Roshi-dere Vol 4.5 Chapter 03 Bahasa Indonesia

Chapter 3 — Suasana dan Nafsu Makan

 

Pada hari itu, Alisa terlihat sedang berada di depan sebuah warung ramen. Nama  “The Cauldron of Hell”  ditulis dengan huruf merah yang sangat mengerikan di papan kayu. Itu adalah warung yangkhusus menyajikan ramen super duper pedas sehingga Alisa, yang sebelumnya pernah masuk bersama Masachika dan Yuki, hampir saja melihat neraka seperti yang tersirat dari nama warungnya.

Lantas, kenapa Alisa sekarang mencoba menginjakkan kakinya di tempat yang pernah memberinya pengalaman mengerikan? … Semuanya berawal saat kencannya bersama Masachika tempo hari … atau bukan. Ketika dirinya memberi latihan yang mirip seperti pra-kencan untuk mengajari Masachika yang naif mengenai apa itu hati seorang wanita, Masachika lalu memberitahu Alisa kalau Ia menyukai makanan pedas.

(Tidak, bukannya berarti aku ingin memahami selera makanan Masachika-kun atau semacamnya!)

Entah untuk siapa, tapi Alisa membuat alasan semacam itu di dalam kepalanya. Ya, ini cuma karena dia berpikir jika ada beberapa orang yang menyukainya, maka makanan pedas pasti memiliki rasa kelezatannya tersendiri. Ini hanyalah upaya demi membawa lebih banyak variasi dalam menu makanannya sehari-hari. Tantangan tersebut berdasarkan  pada gagasan jika dirinya bisa belajar memahami kelezatan makanan pedas selain makanan manis, dia mungkin bisa melipatgandakan kenikmatan makanannya.

Yah, sebagai efek samping dari itu? Kira-kira, apa aku bisa menikmati makanan bersama teman lainnya~ itulah yang Alisa pikirkan. Tentu saja, teman yang dimaksud bukanlah Masachika, melainkan Yuki.

Yosh, baiklah!”

Setelah selesai membuat-buat alasan dan mempersiapkan diri, Alisa lalu membuka pintu geser.

“Ugh!”

Segera, udara dengan bahan-bahan yang menyengat mulai merangsang mata dan hidungnya, dan walaupun dia sudah bersiap-siap sampai batasan tertentu, Alisa secara refleks menyipitkan matanya.

“Selamat datang~!”

Alisa mengedipkan matanya saat mendengar suara energik karyawan toko, dan mengalihkan perhatiannya kepada karyawan toko wanita yang mendekatinya ... tapi tiba-tiba, Alisa memeriksa dua kali ke wajah familiar yang muncul di sudut penglihatannya.

“Eh, Kimishima-san?”

“……? Ah.”

Menanggapi suara Alisa, Ayano yang sedang duduk di meja untuk dua orang di dekat pintu masuk, mendongak dari buku di tangannya dan matanya sedikit melebar. Karyawan toko wanita yang tadi mendekati Alisa, melihat mereka berdua secara bergantian, dan berkata.

“Umm, apa Anda bersama pelanggan ini?”

“Ehh, umm, iya.”

Bagaimana dirinya harus menjawab dalam situasi seperti itu? Alisa malu dengan jawabannya yang tidak jelas karena kurangnya pengalaman. Namun, karena sudah mengatakan kalau dia bersamanya, Alisa kemudian melangkah menuju meja Ayano.

“Umm, apa aku boleh ikut bergabung denganmu?”

“Iya, silakan.”

Alisa meminta ijin dengan agak sungkan dan duduk di seberangnya. Ayano juga memasukkan buku yang ada di tangannya ke dalam tasnya.

“...”

“...”

Dan kemudian diam. Dua gadis cantik sama-sama diam sambil saling menatap.

(Ummm ...)

Dalam suasana canggung yang tak terlukiskan ini, Alisa mencoba mengatakan sesuatu … tapi dia tidak tahu harus berkata apa dan menutup kembali mulutnya yang hendak terbuka. Dari dulu, Alisa tidak sering memulai obrolannya sendiri. Selain itu … dia dan Ayano masih memiliki hubungan yang sangat ambigu.

(Apa bisa kuanggap kalau kita ... berteman? Bukan, iya ‘kan? Karena kami hampir tidak pernah berbicara satu sama lain sih, paling banter kami cuma sesama anggota OSIS saja... Tapi sebagai kandidat lawan, bisa dibilang kalau dia adalah teman sekaligus musuh. Tapi, tapi, aku dan Yuki sudah berteman, jadi ...)

Istilah apa yang tepat untuk menggambarkan hubungan antara dirinya dan Ayano? Hubungan seperti apa yang harus dipertimbangkan dan seberapa intens percakapan yang harus dilakukan? Tentu saja, buat Alisa sendiri, dia bukannya tidak mau berteman dengan Ayano. Tapi dirinya tidak diminta untuk berteman, dan dia juga kurang percaya diri dalam kepribadiannya untuk menyebut dirinya sebagai teman yang akrab .... Alisa terus mencemaskan hal semacam itu layaknya orang yang menderita gangguan berkomunikasi.

Sebaliknya, apakah pihak lain mau memulai topik pembicaraan duluan … ketika berpikir begitu, Alisa langsung menyerah setelah melihat tatapan mata Ayano. Karena dia memiliki tatapan mata yang benar-benar lurus. Wajahnya tidak memancarkan sedikit pun kecanggungan. Dia meletakkan tangannya di kakinya dan menegakkan punggungnya, dia sudah dalam posisi sempurna untuk mendengarkan, Alisa bahkan hampir bisa mendengar suara hatinya yang berkata “Silakan, saya siap mendengarkan apa pun yang Anda katakan, loh?”.

“Ini air putihnya~. Silakan panggil saya lagi jika Anda sudah memutuskan pesanan Anda~”

Kontes tatapan misterius itu terputus ketika karyawan wanita dari sebelumnya datang sambil membawa segelas air. Setelah mengalihkan pandangannya dari Ayano, Alisa lalu mengambil buku menu. Dia tersenyum masam pada nama-nama hidangan yang masih terlihat brutal. Alisa kemudian melirik ke arah Ayano dan bertanya.

“Hidangan mana yang kamu pilih, Kimishima-san?”

“Ya, saya memilih——” 

Saat Ayano hendak menjawab pertanyaan Alisa, yang sudah mengerahkan segala keberaniannya, jawabannya justru baru saja muncul di atas nampan.

“Maaf sudah membuat Anda menunggu~. Di sini ‘Pincushion of Hell’ pesanan Anda~”

Semangkuk sup merah cerah dengan tumpukan bawang putih setipis jarum dan ditumpuk seperti gunung dibawa ke atas meja. Hidangan kedua dari atas menu. Ramen tersebut merupakan ramen yang mempunyai kepedasan satu tingkat di atas ‘Blood Pond of Hell’ yang pernah dimakan Alisa sebelumnya.

“... ini pesanan saya.”

“Begitu ……”

Melihat ramen yang disajikan, Alisa langsung berpikir beberapa detik. Awalnya, hari ini Alisa bermaksud memesan Blood Pond of Hell yang pernah dia makan sebelumnya. Tetapi ketika dia melihat Ayano memesan ramen pedas level lain, pemikiran “Bukannya nanti aku takkan mendapat kemajuan jika terus memakan hal yang sama?” terlintas di benak Alisa. Dan yah, kalau memesan ramen paling tidk pedas di sini, dia merasa akan kalah. Padahal ini bukan pertandingan, sih.

“Umm, permisi. Aku ingin memesan menu yang sama seperti dia.”

Alisa memerintahkan begitu ketika dia menghentikan karyawan wanita yang mencoba meninggalkan ramen dan kembali ke dapur. Kemudian dia menoleh ke Ayano dan mendesaknya untuk makan duluan.

“Kalau begitu, saya terima tawaran baik Anda.”

Ketika dia menyatukan tangannya dan mengatakan itu, Ayano menggunakan sumpitnya untuk mencelupkan setumpuk bawang putih ke dalam sup sambil menarik mie keluar dari dalam dan menyeruputnya tanpa mengeluarkan suara.

“Gh!!”

“??”

“...”

Kemudian, setelah menghentikan gerakannya sejenak, Ayano mulai memasukkan mie ke dalam mulutnya dengan perlahan-lahan. Dia kemudian dengan cepat menyeka bibirnya dengan serbet kertas dan mengunyah. Ekspresi wajahnya tidak berubah sama sekali.

(He-Hebat sekali! Aku tidak menyangka dia bisa memakan ramen yang terlihat sangat pedas itu tanpa menggerakkan alis sedikit pun ... Kimishima-san pasti menyukai makanan pedas juga...)

Diiringi rasa kengerian, Alisa merasa terkesan dan sedikit tidak sabar. Dia masih mengingat dengan jelas rasa pedas yang merusak dari ramen tempo hari. Alisa penasaran apa dirinya bisa menghabiskan ramen yang lebih pedas dari itu….

(Ti-Tidak apa-apa! Lagipula, aku sudah terbiasa dengan rasa pedas, dan terakhir kali, salahku sendiri yang menambahkan kepedasan di tengah-tengah jalan saat memakan ramen!)

Ketika dia melirik ke tepian meja sambil menyemengati dirinya sendiri, ada toples kecil yang memberi kesan mencurigakan di antara bumbu-bumbu lain seperti kecap dan merica. Itu adalah bumbu super pedas yang disebut Demon Tears.

(Selama aku tidak menyentuh benda itu, aku pasti akan baik-baik saja ...!)

Di depan Alisa yang mengatakan itu pada dirinya sendiri dan membangkitkan semangat juangnya, ... Ayano sedang mengunyah suapan ramen keduanya.

 (Pedas ... pedas sekali, hiks, hiks ...)

Tapi di dalam hati, dia benar-benar berlinangan air mata.

Ya, sebenarnya, Ayano sama sekali tidak menyukai makanan pedas. Jadi, kenapa dia repot-repot mendatangi restoran yang semacam itu? Alasannya cuma ada satu. Semua upaya ini dilakukan agar dia bisa ikut memakan makanan super pedas yang sangat disukai oleh kedua tuannya yang tercinta.

Demi mencapai tujuan itu, Ayano diam-diam mengunjungi restoran yang menyajikan makanan sangat pedas di hari libur dan terus berusaha berlatih untuk membiasakan dirinya. Berkat usahanya, dia menjadi jauh lebih toleran terhadap makanan pedas daripada dua tahun lalu ketika dia memulai pelatihannya dalam masakan pedas, tapi tetap saja ... bagi Ayano, ramen yang sangat pedas ini cukup menantang.

(Panas sekali, pedas ... hiks, mulutku serasa terbakar ...)

Rasa pedasnya terasa jelas dari gigitan pertama. Seolah-olah sisa kepedasan di mulut tersulut oleh panasnya mie. Kombinasi rasa pedas dan panasnya mie menyebabkan ledakan yang menghanguskan bagian dalam mulut. Dia sendiri tidak tahu lagi apakah dia merasakan panas atau pedas.

(Fuu, huu, hau, fuuuu ...)

Jika bisa, dia ingin membuka mulut dan menarik napas panjang. Pokoknya, dia cuma ingin membuka mulutnya. Namun, pelanggaran tata krama semacam itu tidak boleh dilakukan karena akan mencoreng prinsipnya sebagai super Maid. Kalau dia sendirian sih tidak masalah, tapi dia sedang bersama Alisa yang sedang duduk di depannya. Mana mungkin dia akan melakukan tindakan memalukan  semacam itu di depan teman seangkatannya yang cantik sekaligus saingan dari tuannya, Yuki.

“Fuu…”

Ayano berhasil menelan apa yang ada di mulutnya tanpa mengubah ekspresinya dan menghela nafas kecil. Secara naluriah dia ingin meneguk air, tapi berdasarkan pengalamannya selama ini, hal itu tidak terlalu efektif meredakan rasa pedas di mulut, jadi dia berusaha untuk menahan diri. Sebagai gantinya, dia memutuskan untuk mencicipi bawang yang relatif aman.

(Dibandingkan mie yang sudah terendam di dalam kuah ... Mari mencicipi sedikit bawang yang belum terkena kuah )

Dengan pemikiran itu, dia membawa bawang ke mulutnya dan ... segera menyesalinya. Pasalnya, saat dia mengunyah bawang hijau yang renyah, rasa pedas khas bawang hijau menusuk-nusuk lidahnya seperti jarum.

“!!?”

Pandangan mata Ayano menjadi basah karena merasakan kepedasan bawang yang jelas-jelas bukan dari bawang biasa. Rasa pedasnya yang menusuk sangat berbeda dengan pedasnya cabai yang membakar. Secara kimiawi, pedasnya bukan berasal dari zat capsaicin, melainkan dari zat anilin. Jika digambarkan dalam elemen, elemennya terdiri dari api dan angin. Dua jenis kepedasan yang sangat berbeda meledak di mulut dan hampir membuat air matanya keluar.

(Be-Begitu rupanya ... jadi ini yang namanya adalah Pincushion of Hell’...)

Dua jenis kepedasan yang menyerang dari arah yang sama sekali berbeda tanpa berbenturan satu sama lain. Ayano langsung memejamkan matanya saat menyadari kalau rasa pedas ganda inilah yang menjadi inti dari ramen ini. Dia menganggukkan kepalanya dan menekan kelenjar lakrimalnya untuk menghentikan air mata, seolah-olah dia menikmati makanan itu dengan mata tertutup. Kemudian dia menelan apa yang ada di mulutnya dan perlahan meraih gelas untuk meneguk air. Ayano membuka mulutnya saat dia menghembuskan napas lega pada sensasi mulutnya dicuci bersih.

“Rasanya sungguh lezat sekali. Di balik kepedasannya, rasa sayuran dan daging cincangnya terasa sangat enak.”

Ngomong-ngomong, Ayano tidak bermaksud berbohong. Setelah melalui latihan yang panjang, Ayano bisa merasakan umami dengan baik di balik rasa pedasnya. Jadi, dia sama sekali tidak berbohong. Hanya saja, dia tidak mengatakan yang sebenarnya kalau umami itu sangat sulit dirasakan sehingga dia tidak mampu menikmati kelezatan seperti itu.

Namun, Alisa sama sekali tidak menyadari pikiran batin Ayano.

“Be-Begitu ya ... kalau gitu, aku sangat menantikannya.”

Dengan senyum yang sedikit canggung, Alisa diam-diam ketakutan.

(Ak-Aku tak percaya dia bisa terus memakannya dengan begitu santai ... Kimishima-san, kamu memang menyukai makanan pedas, ya ...)

Saat Ayano mulai menyeruput ramennya lagi dalam diam, Alisa menjadi semakin cemas. Mungkin saja mereka bisa memperpendek jarak di antara mereka di hadapan musuh bersama sembari mengatakan sesuatu seperti, “Uhh, ramen ini pedas sekali ya~” dan dibalas, “Beneran deh, pedas sekali~”... tapi harapan samar semacam itu dengan cepat menghilang. Ayano adalah pejuang veteran  yang tidak membutuhkan rekan. Sejak awal, cuma dia saja satu-satunya yang prajurit baru.

(Uhh ...)

Meski sudah sangat terlambat, Alisa merasa menyesal karena sudah duduk bersama Ayano. Jika ada seseorang mencoba mengeluh “pedas~ pedas~” di hadapan pejuang tangguh, wajar saja dia akan mendapat tatapan yang menyiratkan, “buat apa kamu datang kemari?”. Jika itu yang terjadi, lebih baik kalau ramennya baru dibawa masuk setelah Ayano selesai makan dan meninggalkan toko... yah, mana mungkin hal praktis semacam itu bisa terjadi.

“Maaf sudah membuat Anda menunggu~. Di sini ‘Pincushion of Hell’ pesanan Anda~”

Ketika Ayano sudah menghabiskan sekitar setengah porsi, ramen disajikan di depan Alisa. Karena tidak punya cara lain untuk melarikan diri, Alisa memutuskan untuk membulatkan tekadnya, dan mengambil sumpit sekali pakai seolah-olah dia adalah seorang prajurit yang menuju medan perang dengan pistol di tangannya.

Itadakimasu

Pertama-tama, kontak pertama itu penting. Gigitan pertama ini akan menentukan langkah selanjutnya...

“!? Ugufupht!”

Saat Alisa menyeruput mienya, senyawa capsaicin segera menghantam bagian belakang tenggorokannya dan membuatnya tersedak. Dia hampir saja memuntahkan kembali mienya, tapi dia tidak bisa berhenti tersedak.

Ughk! Uhuk! uhuk!”

Dia berulang kali terbatuk sambil menahan mie di mulutnyaSetelah dia berhasil menenangkan diri, dia dengan hati-hati membawa mie ke mulutnya dengan sumpitnya. Dia membawanya ...... dan diam-diam merasa kesakitan karena rasa pedas yang seakan-akan membakar di dalam mulutnya.

(Unnn ~~~~ !?)

Rasanya pedas, panas, dan menyakitkan. Apa mereka semua itu bodoh? Baik orang yang membuat makanan ini maupun orang yang memesannya.

(Dengan kata lain, aku juga, bodoh...!)

Alisa buru-buru menyeka bibirnya dengan serbet kertas, pikirannya berkecamuk karena rasa ramennya terlalu pedas. Dia bisa memahaminya dengan baik saat melakukan kontak pertama. Makanan ini, benar-benar musuh bebuyutannya.

(Ak-Aku merasa tidak bisa menghabiskannya ...)

Alisa menelan suapan pertamanya dengan perasaan putus asa. Kemudian Ayano memanggilnya dengan tatapan mata yang sedikit khawatir.

“Apa Anda baik-baik saja? Sepertinya Anda tadi terbatuk cukup keras ...”

“A-Aku baik-baik saja, kok.”

Ketika ditanya dengan nada cemas, Alisa membalasnya dengan sok kuat.

“Supnya baru saja jatuh ke tenggorokanku. Sepertinya aku tadi menyeruputnya terlalu keras.”

“Ah, saya juga pernah mengalaminya. Itulah yang terjadi jika Anda tidak berhati-hati.”

Usai membalas dengan senyum samar kepada Ayano yang mengangguk setuju, Alisa kemudian menatap kembali mangkuk ramennya... Dia hampir putus asa ketika melihat jalannya untuk menghabiskan ramen pedas masih sangat panjang. Alisa menghentikan sumpitnya tanpa sadar. Ayano cuma mau makan.

(Ka-kalau aku coba memasukkan bawangnya sekali saja, mungkin pedasnya sedikit berkurang...)

Dan kemudian dia terjebak ke dalam perangkap yang sama karena mengikuti pemikiran yang sama persis seperti Ayano.

(Pe-Pedas sekali, ugh, uhuk!)

Wajah poker Alisa hampir runtuh karena pedasnya daun bawang yang mengenai kelenjar air mata dari dalam mulutnya. Namun, ketika Alisa mempertahankan ekspresinya dengan semangatnya, dia segera merasakan kalau semakin banyak dia menggigit bawang itu, semakin pedas rasanya. Setelah meminimalkan jumlah kunyahan, dia dengan setengah hati menelannya dengan air. Kemudian, dinginnya air es dan rasa pedas yang menusuk dari daun bawang berpadu menciptakan sensasi aneh dan menggelitik di mulutnya.

(Aku bisa memakai ini!)

Dia tahu kalau itu hanyalan sensasi menyegarkan yang palsu. Tapi, walaupun itu cuma imajinasinya saja, dirinya tidak bisa terus makan tanpa mengandalkan ini. Usai memutuskan hal itu, Alisa mulai makan secepat yang dia bisa, menyeruput mie sebanyak mungkin sembari menambahkan kaldunya sesedikit mungkin. Semua itu demi mengalahkan musuh sebanyak mungkin sementara waktu tak terkalahkan palsu terus berlanjut. Ayano tampak terkejut saat melihat Alisa menggerakkan sumpitnya.

(Di-Dia memakannya begitu banyak satu demi satu ... menakjubkan sekali. Tampaknya Alisa-sama juga menyukai makanan pedas, ya.)

Itu cuma salah paham. Mereka benar-benar salah kaprah karena daya tahan palsu mereka satu sama lain.

(Saya juga tidak boleh kalah ...!)

Bagaimanapun juga, dia terinspirasi oleh pemandangan lawannya. Ayano melanjutkan makan tanpa menghentikan sumpitnya karena tidak mau kalah dari Alisa. Melihat pemandangan itu, Alisa juga …

(Dia memakannya dengan begitu santainya ... Aku juga harus berjuang keras!)

Hasilnya adalah neraka. Itu benar-benar gambaran neraka. Sebagai akibat dari kesalahpahaman satu sama lain karena pihak lawan mampu mengimbangi, pilihan untuk menyerah sudah menghilang dari pikiran mereka berdua. Jika itu yang terjadi lagi, sisanya tinggal mendorong maju dengan tekad dan kebanggaan. Sampai mereka melewati neraka ini. Tak berselang lama kemudian …

“Fyuuhh ... terima kasih atas makanannya.”

Pada akhirnya, Ayano berhasil menaklukkan ramen Pincushion of Hell’. Sambil merasakan pencapaian yang membuatnya ingin mengibarkan bendera, Ayano dimabukkan oleh air es, dan bukan anggur kemenangan.

(Entah kenapa, Kimishima-san terlihat sangat puas...? Ap-Apakah rasanya selezat itu? Aku sih tidak bisa memahaminya ... tapi punyaku juga tinggal sedikit lagi!)

Setelah melihat Ayano berhasil mencapai puncak selangkah lebih maju, Alisa juga mengerahkan upaya terakhirnya. Dia menancapkan sumpitnya ke dalam porsi mie yang jumlahnya sudah berkurang drastis—— 

Srrr

Alisa menghentikan sumpitnya ketika dia merasakan sensasi yang tidak menyenangkan di ujung sumpitnya. Itu adalah kesalahan yang dilakukan Alisa karena dia masih seorang pemula dalam bidang ramen super pedas. Sesuatu yang menyentuh ujung sumpitnya adalah kumpulan cabai dan daging giling yang mengendap di dasar mangkuk karena dia tidak mengaduk kuah ramennya selama makan.

(? Apa?)

Dan karena dia masih seorang pemula... Alisa membuat kesalahan yang lebih fatal lagi disini. Sensasi aneh yang menyentuh sumpitnya menyebabkan dia tanpa sadar mengikisnya dan mengintip ke kedalaman neraka. Alhasil…

(Heghpft, eh, ini...!?)

Segumpal bahan pedas yang mengendap di bagian bawah dan setengah mengeras ... Kawanan iblis yang telah disegel di dasar neraka mulai dilepaskan. Sekarang jumlah kuah itu sendiri sudah berkurang, kepadatannya tidak sebanding dengan sebelumnya. Dia buru-buru menarik mie, tapi semuanya sudah terlambat. Mie yang diangkatnya ditutupi dengan begitu banyak potongan cabai merah dan butiran lada hitam sehingga tidak lagi dalam kondisi bisa disingkirkan dengan cara ditiup.

(... Eh, aku harus memakannya? Mie ini?)

Alisa merasa seolah-olah puncaknya telah meletus ketika dirinya sudah berada di ambang puncak.

Namun, dia tidak bisa terus melihatnya seperti ini selamanya. Tujuannya sudah di depan mata. Ayano yang sudah mencapai puncak lebih dulu, sedang menunggu tepat di depannya.

(Aku takkan kalah. Aku akan menghabiskannya. Aku pasti akan menghabiskannya ...)

Alisa mendorong semangat juangnya sambil menatap mie dengan ekspresi yang sedikit mengerikan. Benar sekali, jika dia mundur sekarang, dia takkan pernah tahu kenapa dia berjuang mati-matian melalui siksaan lidah ini. Untuk alasan apa dia rela melakukan semua ini ... demi persaingannya dengan Ayano? Demi kepuasannya sendiri? Tidak, sejak awal ...

(Aku juga ingin bisa menikmati makanan pedas bersama Masachika-kun!!!)

Di kedalaman neraka, Alisa akhirnya mengungkapkan niatnya yang sebenarnya. Dan kemudian, dia memasukkan mie ke dalam mulutnya…….

 

◇◇◇◇

 

“Ugh! ...?”

Alisa tiba-tiba mendapati dirinya duduk di bangku taman yang pernah dia kunjungi sebelumnya. Dia melihat sekeliling sambil berkedip terus-menerus dan melihat Ayano duduk tepat di sebelahnya, menatapnya dengan tatapan penuh kekhawatiran.

“... Apa Anda baik-baik saja, Alisa-sama?”

“Eh? Umm, aku ...”

Dia mencoba mengingat mengapa dia bisa ada di sini, tapi sayangnya dia tidak dapat mengingatnya seolah-olah ada kabut yang menutupi kesadarannya. Ayano perlahan membuka mulutnya kepada Alisa, yang memiringkan kepalanya sambil mengerutkan kening.

“Sebenarnya ... setelah Anda memakan ramennya, Alisa-sama bertingkah seolah-olah jiwa Anda habis terkuras...”

“Eh, ah, jadi, begitu rupanya ...”

Alisa melirik-lirik Ayano sambil meringkuk dalam rasa malu dan kecanggungan yang tak terlukiskan.

“Umm, terima kasih banyak, Kimishima-san. Kamu sampai membawaku sampai sejauh ini, ‘kan...? Oh iya, pembayaran! Aku belum membayar ramennya...”

“Untuk sementara, saya membayarnya untuk bagian anda juga ...”

“Ahh, maafkan aku! Aku akan menggantinya segera! Umm, kira-kira berapa harganya ...”

Setelah pertukaran uang selesai, Ayano mendadak bertanya padanya dengan nada yang sedikit sungkan.

“Alisa-sama, Anda umm ... tidak terlalu menyukai makanan pedas, ‘kan?”

“Uhh~……”

Dia ingin langsung menyangkalnya, tapi dia tidak sanggup menyangkalnya saat dirinyaa baru saja tersadar dari keadaan pingsan. Alisa mengalihkan pandangannya sebentar dan kemudian mengangguk dengan pasrah.

“... Ya. Aku memang tidak terlalu menyukai hal itu ...”

“Begitu rupanya……”

Alisa yang sudah bersiap-siap  untuk pertanyaan, “Kalau begitu, kenapa kamu pergi ke restoran itu?” tapi dia dibuat kaget karena mendengar sesuatu yang sama sekali tidak terduga.

“Sebenarnya, saya juga sama.”

“Ehh...?”

“Saya mencoba yang terbaik untuk bisa memakan makanan yang sama dengan Yuki-sama dan Ma ......, namun rasanya sulit untuk membiasakannya.”

Ayano kemudian memberi tahu motif dan perasaan yang sama seperti dirinya. Di dalam pikiran Alisa, rasa simpati dan ketertarikannya pada Ayano mulai melonjak tajam. Dia merasa seperti akhirnya bisa bertemu dengan orang yang hidup, karena cuma ada para iblis yang bermain riang di sekelilingnya di kedalaman neraka.

“Se-Sebenarnya aku juga sama… aku ingin bisa menikmati makanan yang sama dengan temanku Yuki-san…”

“Apa benar begitu?”

Persetujuan Alisa membawa pandangan senang di mata Ayano. Pandangannya persis seperti menemukan kawan di medan perang yang sepi. Bagaimanapun juga, mungkin hal terbaik yang harus dilakukan dalam hubungan manusi adalah menjadi jujur.

“Kalau begitu, jika Anda tidak keberatan ... mulai sekarang, apa Anda ingin terus berlatih makanan pedas bersama saya?”

“Ehh...?”

Alisa langsung tertegun ketika mendengar saran Ayano. Sejujurnya, Alisa tidak dalam kondisi di mana dia bisa memikirkan hal selanjutnya.

“Umm, karena saya berpikir kalau kita berdua bisa saling menyemangati dan membantu ...”

Namun, melihat Ayano yang kesulitan mengungkapkan kata-katanya sambil menunduk ke bawah dan curi-curi pandang ke arahnya, membuat Alisa tidak tega menolaknya.

(Mungkin ... Aku bisa mendapatkan lebih banyak teman)

Sisanya, yah, dia mempunyai sedikit motif tersembunyi semacam itu.

“Ya baiklah, aku mengerti. Mulai sekarang mohon kerja samanya, ya? Kimishima-san.”

“Ah——iya!”

Alisa menerima tawaran itu tanpa banyak berpikir. Alhasil, mulai sekarang Alisa dan Ayano akan menjalani perjalanan latihan yang panjang dan menyakitkan bersama, …. tapi itu cerita di lain waktu.

 

 

Sebelumnya || Daftar isi || Selanjutnya

 

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama