Otonari no Tenshi-sama Jilid 5 Bab 11

Bab 11 — Obrolan Di Pinggiran Kolam

 

Setelah Amane berhasil menenangkan diri dalam artian yang berbeda, Ia kemudian mencoba masuk ke dalam air bersama Mahiru.

Bagi Amane yang sudah bertubuh dewasa, kedalaman air kolamnya cuma setinggi pinggangnya. Namun, kedalaman yang sama mencapai dada Mahiru, jadi kolam itu tidak terlalu dangkal. Dia lalu menatap Amane dengan tatapan yang sedikit terganggu.

“…Mahiru, jangan khawatir, kamu takkan tenggelam, kok.”

“Amane-kun, jika seseorang tersedak air, bahkan air setinggi 30 cm pun bisa menenggelamkan orang, tau.”

“Jangan cemas, aku takkan membiarkanmu tenggelam. Bahkan jika kamu mulai tenggelam, aku akan memberimu pertolongan mulut ke mulut.”

Demi menghibur Mahiru, Amane membalasnya dengan bercanda, tapi Mahiru menyenggol lengan Amane dan menatapnya. Di kedalaman mata Mahiru, beberapa perasaan menunjukkan dia sedikit canggung, dan sepertinya dia justru menantikannya.

“… Jadi jika aku tidak tenggelam, kamu takkan mau menciumku?”

Mendengar bisikan pacarnya yang sedikit merajuk ini, Amane hanya bisa menatap Mahiru.

Bibir Mahiru cemberut dengan ekspresi sedikit tidak puas… dan sepertinya itu permintaan, sekali lagi merayu Amane.

Amane hanya bisa menelan ludahnya dengan kecut ketika melihat bibir merah muda Mahiru yang tidak kehilangan kemilaunya meski tanpa lipstik. Walau begitu, Amane masih mempertahankan kewarasannya di tempat umum seperti ini, jadi Ia menggigit bibirnya sendiri dan mengalihkan pandangannya ke samping.

“…A-Aku ingin menunggu sedikit lebih lama…tapi umm, bukan di sini.”

“Aku tidak pernah mengatakan kalau aku ingin melakukannya sekarang. Tapi, sebenarnya … aku sedikit cemas jika Amane-kun tidak mau melakukannya.”

“Ma-Mana mungkin aku tidak mau!? Aku sudah memikirkannya terus dari tadi!”

Mana ada cowok yang tidak ingin mencium gadis yang disukainya. Bahkan Amane, yang mempunyai hawa nafsu sedikit, masih ingin sepenuhnya menyentuh Mahiru dan menciumnya sepuasnya.

Tentu saja Amane merasa bahwa hal semacam ini harus dilakukan secara bertahap, dan jika Ia memaksakan keinginannya pada Mahiru, maka dia akan menjauh darinya. Oleh karena itu, Amane masih bersabar, dan tidak berniat melakukan terlalu banyak sekaligus.

Setelah penyangkalan kuat Amane, wajah Mahiru memerah. Kemudian, dia meletakkan dahinya di lengan Amane seolah ingin menutupi wajahnya.

Ketika melihat wajah tersipu pacarnya yang sampai ke ujung telinganya, Amane baru menyadari apa yang baru saja dikatakannya, dan ikut tersipu malu juga.

“… Tidak, bukan begitu maksudku…”

“… Apanya yang bukan?”

“Aku bukannya menolaknya, tapi… jika ini berlanjut sekarang, aku tidak bisa menahan diri, jadi tolong tunggu sebentar lagi.”

Amane selalu diejek Itsuki karena menjadi pengecut dan saat ini, Amane tidak bisa menyangkalnya.

Dari sudut pandang Mahiru, Amane mungkin terlalu lamban. Karena Amane ingin menghargainya, jadi perkembangan hubungan mereka berjalan sangat lamban seperti siput, Mahiru selalu dibiarkan menunggu terus.

(…Apa Mahiru ingin melangkah lebih jauh?)

Apa Mahiru ingin melakukan tindakan seperti kekasih yang lebih intim?

Demi memastikan hal ini, Amane menatap Mahiru dan menemukan bahwa wajahnya memerah, semburat merah menutupi separuh wajahnya saat menengadah untuk menatap Amane.

“Aku sendiri tidak keberatan untuk menunggumu, tapi Chitose juga memberitahu kalau itu tidak baik bagimu untuk menahan diri terlalu lama... jadi tolong ingat itu baik-baik, oke?”

“Chitose?”

“Yah, dalam masalah pacaran, Chitose-san jauh lebih berpengalaman…”

“Dia pasti memberitahumu sesuatu yang aneh-aneh, ‘kan!? Mahiru, dengarkan baik-baik, aku akan memberitahumu sekarang untuk memperjelasnya, kita bisa menjalani hubungan kita dengan tempo kita sendiri. Aku tidak pernah berpikir untuk terburu-buru melakukannya… dan, bila hubungan kita berkembang terlalu cepat, kamu mungkin tidak bisa menahannya juga.”

Mahiru mungkin ingin membuat beberapa kemajuan, tapi jika dia terlalu bersemangat dan melangkah terlalu jauh, dia akan mencapai batasnya dan meluap, jadi Amane merasa bahwa memperlambat bukanlah masalah.

Menurut Amane, jika dirinya kehilangan kendali atas rasionalitasnya, Ia tidak tahu apa yang akan Ia lakukan pada Mahiru nanti.

Setelah Amane berbicara dengan tatapan serius, Mahiru menurunkan matanya dengan malu-malu dan menyandarkan dahinya ke lengan Amane lagi.

“U-Uh. Um… ayo berenang.”

“Su-Sudah kubilang…”

“…Aku belum pernah ke tempat seperti ini sebelumnya. Bolehkah aku meminta Amane-kun untuk mengajariku segalanya?”

Dia berbisik lagi, “Aku tidak sering pergi keluar bersama orang lain.” Usai mendengar ini, Amane segera menggandeng tangan Mahiru dan berjalan menuju kolam renang yang lebih dangkal.

Mengingat keadaan keluarganya, pasti tidak ada yang pernah membawanya beemain-main di fasilitas seperti ini sebelumnya. Setelah memahami hal ini, Amane merasa sedih, tapi Ia akan membiarkan Mahiru mengalami semuanya secara perlahan di masa depan sebagai balasannya.

“Kalau begitu, selama liburan musim panas ini, mari lakukan semua pengalaman pertama kali Mahiru.”

“… Aku merasa malu jika kamu menggunakan istilah itu… tapi, iya.”

Meskipun Mahiru merasa tersipu, dia maish tersenyum bahagia. Amane juga tertawa seraya memegang tangannya dan berjalan menuju tempat yang tidak terlalu ramai.

 

◇◇◇◇

 

Pada awalnya, Mahiru takut tenggelam, tapi mungkin karena bersama Amane meredakan kekhawatirannya, dan dia tidak memikirkannya lagi saat mulai bermain-main di dalam air.

Amane menyewa ban pelampung di pusat layanan terdekat. Setelah menyerahkannya kepada Mahiru, dia bergumam dengan sedikit canggung, “Aku merasa kamu memperlakukanku seperti anak kecil...” Tapi dia tetap memakainya di sekelilingnya demi keselamatannya.

Mahiru meregangkan tubuhnya sambil mengapung di atas air, menatap Amane dengan ekspresi santai.

Untuk sementara waktu, Amane tetap berada di sampingnya untuk mengamati situasinya. Dengan begitu, peluang Mahiru untuk tenggelam hampir tidak ada.

“Rasanya nikmat sekali.”

Sembari tersenyum ke arah Amane, kaki Mahiru menjuntai dari sisi ban pelampung. Amane yang sedang bersandar di kolam, mengangguk setuju dengannya.

Meskipun Amane lebih suka berenang daripada bersenang-senang di air, dirinya tidak keberatan asalkan bisa menghabiskan waktu bersama Mahiru. Jika Chitose dan Itsuki ada di sini, mereka mungkin akan pergi ke seluncuran air atau bermain voli pantai.

Tidak ada salahnya melakukan kegiatan seperti itu, tapi Amane lebih memilih menikmati waktu santai yang dimilikinya.

“Dengan memakai itu, kamu pasti takkan tenggelam. Ayo bermain di air sebanyak yang kamu mau.”

“… Tapi aku merasa malu. Padahal sudah sebesar ini, aku masih menggunakan ban pelampung.”

“Wanita dewasa juga bisa menggunakannya, kok. Lihat ke sana, masih ada orang yang duduk bersantai di atasnya.”

Amane lalu menunjuk seorang wanita berbaju renang. Dia duduk di atas ban pelampung, dengan santai mengambang di permukaan air.

Bagi orang dewasa, ketimbang menggunakan ban pelampung untuk membantu berenang, kebanyakan dari mereka menggunakannya untuk bersantai.

Mahiru yang sedang duduk di ban pelampung, melihat ke arah yang ditunjuk Amane dan kemudian dengan cepat mengembalikan perhatiannya kembali ke dirinya sendiri.

Setelah menggeser posisinya di ban pelampung, Mahiru duduk dengan benar dengan kaki menjuntai lagi. Dia berkedip dan tersenyum gembira seolah-olah dia sangat menyukainya.

Kakinya yang seputih susu menonjol dari bagian bawah baju pelindung matahari Amane, menimbulkan gelombang cipratan air.

Kaki Mahiru terlihat mulus dan lembut. Saat Amane terpesona oleh lekuk kakinya, Mahiru mulai memercikkan air padanya.

Setelah mengusah tetesan air yang mengguyur wajahnya, Amane melihat ke arah Mahiru dan menemukan bahwa pacarnya sedang menunjukkan senyum bahagia dan ceria.

Amane tidak tahu apakah Mahiru mengetahui Ia melihat ke arah kakinya, atau dia hanya ingin memercikkan air padanya. Amane dengan lembut membalas cipratannya dan hal itu membuat Mahiru tersenyum lebih bahagia.

“Hei, apa-apaan cipratan tadi…”

Mungkin Mahiru berharap Amane mau bermain dengannya.

Meski demikian, karena Mahiru sedang duduk di ban pelampung dan tidak bisa bergerak dengan baik, Amane berhati-hati agar tidak menimbulkan masalah.

Setelah Amane dengan ringan menyipratkan air ke arahnya, Mahiru kembali membalasnya. Sepertinya semua cipratan air yang dilempar Amane berakhir di perutnya.

Meski Amane sudah mulai terbiasa dengan air kolam, Ia masih menyipitkan matanya karena sensasi dingin yang dirasakan badannya, dan menyipratkan air ke arah Mahiru sekali lagi.

Mahiru mungkin akan terjungkal jika Ia menggunakan terlalu banyak tenaga, jadi Amane menyipratkannya dengan lemah. Di sisi lain, Mahiru terlalu bersmeangat menendang-nendang permukaan air dengan kakinya.

Saat Mahiru melakukan ini, dia mulai kehilangan keseimbangan.

“Mahiru—”

Akan gawat jika dia terbalik dengan ban pelampungnya. Amane segera menopang Mahiru dan memintanya untuk bersandar padanya. Mahiru lalu menempel erat pada Amane.

Dia hampir saja jatuh terbalik ke dalam air, dan sepertinya dia tampak ketakutan.

“Jika kamu terlalu bersemangat, kamu bisa jatuh terjungkal, tau.”

“Um ... aku minta maaf.”

“Untungnya, ada aku di sini.”

“… Jika bukan karena Amane-kun, aku takkan segembira ini.”

Begitu mendengar bisikan manis ini, Amane hanya bisa menatap Mahiru.

Mahiru kemudian melingkarkan tangannya di punggung Amane. Dengan wajah yang masih terkubur di dadanya, dia lalu melanjutkan.

“…Karena aku bersama Amane-kun, semua yang kulihat mulai terasa bersinar. Karena aku bersama Amane-kun, aku selalu merasa sangat bahagia… dan, kupikir Amane-kun pasti akan menyelamatkanku.”

“… Aku jadi bermasalah setelah mendengar kata-kata imut seperti itu.”

Ketika bisikan Mahiru menyampaikan cintanya pada Amane dari awal hingga akhir, wajah Amane langsung memerah.

Ia ingin berteriak keras tentang keimutan pacarnya.

(...Aku sangat mencintainya)

Tentu saja itu sudah jelas. Namun, ketika merasakan banyak kebaikan yang terpancar darinya, Amane tidak bisa menahan perasaan bahagianya yang dipenuhi dengan kasih sayang.

Jika mereka ada di rumah, Amane pastti akan mengelus-elus kepalanya dengan penuh semangat dan tidak pernah melepaskannya. Sayangnya, karena mereka berada di depan umum, Ia harus berhati-hati agar tidak berlebihan.

Oleh karena itu, Amane hanya memeluk Mahiru erat-erat seraya berbisik lembut “…Aku akan memanjakanmu sampai puas setelah kita pulang nanti,” dan melepaskannya. Alhasil, Mahiru masih berendam di air tapi wajahnya memerah seperti apel matang.

“… Aku harap begitu.”

Amane tenggelam setelah mendengar bisikan Mahiru.

Amane memejamkan matanya sambil memusatkan perhatian pada pernapasannya, untuk melepaskan kekhawatiran yang akan muncul.

Mahiru yang masih tersipu, mulai menunjukkan senyum puas untuk beberapa alasan, dan bergumam, “Aku juga ingin memanjakan Amane-kun.” Amane tercengang dan menatap Mahiru, “Bukankah aku sedang dimanja sekarang?” tapi Mahiru tertawa lagi.

“Aku juga ingin mendominasi. Karena akhir-akhir ini, aku selalu dibully oleh Amane-kun.”

“… Kamu sering menyerangku sebelum kita pacaran, aku tidak menginginkan itu. Sekarang giliranku.”

“Giliranku terlalu banyak dilewati. Aku ingin melakukan sesuatu untuk membuat Amane-kun juga merasa malu.”

"Itulah yang kumaksud ... baka.

Mahiru ingin membuat Amane malu dan tersipu lalu mengagumi penampilannya, jadi Ia harus tetap berpikir jernih dan kemudian mengambil kesempatan saat itu datang.

Mahiru gampang malu saat digoda, dan Amane ingin mempertahankan posisi dominannya disini. Melihat Mahiru yang sepertinya sudah sedikit tenang, Amane mengangkat rambut di bawah telinga Mahiru dan mencium pipinya. Dia mencoba menekan rasa malu yang mengalir keluar dari hatinya dan menatap wajah imut Mahiru yang membeku dalam keadaan memerah.

“… Apa kamu masih ingin membuatku malu setelah seperti ini?”

“Bu-Bukannya begini…”

“Tidak ada yang lucu tentang diriku. Ayo istirahat sebentar, aku akan membelikanmu minuman.”

Amane mengusap rambut basah Mahiru untuk melegakannya. Ia lalu membelai kepalanya sebentar, dan Mahiru berbisik, “Aku ingin jus jeruk” masih sedikit terkejut dengan kejadian tadi.

Sepertinya Mahiru ingin menyembunyikan rasa malunya. Amane tersenyum diam-diam dan membelai kepalanya lagi.

 

◇◇◇◇

 

“Meleng sebentar saja, keadaannya sudah begitu.”

Amane kembali dengan membawa minuman dan menemukan Mahiru sedang dihadang oleh dua cowok.

(Inilah mengapa aku ingin tinggal bersamanya, walaupun akulah yang salah sih)

Meski sekarang adalah hari kerja, masih ada banyak antrean di kios jajanan, jadi setelah ditinggal sebentar, peristiwa ini tidak terlalu mengejutkan. Mahiru sedang dirayu oleh cowok lain.

Setelah melihatnya dari jauh, Mahiru sepertinya tidak memaksa mereka pergi karena dia bersikap sopan, tapi Amane masih merasa tidak nyaman sebagai pacarnya. Ia bahkan tidak ingin ada orang lain yang berbicara begitu sok akrab dengan Mahiru.

Mahiru sendiri sudah menyiratkan dengan jelas ketidaksukaannya. Untuk cowok yang tidak dikenal, sepertinya tidak perlu memamerkan senyum malaikat yang ditunjukkan kepada mereka. Dengan masih mengenakan pakaian pelindung matahari yang ketat, Mahiru tidak memiliki tersenyum sama sekali, dan sepertinya dia tidak bisa memanfaatkan senyum malaikat yang begitu indah. Melihat pemandangan ini, Amane mendesah pelan.

(...Fakta bahwa mereka bahkan tidak bisa menyadari kalau tindakan mereka itu sudah mengganggunya merupakan salah satu alasan kenapa mereka tidak bisa menggaet gadis-gadis.)

Lagi pula, seorang gadis yang sepertinya sedang menunggu seseorang mengenakan jaket parka cowok, dan mereka masih tidak menyadari kalau dia sudah punya pacar. Jika mereka melihatnya tapi memilih untuk mengabaikannya berarti mereka mempunyai sifat yang busuk, tapi jika mereka gagal menyadari hal tersebut berarti mereka orang yang acuh. Amane punya pikiran jahat semacam itu, tapi sudah sewajarnya Ia berpikir jelek seperti itu karena pacarnya sedang digoda.

Mahiru sedang duduk di bangku menunggu Amane. Dia mungkin tidak bisa melarikan diri dari orang-orang ini karena dia tidak bisa bangun. Amane memutuskan untuk meminta maaf nanti dan dengan cepat berjalan menuju Mahiru.

“Maaf sudah membuatmu menunggu”

Setelah Amane mendekatinya dan berbicara dengan Mahiru sambil memegang minuman di kedua tangannya, Mahiru kembali menatap padanya dengan gembira. Sangat jelas sekali bahwa dia terjebak dalam situasi ini sudah menyebabkan masalah baginya.

Melihat Mahiru tiba-tiba mengubah ekspresinya, kedua cowok itu tertegun dan menatap Amane.

Mereka memeriksa penampilan Amane, dan menunjukkan rasa superioritas mereka. Hal tersebut kemungkinan besar karena Amane tidak berdandan dengan gaya ikemennya hari ini.

Lagi pula, Amane tidak bisa menggunakan minyak rambut jika mereka berenang. Ia memangkas sedikit rambutnya dengan gunting, tapi penampilannya masih tampak agak culun.

“Maaf, gadis ini sedang bersamaku, jadi jangan coba-coba merayunya.”

Diremehkan merupakan sudah menjadi kejadian umum bagi Amane, jadi Ia tidak mempermasalahkan tatapan mengejek mereka. Kemudian, senyum kedua cowok itu semakin melebar.

“Cewek ini bareng elu? Yang bener aja, kalian berdua enggak serasi banget~”

“Mana mungkin cowok muram kayak elo bisa bareng cewek macam dia.”

Meskipun Amane sadar diri kalau dirinya lumayan memberikan kesan muram, Ia memang tidak berdandan hari ini, dan tidak bermaksud untuk menyangkalnya.

Hanya saja jika mereka berkata begitu, kata-kata tersebut juga berlaku untuk mereka. Mahiru mempunyai penampilan polos, anggun, dan menawan. Cowok-cowok berpenampilan mencolok yang jalan-jalan sambil merayu gadis-gadis, sangat tidak cocok untuk Mahiru.

Demi tidak menimbulkan masalah, Amane memutuskan mencari cara membalas untuk meredakan situasi. Namun, tiba-tiba, Mahiru tertawa pelan.

Saat dia tiba-tiba tertawa, Amane berbalik ke arahnya dan mendapati Mahiru dengan sopan menyembunyikan mulutnya.

“Jika di pilih antara orang yang ceria dan suram, Ia memang berada di sisi yang suram.”

“Jangan menertawakanku…”

“Aku tahu kalau dirinya tidak terlalu ceria, tapi Ia merupakan orang yang sangat lembut dan perhatian.”

Amane tidak tahu apa yang ingin Mahiru coba katakan, jadi dirinya tetap tutup mulut. Kemudian, Mahiru dengan tegas menatap kedua cowok itu untuk pertama kalinya.

Tidak ada niat baik dalam tatapannya, yang ada hanya hawa dingin yang terpancar dari tatapan tajamnya.

(...Apa jangan-jangan dia marah?)

Mahiru paling benci melihat ada orang lain yang meremehkan Amane. Dia sudah tidak memiliki penilaian yang baik tentang orang-orang ini, dan ucapan mereka membuatnya semakin marah.

“Jadi, walaupun Ia muram, memangnya ada masalah dengan itu?”

Kalimat yang dilontarkan Mahiru tidak membuatnya terdengar marah. Suaranya seolah-olah dia serius menanyai mereka, dan membuat keduia cowok itu terdiam.

“Aku menyukainya, tak peduli bagaimana menurut pendapat kalian. Aku menyukai kepribadiannya, penampilannya, dan temperamennya. Masalah suram atau ceria itu hanyalah masalah sepele. Perasaan cintaku padanya tidak sedangkal itu.”

Setelah berbicara dengan tegas, Mahiru tertawa manis pada Amane.

Ketika melihat senyum penuh cinta yang takkan pernah dia tunjukkan pada orang lain, Amane merasa hatinya terbakar. Amane tidak pernah menyangka bahwa Mahiru akan berbicara secara terbuka tentang dirinya seperti ini, dan mau tak mau mengagumi kegembiraan yang merayap di hatinya.

“Alangkah baiknya jika kalian berdua bisa menemukan seorang gadis baik yang berpikir begitu juga di masa depan.”

Mahiru menyimpulkan dengan kalimat itu. Wajah dia tunjukkan bukanlah senyuman manis yang biasa ditunjukkan pada Amane, tapi senyuman ala malaikat yang cukup kuat untuk membekukan orang. Kedua cowok itu hanya bisa menatapnya dengan kelabakan.

Pipi mereka terlihat merah merona, mungkin karena senyum mempesona Mahiru. Amane diam-diam merasa penasaran bagaimana jadinya mereka jika menyaksikan ekspresi Mahiru yang hanya ditunjukkan kepadanya.

“Ah, tidak, yah itu…”

“Onii-san yang keren, coba lihat ke sana.”

Mereka berdua tergagap ketika mencoba menanggapi ucapan Mahiru, tapi Amane melambaikan tangannya dengan santai dan menunjuk ke suatu tempat.

Mereka lalu menoleh ke arah yang ditunjuk Amane, dan menemukan ada pengawas kolam yang sedang mengawasi mereka dari kejauhan.

Manajemen keselamatan di dalam fasilitas tersebut pada dasarnya untuk mengingatkan orang-orang agar tidak berkelahi di dekat air dan untuk mencegah kecelakaan. Tentu saja, mereka juga memantau orang-orang yang mencurigakan.

Mereka berdua menyadari bahwa petugas pengawas kolam sedang memelototi ke arah mereka, dan mereka pun pergi dengan panik. Amane tidak bisa menahan tawa pada mereka berdua, yang cukup berani untuk berbicara dengan gadis yang sudah punya pacar, tetapi bergegas kabur ketika dicurigai petugas pengawas.

Setidaknya, Amane dan Mahiru sekarang sendirian, dan Ia pun duduk di sebelahnya.

“Maaf, aku datang terlambat.”

Pertama-tama, dirinya harus meminta maaf.

Lagi pula, itu semua karena Amane meninggalkannya sendirian sehingga seseorang mencoba untuk merayunya.

“Aku baik-baik saja, di sana cukup ramai, ‘kan? Dan ketika aku sendirian, hal semacam ini sering terjadi.”

“… Itulah sebabnya ini kesalahanku, aku seharusnya tidak meninggalkanmu sendirian.”

“Orang-orang itu cuma bisa menggonggong tanpa punya nyali, jadi aku sama sekali tidak takut dengan orang seperti mereka.”

(Memang benar kalau mereka langsung kabur setelah menyadari jika mereka sedang diawasi)

Jika tidak ada petugas kolam yang mengawasi, situasinya mungkin akan menjadi-jadi. Amane awalnya berniat meraih tangan Mahiru dan menyelonong pergi jika masalahnya semakin membesar, tapi untungnya kedua orang itu justru melarikan diri lebih dulu.

Amane menyerahkan jus jeruk yang dibelinya kepada Mahiru dan menggunakan sedotan untuk menyeruput soda yang Ia pesan untuk dirinya sendiri.

“… Apa kamu merasa takut?”

“Daripada takut, rasanya suasana hatiku berubah jadi kesal.”

“Maaf, ayo semangat lagi, ya?”

“Padahal itu bukan salah Amane-kun, kok… tapi, kalau begitu aku mau mencicipi minumanmu.”

Mahiru menunjuk ke arah soda yang baru saja diminum Amane, dan tersenyum nakal sembari menambahkan, “Setelah itu kita akan impas.” Amane menyerahkan gelasnya dan berkata seraya tersenyum masam, “Aku memang bukan tandingan Mahiru.”

Mahiru sengaja meminta minumannya untuk tidak membuat Amane merasa terlalu bersalah. Sedikit demi sedikit, Amane merasakan rasa malunya muncul dari kebaikan Mahiru.

Mengenai masalah barusan, Mahiru bahkan sudah tidak peduli lagi. Dia mengambil gelas soda dari Amane dan meneguknya... tapi alisnya tiba-tiba berkerut dan matanya mulai berkaca-kaca.

Karbonasinya sedikit kuat, tetapi tidak terlalu berlebihan sehingga membuat seseorang bereaksi. Amane bisa meminumnya secara normal, tapi Mahiru sepertinya Mahiru tidak bisa.

“Eh, meang rasanya aneh, ya?”

“… Tidak, hanya saja aku belum pernah mencoba minuman berkarbonasi sebelumnya… aku tidak pernanh menyangka kalau itu minuman yang begitu kuat.”

Karena rangsangannya yang kuat, mata Mahiru basah. Ngomong-ngomong, Mahiru biasanya meminum air putih, teh, kopi, dan sesekali jus buah. Amane belum pernah melihatnya meminum minuman bersoda sebelumnya.

Mahiru sama sekali tidak membenci makanan pedas, tapi sepertinya dia tidak tahan dengan minuman bersoda.

“Kurasa karena kamu belum pernah minum soda sebelumnya, kamu tidak boleh minum sesuatu yang sekuat ini… kenapa kamu tetap ingin meminum ini?”

Amane lalu mengambil minuman soda dari tangan Mahiru dan menepuk kepalanya. Mahiru kemudian balas menatapnya.

“…Karena aku ingin merasakan hal yang sama dengan Amane-kun.”

Begitu mndengar gumaman yang manis ini, Amane hampir menjatuhkan sodanya, tapi dirinya nyaris mencegah peristiwa itu.

(…Pacarku terlalu manis.)

Penampilan dan tingkah laku Mahiru sudah cukup imut, jadi ketika dia mengatakan kalau dia ingin berbagi minumannya, Amane mendapat pukulan telak.

Singkatnya, karena Mahiru terlalu imut, Amane tidak berani menatap langsung ke arahnya. Amane hanya bisa menggenggam tangannya, memutar tubuhnya menjauh untuk menghindari tatapannya. Kemudian, Mahiru meraih lengan Amane dan bersandar padanya.

“… Aku juga ingin mencoba jus jerukmu.”

“Fufu, ini silakan.”

Amane tidak melihat langsung ke arah Mahiru, yang menunjukkan senyum lembut padanya. Ia justru meletakkan tangannya di sandaran tangan bangku dan memalingkan muka.

Mungkin karena tindakan inilah yang membuatnya tidak menyadari ada dua orang yang mendekari mereka.

“Halo, gadis cantik dan cowok pengecut di sana, bagaimana kalau kalian ikut bermain dengan kami?”

Mereka berdua dibuat terkejut ketika mendengar suara yang akrab dan sembrono, Mereka takkan pernah menyangka mendengar suara itu di tempat seperti ini.

Amane menoleh ke sumber suara tadi, dan menemukan dua wajah yang tak terduga.

Salah satu dari mereka ialah cowok tampan dengan suara sembrono, sedangkan pasangannya merupakan gadis tomboy yang cantik. Mereka berdua adalah wajah yang sering dilihat Amane di sekolah.

Mau tak mau Amane merasa curiga dengan kemunculan mereka.

“Kenapa kalian berdua bisa ada di sini?”

“Pertama, kami tidak mengikutimu. Ini murni cuma sebuah kebetulan.”

Itsuki melambaikan tangannya untuk menyangkal kecurigaan Amane.

Lagi pula, jika mereka memang membuntutinya, mereka pasti akan muncul untuk membantu ketika Mahiru didekati kedua cowok perayu tadi. Dilihat dari waktunya, Itsuki dan Chitose baru menyadari keberadaan mereka setelah Amane kembali ke Mahiru.

Dari ekspresi Chitose, Amane juga bisa melihat bantahannya.

“Aku memang mendengar dari Mahirun kalau kalian akan pergi ke kolam renang minggu ini, tapi aku tidak menyangka akan bertemu kalian di fasilitas yang sama di hari yang sama pula. Maaf karena sudah mengganggu dunia pribadi kalian~”

“… Ya ampun.”

Karena pertemuan itu benar-benar kebetulan, Amane tidak bermaksud mengeluh, tapi Chitose tertawa menggoda sambil menambahkan kalimat itu, yang mana membuat Amane menatapnya dengan tatapan lelah.

Walau begitu, Chitose juga memakai baju renang, dan terlalu lama menatap badannya merupakan tindakan tidak sopan, jadi Amane beralih ke wajahnya.

Chitose mengenakan bikini oranye dengan celana pendek. Begitu menyadari tatapan Amane, dia tertawa lagi sembari berteriak genit “cabul ih~” dan menggeliat-geliat tubuhnya.

Chitose tahu bahwa Amane tidak bermaksud memandangnya, tapi dia tetap memutuskan untuk menjahilinya. Amane menghela nafas dan menatap Itsuki, memberi isyarat padanya untuk menenangkan pacarnya yang suka usil itu. Amane hanya mendapat jawaban “dia terlalu bersemangat selama musim panas ini~”, artinya Itsuki sama sekali tidak berniat menghentikannya.

Astaga, seraya menghela nafas lelah begitu, Amane menatap Mahiru dan melihat kalau dia sedang membuka ritsleting bagian depat jaket pelindung, yang sedari tadi menutupi dirinya. Meskipun itu adalah jaket pelindung matahari, menutup ritsleting sepenuhnya di tengah musim panas masih membuatnya merasa gerah.

Ketika Mahiru membuka ritsleting dadanya untuk memberinya sedikit udara segar, Chitose berkedip terkejut ke arah Mahiru.

“Hah? Mahirun?”

“Ya?”

“… loh? Mahirun lebih memilih pakai baju renang ini?”

“Baju renang ini?”

“Eh, habisnya baju renang yang hit—”

Alasan mengapa suara Chitose tiba-tiba terputus karena Mahiru menutup mulutnya.


Badan Mahiru sedikit kaku dan mengulurkan tangannya untuk menghentikan ucapan Chitose, dia lalu membeku saat menyadari tatapan Amane.

“… Bukan apa-apa, kok.”

Mahiru menggelengkan kepalanya, tapi wajahnya memerah saat dia mencoba menutupinya.

“Jadi masih ada satu lagi, ya.”

“Eh, ah, itu sih … aku tidak akan pernah bisa memakai yang lain di depan umum.”

“Lagipula, ketat banget iya ‘kan. Mahirun bilang kalau dia Cuma baru memakainya jika berduaan dengan Aman—”

“Chitose, tolong diam dulu sebentar.”

“Iyaa~”

Mulut Chitose kembali ditutup oleh Mahiru, tapi dia sama sekali tidak pernah kapok.

Meskipun Amane terkejut bahwa Mahiru membeli baju renang yang membuatnya malu untuk memakainya, dia memberitahu kalau dia bersedia menunjukkannya kepada Amane ketika hanya ada meeka berdua saja. Begitu mendengar informasi tersebut, wajah Amane sudah memanas.

“… Memangnya sampai seberbahaya itu?”

“Ketimbang dibilang berbahaya, lebih tepatnya sosok Mahirun terlalu bagus, jadi baju renangnya tidak menutupinya dengan baik.”

“Chitose-san.”

“Mahirun akan marah jika aku melanjutkan lebih dari ini, jadi lebih baik harap nantikan saja untuk melihatnya Amane~”

“A-Aku tidak akan membiarkanmu melihatnya!”

Mahiru tersipu malu dan berusaha untuk menggubrisnya. Amane menghormati keputusan Mahiru, tapi dia masih merasa sedikit sedih.

Amane takkan memaksanya untuk memakainya, tapi dia ingin melihatnya mengenakan baju renang semacam itu.

Seperti yang diberitahu Chitose, baju renangnya mungkin tidak terlalu terbuka, tapi tetap menonjolkan sosok langsingnya yang cantik.

Melihat tubuh Mahiru yang memakai baju renang sekarang sudah menguji batin Amane. Dengan asumsi bahwa baju renang lainnya lebih terbuka, mungkin dia seharusnya berterima kasih atas penolakan Mahiru untuk menunjukkannya.

Amane masih tetap ingin melihatnya terlepas dari apa yang dia pikirkan.

Amane mungkin secara tidak sengaja menunjukkan penyesalannya, dan hal tersebut disadari oleh Chitose. Sambil menyeringai, dia menyindir Mahiru lagi.

“Kamu yakin tidak mau membiarkan pacarmu melihatnya?"

"…Mungkin bisa kupertimbangkan lagi.”

Mahiru menjawab dengan suara lemah, dan menarik kerudung jaket parkanya ke atas, seolah-olah ingin bersembunyi dari tatapan Chitose dan Amane. Meski mereka tidak bisa melihat wajahnya secara langsung, mereka berdua masih membayangkan wajah tersipunya yang semerah tomat.

“… Chitose, jangan terlalu sering menggodanya. Mahiru tidak perlu memaksakan dirinya terlalu keras.”

“Tapi Mahirun tuh imut, ‘kan?”

“Kamu ngomongin apaan sih, itu sih sudah pasti.”

“Ooh~ kamu mengatakannya dengan sangat alami~”

Amane hanya menyatakan fakta, tapi bahkan itu membuat Chitose terlihat tercengang.

Seharusnya tidak mengherankan karena Amane selalu mengakui bahwa pacarnya memang imut, tetapi mereka masih terkejut dengan melebarkan mata mereka ketika mendengar respon cepat Amane.

“Pada akhirnya, Amane juga sangat memanjakan pacarnya … padahal dulu-dulu kamu pernah bilang enggak bakal pacaran, apalagi mikirin cinta-cintaan~”

“Cerewet, kamu nyebelin banget.”

“Oh~ jadi ini yang disebut 'cinta bisa mengubah seseorang' ya~”

“Kamu pasti sedang meledekku, iya ‘kan? Sudah menjadi fakta yang tak bisa dibantah bahwa Mahiru itu imut. Sudah sewajarnya jika aku memuji pacarku sendiri dengan sebutan imut. Bukankah Itsuki selalu membual tentang betapa imutnya dirimu juga, ‘kan?”

Setelah hubungannya dengan Itsuki membaik, Amane harus mendengarkan ocehan hariannya. Persetujuan singkat Amane tidak seburuk aliran kekesalan yang terus-menerus diberikan Itsuki padanya.

Amane berpikir, ‘Memangnya seaneh itu?’ dan menatap mereka. Mereka berdua menghela nafas dan hanya mengangkat bahu.

Amane sedikit kesal dengan tanggapan ketus mereka, dan Itsuki tersenyum kecut.

“Tapi, sebaiknya kamu berhenti sampai di situ saja.”

“Kenapa emangnya?”

“Shiina-san hampir mati karena menahan rasa malu.”

Bertanya-tanya mengapa Itsuki tiba-tiba menyebut nama Mahiru, Amane berbalik menatapnya. Ia menemukan Mahiru mencengkeram tudungnya dan gemetaran karena malu.

Mahiru tampak malu-malu saat dipuji di depan orang lain. Saat Amane panik, Mahiru mengangkat kepalanya sedikit untuk menatapnya dan tampak menangis karena malu.

“… Sifatmu yang begitu adalah kelebihan sekaligus kelemahanmu, Amane-kun.”

Mahiru bergumam pelan dan mengenakan tudung lagi. Amane hanya bisa menatap bingung sampai Mahiru bisa kembali pulih.

 

◇◇◇◇

 

Setelah rasa malu Mahiru memudar, mereka sekarang bersenang-senang dengan jumlah 4 orang. Kelebihan dari memiliki grup seperti ini ialah semakin sedikit cowok yang mencoba memulai percakapan dengan Mahiru.

Karena Itsuki dan Chitose bersama mereka, Mahiru takkan ditinggal sendirian, dan Amane juga terus mengawasinya.

Selain itu, karena sekilas Itsuki terlihat seperti tipe cowok tampan, gampang akrab dan sosok ideal, jadi cowokc-cowok yang mencoba mendekati mereka tampak ragu-ragu.

Namun, karena penampilan Chitose, Mahiru, dan Itsuki semuanya sangat rupawan, Amane tidak bisa menahan perasaan bahwa grup mereka cukup menarik perhatian.

“Mahirun~ Mahirun~ rasakan ini~.”

“Kyaaa… duhh, dasar Chitose-san…”

Mahiru berbicara dengan tekanan diam, dan semua orang pergi ke kolam dangkal untuk bermain. Amane duduk di pinggir kolam, mengawasi Mahiru dan Chitose yang saling bermain dengan memercikkan air.

Melihat betapa bahagianya mereka berdua, Amane merasa lega.

Mereka berdua adalah dua gadis dengan kepribadian yang berbeda dan terlihat sangat memikat saat bermain bersama.

"Ah, rasanya memang enak dilihat ketika melihat perempuan menjadi begitu intim."

Itsuki duduk di sebelah Amane dan menatap keduanya dengan senyum cengengesan menghiasi wajahnya.

“Kesanmu kedengeran seperti om-om paruh baya, tau.”

“Sembarangan saja kalau ngomong. Kamu juga merasakan hal yang sama ketika melihat mereka terlihat dekat, iya ‘kan?”

“IYa sih, tapi tidak sampai segitunya.”

“Tapi kamu pasti merasa damai melihat mereka bersama, dasar cowok otak mesum”

“Kalimat itu juga berlaku sama untukmu.”

“Aku sih tidak menyangkalnya.”

Amane bergumam, “Dasar kampret”, dan menatap ke arah Mahiru yang masih berada di kolam bersama Chitose.

“Jadi, mengapa kamu terlihat begitu linglung?”

Itsuki bertanya pada Amane sembari mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat ekspresinya.

“Ah, bukan apa-apa sih, tapi gimana bilangnya, ya? Rasanya seperti Mahiru terlihat lebih manis dari sebelumnya.”

“Kamu juga mulai membual tentang pacarmu.”

“Bukannya membual, tapi dia terlihat lebih sering tertawa sekarang. Sebelumnya, dia jarang sekali tertawa dengan segenap hatinya.”

“Aku sih tidak benar-benar melihatnya, tapi dengar-dengar dia cukup jutek?”

“Ya, dia lebih menyendiri dan berlidah tajam. Karena dia sama sekali tidak bisa mempercayai orang … tapi saat melihatnya bisa tersenyum bahagia sekarang ikut membuatku merasa senang.”

Dibandingkan saat mereka pertama kali bertemu, senyuman Mahiru terlihat jauh lebih alami.

Lidahnya yang tajam di masa lalu membuat siapa saja merasa mustahil ketika melihat senyum riang dan kejujuran yang dia tunjukkan sekarang.

Meskipun Amane percaya bahwa perubahan Mahiru karena keterlibatan dirinya, tapi Chitose juga berpengaruh besar. Ada beberapa hal yang hanya dibicarakan dan dipahami di antara para gadis.

Ketika melihatnya begitu bahagia, Amane juga ikut bahagia.

“Aku merasakan hal yang sama, Shiina-san memang sudah berubah. Dia dulu sulit didekati seperti boneka, tapi sekarang dia benar-benar sudah menjadi gadis yang sangat dicintai Amane.”

“Gadis yang sangat dicintai apanya … yah itu sih tentu saja.”

“Ya ampun, kebaikannya itu sangat polos dan mudah dimengerti. Jelas sekali kalau memberimu perlakuan khusus, bahkan sebelum kalian berdua mulai berpacaran.”

“…ngomong-ngomong, Itsuki, kamu barusan bilang kalau Mahiru memperlakukanku seperti ini untuk sementara waktu…”

“Maksudku, dia sudah jelas memberimu kode. Rasanya bikin greget ketika melihatmu tidak menyadarinya.”

“Benarkah?”

Bahkan sebelum berkencan, Amane samar-samar menyadari bahwa Mahiru menyukainya, tapi dirinya masih merasa ragu karena belum sepenuhnya yakin.

“Sejak Shiina memercayaimu dan tertarik padamu, dia mungkin sedikit berubah.”

“…Ya”

“Ditambah lagi, mungkin karena ada Chi juga. Dalam artian baik atau buruk, dia selalu tertarik pada orang dan mudah didekati, jadi dia membantu Shiina-san.”

“Tolong kendalikan pacarmu napa.”

“Chii takkan mengorek terlalu jauh, jadi tidak apa-apa. Terlebih lagi, coba lihat di sana, Shiina-san tersenyum bahagia.”

Amane melihat ke arah yang ditunjuk Itsuki dan menemukan bahwa Mahiru sedang dipeluk oleh Chitose, menerima pelukan tersebut meski merasa tersipu.

Dari sorot matanya, Amane tahu bahwa Itsuki memercayai Chitose, dan ekspresinya sangat lembut. Amane juga berpikir itu adalah hal yang baik untuk Mahiru karena bisa memiliki teman yang baik.

Meski begitu, Amane masih berharap agar Mahiru paling memercayainya.

Itsuki menepuk punggung Amane dan berkata, “Jangan khawatir.” Amane tersenyum kecut, lalu Chitose melambai ke arah Mahiru, “Hei, mas-mas ganteng yang bengong melulu di tepi kolam, ayo bermain di sini~”

Mahiru juga melambaikan tangannya dengan ringan, seolah-olah berharap Amane untuk datang.

"Gadis-gadis manis itu sudah memanggil kita tuh... ayo pergi.”

Itsuki turun dari tepi kolam, dan air membasahi pinggangnya. Melihatnya berjalan ke arah keduanya sambil menyeringai, Amane pun ikut tertawa dan berjalan menuju Mahiru dan yang lainnya.

 

◇◇◇◇

 

“Fyuh~ rasanya puas banget mainnya~”

Meskipun mereka pelajar SMA, stamina mereka masih sedikit terkurashsetelah bermain selama beberapa jam, jadi mereka berempat duduk di bangku untuk beristirahat.

Bermain voli pantai, dan bermain seluncuran air sesuai permintaan Chitose, semuanya pasti sangat menyenangkan bagi Mahiru.

Mahiru sedang duduk di sebelah Amane dengan perasaan segar, tapi dia mungkin sedikit lelah karena dia sedikit bersandar pada tubuh Amane.

“Aku sangat bahagia. Sudah lama aku tidak bersenang-senang seperti ini.”

“Yah, aku juga sudah lama tidak melakukan kegiatan fisik selelah ini.”

“Dulu di festival olahraga, kamu tidak tampil ekstra, Amane. Kamu benar-benar berolahraga dengan baik di sini.”

Meskipun Amane tidak buruk dalam olahraga, tapi kemampuannya juga tidak sejago anggota klub olahraga. Ia tidak terbiasa melatih seluruh tubuhnya seperti sekarang. Amane masih mengikuti jam pelajaran olahraga dengan serius, tetapi kegiatan dalam pelajaran takkan semenyenangkan ketika Ia melakukannya sendiri.

“Aku sudah berenang dengan serius sejak pertengahan minggu.”

“Tempat Ini benar-benar tempat yang bagus untuk berenang… Sesekali datang ke sini rasanya cukup menyenangkan juga, bukan?”

“Saat kamu berenang, Mahirun memperhatikanmu loh, Amane.”

“Eh, ah, ma-maafkan aku Mahiru”

Karena Mahiru dan Chitose bermain bersama dengan gembira, Amane juga pergi untuk berenang sendiri tapi mungkin itu membuat Mahiru menunggunya.

Namun, Mahiru menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Bu-Bukan itu yang kumaksud… tapi kupikir pasti enak sekali ya.”

Amane berpikir sebentar dan memahami apa yang dimaksudnya. Sepertinya Mahiru merasa iri dengan Amane yang bisa berenang dengan baik.

Namun, Amane juga pernah menyebutkan di depan Chitose dan Itsuki bahwa Mahiru tidak bisa berenang, jadi Ia hanya tersenyum pahit dan menepuk kepala Mahiru.

Jika masih ada kesempatan, mungkin ada baiknya pergi latihan renang lain kali.

“Lain kali kalau ada kesempatan, ayo pergi datang ke kolam lagi”

“I-Iya”

“Ehh, apaan nih ~? Jangan bilang kalau kamu ingin melihat bikini hitam Mahirun?”

“Memangnya kamu ini bodoh apa? Aku tidak ingin penampilannya yang begitu dilihat oleh orang lain.”

“Padahal kalau berduaan, kamu pasti ingin melihatnya, ‘kan.”

“Itu sih … hak istimewa seorang pacar, kan?”

Amane bahkan takkan pernah memikirkan ingin menunjukkan sosok bikini hitam Mahiru kepada orang lain. Bahkan sekarang, Mahiru ditutupi jaket parka miliknya, dan Amane bahkan ingin membuat Mahiru memakai celana pendek untuk berenang.

“Katanya sih begitu. Jadi Mahirun, apa kamu akan menunjukkannya kepada pacarmu?”

“Sudah kubilang, kalau itu bisa didiskusikan."

Amane menoleh ke arah Mahiru dan tersenyum tipis, lalu mengelus kepalanya lagi.

 

◇◇◇◇

 

Setelah keluar dari fasilitas renang bersama, mereka berempat kemudian pergi menuju restoran keluarga terdekat.

Waktunya masih belum jam 6 sore, jadi mungkin jam makan malam masih sedikit lebih awal, tapi perut Amane merasa keroncongan setelah berenang dan bermain di kolam renang tadi. Mungkin waktunya tepat untuk mereka.

Mahiru tidak memiliki banyak kesempatan untuk mengunjungi restoran keluarga, jadi dia tampak sedikit bersemangat. Penampilannya sangat imut sehingga Amane tidak bisa menahan tawa, tapi tawanya segera dibungkam karena Ia dipukuli dengan ringan dari sudut yang tidak bisa dilihat oleh Chitose dan yang lainnya.

“Ngomong-ngomong selama liburan musim panas, Mahirun akan mengunjungi kampung halaman Amane, ‘kan?” tanya Chitose sambil memotong steak hamburger.

Untuk mengatur jadwal jalan-jalan dengan Chitose, seharusnya Mahiru sudah memberitahunya bahwa dia akan pergi ke kampung halaman Amane, tapi Chitose tetap menyeringai.

“Rasanya seperti Mahiru akan memperkenalkan dirinya sebagai calon menantu.”

“Terlambat, Mahiru sudah bertemu dengan orang tuaku.”

“Jadi begitu ya~ … Dia sudah seperti seorang istri yang mengikuti suaminya kembali ke kampung halamannya.”

“Ya, ya, terserah kamu mau ngomong apaan.”

Meskipun Amane berpikir, 'kamu ini bicara apa, kesampingkan dulu menikah, kita bahkan belum bertunangan', tapi secara umum, pasangan SMA biasanya tidak pergi menemui orang tua satu sama lain, jadi Amane tidak bisa sepenuhnya menyangkalnya.

Mengabaikan celotehan Chitose, Amane memakan telur dadar dari paket makanan ala Jepang. Chitose menunjukkan penyesalan karena dia tidak bisa menggodanya.

Amane mengunyah telur dadarnya dengan suka cita tapi Ia merasa ada yang kurang. Berbeda dengan masakan Mahiru, telur dadar di sini rasanya biasa saja.

“Sudah kuduga, masakan Mahiru memang yang terbaik.” Setelah Amane menggumamkan itu, dia melirik ke arah Mahiru dan menemukan kalau pipinya terlihat sedikit memerah.

Mungkin penyebutan 'istri' tadi membuatnya malu.

“Jadi Shiina-san akan pergi ke kampung halaman Amane… kurasa ibu Amane pasti sangat senang tentang itu, ‘kan?”

“Apa Akazawa-san mengenal Shihoko-san?”

“Tidak, aku hanya membayang dari apa yang kudengar melalui Amane.”

“Karena ibuku memiliki kepribadian yang mirip… jadi kamu akan merasakan keakraban dengannya.”

Itsuki hanya mendengarkan kata-kata Amane, dan langsung menilai bahwa Shihoko merasa seperti Chitose. Jika Chitose bertemu Shihoko, mereka pasti akan langsung klop.

“Ehh, apaan? Apaan?”

“Hmmm, aku hanya mengatakan kalau Chi sangat imut”

Itsuki segera mengelabui dan mengambil kesempatan untuk memujinya, Chitose menjawab dengan “Duhh dasar Ikkun~” dengan tatapan puas.

“Oh iya, Amane, setelah memutuskan hari untuk pulang, beri tahu aku terlebih dahulu. Aku ingin bermain dengan Mahirun sebelum kamu pergi.”

“Iya, iya, setidaknya kita takkan pergi sebelum Agustus. Kamu bisa bermain dengannya sebelum itu… dan juga, jangan lupa kerjakan PR musim panasmu.”

“Kenapa kamu terus mengomeliku kayak ibuku~”

“Itu karena tahun lalu kamu merengek berteriak, ‘Aku tidak bisa menyelesaikan PR-ku~!’…”

Chitose menelantarkan tugas PR-nya sampai detik-detik terakhir dan harus mengerjakan semuanya sekaligus. Tahun lalu, dia hanya memulainya dengan panik di akhir masa liburan.

Amane menyelesaikannya lebih awal, dan kemudian mulai belajar sendiri dan mengulas; Itsuki merupakan tipe yang melakukannya dengan menyicil sedikit demi sedikit. Alhasil, kedua orang ini pergi membantu Chitose mengerjakan PR.

Tahun ini, Amane sudah selesai, begitu juga dengan Mahiru, jadi mereka berdua biasanya belajar bersama.

“Habisnya, aku tidak ingin melakukannya… Ngomong-ngomong, tahun ini aku bisa diajari langsung oleh Tenshi-sama.”

“Aku tidak keberan dengan mengajarimu, tetapi jika kamu memanggilku tenshi lagi, aku tidak akan setuju."

“Oh, galak banget, tapi aku juga suka Mahirun yang jutek.”

Karena Mahiru dan Chitose juga mengobrol santai, Amane merasa lega dan makan sebelum makanannya menjadi dingin.

“Mahiru, aku ingin makan telur dadar besok.”

Setelah Amane berbisik ke telinga Mahiru di sebelahnya, perhatian Mahiru beralih ke nampan di depan Amane.

“Bukannya kamu sedang memakannya sekarang?”

“Yang ini tidak terlalu enak. Aku selalu merasa bahwa makanan lain rasanya biasa-biasa saja. Karena makanan Mahiru adalah yang terbaik.”

“Fufu, kalau begitu apa boleh buat, deh. Aku akan membangunkanmu dan membuatkan sarapan.”

“Ya”

Karena sekarang sudah memasuki liburan musim panas, jadi Amane tidak akan bangun pagi seperti biasanya. Alangkah baiknya jika Mahiru membangunkannya.

Meskipun Amane tahu bahwa wajah Mahiru tidak baik untuk jantungnya tepat setelah bangun tidur, tapi tak diragukan lagi alau dia adalah jam alarm terbaik.

Amane menantikan sarapan besok dengan penuh semangat. Itsuki lalu menatapnya dengan tercengang.

“Sudah menjadi pasangan yang tinggal bersama…”

“Cerewet”

Amane tidak menyebutkan bahwa mereka 'hanya setengah hidup bersama', dan malah diam-diam meminum sup misonya yang sudah sedikit dingin.

 

 

Sebelumnya || Daftar isi  || Selanjutnya

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama