Chapter 8 — Kawan Baru
“Maaf,
hari ini aku harus pergi ke suatu tempat dengan
Haru.”
Tsukino mengumumkan itu kepada anggota kelompok utama. Begitu aku mendengar perkataannya, aku
hampir saja memegang kepalaku.
“Dengan Momoki... ? Eh, hanya kalian berdua saja?” tanya Yamanaka.
Suaranya
terdengar seolah-olah sedang bercanda, tapi ia tidak
bisa menyembunyikan kegelisahannya. Suasana aneh menyebar di
dalam kelas. Kelompok utama, yang merupakan kelompok paling menonjol di kelas,
tampaknya sedang berada di ambang kehancuran.
Tentu saja, Tsukino tidak berniat seperti itu...
──── Ini
sedikit... tidak bagus.
Sebelumnya,
keraguan tentang dua anggota yang terpisah ini sepertinya telah berubah menjadi
keyakinan di sini.
Meskipun
anggota kelompok utama berusaha untuk tidak
menunjukkan kegugupan mereka
karena ada orang lain, tapi mereka jelas-jelas terlihat merasa
cemas dan terburu-buru.
“Ya.
Jadi, hari ini aku tidak bisa ikutan.”
“...Oi,
Yukikawa?”
Di situ,
Kijima membuka mulutnya untuk pertama kalinya.
Suara Kijima terdengar sangat tenang dibandingkan dengan anggota lainnya. Ia adalah satu-satunya yang
memiliki kekuatan berbicara yang sebanding dengan Tsukino dan Haru di dalam kelompok utama. Kata-katanya bisa
mengubah situasi ini dengan signifikan.
“Kamu tuh bisa
berbahasa Inggris dengan lancar, ‘kan?”
“....
maaf, kamu lagi ngomong apaan sih?”
Aku
hampir terjatuh. Itu adalah pernyataan yang sama sekali tidak relevan
seolah-olah baru saja bergabung dalam percakapan.
“Tidak,
aku sebenarnya ingin bertanya nanti, tapi jika kamu
pulang, aku harus menanyakannya sekarang.”
“Ak-Aku tidak begitu mengerti, tapi...
setidaknya, aku memang bisa
berbicara bahasa Inggris.”
“Hmm...
ternyata anak yang pulang dari luar negeri bisa berbicara bahasa Inggris, ya.”
Karena
perilakunya yang terlalu santai, suasana di kelas beralih dari canggung menjadi
semakin kacau. Apa sebenarnya yang ingin dilakukan orang ini?
“....Y-Yah!
Hari ini kebetulan aku hanya berjanji dengan Tsukino, jadi jangan khawatir, ya!
Aku akan mencari waktu lain!”
Dengan
memanfaatkan suasana aneh, Haru berusaha menenangkan situasi. Mereka masih
tampak tidak puas, tetapi dalam posisi yang lemah, mereka tidak bisa membalas.
Jika
mereka bersikap terlalu percaya diri di sini, mereka pasti akan kehilangan
posisi di dalam kelompok utama.
Meski begitu, jika dibiarkan seperti ini, eksistensi kelompok utama itu sendiri bisa hilang.
Kecemasan
mereka terasa sangat nyata. Sampai kapan ini akan terus berlanjut? Jujur saja,
mereka tidak lagi berada dalam posisi yang bisa membuat orang lain iri. Hanya
ada orang-orang yang menjaga jarak karena merasakan kehancuran tim utama.
“...Tsukino,
tolong temani aku buat memperbaiki riasan sedikit.”
“Eh?
Ah, baiklah.”
Waktu
istirahat sudah hampir berakhir. Pada saat-saat terakhir seperti ini, kedua
orang itu keluar dari kelas. Memperbaiki riasan mungkin hanya alasan untuk
meninggalkan tempat ini.
“Cih...
apa-apaan sih ini?”
Di kelas
yang kini kosong setelah kedua orang itu pergi, terdengar seseorang mendecak lidah
dan mengumpat. Suara siapa itu? Karena suaranya terlalu kecil, aku tidak bisa mengetahuinya. Aku segera memasukkan earphone
ke telingaku. Rasanya seolah makian seseorang ditujukan padaku.
◇◆◇
Sepulang sekolah, aku menuju Ikebukuro sendirian.
Jika
mereka melihat kami bertiga bergerak bersama, itu akan menjadi masalah yang
cukup besar. Setidaknya, hari ini aku harus berhati-hati.
────
Rasanya sudah lama sekali.
Aku
merasa aneh berada sendirian seperti ini. Dalam beberapa waktu terakhir,
Tsukino selalu berada di
dekatku. Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku bahwa itu sudah menjadi
hal yang biasa.
“────
Hei, Nagai.”
“Eh?”
Begitu
aku naik kereta, suara itu memanggilku, dan aku mengangkat wajahku. Di sana ada
Kijima. Ia menggenggam pegangan kereta
sambil bersandar, menatapku.
“Aku
ingin menanyakan sesuatu padamu, jadi aku mengejarmu.”
“Me-Mengejarku...?”
Tatapan
garang Kijima membuatku merasa seperti menghadapi binatang buas. Dari luar,
pasti terlihat seolah-olah kami sedang berkelahi. Nyatanya, orang-orang di
sekitar kami memperhatikan situasi kami.
──── Apa
yang ingin ia tanyakan
sampai-sampai mengejarku...?
Apa
maksudnya, ini?
Keringat
dingin mulai mengalir di belakang punggungku.
Apa ia
menyadari hubunganku dengan Tsukino? Apa dia datang untuk menegurku...? Tidak,
tidak mungkin ada orang yang melakukan hal seperti itu saat ini.
Sambil
berharap itu tidak benar, aku mendorongnya untuk melanjutkan pembicaraan.
“Apa
yang ingin kau tanyakan...?”
“Ah,
begini. Apa kamu pacaran dengan Yukikawa?”
“......
Hah?”
“Kalian berdua terlihat akrab, kan? Ada yang memergoki kalian dan
membicarakannya.”
Pertanyaan
yang tiba-tiba ini membuatku mengerutkan dahi. Apa kami pacaran atau tidak, itu
sudah jelas. Sebelum itu, siapa orang yang berbicara tentang kami?
“Yamanaka
dan Watanabe bilang mereka melihatmu
dan Yukikawa berjalan bersama.”
“......”
“Sepertinya
tidak ada yang mempercayainya, tapi aku masih penasaran.”
Sepertinya,
tidak ada yang menyadari hubunganku. Mungkin karena aku tidak terlalu menonjol?
Apapun itu, aku merasa lega.
──── Apa
yang harus dilakukan...? Haruskah aku mengelak?
Sekarang,
aku masih bisa memberi alasan. Bahkan, jika ada kesempatan untuk meyakinkan, sekaranglah waktunya.
“......
Tidak mungkin. Memangnya kamu pikir
aku dan Yukikawa kelihatan akrab?”
"Ya,
itu bukan hal yang mustahil, kan?”
“Benar,
itu tidak mungkin... eh?”
“Kalian
kan teman sekelas, pasti ada banyak
kesempatan untuk dekat.”
Pernyataan
Kijima yang santai membuatku merasa aneh.
“Hei,
Kijima. Misalkan aku pacaran dengan Yukikawa, apa pendapatmu?”
“Aku
akan berpikir, 'Enaknya
sekali ya jadi normies.'”
“......?”
“Hah?
Apa aku mengucapkan sesuatu yang aneh?”
Mari kita
lanjutkan pertanyaannya sedikit lebih jauh.
“Kalau
begitu, kenapa kau datang bertanya apakah rumor itu
benar?”
“Jika
kalian beneran pacaran, aku ingin melakukan
wawancara.”
“......
Wawancara?”
“Sekarang,
aku sedang melakukan penelitian tentang pasangan.”
────
Penelitian?
Aku tidak
menyangka akan mendengar kata-kata seperti itu, dan aku tidak bisa mempercayai
telingaku. Kamu sedang
meneliti tentang pasangan? Sebenarnya untuk
apa?
“Ja-Jangan-jangan, itu hanya lelucon.
Kau sedang menggodaku, ‘kan?”
“Tentu
saja tidak. Aku ingin menjadi seorang komikus.
Aku ingin menggambar manga shounen. Jadi, untuk menggambar manga shounen, aku
perlu mempelajari komedi romantis, ‘kan?
Makanya, aku harus belajar────”
“Jangan
membicarakan informasi yang sangat
mengejutkan seolah-olah itu sudah diketahui!”
Dalam keadaan
panik, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar pada Kijima.
Meskipun dia bukan orang yang dekat denganku, Kijima hanya melotot dan tampak
bingung.
“……
Sudah kubilang, aku ingin menjadi
komikus.”
“Aku
tidak tidak mengerti maksudmu! Ini terlalu mendadak! Kenapa kamu membicarakan hal ini padaku!?
Apa yang lain sudah tahu?”
“Tidak,
ini pertama kalinya aku membicarakannya. Jika aku tidak berbicara, kamu tidak bisa membantuku dalam wawancara ini, ‘kan?”
“Itu
berat! Kenapa aku yang harus mendengar cerita ini terlebih dahulu!?”
Aku tidak
sengaja mengeluarkan suara yang cukup keras, dan aku segera menutup mulutku. Di
sini adalah tempat umum. Aku harus memperhatikan volume suaraku.
“……
Jadi, kamu
ingin menjadi komikus?”
“Ya.”
“Kamu
serius?”
“Tentu
saja.”
“Bagaimana
dengan tinju? Bukannya kamu serius melakukannya?”
“Tinju
hanya untuk melepaskan stres. Asal kamu tahu saja, memukul itu menyenangkan, terutama
dengan kantong pasir.”
Sambil
mengatakan itu, Kijima berpura-pura melakukan jab. Meskipun itu hanya
pura-pura, kenapa ada suara angin yang terdengar?
“……
Kamu suka manga?”
“Tentu
saja. Jangan meremehkan jumlah bacaanku.”
“……
Bagaimana dengan 'Marihare'?”
“Aku
menangis setiap kali membacanya.”
“Oh……”
Orang ini
asli. Ia
adalah otaku sejati. Apa-apaan ini, kebetulan yang aneh. Kenapa semua anggota kelompok utama adalah otaku?
Ini tidak
mungkin. Rasanya terlalu
kebetulan.
“Hei,
tolonglah. Aku belum pernah berpacaran
dengan perempuan, jadi izinkan aku untuk wawancara.”
“Jadi,
meskipun kamu bilang
wawancara……”
Di situ,
aku terdiam dan berpikir dengan baik. Sampai
di sini, sepertinya lebih baik jika aku membicarakan hubungan kami secara
detail.
Aku belum
mengenal Kijima dengan baik, tetapi aku sudah mengerti bahwa dia adalah orang
yang tidak terduga. Daripada membicarakan hal-hal yang tidak perlu di luar,
lebih baik mengajaknya
bergabung dan memintanya untuk
menjaga rahasia.
“……
Baiklah, kalau begitu, aku akan membicarakan hubungan kami.”
“Serius?
Terima kasih, Nagai.”
Aku kemudian
kembali menceritakan kejadian di
karaoke itu dan mulai menceritakan hubunganku dengan Tsukino. Hobi otaku yang membuat kami menjadi dekat, kami sering bermain
bersama. Dan baru-baru ini, Haru bergabung dengan kami.
“Hou, hou,
hou... menarik! Inspirasi mulai bermunculan. Rasanya
berbeda dari yang aku bayangkan, tapi ini juga menarik...”
Sambil
berkata demikian, Kijima mengeluarkan buku sketsanya dari tas. Ia kemudian mulai menggambar
dengan cepat menggunakan pensil mekanik.
Aku
terkejut dengan perilakunya yang begitu
mendadak, tetapi aku juga terkejut melihat tubuh Kijima
yang tidak goyah sama sekali di dalam kereta yang bergetar. Ia menggunakan kedua tangannya,
jadi dia tidak bisa berpegangan pada pegangan kereta. Meski begitu, Kijima
berdiri tegak seolah-olah di permukaan datar.
Mungkin
ia memiliki kekuatan inti yang kuat... Jika orang-orang yang berharap banyak
padanya dalam tinju tahu bahwa Kijima ingin menjadi komikus, bagaimana reaksi
mereka ya...?
“Baiklah...
Nagai, coba baca ini.”
“Ah,
iya...”
Aku
tiba-tiba diberikan buku sketsa dan tanpa ragu aku mulai membacanya.
──── Wow,
gambarnya lumayan bagus.
Di buku
sketsa itu, ada yang disebut draft.
Hanya saja... bukannya draft itu maksudnya sketsa
kasar, ‘kan? Di buku sketsa Kijima, sudah
ada gambar dengan tingkat penyelesaian yang tinggi. Banyak karya yang pernah
aku baca sebelumnya memiliki gambar yang jauh lebih kasar daripada ini.
“Bagus
sekali, sejak kapan kamu mulai
menggambar...?”
“Sejak
aku masih di sekolah SD. Setelah
sekolah dan latihan di gym, aku menggambar sampai tidur.”
“Serius...?”
Tentu
saja ia jadi pintar menggambar. Tak kusangka, Kijima yang terkenal itu ada di
sisi ini...
────
Tidak, menyebutnya sisi ini mungkin tidak sopan.
Aku tidak
boleh menyamakannya dengan diriku.
Baik Haru
maupun Kijima terfokus pada sesuatu dan
melangkah lurus ke depan Tsukino
juga berusaha menjadi orang seperti itu ke depannya. Jika begini terus, aku pasti akan
ditinggalkan.
“…
Ada apa? Nagai.”
“Ah,
tidak... bukan apa-apa.”
Aduh, hampir
saja aku melamun. Aku dengan
cepat memperbaiki kesalahanku dan kembali menatap buku sketsa itu.
“Gambarmu
bagus, tapi... bukannya cerita ini kurang
cocok dengan gaya gambarmu?”
Di situ,
ada draft yang hanya satu halaman
pengantar. Cerita dimulai dengan seorang remaja laki-laki yang merupakan
protagonis, yang harus menjadi guru privat untuk teman sekelasnya yang merupakan
gadis populer, sebuah awal yang klasik.
Menurutku
ceritanya tidak buruk, tetapi sayangnya gaya gambarnya
tidak terlihat seperti komedi romantis. Ini lebih cocok untuk genre fantasi berat atau manga
pertarungan yang intens.
“Haha,
aku sudah tahu kamu akan
berkata begitu. Sebenarnya, di depan ada perkembangan pertarungan.”
“Perkembangan
pertarungan?”
“Gadis
ini, sebenarnya adalah seorang gadis
penyihir. okoh utamanya terjebak dalam konflik
antara gadis penyihir dan iblis yang muncul dari kedalaman bumi!!
Itulah cerita dari karya ini!”
“Bukannya wawancara itu sama sekali tidak
berarti...!”
Episodaku
dengan Tsukino yang sudah disiapkan sama sekali tidak dimanfaatkan. Dengan
begini, tidak ada gunanya berbicara.
“Ketika
menyelesaikannya, aku berencana untuk
membawanya ke penerbit. Apa kamu
ingin mendapat tanda tanganku
sekarang?”
“…
Baiklah, aku akan menerimanya.”
Tak peduli
bagaimana ceritanya, fakta bahwa ia menggambar dengan baik
adalah kenyataan. Jika karyanya diterima penerbiy,
ia mungkin akan segera debut.
“Ini,
jaga baik-baik, ya.”
Kijima
menandatangani sepotong kertas dari buku sketsanya dan memberikannya padaku.
──── Nama
asli...
Jangan-jangan,
ia benar-benar berniat untuk debut seperti ini?
Jika iya,
aku ingin menghentikannya dengan sekuat tenaga.
“Nagai,
setelah ini kamu mau
kemana?”
“Hm?
Ah, iya.... aku berencana untuk bertemu
Tsukino dan Haru di Ikebukuro...”
“Hei,
apa aku juga boleh ikut?"
“Eh?”
“Aku
juga ingin mewawancarai mereka. Jika mereka otaku, mungkin mereka akan mau
membantu, kan?”
Tatapan
Kijima terlalu murni. Ia
benar-benar seorang otaku. Tidak ada kata lain untuk menggambarkannya.
“…
Aku sih tidak keberatan, tapi boleh aku mengonfirmasi
dulu dengan mereka?”
“Tentu
saja.”
Aku
menyampaikan tentang Kijima di grup chat yang baru aku buat. Keduanya tampak
bingung, tetapi setidaknya mereka membalas dengan oke.
Tentu saja
mereka bingung. Aku juga masih merasa ini tidak nyata sama sekali.
“…
Mereka bilang oke. Jadi, kamu
mau langsung ikut denganku?”
“Ah,
aku berhutang budi padamu.”
“Kedengarannya seperti kalimat yang muncul di dalam manga...”
Mata
Kijima bersinar cerah. Ia sangat
berbeda dari saat mendapat perlakuan seperti singa jantan di kelas.
──── Yah,
sebenarnya sekarang lebih menyenangkan...
Sambil
bergoyang di dalam kereta, aku tersenyum kecut.
◇◆◇
“Jadi ini
yang namanya Animate, ya.”
Kijima
bergumam seperti itu saat kami keluar dari stasiun dan
menuju tempat pertemuan.
Melihatnya langsung menyebut Animait saat
berjalan ke arah ini, aku semakin yakin bahwa ia adalah otaku sejati.
“Yah,
tujuan kita bukan Animte. Aku
akan membeli kain di toko kerajinan.”
“Kain?
Kain itu digunakan buat apa?”
“Nanti
juga kamu bisa tahu sendiri.”
Ketika
kami tiba di tempat pertemuan, aku bisa melihat
Tsukino dan Haru dari kejauhan.
Saat aku
melambaikan tangan kepada mereka yang sedang memainkan ponsel, keduanya
mengangkat kepala dan menyadari keberadaan kami.
“Wah,
Kijima beneran ada di sini. Yahoo~!”
“Oh,
kalian juga otaku ya?”
“Memangnya
itu biasanya dikatakan langsung
saat bertemu seseorang?”
Haru
tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Kijima.
Di sini
ada satu kesalahan perhitungan. Ketika
mereka berkumpul, keberadaanku
merasa semakin kecil. Sebab, semua orang di sini terlalu menarik.
Tsukino
yang bisa dibilang adalah kecantikan sempurna.
Haru yang
imut dan bisa akrab dengan siapa saja.
Dan
Kijima yang memiliki tubuh maskulin dan wajah tampan.
Tiga
orang yang namanya terkenal di sekolah dan aku, yang dengan kompromi maksimal,
bisa dibilang memiliki penampilan yang biasa saja. Aku paling memahami bahwa
keberadaanku di sini terasa tidak seimbang.
“…
Kentaro, ayo pergi?”
“Eh?”
Ketika
aku tersadar, Tsukino sudah menarik
tanganku. Haru dan
Kijima menatapku dengan tatapan bingung. Sepertinya aku terlalu memikirkan
sesuatu dan melamun. Ini adalah kebiasaan burukku.
“Ah,
iya... aku mengerti.”
“?Dasar Kentaro aneh.”
Tsukino
tertawa.
Mengapa
Tsukino mau bersamaku yang seperti ini?
Apa aku
akan memiliki keberanian untuk menanyakannya suatu saat nanti?
Pikiranku
dipenuhi dengan hal-hal yang tidak ada gunanya.
◇◆◇
“Hee~?!
Cosplay ya?!”
Saat aku
menjelaskan alasan kami datang ke toko kerajinan, Kijima bersuara kagum.
“Suaramu
keras sekali…!”
“Ah,
maaf. Apa itu rahasia?”
“…
Yah, begitulah.”
Tsukino
menatap Kijima dengan tatapan tajam. Dengan
suara sebesar itu, apalagi di dalam toko kerajinan, wajar saja jika dia ingin memelototi Kijima.
“Aku,
sebagai senior cosplayer, sedang membimbing Tsukino dan Nagai.”
“Eh?
Nagai, apa kamu juga mau bercosplay?”
Menanggapi
pertanyaan itu, aku menggeleng.
“Tidak,
aku hanya membantu…”
“Begitu
ya?”
Ketika
dipikir-pikir, apa sebenarnya posisiku?
────
Sponsor?
Hmm,
sepertinya kurang
tepat.
“Ah,
ini bahan yang kita cari, kan?”
Sambil
berbicara, sepertinya Haru telah menemukan bahan yang dicari. Tsukino mengangguk mendengar
kata-kata Haru dan meraih bahan yang diperlukan. Namun, di tengah jalan, dia
tiba-tiba berhenti.
“…
Jika kita tahu ukuran yang dibeli, bukannya itu
berartku ukuran tubuhku
juga akan ketahuan?"
Tsukino
melihatku dengan ekspresi malu-malu di wajahnya.
Entahlah,
bagaimana ya?
Sepertinya
tidak ada orang yang bisa mengetahui bentuk tubuh seseorang hanya dari ukuran
kain…
“Yah,
kalau aku sih bisa tahu.”
Jangan mengatakan sesuatu yang
tidak perlu, Haru.
Segala
sesuatunya menjadi
rumit.
“Seperti
yang kuduga… maaf. Aku akan membeli kain
dengan Haru, jadi Kentaro dan Kijima tunggu di luar.”
“Ba-Baiklah…”
Tiba-tiba
alasan datang ke sini hilang.
Tapi,
masih ada peran sebagai pembawa barang sih.
“…
Ayo kita tunggu di luar, Kijima.”
“Yah.
Aku tidak terlalu mengerti, tapi…”
──── Rupanya cukup bego juga, ya.
Aku
selalu berpikir ia adalah orang yang tidak bisa dipahami, tetapi mungkin
sebenarnya da tidak memikirkan apa-apa. Entahlah, aku merasakan aura tampan
yang menyedihkan.
Aku memutuskan
untuk duduk di bangku yang sembarangan dan menunggu Tsukino menyelesaikan
belanjaannya. Karena tidak ada orang lain, Kijima entah kenapa sedang melakukan
shadow boxing.
“Nah,
Nagai.”
“Eh?”
Ketika ia
tiba-tiba berbicara padaku, aku mengangkat kepala.
“Kamu menyukai Yukikawa, ‘kan?”
“……
Hah!?”
Tanpa
sadar, aku berdiri dari bangku.
Demi
mencari tahu maksud pertanyaannya, aku mendekati Kijima.
“Tiba-tiba
kamu ngomong apa sih…!”
“Aku
tidak akan merasa puas kecuali aku menanyakan sesuatu yang membuatku
penasaran saat itu juga. Siapa tahu bisa jadi referensi untuk mangaku.”
Ia
benar-benar tipikal orang kreator. Ia suka menggunakan apa
saja sebagai bahan ceritanya.
“Jadi,
kamu menyukainya?”
“……
Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab.”
“Ah,
maukah aku memberitahumu tentang heroine favorit seumur hidupku? Kalau untuk bertukar informasi, pasti oke, kan?”
“Tentu
saja tidak!? Realita dan dunia dua dimensi itu sangat berbeda!”
“Jangan
meremehkanku. Aku
sudah memutuskan, suatu hari nanti, aku akan menikah dengan seorang gadis
cantik dari dunia dua dimensi.”
“Aku
hanya menghargai semangatmu itu…!”
Berbicara
dengannya membuatku merasa kehabisan napas karena terlalu banyak menyanggah ocehannya. Ia benar-benar pandai mengganggu
ritme orang lain.
Ngomong-ngomong,
aku sama sekali tidak memujinya.
“Haah…
sejujurnya, aku tidak tahu.”
“……?”
Aku duduk
kembali di bangku.
Bohong
rasanya jika aku bilang tidak melihat Tsukino sebagai objek
cinta. Waktu
yang dihabiskan bersamanya sangat menyenangkan.
Rasanya
terlalu berharga, seperti waktu terbaik yang bisa kudapatkan. Karena itulah, aku merasa sangat berlebihan
jika aku menginginkan lebih dari itu.
Saat ini
saja, aku sudah cukup bahagia.
“Pada awalnya,
aku memang tidak pandai bersosialisasi. Aku sama sekali tidak tahu cara
mendekatkan jarak lebih jauh. Jika ada yang salah dan hubungan ini hancur…
lebih baik kalau hubungan kami terus begini
saja. Aku tidak ingin menyia-nyiakan itu. Waktu yang dihabiskan bersama dan kenangan
yang ada.”
Menyesali
sesuatu berarti tindakan itu sia-sia. Aku tidak ingin Tsukino menyesali waktu
yang dihabiskan bersamaku. Dan
aku juga tidak ingin berpikir bahwa itu sia-sia.
“Hmm,
menarik juga cara berpikirmu.”
“Eh…
menarik?”
Entah dia
tahu atau tidak tentang konflikku, Kijima berkata demikian.
“Apa kamu
tahu, Nagai? Kehidupan kita itu ternyata
cukup panjang.”
“……”
“Oh,
ternyata kamu tidak
tahu.”
“Tidak,
aku tahu. Ini adalah tatapan 'memangnya kenapa?'.”
Aku
menatap Kijima dengan tatapan tajam. Namun,
Kijima tidak memperdulikan tatapan itu dan melanjutkan kata-katanya.
“Apa
yang paling dibutuhkan dalam hidup?”
“……
Uang, mungkin?”
“Tidak,
itu salah. Jawabannya adalah… 'mengisi
waktu luang'.”
“……
Hah?”
Aku
terkejut dengan jawaban yang sangat tidak terduga.
“Hal
yang paling dibutuhkan dalam hidup adalah sesuatu yang bisa mengisi waktu
luang. Pekerjaan, hobi, cinta, persahabatan! Semuanya luar biasa. Tapi, apa
hal-hal itu benar-benar diperlukan untuk menjaga jantung kita tetap berdetak?”
“……
Tidak, itu tidak perlu.”
Tentu
saja, secara tidak langsung itu diperlukan.
Tanpa 'pekerjaan',
kita tidak bisa makan.
Tanpa 'hobi',
kita akan merasa stres.
Tanpa 'cinta',
kita tidak bisa saling mendukung.
Tanpa 'persahabatan',
kita tidak bisa bergantung pada orang lain.
“Itulah
sebabnya aku berpikir. Apa yang kita butuhkan dalam hidup
adalah terlibat dalam sesuatu yang bisa mengisi waktu luang. Daripada merasakan
kebosanan sampai mati, meskipun itu terlihat sia-sia dari luar, aku ingin
terlibat dalam sesuatu. Bagiku, itu sama sekali bukan hal yang sia-sia.”
“……”
“Jika
kamu memang menyukai Yukikawa, jangan berpikir kalau itu sia-sia, langsung saja
terjun. Maksudku, ungkapkanlah langsung padanya.
Apa pun hasilnya, itu akan jadi bahan untuk mangaku. Jadi itu tidak akan sia-sia.”
“Haha…
apa untungnya bagimu…”
“Apa
salahnya dengan itu? Ayo bergabung denganku untuk menghabiskan
waktu.”
Sambil
berkata demikian, Kijima tersenyum lebar. Ia
benar-benar egois sampai membuatku merasa nyaman.
Namun,
berkat perkataannya, aku merasa sedikit lebih
lega. Mencari jawabannya mungkin
masih akan memakan waktu. Tapi, aku sudah berhenti menyerah dengan berpikir
bahwa itu sia-sia sebelum mencobanya.
Justru
sikap menyerah itulah yang sia-sia dalam hidup.
“……
Ngomong-ngomong, bagaimana denganmu, Kijima?”
Setelah
menyelesaikan pembicaraan di dalam pikiranku, aku bertanya kepada Kijima.
Ia
yang bertanya pada orang lain, pasti siap untuk ditanya juga.
“Ada gadis yang kusukai juga, kok? Tapi dia dari dunia dua dimensi sih.”
“Aku
bisa membayangkan tangisan penggemarmu jika mendengar ini.”
Aku tidak
tahu siapa pun yang lebih populer di kalangan anak laki-laki kelas satu daripada Kijima. Kabarnya, keberadaannya
sudah dikenal di sekolah lain. Jelas banyak gadis yang mengincar posisi
pacarnya.
Namun,
mereka mungkin tidak pernah membayangkannya.
Siapa yang
bisa mengira kalau Kijima Koichi yang terkenal itu adalah
seorang otaku sejati…
“Kalau
begitu, bagaimana dengan Haru? Kalian berdua
cukup akrab, ‘kan?”
“Momoki?
Tidak mungkin. Jika aku harus berpacaran di dunia nyata, aku ingin berpacaran dengan gadis
rambut hitam lurus, tubuh ramping, dan penampilan anggun. Setidaknya,
gadis-gadis gyaru tidak
akan pernah kuterima.”
“……
Senang mendengar bahwa kamu memang
aneh.”
“Eh!?”
Aku tidak
menyangka ada pria otaku yang begitu tipikal di zaman sekarang.
Ya, itu
juga sama untukku.
Aku dan
Kijima memutuskan untuk berbincang tentang hal-hal otaku sampai mereka
kembali.
◇◆◇
“Ah,
kalian berdua!”
Setelah
beberapa saat kemudian, Haru
datang berjalan mendekati kami dari
arah toko.
“Oh,
kalian sudah selesai?”
“Sudah,
tapi bisa tolong datang ke sini sebentar?
Kainnya ternyata cukup berat, jadi kami tidak bisa membawanya berdua.”
“Baiklah.”
Kami
mengikuti Haru kembali ke dalam toko.
Di sana, aku mendapati Tsukino yang tampak putus
asa di samping kasir.
“Haah~,
rasanya benar-benar membantu banget… aku tidak bisa membawanya.”
Tsukino
menunjuk kain yang digulung. Ketika
aku mencoba mengangkatnya, memang terasa cukup berat.
Sekilas bebannya tidak terlihat berat, tetapi
karena kainnya cukup tebal, jadi terasa berat. Tidak sampai tidak bisa dibawa,
tapi mungkin agak sulit sampai ke rumah.
“Maaf…
Kijima, bisa kamu membantuku membawanya?”
“Eh?
Ah, serahkan padaku.”
Kijima
mengangkat gulungan kain itu. Ia
mengangkatnya dengan mudah. Stabilitasnya berbeda dariku.
“Agak
berat, ya… tapi ini masih bisa."
“Hebat banget! Gorilla memang berbeda!”
“Iya, ‘kan?”
“……
Mungkin ini pertama kalinya ada orang yang
tidak terpengaruh oleh jenis ejekan ini."
Haru
tampak putus asa.
Dalam
kasus ini, kemungkinan besar dia menganggap pujian itu sebagai hal positif.
Dalam arti tertentu, itu adalah ketahanan ejekan yang paling kuat.
Tapi, itu
bukanlah masalah utamanya
────.
Aku
berinisiatif mengambil kain yang tidak bisa diangkat Kijima. Setidaknya, aku
punya sedikit akal untuk tidak membiarkan gadis mengangkat barang berat.
“Kalau
begitu, mari kita pulang ke rumah Nagacchi!”
Dengan perintah
Haru, kami meninggalkan toko kerajinan.
Kemudian, setelah
sampai di apartemenku, Kijima
tiba-tiba bersorak.
“Jadi,
kamu tinggal sendirian di sini!?
Serius!? Bikin iri aja!”
“Terima
kasih…”
Aku
mengundang ketiga orang itu ke dalam ruangan dan menunjukkan ruang tamu. Ketika melihat rak buku yang
berjejer, Kijima kembali bersorak.
“Apa-apaan ini!? Taman hiburan!?”
“Benar banget, ‘kan! Ini benar-benar membuatmu bersemangat!"
Mendengar
percakapan Kijima dan Haru, aku menggaruk pipi.
Aku tidak
membuat ruangan ini untuk dipamerkan, tetapi ketika ruangan ini dipuji, rasanya
senang seperti itu juga tentang diriku.
“Ahem…
apa kain ini boleh diletakkan di lantai?”
“Ya,
tidak masalah. Terima kasih sudah membawanya.”
Setelah
mendapatkan izin dari Tsukino, aku meletakkan kain yang dibawa di lantai. Kalau dilihat-lihat kembali, jumlahnya cukup
banyak.
“Kostum
Merry itu benar-benar membutuhkan banyak kain, ya… Padahal aku merasa sudah memangkasnya seminimal mungkin.”
──── Apa
ini sudah dipangkas?
Jika
tidak dipangkas, mungkin akan seperti apa?
Mungkin tidak ada ruang untuk menginjakkan kaki.
“Kain
yang dibuat sesuai pesanan biasanya memakan waktu sekitar dua minggu… Jadi kita
harus mulai mengerjakan apa yang bisa dilakukan selama waktu itu.”
“Contohnya?”
“Yang
paling penting adalah fondasi. Mari kita buat pola dari sekarang.”
“……
Baiklah.”
Tsukino
yang mendapat penjelasan dari Haru mengangguk-angguk. Namun, di wajahnya ada
sedikit ekspresi cemas.
Meskipun
itu hanya fondasi, tetap saja itu adalah pakaian. Tidak mengherankan jika Tsukino yang baru pertama
kali mencoba merasa kesulitan.
“……
Tidak masalah! Aku akan mendampingimu! Lagipula, ada dua orang yang bisa
membantu pekerjaan berat!”
Saat
mengatakan itu, Haru melihat ke arahku dan Kijima.
“Karena
kostum ini akan cukup berat, aku akan sangat membutuhkan bantuan kalian!
Imbalannya adalah hak untuk melihat Tsukino ber-cosplay untuk pertama kalinya!”
“Eh, tunggu… Haru!?”
Itu────
menarik.
“Ugh…
Jadi, di mana kita bisa memesan kain yang dibuat sesuai pesanan? Jika harus
menunggu dua minggu, lebih baik kita harus segera
memesannya, kan?”
“Aku
akan memberitahumu penyedia yang sering aku gunakan. Ada situs resmi yang
memuat contoh desain.”
Kami pun
memutuskan untuk menjelajahi situs yang diberitahu Haru.
Untuk
memesan desain, kami harus menentukan kain yang diperlukan dan ukurannya.
Pertama-tama, kami perlu memilih dari banyak kain yang tersedia di situs.
Adapun aku
dan Kijima, jujur saja, kami tidak berfungsi sebagai kekuatan tambahan. Kami
tidak memiliki pengetahuan tentang bahan, dan sejujurnya, semuanya terlihat
sama. Jika bisa merasakannya secara langsung mungkin berbeda, tapi hanya
melihat situs tidak akan membantu kami mempersempit pilihan.
Aku
benar-benar merasa bersyukur ada Haru. Jika hanya aku dan
Tsukino, mungkin kami sudah terjebak di sini lagi.
“────
Ah! Ini dia!”
Sambil
melihat smartphone, Haru berseru.
Sepertinya
dia telah menemukan hal yang
dicarinya.
“……
Mahal banget.”
Tsukino bergumam begitu sambil melihat
ke layar smartphone Haru.
Ketika
aku melihatnya, harganya memang
benar-benar mahal. Dengan harga seperti ini, bisa dipastikan melebihi
anggaran.
“……
Oiya, ada satu hal yang ingin aku
tanyakan…”
Saat kami
mulai bingung, tiba-tiba Kijima membuka suara.
“Kalau
kita memesan desain, bukannya itu akan
menghilangkan kesan buatan tangan? Karena kita berhasil menekan
anggaran sejauh ini, mengapa tidak mencoba membuatnya sendiri?’
“““......”””
Kami
terdiam mendengar pendapat tajam Kijima.
Memang, mungkin sejak awal sudah ada yang salah saat kami
berencana memesan kain dengan desain. Pola dan bordir bisa saja direproduksi
dengan cara tertentu, kan?
“……
Aku penasaran apa aku bisa
melakukan desain ini?”
Sepertinya
Tsukino berpikir hal yang sama.
Di bagian
dalam rok Merry terdapat gradasi yang menyerupai langit malam dan glitter
seperti bintang yang tersebar.
“Jujur
saja, untuk mereproduksi secara sempurna itu sulit. Tapi, ada baiknya untuk
dicoba.”
“Kalau kamu bagaimana cara mereproduksinya, Haru?”
“Hmm…
mungkin dengan cat atau semprotan warna… pertama-tama siapkan kain yang gelap,
lalu tambahkan warna dan glitter di atasnya.”
Dari yang
kudengar, tampaknya cukup sulit. Namun,
mata Tsukino penuh semangat. Sepertinya dia tidak berniat mundur sekarang.
“Ini
mungkin sulit, tapi aku akan mencobanya. Bahkan jika gagal, aku ingin bisa
bangga bilang bahwa aku melakukan semua ini sendiri untuk kostum pertamaku.”
Tsukino
menatapku.
Menanggapi
itu, aku mengangguk.
“……!
Aku juga akan membantu! Tsukino! Aku akan mengajarkan semua yang telah aku
pelajari!”
“Aku
juga akan berkontribusi. Dalam hal penempatan warna, aku pasti bisa membantu.”
Tsukino
yang melihat wajah kami satu per satu menunjukkan ekspresi tekad.
“Terima
kasih, semuanya.”
...... Semua
orang jadi lebih positif, tapi ini agak memalukan.
Saat aku
kembali tersadar, aku menyadari sesuatu yang
seharusnya tidak ingin aku sadari.
“……
Ngomong-ngomong, ujian tengah semester sudah dekat, ‘kan?”
““““────
ah””””
Bulan Mei
juga perlahan mendekati akhir. Artinya,
tanda-tanda ujian pertama sudah semakin dekat.
“……
Sepertinya, produksi harus ditunda untuk sementara.”
Haru
menghela napas. Kami
tidak bisa gagal di ujian pertama. Kami
pun dengan berat hati memutuskan untuk menunda pembuatan kostum.
◇◆◇
“Fyuh…...”
Setelah mereka bertiga pulang, aku yang sudah
mandi mengalihkan perhatian ke bahan kostum yang ada di dalam kamar. Sejujurnya, aku sama sekali tidak bisa
membayangkan bagaimana kostum ini akan jadi.
Dengan
perlahan, aku menyalakan laptop dan mencari kata kunci,
“Merry” dan “cosplay”.
Gambar-gambar
cosplayer memenuhi layar. Semua
gambar itu sangat berkualitas tinggi.
────
Tidak, ini……
Jika
diperhatikan baik-baik, ada
juga orang yang mengenakan kostum yang ada di toko. Namun, dari sudut pandang mataku,
mereka tetap terlihat seperti Merry.
“……
Kenapa ya?”
Jika
diperhatikan lebih dekat, kekasaran kostumnya bisa terlihat. Namun, itu hanya
bisa diketahui jika dilihat dengan saksama.
“Apa
ini karena masalah cara pengambilan gambar…?”
Saat aku
menggelengkan kepala, tiba-tiba bel interkom berbunyi. Di monitor terlihat sosok
Tsukino, dan aku segera bergegas membuka pintu.
“Ada
apa? Apa kamu melupakan sesuatu?”
“Ah,
tidak… bukan begitu…”
Tsukino
terlihat agak tegang.
“Untuk
sementara… boleh aku masuk?”
“Ah,
ya, tentu saja.”
Begitu
aku mengundangnya masuk, Tsukino langsung mendekati bahan kostum.
“……
Maaf, aku merasa terburu-buru. Setelah pulang, aku tidak bisa memikirkan
cosplay untuk sementara, iya ‘kan?”
“Ah…
memang benar.”
Dengan
semua bahan yang sudah lengkap, tentu saja terasa mengganggu saat semangat
untuk mulai membuatnya terhenti. Aku
bisa mengerti perasaan tidak ingin berpisah itu.
“Apa
kamu ingin menginap hari ini?”
“……
Tidak. Saat aku kembali nanti, aku akan minta tolong."
Tsukino
tampak sedikit menyesal dan menundukkan alisnya.
“Sampai
ujian selesai, aku akan berusaha menahan diri. Jika hasil ujian buruk, aku
tidak akan bisa menikmati membuat kostum.”
“……
Iya, benar juga.”
“Maaf
sudah datang tanpa pemberitahuan. Hari ini
aku akan pulang dengan baik.”
Aku tidak
mengatakan apapun saat Tsukino berjalan menuju pintu depan. Aku takut jika perhatianku yang
canggung akan menggoyahkan keputusan pentingnya.
“Kentaro.”
“Eh?”
Tsukino
berbalik, wajahnya memerah karena
malu, dan mengulurkan tangannya.
“Aku
sudah memutuskan untuk menahan diri… tapi, kadang-kadang perasaan itu bisa
goyah, ‘kan?”
“Ya,
mungkin…”
“Jadi,
ayo kita bersumpah. Jika aku bersumpah padamu, aku merasa bisa menahan diri.”
“……”
Tsukino
dengan lembut mengangkat kelingkingnya. Aku membandingkan jarinya dengan
wajahnya.
“……
Apa kamu tidak mau melakukannya?”
“Jangan
mengatakannya seperti itu…”
Karena
itu membuatku merasa tidak enak.
“Enggak,
aku merasa seolah-olah hanya Tsukino yang menahan diri… terasa seolah aku tidak
memikul beban apapun.”
“……?
Ini kan murni keinginanku, jadi bukannya itu
wajar?”
Tsukino
memiringkan kepala.
Memang,
keinginan untuk melakukan cosplay adalah harapan Tsukino. Itu bukan
keinginanku.
Namun,
setelah sekali memutuskan untuk bekerja sama, aku tidak ingin hanya mengucapkan
“baiklah, semangat ya” sebagai
dukungan.
“……
Jadi, jika aku bisa
menahan diri untuk tidak membuat kostum sampai ujian selesai, tolong dengarkan satu permintaanku.”
“Permintaan?”
“Iya.
Hmm… sebentar, aku belum bisa memikirkan apa-apa.”
“……
Baiklah. Jika itu bisa membuat Tsukino
semangat, aku akan mendengarkan apapun
permintaanmu.”
“────
Apa saja?”
Pada saat
itu, warna mata Tsukino berubah. Aku
merasa telah melakukan kesalahan. Secara instinktif, aku berpikir begitu. Namun, aku tidak bisa menarik
kembali kata-kata yang sudah diucapkan.
“Jika
begitu… apa itu akan membuatmu bersemangat?"
"Tentu
saja. Sangat bersemangat!”
Tsukino
berkata sambil bercanda, lalu mendengus.
“Baiklah,
ayo kita bersumpah.”
“Ya,
ya…”
Aku
mengaitkan jari
kelingkingku dengan kelingking Tsukino.
Sumpah
seperti ini sudah lama tidak kulakukan sejak SD.
Tsukino
juga tampak menganggap hal ini
sedikit kekanak-kanakan dan tersenyum canggung.
“Rasanya
agak canggung, ya.”
“Karena
jarang sekali ada yang melakukannya di usia kita.”
“Haha,
benar.”
Jari-jari
Tsukino mulai terlepas.
Aku
merasa sedikit enggan berpisah.
“Setelah
ujian selesai, aku akan memintamu untuk menemanimu
sampai aku merasa puas.”
“……
Ah, aku mengerti.”
“Baiklah!
…… Sampai jumpa di sekolah.”
Tsukino
mengangguk puas dan meninggalkan kamarku.
Sebelumnya | Selanjutnya
