Chapter 2 — Misteri
Enami-san
menyimpan ponselnya dan mendekati kami. Aku bisa dengan jelas mendengar suara
angin bertiup di telingaku. Hampir tidak ada seorang pun di sekitar gerbang
yang terbuka lebar itu, hanya Enami-san yang tampak mencolok.
──Seolah-olah
dia adalah orang yang berbeda dari minggu lalu.
Itulah yang
kupikirkan.
Entah itu
sorot mata. Ekspresi. Nada suara. Perilaku. Semuanya
berbeda. Rasanya seperti dia telah sepenuhnya mengganti isi dirinya, meskipun
penampilannya tetap sama.
Karena
memang begitu.
Enami-san
yang biasanya tidak
akan berurusan dengan siapa pun kecuali Nishikawa.
Dengan wajah yang cemberut,
dia memberikan tekanan yang tidak nyaman kepada orang-orang di sekitarnya, dan
meskipun dia menyadari hal itu, dia berpura-pura tidak tahu.
Perilakunya selama pelajaran hari ini dan
saat istirahat tidak ada hubungannya dengan Enami-san yang selama ini aku
kenal.
Tentu
saja sekarang juga...
Ketika
kaki Enami-san melangkah di depan tubuhku, akhirnya dia berhenti. Aku tidak
bisa bergerak sedikit pun.
“Kamu pulang
lebih lambat dari yang aku kira, ya,”
Enami-san
yang berdiri miring terlihat sangat cantik. Aku merasa terkesan dengan penampilannya.
Seolah-olah aku telah melangkah ke dalam satu adegan drama.
“Hei,” “Tentu saja maksudnya itu kamu, kan?”
Saido dan
Shindo di sebelahku tampak ketakutan.
Dia
menggenggam lenganku dan menarikku maju dengan paksa. Mereka berdua bersembunyi di
belakangku.
Bukannya
mereka terlalu ketakutan...?
Meskipun
begitu, aku juga ikut merasa
tegang. Dengan hati-hati aku membuka mulut.
“Enami-san?”
Berbeda
dengan diriku yang terkejut, Enami-san
tampak tenang. Meskipun dia melakukan tindakan yang cukup aneh, suasananya
seolah-olah itu adalah hal yang biasa.
“Ya.”
“......Kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini, ya.”
“Aku
sedang menunggumu.”
Seperti
yang kuduga.
Aku
berharap dengan samar-samar bahwa itu bukan karena dia menungguku. Namun
harapanku langsung hancur
berkeping-keping.
Petugas
keamanan memperhatikan kami dengan cermat. Dari sudut pandang orang lain,
suasana aneh di antara kami pasti
terasa.
Aku lalu bertanya kepadanya.
“Kenapa?”
Tidak ada
tempat untuk melarikan diri.
Dia berangkat ke sekolah dengan serius. Dia juga mengikuti pelajaran dengan rajin dan serius. Hari ini dia terlalu sering berbicara
denganku.
Akhirnya,
dia bahkan menungguiku setelah sekolah.
Enami-san
yang menyelipkan tangannya ke saku jaketnya menahan rambut panjangnya yang
tertiup angin.
“Tidak
ada alasan yang besar.”
...Sejak
kami berada di kelas yang sama, perkembangan Enami-san secara alami sampai
padaku. Semua itu memberikan kesan bahwa Enami-san adalah orang yang dingin.
Menginjak kaki orang yang berbicara dengannya, menghina pria yang mengungkapkan
perasaan, mencibir hal-hal kecil dan menakut-nakuti...
Mana
mungkin aku bisa langsung mengerti.
“Jadi,
apa ada urusan yang ingin kamu bicarakan?”
“Urusan...
Mungkin bisa dibilang begitu.”
Jika aku
atau Hanami berada dalam posisi itu, mungkin kami akan menerima pekerjaan
kecil. Tapi, tidak ada orang yang meminta Enami-san melakukan hal seperti
itu.
Selain
itu, tidak ada hubungan antara Enami-san dan aku.
Minggu
lalu, kami hanya berbicara sedikit. Itu pun berakhir dengan suasana yang sangat
buruk.
Saat itu,
Saito dan yang lainnya yang mengintai di belakangku akhirnya bersuara.
“Ah,
um…”
Seolah-olah
baru menyadari keberadaan mereka, Enami-san menatap dengan curiga.
“Kami...
boleh pulang, kan?”
Meskipun
kami sekelas, nada bicara mereka terdengar sangat sopan. Setelah menatap kedua
orang itu, Enami-san mengangguk dengan tampak kurang berminat.
Keduanya
tampak sangat ingin meninggalkanku. Mereka menepuk punggungku seolah untuk
memberi semangat.
“Jadi,
sampai jumpa, Okusu,”
“Semangat ya.”
Terlepas
dari Saito, sepertinya kata-kata Shindo mengandung makna lain. Setelah mengantarkan punggung
keduanya pergi, aku kembali bertanya.
“Jadi, apa maksudmu punya urusan denganku...?”
“Hmm...”
Apa itu
begitu sulit untuk diucapkan?
“Mungkin
karena aku tertarik.”
Apa
maksudnya itu?
“Kamu benar-benar berbeda dari minggu
lalu, ya. Pada waktu itu kamu
sangat menjengkelkan dan merendahkan orang lain.”
“Itu...
maaf.”
Aku
terkejut. Aku tidak pernah menyangka Enami-san akan meminta
maaf. Suasana canggung yang dia tunjukkan justru menunjukkan bahwa itu adalah
perasaan yang tulus.
“Karena akulah
yang salah, jadi tidak perlu terlalu dipikirkan. Sekarang aku tidak merasa
jengkel.”
“...Begitu.
Ngomong-ngomong, bagaimana dengan pertemuan?”
Seharusnya
ada guru di sekolah setelah pelajaran hari ini.
“Katanya
siswa yang sudah punya jadwal lebih dulu diutamakan. Mana mungkin aku tiba-tiba menyela,
kan?”
“Hmm,
benar juga.”
Sepertinya
dia memang berniat untuk pergi ke wawancara
itu.
“Jadi, ada urusan apa denganku? Apa ini
ada hubungannya dengan kejadian minggu
lalu?”
“Tidak.”
Tapi selain kejadian tersebut, aku
tidak bisa memikirkan alasan lain.
“Kalau Enami-san
bilang begitu, mungkin memang begitu...”
“...Wajahmu gampang
sekali terbaca, ya. Kamu pasti
merasa tidak setuju, iya ‘kan?”
“...Iya sih.”
Meskipun dia sudah meminta maaf, aku masih tidak bisa memahami
pemikiran Enami-san. Aku penasaran bagaimana sosok Enami-san di tangga menuju atap, berubah menjadi Enami-san yang sekarang?
Satu-satunya cara untuk menghubungkan keduanya adalah dengan berpikir bahwa Enami-san
yang sekarang “berbohong”.
“Tapi,
semua yang aku katakan adalah fakta. Atau apa kamu masih terbawa
perasaan?”
Aku tidak
bisa dengan tegas mengatakan bahwa aku tidak terbawa perasaan. Jika tidak, aku
tidak akan membicarakan hal seperti itu dengan Sayaka.
“Aku
tidak marah pada Enami-san. Cuma itu
yang perlu kamu ketahui.”
“Aku juga
tidak peduli, dan kamu juga tidak peduli. Jadi, kita sudah saling melupakannya, ‘kan?
Maka kita tidak perlu lagi membicarakan ini.
Betul?”
“Jika
kamu bisa melupakan ini, aku sangat berterima kasih.”
Aku
meragukan perasaan sebenarnya Enami-san. Pikiran manusia tidak bisa berubah dengan mudah. Apa yang
aku katakan kepada Enami-san bukanlah sesuatu yang bisa menggerakkan hati orang
lain.
“Walaupun aku tidak bisa mempercayainnya begitu saja... tapi, aku
mengerti. Kita tidak bisa melanjutkan pembicaraan tanpa memahaminya terlebih
dahulu. Jadi? Apa ada yang ingin kamu bicarakan?”
Namun,
jawaban Enami-san sangat sederhana.
“Aku cuma berpikir untuk pulang
bersama.”
Apa dia
baru saja mengatakan sesuatu yang mengejutkan? Aku bertanya sekali lagi.
“Maaf, apa kamu bisa mengulangiinya lagi?”
“Aku
berpikir untuk pulang bersama denganmu.”
Sepertinya
aku tidak salah dengar. Apa dia benar-benar yakin?
“...Kenapa?”
“Seperti
yang sudah kukatakan sebelumnya. ‘Karena
aku tertarik.’”
Dia
menghindar dengan halus. Namun, Enami-san tidak sekali pun mengalihkan pandangannya
dariku. Percuma saja. Jika aku berpikir terlalu serius, kepalaku akan terasa panas.
“Rumahmu
di mana?”
Harapanku
agar rumahnya di sisi yang berlawanan langsung hancur seketika.
“Ke arah sini.”
Dia
menunjuk ke arah yang sama dengan arah lereng
menurun yang aku ambil.
──Sial.
Entah
kenapa, aku merasa Enami-san tidak punya niatan
buruk. Mungkin tidak ada kebohongan dalam kata-kata ingin pulang
bersamanya.
...Setidaknya,
aku tidak punya pilihan lain selain menyerah.
Sayangnya,
aku tidak punya keberanian untuk meninggalkan Enami-san dan pulang sendirian.
Apa pun tujuannya, untuk saat ini, aku akan mengikuti keinginan Enami-san.
◇◇◇◇
Setelah
keluar dari gerbang utama, kami berdua berjalan
berdampingan.
──Apa
yang harus kulakukan?
Jalan
yang sudah biasa dilalui. Pemandangan yang sudah dikenal. Namun, perasaanku
terasa berbeda dari biasanya.
Ada
rumput liar sekitar 10 cm yang terjerat di antara penanda jalan yang berjarak
sama. Jalan sempit antara blok batas yang permukaannya terkelupas dan pagar di
sisi seberangnya. Ketika berjalan berdampingan dengan Enami-san, kadang-kadang
bahu kami hampir bersentuhan.
“Umm...”
Aku
berusaha mencari topik pembicaraan. Meskipun dia
sendiri yang mengajak, tapi Enami-san
tampak enggan untuk membuka mulut.
“Di mana
rumahmu, Enami-san?”
“......”
“Tidak masalah jika kamu tidak ingin
mengatakan. Ngomong-ngomong, aku merasa tidak tahu apa-apa tentangmu...”
Bukannya
karena aku tertarik pada Enami-san. Aku hanya berpikir itu bisa
menjadi pembuka percakapan.
Setelah
jeda beberapa saat, akhirnya Enami-san
berbicara.
“Rumahku dekat sini. Aku tidak naik kereta
untuk berangkat ke sekolah.”
“Oh,
begitu. Ahal itu jarang di sekolah kita.”
“Aku
tidak tahu tentang orang lain.”
Sepertinya
lokasi rumahnya ada di sisi seberang stasiun. Jadi, mungkin itu sebabnya
jalanku searah dengannya sampai suatu titik.
“...Kamu
sendiri gimana?”
Suara Enami-san
yang pelan dan tidak biasa itu hanya bisa terdengar jika aku benar-benar
mendengarkan.
“Aku naik
kereta. Tapi, jaraknya tidak
terlalu jauh.”
“Memangnya itu tidak membuatmu mengantuk
karena memakan waktu lama?”
“Aku memastikan diriku untuk cukup
tidur. Aku bahkan tidak pernah tidur di
kelas.”
Ngomong-ngomong,
Enami-san terlihat sering mengantuk. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan,
tetapi meskipun jaraknya dekat untuk berjalan ke sekolah, kenapa dia bisa
merasa ngantuk?
“...Karena
ini mengenai dirimu, aku
rasa kamu ingin memberitahuku untuk
jangan terlambat.”
“Yah...”
Dia tidak
menunjukkan sikap menentang seperti minggu lalu. Dengan tatapan lurus ke depan,
dia menjawab dengan tenang.
“Aku bekerja paruh waktu.”
“Kerja
paruh waktu?”
“Ya.
Selain itu, aku tidak ingin terlalu sering
berada di rumah. Jadi, aku selalu pulang larut malam.”
“Sampai larut malam? Memangnya tidak
berbahaya?”
“Aku
tidak tahu. Tapi, kurasa tidak ada yang berbahaya karena aku belum pernah
mengalami hal yang buruk.”
Sepertinya
ada perasaan acuh tak acuh di balik kata-katanya.
“...Bukannya sejak dari tadi tingkahmu kelihatan aneh?”
“Ugh...”
Kurasa
memang begitu. Memang benar aku gugup karena aku berada dalam
situasi yang aneh.
“Tidak, sejak tadi aku hanya khawatir kalau-kalau Enami-san
akan membunuhku...”
“Kamu terlalu berlebihan. Emangnya kamu pikir aku marah?”
“Apa kamu memahami reputasimu sendiri kalau perkataanku tidak terlalu berlebihan?”
“Aku
tidak peduli. Mereka hanya membicarakanku
dari jauh. Aku tidak tertarik dengan orang-orang yang suka berbicara sembarangan
seperti itu.”
Percakapan
kami kemudian terhenti di situ. Setelah aku mengatur tasku kembali di bahu, Enami-san
juga melakukan hal yang sama.
“....”
“....”
Meskipun
suasananya lebih baik dibandingkan minggu
lalu, aku dan Enami-san masih belum saling mengenal. Bahkan, mungkin hanya
Nishikawa yang tahu banyak tentang Enami-san.
Saat
berjalan berdampingan, tinggi badan Enami-san terasa lebih kecil dari yang
kubayangkan. Sepertinya ada selisih sekitar 10 cm.
──Setelah melihatnya seperti itu,
dia terlihat seperti gadis biasa.
Tentu
saja, kecantikan wajahnya tetap terlihat meskipun aku berdiri di sampingnya.
Tadi, seorang wanita yang sedang mengajak anjingnya jalan-jalan tampak terpaku
pada kecantikan Enami-san saat anjingnya menariknya.
Seorang pria dari sekolah lain yang berjalan di trotoar seberang juga terlihat
terpesona. Dia bisa saja menjadi seorang selebriti. Meskipun aku sudah terbiasa
melihatnya, berdiri di sampingnya membuatku merasa kering di bibir.
“Bukannya dari tadi kamu
melihatku dengan tatapan yang mesum?”
Tatapan
tajam. Sepertinya aku terlalu menatapnya.
“It-Itu sama sekali tidak benar...”
“Masa? Sepertinya kamu terus-menerus melihatku dari atas sampai ke
bawah dengan sangat jelas. Aku bisa merasakannya,
jadi tolong sedikit lebih berhati-hati.”
“Aku seriusan tidak melihatmu dengan tatapan semacam itu. Aku hanya berpikir
bahwa banyak orang memperhatikan kita sejak dari tadi.”
“Hmm.”
Enami-san
melihat sekeliling. Saat itu, semua orang yang melihat Enami-san langsung
mengalihkan pandangannya.
Ternyata, aura yang dia miliki bisa terasa bahkan dari jarak jauh.
Mungkin
bagi Enami-san, ini merupakan kejadian
yang biasa. Mungkin juga keberadaannya sudah terkenal di kalangan siswa dari
sekolah lain. Sayangnya, aku tidak punya kenalan di sekolah-sekolah di sekitar
sini, jadi aku sama sekali tidak tahu.
Enami-san
mengeluarkan suara dengan tampak terkejut.
“Rasanya benar-benar menjengkelkan.”
Namun,
segera setelah itu, sepertinya dia merasa bersalah kepadaku yang ada di
sampingnya, lalu berkata pelan, “Jangan khawatir.”
“Seperti yang diduga, Enami-san
pasti mengalami banyak masalahnya sendiri ya.”
“Entahlah.
Aku hanya ingin orang-orang lebih memikirkan bagaimana rasanya jika mereka
diperhatikan dengan tajam. Namun, ketika aku mendekat, kebanyakan dari mereka
tidak berani menatap mataku.”
“Apa kamu sering dirayu kalau
lagi di jalan?”
“Kadang-kadang.
Tapi, jika aku memelototi
mereka, mereka akan pergi sendiri.
Hanya mengganggu.”
Sebaliknya,
aku merasa dibutuhkan banyak keberanian
hanya untuk mencoba mendekatinya. Jika aku, aku bahkan merasa ragu untuk duduk
di sebelahnya di kereta.
Untuk
saat ini, aku akan berusaha untuk tidak menatap Enami-san lagi.
“Kamu
juga tidak perlu khawatir dengan tatapan orang lain. Mungkin, ada kalanya kamu
akan mendapat perhatian karena bersamaku...”
“Enami-san...”
Aku
tertawa sedikit saat mendengarnya.
“Rupanya kamu cukup percaya diri, ya.”
Bahunya
bergerak sedikit. Kemudian, dia tersenyum.
“Tentu saja.
Memang benar aku percaya diri dengan penampilanku.
Aku berpikir, tidak ada perbedaan besar antara penilaian diri dan penilaian
orang lain tentangku.”
“Tentu
saja, aku tidak berniat untuk membantah. Karena
menurutku itu tipikal Enami-san. Hanya saja, aku
merasa ini sedikit lucu.”
“Ah,
begitu.”
Mungkin, Enami-san
jarang berbicara seperti ini. Dia terlihat bingung tentang bagaimana harus
merespons.
“Kamu
cukup berani mengungkapkan pendapatmu.”
“Benarkah?”
“Di angkatan kita, cuma kamu dan
Nishikawa saja yang
berani berbicara terus terang kepadaku.”
Tentu
saja dibutuhkan banyak keberanian untuk berbicara
langsung kepada Enami-san. Aku bisa berbicara bebas sekarang karena suasana
dengan Enami-san terasa lebih nyaman.
Dia telah
berubah. Enami-san benar-benar telah berubah.
Peristiwa
minggu lalu terasa seperti kebohongan. Meskipun dia bersikap dingin dan tidak
ramah, sekarang dia terkadang tersenyum dan berbicara denganku. Dia melepaskan dinding penghalang yang dia kenakan terhadap
orang-orang yang mendekatinya dan berusaha untuk membuka diri.
Sejujurnya,
aku tidak bisa membenci Enami-san yang sekarang.
Secara
bertahap, sisi baru Enami-san mulai terlihat. Selubung kegelapan yang
menyelimuti dirinya kini terbuka di hadapanku dengan berbagai bentuk.
“Jadi Nishikawa juga tidak terlalu sungkan ya.”
Saat aku
bertanya, Enami-san mengangguk.
“Aku
tidak merasa perlu marah dengannya.”
“Aku
mengerti itu.”
Kekuatan
komunikasi Nishikawa luar biasa. Dia tidak salah dalam nada atau cara
berbicara. Dia memahami jarak dengan benar dan berusaha untuk masuk lebih dalam
dibandingkan orang lain. Itu terasa menyenangkan.
“Kamu sedang mengincarnya?”
Enami-san
berkata demikian seolah-olah membalas.
“Kita
tidak membicarakan hal itu, kan?”
“Siapa
tahu.”
Di
seberang jalan, area mulai terbuka, dan pemandangan di belakang Enami-san
menjadi lebih jelas. Sebuah stasiun berbentuk kotak menjulang tinggi di balik
pusat perbelanjaan dan rotasi. Selama percakapan, titik tujuan sudah cukup
dekat.
──Apa yang sebenarnya ingin dilakukan
Enami-san?
Pertanyaan
itu tiba-tiba muncul di benakku.
“Urusan...
Mungkin bisa dibilang begitu.”
“Mungkin
karena aku tertarik.”
Perkataan Enami-san kembali terlintas
di pikiranku. Apa tujuan sebenarnya memang
untuk pulang bersama?
Apakah
dia menunggu untuk berbincang-bincang saja? Sepertinya tidak mungkin demikian.
Aku ingin segera memperjelas semuanya.
“Begini...”
Aku
memutuskan kata-kata di situ. Aku
mengerti bahwa Enami-san memiliki situasinya
tersendiri. Aku tidak berniat untuk memahami semuanya. Namun, jika aku terus tidak tahu
apa-apa, aku tidak akan bisa tidur dengan
nyenyak karena rasa penasaran.
“Aku
ingin kamu segera memberitahuku dengan
jelas.”
“Apanya?”
“Tujuanmu.”
...Pada dasarnya, aku tidak mempercayai
orang.
Aku tidak
cukup optimis untuk percaya bahwa kata-kata egois seperti itu bisa mengubah Enami-san.
Apalagi, mana mungkin
ada cinta yang tumbuh bersemi di dalam hatinya.
Enami-san pasti memiliki niat tertentu dan mendekatiku berdasarkan niat
itu.
“Jangan
bilang itu hanya karena kamu tertarik. Itu sama sekali bukan
jawaban.”
“Aku
tidak berbohong.”
“...Kalau
begitu, ketertarikanmu itu terhadap apa? Terhadap orang yang langsung berbicara blak-blakan?”
“Ada bagian itu juga. Bagaimanapun juga, aku ingin mendengar lebih
banyak lagi.”
Di situ,
langkah Enami-san terhenti.
Aku juga
berhenti.
Aku
menoleh ke belakang.
Aku
melihat bayangan yang membentang di kaki Enami-san. Dari situ, aku perlahan mengangkat
pandanganku.
Kaki yang
panjang terpapar udara dingin. Karena jalanan
yang menanjak, perbedaan tinggi badan terasa seimbang.
“Aku
ingin tahu tentang dirimu.”
Pernyataan
itu terjadi begitu tiba-tiba.
Dia
mengucapkannya dengan jelas, satu demi satu, membuka
mulutnya lebar-lebar.
Aku pasti
tidak salah dengar.
Itulah
sebabnya, aku tidak bisa menyembunyikan kebingunganku.
Sama
sekali tidak ada suasana seperti itu, tetapi kalimat itu terdengar seperti
pengakuan. Hanya Enami-san yang tahu apa maksudnya, tetapi sepertinya tidak ada
niat jahat di dalamnya.
Aku tidak
lagi merasa kesal terhadap Enami-san. Terhadap orang yang tidak bisa dimengerti
ini, bahkan memiliki perasaan yang jelas pun terasa mustahil. Cahaya gelap dan
dingin yang pernah menatap mataku
hingga minggu lalu kini sudah menghilang.
Apa ini
tujuan Enami-san? Bukan untuk merendahkan diriku, tetapi berbicara denganku,
mengetahui tentang diriku, mungkin itulah alasan dia mengintai.
Sepertinya perkataannya itu bukan
kebohongan atau lelucon. Dia hanya menunggu reaksiku dengan tenang.
“...Kenapa?”
Aku
mengulangi pertanyaan yang sama
entah keberapa kali. Namun, jawaban Enami-san kali ini berbeda dari
sebelumnya.
“Karena aku membutuhkannya.”
“Membutuhkannya?”
“Tidak
ada makna yang dalam. Tidak ada lagi yang bisa
kuberitahu padamu.”
Tentu
saja, aku tidak bisa menerimanya begitu saja.
Namun, aku merasa jika aku mencoba menggali lebih dalam, dia tidak akan
menjawab. Selain itu, aku juga menyadari bahwa dia menjawab dengan jauh lebih
serius dibandingkan sebelumnya.
Dia tidak
sedang bercanda. Dia tidak
mengelak.
Inilah
hati Enami-san yang sebenarnya.
Tidak
diragukan lagi bahwa inilah
tujuannya. Namun, tujuan itu terhubung
dengan sesuatu yang sangat berarti baginya. Perubahan hari ini mungkin juga
berkaitan dengan tujuan tersebut.
Ini bukan
hanya tentang hari ini; besok dan seterusnya, Enami-san akan datang ke sekolah
dengan serius dan mencoba untuk mengenaliku.
Dalam artian
baik atau buruk, Enami-san adalah orang yang menarik perhatian.
Jika itu yang terjadi, aku juga akan berada
dalam posisi yang mencolok bersama Enami-san. Dalam hal itu, akulah
yang berada di sisi mengalami kerugian.
Aku merasa
bingung bagaimana aku harus menjawabnya.
“...”
Namun,
sejujurnya, mungkin jawabanku sudah ditentukan.
Aku tidak
membencinya. Selama
itu memang perasaanku yang
sebenarnya, menolak mungkin bukanlah pilihan sejak awal.
Alasan di
balik pernyataan Enami-san bahwa dia membutuhkannya.
Aku
merasa tertarik. Aku tertarik pada kenyataan bahwa orang yang hampir mirip
dengan diriku di masa lalu itu ternyata menunjukkan ketertarikan padaku.
Enami-san
tidak melepaskan pandangannya dariku dan tetap berdiri di tempat itu.
Daun-daun
kering mengeluarkan suara di bawah sepatuku. Aku berkata,
“Baiklah.”
Aku tidak
bisa menatap Enami-san dan mengalihkan pandanganku ke samping.
Setelah
beberapa saat tanpa reaksi, aku mencuri pandang untuk melihat ekspresi Enami-san.
Saat itu,
Enami-san tersenyum dan sedikit mengangguk ke arahku.
◇◇◇◇
Sejak
hari berikutnya, Enami-san tidak mengubah sikap seriusnya.
Dia tidak
pernah absen atau terlambat. Jika dipanggil di kelas, dia akan patuh. Awalnya
hanya guru wali kelas, Shiroyama-sensei, yang memanggilnya, tetapi seiring
berjalannya waktu, guru-guru dari mata pelajaran lain juga mulai tidak ragu
untuk memanggilnya. Meskipun sebagian besar guru berinteraksi dengan cara yang
cukup formal, jelas bahwa Enami-san telah berubah secara signifikan di mata
semua guru.
Tentu
saja, sikap siswa juga banyak yang berubah.
Enami-san
adalah orang yang menarik perhatian, dalam artian
baik atau buruk. Mereka yang sebelumnya hanya mengamati dari
jauh kini berbondong-bondong mengunjungi kelas kami dan mulai berbicara.
Beberapa bahkan secara terang-terangan bertanya tentang kontak Enami-san.
Namun, Enami-san
tidak pernah menanggapi
mereka dengan serius.
Aku tidak tahu apa itu
karena dia memang tipe yang menghindari pergaulan, atau karena dia merasakan
hal yang tidak menyenangkan di antara mereka. Lama kelamaan, jumlah siswa yang
berusaha aktif berbicara dengan Enami-san semakin berkurang.
──Namun,
di sisi lain.
Enami-san
dan aku mulai berbicara lebih banyak, dan hal itu diketahui oleh orang-orang di
sekitar kami.
Mengapa
hanya aku yang bisa akrab dengan Enami-san, sementara siswa lain tidak?
Ada
banyak bisikan di belakang tentang kami berdua.
◇◇◇◇
“Seriusan, pasti ada sesuatu yang terjadi di antara kalian,
‘kan?”
Entah
kenapa, Saito yang menanyakan hal ini padaku sambil menggigit sepotong lemon di mulutnya. Serkarang
sedang waktu istirahat, dan kami bertiga sedang duduk
mengelilingi meja sambil makan bekal. Aku memasukkan sayur bayam yang aku buat
ke mulutku dan menjawab,
“Aku juga
tidak tahu.”
“Jangan-jangan,
kamu menembaknya dan dia bilang iya?”
Shindo
tertawa terbahak-bahak. Dia tampaknya sangat ingin mengarahkannya ke sana.
“Mana mungkin lah. Lagipula, aku tidak
punya waktu untuk berpikir tentang berpacaran.”
“Hah?”
“Berusaha menyeimbangkan tugas belajar dan pekerjaan rumah saja sudah cukup sulit. Sayaka dan ayahku sama sekali tidak
bisa diandalkan, jadi hampir semua pekerjaan harus aku lakukan sendiri.”
“Memangnya kamu ini bodoh apa? Yang namanya
serius juga ada batasannya kali.”
“Tapi…”
Saito dan
Shindo tampak terkejut. Meskipun begitu, saat aku terus memberikan alasan, kini
giliran Hanasaki yang datang menghampiri kami. Hanasaki menatapku dengan cemas.
“Ka-Kamu baik-baik saja? Okusu-kun?”
Dia
berkata demikian setelah melirik ke arah Enami-san
yang duduk di belakang. Untungnya, Enami-san sedang berbicara dengan Nishikawa
dan tidak menyadari kami.
“Umm, maksudmu
tentang Enami-san?”
“Ya...”
Di
samping Hanasaki yang
ragu-ragu, Saito menatapku dengan tatapan yang seolah menghakimi. Aku
meletakkan sumpitku.
Hanasaki melanjutkan,
“Lihat,
ada banyak rumor tentang Enami-san. Aku sama sekali tidak berpikir bahwa Enami-san
adalah orang yang jahat, tapi
ketika semua ini tiba-tiba terjadi, aku jadi khawatir...”
Kali ini, Saito menyenggolku dengan
sikunya.
“Ah, ah.
Ayo, bersikaplah lebih tegas.
‘Sang Suami’.”
Raut wajah
Hanasaki langsung sedikit memerah setelah mendengar
kata-kata itu.
“Oi, sudah kubilang hentikan, bercandanya jangan begitu
lah.”
“Tidak masalah ‘kan. Toh, lebih
cepat jadian maka itu lebih baik.”
Aku
merasa bingung. Karena merasa malu,
aku menggaruk pipiku.
Sebenarnya aku dan Hanasaki sama sekali tidak
berpacaran. Hanya saja, Saito sudah menggoda kami sejak lama melihat suasana
antara kami. Terkadang, Shindo juga ikut-ikutan dengan senang hati.
“Hanasaki, kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya.”
Aku berkata
demikian sambil sedikit menghela napas.
“...Aku
tidak bisa mengatakannya dengan baik, tapi ini mirip
seperti aku dimintai saran.
Sebelumnya, aku meminta Enami-san untuk pergi ke pertemuan wawancara, ‘kan?
Meskipun ada sedikit masalah, sejak saat itu banyak hal yang terjadi dan aku
jadi mendengar cerita Enami-san sampai batas tertentu. Hanya itu saja.”
Sebenarnya,
setengah dari itu hanyalah
kebohongan. Aku tidak benar-benar membantu, dan aku tidak mendengar apapun dari
Enami-san. Namun, aku merasa lebih baik jika berbicara seperti itu agar situasinya bisa lebih lancar.
Jika aku
mengungkapkan semuanya dengan jujur,
kemungkinan besar dia tidak
akan memahaminya. Bahkan, ada kemungkinan
kata-kata “Aku ingin tahu tentangmu” akan ditafsirkan dengan cara yang salah. Aku ingin menghindari hal itu.
“Begitu
ya.”
Hanasaki tampak lega dan ekspresinya
melunak.
“Sepertinya
dia sudah mengikuti
pertemuan wawancara dengan
baik. Aku berpikir mungkin tidak akan ada lagi cerita tentang Enami-san. Saat
ini, dia memang menarik perhatian banyak orang.”
“Karena Enami-san
memang sangat terkenal, jadi semua
orang membicarakannya.”
“Jadi,
tolong jangan terlalu khawatir. Pada dasarnya, tugas utamaku adalah membawa Enami-san
ke wawancara, jadi aku tidak berencana untuk
terlibat lebih dalam.”
“Ah masa~?”
Aku
mengabaikan komentar Saito yang tidak perlu.
Kali ini,
aku merasa tidak terlalu berbohong. Aku tidak tahu apa yang ingin dilakukan Enami-san
setelah mengetahui tentang diriku, tetapi jika
memang ada tujuan, pasti ada juga akhir yang harus
dicapai.
“Ah”
Pada saat
itu, orang yang bersuara adalah Shindo yang
diam-diam sedang makan bekal. Ia
melihat ke belakang. Di arah pandangnya, terlihat sosok Enami-san yang sedang
mendekati kami.
Semua
mata di dalam kelas kini tertuju pada kami.
Mungkin ini adalah pemandangan yang sudah sering mereka lihat, tetapi tampaknya
mereka tetap tertarik pada Enami-san.
Sesuai
dugaan, Enami-san berhenti di depan mejaku. Saito dan
Shindo mulai berbicara seolah-olah tidak ingin terlibat.
“Ad-Ada apa?”
Aku
berharap dia tidak berbicara denganku di
depan banyak orang. Enami-san tampaknya masih tidak tertarik pada Saito dan
Shindo. Namun, dia sedikit memperhatikan Hanasaki.
“Tidak
ada apa-apa. Aku belum menyelesaikan PR
untuk pelajaran berikutnya. Jadi ada
sesuatu yang ingin kutanyakan.”
“Pelajaran
berikutnya... oh, bahasa Inggris, ya. Baiklah. Bisakah
kita melakukannya setelah aku selesai
makan bekal?”
“Kamu belum makan?”
“Aku jadi
terlambat karena makan sambil berbicara. Aku akan
segera menghabiskannya.”
Setelah aku menjawab demikian, Enami-san kembali ke tempat
duduknya. Aku sudah terbiasa, tetapi yang lain tampaknya belum. Aku bisa
merasakan perubahan suasana yang cukup signifikan.
Hanasaki dengan suara lembut berkata,
“Kalau begitu, aku kembali ya.” Dia tampak benar-benar terkejut dengan Enami-san
tadi.
Saat
melihat Hanasaki yang
tampak melarikan diri, Shindo menepuk pundakku dengan tatapan hangat.
“Apa?”
“Tidak,
hanya saja, aku cuma kamu pasti merasa kesulitan ya...”
Seolah-olah
itu bukan urusannya... Meminta untuk diajari bukanlah yang pertama kali
terjadi. Rupanya, dia
juga belajar sendiri di rumah,
dan kadang-kadang dia bertanya seperti ini jika ada yang tidak dimengerti.
“Aku bahkan tidak merasa cemburu lagi.
Pokoknya, jangan sampai melibatkan kami ya.”
“Betul itu betul.”
“Kalian
ini. Kalian benar-benar teman yang tidak berguna...”
Namun,
ini adalah benih yang aku tanam sendiri. Faktanya, aku harus menyelesaikannya
sendiri.
Setelah
selesai makan, aku pergi ke tempat Enami-san untuk mengajarkan PR. Itu bukan
hal yang sulit. Aku menunjukkan kesalahan Enami-san dan memastikan dia bisa
menyelesaikan soal-soalnya dengan baik.
...Meskipun
baru sebentar, aku sudah mulai memahami satu hal sejak berinteraksi dengan Enami-san.
Yaitu, kemampuan dasar akademiknya tidaklah rendah.
Enami-san
memahami sebagian besar materi yang diajarkan hingga SMP. Dia memiliki
kemampuan untuk segera menangkap penjelasanku.
Entah aku
mengajarkannya atau
tidak, dia semakin meningkat dalam hal akademis, dan sepertinya dia bisa
menghindari nilai merah di semua mata pelajaran pada ujian berikutnya.
──Yah,
aku tidak bisa mengurusnya sampai sejauh itu.
Sejak
saat itu, Enami-san hanya sesekali menanyakan tentang diriku, tanpa ada
perubahan besar. Aku masih
belum mengerti arti kata “perlu” yang pernah disebutkan Enami-san.
Setelah
urusanku selesai, aku kembali ke tempat dudukku.
Tepat
saat itu, sebelum beberapa langkah, lenganku ditarik.
──Apa?
Karena tanganku ditarik ke belakang, aku hampir
kehilangan keseimbangan.
Saat aku
menoleh, aku melihat ada
seorang siswa laki-laki di sana. Rambutnya terlihat
keras karena gel rambut. Meskipun matanya terlihat lembut, aku tahu dia
sebenarnya tidak sebaik itu.
Ia kemudian
berkata,
“Bukannya belakangan ini kamu kelihatan jadi songong ya?”
Tiba-tiba
sekali. Aku berusaha melepaskan diri, tetapi tenaganya kuat.
“Aku
tidak mengerti maksudmu.”
“Jangan sok-sokan membantah dengan songong begitu.”
Suasananya benar-benar membuatku sangat
tidak nyaman. Sekarang, jika dipikir-pikir, orang ini jauh lebih bermasalah
dibandingkan Enami-san.
Namanya adalah Tsuno.
Ia
anggota klub tenis. Dirinya sangat
memusuhiku dan kadang-kadang menggangguku. Bahkan, ada kalanya ia mengganggu
barang-barang di mejaku. Meskipun tidak sering sampai pada tingkat perundungan, keberadaannya menjadi sumber
masalah bagiku.
“Kamu
paham, ‘kan? Ada rumor tentang kamu, jadi
aku berpikir mungkin kamu merasa hebat.”
Tsuno
bukanlah orang pertama yang bertanya seperti itu padaku. Entah kenapa, ada banyak
orang yang peduli pada Enami-san. Namun, tidak ada alasan untuk menerima
keluhan yang disampaikan dengan cara yang begitu menekan.
“Haah...”
“Orang
seperti kamu yang cuma bisanya belajar, sebaiknya jangan
bermimpi aneh-aneh, terus saja belajar seumur hidupmu. Itu lebih baik untukmu.”
Bagi dia,
apa yang aku lakukan tidak ada hubungannya. Ia
hanya mencari poin yang bisa dihina dan terus-menerus menunjukkannya sambil
tertawa terbahak-bahak.
──Ini
buang-buang waktu...
“Sudahlah,
minggir. Pelajaran akan segera dimulai.”
“Kalau
kamu peringkat satu di angkatan, kamu tidak
perlu ikut pelajaran segala,
‘kan? Hah?”
Setelah
bel berbunyi, lenganku akhirnya dilepaskan. Namun, saat itu, dia mendorongku
dengan kekuatan yang membuatku hampir terjatuh karena tarikan lenganku.
Untungnya, Shindo cepat-cepat menahanku.
“Dasar
konyol.”
Tsuno
hanya mengucapkan itu dan mengalihkan pandangannya dariku. Ia membuka buku pelajarannya di
atas mejanya seolah tidak terjadi apa-apa.
“Apa kamu
baik-baik saja?”
Saito
bertanya dengan khawatir. Aku mengangguk dan duduk di tempatku.
◇◇◇◇
Aku menyukai waktu istirahat siang. Ada
berbagai alasan, tetapi alasan utamanya karena
aku bisa makan. Akulah
yang selalu menyiapkan bekal, tetapi jujur
saja, aku cukup percaya diri dengan masakanku. Selain itu, aku bisa
menyesuaikan bumbu sesuai seleraku, jadi rasanya sangat enak.
Itu belum
semuanya. Mencoba masakan baru untuk bekal juga menyenangkan. Bekal berbeda
dari makanan biasa, ada jarak yang besar antara waktu memasak dan waktu makan.
Aku suka memikirkan bagaimana agar masakanku tetap enak saat dimakan.
Kadang-kadang,
aku memberikan masakanku kepada Saito dan Shindo untuk mendengar pendapat
mereka. Keduanya tidak mengerti tentang sopan santun atau basa-basi, jadi aku
bisa mendapatkan pendapat yang jujur. Hanasaki kadang ikut serta, sehingga
waktu istirahat siangku selalu penuh kesenangan.
Namun,
sesekali, jika ada hal yang tidak menyenangkan, aku ingin menjauh dari waktu
istirahat siang.
Contohnya,
dalam situasi seperti ini.
◇◇◇◇
“O-Okusu-kun.”
Awal mula
semuanya berasal dari suara Hanasaki.
Pada saat pelajaran ketiga selesai, dia berdiri dekat mejaku dan
memanggilku.
“Hmm?”
“Aku
ingin minta bantuan sedikit saat istirahat siang
nanti.”
Ada
sesuatu yang membuatnya terlihat tertekan. Aku bertanya, “Apa yang ingin kamu
bicarakan?”
“Ada sesuatu yang ingin kubirakan denganmu...
Jadi, apa kita bisa makan bersama?”
“Boleh
saja.”
“Benarkah?
Kalau begitu, setelah istirahat siang, ayo pergi ke kantin bersama.”
“Oh, hari
ini Hanasaki tidak membawa bekal, ya. Baiklah.”
Setelah
itu, pelajaran keempat selesai, dan saat aku berusaha pergi ke tempat Hanasaki,
kali ini aku diajak bicara oleh Enami-san.
“Hei.”
“Hmm? Enami-san?”
Hal yang
jarang sekali terjadi. Kali ini Enami-san yang
memulai percakapan. Namun, hal yang
paling mengejutkanku adalah apa yang dia katakan
selanjutnya.
“Hari
ini, bagaimana kalau kita bersama?”
“...Apa
maksudnya?”
“Siang.”
Akhirnya,
aku mengerti apa yang dia maksud. Setelah melihat Hanasaki yang terlihat cemas,
aku menjawab.
“Maaf,
aku sudah ada janji sebelumnya. Kalau besok sih
tidak masalah.”
“Janji
sebelumnya? Dengan siapa?”
Kemudian,
dia sepertinya menyadari arah pandanganku dan mengerti bahwa itu adalah Hanasaki.
Saat aku berharap dia mundur, Enami-san melontarkan kalimat yang
mengejutkan.
“Kalau
begitu, aku juga akan ikut.”
“...Hah?”
“Jangan
terlalu sering mengulang. Jika kamu memasukkan aku, itu sudah cukup.”
Apa yang
dia bicarakan? Sebenarnya, Hanasaki dan Enami-san belum pernah berbicara dengan
baik. Aku tidak yakin bisa menghadapi situasi di antara keduanya.
Sementara
aku berpikir seperti itu, Enami-san sudah mulai berjalan cepat. Sepertinya dia
sudah menjelaskan situasinya kepada Hanasaki sebelum aku bisa mengejarnya. Hanasaki
terlihat terkejut, lalu pandangannya bolak-balik antara aku dan Enami-san.
Apa boleh
buat. Sekarang setelah begini, aku hanya bisa
menghadapinya.
Sekarang,
saat aku tiba di kantin, aku tetap merasa bingung.
Enami-san,
aku, dan Hanasaki duduk berurutan. Enami-san dan Hanasaki membawa makanan dari
menu kantin, sementara aku membuka kotak bekal yang aku bawa dari kelas.
Pandangan orang-orang di sekitarku
terasa menyakitkan. Enami-san biasanya makan berdua dengan Nishikawa atau
sendirian. Tampaknya siswa-siswa
di sekitar kami tidak
bisa menyembunyikan keterkejutannya karena tiba-tiba
ada laki-laki yang ikut dengannya.
“...”
Tidak ada
percakapan yang terjadi. Terjepit antara Enami-san dan Hanasaki, aku hanya bisa
berkeringat. Aku ingin bertanya tentang isi konsultasi Hanasaki dan alasan Enami-san
ingin bergabung di sini. Namun, ketegangan misterius yang menyelimuti suasana
membuatku terdiam.
Di dalam
kotak bekal bertingkat, ada nasi yang dimasak pagi ini dan lauk pauk. Aku
mengambil sumpit, tetapi tidak tahu apa aku
boleh mulai makan, jadi aku hanya mengamati ekspresi wajah keduanya.
Sepertinya
Enami-san memesan set menu harian. Di atas nampan terdapat ikan mackerel yang
dimasak dengan miso, nasi putih, sup miso, dan salad kentang. Dia menuangkan air
dari gelas ke dalam cangkir dan duduk diam sambil meminum air tersebut.
Hanasaki
tampak sangat gelisah. Sejak tadi, dia lebih sering mencuri pandang ke arah
ekspresi Enami-san daripada melihat makanan di depannya. Karena aku saja bisa
menyadarinya, pasti Enami-san juga merasakan tatapan itu. Sesekali, mulut Hanasaki
bergerak seolah meminta pertolongan, tapi tidak ada kata-kata yang keluar,
hanya desahan halus yang bisa terdengar.
Tentu
saja, aku mengerti perasaan Hanasaki. Dia berencana mengajakku, tetapi sekarang
ada masalah besar yaitu Enami-san yang ikut hadir, membuat pikirannya penuh
tanda tanya. Sebenarnya, Hanasaki sudah beberapa kali berbicara dengan Enami-san,
tetapi saat itu tidak pernah menjadi percakapan yang baik.
Kami bertiga terjebak dalam
situasi canggung. Karena aku
tak bisa menahan diri lagi, jadi aku memulai pembicaraan.
“Eh, ehm.
Jadi, Enami-san?”
Enami-san
menjawab sambil menuangkan air kedua ke dalam gelasnya, “Hmm?”
Bukan itu
yang aku maksud...
“Apa yang sebenarnya terjadi? Aku diminta Hanasaki kalau dia ingin membicarakan sesuatu denganku,
tetapi sepertinya tidak ada alasan bagi Enami-san untuk ikut di sini.”
“Alasan?
Tidak ada, sih. Hanya saja, kupikir tidak ada salahnya menghabiskan waktu
istirahat bersama.”
“Oh,
begitu...”
Pemikiran aneh melintas di kepalaku.
Ada pendapat yang merasa itu tidak mungkin dan pendapat lain yang merasa itu
satu-satunya kemungkinan. Tidak ada gunanya berpikir, karena tidak ada jawaban
yang muncul.
“Kita
sudah beberapa kali pulang bersama, jadi makan bersama itu hal yang biasa, ‘kan?”
Kata-kata
yang diucapkan sambil memiringkan gelas membuat tubuh Hanasaki sedikit
bergetar.
“Biasa,
biasa saja, ya...”
“Eh, ehm.
Enami-san...!”
Hanasaki
di sebelahku mengeluarkan suara seolah terpaksa.
“Ini
adalah pertama kalinya kita berbicara dengan baik. Ehm, mungkin kamu sudah
tahu, tetapi aku adalah Hanasaki Shiori yang menjadi wakil kelas bersama dengan
Okusu-kun. Senang bertemu denganmu.”
Dia
mengucapkannya dengan terbata-bata tetapi berusaha mengatakannya dengan cepat.
Jika dibandingkan dengan biasanya, nada suara Hanasaki terasa lebih
tajam...
“Oh, gitu ya. Senang bertemu. Kamu pasti tahu
tentang diriku, kan?”
“Ya. Ehm,
jarang sekali Enami-san yang memulai percakapan seperti ini.”
“Yah,
untuk hal sekecil ini, tidak ada yang aneh, kan? Kita kan teman sekelas.”
“Benar
juga.”
Hanasaki
terdiam sejenak. Biasa saja? Apanya
yang biasa? Makan siang bersama teman sekelas mungkin bukan hal yang langka,
tetapi makan bersama Enami-san adalah pemandangan yang cukup langka. Tatapan dari sekitar sudah
membuktikannya.
“Hanasaki.
Apa kamu baik-baik saja? Jika ada hal yang tidak ingin didengar orang lain, aku
bisa mendengarkan konsultasimu nanti.”
“Ah,
tidak! Aku baik-baik saja. Itu bukan hal yang penting.”
Karena ini mengenai Hanasaki, bisa jadi
jawabannya itu tidak tulus dan lebih memperhatikan Enami-san. Mungkin sebaiknya
aku tidak membahasnya.
“Untuk
saat ini, mari kita makan dulu.”
“Ya.”
Akhirnya suasana
mulai kembali normal. Kami berdua mengambil sumpit. Jika dibiarkan, makanan
mereka berdua akan dingin.
Hari ini,
bekal makan siangku adalah sisa kroket tiram dari kemarin. Aku sebenarnya tidak
ingin memasukkan makanan gorengan ke dalam bekal, tetapi karena terburu-buru
membuatnya hari ini, aku tidak bisa menyiapkan yang lain. Meskipun begitu, aku
sudah memperhatikan bumbunya, jadi meski dingin, rasanya tetap enak.
Entah
mengapa, Hanasaki melihat isi bekalku sambil makan nasi.
“Ada
apa?”
“Sebenarnya,
konsultasi hari ini adalah tentang memasak.”
Oh, jadi
begitu. Memang, jika ditanya Enami-san, itu bukan hal yang terlalu
menyulitkan.
“Aku juga
berpikir bahwa aku harus bisa memasak dengan baik. Tapi di rumah, kami sering
makan makanan siap saji, jadi tidak ada yang benar-benar pandai memasak.”
“Jadi,
kamu ingin bertanya banyak hal padaku?”
“Benar
sekali.”
Biasanya,
konsultasi dari Hanasaki lebih banyak tentang belajar. Aku selalu mendapatkan
peringkat pertama di kelas, tetapi Hanasaki juga cukup tinggi. Dia bilang cara
penjelasanku mudah dipahami.
Namun,
konsultasi tentang memasak merupakan sesuatu
yang pertama kali terjadi hari ini.
“Bekal
itu juga dibuat oleh Okusu-kun, ‘kan?”
“Benar.”
Sayangnya,
hari ini adalah menu yang sederhana. Seandainya aku tahu akan seperti ini, aku
pasti akan lebih serius dalam membuatnya.
“Aku
sebenarnya sudah bisa melakukan hal-hal dasar, tetapi banyak menu dan trik yang
tidak aku ketahui... Selain itu, aku merasa akan lebih membantu jika ada orang
yang bisa mencicipi dan memberikan pendapat.”
“Betul sekali. Aku juga meningkatkan
kemampuanku dengan mendengarkan pendapat dari Sayaka dan ayahku.”
“Jadi,
ya...”
Hanasaki
meletakkan sumpitnya dan menundukkan wajahnya. Telapak tangan diletakkan di
atas lututnya.
“Jika Okusu-kun
tidak keberatan, aku ingin meminta bantuanmu untuk mencicipi masakanku.”
Nasi
yang hampir tertelan terasa terjebak di tenggorokan. Setelah menarik napas
dalam-dalam dan mengatasi rasa canggung, aku berjuang untuk menelan kata-kata
itu.
“Bagaimana,
ya...?”
Mungkin Hanasaki
merasa gelisah karena aku tidak segera menjawab. Dia menatapku dengan tatapan
penuh harap.
Dia tidak
memiliki maksud yang mendalam,
‘kan? Mungkin tidak, kan?
Seharusnya aku bisa setuju dengan cepat, tetapi karena Hanasaki mengatakannya
dengan sangat serius, aku jadi merasa canggung.
Sejujurnya,
aku juga senang dengan tawaran ini. Aku merasa dipercaya dengan kemampuan
memasakku, dan juga berterima kasih karena akan mendapatkan masakan buatan
tangan.
Akhirnya,
aku memutuskan untuk menerima tawarannya.
“Baiklah.
Jika aku bisa membantu, aku akan senang melakukannya.”
“Benarkah!?
Syukurlah... Terima kasih.”
Sudah
kuduga, Hanasaki memang imut. Tidak mengherankan jika dia populer di kalangan
laki-laki. Jika orang lain tahu kami sedang berbicara seperti ini, aku bisa
dibuli habis-habisan.
“Ngomong-ngomong,
kamu berencana membuat apa?”
“Awalnya
mungkin hamburger yang aman, ya? Aku tahu cara membuatnya, tetapi tentu saja
rasanya berbeda dari yang dijual di restoran...”
“Ya, jika
dibandingkan dengan yang seperti itu, rasanya memang
sulit untuk melampaui. Tapi, aku juga sering membuat hamburger, jadi pasti ada
beberapa saran yang bisa kuberikan. Tentu saja, ada kemungkinan Hanasaki bisa
membuat yang jauh lebih enak daripada yang aku buat.”
“Tidak,
itu tidak mungkin! Aku baru saja belajar
memasak.”
“Apapun
itu, aku menantikannya.”
“Ya.”
Wajah
ceria Hanasaki membuatku merasa tenang. Ini adalah keuntungan yang nyata.
Saat aku
mulai melupakan situasi dan merasa nyaman, tiba-tiba terdengar suara dari arah Enami-san.
“...”
Eh? Apa
itu? Enami-san sesekali melihat ke arahku. Ternyata, suara tadi adalah
suara Enami-san meletakkan sumpit di atas nampan.
“Ap-Apa kami terlalu berisik? Maaf, saat
makan...”
“Aku
benar-benar lupa. Aku juga punya permintaan padamu.”
Enami-san
mengatakannya dengan santai. Meskipun aku ingin mengatakan bahwa dia sebelumnya
tampak acuh tak acuh, aku menahan diri dan hanya bertanya, “Apa?”
“Ajari
aku belajar.”
“Bukannya aku sudah sering mengajarimu?”
Setiap
kali Enami-san bertanya, aku selalu menjawab dengan baik. Tidak ada alasan
untuk tiba-tiba meminta, “Ajari
aku.”
“Bukan
itu maksudku. Aku ingin kamu mengajarkan dari dasar. Jika tidak keberatan,
tentu saja.”
“Dari
dasar? Tapi, Enami-san sudah memahami dasar-dasarnya dengan baik, kan?”
Aku tidak
mengerti. Dalam bentuk sekarang pun sudah cukup menurutku.
“Sebenarnya,
ada beberapa bagian yang membuatku cemas...”
Jarang
sekali Enami-san berbicara sampai panjang
lebar begini.
“Sebenarnya,
aku belum belajar dengan baik sampai sekarang. Jadi, aku merasa ada banyak hal
yang kupikir sudah aku pahami. Selain itu,
tentang fisika, aku tidak terlalu memahami teorinya. Ujian tengah semester
tinggal kurang dari seminggu, dan aku ingin mendapatkan nilai baik kali ini,
jadi aku akan sangat terbantu jika kamu bisa membantuku...”
Yah, aku
juga tidak benar-benar tahu tentang kemampuan akademis Enami-san. Jika Enami-san
berkata begitu, mungkin memang begitu. Aku tidak bisa membantahnya.
“Secara
spesifik, apa yang kamu inginkan?”
“Apa kamu
punya waktu sepulang sekolah
hari ini? Jika bisa, satu atau dua jam akan sangat membantu.”
“Hmm.
Jika kamu bilang begitu, baiklah. Tapi hanya untuk hari ini.”
“Itu cukup. Terima kasih.”
Aku juga
tahu bahwa Enami-san sedang berusaha keras dalam belajar. Sejak hari itu, dia
menghabiskan hampir seluruh waktunya di sekolah untuk belajar. Dalam proses
mengajarinya, aku bisa melihat peningkatan kemampuan akademisnya.
Mengajarkan
orang seperti itu sangat memuaskan. Mengajar juga menjadi pembelajaran bagiku
sendiri.
──Nah.
Sekarang
waktunya untuk menyelesaikan makan siang. Aku ingin segera kembali ke tempat
dudukku dan mempersiapkan ujian tengah semester.
Saat aku
mengalihkan pandanganku ke arah Hanasaki,
aku menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan dirinya.
Lengan
yang terulur ke arah lututnya bergetar.
“Hanasaki,
kamu baru makan setengah, ‘kan?”
“Aku
baik-baik saja. Aku baik-baik saja.”
Dia tidak
terlihat baik-baik saja. Sepertinya, warna wajah Hanasaki juga tidak sehat. Sementara aku khawatir, Enami-san
tampak tidak peduli dan terus menikmati makanan harian yang dia pilih.
Di antara
aku di tengah, sesekali tatapan mata mereka bertemu.
Mungkin
karena suasana canggung yang membebani, makanan terasa lebih tidak enak dari
biasanya.
◇◇◇◇
Sepertinya,
itu bukan lelucon. Aku menyadari hal
itu ketika setelah sekolah, Enami-san menghampiriku.
“Bisa kita segera pergi sekarang?”
Aku
sedang duduk di tempatku sambil mengobrol dengan Saito dan yang lainnya.
Tatapan bingung menghujaniku, sementara aku dalam hati merasa, “Jadi dia serius, ya...”
Di tempat
itu, Enami-san terlihat bersaing dengan Hanasaki. Jadi, aku berpikir mungkin
dia hanya berjanji karena terpaksa dan sebenarnya tidak berniat
melakukannya.
“Apa kamu
mendengarku?”
Aku
segera mengalihkan pikiranku ke depan. Aku mengangguk.
“Tidak masalah. Hanya saja, bisakah kamu menunggu sebentar?
Aku diminta tolong sesuatu
oleh guru.”
“Mau aku membantumu?”
“Tidak
perlu. Lagian juga bukan perkara
besar.”
“Baiklah.
Aku akan menunggu di depan gerbang utama.”
Setelah Enami-san
pergi, aku menghela napas. Meskipun ini bukan pertama kalinya kami pulang
bersama, pergi berdua ke suatu tempat merupakan
kejadian yang pertama. Kata
seperti
“kencan” melintas di pikiranku.
“Kamu,
kali ini kamu sudah melakukan apa?” “Kalian
pasti sedang berpacaran, ‘kan?”
Saito dan
Shindo melontarkan pertanyaan yang hanya didasari rasa penasaran. Mata mereka bersinar penuh
keceriaan. Hubungan antara Enami-san dan aku sudah sedemikian dalam sehingga
kata-kata seperti “tidak ada
apa-apa” atau “Itu tidak benar” terasa tidak lagi relevan. Aku
sudah terdaftar sebagai teman Enami-san.
Memang benar
bahwa aku mempunyai urusan dengan guru. Dia
meminta agar aku membawa lembaran yang akan digunakan besok ke kelas. Meskipun
ada keinginan agar guru melakukannya sendiri, mungkin guru itu juga sibuk
dengan tugas membuat ujian dan kegiatan ekstrakurikuler. Aku merasa buruk
karena langsung menerima permintaan itu, tetapi aku tetap melakukannya.
Ketika
aku selesai membawa semua lembaran ke dalam kelas,
sepuluh menit telah berlalu.
“Ya ampun...”
Aku mulai
memahami alasan mengapa dia meminta bantuan. Jumlahnya lumayan banyak. Guru bahasa Jepang klasik yang memintaku—Okamura-sensei—adalah seorang pengajar yang
cukup tua. Mungkin ia tidak bisa membawanya sendiri, jadi ia meminta bantuan
anak muda.
Yah, jika
ini hanya segini, tidak masalah. Aku segera menuju ke tempat Enami-san.
◇◇◇◇
Saat aku
menggerakkan lenganku yang
lelah, aku melihat Enami-san berdiri di depan gerbang utama yang dipenuhi
orang.
Pemandangan
yang sudah sering aku lihat berkali-kali.
Pada awalnya, siswa-siswa yang melihatnya tampak terkejut, tetapi kini mereka
mulai mengabaikannya. Namun, keindahan postur berdirinya dan aura yang
dimilikinya tetap luar biasa.
“Maaf sudah membuatmu menunggu.”
Enami-san
mematikan layar ponselnya. Benar saja,
Nishikawa tidak ada di sampingnya.
“Seharusnya aku yang minta maaf.
Karena aku yang memintamu, jadi kamu tidak
perlu minta maaf segala.”
“... Jadi, kita mau ke mana?”
“Ke kafe.
Ada tempat yang sering aku kunjungi.”
Sepertinya
aku bisa mempercayakan ini kepada Enami-san.
Setelah
melewati gerbang utama, aku mengabaikan jalan yang mengarah ke stasiun dan
menuju ke arah yang lebih sepi. Karena Enami-san selalu mencolok di mana pun
dia berada, mungkin lebih baik jika kami pergi ke tempat yang terpencil.
Akhirnya,
kami tiba di sebuah kafe kecil yang terletak di sebelah toko rambut. Aku belum
pernah mendengar namanya, jadi mungkin ini adalah usaha pribadi.
Aku
membuka pintu masuk dan melangkah masuk. Sensasi lantai yang lembut terasa di
kakiku. Musik Barat mengalun
dengan volume yang rendah. Sepertinya tidak banyak pelanggan di sini. Selain
kami, hanya ada beberapa orang lainnya.
“Selamat
datang.”
Setelah
kami duduk di meja yang lebih dalam, pelayan membawakan air.
“Blend.”
“Es kopi, ya.”
Tanpa
ragu, kami memesan. Ternyata, tempat ini memang terlihat nyaman untuk
belajar.
Enami-san
segera mengeluarkan alat-alat belajar dari tasnya. Aku pun mengikuti.
“Kita mau
mulai dari mana? Fisika, kan?”
“Ya.”
Dia
membuka buku teks fisika dan menunjukkannya. Karena kami duduk saling
berhadapan, meskipun dia sedikit memiringkan bukunya, aku tetap kesulitan
membaca. Namun, jika aku memutar lebih jauh, justru akan sulit dilihat oleh Enami-san.
Saat itu,
Enami-san melakukan tindakan yang mengejutkan.
Dia
menggeser kursi ke samping meja. Lalu, dia menunjukkan ruang kosong dengan tangannya dan
berkata,
“Bagaimana
kalau kamu pindah ke sini?”
“Eh?”
Aku
tertegun.
“Jangan melong Eh? begitu. Kita berdua jadi sulit begini. Jauh lebih baik berdampingan.”
“Uhm.
Iya, benar.”
“Kalau
begitu, pindahlah ke sini.”
...Serius?
Dia
menatapku dengan ragu karena aku tidak segera bergerak, tetapi wajar saja aku
tidak bisa bergerak.
Meja ini
tidak bisa dibilang besar. Dalam situasi di mana pelanggan lain mungkin masuk,
tidak mungkin menggunakan ruang secara maksimal. Jika aku mengikuti kata Enami-san
dan duduk berdampingan, kami akan berbicara
dalam jarak yang cukup dekat.
Ketika aku
mulai membayangkannya, ini sudah terasa seperti pasangan
kekasih. Sayangnya, aku masih belum memiliki pengalaman berpacaran. Aku merasa
ragu untuk mengajari Enami-san dengan cara seperti itu.
“Tapi, kita tidak perlu sampai segitunya,
kan? Aku masih bisa mengatasinya entah bagaimana.”
“Tidak,
itu tidak mungkin.”
“Tidak
masalah jika kita tidak melihat buku yang sama berdua.”
“Hmm.”
Enami-san
bersandar di pipinya. Entah kenapa, dia terus menatapku. Aku merasa malu untuk
bertatap muka, jadi aku menundukkan pandangan ke gelas di depanku, dan dia berkata,
“Perjaka ya?”
Tanganku
hampir terlepas.
“Tadi,
apa yang kamu katakan?”
“Memangnya enggak?”
Tidak ada
kesan meremehkan. Ekspresi Enami-san kali ini lebih tenang dari biasanya.
“Bukan begitu masalahnya. Kenapa aku harus diejek perjaka?
Itu tidak ada hubungannya.”
“Karena,
sepertinya kamu sangat tersipu hanya untuk
duduk di sebelahku.”
“...Meskipun
pelanggannya sedikit,
tapi masih ada orang lain di sini. Jika kita
duduk berdampingan di meja ini, bisa jadi, ehmm,
kita akan terlihat aneh.”
“Aneh?
Maksudnya bagaimana?”
“Eh,
jadi...”
Sejak
tadi, semua pertanyaan yang diajukan membuatku bingung. Dia sengaja membuatku kesulitan. Enami-san terlihat senang
mengamati reaksiku. Dia pasti sudah tahu apa yang ingin aku katakan.
“Kita
berdua mau belajar, kan? Waktu harus
dimanfaatkan dengan baik."
“Itu
kan pertanyaan yang bisa cepat dijawab.”
“Jadi,
ya...”
Aku tidak
mungkin bisa bertanya kepada seorang wanita, “Kamu
masih perawan?” Meskipun
aku perjaka, tidak ada alasan untuk
memberitahu hal itu.
"Jika
kamu tidak ingin menjawab, tunjukkan dengan tindakan. Mau pindah ke sini?”
Dia
melambai dengan telapak tangan, menggerakkan ke atas dan ke bawah. Aku ragu.
Jika dipikir-pikir lagi secara
normal, seharusnya aku tidak terjebak dengan omongan Enami-san dan tetap pada
keinginanku. Mungkin saat itu juga, aku akan kembali diejek dengan sebutan ‘perjaka’.
Sebetulnya,
meskipun dia suka menggodaku, bagaimana dengan Enami-san sendiri? Dia juga
masih pelajar, tapi bersikap seolah-olah dia memiliki banyak pengalaman dalam percintaan... Sejujurnya, aku belum pernah
mendengar dia berpacaran
dengan siapa pun, jadi rasanya meragukan
apa dia bisa terus berada di posisi menggodaku.
Mungkin
sejak awal dia sudah berasumsi bahwa aku tidak akan pindah ke sampingnya. Dia
mungkin menganggap kalau aku
tidak bisa melakukan itu dan hanya ingin melihatku salting sambil bercanda.
──Kalau
begitu.
Sembari
berpikiran begitu, aku berdiri hampir bersamaan. Aku menggeser
kursi dan duduk di samping Enami-san. Detak jantungku semakin keras, tetapi aku
berusaha terlihat tenang agar tidak ketahuan.
Enami-san
di sampingku membuka matanya lebar-lebar dan kemudian menggumam, “Hmm.”
Apa ini
baik-baik saja? Aku khawatir jika keteganganku
ini terasa padanya. Jika itu terjadi, aku akan kembali menjadi sasaran
ejekan.
“...”
Namun, Enami-san
tidak menggoda atau merasa malu, dia dengan tenang memberitahuku bagian dari
buku pelajaran yang tidak dia mengerti. Sepertinya aku benar-benar harus
berbicara dengan Enami-san dalam suasana seperti ini.
Setengah
wajah kananku terasa hangat.
“──Jadi,
aku tidak mengerti kenapa ini 2N... Sepertinya tidak ada rasa nyata di sini.”
“Ah,
di sini...”
Suasana kali ini sangat berbeda dari saat aku mengajarinya di kelas. Di ruang kelas, ada banyak siswa lain, dan
tidak pernah ada jarak sedekat ini. Oleh karena itu, aku jadi lebih sadar akan
situasi ini.
Di balik
kata-kata penjelasan teoriku yang tenang, ada banyak
pikiran nakal berkeliaran. Sebaik apa pun aku berpura-pura menjadi siswa
teladan, aku tetaplah seorang siswa laki-laki. Hal
tersebut tidak bisa dihindari.
"──Jadi,
hal ini berhubungan dengan kalimat di
buku pelajaran ini. Memang, ada hal penting yang hilang di antara
baris-barisnya, jadi mungkin sulit dipahami.”
“Begitu
ya. Awalnya memang sulit, tapi aku mulai
mengerti sedikit. Ternyata kamu cukup pandai mengajar. Memang pantas kamu disebut siswa teladan.”
“Aku
tipe yang berusaha. Aku juga mengerti perasaan orang yang tidak mengerti.”
Di
sekolah, sepertinya tidak ada orang yang menghabiskan lebih banyak waktu
belajar daripada aku. Waktu belajar di sini bukan hanya waktu yang dihabiskan
di meja, tetapi waktu yang terfokus.
Enami-san
tertawa kecil.
“Apa-apaan itu? Ya, tidak masalah.”
“Cuma itu saja satu-satunya yang tidak kamu
mengerti? Jika ada yang lain, kamu bisa memberitahuku.”
Dari
situ, aku mengajarinya selama sekitar 30 menit di samping Enami-san. Pertanyaan
Enami-san mencakup banyak mata pelajaran, dan semuanya berkaitan dengan ujian
tengah semester berikutnya. Jadi, semua itu
merupakan hal-hal yang masih segar dalam ingatanku dan mudah untuk diajarkan.
Seiring berjalannya waktu, kegugupan karena duduk di
samping Enami-san mulai berkurang. Meskipun aku tidak tahu bagaimana orang lain
melihat kami, aku mulai merasa nyaman. Pertanyaan yang tepat dari penjelasanku
juga terasa menyenangkan.
“Terima
kasih.”
Dengan
kata-kata yang tulus, Enami-san menutup buku pelajarannya. Sepertinya, itu
semua yang ingin dia tanyakan. Aku merasa lega.
Untuk
sementara, karena merasa diperhatikan, aku memutuskan untuk mengembalikan kursi
ke posisi semula. Ternyata, situasi itu cukup mencolok. Beberapa orang di dalam
kafe terlihat memperhatikanku. Sepertinya Enami-san sering datang ke sini, dan
mungkin mereka berpikir, “Apa cowok itu pacarnya~?”
Ketika aku kembali ke posisi di depan Enami-san,
aku merasa jauh lebih nyaman. Aku bertanya,
“Bagaimana
dengan ujian tengah semester nanti?
Sepertinya kamu bisa mendapatkan nilai yang baik?”
“Entahlah.
Sudah lama aku tidak serius mengikuti ujian.”
Aku
pernah bertanya kepada Enami-san tentang nilai-nilai masa lalunya. Ternyata
hasilnya sangat buruk. Ada beberapa mata pelajaran yang bahkan tidak dia ikuti,
dan dalam kasus itu, nilainya dianggap 0. Kebanyakan mata pelajaran mendapatkan
nilai merah, dan dia juga pernah dimarahi guru karena hal ini.
Sejujurnya,
ada siswa lain yang lebih buruk daripada Enami-san saat ini. Saito dan Shindo
juga sering mendapatkan nilai merah, tetapi mereka jauh lebih lambat dalam
memahami materi dibandingkan Enami-san. Mungkin dalam kasus mereka, mereka sama
sekali tidak berniat untuk belajar.
“Ngomong-ngomong,
bagaimana saat kelas satu dulu?”
“Kelas satu...?
Ah, mungkin sekitar musim dingin kelas satu
aku banyak mendapatkan nilai merah.”
“Sebaliknya,
sampai sekitar semester kedua kelas satu,
kamu bisa menyelesaikan soal dengan baik.”
“Aku
juga mendengarkan pelajaran. Tapi bukan berarti nilainya sebaik kamu.”
Dia
menyentuhkan bibirnya ke tepi cangkir kopi. Aku juga minum es kopiku.
Sepertinya
Enami-san lebih suka meminum kopi hitam. Susu dan gula yang diberikan padanya
tidak tersentuh. Aku tidak bisa minum kopi hitam, jadi aku menambahkan
keduanya.
“Bukankah
memang begitu rasanya menjadi siswa biasa? Aku tidak terlalu memikirkan nilai,
dan tidak ada hal lain yang ingin kulakukan. Hanya lebih serius dibandingkan kelas dua, dan sejak saat itu, jika
mengantuk, aku tidur di kelas.”
“Tidur
di kelas itu tidak baik, sih....”
Saat
mengantuk, aku berusaha untuk tidak tertidur. Aku tahu bahwa hanya mendengarkan
sulit untuk melawan rasa kantuk.
“Sebelumnya,
kamu bilang sedang bekerja
paruh waktu...”
“Benar.”
Dia
meletakkan cangkirnya di atas piring. Dia sudah meminum setengahnya.
“Mungkin
kedengarannya aneh di telingamu, tapi aku tidak bisa santai di
rumah, jadi mau kerja paruh waktu atau tidak, sama saja. Kebanyakan waktuku
merasa ngantuk, jadi tidak bisa dihindari.”
Rasanya
dia sudah terbiasa minum kopi, mungkin karena dia selalu mengonsumsi kafein
untuk mengatasi rasa kantuk. Aku merasa sungkan untuk menanyakan lebih dalam
tentang situasinya. Namun, mungkin Enami-san adalah orang yang lebih biasa
daripada yang aku bayangkan. Meskipun penampilannya tidak menunjukkan hal itu,
setiap tindakan Enami-san mungkin memiliki alasan yang jelas jika ditelusuri
lebih dalam.
“Kamu
sendiri baik-baik saja? Kamu selalu mendapatkan nilai tertinggi, ‘kan?”
“Apa yang
kamu katakan setelah mendesakku untuk mengajarimu...”
Bagiku,
ini bukan waktu yang sia-sia, tetapi rasanya jelas
lebih baik jika aku belajar di rumah.
“Yah,
tidak masalah. Ini bukan sesuatu yang perlu kamu khawatirkan, Enami-san.”
“Biasanya,
kamu melakukan apa di rumah? Hanya belajar?”
“Tentu
saja tidak hanya itu.”
Mengurus
pekerjaan rumah, merawat Sayaka dan ayah... Tunggu, hampir tidak ada waktu
untuk diriku sendiri.
“Hmm.”
“Seriusan kok. Yah,
mungkin aku tidak bermain sebanyak orang lain sih.”
Kadang-kadang
aku pergi bermain dengan keluarga atau teman. Tempat yang sering dikunjungi
adalah game center atau karaoke. Jika hanya belajar dan mengurus rumah, aku
akan merasa lelah.
Saat itu,
Enami-san mengeluarkan smartphone dari saku. Setelah mengutak-atik layar, dia
menunjukkan padaku. Apa ya?
Di layar
itu terlihat kode QR dari aplikasi pesan.
“...Hmm?”
“Alamat kontakmu. Kamu juga pasti
menggunakannya, kan?”
“Aku
memang menggunakannya, tapi...”
Aku
merasa bingung. Aku tidak pernah
menyangka akan ada perkembangan seperti ini.
“Rasanya
terlalu merepotkan karena aku tidak bisa menanyakan apa pun padamu kecuali aku
berbicara langsung denganmu di sekolah. Mungkin saat belajar, akan ada lebih
banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu. Jika itu yang terjadi, bertukar nomor kontak jauh lebih
efisien. Atau, apa kamu tidak mau bertukar kontak?”
“Tentu
saja tidak.”
Aku juga
mengeluarkan smartphone di atas meja.
Kemudian aku
membuka aplikasi pesan. Karena biasanya aku tidak terlalu sering menggunakannya, jadi tidak ada notifikasi yang
masuk.
Kontak
yang terdaftar di ponselku hanya sekitar tiga puluh orang. Jumlah perempuan
yang terdaftar bahkan tidak sampai lima.
Setelah
beberapa saat, aku membaca kode QR Enami-san. Terdaftar dengan nama sederhana [Risa]. Syukurlah, Enami-san bukan tipe
yang menggunakan banyak emoji.
“Ini
juga muncul. Nama akunmu sama
persis dengan nama asli.”
“Memangnya ada
masalah dengan itu? Repot juga kalau harus memikirkan nama lain, ‘kan?”
Ngomong-ngomong,
ayahku menggunakan format “Nama
Asli + Papa”,
ditambah dengan dekorasi seperti bintang atau lingkaran. Mungkin ada orang yang
cocok dengan nama seperti itu, tetapi jika ayahku yang melakukannya, hanya akan
terlihat konyol. Dari situ, aku belajar dan membuat akun yang sederhana.
Di daftar
teman aplikasi pesan, ada akun Enami-san. Foto yang dijadikan ikon mungkin diambil
oleh Nishikawa. Hanya terlihat sosok Enami-san yang berdiri dengan ekspresi
sangat membosankan.
Mungkin
jika orang-orang tahu bahwa aku mendapatkan kontak Enami-san, mereka akan
terkejut. Ada kemungkinan orang yang tidak ada hubungannya juga akan mendesak
untuk meminta kontakku. Aku berjanji dalam hati untuk tidak membiarkan siapa
pun mengetahuinya.
...Sebenarnya,
apa ada orang lain yang terdaftar sebagai teman di aplikasi pesan Enami-san
selain Nishikawa dan aku?
Enami-san
memasukkan smartphone ke dalam sakunya
lagi.
“Ini
akan memudahkan kita untuk berkomunikasi, dan kita juga bisa pergi bermain. Aku yakin kamu juga merasa jenuh jika terus-menerus
belajar, jadi sesekali melakukan hal-hal seperti ini juga baik, kan?”
Sepertinya
Enami-san mungkin khawatir tentangku dengan caranya sendiri. Memang, aku merasa
senang, dan tidak ada alasan untuk menolaknya.
Namun, jika hal ini
diketahui, aku mungkin akan dibabat habis
oleh para siswa laki-laki di sekolah.
“Baiklah.
Aku akan menantikannya. Tapi, aku tidak ingin menjadi bahan gosipan
orang-orang di sekolah, jadi sebaiknya kita melakukannya di tempat yang jauh dari sekolah.”
“Memangnya kamu
tipe orang yang peduli dengan gosip? Apa
pun yang orang lain katakan, itu tidak masalah, ‘kan?
Atau, mungkin karena gadis itu?”
Gadis
itu yang dimaksud mungkin merujuk pada Hanasaki.
“Tidak,
bukan tentang seseorang secara khusus.”
Tentu
saja, aku tidak sepenuhnya tidak peduli jika Hanasaki melihat kami. Aku juga
memiliki pemikiran tentang kejadian yang terjadi saat istirahat siang
tadi.
“Kalau
begitu, tidak masalah. Dari sudut pandangku, mau bagaimana pun, pasti ada yang
akan membicarakannya.”
“Ya,
mungkin.”
Jika
memikirkannya dari sudut pandang itu, pasti rasanya sulit bagi Enami-san yang selalu menjadi
pusat perhatian. Aku baru benar-benar memahami setelah berada di sampingnya dan
mendapatkan perhatian. Rasanya, untuk bisa bertahan, seseorang harus menjadi
agak tidak peka.
Namun,
dalam kasusku, ada satu hal yang aku khawatirkan.
Beberapa
hari yang lalu, Tsuno berkata padaku.
(Akhir-akhir
ini, kamu jadi terbawa suasana,
ya?)
Aku sadar betul kalau aku tidak terbawa suasana,
jadi aku sama sekali tidak merasa terluka. Namun, masalahnya adalah
tindakan Tsuno yang semakin menjadi-jadi. Aku pernah diganggu oleh Tsuno
sebelumnya, tetapi akhir-akhir ini, frekuensinya terasa meningkat.
Sepertinya
dirinya tidak suka melihatku akrab
dengan Enami-san, dan jika kami terlihat bersama, aku tidak tahu apa yang akan
terjadi selanjutnya.
“...”
Namun,
aku tidak ingin melibatkan Enami-san dalam masalahku. Aku memutuskan untuk
tidak mengatakan lebih banyak dan menyelesaikan studiku.
◇◇◇◇
Area
pemakaman berjarak
sekitar 20 menit dari rumah. Jika berjalan ke arah yang berlawanan dari
stasiun, akan ada sedikit tanjakan. Setelah keluar dari jalan raya dan melewati
perumahan, ada sebuah kuil, dan di belakangnya terdapat ruang yang luas. Di
tempat terbuka seluas sekitar 100 meter ini, makam
ibuku dibangun di tempat ini.
Aku
mengunjungi makam sekitar sekali seminggu.
Di sudut
kuburan terdapat kran air, sendok, dan ember, jadi kami mengambil air dari sana
untuk merawat makam. Tidak ada orang lain di sana. Aku, Sayaka, dan ayah berdiri dengan rapi
sambil memegang ember dan bunga, mendekati batu nisan di bagian dalam.
Setelah
meletakkan ember, ayah mengambil air dengan sendok dan menjatuhkannya dari
bagian atas batu nisan. Dengan suara air yang lembut, batu nisan itu sedikit
berubah warna menjadi lebih gelap.
“Naoya,
ambilkan kain lap.”
“Ya.”
Aku
mengambil kain lap yang baru saja dibeli dari ransel yang kubawa di punggung.
Karena kami rajin membersihkan, kain itu hampir tidak kotor, tetapi tetap ingin
menjaganya tetap bersih. Bahkan Sayaka
yang biasanya cerewet, kali
ini tidak banyak bicara.
Kami
bertiga bekerja dengan tenang. Aku berputar ke sisi lain dan mengelap kotoran
yang disebabkan oleh hujan dan angin.
“Sudah
cukup. Naoya, Sayaka.”
Aku berhenti
setelah mendengar suara ayahku.
“Ya.”
Aku
mengambil kain lap yang basah dan kembali ke tempat
ayah dan Sayaka berada. Suasananya begitu tenang. Pohon-pohon di sekitar
kuburan berdesir pelan.
Sayaka menyisipkan bunga yang
dipegangnya ke dalam tempat bunga. Karena kami menggunakan bunga segar, bukan
bunga plastik, kami harus sering menggantinya agar tidak cepat layu. Aku pernah
berpikir untuk menggunakan bunga plastik, tetapi aku merasa keberatan dan tidak
bisa melakukannya.
Bunga
yang dibeli adalah bunga lili putih dan cosmos berwarna pink. Aku memasukkan
bunga yang sudah tua ke dalam kantong plastik transparan.
“Baik.”
Dengan begini, semuanya sudah oke.
Setelah
menyalakan beberapa batang dupa, aku menempatkannya di dalam tempat dupa.
Kami
melangkah mundur dari batu nisan dan meletakkan barang yang kami pegang di
tanah.
Di depan
kami, terlihat batu nisan berbentuk panjang dengan nama ibu terukir di
atasnya.
──Kuburan
Keluarga Okusu
Keluarga besar ibu berasal dari tempat yang
jauh, dan tidak banyak orang yang bisa merawatnya, jadi kami meletakkan kuburan
dekat rumah kami. Meskipun aliran agama sedikit berbeda, masalahnya adalah jika
bunga layu atau tidak ada yang merawatnya.
“Bagaimana
kalau kita mulai
berdoa?”
Ayahku berkata dengan wajah lembut sambil
mengikuti asap yang naik tipis.
Aku
menyatukan kedua tangan dan memejamkan
mata.
Memori
itu menakutkan, karena aku secara perlahan mulai melupakan ibu, yang telah
bersamaku begitu lama. Siapa dia, percakapan apa yang biasa kami lakukan,
bagaimana kehidupan saat ibu ada…
Itulah
sebabnya, aku perlu waktu untuk berdiri di depan makam dan memikirkan tentang
ibu.
Dalam
hati, aku meminta maaf. Selalu seperti itu setiap kali aku datang ke sini.
Aku ingin
lebih banyak berbicara dengan ibuku. Ada banyak hal yang harus kusampaikan.
Namun, aku tidak bisa melakukannya, dan hanya bisa berbicara sepihak kepada roh
ibuku yang mungkin ada atau tidak.
Bagaimana
ibuku akan menjawab kata-kataku? Ekspresi seperti apa yang akan dia tunjukkan?
Tanpa mengetahui apa-apa, aku terus menyatukan tangan di depan kekosongan.
Sudah
berapa lama aku seperti ini?
Akhirnya,
ayah meletakkan tangannya di bahuku dan berkata, “Ayo
pergi”.
Aku
membuka mata.
Cahaya
matahari yang turun dari atas terasa menyilaukan. Aku berkedip beberapa kali
untuk menyesuaikan mata, lalu mengangguk.
Dengan
perasaan berat di hati, kami meninggalkan tempat itu.
◇◇◇◇
“Maaf,
kalian pulang duluan.”
Di tengah
perjalanan pulang dari area kuburan,
aku berhenti. Ayah dan Sayaka yang
berjalan di depan menatapku dengan wajah curiga.
“Ada
apa?”
“Ada barang
yang ketinggalan.”
Aku
memasukkan tangan ke dalam saku dan meraba-raba. Sebenarnya, tidak ada barang
yang tertinggal, tetapi aku berpura-pura seolah-olah ada.
Ayah dan
Sayaka mengerutkan dahi, tetapi aku
meninggalkan mereka.
Setelah
belok di sudut, ketika sosok mereka tidak terlihat lagi, aku menghela napas
panjang.
──Lagi-lagi.
Ada
alasan mengapa aku berpisah dengan mereka.
Aku
mendengar suara langkah kaki. Bukan hanya satu orang.
Sejak
tadi, aku merasakan tatapan. Tatapan yang lengket dan penuh niat jahat. Aku
tahu apa yang akan datang.
──Sudah kuduga…
Ini
adalah perasaan yang sudah lama tidak kurasakan. Hal seperti ini pernah terjadi
di masa lalu. Langkah kaki itu semakin mendekat. Akhirnya, ketika aku melihat
wajah orang-orang yang mengelilingiku, aku merasa terjebak dalam emosi yang
aneh, bukan ketakutan atau kebahagiaan.
Di sana
ada sekumpulan pria yang jelas-jelas terlihat seperti
anak berandalan. Beberapa mengenakan seragam sekolah, tetapi
sebagian besar mengenakan kemeja atau hoodie berwarna mencolok. Jumlah mereka
sekitar lima orang. Tidak ada yang berambut hitam, semua memiliki warna rambut
yang disemir.
“Oi.”
Melihat
ekspresi orang yang berbicara, akhirnya aku mengerti mengapa mereka
memperhatikanku dan menggangguku.
Aku dibawa
ke gang sempit.
Suara
mengunyah permen karet terdengar. Bahuku
dirangkul dan dipaksa berjalan. Hari sudah mulai gelap, dan
seluruh kota diselimuti cahaya merah yang redup. Namun, tempat yang aku kunjungi sekarang hampir tidak
mendapatkan cahaya, hanya sedikit cahaya yang bocor dari celah yang
terbuka.
“Jadi kamu
yang namanya Okusu Naoya, ya?”
Orang
yang berbicara pertama kali adalah pria yang berdiri tepat di depanku. Badannya tinggi, sehingga aku harus
mendongak. Rambutnya cokelat, dan gigi kuningnya terlihat dari mulutnya.
“Siapa
kalian?”
“Hati-hati
dengan cara bicaramu, oke? Kami
yang bertanya di sini.”
“Tiba-tiba
mengganggu dan membawaku ke sini, kalianlah
yang tidak waras. Cepat katakan nuat
kalian. Aku tidak punya waktu untuk bermain-main dengan kalian.”
“Dasar
keparang.”
Kakinya ditendang ke dinding. Sepatu
yang berada tepat di samping tubuhku menggesek permukaan.
“Walaupun
badanmu kelihatan lemah, tapi omonganmu
cukup bernyali juga, ya. Sebenarnya, kamu pasti sangat ketakutan sampai
hampir mengompol, kan?”
“Hah?”
“Atau,
kamu masih belum mengerti situasi
ini?”
Tidak,
bukan itu. Aku merasa terkejut.
Aroma
makanan yang bocor dari ventilasi. Sekumpulan semut yang berkeliaran di kaki.
Tempat ini, yang terjepit antara dua bangunan, tidak teratur karena manusia.
Mungkin saat ini tidak ada, tetapi jika waktunya tepat, bisa jadi kecoa juga
akan muncul.
Kadang-kadang
ada orang-orang berandalan yang terlihat di
sekitar sini. Aku sudah tahu tentang itu. Aku pernah terlibat
sekali sebelumnya. Saat itu, aku berhasil melarikan diri, tetapi itu bukan
pengalaman yang menyenangkan.
Aku tidak
tahu dari mana kelompok ini berasal. Tidak ada sekolah dengan reputasi buruk di
dekat sini. Jadi, mungkin mereka hanya kebetulan datang bermain.
──Mereka
tahu tentang aku, ya.
Pada
titik ini, jelas sekali bahwa
mereka terhubung dengan kenalanku di masa lalu. Siapa mereka?
“Jadi?”
Aku
mendorong mereka untuk melanjutkan. Akhirnya, para preman mulai mengernyitkan
alis mereka ketika suasanaku tidak berubah.
“Aku
pernah mendengar desas-desusmu. Katanya ada orang kuat di sekitar sini. Katanya, senior kami
dipukuli habis-habisan? Sepertinya, itu sama
sekali tidak bisa dipercaya.”
Kemudian,
mereka menunjukkan foto-foto di ponsel. Di situ ada foto diriku di masa
lalu.
“Berbeda
dari sekarang, rambutmu pirang dan gaya rambutnya juga berbeda, tetapi melihat
wajahmu, tidak diragukan lagi kalau ini
adalah kamu.”
“Lalu?”
“Aku
takkan pernah puas jika tidak menjadi yang terbaik. Itu saja.”
“Oh,
begitu... meskipun kamu bertingkah songong begitu, tapi kamu
justru mengumpulkan orang banyak dan
tidak bisa bertindak sendiri.”
Di
samping wajah pria itu, muncul kerutan senyum kecut.
“Dari tadi
kamu selalu bertingkah menjengkelkan. Kamu memang tidak mengerti situasinya, ya?”
“Aku
paham, kok. Itulah
sebabnya, aku ingin segera menyelesaikannya.”
Aku
membuka kaki dan menarik tanganku saat berdiri di tempat. Pria itu
menurunkan kakinya dari dinding dan menghadapiku.
“Aku sudah
menjadi yang terbaik di sekolah SMAku. Setelah ini, jika aku
mengalahkanmu, semuanya akan selesai.”
“Sederhana
sekali.”
Pemikiran
kekanak-kanakan. Nilai-nilai kekanak-kanakan. Aku
dulu juga memiliki pemikiran itu.
Terlalu
tidak berarti dan begitu
konyol...
“Awas saja,
jangan sampai kamu
menyesalinya.”
Saat itu,
di pandanganku, ada kepalan tangan yang terangkat dan ekspresi penuh kemarahan.
◇◇◇◇
“U,
uuh.”
Suara yang terdengar kesakitan. Belum sampai 30 detik berlalu. Dengan sedikit kebingungan, aku merasakan sensasi yang agak nostalgia.
Saat aku
melihat ke bawah, di sana ada sosok pria yang sebelumnya bertekad untuk
mengalahkanku.
Dengan
air liur yang menetes,
ia terbaring di atas tanah
dengan tubuhnya melengkung.
Para
preman lainnya sudah melarikan diri. Mungkin aku sudah berlebihan melakukannya. Hanya ada aku dan pria
berambut cokelat yang terjatuh di sini.
Aku
melihat tanganku. Ini adalah sensasi yang sudah lama tidak kurasakan.
──Aku
benar-benar melakukannya.
Namun,
aku akan berada dalam bahaya jika aku hanya berdiam diri
terus. Supaya mereka tidak
terus-terusan mengusikku di masa depan, sebaiknya aku
membuatnya merasakan sakit.
Aku
merapikan seragamku dan keluar dari gang.
Matahari
sudah lama terbenam. Kota ini sudah tidak dalam suasana senja
lagi, tetapi malam telah tiba. Lampu jalan mulai menyala satu per satu. Jumlah
pejalan kaki dan siswa semakin berkurang, sementara bayangan karyawan dan
mahasiswa yang dalam perjalanan pulang semakin banyak. Restoran izakaya juga
mulai buka, dan terlihat pengamen di jalan.
Aku
berhenti sejenak untuk mengamati suasana kota. Setelah pulang ke rumah, ada
banyak hal yang harus dilakukan. Dulu, ketika aku tidak memikirkan apa-apa, aku
sering berjalan tanpa tujuan di tempat seperti ini.
──Tapi.
Aku yang
sekarang tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Setelah pulang, aku harus memasak
makan malam dan kemudian bersih-bersih.
◇◇◇◇
Pesan
dari Enami-san-san tiba pada malam hari itu.
Risa:
"Bisa bicara sebentar?"
Aku
sedang belajar di kamarku. Ketika aku sedang mengerjakan buku soal dengan
tenang, tiba-tiba ponselku bergetar sebentar. Setelah
melihat namanya, aku segera membalas.
Okusu Naoya: "Apa?"
Sekarang sudah pukul 9 malam. Aku sudah
mandi, dan bersih-bersih juga sudah selesai. Mungkin dia memiliki pertanyaan
tentang pelajaran lagi. Namun, pesan berikutnya adalah kata-kata yang sama
sekali tidak terduga.
Risa: “Di mana stasiun terdekat dari
rumahmu?”
Tanganku
berhenti. Aku tidak mengerti. Hanya suara AC yang terdengar. Saat aku bingung
tentang bagaimana harus membalasnya, pesan lanjutan kembali datang.
Risa: “Aku akan ke sana. Temani aku
sebentar.”
Orang
ini... Apa yang selalu dia pikirkan? Jangan-jangan, dia berniat untuk menemukan
rumahku?
Okusu Naoya: “Waktunya sudah terlalu malam,
dan aku tidak mau.”
Risa: “Tapi, aku sudah di dalam kereta.”
Okusu Naoya: “Apa maksudmu?”
Apa dia mengirim pesan ini untuk mempermainkanku?
Muncul keraguan seperti itu, tetapi sepertinya dia tidak berbohong.
Okusu Naoya: “Jika sudah terlalu malam, kamu
bisa ditangkap. Sebaiknya pulang sekarang.”
Risa: “Tidak bisa.”
Okusu Naoya: “Meski kamu bilang begitu, kenapa
kamu ingin melibatkanku?”
Ini
terlalu tiba-tiba. Ujian tengah semester sudah dekat, dan aku tidak ingin
berkeluyuran malam-malam.
Risa: “Ngomong-ngomong, sekarang aku di
kereta menuju arah bawah."
Okusu Naoya: “Lalu?”
Risa: “Stasiun berikutnya adalah...”
Jelas
sekali, itu adalah stasiun terdekat dari rumahku. Ada banyak keluhan yang ingin kukatakan kepadanya. Kenapa bukan Nishikawa
saja?
Sambil
mengetik dan menghapus pesan, ponselku bergetar lagi.
Risa: “Sekarang, aku sudah sampai di
stasiun itu...”
Otakku mulai
bekerja keras selama beberapa detik, memikirkan berbagai kemungkinan.
Ada rasa ingin menolak. Namun, pada akhirnya, kesimpulan yang muncul adalah
sesuai dengan rencana Enami-san.
Okusu Naoya: “...Kamu bisa turun di
sana. Aku akan ke stasiun.”
Aku tidak
tahu apa maksudnya, tetapi mungkin ada alasan serius di balik tindakannya. Aku mengambil mantel dari
lemari dan memakainya. Dengan hati-hati, aku keluar dari rumah agar keluargaku
tidak menyadarinya dan menuju stasiun.
Setelah
berjalan sekitar 10 menit, aku tiba di depan stasiun. Hanya pintu masuk stasiun
yang sepi saja yang diterangi lampu benderang.
Di tempat
yang sunyi itu, aku melihat seorang wanita berdiri. Ketika aku mendekat,
sepertinya dia menyadari suara langkah kakiku. Dia mengeluarkan tangan dari
saku mantel dan melambaikannya.
“Jadi, ada
apa?”
Enami-san,
seperti yang sudah bisa kutebak, mengenakan pakaian santai. Sweater berwarna biru tua, rok
panjang merah, dan di atasnya dia mengenakan mantel chester berwarna putih.
“...”
Meskipun
tempat itu ramai, aku yakin kalau aku
akan segera menyadari keberadaan Enami-san. Meskipun dia berpakaian sederhana, dia tetap
mencolok.
Postur
tubuhnya juga bagus.
Aura yang terpancar dari penampilannya yang menakjubkan. Mata orang-orang tidak
akan bisa mengabaikan keberadaannya.
Tak lama
kemudian, suara kereta yang mendekat terdengar. Setelah beberapa saat, banyak
orang turun dari kereta dan menghindari kami saat mereka menghilang ke dalam
malam.
Di depan
stasiun yang kembali sepi, aku bertanya sekali lagi.
“Kamu
sudah datang sampai sejauh
ini. Sebenarnya, apa yang ingin kamu lakukan? Beritahu aku.”
Angin
bertiup. Ujung mantel Enami-san melambai. Dan
kemudian, Enami-san berkata,
“Apa
kamu punya uang?”
Itu bukanlah jawaban untuk pertanyaanku.
Meskipun begitu, aku tetap mengangguk dengan jujur.
“Tempat
ini sepertinya tidak terlalu ramai, ya. Padahal belum jam 9:30 malam.”
“Karena
ini daerah pemukiman, jadi tidak
banyak hiburan. Kalaupun kamu
datang ke sini, tidak ada hal baik yang bisa didapat.”
Jadi,
pada jam-jam seperti ini, hanya orang-orang yang pulang yang menggunakan
stasiun.
“Begitu.
Jadi, ayo pergi.”
“Tunggu.
Kita mau pergi ke mana? Sudah larut
begini, aku tidak mau berlama-lama.”
“Sudahlah,
ayo.”
Enami-san
mulai berjalan cepat sambil memeriksa ponselnya. Setelah beberapa detik merasa ragu, aku memutuskan untuk
mengikutinya.
Dia
sebenarnya mau ke mana? Dia tidak mencari gedung atau mencari peta di
ponselnya. Meskipun begitu, dia tidak terlihat bingung, tetapi setiap kali
sampai di persimpangan, kakinya terhenti.
“...Hei.”
Aku memanggil
Enami-san yang berjalan lunglai
di depanku. Entah kenapa, aku merasakan suasana yang berbeda dari biasanya. Aku tidak bisa mengungkapkannya dengan baik, tetapi ada
kesedihan yang samar-samar terpancar dari Enami-san yang biasanya percaya
diri.
“Apa
yang sebenarnya kamu inginkan? Ada sesuatu yang terjadi?”
Meski
diabaikan, aku terus bertanya.
“Memanggil
orang di tengah malam seperti ini tidak biasa. Kamu pasti tidak berniat pulang
segera, ‘kan? Aku sudah bilang di ponsel,
kamu bisa saja ditangkap polisi.”
Sebenarnya,
aku pikir berkeluyuran di malam hari sangat berbahaya bagi seorang siswi
SMA.
“Tadi
kamu bertanya apakah aku punya uang.”
Akhirnya,
Enami-san memberi reaksi. Dia mengangguk kecil.
“Kurasa kamu sedang mencari tempat untuk
menghabiskan waktu, ‘kan?”
Sepertinya
aku tepat sasaran. “Yah...” dia mengangguk pelan.
“DKalau di sini mungkin ada lebih banyak
pilihan.”
Enami-san
yang berada di belakangku berhenti dan membuka matanya lebar-lebar. Aku tidak
bisa membiarkan Enami-san dalam keadaan seperti ini.
“Pastinya
aku lebih mengenal daerah ini. Jika mau karaoke atau warnet, aku bisa menunjukkan jalannya.”
“Itu
saja sudah cukup.”
“Ampun deh.”
Kami
menyeberangi jembatan dan menuju sisi lain rel kereta. Cahaya buatan semakin terang.
Di sisi ini, ada satu karaoke dan satu warnet.
Enami-san berhenti di depan warnet.
“Kalau gitu,
boleh aku pulang sekarang?”
“Tentu
saja tidak boleh.”
Berbeda
dari sebelumnya, nada suaranya yang tidak bisa ditolak kembali muncul. Aku
merasa sedikit lega.
Di depan
tangga ada karakter seperti kadal dari kertas karton. Di papan sebelahnya
tertera harga penggunaan. Sepertinya ada kenaikan harga karena malam.
“Jangan-jangan
Enami-san berniat menginap di sini malam ini?”
“Mungkin...”
Jawaban
yang ambigu. Jika aku ikut serta, apa aku juga harus menginap di dalam warnet? Itu terlalu tidak masuk
akal, jadi aku memutuskan untuk menolak hal itu, tetapi aku tetap masuk bersamanya.
Seorang
karyawan yang terlihat tidak bersemangat menggaruk-garuk di bawah apron sambil
mengucapkan “Selamat
datang” dan menyerahkan kertas rencana
tarif. Enami-san sepertinya benar-benar berniat menginap, setelah sedikit ragu,
dia memilih rencana 8 jam. Segera, aku menolak.
“Aku
tidak akan menginap.”
“Tidak
masalah. Kamu bisa memilih 2 jam saja.”
“Oh,
begitu...”
Aku
mengikuti petunjuk Enami-san. Setelah membayar tarif di depan, kami dibawa ke
sebuah ruangan pribadi yang sedikit lebih dalam. Mungkin karena kami datang
bersama, kami berada di sebelah satu sama lain.
“Aku
akan pulang jika waktuku sudah selesai.”
Karena
sudah membayar, aku memutuskan untuk menggunakan sedikit waktu.
Aku masuk
ke ruangan di sebelah kiri, dan Enami-san masuk ke ruangan di sebelah
kanan.
Di
dalamnya ada satu komputer desktop. Sebuah kursi kulit diletakkan di depannya.
Aku duduk dengan santai agar tidak mengganggu sebelah.
Aku
menatap langit-langit yang sempit.
Sudah
sekitar setahun sejak terakhir kali aku ke sini. Lebih sering aku pergi ke
perpustakaan daripada menggunakan tempat ini. Di perpustakaan ada berbagai
jenis buku, ruang belajar, dan yang terpenting, gratis.
“...Apa
sih yang sebenarnya ingin dia lakukan?”
Enami-san
memang orang yang misterius. Jika akhirnya bersembunyi di ruangan pribadi
seperti ini, tidak ada artinya membawaku ke sini. Ketika aku melihat jam, sudah
lewat pukul 10.
Namun,
sekitar lima menit kemudian, ada ketukan di pintu ruangan pribadiku. Ketika aku
melihat dari atas pintu, Enami-san berdiri di sana.
“Biarkan
aku masuk.”
Aku terpaksa
membuka pintu. Enami-san lalu masuk
tanpa ragu.
“Kamu
belum menyalakan komputermu. Apa
yang kamu lakukan?”
Aku
mengambil ponsel yang terletak di samping keypad.
“Belajar.”
Enami-san
mengintip ke arah layar. Di
situ terlihat aplikasi belajar dengan format pilihan benar atau salah. Karena
tidak ada yang ingin dilakukan di komputer, aku memutuskan untuk belajar.
“Eh?
Kenapa?”
“Karena
ujian tengah semester sudah dekat. Aku ingin mendapatkan peringkat pertama di
kelas.”
“Berat
juga ya jadi peringkat satu.”
Jika dia sedikit merasa begitu, aku harap
dia tidak melibatkanku. Namun, entah dia tahu perasaanku atau tidak, dia duduk
di kursi dan menyalakan komputer.
“...Kalau
begitu, aku akan pergi ke ruangan pribadimu, Enami-san.”
Mungkin
komputer itu bermasalah. Aku berniat keluar dengan diam-diam, tetapi kakiku
tidak bergerak. Enami-san menggenggam ujung bajuku.
“Duduklah di sini.”
Enami-san
menepuk-nepuk area di
sebelahnya. Aku mengernyitkan dahiku.
“Kenapa?”
“Yuk.
Jangan malu-malu.”
Lagi-lagi begitu.
Aku
melihat sosok Enami-san sekali lagi.
Bohong
rasanya jika dibilang aku tidak berdebar-debar. Enami-san
memiliki daya tarik yang tidak bisa dibandingkan dengan generasi kami.
Lagipula, hari ini dia tidak mengenakan seragam seperti biasanya.
Bahkan
saat pulang bersama, jarak kami tidak pernah sedekat ini.
“──Fufu.”
Dan,
seperti biasa, senyumannya
muncul.
Meskipun
menyebalkan, dia terlihat imut. Aku berusaha menampilkan wajah cemberut agar
tidak terlihat terpengaruh. Mungkin salah satu alasan mengapa aku tidak bisa
menolak dengan tegas meskipun dia terus menggangguku adalah karena ini.
“Kamu
grogi ya?”
Yah, aku hanya bisa menghela napas jika
terus-menerus digoda seperti ini.
“Aku
tidak grogi. Berhenti meledekku terus.”
“Hmm~.”
Aku duduk
di sebelah Enami-san. Ketika melihat layar, tampaknya dia membuka situs
streaming video di browser.
Sepertinya,
dia ingin menikmati video Bersama denganku.
Tentu
saja, duduk di sebelah Enami-san membuatku tegang. Saat mengajarinya di
restoran keluarga, aku baik-baik saja, tetapi sekarang kami berdua sendirian di
ruangan pribadi. Bahkan, tidak ada alasan untuk belajar.
Bukannya ini
sudah mirip seperti kencan?
Ini
adalah pertama kalinya aku melihat profil Enami-san dengan serius. Bahkan, aku
bisa mendengar napasnya. Di jarak yang bisa dijangkau hanya dengan sedikit
menjulurkan tangan, ada seorang wanita cantik yang luar biasa di hadapanku. Hal itu membuat detak
jantungku semakin cepat.
“Hei.”
Itulah
sebabnya, ketika dia tiba-tiba memanggilku, aku merasa
seperti tertangkap basah.
“Apa kamu
menyukai hal yang seperti ini?”
Aku
berusaha agar tidak menunjukkan kegugupan di wajahku dan melihat layar.
Di sana
tertera judul film. Sepertinya Hollywood. Durasi film sekitar 1 jam 50 menit.
Tepat ketika aku akan keluar dari net cafe.
“Aku
tidak benci film aksi. Tidak masalah yang
itu saja.”
“Kalau
begitu, kita pilih ini.”
Enami-san
memutar film itu. Namun, suara tidak keluar. Setelah diperhatikan, ternyata
headphone terpasang di PC.
Sambil
berpikir tentang apa yang harus dilakukan, Enami-san mengeluarkan earphone
putih dari saku. Dia mencabut headphone dan menggantinya dengan earphone
itu.
“Ini.”
Kemudian,
Enami-san menyerahkan salah satu earphone-nya
kepadaku.
Tanpa
memedulikan kekagetanku, Enami-san memasukkan earphone
ke telinga kanannya. Astaga, situasi ini sangat serius.
Tentu
saja, Enami-san tidak memiliki niat seperti itu. Meskipun hubungan kami masih
baru, aku mulai menyadari bahwa Enami-san adalah orang yang tidak terlalu peduli
dengan hal-hal seperti ini.
──Aku sudah tidak peduli lagi.
Aku
berusaha agar keraguanan
yang kurasakan tidak terlihat, dengan berusaha mempertahankan ekspresi tenang,
dan memasukkan earphone ke telinga kiriku.
Ayo fokus
pada layar. Jika aku berpikir secara rasional tentang situasi ini, aku bisa
menjadi gila.
Sekitar
10 menit setelah film dimulai, aku mulai mengutak-atik opsi dengan mouse.
Karena
aku tidak terbiasa, aku tidak begitu mengerti cara mengoperasikannya. Namun,
dengan merasakan, aku akhirnya menemukan item yang aku cari, lalu mengklik
untuk mengubah pengaturannya.
Akhirnya,
aku bisa fokus pada film. Namun, Enami-san melepas earphone dan mulai berbicara
padaku.
“Jangan
sembarangan mengubahnya jadi subtitle dong.”
Ya, sejak
tadi film diputar dengan dubbing bahasa Jepang.
Aku sudah
memutuskan untuk menonton film dengan subtitle. Bukan berarti aku meremehkan
dubbing, tetapi dengan subtitle, aku bisa mendengar suara aktor secara
langsung, jadi terasa lebih nyata.
“Pinjam sini.”
“Ah.”
Mouseku
direbut dengan paksa. Segera, film kembali ke dubbing.
Aku juga
melepas earphone.
“Aku tidak
berkonsentrasi jika tidak ubah menjadi
subtitle. Aku tidak suka dubbing.”
“Aku
juga tidak suka subtitle. Kenapa harus memilih yang sulit dipahami?”
“Subtitle
memberikan suasana yang lebih baik. Dubbing itu jalan yang salah.”
“Subtitle
ada terjemahan bebasnya. Aku rasa dubbing lebih bisa diandalkan.”
“Aku
bisa mendengar bahasa Inggris sampai batas tertentu, jadi apapun terjemahannya,
aku tetap bisa menikmatinya.”
“Kamu lagi
pamer ya?”
“Aku
tidak bermaksud begitu. Pokoknya,
aku lebih suka subtitle.”
Aku
berusaha merebut mouse kembali, tetapi Enami-san menaruh mouse di sisi yang
berlawanan. Jika aku menjulurkan tangan dengan paksa, mungkin bisa dijangkau,
tetapi itu akan membuatku menyentuh tubuh Enami-san.
“……”
Dia
menatapku dengan senyuman menyeringai.
Sepertinya, dia bisa melihat melalui diriku.
Apa ada
cara untuk mengatasinya? Aku berpikir keras. Sebenarnya, aku tidak keberatan
menonton dengan dubbing, tetapi aku tidak suka terus-menerus kalah.
Mouse
terletak di bawah tangan kiri Enami-san. Mungkin dia berpikir kalau aku tidak berani menyentuhnya.
Aku
mengambil keputusan dan meletakkan tanganku di atas tangan kiri Enami-san.
“……”
Enami-san
terkejut dan membuka matanya lebar-lebar. Kemudian, dia sedikit melonggarkan ekspresinya seolah berkata, “Hmm~.”
Melalui
tangan Enami-san, aku kembali mengutak-atik opsi. Dan, sekali lagi beralih ke
subtitle.
Setelah
memastikan itu, aku melepaskan tanganku.
Di dalam
hatiku, aku merasa sangat
gelisah. Tangan Enami-san lebih dingin dan lebih kecil daripada tanganku.
Enami-san
melihat tangan yang tadinya disentuh tanganku. Mouse masih berada di
tangannya. Namun, dia tidak berusaha mengembalikannya ke dubbing.
◇◇◇◇
Filmnya
menarik.
Adegan
ledakan yang sangat mengesankan. Aksi akrobatik.
Semua terasa mendebarkan dan membuatku berkeringat.
Di akhir,
si tokoh utama berada dalam situasi genting. Ketika ia memecahkan jendela
gedung dan melarikan diri, aku tidak bisa menahan diri untuk mengeluarkan suara terkesiap.
Pada akhirnya,
setelah mengalahkan semua musuh dan melindungi seorang anak kecil, sang tokoh utama pergi tanpa mengungkapkan
identitasnya. Punggungnya terlihat sangat keren.
Dan, jajaran nama aktor dan kru pembuat film ditampilkan.
Aku
kembali ke kenyataan di sana. Dihantam oleh rasa kesepian yang khas setelah
menonton karya yang bagus.
Aku
terlalu terbawa suasana. Ketika melihat jam,
sudah hampir lima menit sebelum waktu keluar.
“Enami-san.”
Namun,
tidak ada jawaban. Dia tidak bergerak sedikit pun terhadap kata-kataku.
“……Eh?
Enami-san?”
Ketika
aku melihat lebih dekat, dia sedang memeluk lututnya dengan mata tertutup.
──Jangan-jangan dia sedang tidur?
Samar-samar
aku bisa mendengar napasnya yang lembut. Waktu sudah
menunjukkan sebelum tengah malam.
Aku ragu
apakah harus membangunkannya atau tidak, ketika tiba-tiba ada beban di
bahuku.
Earphone
yang terpasang di telinga Enami-san terjatuh dan mengeluarkan suara kecil.
“……”
Seluruh
tubuhku menjadi kaku. Aku bisa mencium aroma wangi
yang menyebar. Pikiranku
terhenti. Berbagai perasaan dan pikiran di dalam diriku menghilang.
“……Hmm.”
Kepala Enami-san
mulai bersandar di bahuku. Rambutnya terlihat begitu dekat. Aku bisa merasakan
suhu tubuhnya.
Mungkin
karena filmnya sudah selesai. Rasanya sekeliling menjadi sunyi. Yang terdengar
hanyalah suara napas Enami-san yang teratur dan suaraku
menelan air liur.
Kurasa
seharusnya aku bisa membangunkannya dengan normal. Namun,
aku tidak merasa ingin menggoyang bahunya atau memanggilnya, karena aku
berpikir apa aku boleh membangunkan Enami-san yang terlihat begitu nyaman tertidur.
“……Suu.”
Atau, aku
bisa miring ke sisi yang berlawanan atau berdiri dengan paksa. Jika dia
terbangun, itu tidak bisa dihindari.
“……”
Akan tetapi,
aku bahkan tidak
punya niat untuk melakukan hal itu.
Punya wajah cantik memang sangat curang. Hanya dengan
tidur nyenyak, hanya dengan bersandar padaku, dia sudah cukup membuatku grogi dan salah tingkah.
Aku kembali
mulai berpikir ketika melihat wajah tidur Enami-san.
Enami-san
adalah orang yang benar-benar aneh.
Aku
selalu menganggapnya orang yang dingin.
Entah
orang lain mempunyai niat baik atau niat buruk, dia selalu bersikap menjauh.
Ada tembok tak kasat mata yang
mengelilinginya, dan jika ada yang mencoba menyentuhnya
sedikit saja, dia akan memantulkan diri dengan kekuatan yang kuat. Setiap kali
ada orang yang mencoba berbicara dengannya, dia akan menunjukkan wajah tidak
senang, dan setiap kali ditegur, dia akan menunjukkan sikap kesal, hingga tidak
ada yang mau mendekatinya.
Namun,
sejak hari ketika aku memberi ceramah padanya.
Tiba-tiba
Enami-san mulai menunjukkan padaku sisi
yang tidak dia tunjukkan kepada orang lain.
Wajahnya
yang tersenyum. Suaranya yang
menggoda. Dan, wajah tidur yang tampak aman seperti sekarang.
Apa yang
aku lakukan hanyalah pelampiasan emosional. Karena aku merasa seperti melihat
diriku yang dulu, aku hanya merasa marah.
Para guru bahkan lebih memikirkan Enami-san daripada aku.
Namun,
meskipun begitu, sepertinya kata-kataku lah
yang mengubah Enami-san.
Mungkin, Enami-san
memiliki keadaannya
sendiri. Kata-kataku secara kebetulan menyentuh
hatinya dengan cara yang berarti.
Mengapa
dia tidak pulang dan memilih untuk menginap di warnet?
Pertanyaan semacam itu
muncul, tetapi Enami-san pasti tidak
akan memberitahuku. Enami-san jarang menceritakan tentang dirinya. Dia membuatku bingung dengan
perilaku dan sikap yang sulit dipahami.
Meskipun aku biasanya
tidur di sekitaran waktu sekarang, aku tidak merasa mengantuk sama sekali.
Selain karena kegembiraan film, aku lebih merasa tegang dengan situasi di mana
aku dekat dengan Enami-san.
Namun,
aku tidak bisa terus seperti ini. Aku sudah menyelinap
keluar dari rumah, jadi mungkin aku akan membuat orang rumah khawatir.
Aku
dengan hati-hati mengetuk bahu Enami-san.
“Mm……”
Enami-san
mengeluarkan suara kecil, tetapi dia kembali tertidur.
Hingga
minggu lalu, Enami-san sering tidur di kelas. Mungkin dia memang kurang tidur
pada dasarnya.
“Enami-san,
tolong bangun……”
Sambil
berusaha tidak mengganggu orang lain, aku menepuknya
sekali lagi, dan akhirnya Enami-san membuka matanya. Dia berkedip-kedip.
Kemudian, dia melihat ke arahku.
Tatapan mata kami saling bertemu. Sepertinya dia segera
memahami situasinya. Tanpa mengubah ekspresi, Enami-san perlahan menjauhkan
tubuhnya.
“……Mm,
aku bisa tidur nyenyak.”
Aku hanya
menyampaikan bahwa aku akan pulang, berusaha agar tidak terlihat gugup. Enami-san
tidak menahanku.
◇◇◇◇
Setelah
keluar dari warnet, aku berjalan
menyusuri jalan di malam hari dengan kepala tertunduk.
Sudah
lama sejak aku keluar pada waktu seperti ini. Daerah ini dipenuhi dengan dengan pusat permainan,
karaoke, dan pachinko, menjadikannya sebagai
area hiburan terpopuler.
Karena
tempatnya yang seperti itu, tidak mengherankan ada beberapa preman dan berandalan.
Aku
merasa senang bisa mengantar Enami-san sampai ke dalam
warnet. Mungkin karena sifatnya, dia tidak akan
menghadapi masalah, tetapi sebaiknya dia tidak berkeliaran sendirian.
Aku
berhenti di depan pusat permainan.
Kenangan
masa lalu melintas di benakku.
Kenangan
saat aku masih bodoh.
Saat aku
masih menjadi anak berandalan, aku
sering bermain di sini. Meskipun larut malam, aku tidak ragu untuk keluyuran dengan santai.
Itu
adalah kenangan yang ingin kulupakan.
Setelah
beberapa langkah, beberapa pria keluar dari pusat permainan. Aku tidak bisa
menahan diri untuk menoleh mendengar suara mereka.
Di sana
ada sekelompok orang yang tampaknya seumuran denganku. Semua mengenakan pakaian
biasa, tetapi mungkin mereka adalah siswa SMA. Aku menyadari hal itu karena
salah satu dari mereka menarik perhatianku.
Ada satu
pria tinggi kurus. Warna rambutnya merah
mencolok. Raut wajahnya terlihat
bosan, mengamati teman-temannya yang ribut.
Dirinya tidak terlihat senang, tapi juga tidak terlihat sedang marah. Ia sepertinya tidak tertarik
dengan isi pembicaraan, dan menjadi satu-satunya yang tetap diam.
Mungkin
karena itu, tatapan kami secara tidak sengaja bertemu.
“……!”
Sial. Aku
langsung berpikir bahwa nasibku hari ini sangat apes
dan buru-buru mengalihkan pandangan.
Mereka
perlahan berjalan ke arahku. Suara mereka mulai terdengar jelas.
“Kamu payah
banget melakukan kesalahan di situ.”
“Cerewet.
Hanya karena kebetulan menang, jangan sok hebat
begitu.”
“Dia
sangat marah, lucu banget.”
Meskipun
sudah larut malam, mereka berbicara dengan suara
lantang. Jadi, isi percakapan terdengar jelas.
Aku
merasa harus segera pergi, tetapi tubuhku tidak bisa bergerak.
“Menjengkelkan banget. Hah, aku benar-benar ingin
memukul manajer itu.”
“Setuju.
Ia mengusir kita dengan paksa!”
Pusat
permainan itu tutup pada pukul 12 malam. Jadi, mereka pasti dipaksa keluar. Dari sedikit waktu
yang telah berlalu setelah tengah malam, tampaknya ada sedikit keributan.
“Ngomong-ngomong,
manajer itu benar-benar menjijikkan ya.
Badannya sangat gemuk.”
“Ia juga
berkeringat deras. Ia pasti ketakutan dengan
kita. Jika begitu, tidak perlu melakukan hal seperti
itu sejak awal.”
“Suaranya
juga bergetar. Seharusnya aku memukulnya saja tadi.”
Setelah
jeda sejenak, salah satu pria berkata.
“Nah,
Zaki.”
Pada saat
itu, bahuku sedikit bergetar. Pria jangkung yang
bernama Zaki membuka mulutnya dengan tenang.
“Terserah kalian.”
Suara
rendahnya membuat suasana di tempat itu berubah drastis. Mereka yang sebelumnya
mengeluh langsung terdiam.
Pria lain
mengangkat suaranya.
“Benar!
Itu tidak penting! Lebih baik kita──”
Tiba-tiba,
topik pembicaraannya berubah. Meskipun begitu, pria yang disebut Zaki tetap
memasukkan tangannya ke saku dan tidak ikut dalam percakapan.
Gerombolan
itu berjalan melewatiku dan melangkah di depanku.
Aku tidak
bisa mengangkat wajahku. Tenggorokanku kering. Hembusan
angin terasa sangat dingin.
Aku
berdoa dalam hati agar mereka segera pergi.
Semoga
mereka tidak memperhatikanku dan cepat pergi.
Walau aku
berharap demikian, pria yang
bernama Zaki itu
tiba-tiba berhenti. Yang lainnya menyadari dan memanggilnya setelah berjalan
sedikit lebih jauh.
“Zaki,
ada apa?”
“Tidak……”
Aku bisa
melihat punggungnya beberapa
meter di depanku. Ia menunjukkan sikap seolah sedang
berpikir, lalu melirik ke arahku. Namun, aku tidak menatapnya.
“……”
Berjalan
melewati depan pusat permainan merupakan keputusan
yang buruk. Waktunya juga tidak tepat. Apesnya lagi
mereka keluar saat aku berjalan melewati ini.
Kini, aku
hanya bisa berdoa agar dia tidak mendekat.
“Zaki?”
Ia menggelengkan
kepalanya saat mendengar pertanyaan yang diulang.
“Tidak,
bukan apa-apa.”
Kemudian,
ia mulai berjalan lagi.
Langkah
kaki mereka semakin menjauh. Lambat laub, punggungnya semakin kecil dan menghilang
dalam kegelapan malam.
Aku akhirnya
merasa lega.
Ia
pasti menyadari keberadaanku. Itulah sebabnya ia melirik ke arahku.
Sudah
lama aku tidak melihatnya, pikirku.
Akhir-akhir
ini aku tidak pernah keluar larut malam. Bahkan jika aku keluar, aku berusaha
untuk tidak mendekati area stasiun.
Itulah
sebabnya, aku terkejut ketika tiba-tiba bertemu
wajahnya.
Rupanya
tidak ada yang berubah. Baik dari penampilannya maupun perilakunya,
semuanya sama seperti dulu.
Aku meyakini
kalau tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan.
Itu adalah
keputusan yang diambil jauh sebelumnya. Sejak hari ketika aku memutuskan untuk
mengubur masa lalu di dalam hatiku dan terlahir
kembali.
Aku
memasukkan tangan ke dalam saku mantelku. Aku menelan
ludahku dan ludah
tersebut mengalir ke tenggorokanku yang kering.
Lebih baik
memang begini. Kami
tidak akan saling mengganggu lagi.
Aku mulai
berjalan kembali menuju rumah.




