Roshidere Jilid 8 Bab 5 Bahasa Indonesia

Chapter 5 — Kekacauan

 

“Kalau begitu, sampai jumpa lagi.

“Ohh~, sampai nanti.”

Ia melambaikan tangan di depan kelas dan mengucapkan selamat tinggal pada Alisa.

(Haaaahh...)

Kemudian, setelah berbalik dan membelakangi Alisa, Masachika menghela napas panjang di dalam hatinya.

Kemarin, ia mengantar Alisa pulang setelah dia tertidur di ruang UKS. Pada akhirnya, saat dirinya bertemu dengannya pagi ini, Alisa sudah sepenuhnya kembali seperti dirinya yang dulu. Dia tidak terlihat sedang menjaga jarak atau tertekan. Dia tampak kembali bersemangat, yang dengan sendirinya membuat Masachika senang, tapi...

(Sekarang giliran aku yang tidak bisa tetap tenang kali ini.)

Perasaan lembut dan hangat saat dipeluk. Pengakuan kedua yang diucapkan dengan bisikan. Dan kemudian... imajinasi seksualitas Alisa yang diungkap dengan jujur dalam bahasa Rusia.

(Tidak, aku juga sudah mencoba untuk mendengarkannya, tapi... sulit untuk tidak mendengarnya ketika dia mengatakannya dengan jelas di sampingku!!)

Setidaknya sekarang dirinya tahu bahwa Alisa cukup bersih dan teliti soal hal itu. Meskipun sebenarnya ia tidak ingin mengetahuinya, sih.

(Sepertinya….. aku harus memikirkan arti dari pengakuan Alya, tapi jujur saja, aku tidak bisa fokus ke sana...)

Ditambah lagi, karena Alisa sendiri terlihat biasa-biasa saja, Masachika merasa seperti “Mungkin lebih baik melupakan semuanya” dan mulai kehilangan semangat untuk memikirkannya lebih dalam.

(Yah, mungkin ini suatu bentuk pelarian juga...)

Kemarin, Masachika bertekad untuk tidak melarikan diri lagi, tapi akhirnya malah berputar-putar tanpa arah. Kenangan itu membaw kembali rasa malu dan penyeladannya, sehingga Masachika kembali merenungkan dan meminta maaf pada Nonoa dalam hati.

(Aku benar-benar minta maaf. Aku mencurigainya hanya karena menemani Alya... Semuanya salah karena si botak pitak itu. Yup)

Sambil menyalahkan orang lain dengan santai, Masachika mulai melihat ruang OSIS.

“Mmmh.”

Ia lalu berdeham ringan di depan pintu, mengatur ulang postur dan ekspresi wajahnya, dan kemudian mengetuk pintu sampai tiga kali.

“Permisi.”

Sambil mengucapkan salam, Masachika membuka pintu ruang OSIS──

“….Apa-apaan ini?”

Masachika membeku ketika ia mencengkeram gagang pintu saat melihat pemandangan tak terduga yang menarik perhatiannya.

Sejumlah piring dan cangkir kertas berjejer di meja panjang. Di atas piring kertas terdapat makanan manis khas Barat, seperti canelee dan madeleine, dan juga terdapat banyak cemilan manis dan jus. Dalam pemandangan tersebut, yang langsung dikenali sebagai toko manisan, benda yang tampak menonjol adalah jack-o-lantern yang ditempatkan tepat di tengah meja.

“Oh, aku sudah lama menunggumu loh, Kuzze-kun~. Trick or treat!”

“Ini sudah bulan November, tau.”

Masachika langsung mengomentari Senpainya, yang mungkin menyiapkan barang-barang ini, yang bergegas menghampirinya. Kemudian, ia menyipitkan matanya melihat penampilan senpainya.

“Apa-apaan dengan kostum itu? Gadis Ilegal-senpai.”

“Ya, kadang-kadang aku adalah manajer klub musik tiup yang cantik. Terkadang aku adalah si topeng seksi yang misterius. Dan sekarang aku...! Lah, apa maksudmu dengan gadis ilegal?”

“Kupikir kamu sudah cukup umur untuk menyebut dirimu gadis penyihir...”

“Jangan menatapku dengan mata dingin itu! Bahkan aku sendiri menyadarinya sampai tiga kali saat aku menunggu!”

“Kamu sudah kehilangan dirimu sendiri empat kali, bukan?”

Gadis illegal-senpai, alias Elena-senpai, memalingkan wajahnya sembari menghalangi pandangan Masachika dengan kedua tangannya. Dia mengenakan kostum gadis penyihir berenda dan berlekuk-lekuk yang hanya boleh dipakai oleh anak SMP.

“Mau bagaimana lagi! Aku meminta klub kerajinan tangan untuk meminjamkanku kostum cosplay penyihir, dan inilah yang aku dapatkan!”

“Yah, itu sih….”

Elena mengayunkan sesuatu yang tampak seperti tongkat ajaib dengan satu tangan sambil menahan roknya, yang terlalu pendek dan terlalu melebar. Hmm~ itu lumayan ketat.

(Kupikir akan jauh lebih baik jika dia tidak membawa tongkat itu...Dia memang gadis yang selalu serius.)

Setela menghela napas pelan, Masachika mengembalikan pandangannya ke arah meja.

“Ngomong-ngomong, apa jangan-jangan ini persiapan untuk pesta perayaan festival olahraga…?”

“Ah iya, benar sekali, kurasa tidak ada seorang pun kecuali Touya dan Chisaki-chan yang berpartisipasi dalam pesta perayaan festival olahraga, kan? Jadi, aku ingin merayakannya lagi... sekaligus membuatnya seperti perayaan Halloween, oke?”

Kata-kata tersebut diucapkan begitu santai, tapi Masachika kehilangan kata-kata saat mendengarnya.

Seperti yang dikatakan Elena, para anggota OSIS awalnya diundang ke pesta perayaan kepanitiaan setelah festival olahraga. Namun, Yuki dan Ayano menolak untuk berpartisipasi karena situasi yang dialami Yumi, Masachika juga tidak berminat untuk mengahdiri pesta perayaan, dan Alisa juga tidak berpartisipasi karena dia khawatir dengan pasangannya. Maria mengikuti jejak adiknya...pada akhrinya, hanya Ketua dan Wakil Ketua saja yang menghadiri pesta perayaan sebagai perwakilan dari OSIS (?).

“Ah, tidak, aku enggak menyalahkanmu, kok? Lagi pula, rasanya akan terasa canggung untuk menghadiri pesta perayaan setelah kalah dari pertandingan kavaleri seolah-olah tidak terjadi apa-apa, iya ‘kan?”

Elena mengatakan itu dengan nada sedikit panik, tidak yakin bagaimana menafsirkan keheningan Masachika. Tindak lanjutnya sedikit melenceng, tapi karena Masachika tidak bisa membicarakan keadaannya, jadi ia tidak bisa menyangkalnya. Masachika, yang merasa menyesal karena telah membuat senpainya memberi perhatian kepadanya, tertawa samar-samar dan mengalihkan pembicaraan.

“Ah~ jadi itu sebabnya kamu berusaha keras menyiapkan kembali pesta perayaan, ya. Terima kasih banyak untuk itu.”

“Enggak apa-apa, kok~ enggak masalah~.”

“Ngomong-ngomong...Cuma Elena-senpai saja yang datang? Ketua panitianya gimana?”

“Ehh? Ah...kamu tahu sendiri, ia punya pacar yang cemburuan, iya ‘kan?”

Elena menggambarkan partner-nya sendiri dari masa-masa di OSIS dengan tatapan yang mengatakan 'Kee!’

“Pacar yang cemburuan ...... maksudnya untuk tidak menghadiri acara perayaan di mana ada perempuannya? Padahal ini bukan pesta minum-minum di kampus.....”

“Kamu juga berpikir begitu, ‘kan? Padahal tidak melibatkan alhokol sama sekali, jadi tidak ada yang salah dengan itu, kan~? Yah, dia memang terlihat sangat tergila-gila pada pacarnya, jadi mungkin mereka cocok satu sama lain.”

Dengan mengangkat kedua lengannya dan mengangkat bahunya, Elena menunjuk ke atas meja.

“Tapi ada camilan. Lihat, camilan di atas piring itu adalah kiriman dari dirinya.”

“Oh, begitu ya.”

“Katanya cemilan itu berasal dari toko yang cukup terkenal. Dia bilang meskipun tidak bisa datang langsung, ia tetap mau memberikan kontribusi dengan uang.”

“Ia mirip seperti bos yang ideal...”

Masachika berbisik bahwa ia bersikap seperti manajer paruh baya yang hanya membayar untuk pesta minum-minum para anak muda. Kemudian, ia melanjutkan dengan wajah serius.

“Tapi, ada satu informasi yang sangat disayangkan.”

“Eh, apa?”

“Ketua dan wakil ketua tidak akan datang hari ini.”

“Ehh.”

“Selain itu, Alya, Yuki dan Ayano akan datang terlambat.”

Elena memiringkan kepalanya sambil setengah tersenyum ketika mendengar informasi yang diberikan Masachika.

“…Kenapa?”

“Aku mendengar bahwa para tetua Raikokai akan datang ke sini, dan bersama Ketua, dua calon ketua OSIS berikutnya juga telah diundang. Wakil ketua, Sarashina-senpai, sedang pergi ke komite disiplin hari ini, hmmm, sebagai ketua pengganti? Ah, Ayano hanya sedang bertugas bersih-bersih.”

“Raikokai...? Memangnya ada apa lagi?”

“Sepertinya itu tentang donasi...atau lebih tepatnya, sumbangan? Katanya mereka akan membeli tenda baru atau sesuatu seperti itu yang digunakan di festival olahraga?”

“Ah, yahh, memang benar kalau beberapa di antaranya sudah cukup kotor...”

Setelah mengangguk setuju, senyuman Elena berubah menjadi kaku.

“Apa jangan-jangan aku hanya membuang-buang waktu…?”

“...Alya dan Yuki sepertinya datang ke sini hanya untuk menyapa sebentar.”

Bagaimanapun, ini hanya bisa dikatakan sebagai waktu yang tidak pas.

(Jika ingin membuat kejutan, kamu sebaiknya perlu mengumpulkan informasi terlebih dahulu...)

Keduanya saling memandang dengan ekspresi halus saat mereka berdua mendapat pelajaran dari kejadian ini. Kemudian sebuah ketukan terdengar, dan mereka menoleh untuk melihat Maria memasuki ruang OSIS.

“Hah? Elena-senpai? Ya ampun~ ada apaan ini?”

Dia memiringkan kepalanya ke arah Elena, diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya ke arah meja, bercampur dengan sorak-sorai.

Ketika Elena mendapatkan kembali ketenangannya dan menjelaskan situasinya lagi, Maria dengan gembira tersenyum dan duduk di kursinya, matanya berbinar karena melihat manisan Barat yang tampak lezat.

“Wahh, ini kelihatannya enak sekali...oh?”

Dan sambil berkedip, Maria mengambil canelé dan mendekatkannya ke hidungnya untuk mengendusnya.

“Apa semilan ini… menggunakan alkohol?”

“Iyalah, namanya juga cemilan canelé. Kalau tidak salah ada rum di dalamnya.”

“Begitu ya~? Hmm~ sayang sekali, sepertinya aku tidak bisa memakan ini~.”

“Eh, kenapa? Kamu tidak suka alkohol?”

Menanggapi pertanyaan Masachika, Maria tersenyum sedikit malu-malu sambil memegang canelé.

“Bukannya aku tidak menyukainya...Hanya saja, aku benar-benar lemah dengan alkohol...Aku langsung mabuk hanya karena bau vodka yang penah dipanaskan kakekku di perapian.”

“Hanya karena baunya? ...Ah, begitu ya. Alkohol mudah menguap, sih. Jadi alkohol yang berbentuk gas membuatmu mabuk, ya….”

“Betul banget~. Ah, tapi baunya enak sekali... Oh, tapi baunya enak sekali ...... Kismis rum juga sama, tapi rum memiliki aroma manisnya sendiri~. Hmm, sayang sekali saya tidak bisa memakannya~.”

Maria memandangi canelé dengan sedih, yang dipanggang dengan warna yang tampak seperti permata hitam, dan menggumamkan hal-hal seperti, “Kalau Cuma sedikit...” “Hmm, tapi...'”

“Aku tidak pernanh menyangka kalau Maria-chan lemah terjadap alkohol... Kupikir orang Rusia lebih kuat dalam hal minum allohol daripada orang Jepang.”

“Yah, karena Masha-san adalah keturunan setengah Jepang, sih. Tidak semua orang Rusia bisa kuat minum alkohol.”

“Kurasa itu ada benarnya. Ah, tapi entah mengapa aku merasa kalau Alisa-chan sepertinya peminum yang kuat.”

“Bener banget. Maksudku, aku tidak bisa membayangkan Alya menjadi begitu mabuk...”

“Aku paham banget~. Jadi Maria-chan, aslinya bagaimana? Tapi kurasa mungkin Alisa-chan juga tidak pernah minum alkohol, tapi...”

Suara Elena tiba-tiba melambat dan berhenti saat dia bertanya sambil menatap Maria. Mengikuti tatapannya, Masachika segera menyadari alasannya.

“Hmm~? Apanya~~?”

Suara Maria mendadak jadi lebih lembut dan lesu dari biasanya, dan matanya tampak melamun. Dan dari area kepalanya yang biasanya sering muncul gambaran bunga dan tanda hati, kini digantikan dengan gelembung-gelembung...Di tangannya ada sebuah canelé yang indah tanpa ada bekas gigitan.

“Dia beneran mabuk hanya karena baunya saja!!”

Saat Masachika mengomentari Maria yang jelas-jelas mabuk, Maria mengeluarkan suara linglung “Hm~~?” seperti baru bangun tidur, memiringkan kepalanya dan tersenyum cengengesan. Dia kemudian bersandar di sandaran kursi dan mengambil sebuah canelé di tangannya dan hendak memasukkannya ke dalam mulutnya.

“Jangan dimakan!”

Elena bergegas mendekatinya dan merebut canelé itu dari tangan Maria. Kemudian seluruh piring kertas dipindahkan dari tangannya, dan Maria mengulurkan tangan sambil berkata 'ahh~~'. Dia merentangkan tangannya hingga batas dan menepuk-nepuknya sambil meletakkan payudaranya yang besar di atas meja. Ketika dia menyadari bahwa dia tidak dapat mencapainya, Maria meraih canelé dari kursi di sebelahnya, dan Masachika buru-buru mengambilnya juga. Saat Masachika dan Elena bekerja sama memindahkan piring kertasnya, Maria menggembungkan pipinya seperti anak kecil dan mengambil sekotak coklat di dekatnya.

“Umm, Elena-senpai. Aku tidak ingin menyinggungmu karena kamu sudah bersusah payah mengaturnya dengan begitu rapi, tapi kupikir sebaiknya kita harus menyingkirkan ini dulu...”

“Be-Benar juga. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan Maria-chan memakannya..."

“Uenakknya~

Baru saja ketika Elena mengatakan itu, mereka bisa mendengar suara gembira Maria dari samping, dan ketika menoleh, mereka melihat Maria mengambil sepotong coklat dari nampan yang dia keluarkan dari kotak sembari tersenyum bahagia. Dan gelembung sabun baru tampak keluar dari kepalanya dengan bunyi ‘poaah~~’. Tentu saja, itu hanyalah sebuah gambaran saja.

“Ah, coklat itu berisi minuman alkohol…”

“Sudah telat kali!?”

Mau tak mau Masachika mengkritik senpainya saat dirinya mengulurkan tangan ke arah Maria, yang hendak melakukan memakan cokelatnya lagi. Akhirnya, ia berhasil mencuri sekotak coklat tersebut, namun sayangnya…. Masachika tidak dapat menghentikannya untuk memakan coklat yang sudah diambilnya. Setelah memasukkan coklat kedua ke dalam mulutnya, mata Maria semakin melebar dan dia mulai mengayunkan tubuhnya sambil menyenandungkan sesuatu.

“...Eh, bukannya sedikit gawat?”

“Tidak, mau bagaimanapun kamu melihatnya, ini memang gawat.”

“Bukan begitu, maksduku… Jika ada orang lain yang melihat pemandangan ini, bukannya itu akan menimbulkan kesalahpahaman yang berbahaya?”

Usai mendengar perkataan Elena, Masachika tiba-tiba berhenti bergerak. Ia kemudian berpikir. Bagaimana pemandangan ini terlihat oleh orang luar yang tidak mengetahui situasinya?

[Anggota OSIS di Akademi Seirei yang bergengsi, sedang minum-minum alcohol secara tak terduga di ruang OSIS?]

Dengan membayangkan judul berita yang memalukan semacam itu, Masachika segera berlari ke pintu dan segera menguncinya.

Tentu saja, kebanyakan orang akan mengerti jika mereka menjelaskan situasinya. Namun, ada sejumlah orang tertentu di dunia ini yang dengan jahat mencoba merendahkan orang yang berstatus sosial tinggi. Apalagi jika itu adalah pengurus OSIS yang memiliki banyak orang yang mencoba menggantikannya, jadi tidak ada salahnya untuk terus berhati-hati.

(Tidak ada jaminan bahwa seseorang seperti Kiryuuin, yang bertujuan menjatuhkan OSIS saat ini, tidak akan muncul lagi.)

Sambil memikirkan hal tersebut, Masachika langsung menutup semua tirai untuk berjaga-jaga. Kemudian, setelah tidak lagi khawatir terlihat dari luar, dirinya berbalik dan melihat Maria menggelengkan kepalanya dari satu sisi ke sisi lain sambil memandangi wajah Elena.

“Loh~? Elena-senpai... kok kamu tiba-tiba ada banyak?”

“Apanya yang tiba-tiba ada banyak?!”

“Hmm~~?”

Maria mengeluarkan suara yang tidak jelas sambil menengadah ke depan dan terus terhuyung-huyung. Dia terlihat seperti akan jatuh dari kursinya,  jadi Masachika bergegas lari ke sampingnya.

“Apa kamu baik-baik saja, Masha-san? Mau duduk di sofa?”

“Hmm~~~?”

Ketika dia mendengar suara Masachika dan memiringkan kepalanya ke belakang, Maria menatap Masachika dan tersenyum polos.

“Kamu mau menggendongku? Un, iya deh~”

Masachika tersenyum kecut pada Maria yang mengatakan itu sambil merentangkan tangannya.

“Tidak, mana bisa aku menggendongmu begitu saja...”

“Eh~? Gendongin aku dong~...”

“Tungguuuuuu!?”

Tiba-tiba dipeluk di bagian perut, Masachika secara refleks mundur. Maria kemudian meluncur dari kursi seolah-olah terbawa, membiarkan lengannya yang memeluk Masachika tidak tersentuh. Hal tersebut secara alami menyebabkan lengannya yang melingkari perut Masachika, secara otomatis meluncur ke bawah.

“Ah, tu-tunggu.”

Ketika badannya hampir terjatuh, Masachika buru-buru meletakkan tangannya di atas meja di sampingnya. Ia kemudian menatap Maria, yang menjatuhkan diri untuk duduk di lantai sambil memeluk kaki Masachika, dan memanggilnya.

“Apa kamu baik-baik saja? Apa lututku membenturmu?”

“Hmm~”

“Yang mana jadinya? Umm, bisakah kamu memegang lenganku, bukan kakiku?”

“Ayo berdirilah, Maria-chan.”

Elena menghampirinya dan memasukkan kedua tangannya ke kedua sisi tubuh Maria dan mengangkatnya dengan cepat .......dia sudah mencobanya. Mungkin. Tapi, dia tidak bangun sama sekali.

“.....”

Saat Masachika menatapnya dengan tatapan lembut, Elena menegakkan tubuhnya dan menyeka keringat, yang bahkan tidak menetes, dengan punggung tangannya.

“Fyuhh... baiklah, kurasa aku cukupkan dulu untuk kali ini.”

“Apa yang membuatmu merasa seolah-olah sudah mencapai sesuatu?”

“Aku benar-benar menikmati payudara samping Maria-chan!”

“Apa sih yang sedang kamu melakukan sampai melecehkannya secara seksual dengan santai begitu saja!? Ups.”

Pada saat itu, tangan kanan Masachika tiba-tiba ditarik, dan ketika menengok, ia melihat Maria perlahan-lahan berdiri sambil merayap di sepanjang lengan Masachika. Dia kemudian berdiri, memeluk lengan kanan Masachika, dan bersandar padanya.

“Ups... kamu baik-baik saja? Masha-san.”

“Apanya~~?”

“Malah tanya balik... Pokoknya, ayo kita ke sofa dulu, oke? Kamu bisa berjalan?”

“Hmmm~~, bisya khok!”

“Begitu ya~ hebat sekali ya~.”

Ketika Maria tiba-tiba menunjuk tangan dengan ceria, dia tersenyum dan menempelkan kepalanya ke bahu Masachika..

“Hehehe~, Ma-chan gadis yang hebat?”

“Iya, iya, kamu gadis yang hebat.”

“Kalau begitu, elus kepalaku?”

“Ehh?”

“Elus~elus~kepalaku~~”

Maria menggoyangkan tubuhnya seperti anak manja, dan kepalanya masih bergeleng-geleng.

 (Apa-apaan ini? Hadiah buatku?)

Mau tak mau Masachika merasa seperti itu dengan wajah datar, lalu ia menampar dirinya sendiri di dalam hatinya.

“Um, kalau begitu...”

Masachika dengan ragu mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala Maria, karena sepertinya Maria takkan bisa terus berjalan tidak peduli berapa lama waktu berlalu. Kemudian, Masachika dengan lembut membelai rambutnya yang halus dan lembut beberapa kali. Lalu, aroma bunga yang samar-samar menyebar lembut dari rambutnya, dan wajah Maria pun tersenyum.

“Mfufufu~ aku dipuji~”

Maria kemudian mendekatkan dirinya lebih dekat lagi ke Masachika, seolah-olah meminta lebih.

(Bagaimanapun, ini mungkin memang yang terbaik)

Masachika menampar dirinya sendiri lagi, kali ini bolak-balik.

“Ayo, berjalanlah dengan hati-hati...”

Kemudian, dengan wajah serius di permukaan, dirinya mulai berjalan menuju sofa.

“Le-Lengan Kuze-kun terkubur di dada Maria-chan...”

“Bisakah kamu menyesalinya sedikit, Erona-senpai?”

Masachika menatap dingin ke arah senpainya yang bersusah payah menunjukkan hal-hal yang tidak disadari orang lain, dan ketika sampai di sofa, ia menatap Maria, yang bersandar padanya sambil berpegangan pada lengan kanannya.

“Kita sudah sampai. Ayo, apa kamu bisa duduk?”

Kalau bisa, kamu boleh sekalian berbaring dan tidurlah. Masachika menelan niatnya yang sebenarnya dan menunggu Maria duduk sendiri. Kemudian, Maria menatap Masachika dengan mata kosong, memiringkan kepalanya dan berkata,

“Loh~? Sa-k──”

“Oooi!?”

Masachika dengan cepat menutup mulut Maria dengan tangannya ketika mendengar nama yang hampir keceplosan keluar.

(Gawat, gawat, gawat! Yang ini sih benar-benar gawat!!)

Masachika tidak tahu apakah Elena mengetahui nama pacarnya Maria. Namun, jika kebetulan dia mengetahuinya, itu akan menjadi masalah besar.

Apa dia mabuk dan salah mengira Masachika sebagai pacarnya? Apakah tipuan seperti itu akan berhasil? Biarpun ia bisa membodohi Elena dengan itu... jika Alisa atau Yuki muncul di sini, dirinya akan mendapat masalah. Hal yang sama juga berlaku meskipun mulut Elena menyampaikan fakta bahwa Maria memanggil Masachika dengan sebutan 'Sa-kun'. Masachika tidak memiliki kepercayaan diri untuk menipu mereka berdua.

(Jika demikian, maka kurasa aku bisa meminta Elena-senpai untuk pergi keluar terlebih dulu!)

Setelah membuat keputusan itu hanya dalam satu detik, Masachika kembali menoleh ke arah Elena, yang tersentak ketika ia menatapnya, dan berkata,

“Maaf, Elena-senpai! Aku khawatir Masha-san akan muntah, jadi bisakah kamu membawakan ember atau sesuatu seperti plastik kresek atau semacamnya!?”

“Eh, kalau itu plastik sampah, itu ada di sana...”

“Kalau baunya menempel di lantai bakalan gawat, kan!? Ayo cepatlah!”

“Ya, siap!”

Tertekan oleh ancaman Masachika, Elena langsung bergegas ke pintu, dan sambil berusaha membukanya, dia segera berlari keluar dari ruang OSIS.

“...Fiuh.”

Setelah berhasil melewati keadaan mendesak, Masachika menghembuskan napas lega.

“Ah, maafkan aku.”

Kemudian, saat Masachika menyadari kalau Maria sedang menatapku dengan tatapan mata aneh dan mulut yang tertutup, ia dengan lembut melepaskan tangannya. Kemudian, Maria memiringkan kepalanya dan bertanya.

“Sa-kun...juga ikut bertambah?”

“Aku sama sekali tidak bertambah.”

“Ehh~? Yang mana milikku, dan yang mana milik Alya-chan~~?”

“Dibilangin aku tidak membelah diri.”

“Hmm~~ kalau begitu aku yang ini!”

Entah dia mendengar bantahan Masachika atau tidak, Maria sekali lagi kembali memeluk tangan Masachika dengan erat.

“Tidak, yang di sini sih sedari tadi asli…”

“Nfufu~ benar sekali~.”

“Apanya??”

Sambil menghela napas pada Maria, yang bahkan lebih sulit untuk diajak berkomunikasi daripada biasanya, Masachika mencoba mengunci kembali pintu yang ditinggalkan Elena ....namun......

“Umm, Masha-san. Apa kamu bisa melepaskanku sebentar?”

Saat Masachika bertanya kepada Maria yang masih memegang erat lengannya, dia menggembungkan pipinya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Enggak~”

“Malah bilang enggak...”

Masachika menatap Maria, yang menolak seperti anak kecil, dengan wajah bermasalah. Lalu, ia dengan enggan mencoba menyeretnya menuju pintu...

“Enggak mau~!”

“Uooh!?”

Tiba-tiba, lengan Masachika ditarik sekuat tenaga, dan ia tersandung kaget karena kejutan yang tidak terduga.

“Tungg—, tenaganya kuat banget!”

Selagi ia mengatakan ini, Masachika terjatuh ke atas sofa seolah-olah ditarik ke bawah oleh Maria. Masachika merasa lega karena dirinya tidak menabrak apa pun, tapi ia merasa ngeri dengan kekuatan Maria yang tak terduga.

(Ehh, apa-apaan dengan kekuatannya tadi!? Jangan bilang kalau alkohol membuat pembatas otaknya jadi hilang?)

Kekuatan fisik Maria begitu besar sehingga pemikiran konyol seperti itu muncul di benaknya. Tentu saja, Masachika berhati-hati agar tidak menyakiti Maria, tapi kekuatan yang dia tunjukkan tadi bukanlah kekuatan seorang gadis biasa. Bahkan sekarang, Masachika merasa tidak bisa melepaskan tangannya sama sekali.

“Anu~... Masha-san? Bisakah kamu melepaskanku?”

Masachika duduk di sebelahnya dan bertanya lagi pada Maria, yang sedang menundukkan kepalanya. Namun, Maria hanya menjawab dengan suara kecil, “Enggak mau,” dengan wajah tetap menunduk. Bahkan Masachika merasa terganggu dengan hal ini.

"Bahkan jika kamu bilang enggak mau terus...apanya yang enggak mau?”

Meskipun ia tidak mengharapkan percakapan bisa terjadi, tapi Masachika masih berusaha bertanya sebisa mungkin. Kemudian, Maria mendongak dengan tatapan matanya dipenuhi kelembapan, dan berkata,

“Habisnya… kamu berencana pergi ke tempatnya Alya-chan, ‘kan?”

“Hah?”

“Enggak mau, aku tidak akan membiarkanmu pergi.”

Setelah mengatakan itu, Maria menunduk lagi dan membenamkan wajahnya di bahu Masachika. Mendengar kata-kata itu... Masachika terdiam, mengetahui bahwa itu adalah ocehan ngelantur seorang pemabuk, tapi tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

“...Aku tidak akan pergi. Aku hanya akan mengunci pintu saja.”

Hampir saja, ia hanya memberitahukan fakta itu kepadanya. Kemudian Maria mendongak lagi, melihat wajah Masachika dari jarak dekat dan berbisik.

“Hei, Sa-kun...”

“Ya.”

“Apa kamu, menyukaiku?”

“!?”

Mata Masachika menjadi kosong sejenak ketika ia tiba-tiba diberi pertanyaan yang keterlaluan. Dengan pipinya yang berkedut, Masachika tertawa canggung dan langsung melontarkan jawabannya.

“Sepertinya kamu sudah mabuk berat, ya.”

“Apa kamu menyukaiku?”

Namun, upayanya untuk mengelabui Maria digagalkan oleh pertanyaan lain. Pipi Masachika semakin berkedut, dan senyumannya semakin dalam saat ia menipu dirinya sendiri…. tapi saat melihat Maria menatapnya, mata coklat mudanya tampak berlinang air mata, jadi Masachika dengan cepat menarik kembali senyumannya dan mendongak sambil memejamkan matanya.

“...Aku menyukaimu, kok. Sebagai dirimu pribadi.”

Masachika menjawab demikian, dan giginya bergemeretak karena jawaban yang belum terselesaikan, lalu ia berusaha untuk memeras suaranya keluar.

“...Bahkan sebagai seorang wanita...Aku mungkin menyukaimu.”

Itulah perasaan Masachika yang sebenarnya.

Dirinya benar-benar tertarik pada Maria. Ia naksir berat pada cinta pertamanya, seorang gadis yang secara ajaib dipertemukan kembali dengannya selama beberapa tahun. Itulah yang ia pikirkan. Tapi,

“Aku belum siap ...... untuk mengakuinya sendiri.”

Sekarang setelah dirinya kehilangan harga diri, ia tidak dapat menerima kebaikan yang ditunjukkan Maria kepadanya. Jika Masachika memaksakan diri untuk melakukan hal tersebut, dirinya mungkin akan menganggap bahwa kebaikan Maria sebagai sebuah beban, menyudutkan dirinya sendiri, dan akhirnya semakin membenci dirinya sendiri.

(Pertama-tama...Aku harus menyukai diriku sendiri karena Masha-san menyukaiku.)

Dirinya ingin bisa menerima kebaikan itu dengan bangga. Bahkan…Masachika sudah tahu sejak dulu mengenai apa yang harus dia lakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Meskipun ia mengetahuinya, dirinya terus memalingkan diri dari kenyataan.

(Tapi... aku juga harus berhenti melakukan itu.)

Masachika merasa bahwa waktu dimana ia harus menghadapinya telah tiba.

Dirinya memiliki firasat. Bahkan dalam waktu dekat, ia tidak bisa melarikan diri lagi. Jadi...mari membuat janji di sini.

“Aku pasti…”

Ia membuka mulutnya yang berat dan mengeluarkan suaranya dari dadanya. Kemudian Masachika menyatakan hal ini kepada Maria dan dirinya sendiri.

“Aku pasti…. akan menghadapinya. Menghadapi kesalahan-kesalahanku. Kesalahan yang membuatku menjadi diriku yang sekarang.”

Setelah mengatakan hal ini, Masachika menatap lurus mata Maria dan berkata dengan suara yang lembut.

“Jadi...bisakah kamu menungguku? Suatu hari nanti, aku pasti akan menghadapi perasaan Masha-san juga.”

Setelah mendengar ucapan Masachika yang penuh dengan ketulusan, Maria menggelengkan kepalanya dan berkata dengan cemberut

“Hmm, aku tidak mengerti meskipun kamu mengatakan hal yang sulit begitu.”

“Eh~~~ serius nih~~padahal aku sudah berusaha mengumpulkan keberanianku, tau~?”

Tidak cukup hanya dengan mengalihkan perhatian. Mendengar reaksi Maria yang tidak berlebihan, Masachika menyandarkan diri di sofa sambil mengerang. Bagaimanapun juga, yang namanya pemabuk tetaplah pemabuk. Apa aku membuat kesalahan karena menganggapnya serius….? Masachika memberinya pandangan jauh, dan Maria menarik-narik lengannya dengan cemberut tidak puas.

“Kamu bisa mengatakannya dengan cara yang gampang enggak? Apa kamu menyukaiku?”

Masachika menjawab dengan senyum kecut atas pertanyaan itu, yang secara halus terdengar seperti pertanyaan anak kecil.

“...Ah, ya, aku menyukaimu.”

“Bohong.”

“Begitu ya, jadi ini tipe yang tidak peduli jawaban mana yang kuberikan.”

Penolakan Maria untuk mendengarkannya akhirnya membuat Masachika enggan untuk menanggapinya dengan serius.

(Ahh~ duhh~, aku tidak peduli apapun lagi dan cepetan sana tidur... kayak orang mabuk pada umumnya)

Dengan demikian, maka krisis ini akan berakhir sepenuhnya. Saat Masachika berpikir seperti itu, dirinya mendengar suara cemberut Maria.

“Sebenarnya... kamu lebih menyukai diriku yang dulu, bukan?”

Mendengar kata-kata tak terduga tersebut, Masachika terdiam sejenak, lalu menatap Maria dengan wajah datar. Kemudian, pandangan matanya bertemu dengan Maria, yang menatapnya dengan tatapan mata basah dan bibirnya cemberut karena ketidakpuasan.

“Sebenarnya, kamu lebih menyukaiku yang seperti dulu dengan rambut pirang dan panjang, serta bermata biru. Dan kamu juga lebih menyukaiku ketika aku masih langsing, ‘kan?”

“……Apa..”

“Habisnya, Kuze-kun, kamu tidak mengenaliku.”

Kalimat tersebut sangat menusuk hati Masachika. Ketika Masachika kehilangan kata-kata, tatapan Maria masih terlihat basah dan dia berbicara dengan sedih.

“Kamu tidak menyukaiku karena aku sudah berubah.”

Hal itu sama sekali tidak benar. Argumen bantahan seperti itu langsung terlintas di benaknya, tapi...entah kenapa, kata-kata tersebut tidak pernah keluar dari mulut Masachika.

Bagaimana ia bisa meyakini kalau mereka berbeda? Bahkan setelah mengetahui bahwa Maria adalah Ma-chan, Masachika masih bingung dengan penampilannya yang sudah berubah dan berbeda, dan sulit mempercayai bahwa mereka berdua adalah orang yang sama.

(Seandainya saja...Masha-san tumbuh dengan penampilannya saat itu...)

Dia memiliki rambut pirang yang panjang dan lembut, mata biru yang berkilauan. Senyumannya yang cerah, menawan dan polos, seolah-olah membuatnya tampak seperti anak kecil yang tumbuh menjadi dewasa. Bagaimana seandainya, jika Maria muncul di hadapan Masachika lagi dalam penampilan yang dapat dikenali pada pandangan pertama? Masachika mungkin .....akan jatuh cinta lagi pada pandangan pertama. Tidak ada dasar dalam diri Masachika untuk menyangkal hal itu.

“...”

“Seperti yang kuduga, ternyata itu benar.”

Mungkin menganggap diamnya Masachika sebagai penegasan, Maria dengan cepat melepaskan diri dari Masachika dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

“Ah, bukan begitu...”

“...hiks.”

“!?”

Suara cegukan yang terdengar saat dia sesenggukkan, mengirimkan rasa bersalah yang kuat ke dalam hati Masachika.

Prioritas utama untuk mengunci pintu juga langsung terlupakan, dan Masachika berputar di atas sofa dan membalikkan badannya untuk menghadap Maria.

“Umm, itu.”

Hiks, aku berubah bukan karena aku menginginkannya... Tapi warna rambutku berubah, warna mataku berubah, dan bentuk tubuhku... jadi semakin gemuk.”

“O-Ohh? Ketimbang dibilang gemuk, itu sih lebih mirip ke...”

“Tapi aku dengar anak laki-laki menyukai gadis seperti itu, jadi aku… Tapi, Sa-kun, kamu masih menyukai diriku yang dulu…”

“Ti-Tidak.”

Ketika dia secara tidak terduga mengungkapkan kekhawatirannya yang serius, Masachika segera berseru.

“Aku! Menurutku, Masha-san yang sekarang juga sangat menarik...Aku juga menyukai Masha-san yang sekarang!”

Mendengar teriakan Masachika yang lugas, Maria mendongak dengan cepat. Kemudian, dengan mata yang sedikit memerah, dia bertanya dengan nada memohon.

“Benarkah...? Apa kamu benar-benar menyukaiku?”

“Ehh, yah, baiklah... Rambut dan mata Masha-san terlihat indah sekali... Aku menyukainya.”

“...Lebih dari diriku yang dulu?"

“Ghh.”

Sudah diduga, pertanyaan itu tidak bisa langsung terjawab. Maria dengan cepat memalingkan wajahnya dari Masachika, yang matanya bergerak ke berbagai arah.

“Seperti yang kuduga, ternyata itu bohong...”

“Tidak, itu tidak benar!! Bukan berarti aku lebih menyukai yang satu daripada yang lain, tapi justru karena aku menyukai keduanya...”

Meskipun Masachika berpikir dia ragu-ragu, ia berpikir dengan penuh alasan dan berkata, “Tapi aku sungguh-sungguh...'”, tapi Maria segera membuang muka dengan cemberut.

“Bohong, aku tidak mempercayainya.”

“Padahal aku sudah berkata jujur...tapi bagaimana aku bisa membuatmu percaya padaku?”

Menanggapi pertanyaan Masachika, Maria menatapnya dengan tatapan aneh, mungkin karena efek alkohol, lalu meraih tangan kanan Masachika. Kemudian, dia mendekatkan tangan kanan tersebut ke sisi wajahnya, memiringkan kepalanya, dan membiarkan tangan Masachika menyentuh rambutnya.

“Kalau begitu, coba tatap mataku dan katakan padaku? Apa kamu menyukai rambutku?”

“Ak-Aku menyukainya.”

Masachika sedikit terguncang oleh sentuhan rambut di telapak tangannya dan sentuhan pipinya di sisi lain, tapi dirinya berhasil menatap mata Maria dan berkata demikian. Kemudian, Maria memejamkan matanya dan meletakkan pipinya di tangan Masachika, membiarkannya menyentuh kelopak matanya. Lalu, dengan tangan Masachika masih di pipinya, dia membuka matanya dan bertanya.

“Apa kamu menyukai mataku?”

“Aku menyukainya—”

Ketika ia hendak mengatakan itu….

Pendengaran Masachika menangkap suara dua langkah kaki yang mendekatinya dan suara yang tidak asing lagi. Itu adalah… suara Alisa dan Yuki, yang seharusnya berurusan dengan para perkumpulan alumni bersama Touya.

Sesaat kemudian, sensasi krisis yang kuat menusuk sumsum tulang belakang Masachika.

(Seriusan!? Mereka berdua sudah ada di sini!? Gawat, gawat, gawat, kedua orang itu benar-benar gawat!!)

Saat Masachika menatap pintu yang tidak terkunci dengan berkeringat dingin, suara penuh kecemasan memanggilnya dari depan.

“Sa-kun...?”

Ketika mendengar suaranya, Masachika mengembalikan pandangannya ke depan, dan sekali lagi menyadari situasinya bahwa tangan kanannya masih dipegang oleh Maria... Untuk sesaat, ia dengan serius mempertimbangkan untuk melakukan teknik rahasia [Pukulan leher pembuat pingsan].

(Tapi dengar-dengar jika seseorang melakukannya dengan buruk, sepertinya itu menyebabkan efek samping yang permanen, jadi aku tidak boleh melakukannya pada orang yang tidak bersalah!!)

Masachika segera menolak gagasan itu, dan berseru dengan cepat karena keadaan yang semakin mendesak.

“Ah, aku menyukainya, aku menyukainya! Jadi...maafkan aku!”

Saat dirinya sedang mengatakan itu, suara langkah kaki dan obrolan mereka semakin mendekat, dan Masachika dengan setengah paksa melepas tangan Maria dengan tangan kirinya dan berlari menuju pintu. Ia dengan cepat dan hati-hati menutup pintu ruang OSIS tanpa menimbulkan bunyi apa pun.

Akhirnya ia bisa bernapas lega...tetapi masalahnya baru dimulai di sini.

(Sialan, bagaimana aku membuat alasan untuk melarang mereka masuk ke ruang OSIS!!?)

Jika hanya Alisa, Masachika yakin kalau ia masih bisa membujuknya. Masalahnya adalah Yuki.

Alasan sepele tidak akan berhasil melawan adik perempuannya itu, dan Yuki adalah orang yang suka iseng dan suka berbuat onar. Jadi kemungkinan besar, dia akan mencoba menerobos masuk seenaknya jika merasakan tanda-tanda masalah yang terlihat seperti sesuatu yang menarik.

(Apa tidak ada sesuatu?! Alasan rasional yang tidak dapat dihindari! Alasan karena ruang OSIS sudah dilapisi lilin? Jadi aku harus memasang tanda dan membuatnya menjauh...... Tidak, itu sudah terlambat sekarang! Apa ada sesuatu alasan kenapa aku di dalam dan tidak ada orang lain yang bisa masuk? Sesuatu──)

Ia harus mengerahkan kekuatan bujukannya!

Segera setelah Masachika berhasil mengatur posisinya dan dengan cepat menjauh dari pintu, pintu berayun dengan bunyi dentang setelah ketukan.

“Ara? Kenapa pintunya terkunci...?”

Masachika memanggil Yuki yang bertanya-tanya dari balik pintu, sambil berpura-pura bersikap santai.

“Ah, Yuki, ya? Maaf! Sekarang keadaannya sedang sedikit kacau...”

“Masachika-kun? Apa terjadi sesuatu?”

“Ah~~~gimana ya~~ aku merasa kesulitan untuk menjelaskannya...”

“Masachika-kun, bisakah kamu membuka pintunya dulu sekarang?”

“Maaf, kurasa aku tidak melakukannya...”

“Kenapa?!”

“Hmmm~~yah...”

Masachika sengaja mengaburkan kata-katanya untuk menjawab pertanyaan mereka dan berpura-pura menjadi orang yang sok. Jika seseorang berpikir bahwa dia telah 'mengungkap apa yang mereka sembunyikan', dia akan merasa puas sampai batas tertentu, terlepas dari kebenaran atau kepalsuannya.

Kemudian, setelah membuat Alisa berada di ambang ketidaksabarannya, Masachika memberitahunya dengan nada yang seolah-olah ia merasa kesulitan untuk membicarakannya.

“Sebenarnya... Elena-senpai baru saja membawakan kue yang berisi durian. Jadi Ruang OSIS saat ini dipenuhi bau yang sangat tidak sedap.”

Setelah jeda beberapa detik, suara Alisa dipenuhi dengan kebingungan dan keraguan, seakan-akan dia tidak mampu menelaah keadaan tersebut.

“Eh, kenapa Elena-senpai membawa itu? Atau lebih tepatnya, durian?”

“Sepertinya dia berencana ingin mengadakan sesuatu seperti pesta perayaan setelah festival olahraga, tapi...Saat dia membuka segel pada kue yang dibawanya, rasanya seperti bom yang sangat bau...Kenapa dia memilih sesuatu seperti itu? Kamu bisa langsung menanyakan itu padanya. Dia bilang dia akan membawa deodoran dan langsung pergi begitu saja tadi.”

Masachika menceritakan kebohongan yang mengalir sambil menyalahkan semua itu kepada Elena. Orang lebih cenderung mempercayai cerita yang sedikit aneh. Dan Elena memiliki citra bahwa dia mungkin melakukan sesuatu yang tidak biasa.

Sambil meminta maaf kepada Elena yang sedang memprotes di kepalanya, [Jadi  aku diperlakukan seperti orang aneh, ya!], Masachika melanjutkan dengan suara yang sedikit pengap dan nada yang benar-benar jijik, bercampur embusan napas.

“Jadi, saat ini aku sedang sibuk membungkus kuenya kembali, membuka ventilasi, dan menghilangkan bau pada kue. Aku bukannya bermaksud mengusir kalian, tapi baunya mungkin akan menempel dan menimbulkan bau pada pakaian dan tubuh, jadi sebaiknya kalian pergi saja untuk hari ini.”

“Be-Begitu ya... Kalau begitu, aku tidak bisa menyalahkanmu... Apa kamu baik-baik saja, Masachika-kun?”

“Yah, aku sih sudah terbiasa...masih bau, tapi menurutku lama kelamaan akan membaik, jadi aku tidak apa-apa.”

Masachika melakukan pose kemenangan kecil karena bisa meyakinkan Alisa untuk saat ini. Dan kemudian ia mendengar suara Yuki yang prihatin.

“Yah, tolong jangan terlalu berlebihan...”

Usai mendengar kata-kata itu, Masachika berpikir, “Oh, ternyata aku bisa melaluinya dengan mudah?”, tapi...

“Ngomong-ngomong, Masachika-kun, aku sedikit khawatir dengan beberapa barang yang disumbangkan kepada kami di masa lalu...... Bisakah kamu memberiku ringkasan materi yang disumbangkan oleh Raikokai?”

Kata-kata Yuki selanjutnya menyadarkannya bahwa ia telah membuat keputusan yang buruk.

“...Tidak, dokumennya mungkin juga berbau, dan tidak ada gunanya membuka pintu ini sejak awal.”

“Kamu tinggal membukanya saja sebentar kok. Mungkin baunya tidak seburuk yang kamu pikirkan, tau? ”

Masachika mulai merasa yakin ketika mendengar kata-kata Yuki yang sugestif.

(Sialan nih anak...! Dia pasti merasakan sesuatu yang menarik!?)

Suara yang didengarnya sangat anggun dan elegan seperti biasanya. Tapi Masachika bisa dengan jelas membayangkan adik tengilnya di balik pintu dengan senyum jahat yang tersembunyi di balik senyuman manisnya. Dan secara kebetulan, ia juga bisa membayangkan Alisa yang tampak bingung di sampingnya.

Ketika Masachika sedang memikirkan apa yang harus dilakukannya ...... tiba-tiba ia mendengar suara baru dari balik pintu.

“Loh? Alisa-chan dan Yuki-chan...apa urusan kalian sudah selesai?”

“Terima kasih atas kerja kerasmu, Elena-senpai...kamu mengenakan sesuatu yang luar biasa. Mari kesampingkan hal itu dulu, bagaimana dengan ini—”

“Ah, sepertinya Elena-senpai sudah kembali, ya! Aku sudah menutup kembali kue duriannya, tapi apa kamu berhasil menemukan deodoran? Yah, aku ragu ada deodoran yang efektif melawan durian !!”

Masachika segera meninggikan suaranya dan menyela suara Yuki yang berusaha mengungkap kebohongannya. Masachika kemudian menatap pintu seolah-olah berdoa agar pesannya tersampaikan.

Tiga detik yang menegangkan berlalu, dan aku mendengar suara Elena.

“Ahh~...Tidak, tadinya aku mau meminjamnya dari teman klub atletik, tapi dia sudah pulang...Aku juga tidak bisa membawa pewangi toilet, jadi aku memutuskan untuk menggunakan plastik dan ember untuk menutup kuenya.”

(Sippp!!)

Masachika diam-diam memberikan tos kemenangan kepada Elena, yang telah menunjukkan kebijaksanaan yang luar biasa seperti yang diharapkan dari mantan wakil ketua OSIS. Kemudian, Alisa datang menyelamatkannya.

“Kalau begitu...kami berdua pulang sekarang, ya? Yuki-san juga, kita bisa mengurus dokumennya besok, ‘kan?”

Yuki mungkin tidak menyangka hal ini, dan setelah jeda sejenak, dia berkata dengan suara kecewa yang memilukan.

“…Kurasa ada benarnya juga. Kalau begitu, kami pulang duluan ya? Sampai jumpa besok, Masachika-kun.”

“Ohh~~, sampai jumpa besok.”

“Kalau begitu, sampai jumpa.”

“Oh, Alya juga, terima kasih buat kerja kerasnya.”

Masachika mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada rekannya, yang telah mengulurkan tangan membantu, meskipun dia mungkin tidak menyadarinya.

Ya ampun, dasar orang yang bermasalah

Kemudian, ekspresinya mengeras ketika ia mendengar suara kecil bahasa Rusia yang datang dari balik pintu.

(Eh, ap-apa maksudnya itu...? Alya, kamu jangan-jangan...)

Saat Masachika dilanda sesuatu yang mirip dengan menggigil, suara langkah kaki dua orang terdengar di kejauhan. Kemudian, dari sisi lain pintu, terdengar suara Elena yang agak kesal.

“Hei... bukannya kamu baru saja memperlakukanku seperti senior menyebalkan yang membawa kue durian ke ruang OSIS?”

“Aku benar-benar minta maaf soal itu.”

Dirinya sama sekali tidak punya alasan untuk hal itu dan Masachika meminta maaf dengan jujur. Sebagai tanggapan, Elena menghela napas dan berkata.

“Yah, tidak apa-apa sih... Jadi, bagaimana kabar Maria-chan? Setidaknya, aku sudah membawa ember dan kantong plastik.”

Masachika yang merasa lega karena selamat dari serangan Yuki dan Alisa, tiba-tiba menyadari sesuatu ketika mendengar pertanyaan Elena.

(Oh iya…..setelah dibilang begitu, dia sudah terdiam sejak beberapa saat yang lalu, apa jangan-jangan Masha-san ketiduran...?)

Dengan angan-angan seperti itu, dan berterima kasih kepada Elena, Masachika melirik ke arah Maria….. tapi ia segera mengalihkan pandangannya.

(Apa yang...)

Dia mungkin tersandung ketika mencoba bangkit dari sofa. Maria sedang duduk di lantai di depan sofa dengan posisi duduk bersimpuh santai.

“Sa-kun...hiks, sudah kuduga kamu lebih memilih Alya-chan.....”

Mungkin menafsirkan dengan aneh fakta bahwa Masachika sedang berbicara dengan Alisa melalui pintu setelah meninggalkannya sendirian, Maria menunduk dan menyeka matanya dengan punggung tangannya. Tapi yang lebih dikhawatirkan Masachika adalah payudaranya! Yang tidak bisa disembunyikan... atau lebih tepatnya, payudara yang tidak bisa menyembunyikan!

(Kenapa dia malah melepas bajunya!?)

Blazernya terlempar ke atas sofa. Sepatu, kaos kaki, dan rok jumper tergeletak di depan sofa. Yang Maria kenakan saat ini hanyalah kemeja dan pakaian dalamnya ...... dan bahkan kemeja itu pun kancing depannya sudah terbuka. Dengan kata lain, baju itu hampir hanya menyembunyikan lengannya.

“Kuze-kun? Bagaimana dengan Maria-chan…”

“...Itu sih, dia sedang dalam keadaan yang tidak bisa diperlihatkan kepada orang lain.”

“Eh!? Itu artinya...aku sudah terlambat ya...”

“Maaf, aku juga lagi sedikit bingung, jadi bisakah Elena-senpai pulang duluan hari ini juga?”

“Be-Begitu ya. Benar juga. Aku yakin kalau Maria-chan juga tidak ingin dilihat dalam keadaan seperti itu...kalau begitu...Aku serahkan sisanya padamu, oke? Hmm gimana bilangnya ya, maaf ya? Ah, aku akan meninggalkan ember dan kantong plastik dua lapisnya di sini untuk berjaga-jaga.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, suara langkah kaki Elena semakin menjauh. Masachika merasa seolah-olah dirinya telah menyebabkan kesalahpahaman yang tidak diinginkan, tetapi ia tidak memiliki banyak waktu untuk mengkhawatirkannya sekarang.

“(Tunggu, kenapa kamu melepas bajumu, Masha-san?)”

Masachika mendekati Maria dengan berbisik sambil melihat sekeliling sofa, berusaha untuk tidak menatapnya secara langsung. Lalu, sambil melihat dari sudut matanya, ia melihat Maria mendongak dan ekspresinya tiba-tiba menjadi cerah.

“Ah~~~ Sa-kun ada di sini~”

Masachika tersenyum kecil dengan masam pada Maria, yang suaranya tiba-tiba menjadi lebih keras, dan berbicara kepadanya dengan lembut, seperti yang dilakukan seseorang pada anak kecil.

“Iya, aku di sini... untuk saat ini, ayo pakai baju dulu, ya?”

“Hmnm~~? Nfufu~~~♪”

“Tidak, jangan bilang 'hmm~~?'...Maksudku, jika kamu menggoyangkan tubuhmu sebanyak itu, nantinya akan berbahaya, loh.”

Masachika terus melihat secara diagonal ke depannya dan berbicara lembut kepada Maria, yang menggoyangkan tubuhnya ke depan dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan sambil mengeluarkan tawa yang mencurigakan. Kemudian tanpa disangka, tangan kanannya ditarik, dan Masachika menoleh ke arahnya sambil berkata, “Hmm?”

Pergelangan tangan kanan Masachika dipegang oleh tangan kanan Maria dan punggung tangannya digenggam oleh tangan kiri Maria. Tangannya kemudian ditarik mendekat....

“Tu-Tunggu sebentar.”

Melihat sesuatu yang tidak pernah bisa dilihatnya secara langsung pada tujuan tangannya, Masachika menyentakkan lengan kanannya ke belakang. Kemudian ia bertanya pada Maria dengan wajah datar.

“Apa yang sedang kamu coba lakukan?”

“Eh~~? Melanjutkan~?”

“Melanjutkan...”

Usai mendengar itu, Masachika kembali teringat. Sebelumnya, saat ia menyentuh rambut dan kelopak mata Maria, dirinya mengatakan bahwa ia menyukainya. Mengingat hal tersebut, darah mengalir deras ke dalam kepalanya.

“Tidak, tidak, tidak, kamu ingin mencoba membuatku menyentuhmu di mana? Kamu tidak boleh melakukan itu!”

Sambil menepis tangan Maria sekuat tenaga, Masachika berteriak sambil memalingkan wajahnya dari Maria, meskipun Maria terjatuh karena dampak tersebut.

Kemudian, Maria langsung menangis tersedu-sedu dan menundukkan kepalanya.

“Sudah kuduga, Sa-kun lebih menyukai diriku yang lebih kurus seperti dulu…kamu sama sekali tidak menatapku dengan baik…”

“Tidak, dibilangin bukan begitu maksudku...”

Mendengar suara yang tak terhindarkan menimbulkan rasa bersalah, Masachika menoleh ke arah Maria dengan bingung...dan ketika ia melihat tubuhnya dari dekat, Masachika tanpa sadar menelan ludahnya.

Kecantikan Maria yang memadukan kepolosan gadis lugu dengan kelembutan seorang ibu yang penuh kasih sayang, membuat siapa pun yang melihatnya merasa tenteram. Sebaliknya. Dari leher hingga ke bawah, penampilannya penuh dengan kualitas magis yang membuat semua orang yang melihatnya menjadi tergila-gila.

Berbalut bra hitam, bukit kembar yang sangat ganas...tidak, bola kembar. Pinggangnya yang melengkung dengan anggun namun terlihat lembut dan halus, dan pahanya, yang bersih, terlihat montok dan kencang. ...... Masachika seketika itu juga mendongak ke langit-langit.

(Hmm~, akhir-akhir ini ada beberapa karya level hegemonik, tapi dari apa yang kurasakan sekarang, kupikir ada tiga karya level hegemonik musim ini~)

Saat Masachika mencoba yang terbaik untuk melarikan diri dari kenyataan, suara menyedihkan Maria mencapai telinganya.

“Uh, uuuuuuuu~~kamu malah membuang mukaaaa~”

“Tidak, bukannya karena aku tidak tahan untuk melihatnya, tapi lebih karena aku tidak tahan…”

Masachika menundukkan kepalanya sedikit dan melihat bagian atas kepala Maria saat mengatakan itu, Maria membungkuk dan bergerak menjauh dari pandangannya. Saat ia mengikutinya dan dengan hati-hati menurunkan pandangannya...hmmm, sungguh pantat yang besar dan montok.

(Tidak!)

Ia buru-buru menurunkan pandangannya dan bertatapan dengan Maria, yang menatapnya dari jarak dekat.

Tak disangka-sangka, Maria sedang berlutut di antara kedua kaki Masachika dan menatapnya dalam posisi merangkak.

“Oouu!?”

Berada dalam posisi yang mengingatkannya pada adegan bersama Alisa di pesta perayaan, Masachika mencoba meluncur ke belakang...tapi dirinya justru kehilangan keseimbangan dan sikunya terbentur lantai dengan keras.

“Aduh!?”

Bersamaan dengan rasa sakit yang menusuk, sensasi mati rasa menjalar dari kedua siku hingga lengan bawahnya, dan Masachika terjatuh telentang, tidak mampu menopang badannya dengan lengannya.

“Ughhhhhhhh~~~~~!”

Kemudian, saat Masachika merentangkan tangannya dan menahan rasa sakit serta mati rasa...  cahaya dari lampu ruangan terhalang oleh kepala Maria.

Maria meletakkan tangannya di kedua sisi bahu Masachika dan menatapnya. Ujung rambutnya yang bersinar di bawah cahaya, berayun pada jarak yang hampir menggelitik pipi Masachika.

“Nee, Sa-kun...”

“Oke Masha-san, tenanglah dulu. Kamu sedang tidak waras sekarang.”

Masachika berbicara dengan panic dan putus asa ketika menatap wajah Maria, yang menatapnya dengan mata basah. Pada saat yang sama, ia dengan gusar mencoba memikirkan jalan keluar dari situasi saat ini.

(Aku baik-baik saja. Selama aku bisa menghilangkan rasa kebas di lenganku, aku bisa kembali melancarkan teknik rahasia yang membuatnya pingsan. Untungnya, dia masih mengenakan kemeja, jadi pertama-tama aku harus menarik kaki kanannya dan memgang bagian belakangnya….)

Masachika mengalihkan kepalanya ke mode pertarungan dan mati-matian mencoba mengalihkan kesadarannya dari penampilan Maria yang glamor. Kemudian, pertanyaan Maria pun kembali muncul.

“Apa kamu….. membenciku sekarang?”

“Itu tidak benar sama sekali. Sebenarnya aku menyukaimu. Rasanya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa aku sangat menyukaimu.”

“Kalau begitu… coba sentuh aku?”

“Jangan minta hal yang mustahil!?”

Segera setelah ia menjawabnya dengan wajah datar, mata Maria yang tadinya lembab...menjadi tenang.

“Jeda dulu nanti. Baiklah, aku mengerti. Aku akan menyentuhmu.”

Sorot matanya membangkitkan rasa krisis yang kuat, dan Masachika dengan cepat mengatakannya. Maria berkedip lalu tersenyum linglung. Sesaat kemudian,

(Sekarang!!)

Masachika dengan cepat melipat kaki kanannya dan menariknya keluar dari bawah tubuh Maria. Ia kemudian menggerakkan kedua tangannya yang masih sedikit mati rasa, memegang punggung Maria dengan tangan kanannya, dan berguling ke samping, memegang kaki kanan Maria dengan tangan kirinya—namun.

(Hmm?)

Dengan tangan kanannya... Masachika tiba-tiba merasa ragu ketika ia merasakan sentuhan keras yang misterius di balik kemeja Maria.

(Apa ini? Sepertinya semacam alat kelengkapan logam──)

Ketika ia memikirkannya sampai sejauh itu.

“! Ohhh!?”

Masachika secara intuitif mengetahui sensasi apa yang dirasakannya dan dengan cepat melepaskan tangannya. Menatap Masachika yang masih membeku seperti itu, Maria mengerjap lagi. Dia memiringkan kepalanya dengan rasa penasaran dan kemudian...

“! ahh~~”

Dia mengangguk seolah-olah dia mengerti sesuatu, lalu mengangkat tubuh bagian atasnya dan, yang mengejutkan, naik ke atas perut Masachika.

“Tidak, tunggu dulu—!?”

Masachika tak bisa berkata-kata saat ia merasakan pantat Maria menempel di perut bagian bawahnya. Ia kemudian secara refleks melihat ke arah itu secara cepat, dan membeku ketika menyadari bahwa kancut Maria berada di dekat matanya, dan semuanya, kecuali bagian vitalnya, sedikit transparan.

Paha putih yang menggairahkan. Kancut berwarna hitam yang dewasa dan seksi terlihat jelas di kulit putihnya. Area selangkangannya yang mempesona, mengintip dari sana.

Masachika melupakan rasa malu dan bersalahnya, lalu tanpa sadar menatap ke arah sana, tetapi dalam beberapa detik dirinya berhasil mengeluarkan nalar terakhir dari kepalanya, dan kemudian langsung menutup matanya.

(Dasar begooo, jangan dilihat, jangan disentuh, jangan disadari juga! Kamu sedang berurusan dengan Ma-chan, tau! Dan dia dalam keadaan tidak waras! Kamu tahu bahwa jika kamu melakukan sesuatu di sini, kau akan menyesalinya sampai mati nanti!!!)

Masachika menutup matanya, mengatupkan giginya, dan mengerahkan seluruh akal sehatnya ketika bunyi tepukan kecil mencapai telinganya.

“??”

Mendengar suara yang tidak dikenal, ia membuka sedikit kelopa matanya dan melihat ke arah itu. Kemudian, dalam pandangan Masachika yang sempit, ia melihat….. pemandangan Maria dengan kedua tangan di belakang punggungnya. Pandangan mata mereka bertemu di sana, dan Maria meletakkan tangannya kembali ke depan dengan senyum malu-malu di wajahnya. Dan kemudian,

“Duhh..... sebaiknya kamu beritahu aku saja jika kamu ingin melepasnya.”

Sambil mengatakan hal itu, Maria melepas tali bahunya.

Pada saat yang sama ketika kemeja Maria terlepas, penghalang terakhir yang menutupi payudaranya yang menggairahkan tertarik ke bawah karena gravitasi... Maria akhirnya hanya mengenakan kancutnya saja dan tersenyum malu-malu, namun terlihat agak mengundang.

“Boleh saja, kok? Karena ini semua milik Sa-kun... Karena ini demi membuat Sa-kun mencintaiku. Jadi..... boleh kok?”

Masachika, yang entah bagaimana lupa untuk mengerjapkan matanya, mendengar kata-kata Maria dan berpikir …. dari lubuk hatinya.

(Aku mungkin menyesalinya...)

Dirinya akan menyesalinya sampai mati nanti? Lantas kenapa? Jika kamu seorang pria! Bukannya kita harus mempertaruhkan segalanya pada saat ini?

(Jika aku menyentuh harta karun tertinggi ini sekarang juga, aku pasti takkan menyesalinya bahkan jika aku mati!!)

Matanya membelalak dan dalam arti tertentu dia membuat pernyataan jantan di kepalanya——Masachika membanting bagian belakang kepalanya ke lantai sekeras mungkin. Bunyi gedebuk bergema di kepalanya, dan matanya terpejam dengan sendirinyakarena kesakitan.

Untungnya, Masachika memejamkan matanya rapat-rapat dan mengulang-ulang mantra tersebut di dalam kepalanya, sambil meringis kesakitan.

(Orang yang ada di sini adalah Ma-chan. Orang yang ada di sini adalah Ma-chan. Orang yang ada di sini adalah Ma-chan—)

Kemudian, ada banyak kenangan indah yang kembali terlintas di benaknya. Saat dirinya melihat kenangat tersebut dengan mata batinnya, Masachika secara alami merasakan perasaan yang lembut, dan ketika ia membuka mata dalam keadaan tenang...

“Ughhhh.”

Maria mengeluarkan erangan teredam dari dalam tenggorokannya dan tiba-tiba terjatuh di atas Masachika.

“Tu-Tunggu dulu oi.”

Masachika terkejut dan dengan cepat mengangkat tangannya untuk menopang bahunya ......, tetapi dia tidak dapat melakukannya tepat waktu, dan tangannya justru terkubur di pegunungan yang menjulang di depan bahunya.

“Uuuooh, aku malah menyentuhnya~~~??”

Mata Masachika membelalak saat merasakan kelembutan di tangannya dan susu yang meluap di sela-sela jari-jarinya. Di atas kepalanya,

“Uoee!”

Ia mendengar suara yang tidak menyenangkan.

Firasat buruk menjalar ke tulang belakangnya dan Masachika mendongak untuk melihat wajah Maria, yang alisnya berkerut kesakitan dan matanya terpejam.

“Entah kenapa, perutku jadi mual...”

Apa ini yang dimaksud kebenaran yang muncul dari kebohongan? Tapi Masachika tidak mempunyai waktu untuk hal seperti itu. Karena kalau dibiarkan terus, mukanya pasti akan dipenuhi muntah-muntah.

“Tidak, seriusan, sumpah, yang bener saja, mana ada yang mau dengan muntahan Masha-san, dan aku bukan orang yang cukup tercerahkan untuk menganggap muntahan di wajah sebagai hadiah, tapi woi ini rasanya lembut bangettttt!? ”

Setelah berpikir keras tentang bagaimana dirinya harus mengguncang Maria dalam kondisi seperti ini, Masachika dengan hati-hati menurunkan tubuh Maria ke atas tubuhnya sendiri dan dengan lembut mengusap punggungnya sambil memeluknya erat-erat.

Berkat kepedulian Masachika yang luar biasa (?), Maria berhasil menghindari keinginan untuk muntah dan mulai tidur nyenyak di atas Masachika….. kemudian yang tersisa hanyalah pemandangan Masachika yang tidak bisa bergerak karena keadaan Maria yang setengah telanjang di atasnya.

“...Rasanya hal seperti ini pernah terjadi selama perkemahan musim panas.”

Masachika menggumamkan sesuatu seperti itu untuk melarikan diri dari kenyataan dan menatap langit-langit. Meski demikian, mengingat kemungkinan seseorang akan kembali, ia tidak bisa membiarkan segala sesuatunya tetap seperti sekarang.

(Maksudku, kalau aku tidak cepat-cepat, Ayano akan datang!)

Segera setelah ia memikirkan hal itu, bunyi ketukan pintu bergema di dalam ruangan. Jantung Masachika hampir berhenti berdetak karena ia tidak mendengar langkah kaki apapun yang mendekati ruangan OSIS.

“Permisi……?”

“Ah, Ayano! Maaf, situasi sekarang sedang...”

...Kemudian setelah itu, ketika Masachika berhasil membuat Ayano pergi dan selesai membersihkan, atau lebih tepatnya mengembalikannya ke kondisi semula, sambil merasa seperti sekarat dalam banyak hal, Maria akhirnya terbangun. Dan ketika dia terbangun, Maria sama sekali tidak mengingat tentang apa yang telah terjadi setelah dia memakan potongan cokelat kedua. ...... Masachika, yang mengingat semuanya, merasa tertekan dengan penyesalan dan kebencian terhadap diri sendiri selama beberapa waktu setelahnya.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya


close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama