku dengan tatapan khawatir.

“Ya…”

“Kalau begitu aku akan pergi. Kamu tidak ingin ada lagi kesalahpahaman, bukan?”

Kurose-san kemudian menyelinap melewati sisiku dan meninggalkan ruang kelas kosong.

Setelah ditinggal sendirian, aku segera berlari menyusuri koridor. Bahkan jika aku mengejarnya, aku bahkan tidak dapat menemukan sosok Shirakawa-san di manapun.

Untuk saat ini, aku kembali ke ruang kelas untuk memeriksa, tetapi baik Shirakawa-san maupun Yamana-san, mereka tidak ada di sana.

Karena merasakan kesemutan di pipiku, aku menyentuhnya, lalu melihat lapisan tipis darah di ujung jariku. Itu pasti tergores oleh kuku panjang Yamana-san.

Mengapa malah jadi seperti ini… Di mana salahnya, dan apa yang seharusnya aku lakukan?

Selama upacara akhir semester, cuma itu satu-satunya hal yang terus aku pikirkan.

Dari percakapan antara teman sekelasku, aku telah mengkonfirmasi bahwa foto yang ditampilkan di smartphone Shirakawa-san diambil oleh seseorang dari kelas lain di angkatan yang sama. Tampaknya siswa itu berasal dari sekolah SMP yang berbeda di K-City, dan kemarin, ketika siswa itu berada di taman lokal dengan teman-teman dari SMP yang sama, siswa itu melihatku dan Kurose-san dari kejauhan dan mengambil foto kami. Rupanya, sejak murid itu mengetahui hubunganku dengan Shirakawa-san, menganggapnya sebagai bahan gosip, murid itu segera mengirimkannya ke teman-temannya dan alhasil, berita tersebut menyebar ke seluruh kelas dalam sekejap.

Dan ada pengaruh dari foto itu. Bahkan tanpa mengetahui hubungan seperti apa yang aku miliki dengan Kurose-san atau percakapan seperti apa yang kami lakukan yang mengarah ke situasi itu, aku bisa membayangkan bahwa orang lain akan berpikir kalau aku sedang berselingkuh jika cuma melihat foto itu.

Shirakawa-san pasti merasa tersakiti. Ketika pemikiran tersebut muncul di benakku, aku merasa bersalah.

Aku harus segera menjelaskannya, dan meluruskan kesalahpahaman ini.

Walau  begitu, ada benarnya juga aku tidak memberitahunya bahwa orang yang aku sukai saat SMP dulu adalah Kurose-san. Aku tidak bermaksud merahasiakannya, tapi itu tidak mengubah fakta bahwa aku tidak memberitahunya.

Ya, itu benar… Aku seharusnya memberitahunya hal itu. Pada hari ketika Kurose-san dipindahkan ke sekolah kami.

Tapi, kami akhirnya duduk bersebelahan secara kebetulan, dan aku memiliki banyak kesempatan untuk berbicara dengannya, juga, karena tugas kelas dan yang lainnya ... Jadi aku secara tidak sadar berpikir untuk tidak ingin membuat Shirakawa-san khawatir, dan pasa akhirnya tidak memberitahunya. Jika dipikir-pikir lagi, itulah yang menyebabkan situasi ini.

Jika ini hanya foto, Shirakawa-san mungkin masih mendengarkanku. Tapi, karena aku menyembunyikan masa laluku dengan Kurose-san… Dia pasti berpikir bahwa mungkin ada lebih banyak rahasia lagi yang kusembunyikan.

Termasuk bertemu dengan Kurose-san di tempat umum, semua tindakanku sendiri yang aku pertimbangkan untuk Shirakawa-san, semuanya berakhir menjadi bumerang.

Aku ingin berbicara dengannya secepat mungkin. Meski aku tidak berselingkuh atau sejenisnya, aku ingin meminta maaf padanya karena tidak memberitahu tentang Kurose-san.

Terlepas dari perasaanku, Shirakawa-san masih belum kembali.

Akhirnya, upacara akhir semester berakhir. Dan bahkan setelah pulang sekolah, Shirakawa-san tidak kembali.

 

◇◇◇◇

 

Liburan musim panas kelabu telah dimulai.

Keesokan harinya, aku menghadiri kursus singkat musim panas di tempat les. Tempat ini adalah tempat les yang ingin aku ikuti saat aku menjadi murid kelas 3 SMA, dan karena aku juga ingin melakukan uji coba, aku meminta orang tuaku untuk mengizinkanku menghadiri kursus mata pelajaran utama selama dua minggu.

Aku sudah mendaftarnya saat bulan Mei lalu, dan bukan berarti aku menyangka hal seperti itu akan terjadi dengan Shirakawa-san ... Pertama-tama, ini adalah rencana yang diputuskan pada saat aku bahkan tidak bisa membayangkan kalau aku akan berpacaran dengan seorang gadis, jadi aku tidak punya pilihan selain menghadirinya.

Namun, sayangnya, konten berharga dari pelajaran itu, bahkan tidak setengahnya memasuki kepalaku. Untuk saat ini, aku hanya akan menyalin apa yang tertulis di papan tulis ke buku catatanku sambil memikirkan Shirakawa-san.

Kemarin, Shirakawa-san menghilang entah kemana bersama Yamana-san sambil meninggalkan tasnya di kelas, dan mereka pasti bersama-sama. Karena aku ingin berbicara dengannya, aku menunggu di kelas untuk beberapa saat bahkan setelah semua orang pergi, tapi karena tidak ada tanda-tanda dia akan kembali, aku meninggalkan sekolah untuk mencari Shirakawa-san.

Dan setelah itu, aku menunggu di sekitar rumah Shirakawa-san sampai dia pulang. Mengingat jika aku menunggu di tempat yang sama akan membuat tetangganya curiga, aku menunggu sampai hari gelap sambil mondar-mandir di jalan, atau mengitari lingkungan rumah. Sekitar jam 8 malam, aku melihat seorang pria berusia empat puluhan dengan wajah tampan memasuki rumah Shirakawa-san. Dia mungkin ayah Shirakawa-san, dan aku merasa matanya mirip mata Kurose-san. Dan bahkan setelah jam 9 malam, Shirakawa-san tidak kembali, jadi aku menyerah dan pulang ke rumah. Kupikir aku mungkin akan melewatkan kepulangannya, tapi jendela kamar Shirakawa-san di lantai dua tetap gelap sampai akhir.

Bahkan di LINE, tidak peduli seberapa banyak pesan yang aku kirim, dia sama sekali tidak membacanya. Dan ketika aku mencoba meneleponnya, cuma nada dering saja yang bisa aku dengar.

Untuk berjaga-jaga, aku juga mencoba mengirim pesan ke Yamana-san, tapi dia tidak pernah membacanya juga.

Ini adalah pertama kalinya kami tidak berhubungan selama ini sejak kami mulai berpacaran. Aku bahkan mulai mengkhawatirkan keadaannya, tapi karena Yamana-san bersamanya, dia seharusnya tidak berada dalam bahaya apa pun.

Untuk kursus singkat, ada kelas tiga jam di pagi hari, dan satu jam lagi di sore hari. Dan ini akan berlangsung tanpa henti selama dua minggu.

Setelah pelajaran selesai, aku mengerjakan PR-ku di ruang belajar. Dan saat aku meninggalkan tempat, di luar sudah gelap. Di tengah perjalanan pulang menggunakan kereta, aku turun di Stasiun A, dan pergi ke rumah Shirakawa-san. Setelah memastikan bahwa tidak ada cahaya yang datang dari kamar Shirakawa-san, aku kembali ke stasiun dengan bahu terkulai.

Aku terus hidup seperti ini setiap hari selama lebih dari sepuluh hari.

Dan kemudian, pada sore hari pada hari terakhir kursus singkat musim panas.

Saat itulah aku mulai lelah, sambil perlahan-lahan menyeruput kopi kaleng di atas meja untuk melawan rasa kantuk setelah makan siang, dan menyalin apa yang ada di papan tulis ke catatanku di auto-pilot.

Ponsel yang bergetar di dalam kantong sedikit mengejutkanku. Aku sudah seperti ini selama dua minggu terakhir. Yah, seringkali itu cuma pemberitahuan dari aplikasi, sih…

Sambil memikirkan apa aku masih memiliki aplikasi, yang notifikasi aplikasinya belum aku matikan, aku mengeluarkan ponselku. Dan kemudian, mataku terbuka lebar karena terkejut.

Apa yang ditampilkan adalah pesan LINE dari Ichi.

________________________________________

Ijichi Yuusuke : Hei, pacarmu selingkuh!

Kamu telah menerima gambar

________________________________________

“…. !!!”

Apa maksudnya ini?

Sepertinya aku telah menerima gambar, jadi aku membuka kunci ponselku dan membuka aplikasi LINE. Lalu, hal yang aku lihat di gambar itu ialah...

Tanpa diragukan lagi kalau dia adalah Shirakawa-san.

Shirakawa-san memakai baju renang. Dia tersenyum bahagia, dan meraih lengan orang di sebelahnya. Orang itu ...

Orang yang di sebelahnya adalah pria tampan dengan kulit seperti gandum segar. Dan pria dewasa jangkung yang mengenakan kemeja bermotif daun yang cocok untuknya, Ia memandang Shirakawa-san dan tersenyum penuh ceria.

“Mana mungkin…”

Aku tanpa sadar bergumam, dan murid yang duduk di sebelahku menatapku sekilas.

________________________________________

Ryuuto : Kapan foto ini diambil?

Ijichi Yuusuke : Sekarang! Baru saja diambil!

Ryuuto : Ini di mana?

Ijichi Yuusuke : Chiba! Di sebuah pantai daerah Sotobou

________________________________________

“Chiba…?”

Kenapa dia disana?

Apa yang Shirakawa-san lakukan dengan pria itu?

Ada segudang pertanyaan yang ingin kutanyakan, tapi aku sangat kebingungab sampai-sampai tidak tahu harus mulai dari mana.

Sementara itu, jam les terus berlanjut.

Waktu menunjukkan pukul setengah dua, dan waktu yang tersisa masih ada dua jam lagi. Namun, sekarang bukan waktunya untuk itu.

Aku meneguk kopi kaleng sampai habis, mengumpulkan barang-barangku dan memasukkannya ke dalam tasku, lalu kemudian berdiri.

Pengajar les yang ada di peron melirikku saat aku meninggalkan kelas, tetapi Ia tidak mengatakan apa-apa. Mungkin karena ini adalah ruang kelas yang besar dengan kapasitas lebih dari seratus orang.

Ketika aku meninggalkan gedung les, aku segera menelepon Ichi.

“Halo? Ichi? ”

Kashi? Lah, bukannya kamu sedang ada les? ”

“Apa kamu berbicara dengan Shirakawa-san?”

“Ti-Tidak. Kita baru saja melihat mereka, dan dia tidak tahu kalau kami ada di sini.”

“Kami?”

Saat aku bertanya.

“Aku juga hadirrrr !!”

Aku mendengar suara Nishi dari sisi lain telepon.

“Kalian, apa yang kalian lakukan di tempat seperti itu?”

“Bukannya itu sudah jelas, kita akan berenang di laut lah, terus ngapain lagi?”

“Tempat-tempat seperti Shounan menakutkan jadi kami datang ke Bousou!”  Suara Nishi menimpali

“Jika itu Chiba, aku merasa kita bahkan akan diterima !!”

“Jadi, Shirakawa-san ada di mana?”

Bagaimanapun, aku tidak bisa berhenti memikirkannya.

“Ya, dia masih di sini. Lagi mesra-mesraan dengan pria tampan di warung pantai”

“…”

“… Apa mungkin .. kalian berdua sudah putus?”

“Eh…”

Mendengar suara Ichi yang sedikit takut bertanya, dadaku terasa sakit.

“… Tidak, kita tidak akan putus,”

Setidaknya, aku tidak punya niatan untuk itu.

Tapi.

Tapi, jika hal seperti itu terjadi dan aku bahkan belum bisa menghubunginya dalam dua minggu… Mungkin, Shirakawa-san lah yang ingin…

Ketika pemikiran seperti itu muncul di benakku, aku tidak dapat menahan diri.

“Aku akan ke sana sekarang, jadi beritahu aku nama tempatnya”

“Eeh !? kamu serius, Kashi !? Bagaimana dengan lesmu !? ”

Meski diperingati begitu oleh Ichi, aku tidak bisa menghentikan kakiku untuk pergi ke stasiun.

 

◇◇◇◇

 

Dua jam kemudian, aku tiba di stasiun yang diceritakan Ichi. Aku baru saja ke Area Teluk Chiba, jadi aku terkejut karena suasananya lebih asri dari yang kukira.

Saat aku menuju ke pantai, aku mendapat pesan dari grup LINE.

________________________________________

Anak-anak Tim KEN (3)

Ijichi Yuusuke : Maaf, sengatan matahari terlalu menyakitkan jadi aku pulang duluan…Bahkan kulitku terasa perih

Nishina Ren : Aku juga sama … Shirakawa-san berada di warung pantai bernama "LUNA MARINE", kay

________________________________________

“Luna, Marine…?”

Aku merasakan sesuatu yang fatalistik, dan memiliki firasat buruk tentang ini.

Tidak lama setelah berjalan dari stasiun, aku melihat area pantai yang mereka ceritakan. Sekarang sudah hampir jam 4 sore, jadi orang-orang yang sedang dalam perjalanan kembali dari pantai berpasir sudah terlihat. Mungkin karena itulah, tidak ada banyak keramaian jika dibandingkan dengan Enoshima.

Pantai berpasir sangat luas nan membentang jauh, serta pantai yang memberikan rasa kebebasan. Aku merasa seperti sedang salah tempat karena memakai celana panjang dan sepatu kets-ku, yang disebut busana kota lengkap. Dan tasku dengan buku les yang berat.

Aku berjalan santai menyusuri sepanjang pantai berpasir mencoba untuk tidak membiarkan pasir memasuki sepatuku sambil melihat beberapa warung pantai yang berjejer di sepanjang pinggir jalan.

“LUNA MARINE” adalah warung pantai terakhir yang terletak di ujung pantai berpasir.

Saat itulah, ketika aku berdiri diam di antara warung pantai yang di sebelahnya, dan tidak dapat mengumpulkan keberanian untuk segera mendekatinya.

Aku melihat seseorang keluar dari pintu belakang, dan mataku terbelalak karena terkejut.

“Hei, apa aku boleh bermain di laut sebentar?”

Tangan dan kaki ramping, rambut berwarna terang yang diikat, bikini familiar yang menghiasi belahan dada yang montok… dan suara ceria itu…

Tidak salah lagi, itu adalah Shirakawa-san.

Dalam dua minggu terakhir, aku ingin bertemu dan berbicara dengannya.

Karena tidak bisa menghubunginya, aku bahkan mengkhawatirkan kesehatannya.

Dan dia .. tepat berada di depanku.

“Shirakawa-sa…”

Ketika aku secara tidak sadar mencoba mendekatinya, pintu belakang terbuka lagi.

“Tentu ~, Luna”

Orang yang keluar adalah pria tampan di foto yang diambil Ichi.

Meski Ia terlihat muda, wajahnya tidak menunjukkan sifat kekanak-kanakan dan dia mungkin berusia tiga puluhan. Rambutnya yang diwarnai terang dengan gaya rambut poni yang dikeriting memberikan kesan mencolok. Badannya tinggi, dan aku iri pada lengan dan kakinya yang berotot itu, yang mana menunjukkan fisiknya yang kurus tapi berotot bahkan ketika dia mengenakan pakaian.

Dari bagian atas sampai ke bawah, segala sesuatu tentang dirinya sangat berbeda dariku.

Saat melihat pria itu, mata Shirakawa-san berbinar.

“Apa Mao-kun juga mau ikutan?”

Ujarnya demikian sembari meraih lengan pria itu.

“Ayo, Ayo pergi!”

“Tidak, aku tidak bisa. Sekarang masih jam kerja”

“Eeh, enggak masalah ‘kan! Lagian enggak ada pengunjung, tahu? ”

Melihat Shirakawa-san meraih lengan pria itu dan membuat suara manja, beban seperti batu menumpuk di hatiku.

“Enggak masalah ‘kan! Ayolah!”

“Sekali enggak tetap enggak~, Sana, bermain dengan Nikoru-chan dulu ”

Apa yang Ia katakan ?, dan kemudian ada sosok lain datang dari pantai berpasir.

“Kalau begitu ayo pergi, Luna! Dan jangan terlalu merepotkan Mao-kun "

Yang membuatku terkejut, Yamana-san bilang begitu sambil tersenyum. Dia mengenakan bikini tipe tube hitam yang cocok dengan tubuh langsing dan kulit cokelatnya.

“Aku sudah memikirkan ini beberapa lama, tapi kamu, kamu benar-benar menyukai Mao-kun”

Bahkan setelah diberitahu dengan putus asa, Shirakawa-san tersenyum bahagia.

“Maksudku, kita hanya bertemu sesekali. Mao-kun, juga, kamu selalu pergi ke suatu tempat dengan cepat”

Shirakawa-san, yang mengerutkan bibirnya saat mengatakan ini, terlihat seperti gadis cantik yang sedang jatuh cinta tidak peduli bagaimana aku melihatnya.

“Di suatu tempat… mau bagaimana lagi, aku punya pekerjaan.”

Pria bernama “Mao-kun” cuma bisa tersenyum masam kepada mereka berdua.

Jika orang luar melihat ini, pemandangan ini cuma pemandangan yang menyenangkan dari seorang pria dan wanita di pantai, tetapi bagiku, seluruh pemandangan tampak seperti aku berada dalam mimpi buruk.

Dan sekarang, demi bisa memahami situasi yang telah aku lihat dan dengar.

Sudah sedari dulu, Shirakawa-san memiliki pacar asli. Dan dia adalah "Mao-kun". Namun, karena mereka tidak dapat sering bertemu karena pekerjaannya, Shirakawa-san mencari pacar lain… dan mulai berpacaran denganku. Aku tidak bisa memikirkan kemungkinan lain selain ini.

Dan kemudian, Yamana-san juga mengetahui hal ini.

Tapi…

──Apa kamu bisa berjanji padaku bahwa kamu takkan melakukan apa pun yang akan membuat Luna khawatir?

Dia sampai mengatakan hal seperti itu padaku…

Dia juga terlibat di dalamnya. Dia tahu segalanya. Dia hanya mengolok-olokku.

Ini sudah keterlaluan…

Apa .. orang suram sepertiku tidak memiliki kemampuan untuk berpacaran dengan Shirakawa-san…?

Jadi pria yang disukai Shirakawa-san adalah .. orang dewasa yang tampan, ya…

Sampai sekarang, setiap kali aku hampir membayangkan tentang mantan pacar Shirakawa-san, aku harus mengeluarkannya dari kepalaku untuk menghindari terlalu memikirkannya. Namun, jika adegan kejam tersebut terjadi tepat di depan mataku, aku tidak punya pilihan selain menerimanya sebagai kenyataan.

Aku benar-benar .. terlalu ngelunjak. Aku tidak mempercayai itu .. Kupikir pria sepertiku bisa menjadi pacar sejati dengan gadis seperti Shirakawa-san.

Tapi aku .. sangat mencintai Shirakawa-san .. Aku masih mencintainya, bahkan sampai sekarang.

Saat ini, dia sedang bermesraan dengan pria lain tepat di hadapan mataku.

Menerima kenyataan ini sangat menyakitkan. Rasanya menyakitkan seakan-akan hatiku tersayat-sayat.

Matahari pertengahan musim panas menyengat tanpa ampun, kepalaku mulai pening, dan aku bahkan merasa mual.

──Aku .. menyukai bagian itu tentang Ryuuto.

Apa perkataan dan senyuman itu, semuanya adalah bohong?

Semuanya yang dia lakukan bersamaku .. semua itu cuma bermain-main, ya ...

Dan kemudian, saat aku sedang linglung karena terlalu banyak menerima keterkejutan dan putus asa.

“Kubilang aku tidak bisa ~! Dan lihat, kita mendapat pengunjung”

Usai ,engatakan itu pada Shirakawa-san, "Mao-kun" tiba-tiba menatapku.

“Selamat datang! Apa kamu akan memasuki laut sekarang? ”

“….!?”

Ketika aku dipanggil dengan suara ramah, aku tertegun.

Bersamaan dengan itu, Shirakawa-san dan Yamana-san juga menoleh ke arahku…

“Eeeh !?”

“Huuh !?”

Mereka berdua sangat terkejut, seolah-olah melihat sesuatu yang tidak dapat dipercaya.

“Ryuuto… !?”

Melihat keadaan kami bertiga, wajah bingung "Mao-kun" akhirnya berubah menjadi orang yang penuh pengertian.

“Aah… Apa mungkin, Ia pacar yang Luna bicarakan?”

Mungkin karena ketenangannya sebagai pacar asli, pria itu bahkan tersenyum saat berbicara, da aku memelototinya dalam diam.

“….”

Sungguh pria yang tak kenal takut ... Ia berbeda dariku, dan aku tak percaya kalau Ia bisa terus berkencan dengan Shirakawa-san dengan tenang sambil mengetahui keberadaan pria lain.

“Umu, begitu rupanya ~!”

Selain itu, wajahnya sampai tersenyum berseri-seri.

“Dengan kereta? Pasti jauh sekali, bukan? Panasnya juga sangat menyengat ~ ”

Dia bahkan punya nyali untuk berbasa-basi.

Jangan bilang, bagi orang ini, berpacaran dengan Shirakawa-san cuma untuk bermain-main?

Tak disangka, meski menjadi pacar aslinya, tapi Ia cuma menganggapnya sampai segitu saja ... Tidak bisa dimaafkan.

Apa yang Shirakawa-san sukai tentang pria sembrono ini?

Ya, mungkin tidak ada yang perlu dikritik tentang penampilannya, dan Ia mungkin seorang dewasa, mampu secara finansial dan toleran.

…Tidak seperti aku…

Sialan.

Aku tidak bisa menemukan apapun yang akan membantuku menang tidak peduli seberapa banyak aku memikirkannya, dan semakin aku melihat pria di depanku, aku jadi semakin minder.

Itu sudah tidak berguna.

Kalau terus begini, tidak ada pilihan selain mundur dan berpuas diri sebagai orang kedua, ya ...

Dan jika aku tidak menginginkan itu, aku harus putus dengan Shirakawa-san, ya…

Jadi .. cuma ada dua pilihan yang tersisa.

Dan saat aku merasa ingin menangis memikirkan hal itu….

“Karena kita baru saja bertemu, kurasa kita harus memperkenalkan diri”

Pria itu mendekatiku, dan mengeluarkan apa yang tampak seperti kotak kartu dari sakunya.

“Apa kamu baik-baik saja dengan kartu nama? Senang bertemu denganmu ~ ”


Aku melihat kartu nama yang diberikan, dan mataku membelalak.

Penulis Lepas

Kurose Mao

Kurose !?

Aku mendongak dengan heran, dan pria itu menyatakan dengan senyum kemilau.

“Halo! Aku paman Luna! Dan sepertinya kamu menjaga keponakanku dengan baik ~! ”

Paman…!?

Bukannya Anda ...

… .terlalu… mencolok sebagai paman…?

Tapi, berdasarkan apa yang aku lihat di kartu namanya, kurasa itu benar.

Menebak dari nama dan usianya, kukira dia adalah adik dari ibu Shirakawa-san.

Paman ini… tidak mirip seperti pamanku yang mabuk di Hari Tahun Baru mengayunkan perut buncit mereka sambil melontarkan lelucon kotor.

“Tunggu sebentar”

Saat aku tercengang oleh perkembangan yang tak terduga, Yamana-san memelototiku dengan ekspresi haus darah di wajahnya.

“Aku tidak tahu dari mana kamu mendengarnya, tapi menurutmu kamu ini siapa sampai datang jauh-jauh ke sini, hah?”

“Kumohon hentikan, Nikoru. Ini mungkin berbeda”

Shirakawa-san mencoba menghentikannya, tapi ditepis oleh Yamana-san.

“Berbeda? Apanya yang beda? Jelas-jelas Ia bersalah tidak peduli bagaimana kamu melihatnya!”

“Jika itu orang lain, mungkin memang begitu ... Tapi jika itu Ryuuto, itu mungkin benar-benar berbeda.”

Bergumam seolah ingin menerima semuanya, Shirakawa-san menatapku… dan mengalihkan pandangannya lagi.

“Sejak itu aku sangat mengkhawatirkan hal itu… Dan akhirnya, aku jadi berpikir begitu”

Shirakawa-san…

Melihat kami seperti ini, Mao-san dengan riang mulai berbicara.

“Sudah, sudah, aku yakin pacar-kun merasa capek setelah jauh-jauh datang kemari dalam cuaca panas begini, kan? Kamu harus minum cola sendiri dan istirahat sekarang ~! ”

“Ah… Aku Kashima”

Karena lupa menyebutkan namaku, aku buru-buru memberitahunya namaku, dan Mao-san menjawab dengan senyum ramah.

“Oke! Jadi kamu Kashima Ryuuto-kun ”

Senyumannya itu sangat mirip dengan Shirakawa-san.

 

◇◇◇◇

 

Aku dibawa ke warung pantai Mao-san, dan ke meja tempat duduk yang tampak seperti area tempat duduk kecil yang menghadap ke laut. Aku duduk di meja menghadap Shirakawa-san. Di atas meja ada dua botol cola gratis dari Mao-san.

Adapun Yamana-san, dia bilang ada pekerjaan sambilan mulai pukul enam, dan baru pergi beberapa saat yang lalu.

“... Maaf aku tidak memberitahumu bahwa orang yang menolakku ketika aku masih SMP adalah Kurose-san.”

Saat aku mulai memecahkan suasana buntu, Shirakawa-san mengangguk kecil.

“Ada juga fakta bahwa aku tidak mengetahui hubungan antara Shirakawa-san dan Kurose-san, dan meski semuanya sudah berakhir, hal itu mungkin membuatmu khawatir. Jadi pada awalnya, kupikir mungkin tidak perlu memberitahumu, segala… dan kemudian aku dibelritahu kalau kalian berdua adalah kembar. Dan aku kehilangan waktu untuk memberitahumu.”

Shirakawa-san mengangguk lagi. Merasa seakan mendapat pengampunan, aku terus melanjutkan.

“Pada hari aku dan Shirakawa-san kembali dari laut… Aku ditembak oleh Kurose-san”

Shirakawa-san, yang sedari tadi mengarahkan pandangannya ke bawah, menatapku dengan heran.

“Apa kamu .. dekat dengan Maria?”

“Tidak juga”

Aku menggelengkan kepala.

“Tapi aku ditanya tentang LINE-ku, tapi kami tidak banyak bicara. Sepertinya, saat aku mendengarkan ceritanya mengenai alasannya menyebarkan rumor jelek  Shirakawa-san… Aku begitu baik padanya, dia kemudian jadi menyukaiku. ”

Membicarakan hal ini terasa canggung, jadi aku akan membuatnya singkat.

“Aku mencoba menolaknya melalui telepon, tapi dia mengatakan padaku bahwa dia tidak bisa menyerah jika aku mengatakannya melalui telepon, jadi kami memutuskan untuk bertemu di taman… Saat kami bertemu, Kurose-san akhirnya menangis. … 'Biarkan aku tetap seperti ini sebentar', katanya. Dan aku pikir foto itu dari waktu itu”

Supaya kebenaran ini tidak terdengar seperti alasan, aku menyampaikan fakta-fakta dalam bentuk ringkasan saja.

“Tapi Shirakawa-san, yang tidak mengetahui hal itu, terkejut… dan terluka. Aku benar-benar minta maaf.”

Shirakawa-san segera menggelengkan kepalanya.

“Aku juga, maafkan aku. ... dan Ryuuto, tidak salah juga.”

Dia menunjukkan sedikit senyuman padaku saat membalas demikian.

“Maria juga tidak salah ... yang salah adalah waktunya, bukan.”

“Mungkin begitu, tapi… kenyataan kalau Shirakawa-san terluka masih tidak berubah. Aku selalu menyesali bahwa jika aku benar-benar memikirkan Shirakawa-san, aku seharusnya tidak pergi menemuinya, tidak peduli apa yang dikatakan Kurose-san.”

Ketika pagi tiba, saat di kelas selama kursus singkat musim panas, di kereta dalam perjalanan pulang, sebelum tidur di malam hari… selama dua minggu terakhir, aku tidak tahu berapa kali aku berpikir untuk kembali ke masa lalu .

“Tidak, Ryuuto tidak melakukan kesalahan apapun”

Shirakawa-san berbicara dengan lembut.

“Karena Ryuuto bersikap baik hati, aku merasa itulah yang akan kamu lakukan. Sebagai kakak perempuannya, aku merasa senang ... bahwa Ryuuto sama baiknya kepada Maria seperti kamu baik kepadaku”

Dan kemudian, dia menatapku dan tersenyum.

“Terima kasih, Ryuuto”

“Shirakawa-san…”

Beban yang memberatkan hatiku seakan terangkat, dan berubah menjadi perasaan hangat.

Tapi…

“Ta-Tapi, bukannya Shirakawa-san marah padaku? Dan karena itu, kamu mengabaikan pesan LINE-ku… ”

“Ah, yang itu berbeda, maafkan aku!”

Dengan ekspresi baru kepikiran, Shirakawa-san buru-buru berbicara.

“Saat itu di koridor, aku menjatuhkan ponselku… dan layarnya retak, dan sepertinya hal itu membuatnya rusak. Saat aku membawanya ke toko untuk diperbaiki, aku diberitahu kalau retak separah ini, maka bagian dalamnya mungkin juga rusak, jadi lebih baik ganti keseluruhan unit saja. Tapi, itu butuh banyak uang, ‘kan? Sudah sekitar satu tahun sejak aku membelinya juga. Dan aku harus mendiskusikannya dengan ayah untuk hal semacam itu. Aku tidak bisa langsung mengambil keputusan, dan ketika aku datang ke sini, tidak ada toko sama sekali di sekitar sini, jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi ”

“…Ah…”

Ponselnya, ya. Aku tidak memikirkan kemungkinan itu. Maksudku…

“Ngomong-ngomong tentang LINE, kenapa kamu tidak membukanya lewat komputer?”

“Eh? Memangnya aku bisa masuk dengan akun yang sama di ponselku? ”

“Ya, mungkin…”

“Begitu ya”

Mengatakannya seolah-olah terkesan, Shirakawa-san mengarahkan wajahnya ke arah laut.

Matahari sudah terbenam di sisi gunung, jadi pemandangan lautnya agak gelap dan mulai terasa seperti sore hari. Aku dengan penuh perhatian melihat sisi Shirakawa-san, sambil melihat bayangan dari kejauhan peselancar yang mengendarai ombak lalu menghilang entah kemana.

Dan kemudian, Shirakawa-san mengalihkan pandangannya dari melihat ke laut menuju tangannya.

“… Sebenarnya, aku takut untuk memastikannya. Mungkin itu sebabnya aku senang ponselku rusak”

Kemudian dia menatapku, dan Shirakawa-san menunduk lagi.

“Aku ingin mempercayai Ryuuto, ... Aku ingin percaya padamu, tapi sebelum aku menyadari bahwa pasti ada semacam alasan dan aku harus bertanya tentang itu, aku tidak ingin terluka. Maksudku, tidak ada hal yang mutlak di dunia ini, ‘kan? Meski aku 99% yakin kalau Ryuuto tidak akan selingkuh, maka jika 1% sisanya terjadi… dan itu dengan Maria, cinta pertama Ryuuto… saat kupikir-pikir lagi, aku merasa tidak bisa menerimanya ”

Dia yang berbicara dengan wajah sedih, perlahan-lahan tersenyum lembut.

“Sejak aku mulai berpacaran dengan Ryuuto, aku merasa sangat bahagia. Ryuuto sangat serius, kamu juga bilang kamu tidak punya mantan pacar, atau teman wanita yang sering kamu ajak nongkrong… hal itu pertama buatku… dan dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku bisa mempercayai Ryuuto.”

Meski aku senang dia mengatakan itu padaku, perasaanku mulai campur aduk saat memikirkan mantan pacar Shirakawa-san.

“Itu sebabnya, aku tidak memikirkan apakah aku dikhianati ... Ketika aku memikirkan betapa menyakitkan hatiku terluka, aku menjadi takut untuk memastikannya.”

Dengan suara pelan, Shirakawa-san mengangkat wajahnya.

“Tapi, aku merasa aku tidak bisa tetap seperti ini terus. Tak peduli apa yang Ryuuto lakukan, aku ingin tetap berpacaran dengan Ryuuto mulai sekarang. Jadi kupikir sebaiknya aku menghadapi kenyataan… Kemarin, aku meminta Mao-kun untuk membawaku ke toko di kota sebelah supaya ponselku diperbaiki ”

“Jadi itu yang terjadi, ya…”

Setelah dua minggu yang menyakitkan karena tidak dapat menghubunginya, tampaknya dia merenungkan banyak hal dan berubah pikiran. Mungkin itulah sebabnya permintaan maafku diterima begitu cepat.

“Maaf, aku pasti tsudah membuat Ryuuto khawatir”

Aku menggelengkan kepalaku terhadap permintaan maaf Shirakawa-san.

“Tidak apa-apa, lagipula kita bisa bertemu seperti ini sekarang.”

“Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku di sini? Apa kamu bertanya kepada orang-orang di rumah? ”

“Tidak, seorang teman kebetulan datang ke pantai ini, dan Ia bilang dkalau Ia melihat Shirakawa-san”

“Eh, masa !? Temanmu ... apa mungkin, anak laki-laki besar yang selalu bersama Ryuuto? Namanya Ichiji-kun? ”

“Ah, iya benar, Ijichi-kun ”

Shirakawa-san tahu tentang Ichi, ya. Yah, tentu saja dia tau. Orang yang bisa aku sebut “teman” ..cuma Ichi dan Nishi… Di dalam kelas, setiap kali Shirakawa-san mendatangiku saat aku sedang berbicara dengan Ichi, Ichi akan langsung berkata "silakan" dan buru-buru pergi, jadi aku tidak pernah bisa mengenalkannya.

“Eeh, apa mungkin Ia masih di sini?”

“Tidak, Ia sudah pergi duluan. Ia bilang sengatan mataharinya bikin kulitnya perih.”

“Ah, kedengarannya buruk. Kulitku juga sama perihnya seperti terbakar”

Shirakawa-san kemudian meletakkan tangannya di tali bahu baju renangnya setelah mengatakan itu.

“Ayo lihat, ini buruk”

Pastinya, kulit di bawah tali bahu itu sedikit lebih putih jika dibandingkan dengan sekitarnya. Meski begitu, dia masih terlihat berkulit putih, jadi dia pasti sangat pucat pada awalnya.

“Tidak, kamu tidak begitu terbakar matahari”

Saat aku memalingkan pandanganku saat merasa gugup, Shirakawa-san berkata, “Eh, benarkah?”, Dan melepaskan tali bahunya.

“Kalau begitu baguslah! Aku memang bertujuan untuk menjadi gyaru berkulit putih, jadi aku memakai banyak tabir surya, tapi karena itu terjadi setiap hari, aku pikir aku pasti akan terbakar sinar matahari.”

“… Apa kamu di sini terus?”

Kalau dipikir-pikir, aku masih belum tahu alasan kenapa Shirakawa-san ada di sini. Aku mengerti kalau Mao-san, pamannya, menjalankan warung pantai.

“Aah, yup, itu benar”

Shirakawa-san kemudian mulai menjelaskan, seolah-olah dia telah melupakannya.

“Soalnya, sejak orang tua aku bercerai, aku mengunjungi rumah nenek buyutku setiap tahun pada liburan musim panas. Dan nenek buyutku tinggal di dekat sini. Bertemu ibu terasa canggung karena ayah, tapi kupikir aku baik-baik saja kalau bertemu nenek buyut. Terkadang ibu dan Mao-kun muncul, dan itu cukup menyenangkan ”

“Jadi, sepanjang musim panas?”

“Tidak juga. Ada pertunjukkan kembang api dan festival di pertengahan Agustus ini, dan aku ingin mengunjunginya, jadi sekitar satu atau dua minggu. Dan karena aku mendengar Mao-kun akan menjalankan warung pantai di tahun ini, aku berpikir untuk memberikan sedikit bantuan, tetapi seperti yang diharapkan, melakukannya sepanjang musim panas itu sangat melelahkan, jadi aku berpikir untuk melakukannya di bulan Agustus, tapi … ”

Saat dia mengatakan itu, Shirakawa-san menunduk ke bawah.

“... Ada masalah dengan Ryuuto. Entah kenapa, aku tidak tahu harus berbuat apa… Nikoru juga punya pekerjaan sambilan, jadi sepertinya kita tidak bisa bersama sepanjang waktu, jadi aku seperti, Hmmph !! Masa bodo dengan Ryuuto!, dan datang ke sini pada malam hari selesai upacara akhir semester dengan masih mengenakan seragamku.”

Jadi begitu rupanya. Jadi itu sebabnya, pada hari itu Shirakawa-san tidak pulang ke rumah tidak peduli berapa lama aku menunggu, ya.

“Apa kamu di sekolah sebelumnya? Pada upacara akhir semester .” tanyaku.

“Nn?”

Shirakawa-san mengangkat wajahnya.

“Ya. Aku berada di lab kimia, dan Nikoru menghiburku. 'Apa perlu aku ambil hari libur dari kerajaanku dan tinggal bersamamu?', Nikoru mengatakan itu kepada aku, tetapi seperti yang kuduga, aku tidak bisa begitu manja”

Jika itu Yamana-san, kupikir dia benar-benar akan bertindak sejauh itu untuk Shirakawa-san, dan saat aku memikirkan itu, Shirakawa-san memasang wajah serius dan menatapku.

“Soalnya, Nikoru punya mimpi ingin menjadi nailist.” (TN : Cek google kalau mau lebih tau. Tapi intinya sih, ahli kecantikan yang fokus pada kuku)

“Nailist…? Apa kamu berbicara tentang orang yang menerapkan kutek untukmu?”

“Jaman sekarang sebutannya kuku gel. Nikoru dan aku adalah orang-orang gel. Gel untuk menang !! ”

“Be-Begitu ya?”

Aku kurang paham, tapi Shirakawa-san sepertinya senang melihat kukunya. Kuku dengan pola yang sesuai dengan baju renangnya, telah menjadi jauh lebih panjang sejak terakhir kali aku melihatnya.

“Setelah lulus SMA, Nikoru berencana masuk sekolah kejuruan untuk mendapatkan kualifikasinya. Tapi karena dia memiliki seorang ibu tunggal di rumah, Nikoru tidak bisa bergantung pada orang tuanya untuk mendapatkan uang, jadi dia melamar banyak pekerjaan sambilan untuk menabung uang sebanyak mungkin saat masih di sekolah SMA untuk membayar matrikulasi dan biaya sekolah.”

Begitu ya.

Meski dia terlihat seperti itu, tapi Yamana-san orang pekerja keras, ya…

“Dan apa yang Ryuuto lakukan? Selama dua minggu terakhir ini”

“Eh, aah, aku pergi ke les singkat musim panas…”

“Aah, kamu memang pernah mengatakannya, bukan”

Ini hampir akhir dari les terakhir. Ketika aku mendengar cerita tentang Yamana-san, aku merasa bersalah karena secara praktis melewatkan seluruh jam les, meski orang tuaku sudah susah payah membayar uang sekolah.

“Semuanya .. benar-benar memikirkan masa depan, ya…”

Shirakawa-san memangku pipinya dengan tangan yang diletakkan di atas meja, dan mengalihkan pandangannya ke arah laut yang jauh. Ekspresinya tampak agak tidak nyaman.

“Shirakawa-san, apa yang akan kamu lakukan setelah lulus nanti?”

Terakhir kali, dia pernah mengatakan ingin menjadi YouTuber, tapi kurasa itu cuma candaannya doang.

“Nn? Nnnn… ”

Dia berhenti mengistirahatkan pipinya, dan Shirakawa-san menatapku.

“Sebenarnya, aku agak bingung dengan apa yang mau aku lakukan sekarang”

“Eh?”

Saat aku bertanya-tanya apa yang dia bicarakan, Shirakawa-san tersenyum.

“Itu karena, tujuan di SMA-ku sudah menjadi kenyataan”

“Tujuan seperti apa?”

Saat aku bertanya balik, Shirakawa-san dengan malu-malu memberitahuku.

“ ‘Untuk saling mencintai, dengan seseorang yang menurutku bisa bersamaku selamanya'"

Angin laut bertiup sepoi-sepo, membuat rambut panjang Shirakawa-san berkibar lembut. Dengan latar belakang laut biru nila di tengah matahari terbenam, dengan mata menyipit dan senyum di wajahnya, dia terlihat lebih cantik dari sebelumnya.

“… Namun, dua minggu terakhir ini sangat menyakitkan”

Kemudian Shirakawa-san mengalihkan pandangannya.

“Kupikir jika aku berhasil melewati ini, aku yakin, aku bisa semakin mempercayai dan mencintai Ryuuto”

Dengan senyuman yang menghias bibirnya, Shirakawa-san menatap ke arahku.

“Tadi, ketika aku mendengar cerita Ryuuto… aku .. bisa mempercayainya sejak awal. Aku seperti, 'ya, aku bisa tahu'. Rasanya sangat mudah menerimanya sampai aku sendiri merasa terkejuut, dan aku tidak meragukan apa pun. Aku pikir itu karena Ryuuto benar-benar mengatakan hal yang sebenarnya.”

Dan kemudian, dia menggigit bibirnya seolah ingin merasakan sedikit kepahitan.

“… Bertengkar dengan pacar, aku sudah mengalaminya berkali-kali… tapi yang ini masih pertama bagiku. Saat memikirkannya, aku tiba-tiba merasa seperti aku bisa melihat masa depan, dan tidak hanya untuk dua atau tiga bulan… ”

Shirakawa-san…

“… Aku selalu .. mencari istana di mana aku bisa merasa seperti di rumah sendiri”

Shirakawa-san tiba-tiba bergumam.

“Tidak ada pengalaman buruk dengan hidupku sekarang tapi .. Aku senang tinggal bersama ayah, ibu, dan Maria. Tapi, ayah dan ibu bercerai, dan semua keluarga saling berpisah… Aku menyadarinya. Keluarga Shirakawa adalah keluarga yang diciptakan oleh ayah dan ibu. Saat mereka berpisah, semuanya jadi runtuh. Itu sebabnya, aku harus menjadikan seseorang yang spesial untuk diriku sendiri. Aku harus, membuat keluargaku sendiri "

“Keluarga…”

Saat aku mengulangi perkataannya, Shirakawa-san menatapku dengan cemas.

“Ah, menurutmu itu terlalu berat? Pasti terlalu berat ‘kan, hal semacam itu”

“Tidak, sama sekali tidak, kok.”

Melihat reaksinya, aku menyadari sesuatu. Yang dia maksud "keluarga" ... mungkinkah itu artinya sama seperti yang kupikirkan?

Dengan kata lain… Shirakawa-san sampai memikirkan masa depan bersamaku…?

Begitu mencapai kesimpulan itu, wajahku tiba-tiba menjadi panas, dan aku berasa seperti berada di khayangan karena saking gembiranya.

“A-aku juga…!”

Aku sengaja meninggikan suaraku, dan Shirakawa-san menatapku dengan wajah terkejut.

“Aku juga berpikir … bahwa aku ingin bersama Shirakawa-san selamanya”

Saat aku menyampaikannya dengan suara keras, pipi Shirakawa-san juga memerah.

“… Ryuuto…”

Dan kemudian, ekspresi di wajahnya berubah saat kepikiran sesuatu.

“Ah, tentu saja, aku tidak mencoba membuat Ryuuto menghidupiku sejak SMA, oke !? Pergi bekerja atau sekolah, aku akan melakukan salah satu dari mereka.”

“Ya-ya, aku tahu, kok”

Apa-apaan ini? Ini bukan mimpi, ‘kan?

Sebuah mimpi yang jauh lebih realistis dari ini.

“Haah…”

Bagian belakang tenggorokanku terasa terlalu panas, jadi aku mengambil botol cola dingin dan meminumnya.

“Aku harus belajar dengan giat untuk ujianku…”

Melihat tas yang tergeletak secara horizontal di dekatku, aku menggerutu.

Bahkan dari sekolah kita, ada beberapa siswa yang masuk ke universitas bergengsi setiap tahun. Aku berpikir akan mudah jika aku masuk universitas yang oke meskipun AO, tapi aku akan belajar giat mulai sekarang sehingga aku akan menjadi cukup baik untuk masuk ke tempat yang baik melalui ujian umum.

Jika ada masa depan dengan Shirakawa-san lebih dari itu, aku merasa kalau aku bisa melakukan yang terbaik dalam segala hal.

“Karena Ryuuto pintar, kurasa kamu bisa masuk ke universitas yang sangat bagus”

Diberitahu begitu oleh Shirakawa-san, aku jadi gelisah.

“Eeeh? Yah, kalau sekarang nilaiku masih biasa-biasa saja, tapi… aku harus belajar lebih rajin lagi.”

“Aah, kalau begitu mungkin aku akan pergi ke sekolah yang lebih tinggi juga. Jika terus begini, jarak diantara kita akan semakin besar, dan gadis-gadis pintar di universitas mungkin akan mengincar Ryuuto ”

Shirakawa-san yang berwajah cemberut masih terlihat imut.

“Itu takkan terjadi”

“Eh, lalu, kenapa kamu senyum-senyum begitu? Ryuuto ”

“… Saat kupikir Shirakawa-san cemburu begitu… hal itu membuatku bahagia”

Saat aku memberitahunya, Shirakawa-san tersipu.

“Mouuuuu ~! Aku benar-benar memikirkan tentang masa depanku di sini! ”

“Maaf, maaf”

Saat itulah, ketika kami berdua saling tertawa.

“Heey, Kalian berdua ~!”

Dari dapur, Mao-san memanggil kami.

“Aku mau tutup”

Sebelum aku menyadarinya, laut telah benar-benar kehilangan sinar siang hari. Sekarang baru jam 5 sore jadi matahari terbenam masih di depan, tapi cuma ada beberapa orang yang tersisa di pantai.

“Ah, tunggu! Aku akan mandi”

Ketika Shirakawa-san dengan tergesa-gesa mencoba untuk berdiri, Mao-san mengucapkan “Eh?”.

“Kenapa kamu tidak mengganti pakaianmu dan melakukannya di rumah saja?”

“Tapi, aku harus mengantar Ryuuto ke stasiun…”

“Eeh, apa kamu akan kembali? Jika kamu tidak memiliki urusan yang mendesak, kenapa kamu tidak mampir saja ke rumah nenek?”

“Ah, ide bagus! Hei Ryuuto, mau menyapa nenek Sayo? ”

“Eeh !?”

“Enggak mau?”

Ditatap dengan muka memelas oleh Shirakawa-san, aku tidak punya pilihan selain menyetujuinya.

“Kalau begitu, jika kamu tidak keberatan….”

“Yaaay!”

Hari ini penuh dengan lika-liku. Aku diberitahu kalau Shirakawa-san berselingkuh dengan pria lain, dan kemudian aku bergegas ke sini. Saat aku putus asa melihatnya bermesraan dengan pria tampan tepat di hadapanku, pria tampan itu sebenarnya adalah pamannya. Saat kami bertemu lagi, Shirakawa-san bahkan memikirkan masa depan yang jauh denganku… dan sekarang aku diajak untuk datang ke rumah nenek buyutnya.

Sungguh hari yang sangat luar biasa.

Aku berpikiran begitu saat melihat Shirakawa-san masih mengenakan bikini yang dengan senang hati bermain-main.

 

◇◇◇◇

 

Setelah itu, aku naik minivan milik Mao-san bersama Shirakawa-san. Usai berkendara sekitar lima menit sampai menuju sisi gunung, kami akhirnya tiba di rumah nenek buyut Shirakawa-san.

Rumah yang terletak di jalan pegunungan yang landaii, sebuah rumah yang memberikan perasaan nostalgia. Bangunannya berlantai dua dengan atap genteng, dan ada taman besar dengan semak lebat. Meski mobil Mao-san diparkir di sana, masih cukup ruang bagi anak-anak untuk bermain lari-larian.

“Nenek Sayo, aku pulang ~!”

Mengenakan kaos besar di atas bikininya, Shirakawa-san berjalan langsung ke dalam rumah.

Saat aku berdiri di depan pintu masuk, berpikir bahwa aku harus mendapatkan izin dari pemilik rumah terlebih dahulu sebelum masuk.

“Tidak apa-apa, tinggal masuk saja” ajak Mao-san.

Ia meletakkan tangannya di pundakku dan mendorongku untuk masuk ke dalam rumah.

“Maa..maa..”

Ketika aku dibawa ke sebuah ruangan bergaya Jepang yang sepertinya merupakan ruang tamu, aku melihat seorang wanita tua dengan wajah terkejut duduk di kursi lesehan. Sepertinya baru saja mendengarnya dari Shirakawa-san, ucapan “Maa…maa.. ~” tidak berhenti.

“Senang bertemu dengan anda. Saya Kashima Ryuuto, dan saat ini saya berpacaran dengan Shirakawa… Luna-san ”

“Ooh ~”

Seperti yang diharapkan dari seorang nenek buyut, dia tampak tua, mungkin berusia delapan puluhan atau sembilan puluhan. Ada banyak kerutan di wajahnya yang tampaknya tidak memiliki riasan, dia memiliki rambut abu-abu yang diikat, dan pakaian yang sederhana. Saat aku melihat ekspresi terkejutnya, aku jadi merasa tidak enakan karena menerobos masuk begitu tiba-tiba.

“Ya ampun, terima kasih sudah merawat Luu-chan ... kami tidak punya banyak hal untuk ditawarkan, tapi apa kamu mau teh?”

Dengan itu, nenek buyut mengangkat postur setengah duduk, dan meraih nampan di atas meja. Ada tempat teh, teko kecil, dan tabung misterius dengan lubang di tutupnya, yang membuatku terkejut. Jadi alasan mengapa Shirakawa-san bisa menggunakan perangkat teh di penginapan untuk menyeduh teh adalah karena dia tahu bagaimana menggunakannya di sini, ya.

“Ah, tidak perlu repot-repot nek, aku akan mengambil teh barley dari lemari es”

Dengan gerakan ringan, Shirakawa-san membuka pintu kulkas di dapur.

“Aah, benar juga, anak muda lebih suka yang dingin ...”

“Sebenarnya nek, apa nenek mematikan AC-nya lagi?”

Mao-san mengipasi lehernya dengan tangannya, dan mengambil remote control.

“Suhu tahun ini masih panas sekali, nenek bisa-bisa kena sengatan panas jika AC tidak dinyalakan, tahu?”

“Aku baik-baik saja hanya dengan satu kipas angin. Jika kamu merasa terlalu panas, Kamu bisa menyalakannya "

Ketika aku menengok, aku melihat kipas angin listrik tua di sudut ruangan mengirimkan angin sepoi-sepoi yang cukup untuk ventilasi ruangan. Ada juga kipas angin di atas meja dengan semacam nomor telepon yang tercetak di atasnya, yang sepertinya digunakan nenek buyut untuk menahan panas.

Saat Mao-san menyalakan AC, angin hangat bertiup ke dalam ruangan pengap. Saat suhu ruangan sedikit turun, Shirakawa-san membawa nampan dengan empat gelas teh barley di atasnya.

“Sini. Nenek Sayo juga harus minum. Untuk menyegarkan diri sendiri.”

“Aku baik-baik saja, lagipula Nenek sudah minum teh.”

Bahkan ketika dia mengatakan ini, nenek buyut masih meraih gelasnya. Mungkin karena cicitnya sudah bersusah payah untuk mempersiapkannya.

“Nenek Sayo, apa kita punya camilan?”

“Ooh, kita punya beberapa kacang yang disimpan di kulkas”

“Haha, itu emang khas Chiba banget”

“Apa boleh buat, itu pemberian dari orang lain.”

“Tidak apa-apa, aku suka kacang, kok”

Sambil tersenyum, Shirakawa-san membawa kacang tersebut ke dalam mangkuk kayu.

"Ayo Ryuuto, duduk sini, duduk.”

“Ah iya…”

Jadi, aku, Shirakawa-san, nenek buyut, dan Mao-san mengobrol sebentar.

Nenek buyut Shirakawa-san sudah berusia 90 tahun, dan tinggal sendirian di tempat ini. Berkat bantuan dari para tetangga, beliau bisa hidup sehat tanpa masalah tertentu.

Meski begitu, putrinya masih merasa khawatir dengan berita kematian akibat sengatan panas di antara lansia yang meningkat setiap tahun, jadi mereka ... Nenek dari pihak ibu Shirakawa-san sepertinya mendiskusikannya, dan memutuskan bahwa Mao-san akan tinggal di sini musim panas ini sambil menjalankan bisnis Warung pantai.

Pekerjaan utama Mao-san adalah seorang penulis lepas, dan Ia biasanya berkeliling dunia untuk menerbitkan buku-bukunya. Mao-san mengungkapkan bahwa Ia awalnya ingin menjadi seorang fotografer, dan itu adalah panggilan yang memungkinkan dia untuk menggunakan keahliannya. Ia berusia 38 tahun, lajang, dan sudah lama tidak memiliki tempat tinggal tetap, tapi Ia menyebutkan kalau alamat tempat tinggalnya berada di rumah ini.

Ketika Shirakawa-san masih kecil, ada suatu masa ketika Ia tinggal di rumah Shirakawa-san ketika masih bekerja di Tokyo, jadi sepertinya Shirakawa-san memanggapnya seperti kakak laki-laki. Aku pikir mereka terlalu dekat satu sama lain meski hubungan mereka cuma paman dan keponakan, tapi setelah mendengar cerita mereka, aku bisa memahaminya.

“… Jadi, ketika aku bangun di pagi hari, dompet, kamera, dan laptopku telah dicuri, jadi aku kepikiran seperti, wah orang itu benar-benar berbahaya. Untungnya pasporku tidak ikut dicuri karena aku tidur dengan menyimpannya di badanku.”

“Luar negeri benar-benar tempat menakutkan ~”

Setelah perkenalan dilakukan kurang lebih, percakapan berubah menjadi pengalaman Mao-san saat Ia pernah di luar negeri. Mungkin karena dia sudah mendengar ceritanya beberapa kali, Shirakawa-san memberikan kata seru yang sudah biasa dia dengar.

“Ah, hei hei Mao-kun, ceritakan kisah itu dong! Cerita tentang perkelahian dengan penipu di Makau!”

Ujar Shirakawa-san dengan semangat tinggi, dan minatku terusik karena kedengarannya sangat menarik.

Namun, untuk sementara waktu sekarang aku hanya memperhatikan jam di ruang tamu di atas pintu geser.

“Eh? Ceritanya panjang, tahu ~? Biar kuingat-ingat dulu, delapan tahun lalu… ”

“U-umm, permisi…”

Waktunya hampir pukul setengah enam. Orang tuaku mungkin berpikir bahwa aku sedang berada di tempat les hari ini, dan ketika aku mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan untuk pulang, aku harus pergi sekarang.

“Aku mau minta ijin pulang sekarang…”

Dan kemudian, Shirakawa-san berseru "Ah" dan melihat ke jam.

“Begitu, jadi sudah selarut ini, ya ...”

Karena Shirakawa-san memasang ekspresi putus asa yang terang-terangan, aku juga merasa enggan untuk berpisah.

“… Jika kamu akan pulang, aku bisa mengantarmu ke stasiun, oke?”

Melihat kami seperti ini, Mao-san berbicara dengan suara yang sedikit serak.

“Ah, ya… Terima kasih banyak”

Saat itulah, ketika aku hendak bangun sambil melihat Shirakawa-san.

“Kamu sudah bersusah payah datang kemari, jadi bagaimana kalau menginap di sini?”

Nenek buyutnya, Sayo-san, memandang kami dan mulai berbicara.

“Jika kamu kembali sekarang, kamu pasti akan terlambat saat tiba di Tokyo. Jadi bagaimana kalau bermalam di sini, dan kembali besok? ”

“Eeh…”

Aku tidak menyangka akan diberitahu begitu, jadi aku sedikit kebingungan. Tapi sebaliknya, wajah Shirakawa-san langsung cerah.

“Aah, aku suka itu! Jadi bagaimana kalau menginap di sini, Ryuuto? ”

“Ada banyak kamar di rumah nenek juga, iya ‘kan ~. Jika kamu mau, bagaimana kalau kamu tinggal di sini sampai Luna kembali? ”

Mendengar candaan Mao-san, wajah Shirakawa-san menjadi lebih senang.

“Ah, itu jauh lebih baik !!! Benar sekali, ayo pergi ke festival musim panas, Ryuuto! Di sana ada kembang api juga !! ”

“Eeh !?”

Tidak masalah jika cuma untuk satu malam, tapi tinggal di rumah seseorang yang aku temui untuk pertama kalinya selama lebih dari sehari?!?

“Te-Tentang festival musim panas itu, kapan diadakannya?”

“Festival Obon bulan Agustus… jadi…Ehh, kapan ya?”

“Acaranya baru ada sekitar dua minggu lagi~”

Aku semakin terkejut saat diberitahu oleh Mao-san.

“Dua minggu!?”

Jangka waktu segitu sudah sangat menyusahkan bahkan di rumah nenekku sendiri. Selain itu….

“Tapi tetap saja, jika aku tinggal di sini selama itu… aku merasa sungkan tentang biaya makanan dan sebagainya”

“Jangan khawatir tentang itu. Kami diberi barang sepanjang waktu ”

“Berkat perbuatan baik nenek, biaya makan bisa dibilang bebas biaya, iya ‘kan ~”

Sayo-san melambaikan tangannya dan menolak kata-kata Mao-san yang menggoda.

“Itu karena kita ada di pedesaan. Mereka semua bilang mereka tidak bisa menyelesaikannya sendiri.”

Kalau dipikir-pikir, aku ingat ada kotak kardus penuh lobak ditempatkan di pintu masuk.

“Tentu saja, aku takkan memaksamu. Bagaimanapun juga, kamu pasti punya keadaanmu sendiri. Tapi jika kamu mau menginap, kupikir itu akan membuat Luu-chan bahagia juga. Dan sepertinya Niko-chan tidak bisa sesering itu”

Niko-chan… Kurasa yang beliau maksud Yamana-san. Jadi Sayo-san juga sudah bertemu Yamana-san, ya.

“Err… ummm…”

“Kamu enggak bisa?”

Shirakawa-san menatapku dengan mata berkaca-kaca.

Jika aku bisa, tetap di bawah satu atap dengan Shirakawa-san selama dua minggu…

Tentu saja.

Itu akan membuatku bahagia ...

“… Aku akan menelepon orang tuaku sebentar.”

“Yaaaay!”

Saat aku mengeluarkan ponselku dan mengatakan itu, Shirakawa-san sangat senang seolah-olah sudah diputuskan kalau aku akan menginap.

Benar-benar hari yang penuh lika-liku.

Jadi, begitulah, pada akhirnya aku tinggal di rumah nenek buyut Shirakawa-san selama sekitar dua minggu.

 

 

*******

Chapter 4.5 – Buku Harian Tersembunyi Kurose Maria

 

Kamu ditolak mentah-mentah, ya, Maria.

Aku sudah sering ditembak dari berbagai cowok sejak SD. Jika aku mau, aku bisa memiliki banyak pacar.

Karena Luna adalah gadis idiot, dia gampang sekali terjerumus, dan mulai berpacaran, lalu kemudian putus ketika hubungannya tidak berhasil. Dan dengan luar biasa dicap sebagai "cewek lonte".

Tapi, aku tidak melakukan kesalahan seperti itu.

Aku tahu harga diriku sebagai seorang wanita. Aku bukan wanita yang harus dijual murah.

Keperawananku harus didedikasikan untuk cowok sempurna yang layak denganku. Dengan keyakinan itu, aku menjaga kesucianku sampai sekarang.

Tapi…

Ketika aku benar-benar jatuh cinta dengan cowok untuk pertama kalinya, urusan kesucian menjadi masa bodo buatku.

Kashima-kun sama sekali bukan cowok yang sempurna.

Meski begitu, aku ingin memberikan semua yang kumiliki padanya.

Meski itu sebagai satu-satunya taruhanku, kesempatan terakhirku untuk bisa membalikkan keadaan.

Tapi Aku tetap ditolak mentah-mentah.

Aku bahkan bukan gadis yang layak untuk dipeluk.

…Aku menjadi depresi ketika memikirkan itu.

Tetapi sedikit waktu telah berlalu sejak saat itu, dan aku mulai berpikir bahwa mungkin tidak seperti itu.

Setidaknya, Kashima-kun tidak memanfaatkanku demi memuaskan nafsu birahinya.

Saat menatapnya pada malam itu, aku tahu bahwa Kashima-kun ingin melakukannya dengan "aku". Kulitnya yang berkeringat, napasnya yang terengah-engah, dan titik panasnya… bahkan sekarang aku masih bisa mengingatnya dengan jelas.

Bahkan setelah menyadari bahwa aku bukan Luna, Kashima-kun masih ragu-ragu sejenak. Dengan kata lain, itu karena ada pilihan untuk melakukannya denganku di dalam dirinya. Itu artinya, Ia tak berpikir kalau aku adalah gadis yang “tidak memuaskan”, ‘kan.

Jika, untuk Kashima-kun, aku adalah "gadis yang bisa dipeluk". Ia bisa saja berhubungan badan denganku, dan jika Ia mau, bahkan melanjutkan hubungan setelahnya sampai Ia merasa bosan. Aku yakin, pasti ada banyak cowok di luar sana yang akan memilih untuk melakukan itu jika mereka berada di posisi Kashima-kun.

Tapi, Ia tidak melakukan itu.

Apa kamu sangat mencintai Luna?

Rasanya sangat membuatku frustrasi ketika aku memikirkannya.

Kata-kata yang Ia ucapkan padaku saat itu, menjadi keselamatanku.

“Aku juga merasa kasihan pada Kurose-san”, katanya.

Kashima-kun menanggungnya demi diriku. Aku boleh  berpikir seperti itu, ‘kan?

Namun tetap saja, hal itu masih menyakitiku. Dipeluk sampai bosan, atau dicampakkan. Saat ini, aku tidak tahu mana yang lebih baik.

Tapi... Hatiku merasa sangat kesakitan sekarang sampai-sampai aku tidak bisa memikirkannya sama sekali.

Jika suatu hari nanti, aku bisa bertemu cowok lain yang bisa kucintai seperti aku mencintai Kashima-kun.

Dan kemudian, jika pada saat itu aku bisa membuat orang itu mencintaiku juga.

Pada saat itu, mungkin, aku akan berterima kasih atas keputusan Kashima-kun.

Itu karena, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bisa memberikan seluruh diriku kepada seseorang, yang juga benar-benar mencintaiku kembali.

Kamu telah jatuh cinta dengan pria yang baik, Maria.

Itu adalah cinta pertama yang baik.

Dengan mengatakan itu pada diriku sendiri, aku mungkin bisa melangkah maju

Namun, saat ini, hatiku masih hancur berkeping-keping karena ditolak olehnya.



<<=Sebelumnya  |    |  Selanjutnya=>>

close

5 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

  1. Terima kasih dan semangat min

    BalasHapus
  2. Makasih min buat chapter nya seperti biasa hasil TL dari tim zerokaito selalu mantap dan bahasa nya mudah dimengerti.keep it up🔥

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan tim, tapi one-man army. Karena yang ngerjain semua projectnya adalah Mimin Kareha sendirian

      Hapus
    2. sendirian? mantap kali mimin kareha the best lah semangat terus min

      Hapus
  3. Bangke nyesek parah hampir serangan jantung gw coeg, untung itu pammannya kalo beneran ntr sih gk tau lagi gw sekarang masih hidup apa kagak

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama