Chapter 9 — Sesi Belajar yang Bermakna
“Mulai
hari ini, kita akan memasuki minggu ujian. Jangan sampai
kalian bersenang-senang, ya. Jangan sampai ada yang dapat
nilai merah!”
Dalam jam wali kelas sore hari, guru
wali kelas mengingatkan kami.
Akhirnya,
waktunya tinggal seminggu lagi sebelum ujian. Karena ini adalah ujian reguler
pertama, teman-teman sekelas tampak bersemangat. Sementara itu, aku tidak
terlalu gelisah.
Demi bisa
fokus pada hobi otaku, aku sudah belajar semaksimal mungkin. Tidak ada
pelajaran yang sulit bagiku, jadi seharusnya bisa diatasi.
“Ah,
ujian itu membosankan banget!”
Begitu
guru wali kelas kami pergi, Yamanaka berteriak
dengan kesal. Hal itu
menjadi pemicu, dan seperti biasa, anggota grup utama berkumpul di tempat duduk
Tsukino.
Tanpa disadari, aku sudah terbiasa mendengarkan
percakapan mereka. Suara mereka cukup keras sehingga bisa terdengar dari mana
saja di dalam kelas.
“Benar
banget!”
Watanabe
menimpali dengan suara putus asa.
Dari
sikap mereka selama pelajaran, semua anggota grup utama memiliki kemampuan
belajar yang cukup baik. Orang-orang
seperti ini biasanya mengatakan “Aku
tidak belajar sama sekali”,
tetapi tetap mendapatkan nilai di atas rata-rata. Bagi mereka yang benar-benar
tidak belajar, hal itu
sangat menyebalkan.
“Kalau
dapat nilai merah, kita harus
ikut remedial, kan…”
“Eh,
bagaimana kalau kita adakan kelompok belajar?”
“Ah, ide
bagus tuh. Kita bisa pergi mengunjungi salah satu restoran
keluarga.”
Isi
percakapan mereka benar-benar mencerminkan masa muda. Tatapan iri mulai tertuju pada
anggota grup utama yang seharusnya posisinya terancam.
“Hari ini
tidak ada masalah, kan? Kalian berdua.”
“Ah… iya,
bisa.”
Menanggapi
pertanyaan Yamanaka yang terkesan menekan, Tsukino mengangguk.
“Aku juga
baik-baik saja hari ini. Aku merasa cemas
untuk ujian pertama, jadi mari kita belajar bersama.”
“Baiklah!
Begitu dong!”
Jeritan kegembiraan Yamanaka menggema. Mungkin ini terlalu berlebihan,
tetapi apa ia sengaja mengucapkannya supaya
terdengar di seluruh kelas?
Jika memang begitu, rasanya menjadi sedikit tidak
nyaman.
“Kalau
begitu, ayo pergi! Kalian tidak masalah kalau
kita pergi ke restoran keluarga di depan stasiun, ‘kan? Ayo, Kijima!”
“Hmm? Ah…”
Jika
Kijima ikut berpartisipasi,
sepertinya hari ini aku akan menghabiskan waktu sendirian. Nah, aku juga harus belajar
dengan baik agar tidak kalah. Rasanya
bakalan aneh jika aku langsung pulang, jadi mungkin aku
akan mampir ke perpustakaan────.
“Oi, Nagai. Kamu juga ikutan yuk!”
“……
Eh?”
Saat aku
hendak pulang, Kijima memanggilku dari belakang.
Ketika
aku menoleh, ada Yamanaka dan Watanabe yang tampak bingung sekaligus tercengang. Dan di
sekeliling mereka, ada teman-teman sekelas dengan ekspresi yang sama.
────Pasti
begini jadinya…
Jika aku
berada di sisi mereka, aku juga akan bereaksi sama. Mana mungkin cowok penyendiri seperti diriku akan dipanggil.
“…… Oi, Kijima. Kenapa kamu malah ngajakin orang itu sih?”
“Hmm? Karena dia bisa belajar dengan
baik, jadi kuharap ia bisa mengajariku beberapa hal.”
“Ha!?
Dari mana kamu tahu hal itu…”
“Yah, itu
sih karena kita teman.”
“‘Karena
kalian teman’…?”
Reaksi
Yamanaka sangat wajar.
Aku
adalah orang yang berada di lapisan terbawah di
dalam kelas ini. Dari sudut pandangnya, rasanya sangat aneh jika ada hubungan
antara aku dan Kijima.
“Eh! Y-Yah,
mungkin tidak ada masalah,
‘kan? Kita berlima, jadi lebih
baik genap daripada ganjil!”
“Ya,
mungkin saja…”
Haru
mencoba mendukung, tetapi Watanabe dan Yamanaka masih tampak tidak puas.
Namun,
dengan Kijima dan Haru yang bersemangat, pendapat mereka tidak akan didengar.
Watanabe menatap Tsukino dengan harapan terakhir.
“Tidak
masalah jika Nagai mau ikutan. Ayo pergi.”
“Eh!?
U-uhm… jika Tsukino bilang begitu.”
Dengan
sikap biasa yang lesu, Tsukino mengabaikan topik tersebut.
Dua orang
yang harapannya pupus itu mengikuti mereka dengan enggan.
“Hey,
maksudmu apa-apaan
ini…!?”
Aku
menggenggam bahu Kijima. Setelah
membuat keributan seperti ini, jangan bersikap seolah-olah tidak terjadi
apa-apa.
“Maksudku
apa…? Kamu juga bebas hari ini, ‘kan?
Ayo belajar bersama. Sekalian ajari aku. Kamu kan jago belajar?”
“Memang
sih, aku bebas, tapi…”
Ia
sama sekali tidak menyadari kegelisahanku. Kijima menatapku dengan mata yang
benar-benar bingung. Kesempatan untuk menolak sudah terlewat. Lagipula, jika
aku bersikap dingin sekarang, hubungan kita akan dicurigai…
“……
Baiklah. Aku tidak akan bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi.”
“Mantapp!”
Apa ia
benar-benar hanya bodoh, atau semua ini sudah direncanakan?
Entah
bagaimana, aku tidak bisa melawan sifat Kijima yang memaksa ini. Sepertinya, hal-hal seperti ini
akan terus berlanjut ke depannya.
◇◆◇
Dengan
begitu, anggota kelompok
utama yang membawaku pergi menuju restoran keluarga di depan stasiun. Mereka masing-masing membuka buku
pelajaran dan catatan, fokus belajar dengan tenang.
────Bagaimana
bisa jadi begini…?
Sambil
berpura-pura menggerakkan pena, aku memeriksa wajah-wajah di sekelilingku.
Setidaknya,
saat ini tidak ada suasana yang tidak menyenangkan. Dengan begini, aku mungkin
bisa sedikit fokus belajar.
Namun,
begitu aku berusaha untuk fokus, aku merasakan tatapan tajam.
────Apa
ini hanya perasaanku saja…?
Sepertinya
ada yang memperhatikanku, tetapi tidak ada yang melihat ke arahku.
…Jika
tatapan barusan bukan hanya perasaanku, kemungkinan besar itu berasal dari
Yamanaka dan Watanabe.
Aku
merasa bersalah kepada mereka. Sebenarnya, mereka
mungkin ingin menggunakan belajar sebagai alasan untuk bermain-main dengan anggota grup
utama.
Namun,
karena kehadiranku, percakapan biasa mereka tidak
bisa terjadi. Akibatnya, hanya belajar yang tersisa untuk dilakukan.
Aku
merasa seperti sedang disalahkan, dan rasanya canggung. Ketika merasakan
ketidaknyamanan itu, Tsukino yang duduk di sampingku menepuk bahuku.
“Nee, Kentaro. Ini bagaimana
caranya?”
“Ah, ah…
di sini kita gunakan rumus ini────”
Saat aku
mengajarkan cara menyelesaikan matematika, Yamanaka menatapku dengan ekspresi
marah.
Aku
berpura-pura tidak menyadarinya. Ia
mungkin tidak menyukai kenyataan bahwa Tsukino memanggilku dengan namaku. Karena Tsukino hanya memanggil dua orang dengan nama depannya, yaitu
Haru dan aku.
Sementara
dia memanggilku nama
belakangku,
mengapa dia justru memanggil orang ini dengan
nama────Perasaan
itu terlihat jelas.
“Hmm… itu sangat mudah dimengerti. Terima
kasih.”
“Ah…”
Ketika
Tsukino menjauh dariku, kali ini Haru mendekat ke arahku.
“Nagacchi, bisa ajarin aku di sini enggak?”
“Bahasa
klasik ya… pertama-tama kita harus menghafal bentuk konjugasi.”
“Apa itu berarti aku harus menghafal?”
“Iya, mau tidak mau harus
menghafalnya.”
“Ugh…
baiklah.”
Setiap
kali aku bersikap akrab dengan mereka berdua, tatapan Yamanaka dan Watanabe
semakin tajam. Rasanya sudah setara dengan kebencian.
“Ah,
sial, aku meninggalkan semua buku pelajaran di sekolah. Nagai, pinjamkan
sesuatu padaku dong.”
“Lantas kamu datang ke sini untuk
apa…?”
Dengan
terpaksa, aku memberikan buku pelajaran sejarah kepada Kijima. Setelah aku
memberitahunya tentang cakupan ujian, Kijima mulai membaca buku tersebut dengan
penuh rasa terima kasih.
…Mungkin
interaksi ini menjadi pemicu.
Dari
suatu tempat, terdengar suara seperti desahan kecil.
“…… Aku mau pergi ke toilet sebentar.”
“Baiklah,
oke.”
Aku
meletakkan pena dan sekali lagi meninggalkan tempat duduk.
Aku perlu
menghirup udara segar dan mereset pikiranku.
Kalau
tidak, aku merasa tidak bisa bertahan di ruang ini.
◇◆◇
(Sudut
Pandang orang ketiga)
“Hey────kenapa
kamu membawa orang seperti itu bersama kita sih?”
Begitu
Kentaro pergi ke toilet, Yamanaka bertanya dengan wajah tidak senang. Watanabe yang juga tampak tidak
senang mengangguk setuju.
“Benar sekali. Orang
itu… siapa namanya? Rasanya sangat sulit berbicara kalau ada cowok itu.”
Watanabe
bahkan tidak mengingat
namanya, membuat Haru merasa kesal. Namun,
dia berusaha untuk tidak menunjukkan perasaannya. Jika dia menjadi emosional, tidak
akan ada yang bisa menjaga suasana.
“Seharusnya
hanya kita-kita saja. Kalau ada orang
yang membosankan seperti itu, pasti akan menurunkan semangat.”
“Mau dilihat gimana juga,
mengundang orang seperti itu rasanya kurang seru.
Malahan kurasa masih lebih baik mengundang
Satonaka.”
Satonaka
adalah orang yang bisa dianggap sebagai anggota tim cadangan. Dari segi posisi,
ia adalah yang paling dekat dengan kelompok utama.
“Apa yang
kamu bicarakan? Nagai adalah temanli.
Aku tidak paham mengapa aku tidak boleh mengundangnya karena ia penyendiri.”
“Kapan
kamu menjadi teman dengan orang seperti itu…? Aku tidak pernah mendengar apapun
tentang itu!”
“Apa
gunanya aku memberitahumu setiap kali──── ugh!”
Sebelum
Kijima menjadi marah, Haru menghentikannya.
“Sudah, sudah, tenanglah dulu, memang mungkin kalian berdua tidak punya hubungan
dengannya, tapi kita adalah teman sekelas,
jadi wajar untuk saling akrab, kan? Lagipula, kita berkumpul di sini untuk
belajar, bukan? Kita harus fokus daripada hanya mengobrol…”
“Kamu
bilang kita tidak punya hubungan… tapi itu berarti kalian
punya hubungan dengan orang itu?”
“Eh? Ah,
ya… kita pasti ada sedikit pembicaraan, biasa saja.”
Begitu
Haru mengatakan itu, tiba-tiba Watanabe berseru, “Ah!”
“Ngomong-ngomong,
Nagai tuh
cowok yang dikabarkan dekat dengan Tsukino-chan,
‘kan!”
“……”
Bahu
Tsukino bergetar sejenak.
Dia
sendiri tidak tahu bahwa hubungannya dengan Kentaro menjadi bahan pembicaraan.
Merasa malu, dia berusaha menjaga sikap tenangnya
dan berhasil menyembunyikan ekspresinya.
“Ah!
Ngomong-ngomong, memang ada
rumor itu! Kedengarannya enggak
masuk akal!”
“……
Eh?”
“Habisnya, bagaimana mungkin orang seperti
itu bisa pacaran dengan Yukikawa, iya ‘kan?
Itu benar-benar mustahil.
Seharusnya, orang introvert dan Yukikawa sama sekali
tidak kelihatan sangat serasi.”
Yamanaka
dan Watanabe mulai tertawa terbahak-bahak.
Bagi
mereka, Yukikawa Tsukino adalah sosok yang paling bersinar dan diidam-idamkan
di kelas. Mendengar
bahwa dia berpacaran dengan orang yang namanya saja tidak mereka kenal, hal itu sangat tidak mungkin dan
tidak bisa diterima.
Begitu
tidak berartinya sosok Kentaro bagi mereka.
“……
Sangat parah sekali.”
Sambil
bergetar karena menahan marah, Tsukino berdiri dari
tempat duduknya. Kekuatan
yang dia tunjukkan membuat Yamanaka dan Watanabe terdiam.
“Kalian berdua tahu apa tentang Kentaro?
Menganggapnya sebagai orang introvert… orang seperti kalian adalah yang paling
tidak aku suka.”
“Hah!?
Kenapa kamu malah tiba-tiba seperti ini…!? Tapi,
bagaimana pun juga, orang introvert seperti itu────”
“Aku mau pulang. Aku sudah bete.”
Tsukino
mengumpulkan barang-barangnya dan meletakkan uang untuk dirinya sebelum
meninggalkan tempat duduk.
Yamanaka
dan kawan-kawan bahkan tidak bisa menghentikannya, hanya bisa tertegun melihat
punggungnya.
“Ke-Kenapa Tsukino-chan malah marah? Aku tidak mengerti…”
“Hah…
jika kamu tidak mengerti mengapa Tsukino seperti itu, berarti kamu sudah tidak
bisa ditolong lagi.”
“Eh?
Haru…?”
“Sekedar informasi, Tsukino dan Nagai
tidak berpacaran. Tapi, mereka teman. Teman yang sangat penting. Memangnya ada orang yang tidak marah jika
dihina seperti itu?”
“Tidak,
maksudku, ia dan Tsukino-chan berteman… itu cuma bercandaan, ‘kan?”
“Jika itu
cuma bercandaan, apa kamu pikir dia akan
marah seperti itu?”
“H-Haru?”
Haruru menghela napas dalam-dalam dan
berdiri dari tempat duduknya, sama seperti Tsukino.
“Kijima,
ayo ikut.”
“Ah, di
sini juga membosankan.”
“Ah, aku
juga akan meninggalkan uang untuk Nagai. Nah, selamat tinggal untuk kalian
berdua.”
Haruru yang mengambil barang-barang
Kentaro menarik Kijima dan meninggalkan tempat duduk.
Yamanaka
dan Watanabe, terkejut dengan kejadian mendadak itu, bahkan tidak bisa mengejar
mereka.
◇◆◇
“Fyuh…”
Perasaan
murungku masih belum hilang saat aku keluar dari toilet. Memikirkan bahwa aku harus
kembali ke ruang di mana kedua orang itu berada membuat langkahku terasa
berat.
──── Awas saja nanti, dasar Kijima.
Amarahku
memuncak pada Kijima yang telah mengikutsertakanku dalam
hal ini.
Mungkin
aku akan memaksanya untuk menonton anime buruk yang tak tertahankan
selanjutnya. Jika ia mencoba tidur, aku akan memukul kepalanya dari
belakang.
“Hmm…?
Eh, Haru?”
“Nagacchi, ayo kita
keluar.”
“Eh?
Hei!”
Aku
ditarik oleh Haru dan dibawa keluar.
Di dekat
situ, entah kenapa Kijima juga ada di sana.
Namun,
Tsukino, serta Yamanaka dan Watanabe tidak terlihat.
“Tsukino
sudah pergi lebih dulu, jadi aku akan mengejarnya.”
“Tunggu!
Aku belum membayar…”
“Aku
sudah membayarnya, jadi tidak perlu khawatir.”
“Eh!?”
Sama sekali
tidak mengerti, aku mengikuti Haru.
Kemudian,
aku melihat punggung Tsukino sedikit lebih jauh.
“Tsukino!”
Begitu
Haru memanggil, Tsukino berhenti melangkah.
Ketika
dia menoleh, wajahnya tampak kesakitan. Jelas ada sesuatu yang tidak beres terjadi. Aku melepaskan tangan Haru dan
berlari menuju Tsukino.
“Ada
apa!? Apa yang terjadi…!?”
“Tidak
ada… apa-apa…”
Melihat
wajah Tsukino yang terlihat pucat,
aku sangat cemas. Apa
yang bisa kulakukan dalam situasi seperti ini?
“…… Nagacchi, bisakah kamu mengantar Tsukino
pulang?”
“Eh?”
“Tsukino membutuhkanmu saat ini. Kami akan langsung pulang sekarang, jadi tolong temani dia.”
“……
Baiklah.”
Begitu
aku mengangguk, Haru mendorong punggungku. Aku sama sekali tidak bisa
memahami situasinya. Namun, apa yang harus aku lakukan telah diajarkan oleh
Haru.
“Ayo,
Tsukino.”
“……
Ya.”
Aku
menggenggam tangan Tsukino dan mulai berjalan menuju stasiun. Tidak ada percakapan di antara kami dalam perjalanan menuju apartemenku. Namun, tangan yang terhubung ini
tidak pernah ingin terpisah.
◇◆◇
“……”
Setelah kami berdua sampai di rumah, Tsukino
tetap diam untuk sementara. Aku
sudah menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi dengan Yamanaka dan yang
lainnya.
Apa
sebenarnya yang terjadi──── aku merasa perlu mendengar
lebih banyak tentang itu.
“……
Maaf.”
Dengan
suara yang hampir tak terdengar, Tsukino mengatakan itu.
Aku
menengokkan kepala.
“……
Kenapa kamu malah meminta
maaf?”
“Karena…
telah merepotkanmu.”
“Merepotkanku?
Aku tidak berpikir seperti itu.”
Bagiku,
Tsukino merupakan orang yang paling penting dari siapapun. Apapun yang terjadi padanya, aku
tidak mungkin menganggapnya sebagai suatu kerepotan.
“…… Aku
sangat berterima kasih padamu.”
“Berterima
kasih?”
“Aku merasa
aman dan tenang karena Kentaro menerimaku. Karena kamu
bersamaku, aku tidak merasa kesepian.”
“……”
“Kamu…
Kentaro adalah orang yang penting bagiku. Namun… kedua orang itu telah
melakukan hal yang buruk padamu…!”
────
Ternyata memang
benar.
Saat aku
berdiri untuk pergi ke toilet, sepertinya kedua orang itu membicarakan sesuatu yang buruk mengenai diriku. Aku sudah memperkirakan hal itu
dan siap menghadapinya. Selain itu, aku tidak peduli.
Selama
Tsukino dan yang lainnya ada, pandangan orang lain tidak berarti bagiku.
“…… Apa
kamu berdebat dengan mereka?”
“……”
Tsukino
mengangguk.
“Aku…
merasa bingung, dan tiba-tiba sudah berada di
luar…”
“Jadi
begitu…”
Tsukino
marah demi diriku.
Perasaan
itu, sekarang aku bisa memahaminya dengan baik. Seandainya aku mendengar
keburukan Tsukino, aku akan merasakan hal yang sama. Karena aku menghargai
orang itu, aku tidak bisa menahan kemarahan.
“…… Aku
tidak ingin meninggalkan tempat ini
lagi.”
“Eh?”
Tsukino
memeluk lututnya seolah-olah ingin bersembunyi.
“Aku
ingin selalu bersama Kentaro… kadang-kadang Haru dan Kijima juga datang
bermain… setiap hari menonton anime, membaca manga, bermain game… malam pergi
ke minimarket untuk membeli camilan… tidur
kapan pun aku mau, bangun kapan pun aku mau.”
“Itu…
terdengar luar biasa.”
“Iya ‘kan?”
Kami berdua saling memandang dan tertawa bersama.
“Memesan
makanan juga bisa jadi pilihan. Di akhir pekan kita bisa mengadakan pesta pizza.”
“Kedengarannya bagus tuh. Oh, tapi aku juga ingin makan
masakan buatanmu.”
“Aku bisa
membuatnya kapan saja.”
“Ketika
musim dingin, hidangan nabe juga
enak. Aku suka kimchi.”
“Aku
setuju.”
Kemudian
kami terus berbicara tentang semua impian yang bisa kami bayangkan, bergantian.
Namun…
aku tahu.
Kehidupan
seperti itu tidak mungkin terwujud.
“Semoga…
semuanya terwujud.”
Air mata
menggenang di mata Tsukino.
Semua ini
hanyalah cerita mimpi. Meski begitu, Tsukino sungguh-sungguh menginginkannya. Kalau begitu, apa yang bisa aku
lakukan adalah────.
“…… Itu
akan terwujud.”
“Eh…?”
“Meski
tidak mungkin untuk mewujudkannya sekaligus, tapi satu per satu mungkin bisa
terwujud. Kamu tidak
perlu menyerah dulu.”
Aku
menggenggam tangan Tsukino. Berharap supaya
kata-kataku bisa sampai ke hatinya, meskipun sedikit.
“Aku akan
bersamamu. Aku akan menemanimu untuk apa pun dan segalanya. Bermalas-malasan di dalam rumah, pergi
ke konbini malam hari, semuanya akan aku lakukan bersamamu.”
“……!”
“Setiap kali kamu merasa tidak nyaman, aku
akan mendukungmu. Apa pun yang terjadi, aku akan selalu mendukungmu. Bahkan,
seumur hidup────”
Aku
hampir mengucapkan sesuatu yang tidak pantas dan segera menutup mulutku.
Namun,
Tsukino tidak membiarkanku.
“Seumur
hidup… apa?”
“Ah,
tidak… itu…”
Wajahku
terasa panas.
Bukan,
aku tidak bermaksud membicarakan hal itu.
Aku hanya
ingin memberi semangat pada Tsukino.
Aku sama
sekali tidak berniat untuk mengungkapkan perasaanku…
“…… Tolong katakan dengan jelas? Kentaro.”
“……!”
Aku tidak
bisa mengalihkan pandangan dari mata Tsukino yang berkaca-kaca.
Sebelum
aku menyadarinya, Tsukino telah menarik kembali tanganku, meskipun akulah yang
awalnya memegangnya.
Sekalipun
aku ingin melepaskannya, aku
tidak bisa.
“……”
Setelah sampai sejauh ini, apa aku akan berhenti
melangkah?
Kalau
begitu, tidak ada yang berubah sejak sebelum bertemu Tsukino. Aku ingin berada di samping
Tsukino. Aku tidak
ingin menyerahkannya kepada siapa pun.
Perasaan
itu, bukankah itu yang nyata?
────
Sekarang, hanya ada satu jawaban.
Aku
kembali menatap Tsukino.
Mata
birunya yang jernih selalu terlihat indah. Tidak mungkin membiarkan itu menjadi
milik orang lain, itu sama sekali tidak bisa kuterima.
“…… Aku
akan mendukung Tsukino seumur hidup. Jadi, maukah kamu menjadi pacarku?”
Dengan
segenap keberanian, aku mengucapkan kata-kata itu kepada Tsukino. Jantungku
berdebar kencang, hampir meledak.
Terjadi
keheningan beberapa saat.
Akhirnya,
air mata mulai mengalir dari mata Tsukino.
“Tsukino…!?
Ap-Apa
kamu baik-baik saja────”
“Tidak apa-apa… aku baik-baik
saja.”
Sementara
aku merasa panik, Tsukino mengusap air
matanya.
Lalu,
dengan senyum yang sangat cerah, dia menggenggam tanganku dengan kuat.
“Jika ada
yang tidak menyenangkan, maukah kamu mendengarku?”
“…… Ah,
ya.”
“Jika aku ingin bersantai, maukah kamu
melakukannya bersamaku?”
“Tentu
saja.”
“Jika
tiba-tiba aku mulai berbicara tentang hal favoritku, apa kamu akan merasa
aneh?”
“Tentu
saja tidak.”
“Apa kamu
akan selalu bersamaku… dalam keadaan apa pun?”
Menjawab
pertanyaan itu, aku mengangguk dengan tegas.
“Ah… aku
akan selalu bersamamu.”
“…… Jika
itu bohong, aku akan memukulmu.”
“Ah, jika
itu terjadi, silakan lakukan sepuasnya.”
“Aku
benar-benar akan memukulmu…”
“Tidak
apa-apa.”
“────
Baiklah… jika begitu, aku setuju.”
“!?”
“Aku juga
ingin menjadi pacar Kentaro.”
Tanpa kusadari, bibirku telah dicuri oleh
Tsukino.
Saking
terkejutnya, aku hanya bisa tercengang.
Bibir kami yang bersentuhan itu terasa hangat dan lembut. Dalam meningkatnya indraku, hanya itulah
satu-satunya sensasi yang terukir di dalam ingatanku.
“…… Aku
sedikit gagal.”
Tsukino
melepaskan bibirnya dan menutupi mulutnya dengan malu.
Memang,
aku merasa sedikit gigi kami saling bertabrakan. Namun, itu tidak penting.
“Hey,
katakan sesuatu napa… karena seenggaknya itu pengalaman pertamaku…”
“Ciuman
pertama Tsukino…”
“Eh…!
Cara mengatakanmu sangat
menjijikkan!”
“Wah!?!”
Aku
didorong di atas sofa dan terjatuh ke belakang. Rasa sakit ringan itu
mengingatkanku bahwa ini adalah kenyataan.
──── Aku tidak pernah menyangka… kalau aku bisa memiliki
pacar.
Jangankan
pacar, bahkan teman pun tidak ada…
Apa
keajaiban seperti ini pantas terjadi padaku?
────
Tidak, bukan itu…
Justru
karena memikirkan sesuatu yang tidak pasti seperti
keajaiban, aku jadi merasa cemas. Aku
harus berusaha kerasa agar
hasil ini bisa kuanggap sebagai sesuatu yang kuperoleh dengan tanganku
sendiri.
Demi
berada di samping Tsukino, aku akan melakukan apa pun.
Bagaimanapun,
aku sudah berjanji dengannya
seumur hidup────.
