[LN] Anti-NTR Jilid 3 Bab 5 Bahasa Indonesia

Chapter 5

 

Itu adalah momen yang memang sudah ditakdirkan terjadi.

“Karena dirimu, Ayana pergi...! Karena dirimu... karena dirimu!”

Aku masih memiliki kenangan itu saat menjadi Towa.

Ketika aku memimpikan masa lalu yang dialami Towa bersama dengan kenangannya, aku tidak pernah…..aku tidak pernah melihat ekspresi kebencian dari dalam diri Shu.

Namun saat ini, ia memelototiku seolah-olah sedang melihat musuh bebuyutannya.

(Rasanya seperti sekarang memang sudah waktunya... tetapi ini adalah kesempatan yang pas.)

Aku hanya membalas tatapan mata dinginnya dan menatapnya kembali.

Aku takkan lari atau bersembunyi—jadi, Shu, bagaimana kalau kita berbicara sebentar?

 

▽▼▽▼

 

“Belakangan ini, Otonashi-san nampaknya sangat bahagia dan banyak tersenyum, ya?”

“Apa maksudmu dengan itu? Apa kamu mengincarnya!”

“Aku tidak bermaksud begitu! Jadi cepat singkirkan tatapanmu yang menakutkan itu!”

Apa maksudnya dengan “tatapan menakutkan”? Aku bukanlah prajurit berpengalaman atau semacamnya.

Aku memalingkan pandangan dari Aisaka yang tiba-tiba saja mulai bicara hal-hal yang tidak jelas, dan fokus untuk menghilangkan ‘kotoran’ dari tubuh—jangan memaksaku mengatakan itu, aku hanya pergi ke toilet.

“Fyuuh...”

Setelah beberapa saat, aku meninggalkan toilet dengan perasaan lega.

Aisaka berjalan di sebelahku, tapi ia hanya mengikutiku saat aku pergi ke toilet... Meski begitu, aku penasaran mengapa ia berpikir seperti itu tentang Ayana.

“Jadi, kenapa kamu menganggap Ayana seperti itu?”

Sebelum masuk ke dalam kelas, aku berhenti sejenak dan bersandar di dinding, lalu bertanya demikian.

“Yahh, bukan karena aku terus memperhatikannya atau semacamnya, tapi Otonashi-san yang berada di dekat Yukishiro terlihat selalu tersenyum seperti biasa, tapi minggu ini dia terlihat lebih ceria dari biasanya.”

“Hm...”

“...Kurasa itu bukan sesuatu yang harus kukatakan, maaf jika aku terlalu lancang.”

“Tidak, tidak, kamu tidak perlu meminta maaf segala. Tapi begitu ya... jadi dia terlihat seperti itu?”

“Dari sikapnya tadi...?”

Meskipun aku tidak langsung memeriksanya dengan Ayana, tapi aku masih bisa menebak alasan di balik sikapnya.

Pertama-tama, akulah yang lebih cepat menyadari perubahan suasana hati Ayana daripada orang lain.

“Yah, bisa dibilang memang ada sesuatu. Bagi diriku dan Ayana, ada masalah yang ingin kami selesaikan, dan akhirnya kami berhasil menyelesaikannya dengan benar.”

Ya—masalah keluarga telah terselesaikan.

Beberapa hari telah berlalu sejak saat itu, dan aku bahkan melihat ibu berbicara dengan Seina-san di telepon di malam hari. Itu membuktikan bahwa kejadian itu bukanlah mimpi atau khayalan.

“Aku tidak bisa memberitahumu detailnya, tapi senyum Ayana merupakan bukti dari itu semua."

Aku tersenyum dan menyampaikan hal tersebut.

“Begitu ya... kalau gitu kurasa aku tidak perlu bertanya lebih lanjut! Jika Yukishiro dan Otonashi-san tersenyum, aku juga merasa bahagia sebagai teman kalian!”

Nih orang... ia benar-benar memiliki kepribadian yang baik.

Aku pernah mendengar kabar bahwa ia diharapkan menjadi kapten tim bisbol berikutnya, dan Mari terlihat senang ketika membicarakan Aisaka... dia benar-benar orang yang baik.

“Aisaka benar-benar orang yang baik, ya.”

“Ada apaan sih, mendadak bilang begitu.”

“Yah santai saja. Lagipula, seharusnya aku yang bilang 'mendadak' itu, ‘kan? Belakangan ini kamu terlalu sering mengucapkan kata-kata yang ketinggalan zaman, tahu?”

“Eh? Apa iya...?”

Ya, kurangnya kesadaran dirimu benar-benar membuatku kesulitan.

Aku tersenyum getir saat Aisaka menggosok-gosok kepalanya yang mungkin kasar dengan sehelai rambut, dan tadinya aku ingin bertanya kepadanya mengenai Mari, tapi aku mengurungkan niatku.

(Selain itu, ada percakapan dengan Ayana juga.)

Ini bukan topik pembicaraan yang ingin kusentuh.

Aku yakin kalau Mari masih memendam perasaan terhadap Shu, dan meskipun aku tidak berpikir ini akan berubah segera... tapi jika ada perkembangan, tampaknya perubahan Aisaka yang begitu jelas tidak akan terlewatkan, jadi aku akan menikmati proses ini dengan sabar.

“Eh, kenapa wajah senyam-senyum begitu?”

“Bukan apa-apa, aku cuma sedang memikirkanmu.”

“...Eh?”

“Jangan terlalu terkejut dengan kebodohanmu.”

“Itu hanya bercanda, bercanda.”

Aku akan terkejut jika reaksi aneh ditunjukkan olehnya.

Setelah itu, aku masuk ke dalam kelas bersama Aisaka, dan seperti biasa, Ayana langsung berjalan mendekatiku.

“Selamat datang kembali, Towa-kun.”

“Aku pulang, Ayana.”

“Oh, percakapan kalian kedengaran seperti pasutri saja!”

“Kami memang suami istri, kok?”

Ups, sepertinya komentar Aisaka telah memicu reaksi aneh dari Ayana.

Jawaban bangga Ayana membuat Aisaka menatap ke arahku, tapi aku memutuskan untuk tidak bereaksi dan hanya memperhatikan perkembangan situasi dulu.

“Tidak hanya Aisaka-kun, tapi aku juga menyembunyikannya dari teman-temanku bahwa aku dan Towa-kun sudah menikah.”

“…Eh? Otonashi-san? Apa yang sebenarnya kamu katakan—”

“Aku benar-benar minta maaf. Tentu saja, menikah saat masih bersekolah SMA akan menimbulkan berbagai masalah, jadi ini adalah hal yang… Ah, maaf! Aku terlalu senang dan keceplosan begitu saja.”

“Eh…? Eh…?”

Hmm? Apa-apaan dengan suasana ini?

Perlu diingat bahwa percakapan aneh ini tentu saja hanya terjadi di antara kami bertiga, dan tidak mungkin teman sekelas di sekitar kami bisa mendengarnya karena kebisingan yang terjadi.

Tentu saja Ayana pasti sudah memperhitungkannya, tapi… Apa-apaan ini?

(Padahal Ayana mengatakannya dengan bercanda… tapi reaksi Aisaka…)

Dasar Aisaka….. bukannya ia terlalu memaksa untuk mempercayai kebohongan Ayana?

Ekspresi Ayana masih kelihatan tenang dan penuh keyakinan… dan mungkin karena hal itu, Aisaka tampaknya hampir mempercayainya meski hal tersebut seharusnya jelas-jelas tidak mungkin..… ia sungguh bodoh.

“Lihat, sudah ada cincin di jariku.”

Ayana menunjukkan jarinya——tentu saja, tidak ada cincin di sana.

“Tidak ada sama sekali, kok…?”

“Eh… Kamu tidak bisa melihatnya? Aku diberitahu kalau cincin ini tidak bisa dilihat oleh orang yang berpikiran kotor… Jangan-jangan Aisaka-kun, kamu…?”

“A-Apa aku orang yang begitu!?”

Dasar bodoh… Kebodohannya sampai-sampai tidak bisa tertolong.

Yah aku juga terkejut dengan konsep cincin tak terlihat itu, dan tidak pernah menyangka kalau Ayana akan membuat lelucon seperti ini... atau mungkin, kemampuan Ayana untuk membuat lelucon sebesar itu menunjukkan kalau suasana hatinya sedang sangat bagus.

“Ap-Apa kamu bisa melihatnya, Yukishiro?”

“…Ahh~…”

“Towa-kun.”

Aku merasa kalau Ayana ingin aku mengikuti candaannya, jadi aku balas mengangguk.

Setelah Aisaka melihat ke arahku dan bergumam “Seriusan?” dengan ekspresi yang serius, ia dengan hati-hati mengajukan permintaan.

“Umm….bo-boleh aku menyentuh tanganmu sebentar, Otonashi-san?”

“Tentu saja. Aku tidak keberatan.”

Aisaka perlahan-lahan menyentuh jari manis Ayana... di tempat yang Ayana tunjukkan sebelumnya.

Ia berusaha untuk tidak membuatnya merasa tidak nyaman karena menyentuh jari wanita, dan Ayana tampaknya tidak merasa tidak nyaman karena dia juga mengizinkannya.

“…Hei, Yukishiro.”

“Yeah?”

“Beneran ada... Aku bisa merasakan cincin itu!”

Baiklah, ia benar-benar orang idiot tulen.

Setelah percakapan sampai pada titik ini, Ayana akhirnya berhenti menggoda Aisaka, tetapi sebenarnya dia tampaknya tidak bisa menahan tawa karena melihat reaksi Aisaka.

“Pfufufu….Hahahaha... Maafkan aku, Aisaka-kun. Semua yang kukatakan tadi adalah bohong.”

“Lagi-lagi! Itu pasti bohong, kan? Habisnya aku bisa merasakan sensasi cincin di jarimu tadi, loh?”

“…Aisaka-kun? Apa kamu masih ngelindur?”

Walaupun dia sendiri yang memulainya, tapi Ayana justru semakin khawatir.

Rupanya Aisaka benar-benar mempercayainya, dan meskipun aku merasa dia benar-benar bodoh karena itu, tapi kemampuan Ayana untuk membuatnya percaya hanya berdasarkan suasananya saja... mungkin dia bisa sukses di bidang itu juga?

“Sialan~! Aku benar-benar tertipu...”

“Aku benar-benar maaf. Aku tidak pernah menyangka kalau kamu akan percaya begitu saja.”

“Kamu tidak perlu minta maaf. Ini hanya karena aku terlalu bodoh.”

Daripada dibilang terlalu bodoh, kupikir seharusnya ia perlu lebih curiga terhadap orang lain.

Tapi... mungkin aku merasa sedikit lelah setelah melihat pertunjukan yang tidak akan pernah aku lihat sejak pagi.

Setelah itu, waktu berlalu dengan cepat dan sudah waktunya jam istirahat siang.

Setelah selesai makan siang bersama Ayana, aku memberitahunya beberapa patah kata dan keluar dari kelas.

“...Hm?”

Pada saat itu, tampaknya Shu juga keluar dari kelas mengikutiku.

Sekarang... tujuan awalku sebenarnya ingin menggunakan toilet, tapi mungkin akan sedikit canggung jika Shu juga ingin ke sana?

Setelah berpikir begitu, aku memutuskan untuk melewati kamar kecil, tapi Shu masih tetap mengikutiku.

...Eh? Apa? Apa ia ada urusan denganku?

“………”

Jika memang begitu, ini bisa menjadi kesempatan bagus—tentu saja, mungkin Shu memiliki urusan lain yang harus dilakukan, tapi aku memutuskan untuk menahan keinginan ke toilet dan menuju ke atap yang seharusnya sepi pada saat itu.

Aku dan Shu akhirnya tiba di atap, tapi sesampainya di sana, Shu terus menunduk tanpa mengatakan apapun... Sejujurnya, itu agak menyeramkan.

Beberapa puluh detik kemudian, ia mengangkat kepalanya dan memelototiku......ia kemudian perlahan-lahan mulai mendekatiku.

(Meskipun ada pagar di belakangku, tapi ini jalan buntu)

Di sekeliling atap sekolah, terdapat pagar pengaman untuk mencegah jatuh. Melihat sejarah sekolah SMA ini, sepertinya tidak pernah terjadi kecelakaan malang seperti seseorang jatuh dari atap, jadi aku merasa sangat lega.

….Yup, aku bisa membayangkannya sedikit.

Pada saat ini, hubungan antara diriku dan Shu sudah hancur berantakan, dan aku secara tidak langsung telah merebut teman masa kecil yang dicintainya.

Oleh karena itu, aku dengan tidak sopan memikirkan kemungkinan akan didorong dengan keras oleh Shu karena ia mempunyai dendam kesumat padaku.

 (Yah…. tapi sepertinya itu hanya ketakutan tak berdasar.)

Kurasa aku tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Shu memang mendekatiku sambil memelotot tajam, tetapi ia berhenti ketika sudah mendekati jarak tertentu.

“..........”

“..........”

Ada keheningan yang terjadi di antara kami.

Namun, sepertinya aku punya sedikit waktu luang untuk memikirkan fakta bahwa akhir-akhir ini, aku tidak melakukan apa-apa selain istirahat makan siang.

Karena diam-diam satu sama lain hanya membuang-buang waktu saja, jadi aku mencoba memulai percakapan dengannya, tapi pada saat itu—— Shu membuka mulutnya.

“Kenapa... kenapa kamu berbohong?”

“Berbohong?”

Aku bertanya balik dengan tulus, tapi Shu malah memelototiku dengan lebih tajam.

“Bukannya kamu bilang kalau kamu akan mendukung hubunganku dengan Ayana! Tapi kenapa kamu malah berpacaran dengan Ayana!?”

“........”

‘Kupikir ia ingin mengatakan apa, tapi ternyata masalah itu toh,’ Aku menghela nafas ketika memikirkan hal tersebut.

Mungkin karena tidak terlalu menyukai sikapku, Shu mencoba melangkah mendekat, tapi seolah ingin mematikan kesempatannya, aku menjawabnya dengan tatapan serius.

“Aku sudah meminta maaf mengenai hal itu selama panggilan telepon. Aku tahu kalau kamu selalu menyukai Ayana, dan meskipun aku tidak menjawab saat di kamar rumah sakit, tapi aku masih mengingat kalau aku memang mengangguk. Tapi aku juga menyukai Ayana... itulah sebabnya aku menyampaikan perasaanku padanya dan menunjukkan tekad untuk bersama-sama membangun masa depan.”

Hubungan seperti ini membuatku terjebak dalam posisi sulit, meskipun hubungan kita tidak buruk.

Ada tiga teman masa kecil, dua laki-laki dan satu perempuan... jika perasaan kami saling bersinggungan, maka akan ada kehadiran yang tidak bisa disatukan... Akulah yang bersatu dengan Ayana, dan takdir menentukan bahwa itu bukanlah Shu... Hah, mudah sekali untuk mengatakannya, tapi sebenarnya sulit.

“Apa maksudmu dengan itu...? Aku juga menyukai Ayana! Kami berdua selalu bersama... Jika aku yang mengungkapkan perasaanku duluan, Ayana pasti akan….”

“Kamu berpikir Ayana pasti akan menerimamu?”

“…...”

Shu menundukkan kepala sambil menggigit bibirnya.

Aku mempertimbangkan semuanya dan bertindak setelah mengingat semuanya, itulah sebabnya aku mengerti perasaan Ayana... Aku juga ingin menunjukkan perasaanku dan memilih jalan ini.

Aku sangat mencintai Ayana dan benar-benar ingin melindunginya.

Kata-kata yang aku sampaikan padanya bukanlah janji untuk membuatnya bahagia, tapi cara hidup kami untuk saling mendukung dan memberikan kebahagiaan satu sama lain.

“........”

Sebenarnya aku agak kesal dengan ucapan Shu setelah memikirkan banyak hal.

Bukan karena perasaan Shu yang bertepuk sebelah tangan pada Ayana, melainkan cara ia mengatakan sesuatu yang selalu mengutamakan dirinya sendiri tanpa mempertimbangkan perasaan Ayana..

Aku pun tidak menganggap bahwa pemikiranku selalu benar.

Meskipun aku merasa benar, ada kemungkinan orang lain akan meragukan pemikiranku.

Namun demikian, aku ingin menyampaikan kata-kata yang keras kepada Shuu.

Mungkin ada keretakan yang akan membuat hubungan kami semakin memburuk, tapi aku tidak bisa berhenti sekarang.

“Shu, kamu tidak akan pernah bisa membuat Ayana bahagia.”

Aku dengan jelas menyatakan bahwa dirinya takkan mampu melakukannya karena dirinya tidak bisa melihat sifat asli Ayana.

Shu tercengang sampai tak bisa berkata-kata setelah mendengar ucapanku, namun segera ia kembali berbicara.

“Bagaimana kamu bisa tahu hal itu!? Aku lebih mencintai Ayana daripada dirimu! Aku selalu bersamanya! Akulah yang bisa membuatnya bahagia!”

Shu terus berteriak bahwa ia mencintai Ayana seperti sedang meratapi keadaan yang tak bisa diubah.

“Karena dirimu, Ayana pergi...! Karena dirimu... karena salahmu!”

“...Haaa.”

Tanpa sadar, aku menghela nafas lagi.

Shu, apa kamu masih belum menyadari hal ini? Memang benar kalau kamu mencintai Ayana dengan sepenuh hati, tetapi kata-katamu tidak memperhatikan perasaannya... Bukankah semuanya hanya tentang dirimu sendiri?

“Aku yakin... aku, lebih dari dirimu, bisa membuat Ayana bahagia....huh…”

“Berhenti berbicara dengan suara pelan seperti itu—”

“Jangan egois terus!!”

Akhirnya, sesuatu dalam diriku benar-benar tersentak.

Aku mungkin pernah merasa emosi yang kuat terhadap Shuu sebelumnya, tetapi ini mungkin pertama kalinya aku merasa murka seperti ini.

“Sejak tadi, kamu hanya memikirkan dirimu sendiri! Kamu sama sekali tidak mempertimbangkan perasaan Ayana... Memangnya kamu pikir kebahagiaanmu sendiri juga akan membuat Ayana bahagia!? Berhentilah menjadi egois!”

Aku terus meluapkan kemarahan tanpa memberi kesempatan kepada Shu untuk menyela.

Mungkin Shu belum pernah melihatku menunjukkan emosi sejelas ini sebelumnya. Aku pun tidak ingat pernah melakukannya... Mungkin itulah sebabnya Shu hanya bisa terdiam.

Napasku sedikit tersenggal-senggal karena aku mengucapkan kata-kata itu tanpa mengambil nafas.... Shu menggelengkan kepala dan dengan sedikit perlawanan, ia berkata dengan suara pelan.

"Jadi... jadi menurutmu, kamu bisa membuat Ayana bahagia!?”

Aku balas mengangguk tanpa ragu.

“Tentu saja. Aku pasti akan membuat Ayana bahagia... Mungkin terdengar sombong untuk mengatakannya, tapi aku memang memiliki tekad yang kuat untuk mewujudkannya.”

Dan aku juga akan bahagia di sisinya... itulah yang aku inginkan.

Walaupun aku mampu menyelesaikan sejumlah masalah, aku tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan.... hanya Tuhan yang tahu hal seperti itu.

Tapi itu tidak masalah.

Kami berdua akan saling mendukung dan kami akan menjadi bahagia bersama—tekad itu tetap tidak akan berubah.

“Bukan hanya salah satu dari kami yang memberikan sesuatu secara sepihak...Kami saling mendukung dan terus bergerak maju apa pun yang terjadi...Kami saling percaya dan kami berdua pasti akan bahagia. Itulah tekad kami.”

“............”

Shu sepertinya tidak bisa berkata apa-apa untuk membalasku, dan dirinya hanya menundukkan kepala tanpa bergerak sama sekali.

... Kupikir suatu saat nanti aku harus berbicara dengan Shu, tetapi setelah mendengar perkataannya, aku malah menjadi emosi dan mengatakan semua yang ingin kukatakan.

Tapi aku tidak menyesalinya sama sekali ... karena itu adalah sesuatu yang harus kukatakan.

“... Upss, kelihatannya istirahat siang akan segera berakhir.”

Aku memeriksa jam di ponselku dan menyadari kalau jam pelajaran berikutnya akan segera tiba dalam sepuluh menit.

Setelah meihat Shu yang ada di depanku, kurasa sepertinya ini adalah akhir dari percakapan kali ini ... Dalam perjalanan kembali ke kelas, aku berbisik padanya saat melewati sampingnya.

“Jangan terlambat ke kelas.”

Aku tahu ia mendengarnya, tetapi Shu sama sekali tidak menjawab.

Meskipun aku sudah mengatakan semua yang ingin kukatakan, aku berharap bahwa ini bukanlah percakapan terakhir kami ... Tapi mungkin itu hanya keinginan egoisku sendiri?

Saat aku masuk ke dalam gedung dan menuruni beberapa anak tangga, tiba-tiba aku melihat seseorang yang tak terduga.

“... Ketua?”

Iori ... Ketua OSIS sedang berdiri bersandar di dinding sambil menyilangkan tangan.

Mengapa dia bisa ada di sini ...? Wajar saja kalau aku mempertanyakan hal itu, tapi apakah dia mendengar percakapan kami ...?

“Halo, Yukishiro-kun.”

“Oh, ya, halo.”

Sikapnya ... masih terlihat seperti biasa.

Dia melirik ke arah tangga tempat aku turun dan membuka mulutnya.

“Aku tidak bermaksud menguping. Aku hanya kebetulan melihat kalian berdua dalam perjalanan pulang dari kamar kecil.”

“Dengan kata lain, kamu mendengar semuanya, ya...”

“Iya...aku sungguh minta maaf.”

“Tidak, tidak, Ketua tidak perlu meminta maaf segala.”

Jika aku berada di posisinya, aku pasti akan merasa penasaran juga... Dan ketika aku memberitahunya kalau aku tidak merasa tersinggung karena kami sudah saling mengenal, Iori tersenyum sambil mengatakan, “Syukurlah kalau begitu”.

“Kamu memang luar biasa, Yukishiro-kun. Kamu selalu mempertimbangkan masa depanmu dan memiliki pendirian yang kuat. Kata-katamu yang mengatakan bahwa kamu akan membuat Otonashi-san bahagia benar-benar menyentuh hatiku.”

“Apa itu menyentuh hatimu, Ketua?”

“Memangnya itu salah? Aku tahu ini terdengar aneh, tapi sebagai seorang wanita, itu membuatku berdebar-debar, tau.”

“Benarkah?”

Aku mengalihkan pandanganku karena terkejut oleh kedipan matanya yang tiba-tiba.

Aku sudah terbiasa melihat Ayana yang cantik, tapi aku masih merasa tidak nyaman ketika dia melakukan hal seperti itu dengan jarak yang begitu dekat... Itu membuatku merasa gugup.

“Merasa dihargai seperti itu adalah sesuatu yang sangat membahagiakan. Tolong jaga Otonashi-san dengan baik, ya?”

“Aku akan melakukannya tanpa harus diingatkan.”

“Fufufu♪.”

Tentu saja, itu merupakan hal yang wajar tanpa harus diingatkan oleh siapa pun. Bahkan ketika kami sedang berbicara, Iori terlihat khawatir tentang apa yang ada di ujung tangga, jelas sekali bahwa dia memedulikan Shu... tidak, dia hanya khawatir tentangnya.

“Kamu mengkhawatirkan Shu, bukan?”

“….Ya, aku merasa kasihan melihatnya dalam keadaan seperti itu. Meskipun aku merasa sedih melihatnya terus-menerus terpaku dengan kepergian Otonashi-san, waktu yang telah aku habiskan bersamanya tidak akan pernah hilang.”

Iori mengungkapkan perasaannya dengan sangat sedih.

Keheningan yang agak canggung berlanjut, tak satu pun dari kami mengatakan apa pun, dan Iori tersenyum kecil seolah-olah ingin merubah suasana.

“Maaf ya kalau membuat suasananya jadi aneh begini. Istirahat siang sudah selesai, bagaimana kalau kita kembali ke kelas?”

“Benar juga. Oh iya.”

“Apa ada yang salah?”

Hal yang aku katakan mulai sekarang bisa dikatakan bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan karena situasi permainan sudah berubah... ini hanya sekadar kebaikan hati.

“Ketua akan melanjutkan kuliah, bukan?”

“Ya, tapi... kenapa tiba-tiba menanyakan itu? Aku tidak keberatan membicarakan hal seperti ini, tapi sepertinya masih terlalu cepat untuk membicarakannya.”

“Yah, baiklah... ummm, aku mendengar bahwa ada beberapa klub yang mencurigakan di universitas. Jadi, aku hanya ingin mengingatkanmu untuk lebih berhati-hati.”

Meskipun tidak semuanya sesuai skenario permainan, aku mendengar bahwa ada klub yang mencurigakan atau bahkan berorientasi pada hal-hal yang tidak baik di dunia nyata... tapi entah mengapa, Iori tampak terkejut mendengar hal itu.

“Umm...”

“...Aku penasaran mengapa kamu tiba-tiba mulai membicarakan tentang universitas, tapi aku tidak pernah menyangka kamu akan begitu mengkhawatirkanku.”

Benar sekali, kataku dengan tersenyum masam sambil menggaruk-garuk kepalaku.

Memang benar bahwa dari sudut pandang Iori, dia akan terkejut jika seseorang mengatakan sesuatu seperti ini secara tiba-tiba, dan aku sepenuhnya menyadari hal itu... Tidak aneh jika dia mengatakan bahwa saya tidak bisa membedakan antara kenyataan dan khayalan.

Tapi tentu saja, aku masih merasa khawatir.

“Hmm~... Aku senang kamu mengkhawatirkanku, tapi sayangnya aku bukan tipe wanita yang mudah dipermainkan, dan aku sangat berhati-hati dalam segala hal.”

Dia terlihat bangga dan tampil dengan percaya diri, tapi penampilannya itu justru membuatku semakin khawatir.

Habisnya kamu... dalam permainan, setelah mengatakan hal seperti itu di awal skenario, adegan selanjutnya sudah berbeda.

“Lagian sedari awal, aku tidak akan mendekati kelompok klub seperti itu, dan aku tidak berniat menerima tawaran minuman alkohol. Yah, karena ini mengenai aku, aku yakin kalau aku cukup kuat terhadap minuman beralkohol.”

Tidak, kamu sangat lemah terhadap alkohol...atau lebih tepatnya, meskipun itu adalah hasil dari bimbingan dan strategi Ayana, kamu bergabung dengan kelompok s*ks bebas tanpa ragu-ragu......

Tanpa tahu apa yang kupikirkan, Iori terus berkata dengan percaya diri.

“Jangan khawatir, aku bukanlah wanita yang selemah itu!”

Dia mendengus dan menyatakan itu dengan percaya diri... Tidak mungkin dia bisa diandalkan!

Berbeda dengan sikap kerennya yang biasa, penampilannya yang penuh semangat dan percaya diri memberikan kesan yang segar sekaligus imut, tetapi dengan tingkah lakunya yang memicu banyak kejadian, bahkan aku yang ahli dalam hal ini juga tidak bisa mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

“... Kamu kelihatannya masih tidak puas, ya.”

“Tidak... “

Aku secara refleks mengalihkan pandangan dari Iori, tapi bukankah itu berarti aku mengakuinya?

Aku sangat menyadari bahwa salah rasanya jika mencampur-adukkan permainan dengan kenyataan... tetapi karena bayangan wajahnya yang tenggelam dalam kenikmatan birahi masih terbayang di pikiranku, aku menjadi khawatir bahkan saat dia menunjukkan wajah yang penuh percaya diri.

“Yukishiro-kun?”

“...Eh!?”

“Kamu sedang melamun, tau.”

“Maaf!”

Tidak baik, sepertinya aku terlalu tenggelam dalam pikiran saya.

Sementara itu, jam pelajaran sudah hampir dimulai, jadi kami memutuskan untuk kembali ke ruang kelas masing-masing.

“Yukishiro-kun.”

“Iya?”

“Adapun mengenai Shu-kun... Aku akan mencari jawabanku sendiri.”

“...Ya.”

“Dan juga terima kasih sudah khawatir. Meskipun aku merasa baik-baik saja, tapi di dunia ini, ada banyak hal yang tak terduga. Kata-katamu bukan hanya sekadar nasihat, tapi juga sesuatu yang perlu benar-benar kuperhatikan.”

Dengan berkata demikian, Iori berjalan pergi.

“...Aku tidak pernah menyangka kalau dia akan mengatakan hal seperti itu.”

Hal yang aku minta hanyalah dia harus lebih berhati-hati lagi... Kupikir awalnya dia tidak benar-benar serius, tapi mengapa dia mengatakannya dengan serius pada bagian akhir?

“Hmm... Aku harus pergi ke toilet! Harus cepat-cepat!”

Lebih baik tidak terlambat ke kelas dan mendapat teguran dari guru.

...Tapi Shu, tuh anak masih belum turun dari atap, bukan? Aku merasa sedikit khawatir, tapi pada akhirnya Shu kembali tepat waktu sebelum pelajaran dimulai, jadi aku merasa lega.

Itulah yang kupikirkan berulang kali, dan setelah aku bertahan melewati pelajaran yang membosankan setelah siang hari….

“Yukishiro.”

“Hmm? Ada apa, Aisaka?”

Setelah jam wali kelas selesai, Aisaka mendekatiku segera setelah guru meninggalkan ruang kelas.

Aisaka biasanya langsung pergi ke kegiatan klub sepulang sekolah, tapi ia jarang sekali datang ke sini dan mengajakku bicara seperti ini... bisa dibilang memang cukup jarang, iya ‘kan?

“Sebenarnya, hari ini kegiatan klubku sedang libur. Jika kamu mau, aku berpikir kita bisa pergi ke suatu tempat untuk bersenang-senang...”

“Hee~, tumben-tumbennya ada libur dari kegiatan klubmu.”

Oh iya kalau tidak salah, tadi pagi ada pengumuman yang mengatakan kalau ada meberapa pekerjaan yang dilakukan oleh kontraktor di lapangan hari ini.... mungkin itu sebabnya.

Sepulang sekolah... akhir-akhir ini aku biasanya selalu bersama Ayana.

Aku tidak punya banyak kesempatan untuk bersenang-senang dengan Aisaka setelah sepulang sekolah karena ia juga sangat sibuk dengan klubnya... Hmm, kira-kira aku harus bagaimana ya?

“Towa-kun, jika kamu ingin pergi bersama Aisaka-kun, kamu boleh pergi kok.”

Ayana berkata begitu padaku yang sedang bimbang.

“Eh, kamu yakin?”

“Ya. Akhir-akhir ini kita selalu bersama... Oh, tentu saja, tidak peduli seberapa lama kita bersama, perasaanku untuk selalu berada di dekat Towa-kun tidak akan goyah. Tapi, karena Aisaka-kun sudah mengajakmu, alangkah baiknya jika kamu bermain bersamanya.”

...Benar juga. Karena Ayana sudah mengatakan begitu, jadi hari ini aku akan pergi bersama Aisaka!

“Kalau begitu, aku akan pergi bersama Aisaka. Bagaimana denganmu, Ayana?”

“Aku tidak punya rencana khusus, jadi aku akan langsung pulang ke rumah. Jadi jangan khawatir. Bahkan nanti aku akan mengirim pesan singkat sekali dalam sepuluh menit.”

“Ahaha... Enggak usah repot-repot sampai segitunya, ‘kan?”

“Benarkah? Hmph...”

Mungkin Ayana yang merasakan beban yang lebih berat, dan karena perasaan Ayana yang begitu dalam, itulah sebabnya dia begitu perhatian.

Setelah berbicara sebentar dengan Ayana, aku keluar dari gedung sekolah bersama Aisaka.

Begitu melangkah keluar, rasanya agak sepi karena biasanya suara dari klub olahraga terdengar di sini... sepertinya bukan hanya klub bisbol, tetapi klub sepak bola dan atletik juga libur hari ini.

“Suasanya jadi kelihatan sepi ya kalau klub olahraga yang biasanya aktif di luar sedang libur.”

“Iya sih... tapi, besok pasti akan ramai lagi."

“Tapi di sisi lain, hal itu justru membuat suasana jadi lebih tenang. Ketika aku keluar dari gedung sekolah dan mendengar suara dari klub olahraga, aku merasa bahwa sekolah hari ini sudah selesai.”

“Haha, kamu ngelantur apaan sih.”

Ya sudahlah, begitulah adanya.

Kami berdua pergi ke kawasan kota sambil bercanda seperti itu.

 

▽▼▽▼

(Sudut Pandang Ayana)

“Ahh~ ia beneran sudah pergi ya...”

“Ah, kalau kamu mengeluh begitu, seharusnya kamu tidak memberikannya pada Aisaka. Kalau pun mereka pergi bermain, seharusnya kamu juga bisa ikut, Ayana.”

Ughhh... memang benar seperti yang dikatakan Setsuna.

Sebenarnya aku berencana untuk menghabiskan waktuku bersama Towa-kun hari ini juga, tapi karena Aisaka-kun mengajak Towa-kun duluan, aku memintanya untuk memprioritaskan hal itu.

“Aku juga ingin ia selalu memprioritaskanku. Tapi pertemanan juga sangat penting, jadi aku ingin Towa-kun menghargai kesempatan ini.”

“Apakah begitu?”

“Iya. Itu sama seperti yang aku rasakan terhadap Setsuna dan yang lainnya."

Kugh... Ayana, jangan mengatakan hal seperti itu dengan ekspresi yang membuat hati berdebar-debar bahkan pada sesama wanita!”

“Apa maksudmu...”

“Apa kamu bahkan berniat untuk membuat wanita ikut tergoda juga!”

Sudah kubilang, apa maksudnya itu...?

Memang benar Setsuna adalah gadis yang menarik, tapi aku tidak bisa membayangkan hal seperti itu dengan sesama jenis dan pada dasarnya aku juga tidak tertarik... Tidak peduli apapun situasinya, satu-satunya orang yang aku cintai hanyalah Towa-kun.

... ..Ngomong-ngomong, aku berpura-pura tidak melihat teman-teman yang lain menganggukkan kepala menanggapi perkataan Setsuna!!

“Jadi, kamu mau bagaimana, Ayana? Kamu bilang pada Yukishiro kalau kamu akan langsung pulang  ke rumah.”

“Aku memang berniat begitu. Aku akan segera pulang setelah menyelesaikan urusanku.”

Meskipun aku mengatakan 'urusan', sebenarnya itu bukanlah hal yang besar.

Setelah sedikit memberi salam kepada Setsuna dan yang lainnya, aku meninggalkan ruang kelas—— dan menuju ruang OSIS dimana Honjou-senpai kemungkinan berada.

“.........”

Inilah 'urusan' yang kubicarakan.

Aku tidak dipanggil oleh Honjou-senpai, dan aku juga tidak memiliki rencana jelas untuk mengunjungi tempat tersebut... aku hanya merasa sedikit penasaran.

Mungkin karena aku mendengar sesuatu dari Towa-kun saat istirahat makan siang tadi.

“Honjou-senpai... apa kamu ada di sini?”

Jika Honjou-senpai tidak ada di ruang OSIS, aku akan langsung pulang.

Sambil berpikir demikian, aku mengetuk pintu, dan suara Honjou-senpai terdengar dari dalam.

“Silakan masuk.”

“.... Maaf sudah mengganggu.”

Hal pertama kali terlihat saat aku membuka pintu adalah tumpukan besar dokumen di atas meja.

Honjou-senpai yang sedang menangani tumpukan dokume sampai-sampai mampu membuat orang lain merasa muak, terkejut saat melihatku datang berkunjung.

“Otonashi-san? Ada apa?”

“Maafkan aku karena tiba-tiba datang.”

“Kamu tidak perlu meminta maaf. Eh, apa jangan-jangan kita sudah punya janji atau semacamnya?”

Tampaknya Honjou-senpai mulai meragukan dirinya sendiri bahwa dia mungkin telah membuat janji denganku karena kedatanganku yang mendadak.

Hmm... sekarang aku merasa bersalah karena mengunjungi tanpa alasan yang jelas... Aku harus menjelaskannya terlebih dahulu.

“Aku belum membuat janji khusus, jadi jika Senpai sedang sibuk, aku akan pulang saja... Aku hanya ingin berbicara dengan Honjo-senpai sebentar.”

Sejujurnya, Honjou-senpai kelihatannya terkejut lagi... Memangnya seaneh itu, ya?

"Ini bukan pertama kalinya kamu datang ke sini, Otonashi-san, tapi kamu lebih sering untuk membantu pekerjaanku. Meski begitu, kamu hanya ingin bicara denganku?”

“……Ya.”

“... Fufufu, ketimbang dibilang tumben, mungkin ini justru pertama kalinya kamu datang dengan niat begitu. Tapi baiklah, silakan duduk.”

Apa dia akan baik-baik saja dengan tumpukan besar dokumen itu?

Mungkin dia menyadari bahwa aku menatap dokumen dengan seksama, Honjou-senpai mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan tertawa. Dia juga mengatakan bahwa itu bukan sesuatu yang harus segera ditangani, meskipun aku tidak yakin apa itu benar atau tidak, tapi itu membuatku merasa lega.

“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?”

“..........”

Dengan meja di antara kami, Honjou-senpai menatapku dari seberang meje.

Apa yang ingin kubicarakan... apa yang seharusnya aku katakan?

“Aku benar-benar minta maaf. Meskipun aku bilang ingin berbicara, tapi sebenarnya aku hanya merasa penasaran.”

“Penasaran?”

“Ya. Aku mendengar tentang peristiwa istirahat makan siang dari Towa-kun... dan...”

“Ah begitu rupanya~”

Honjou-senpai mengangguk setuju.

“Jadi begitu. Apa maksudmu tentang itu? Bahwa aku punya perasaan terhadap Shu-kun akhir-akhir ini, dan karena itulah kamu merasa bersalah karena mempertemukan aku dengan dirinya?”

“Mungkin…”

“Begitu.”

Mungkin….. aku memang merasa bersalah.

Awalnya, satu-satunya orang yang ingin aku balas dendam adalah orang-orang yang menyakiti Towa-kun…….Tapi, demi lebih menyiksa dan menyakiti Shu-kun lebih jauh, aku mulai melibatkan Honjou-senpai dan Mari-chan.

Aku... Aku benar-benar hendak melakukan hal yang mengerikan.

Aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu lagi sekarang, tapi dulu, aku benar-benar berencana melakukan hal yang mengerikan... Tapi, aku tidak bisa mengabaikan semuanya begitu saja. Sebagai ganjaran atas niatku untuk bergerak maju, hubungan yang telah aku siapkan menjadi semakin terdistorsi.

“... Fufu, aku tidak menyangka bahwa kamu memikirkan hal seperti itu.”

“Aku...”

“Asal kamu tau saja, aku tidak menyesal telah mengenal Shu-kun. Dan aku tidak ingin berpura-pura bahwa waktu yang kuhabiskan bersama Shu-kun tidak pernah terjadi.”

Setelah mendengar kata-katanya, aku menatap wajah Honjou-senpai.

Dia juga balas menatapku tanpa mengalihkan pandangannya, dan dari pandangan matanya terpancar kehangatan yang begitu lembut.

“Seperti yang kubilang pada Yukishiro-kun, ada bagian dari diriku yang memikirkan Shu-kun akhir-akhir ini. Apa yang dialaminya hanyalah patah hati... semua orang mengalaminya saat mereka sedang jatuh cinta. Aku mengerti perasaannya, tapi sikapnya yang keras kepala dan tidak mau menerima kenyataan seperti anak manja itu membuatnya terlihat menyedihkan.”

“..........”

“Namun... bukannya berarti itu akan menghapus kenanganku bersama Shu-kun sejauh ini. Pada awalnya, Otonashi-san berdiri di antara kita dan menghubungkan kami... dan setelah itu, Shu-kun mulai memperlakukanku apa adanya. Sederhana, begitu sederhana... bahkan terlalu sederhana sampai-sampai hampir terasa memalukan, tapi aku suka menghabiskan waktu dengan Shu-kun seperti itu.”

“Jadi... begitu ya.”

“Ya. Aku mungkin merasa tidak enakan pada Shu-kun jika mengatakan ini, tapi mungkin aku hanya tertarik pada pria yang sedikit tidak bisa diandalkan.”

Aku benar-benar gadis yang bermasalah, begitulah kata Honjou-senpai sambil tertawa.

Pria yang sedikit tidak bisa diandalkan... mungkin tidak hanya sedikit, tetapi memang, Honjou-senpai selalu terlihat senang ketika bersama Shu-kun.

Sebelumnya, aku tidak merasakan apa pun saat melihat kedekatan mereka berdua... tetapi ketika aku mengingatnya kembali, sepertinya Honjou-senpai benar-benar menikmati waktu tersebut.

“Jadi, meskipun ia terlihat menyedihkan, meninggalkan semuanya dan mengucapkan selamat tinggal seperti itu terlalu menyedihkan.”

“Benarkah begitu?”

“Yah, dengan menjaga jarak, kupikir ia perlu waktu untuk menyembuhkan lukanya. Dan aku ingin ia memikirkannya lagi— apa yang akan terjadi di masa depan jika dirinya tidak berubah sekarang. Untungnya, sepertinya kata-kata Yukishiro-kun cukup mempengaruhi Shu-kun.”

Aku tidak tahu apa yang dikatakan Towa-kun, aku tidak tahu semuanya.

Namun, aku mendengar bahwa setelah bertengkar dengan Shu-kun, ketika ia memberitahunya sesuatu tentang masa depan, Shu-kun sepertinya tidak bisa membalas apa pun.

“Yukishiro-kun benar-benar sangat mencintaimu sehingga ia bisa mengatakannya dengan begitu kuat,... Sebagai seorang wanita, aku merasa iri dengan hal itu.”

“….Begitu ya?”

“Oh, wajahmu memerah, tau?”

“Ahh, Senpai mah cerewet ih.”

Ah... aku malah mengatakan dia orang yang cerewet...

Honjo-senpai begitu terhibur dengan reaksiku hingga dia tertawa dan mengganti topik pembicaraan—sepertinya dia ingin membicarakan Towa-kun sekarang.

“Dia... Yukishiro-kun adalah orang yang sangat aneh. Kata-katanya selalu begitu berkesan.”

“Aku juga merasakan hal yang sama. Kata-kata Towa-kun sudah beberapa kali menyelamatkanku.”

Kata-kata Towa-kun begitu berkesan bagaikan memiliki kekuatan khusus, perkataannya sangat mengena di hatiku.

Itu semua berkat Towa-kun yang menyelamatkanku, mengubahku, dan membuatku melangkah maju, dan itu semua berkat kata-kata yang dia berikan padaku.

“Apa kamu sudah mendengar apa yang ia bicarakan denganku?”

“Hanya sedikit... tapi Towa-kun bilang kalau itu hanya seputar percakapan sehari-hari.”

“Oh, begitu. Jadi kamu belum mendengar tentang universitas?”

“Universitas?”

Aku penasaran apa Towa-kun berdiskusi tentang universitas dengan Honjou-senpai?

Selain Honjou-senpai, Towa-kun dan aku juga sama-sama khawatir tentang masa depan, tapi aku tidak bisa menyangkal bahwa masih terlalu dini untuk membicarakannya.... Aku jadi sedikit penasaran.

Pada awalnya, aku berpikir mereka akan membicarakan tentang universitas mana yang akan dihadiri dan jurusan apa yang akan dipelajari. Namun, pembicaraan dengan Honjou-senpai justru membahas hal yang tak terduga.

“Aku mendengar ada beberapa klub mencurigakan di universitas, jadi aku diberitahu untuk berhati-hati.”

“Klub yang mencurigakan?”

“Hmm... klub yang mungkin bisa disebut ‘Yarisa’?” (TN: Yang nonton hentong pasti paham :v)

Yarisa... dengan kata lain, klub yang tujuannya melakukan itu?

Pria-pria yang tidak baik... tentu saja ada juga wanita, tapi aku juga mengetahui kalau klub semacam itu beneran ada.

(... Ugh tiba-tiba, aku merasa sedikit jijik karena itu pernah sesuai dengan pemikiranku sebelumnya)

Entah mengapa, kurasa aku mungkin pernah memikirkan hal itu sebagai rencana untuk menjebak Honjou-senpai saat dia kuliah.

Ahem... terus?”

Untuk saat ini, mari kita dengar lanjutannya dulu.

“Aku memang terkejut saat ia tiba-tiba mengatakan hal seperti itu Tapi kalau dipikir-pikir dengan tenang, tidak mungkin aku mendekati klub mencurigakan seperti itu, dan bahkan jika seseorang yang kukenal mengajakku, aku pasti tidak akan bergabung.”

“Tentu saja.”

“Benar, ‘kan? Jadi waktu itu aku hanya tertawa... tapi... tapi, ya? Entah mengapa, aku tidak bisa menertawakan kata-kata Yukishiro-kun...dan mengabaikan kekhawatirannya. Aku tidak tahu mengapa perkataannya justru terus terngiang-ngiang di kepalaku......Itulah sebabnya aku berpikir kalau dia sungguh orang yang aneh.”

“.........”

“Pada akhirnya, aku menerima peringatannya dan memutuskan untuk berhati-hati agar hal itu tidak terjadi, jadi aku berterima kasih kepada Yukishiro-kun dan berkata,—terima kasih, aku akan berhati-hati.”

Honjou-senpai pasti kebingungan dengan nasihat mendadak Towa-kun... Namun, alasan dia bisa menerima dan bahkan berterima kasih kepadanya dengan cara seperti ini karena Honjou-senpai mempercayai Towa-kun?

“Towa-kun bahkan membantu Honjou-senpai, ya.”

“Bukannya aku benar-benar dalam bahaya atau semacamnya, oke? Tapi aku senang hal itu membuatku berpikir untuk berhati-hati dan memperhatikan hal-hal yang tidak merugikan. Aku sangat percaya pada diriku sendiri ... dan karena itu, aku mungkin akan dilecehkan oleh seseorang.”

“Memang, meskipun Honjou-senpai terlihat kuat, tapi sepertinya kamu punya sisi ceroboh juga, ya?”

“Jangan bilang blak-blakan begitu, Otonashi-san.”

“Ah...”

Aku... tak sengaja berkata begitu.

Melihatku yang menutup mulutku dengan cepat, Honjou-senpai langsung mengembangkan pipinya dengan lucu, tapi sepertinya dia tidak terlalu mempermasalahkannya, jadi aku merasa lega.

Honjou-senpai melipat tangannya dan melihat ke luar jendela sambil terus berbicara.

“Apa yang dikatakan Yukiyo-kun memang tiba-tiba... tapi ada juga perasaan aneh yang membuatku berpikir sebaliknya. Hei, Otonashi-san.”

“Ya?”

“Yukishiro-kun sebenarnya bukan manusia dari masa depan, ‘kan?”

“Apa yang kamu katakan?”

“Fufufu, hal semacam itu pasti mustahil, iya ‘kan?”

Jika seandainya Towa-kun memang benar orang dari masa depan... hmm~, mungkin rasanya sedikit menarik karena ia bisa menyelamatkanku seolah-olah ia tahu segalanya.

“Misalnya... ya. Misalnya saja Towa-kun memang berasal dari masa depan atau memiliki sesuatu yang berbeda dari kita, aku takkan mempermasalahkannya. Aku mencintai segalanya tentang Towa-kun... aku akan menerima semuanya dan terus bersamanya.”

“Oh, tiba-tiba jadi membual ya.”

“Tentu saja, karena aku memiliki pacar yang begitu luar biasa.”

Honjou-senpai menunjukkan minatnya dengan antusias.

Hanya saja... akhir-akhir ini, aku terlalu mencintai Towa-kun sehingga ketika perasaan cinta ini meluap, aku tidak bisa berhenti berbicara.

Hmm... kurasa aku harus memperbaiki sikapku yang begini.

“Perasaan cinta Otonashi-san tuh terlalu berat ya. Memangnya kamu tidak khawatir kalau Yukishiro-kun akan hancur?”

“Menurutku sih…..itu tidak mungkin terjadi. Karena Towa-kun akan menerima semuanya.”

“Kamu sangat mempercayainya ya?”

“Karena memang beginilah kami berdua.”

Aku sangat menyadari betul kalau perasaan cintaku terlalu berat... dan aku bisa mengatakannya dengan bangga karena aku tahu bahwa Towa-kun akan menerimaku.

Sementara aku terus mengungkapkan perasaanku, Honjou-senpai hanya tersenyum... dan di tengah itu, aku melanjutkan pembicaraanku.

“Sama seperti yang dipikirkan Honjou-senpai, aku merasa bahwa ada sesuatu tentang Towa-kun.”

“Begitu ya?”

“Ya. Bohong rasanya kalau aku tidak merasa penasaran, tapi aku hanya perlu menunggu Towa-kun untuk memberitahuku tentang itu.”

“Menakjubkan sekali...”

"Ya, Towa-kun memang menakjubkan... tapi…”

“?”

“Tidak peduli apa kebenarannya, ketika aku mengetahuinya, aku yakin cintaku akan berkembang lebih besar dari sekarang♪♪”

“Rasanya jadi aku ingin melihat itu...”

Bukannya kamu mengatakan bahwa kamu sangat mencintai Towa-kun sepanjang waktu?

... Tidak, bahkan bagiku itu kedengarannya terlalu bodoh dan menjijikkan... Aku tidak bisa mengatakannya dengan pasti, tapi aku akan berhati-hati!

“Sudah kuduga, mengobrol dengan Otonashi-san selalu terasa menyenangkan. Melihatmu yang begitu tulus kepada orang yang kamu cintai membuat hatiku hangat.”

“Aku merasa kalau hanya aku saja yang terus berbicara…..”

“Aku merasa justru itulah bagian bagusnya. Sekarang, kupikir sudah waktunya untuk kembali bekerja.”

“Ah, maaf sudah mengganggu.”

"Aku tidak keberatan. Silakan kembali lagi ya? Jika kamu merasa kesepian dan ingin berbicara denganku, silakan datang kapan saja.”

Dia mengatakan ini sambil senyum jahil, dan aku menyangkal bahwa aku datang karena merasa kesepian.

Namun, aku juga sangat menikmati waktu yang kuhabiskan untuk berbicara dengan Honjou-senpai, dan aku berharap kalau aku bisa memiliki kesempatan seperti ini lagi.

“Oh iya, benar juga!”

“Apa?”

Honjou-senpai tiba-tiba bertepuk tangan.

“Kita sudah cukup lama mengenal satu sama lain, bukan? Jadi, mungkin ini saatnya bagi kita untuk memanggil satu sama lain dengan nama yang lebih akrab?”

“Maksudnya memanggil dengan nama depan? Iori-senpai?”

Jika memang begitu maksudnya, ayo ambil inisiatif untuk memanggilnya.

Honjou…..Iori-senpai tampak terkejut, tapi dia segera mengangguk dengan gembira.

“Tentu! Ayana-san!”

Dengan begitu, kami mulai memanggil satu sama lain dengan nama depan.

Setelah percakapan seperti itu, aku meninggalkan ruang OSIS dan pulang ke rumah -- cukup menyegarkan dalam perjalanan pulang tanpa Towa-kun di sampingku, tapi aku masih merasa kesepian.

“Towa-kun adalah orang yang aneh, huh…”

Aku mengingat kembali pembicaraanku dengan Iori-senpai dan menggumamkan sesuatu seperti itu.

Towa-kun benar-benar orang yang misterius...Aku penasaran bagaimana ia bisa menyelamatkan begitu banyak orang.

“... Haa, aku benar-benar payah.”

Saat aku memikirkan Towa-kun seperti ini, aku selalu ingin bertemu dengannya.

Setelah memeriksa waktu di layar ponsel, aku mengubah arah jalan pulangku menuju rumah Towa-kun, bukan ke rumahku sendiri... astaga, aku benar-benar wanita yang bermasalah.


 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama