Gimai Seikatsu Jilid 10 Bab 4 Bahasa Indonesia

 Bab 4 — 30 Juli (Jumat) Ayase Saki

 

Saat menyantap makan siang, Asamura-kun bertanya padaku apa aku ingin pergi berbelanja besok.

Pada waktu itu, kedua smartphone kami memainkan nada dering secara bersamaan. Ternyata itu pesan yang berasal dari Yomiuri-senpai.

“Aku yakin kalau kalian sudah memeriksanya, tapi di sana ada air terjun dan sauna luar ruangan di lokasi! Jadi jangan lupa bawa baju renangnya ya~”

Sebuah suara aneh keluar dari tenggorokanku ketika aku membacanya.

Tahun ini aku menjadi pelajar yang mengikuti ujian masuk. Aku sama sekali tidak punya niatan keluar dan bersenang-senang, jadi tentu saja aku tidak ada niatan memakai baju renang... Aku merasa lega karena itu hanya acara barbekyu.

Saat aku sedang makan siang berduaan dengan Asamura-kun (ibuku sedang tidur, dan ayah tiri sedang bekerja), perhatianku menjadi terganggu, merasa khawatir apa aku baik-baik saja.

Setelah selesai makan, aku segera kembali ke kamarku. Aku mengobrak-abrik lemari pakaianku dan mengeluarkan baju renang yang kubeli tahun lalu.

“Tidak apa-apa, semuanya tidak apa-apa… seharusnya begitu.”

Setelah meletakkannya di sandaran kursi, aku melepas kaos yang kupakai. Saat aku meraih celana dalamku, aku tiba-tiba tersadar dan memeriksa kunci kamar.

Yup, pintunya sudah terkunci dengan benar.

Kalau begitu...

Demi memastikan apa yang ingin kupastikan, aku cukup melepas bagian atasnya saja tanpa melepas semuanya. Setelah menanggalkan pakaianku, aku menggantinya dengan baju renang yang aku gantungkan di sandaran kursi. Aku lalu berusaha memasangkan tali pengikat leher di atas kepalaku dan menempatkannya di dadaku. Kemudian, jika aku melingkarkan tangan aku di punggung dan mengaitkan kailnya... Ugh.

Keringat mulai mengalir di dalam hatiku.

Rasanya seperti….. tersangkut dari area sekitar dada hingga punggung, dan sepertinya agak sulit mengencangkan pengaitnya.

Aku mengambil risiko dan memberanikan diri untuk mengambil bagian bawah baju renangku, yang tergeletak di lantai.

──Ilusi, itu pasti ilusi.

Namun, kenyataan di dunia ini memang kejam. Aku juga menyadari bahwa ada gundukan halus di sekitar pinggangku di bagian bawah.

Apa jangan-jangan. Tidak, sudah kuduga, sepertinya aku sedikit gemuk...?

Aku pura-pura tidak menyadarinya, tapi pada kenyataannya aku memang sudah memperhatikannya. Aku berpikir kalau berat badanku sedikit naik karena aku menimbang berat badanku setiap hari. Tapi akhir-akhir ini, aku berpikir kalau masa ototku meningkat karena aku banyak berolahraga untuk turnamen permainan bola voli, jadi aku berusaha untuk tidak terlalu mengkhawatirkannya. Tetapi ketika menyangkut dada dan pinggangku juga, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Mungkin aku sedikit lengah.

Aku melihat tubuhku di pantulan cermin besar di kamarku dan akhirnya mencubit daging di sekitar perutku, meskipun aku seharusnya tidak perlu melakukannya. Atau lebih tepatnya, ini hanya masalah memeriksanya saja.

Sudah kuduga. Aku tidak bisa memakai baju renang ini. aku harus membeli yang baru....

Saat aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan keringat dingin di dalam diriku, aku mendengar ketukan dari pintu kamarku.

Hyaa, aku berseru karena terkejut.

Sudah kuduga, aku tidak bisa membuka pintu dan keluar dengan pakaian ini.

“Tu-Tunggu dulu sebentar.”

Suara balasanku hampir terdengar keras.

Karena aku sudah menyuruh Asamura-kun untuk menunggu di depan pintu, jadi aku segera mengganti pakaianku dan melemparkan baju renang tahun lalu ke tempat tidur. Aku menutupinya dengan selimut untuk menyembunyikannya dan membuka pintu.

Meskipun aku tidak berniat membiarkannya masuk, aku tidak ingin ada orang yang melihatnya melalui celah pintu, walaupun aku tahu kalau ia bukan orang seperti itu.

Asamura-kun memberitahuku kalau sekarang sudah waktunya untuk berbelanja.

Aku langsung setuju, tapi kemudian bertanya apa aku bisa sekalian membeli baju renang juga. Lalu, Asamura-kun mengingat kalau aku sudah membeli baju renang baru tahun lalu dan bertanya apa baju renang yang itu sudah tidak bisa dipakai. Aku merasa senang ia mengingatnya, tapi itu tidak baik. Aku tidak memberikan jawaban jujur terhadap pertanyaannya.

Aku mengarang alasan dan dengan paksa membujuk Asamura-kun, berharap dia tidak menyadari kegelisahanku. Aku tidak mengerti apa maksudnya penurunan level suatu item. Namun, kurasa tampaknya ia meyakini kalau memang itulah yang terjadi.

Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin ada orang yang menyadari bahwa berat badanku bertambah.

 

◇◇◇◇

 

Kami menuju ke toko Hands di Shibuya untuk membeli perlengkapan berkemah.

Di musim panas, pusat kota Shibuya terasa panas dan penuh keramaian, jadi aku tidak ingin berjalan-jalan di siang hari yang terik, tapi aku tidak punya pilihan lain selain pergi ke sana  karena waktu yang terlalu larut dapat mempengaruhi perkemahan besok.

Begitu memasuki dalam gedung, aku merasakan angin sejuk menerpa kulitku. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk lenganku dan menggosok-gosoknya.

“Kamu kedinginan?”

“Yah, sedikit.”

Selagi menjawab itu, aku mengenakan pakaian luar yang telah kusiapkan jika hal seperti ini terjadi.

Segera setelah kami memasuki toko, aku menemukan bagian yang menjual barang-barang luar ruangan.

Aku melihat-lihat sekeliling rak dan berpikir, urutan apa yang paling efisien untuk berkeliling, seperti yang selalu aku lakukan.

Aku kemudian bertanya kepada Asamura-kun.

“Kira-kira apa saja yang kita butuhkan?”

Ia kemudian menunjukkan daftar yang telah ditulisnya di ponsel dan menunjukkan kepadaku.

Ada berbagai macam barang yang ditunjukkan, padahal ini hanya perkemahan sehari.

Aku melihat-lihat sekeliling toko lagi.

Asamura-kun dan aku, mumpung kami ada berdua, jadi akan lebih cepat jika kami berpencar menjadi dua kelompok dan mencari secara terpisah.

Aku memberi saran dan meminta daftar belanjaannya untuk dikirim ke smartphone-ku.

Kami berdua masing-masing mengambil keranjang belanja dan berpencar ke kiri dan kanan lantai penjualan.

Aku baru mernyadarinya ketika aku mulai menelusuri rak-rak sambil memikirkan barang-barang yang harus aku beli. Apa gunanya berfokus pada efisiensi jika aku bisa memiliki waktu belanja berdua yang berharga? Bukannya itu akan lebih menyenangkan jika kami berdua berjalan berdampingan dan mengelilingi rak-rak sambil melihat-lihat? Ahh.... aku mungkin telah melakukan kesalahan..

Saat aku berjalan dengan suasana hati yang sedikit murung, aku mendengar suara notifikasi dari smartphone-ku. Itu adalah pesan dari Asamura-kun yang mengatakan, “Aku menemukannya”. Sepertinya ia menemukan semprotan pengusir serangga.

Aku membalasnya dengan stiker yang biasanya tidak pernah kukirim, mungkin karena aku samar-samar berpikir bahwa jika terus begini, kami akan selesai berbelanja dalam waktu singkat. Itu adalah stiker bergambar kucing yang Maaya suruh untuk kubeli tempo hari. Kucong itu sedang memegang tanda yang tidak dapat dipahami bertuliskan “Ryo!”. Sepertinya artinya “dimengerti”, dan Maaya segera mengirimkannya kembali padaku setelah aku mengiriminya pesan akhir-akhir ini. Berkat pengaruhnyna, aku jadi mengikuti arus dan jariku mengetuk untuk memilihnya sendiri.

Aku merasa malu ketika aku menyadari itu setelah mengirimkannya.

Aku melihat sekeliling rak, dan menggeliat dalam hati karena merasa geli bahwa ini tidak seperti karakterku. Kali ini aku berhasil menemukan barang  yang dicari dan memberitahunya tentang hal itu. Asamura-kun menanggapinya kembali  dengan pesan “Dimengerti” seperti biasa. Tanggapannya begitu serius sampai-sampai aku tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Aku kembali sadar dan melihat sekeliling. Tidak ada yang melihatku senyam-senyum sendiri, ‘kan?

Aku berjalan mengelilingi rak dan bertukar pesan singkat dengannya setiap kali aku menemukan barang yang ada di dalam daftar. Setelah aku mengirimkannya, aku terus membubuhkan stiker kucing pada balasannya.

Stiker kucing yang memegang papan tanda terus berjejer di layar smartphone.

Di sela-sela itu, ada percakapan singkat dengannya.

Saat kami mulai melakukannya, suasananya menjadi menyenangkan. Meski kami terpisah satu sama lain di satu sisi lantai penjualan, namun saat kami saling berkirim pesan singkat seperti ini, rasanya seolah-olah kami seperti sedang berbelanja bersama.

Rasanya begitu menyenangkan ketika melihat-lihat rak. Di antara sekian banyak perlengkapan berkemah, aku tertarik pada lampu LED untuk penggunaan di malam hari. Aku khususnya menyukai lampu yang berbentuk seperti lampu tua. Lampu tersebut memiliki pegangan dan penutup kaca transparan dengan sumbu lampu di dalamnya — yah, sumbunya tidak terbuat dari kapas seperti lampu minyak, tetapi memiliki lampu LED yang terpasang di atasnya. Ini terlihat seperti sesuatu yang keluar dari dongeng. Aku menginginkannya untuk interior kamarku. Lain kali jika aku punya waktu luang, aku mungkin ingin melihat-lihatnya lagi.

Setelah aku menyelesaikan semuanya dengan lancar, aku bertemu dengan Asamura-kun di tengah-tengah lantai penjualan.

Setelah melihat keranjang masing-masing untuk memastikan kalau semuanya sudah didapatkan, satu-satunya perlengkapan berkemah yang tersisa untuk dibeli hanyalah kursi mini.

Aku ingat kalau aku sempat melihatnya saat menelusuri rak.

Di antara kursi-kursi mini yang dipajang, aku menemukan kursi berwarna merah.

Aku akan mengambil yang ini, kataku dan mengambilnya. Kemudian, Asamura-kun juga mencoba meraih warna yang serasi di sebelahnya, tetapi dengan cepat menarik kembali tangannya. Aku penasaran apa ada yang salah, tapi saat aku mendengar gumaman Asamura-kun, aku akhirnya mulai memahaminya.

Begitu ya, jadi ia khawatir mengenai benda yang serasi denganku.

Aku jadi teringat. Kozono-san mempunyai kepekaan yang tajam dengan cara yang aneh. Aku masih mengingat kalau aku dan Asamura-kun merasa tidak nyaman ketika menjawab bahwa bekal makan siang kami dibuat oleh anggota keluarga.

Pada waktu itu, Asamura-kun dan aku memiliki tas bekal yang serasi dengan warna berbeda, itulah sebabnya aku segera memindahkan tas makan siangku dari hadapan Kozono-san.

Aku tahu apa yang dikhawatirkan oleh Asamura-kun. Jadi aku bertanya kepadanya dengan terus terang.

“Bagaimana kamu akan menjelaskan hubungan kita kepada Kozono-san?”

Gadis itu memiliki insting yang bagus. Dan dia juga cerdas. Jadi, jika kami serasi memilih peralatan berkemah yang dibeli dari toko yang sama, hal tersebut pasti akan menimbulkan pertanyaan. Dia mungkin akan mengira bahwa kami berdua adalah sepasang kekasih, karena kami membawa perlengkapan yang serasi. Tidak, itu bukanlah dugaan lagi, tetapi memang fakta.

Aku belum mempunyai gambaran spesifik tentang apa yang ingin kulakukan saat itu.

Namun, aku hanya tidak suka jika orang-orang yang bahkan tidak mengenalku dengan baik membayangkan ini atau itu tentang diriku. Hanya itulah yang kupikirkan.

Kalau dipikir-pikir, itu cerita yang aneh. Lagipula, aku yakin kalau orang-orang yang kami lewati saat berjalan bergandengan tangan pasti membayangkan hal seperti itu di kepala mereka.

Akan tetapi, akal dan emosi adalah dua hal yang berbeda.

Hal yang tidak kusukai tetap masih tidak kusukai.

Asamura-kun mendengarkan perkataanku, berpikir sejenak, dan kemudian menyarankan garis konkrit tentang seberapa banyak yang bisa kami ceritakan kepada Kozono-san tentang hubungan kami.

Apa ia menceritakan bahwa kami adalah saudara tiri?

Atau, ia akan menceritakan kalau kami adalah saudara tiri dan juga sepasang kekasih??

Poin yang pertama adalah sesuatu yang juga diketahui oleh Yomiuri-senpai, jadi menurutku tidak akan menjadi masalah untuk sedikit mengungkitnya dalam perjalanan singkat. Namun, jika itu yang terakhir, Yomiuri-san juga akan mengetahui kalau kami sedang menjalin hubungan romantis. Hal itu rasanya cukup memalukan.

Dan jika kami menceritakan bahwa kami adalah saudara tiri, entah Kozono-san akan yakin dengan penjelasan tersebut atau tidak, itu adalah masalah lain.

Jika demikian, mungkin lebih baik jika kami tidak mengatakan apa-apa dan tetap menyembunyikannya saja.

Atau itulah yang kupikirkan….

“Jika Kozono-san bekerja paruh waktu di Shibuya, maka tidak mengherankan jika dia sering berjalan-jalan di Shibuya, bukan?”

Jika aku ingin menghindari ketahuan, bukannya itu berarti kami bahkan tidak boleh berpegangan tangan selama kami berada di Shibuya? Kalau begitu, bukannya itu berarti kami hanya kakak beradik biasa?

Jika itu setahun yang lalu, hal itu mungkin takkan jadi masalah.

Tapi sekarang aku menyadari kalau hal tersebut adalah hal yang mustahil bagiku.

Meskipun kami sudah berusaha keras untuk saling memastikan perasaan, tapi kalau kami tidak bisa bergandengan tangan, apalagi berciuman, itu sama sekali tidak bisa diterima. Dalam keadaan seperti itu, aku akan mengalami 'Sindrom kekurangan Asamura Yuuta'. Dia sekarang menjadi nutrisi penting bagiku, sama seperti halnya vitamin bagi manusia. Jika aku tidak dapat mengonsumsinya, hal itu dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius.

Sementara pikiranku sedang melayang ke arah yang stidak terduga, Asamura-kun dengan tenang menganalisis kemungkinan bertemu dengan Kozono-san di area Shibuya. Setidaknya itu membuatku merasa lega.

Namun, belum ada kesimpulan tentang sejauh mana kami bisa menceritakannya kepada Kozono-san. Bagaimanapun juga, kami tidak bisa melakukan diskusi lebih lanjut di dalam toko Hands.

Nampaknya Asamura telah menyerah untuk membeli kursi mini yang serasi untuk saat ini. Mungkin dirinya tidak senang dengan bayangan kalau ada yang terlalu menguliknya.

Meskipun itu tindakan untuk menghindari pertanyaan, tapi tiba-tiba aku memikirkan hal yang tak masuk akal.

Seandainya saja jika Kozono-san tahu bahwa aku dan Asamura-kun adalah sepasang kekasih, dia mungkin tidak akan mengganggu Asamura-kun seperti itu. Jadi memang begitu masalahnya, mungkin lebih baik jika mengungkapkan semuanya.....

Aku menggelengkan kepalaku dan menghilangkan pemikiran itu. Aku tidak boleh begitu. Aku hanya secara sepihak merasa bahwa Kozono-san memiliki kedekatan khusus dengan Asamura-kun, dan tidak ada buktinya. Mungkin itu hanya khayalan yang diciptakan oleh kecemburuanku yang buruk.

Kupikir itu salah untuk membuat Asamura-kun mengikuti perasaanku yang tidak pasti hanya karena aku tidak suka dalam sesuatu, dan memaksanya mengakui sesuatu yang tidak diinginkannya.

Kami dengan ragu-ragu sampai pada kesimpulan yang samar-samar bahwa hubungan kami menjadi ambigu, dan memutuskan untuk mengesampingkan masalah tersebut untuk saat ini.

Aku membuat alasan bahwa acara berkemah akan diadakan besok.

Aku menekan suara di dalam diriku yang memberitahuku bahwa mungkin inilah hal yang paling kami berdua sepakati.

 

◇◇◇◇

 

Meskipun suasana hatiku jadi sedikit galau, tapi aku membiarkannya tenggelam di lubuk hatiku.

Aku selalu merasa gembira ketika membeli baju baru. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang menyenangkan. Alasanku memutuskan untuk membelinya adalah karena baju renang tahun lalu terlalu sempit, hanya itu saja. Aku merasa hal ini benar-benar membingungkan. Padahal biasanya aku tidak terlalu peduli dengan pakaian renang yang digunakan di kelas.

Aku tidak pernah mengira kalau aku harus membeli baju renang baru selama dua tahun berturut-turut.

Itu pengeluaran yang menyakitkan bagi dompetku, tapi mau bagaimana lagi.

Namun, ada juga kesalahan perhitungan yang membahagiakan karena kami berdua bisa berbelanja bersama.

Tahun lalu, meskipun ia adalah kakak laki-lakiku, statusnya tetap kakak tiri, dan Asamura-kun bukanlah orang yang bisa membuatku merasa nyaman. Jadi kami berpisah saat membeli baju renang.

Ketika aku tiba di toko merek Italia yang selama ini kuincar dan hendak masuk, Asamura-kun memberitahuku bahwa dirinya akan menungguku di luar.

“Kamu ini bicara apa?”

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakannya.

“Hmm.”

Aku merentangkan tanganku yang berlawanan dengan yang memegang tas tangan ke arah Asamura-kun.

Lalu aku menggumamkan sesuatu untuk mengingatkannya.

“Kalau di luar?”

“...Bertingkah seperti sepasang kekasih.”

Asamura-kun berkata dengan ekspresi serius di wajahnya dan memegang tanganku. Aku sangat senang. Aku ingin menikmati berbelanja 'bersama dengannya'. Aku bahkan merasa menyesal bahka kami berkeliling dengan jarak yang terpisah karena aku menginginkan efisiensi saat berbelanja di toko Hand tadi.

Toko yang terang benderang dipenuhi pakaian pantai, dan, erm, bagaimana sebutannya?——oh iya, berdandan. Guru sejarah duniaku pernah membicarakannya. Sepertinya itulah istilah yang digunakan untuk menyebut suatu keadaan yang banyak hiasannya.

Rasanya sangat menyenangkan untuk melihat-lihat manekin dan gantungan baju yang dipajang, dan pakaian renang yang begitu indah dan menarik perhatian, seakan-akan tidak ada warna yang tidak digunakan. Sudut mulutku terangkat. Hal itu juga membuatku merasa lebih baik.

Namun, saat kami berjalan bergandengan tangan, aku menyadari bahwa ekspresi Asamura-kun tampak gelisah. Ia kelihatan sedikit tidak nyaman.

Apa karena kami hanya berjalan dalam diam?

Ketika aku sengaja melepaskan tangan yang sedang kugenggam dan mengambil baju renang yang terlihat, aku memutuskan untuk menunjukkannya padanya sambil bertanya, “Bagaimana menurutmu?” atau “Apa ini cocok?” untuk mencoba memulai percakapan. Aku pikir asal ada topik pembicaraan, aku bisa berbicara dan mengalihkan perhatian.

Namun, Asamura-kun tidak memberikan tanggapannya dengan cepat.

Malahan, ia berkata bahwa ia tidak bisa memberikan pendapatnya karena ia tidak mengerti betul.

Aku berpikir, “Aku tidak minta pendapat seperti itu...” dan tiba-tiba teringat. Apa ini karena beberapa hari yang lalu aku membaca tentang “Cara membuat pria menyukaimu” sebelum tidur di internet? Ada bagian yang berjudul [Hal-hal yang sering disalahpahami antara pria dan wanita] dan di sana tertulis bahwa saat ingin menyamakan perasaan, janganlah menggunakan kalimat yang meminta kesepakatan logis.

Aku mengingat kembali perkataanku. “Bagaimana menurutmu?” “Apa ini cocok?”...

Aaa... Jadi begitu.

Ketika memilih pakaian, aku hanya menganggap pendapat orang lain sebagai referensi saja.

Sekalipun ada yang mengatakan itu bagus, aku tidak akan memakainya jika aku tidak menyukainya, dan bahkan jika ada yang mengatakan itu tidak cocok untukku, aku akan memakainya jika itu sesuai dengan selera estetikaku.

Kenapa bisa begitu? Karena jika kamu terpengaruh oleh pendapat orang lain, pada akhirnya kamu akan menyalahkan orang lain atas hasilnya.

Aku tidak suka menyerahkan hasil dari tindakanku kepada orang lain. Itu adalah kalimat memalukan yang tidak pernah ingin kukatakan seperti, “Aku memakai ini karena kamu bilang itu bagus”.

...Kalau begitu, cara bicaraku tadi kurang tepat ya. Aku menyesal.

“Uhmm... bukan itu maksudku. Sejujurnya, aku tidak peduli itu benar atau salah, aku hanya ingin berbicara. Pendapat tentang baju renang itu hanya sebagai bahan obrolan saja.”

Sudah kuduga, Asamura-kun terlihat terkejut saat aku mengatakan itu.

Yang aku inginkan adalah pendapatnya, tujuannya adalah untuk berbagi perasaan senang berbelanja ini dengan pacarku yang bernama Asamura Yuuta. Jadi, apa yang harus aku katakan untuk mencapai tujuan itu?.

Aku menatap wajah anak laki-laki yang ada di depanku.

Mungkin berbeda-beda bagi setiap orang, tapi orang di depanku ini—Asamura Yuuta—meskipun lebih baik dalam merasakan perasaan karakter dalam novel daripada aku, seorang anak laki-laki yang cenderung berpikir secara berlebihan secara logis, bagaimana cara untuk mendapatkan pendapatnya bukanlah dengan pertanyaan, tetapi dengan pendapat...

Jadi begitu...

“Uhmm... bagaimana menurutmu tentang baju renang ini?”

Sambil menunjukkan baju renang biru yang kupegang bagian atas dan bawahnya—ini tipe terpisah—aku bertanya sambil menunjuknya. Sama seperti sebelumnya, menggunakan kalimat tanya yang sama. Namun, jika ditanyakan bagaimana terlihat atau apa pandanganmu tentangnya, seharusnya kata-kata selain bagus atau jelek akan muncul.

Seperti yang diharapkan, Asamura-kun mengatakan apa adanya. Ya, itu yang ingin kudengar. Rasanya begitu menarik ketika ia khawatir bagaimana ia begitu memperhatikan apakah baju renang akan terlepas saat berenang. Pasti dari sudut pandangnyna, bermain di pantai hanya dengan berjalan-jalan tanpa masuk ke laut merupakan sesuatu yang adaa i luar batas imajinasinya.

Ditambah lagi itu hanyalah pita palsu, jadi sebenarnya ia tidak perlu khawatir.

Mungkin Asamura-kun tidak tahu hal seperti itu. Oh ya, meskipun pakaian anak laki-laki bisa memiliki rantai atau kancing palsu, tapi aku tidak ingat ada pita. Jika beneran ada, kupikir itu akan cukup lucu. Aku jadi merasa lucu saat membayangkan jika baju renang Asamura-kun yang dipakainya tahun lalu memiliki pita di sisi pinggangnya...

Jika aku mengatakannya begitu, ia pasti akan memperlihatkan ekspresi wajah yang rumit.

Tapi, aku merasa telah memahami sesuatu setelah bercakap-cakap dengan Asamura-kun. Ia terlalu rasional. Jadi ketika ia diajukan pertanyaan yang membuat terlihat ada masalah di situ, ia akan segera memberikan solusi.

Jika ingin berbicara dengan orang tipe ini tanpa menginginkan penilaian, sebaiknya jangan mengajukan pertanyaan secara singkat. Bagaimanapun juga, persiapan sebelumnya itu penting dalam segala hal.

Setelah itu, kami terus mengelilingi toko, dan kami pun pulang. Sepanjang perjalanan, rasanya kami terus berbincang-bincang. Rasanya sangat menyenangkan sekali.

Ketika Asamura-kun melihat baju renang yang aku beli dengan senang hati, meski pandangannya mengarah kesana-kemari, ia mengatakan bahwa itu bukan karena ia tidak menyukainya. Jadi, aku puas dengan penjelasannya.

Aku pun pulang ke rumah dengan perasaan puas.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama