
Chapter 10 — Tanaka-san Mengagumi Heroine Utama
Saat itu
awal musim panas, dengan aroma manis dan lembap dari musim hujan yang baru saja
berlalu masih tercium di udara. Sekitar seminggu sebelum acara open day, aku sedang bekerja paruh waktu di sebuah
restoran keluarga setempat ketika dirinya
masuk. Itu Fuyusora, mengenakan pakaian kasual dan membawa tas instrumen
berwarna hitam.
“Selamat
datang~”
“Oh,
Nakayama-kun? Mengejutkan sekali,” katanya, matanya sedikit
melebar. “Kamu bekerja di restoran ini? Aku
sering datang ke sini, tapi aku belum pernah melihatmu.”
“Fuyusora-san?
Aku juga terkejut. Aku sudah bekerja di sini hampir setengah tahun dan ini
pertama kalinya aku melihatmu,”
jawabku.
Aku
bekerja dengan jadwal shift yang cukup acak, tapi
rasanya tetap aneh bahwa kami belum pernah berpapasan.
Lagipula, aku pernah mendengar desas-desus tentang seorang gadis berambut hitam
yang sangat cantik yang terkadang menjadi pelanggan.
Aku hanya
tidak pernah membayangkan kalau pelanggan yang
dimaksud adalah salah satu teman sekelasku. Sambil masih terkejut dengan pertemuan
tak terduga itu, aku menuntun Fuyusora ke meja yang kosong.
“Apa
ada semacam alat musik di dalam kotak itu?”
tanyaku, sambil menunjuk ke arah barang
bawaannya.
“Ya,
itu terompet,”
jelasnya, jari-jarinya dengan lembut mengelus kotak itu dengan penuh kasih
sayang. “Yah, itu hanya model pemula murahan yang dibelikan orang tuaku
untukku saat aku masih kecil. Aku merasa nostalgia, jadi aku menyewa studio di
dekat sini untuk memainkannya sebentar.”
Aku
benar-benar melupakannya, tapi kata-katanya menyegarkan
ingatanku. Dalam cerita itu, Fuyusora adalah heroine
utama yang menggubah musiknya sendiri.
Karyanya
sangat bagus sehingga dia seharusnya memiliki sekitar sepuluh ribu subscriber di YouTube. Cerita aslinya
menyebutkan dia memainkan gitar, drum, dan piano, tetapi sepertinya dia juga
bisa memainkan terompet. Gadis ini benar-benar multitalenta.
“Heh~ Jika ada kesempatan, kamu harusnya membiarkanku mendengarmu bermain
suatu saat nanti.” Gagasan
untuk tampil langsung terdengar menarik, jadi aku melontarkan saran itu dengan
santai.
Wajah
Fuyusora langsung cemberut.
“Tidak
mungkin,” bentaknya. “Kenapa aku harus bermain untuk
orang sepertimu?” Dengan
desahan tajam, dia terang-terangan memalingkan wajahnya dariku.
Aku
benar-benar ditolak, tapi itu bukan masalah baginya. Aku punya kartu truf.
“Sayang
sekali. Padahal aku juga berpikir untuk mengajak
Kaisei.”
“Kenapa
kau menyebut namanya?”
tanyanya, kepalanya menoleh ke belakang.
“Nah,
bagaimana menurutmu?” jawabku
dengan seringai penuh arti.
“Kuh…”
Seperti
yang kurencanakan, kartu truf itu sangat efektif. Pipinya sedikit memerah saat
dia menatapku dengan penuh kebencian. Aku memperhatikan hal yang sama pada
Haruno; aku tidak mengerti bagaimana gadis-gadis ini tidak menyadari seberapa gampangnya mereka ditebak.
Mengesampingkan
ketidakpekaan Kaisei terhadap kasih sayang mereka, tetapi ketidakpeduliannya
terhadap bagaimana orang-orang di sekitarnya melihat perilakunya berada di
level yang berbeda.
Namun,
jika mereka tidak begitu tidak peka, tekanan sosial mungkin akan tak
tertahankan, jadi mungkin mau bagaimana lagi. Tetap
saja, mereka bisa sedikit lebih sadar diri.
“Aku
mengerti,” akhirnya
dia mengalah, tak tahan lagi dengan seringaiku. “Aku
akan membiarkanmu mendengarku bermain musik suatu saat nanti ketika aku senggang.
Tapi sebagai gantinya, kamu harus
merahasiakannya dari
Natsuse-kun.”
Keputusan
yang benar-benar bijak. Saat dia terus menatapku dengan tajam, aku hanya
mengangkat bahu dan berkata, “Aku
tahu,” mengabaikannya.
Namun,
jika dia terlalu tidak menyukaiku, aku mungkin tidak akan pernah bisa
mendengarnya bermain. Dengan mengingat hal itu, aku memutuskan untuk memberikan
sedikit informasi.
“Yah,
dia mungkin tidak akan percaya padaku bahkan jika aku memberitahunya, jadi
tidak apa-apa. Rasanya
sama seperti ketika rumor itu menyebar di SMP.”
“SMP?” Ketertarikannya terpicu. “Kamu
satu sekolah dengan Natsuse-kun dan yang lainnya?”
“Ya.
Kamu tidak tahu?”
“Tidak,
ini baru pertama kali aku mendengarnya," akunya. “Jangan-jangan… apa Haruno-san yang
menjadi subjek rumor itu?”
Seperti
yang kuharapkan, Fuyusora langsung terpancing. Permusuhan beberapa saat
sebelumnya telah lenyap, digantikan oleh rasa ingin tahu yang mendalam tentang
masa lalu Kaisei. Seriusan, dia
sangat mudah dipancing.
Sambil
menyeringai dalam hati, aku mengangguk. “Benar”.
“Begitu,” gumamnya, ekspresinya berubah
menjadi penuh pertimbangan. “Jadi,
strategi mengamankan parit luar tampaknya tidak terlalu efektif.”
“Juga,
kamu sebaiknya hindari strategi tidak
langsung sama sekali,” saranku.
“Strategi itu seratus persen akan
meleset dari kepalanya.”
“Terima
kasih atas sarannya. Kamu
sepertinya mengenal Natsuse-kun dengan baik, Nakayama-kun.”
“Tentu
saja,” kataku dengan percaya diri. “Karena
kami berteman.”
Dan aku
sudah mengenalnya sejak kehidupan masa laluku.
Dia sama
sekali tidak menyadari bahwa orang yang berada di
hadapan adalah karakter pendukung terkuat di dunia,
Fuyusora hanya memberikan jawaban yang lesu. “Begitu ya”. Sepertinya dia tidak akan
meminta bantuanku, tidak seperti Haruno.
Sejujurnya,
itu melegakan. Aku sudah kewalahan mengurus Haruno dan Akizuki-senpai; aku
tidak punya kapasitas untuk mengurus heroine utama lainnya.
Seolah-olah
pikiranku telah sampai padanya, Fuyusora mengambil tablet pemesanan. “Aku menghargai informasi yang
berguna,” katanya dengan tenang. “Sebagai ucapan terima kasih, aku
akan memesan barang termahal di toko untukmu.”
“Meski itu
sama sekali tidak memengaruhi gajiku, tapi terima kasih banyak.” Aku membungkuk sopan dan kembali
ke dapur untuk menyiapkan bom makanan penutup yang dengan mudah melebihi seribu
kalori.
◇◇◇◇
Keesokan
harinya setelah sekolah, saat aku sedang mengemasi tas untuk pulang, gadis
cantik berambut hitam itu mendekati mejaku.
“Aku
di sini untuk menepati janji kemarin,” ucap Fuyusora mengumumkan, sambil mengangkat
koper hitam yang sama. Aku ingat dari manga di kehidupan masa laluku bahwa dia
tipe orang yang melunasi hutangnya secepat mungkin.
Seperti
biasa, dia tampak sama sekali tidak menyadari tatapan tajam yang diarahkan ke
punggungku dari semua sudut kelas, sama sekali tidak menunjukkan kepedulian
terhadap kesejahteraanku.
(“Bikin iri banget, aku
akan membunuhnya.")
Menjadi sasaran begitu banyak niat membunuh
sangatlah tidak nyaman, tapi sudah terlambat untuk melakukan apa pun sekarang. Sambil merasa pasrah pada takdirku, aku
mengambil tasku.
Tepat
saat aku hendak pergi, pandangan
mataku bertemu dengan Tanaka-san, yang duduk di meja sebelahku. Dia kelihatan lebih gugup dari yang pernah
kulihat sebelumnya.
“Ada
apa, Tanaka-san?”
“Ah,
tidak, bukan apa-apa!” jawabnya dengan nada gelisah.
Aku bertanya
karena penasaran, tapi dia tidak mau memberitahuku apa yang salah. Setidaknya
tidak dengan kata-katanya. Matanya menceritakan kisah yang berbeda; bayangan
Fuyusora terpantul sempurna di matanya. Sepertinya Tanaka-san tertarik pada
Fuyusora.
Ketika aku
melirik Fuyusora, dia sama sekali tidak menyadari tatapan Tanaka-san dan dengan
tidak sabar mengetuk-ngetuk jarinya di lengannya. Keadaannya akan menjadi buruk jika kita
tidak segera pergi.
“Baiklah
kalau begitu, sampai jumpa besok,”
kataku pada Tanaka-san.
“Y-Ya,
sampai jumpa besok.”
Setelah
mengucapkan selamat tinggal, aku membawa Fuyusora ke ruang kelas kosong di
gedung sekolah lama, ruang kelas yang biasa kugunakan untuk berbicara dengan
Haruno. Begitu kami melangkah masuk, Fuyusora mulai mengamati ruangan dengan
gelisah, seolah-olah dia waspada terhadap sesuatu.
“Apa
ada kemungkinan seseorang akan datang ke sini?”
tanyanya, suaranya rendah.
“Ini
sangat jauh dari gedung utama, jadi seharusnya tidak apa-apa.”
“...Sebaiknya
kamu ingat apa yang kamu katakan.”
Rupanya,
dia sangat tidak suka ada penonton saat dirinya
bermain. Tapi aneh banget.
Fuyusora dari manga membenci dilihat saat dia sedang menggubah musik, tapi
ketika tiba saatnya menampilkan sebuah karya yang sudah selesai, dia justru
ingin orang-orang menonton.
Kenapa
berbeda?
Aku
mencoba mengingat-ingat dari kehidupan masa laluku, yang semakin kabur setiap
harinya, tetapi yang terlintas di benakku hanyalah adegan-adegan sang
protagonis menggoda gadis-gadis cantik.
Aku tidak
bisa menemukan sesuatu yang bisa dijadikan
petunjuk. Saat aku menghela napas frustrasi, aku menyadari Fuyusora sudah
merakit terompetnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia mulai bermain.
Beberapa
menit kemudian, karya musik itu yang kupikir merupakan
salah satu komposisi Fuyusora sendiri, berakhir.
“Bravo,” kataku sambil bertepuk tangan.
Sejujurnya
menurutku itu karena dia luar biasa,
seperti yang diharapkan dari seseorang yang telah bermain begitu lama. Beberapa
waktu yanng lalu, telingaku yang belum
terlatih tidak akan bisa membedakannya, tapi setelah mendengar latihan harian
Tanaka-san, perbedaannya sangat jelas. Kejelasan not-notnya,
kestabilannya—semuanya sempurna.
Fuyusora
hanya mendengus menanggapi tepuk tanganku. “Hmph,
tentu saja”. Dia
mencoba bertindak tidak senang, tapi aku bisa melihat sedikit kegembiraan yang
mengintip di balik kedok acuh tak
acuhnya.
Mereka
memang sekelompok wanita yang gampang sekali
ditebak.
Sembari merasa
sedikit kesal dengan tingkahnya, aku memutuskan kita harus segera berpisah.
Mungkin terlihat mendadak, tapi kami berdua tidak ingin orang yang kami sukai
salah paham.
Inilah langkah yang terbaik. Tentu saja,
orang bisa berpendapat bahwa bertemu secara diam-diam seperti ini sudah
menyebabkan kesalahpahaman, tapi itu pembicaraan untuk hari lain. Aku hanya
senang kami selesai tanpa ada yang melihat kami.
Akan menjadi
masalah besar jika rumor mulai menyebar bahwa kami mengadakan pertemuan rahasia
atau bahwa aku memerasnya atau semacamnya.
Aku
menyampirkan tasku di bahu dan berjalan keluar dari gedung sekolah tua itu,
hanya untuk menemukan sosok yang familiar berdiri tepat di bawah ruang kelas
tempat kami baru saja berada. Itu Tanaka-san.
“Apa
yang sedang kamu
lakukan di sini?”
“Hiih!?”
Ketika
aku memanggilnya, Tanaka-san melompat mundur dengan energi panik seperti kucing
yang terkejut. Ekspresi wajahnya saat menatapku jelas menunjukkan, 'Oh,
t-tidak.'
Hanya
dengan satu ekspresi itu, aku mengerti semuanya.
“Tanaka-san,
kamu mendengarkannya, kan?”
“Maaf!” serunya, wajahnya pucat pasi
saat ia menundukkan kepala di bawah tatapanku yang menuduh.
Sejujurnya,
aku tidak pernah membayangkan Tanaka-san adalah tipe orang yang suka menguping.
Ini benar-benar tak terduga, dan kebingunganku lebih besar daripada potensi
kemarahanku.
“Mengapa
kamu sangat ingin mendengar
penampilan Fuyusora?” tanyaku,
benar-benar penasaran.
Tanaka-san
dengan canggung mengalihkan pandangannya, dia jelas-jelas tidak ingin menjawab. Tapi dia
pasti tahu dia salah, karena setelah ragu sejenak, dia dengan cepat menyerah.
“...Fuyusora-san
adalah idolaku,” akunya,
suaranya hampir tak terdengar. “Sejak
pertama kali aku melihatnya di sekolah SD.”
Dengan
tatapan kosong di matanya, Tanaka-san mulai menceritakan kisah di balik layar
yang sama sekali tidak kuketahui. Rupanya, dia dan Fuyusora bersekolah di
sekolah yang sama sejak kecil.
Namun,
mereka tidak pernah berada di kelas yang sama dan bersekolah di sekolah musik
yang berbeda, sehingga mereka hanya bertemu beberapa kali setahun di kompetisi.
Meskipun
mereka tidak dekat, Tanaka-san telah menjadi penggemar berat bakat Fuyusora
yang luar biasa sejak kecil dan menantikan penampilannya di setiap kompetisi.
Tapi
begitu mereka masuk SMP,
Fuyusora tiba-tiba berhenti berpartisipasi. Awalnya, Tanaka-san mengira itu
karena dia bergabung dengan klub orkestra
sekolah. Tetapi ketika dia pergi untuk mengamati klub
tersebut, Fuyusora tidak ada di sana.
Setelah
bertanya-tanya, dia mengetahui bahwa Fuyusora bertengkar dengan anggota senior
selama masa percobaan dan memutuskan untuk tidak bergabung. Sekitaran waktu yang sama, dia berhenti
datang ke sekolah musiknya dan tampaknya sangat terpukul oleh seluruh kejadian
itu.
Tanaka-san
berpikir dia tidak akan pernah mendengar suara terompet Fuyusora lagi. Jadi
hari ini, ketika dia merasa Fuyusora mungkin akan tampil, dia tidak bisa
menahan diri untuk mengikuti kami.
“—Jadi,
aku sangat senang mendengar penampilan Fuyusora-san hari ini,” pungkasnya, senyum bahagia
terpancar di wajahnya. Melihatnya begitu bahagia untuk idolanya, kupikir itu
bagus untuknya. Tapi pada saat yang sama, ada sesuatu yang terasa sedikit janggal.
Apa
jangan-jangan Tanaka-san mengagumi Fuyusora Reno bukan hanya
sebagai penampil, tetapi sebagai seorang gadis secara umum?
Ada
sesuatu dalam caranya
berbicara tentang Fuyusora, nuansa yang melampaui kekaguman sederhana pada
seorang idola. Yah, Fuyusora cantik dan membawa dirinya dengan percaya diri
yang tidak terintimidasi oleh siapa pun, jadi tidak mengherankan jika
gadis-gadis lain akan mengaguminya.
Namun,
karena tidak ingin Tanaka-san kehilangan dirinya dalam kekaguman itu, aku
bertanya, “Apa kamu
ingin menjadi seperti Fuyusora?”
Dia
menggaruk pipinya dengan malu-malu. “Dulu
sewaktu kecil aku juga berpikir
begitu. Tapi sekarang tidak lagi. Aku adalah diriku sendiri, bukan
Fuyusora-san.”
Sambil
mengatakan ini, Tanaka-san tersenyum. Namun, senyumannya itu tidak terasa seperti senyum
seseorang yang telah menerima kenyataan, melainkan senyum yang masih menyimpan
bayangan keraguan.
“Baiklah
kalau begitu, aku ada kegiatan klub, jadi aku akan pulang sekarang.”
“O-Oh. Semoga beruntung.”
Aku
sangat penasaran dengan alasan ekspresi muramnya, tapi sebelum aku sempat
bertanya, Tanaka-san sudah berbalik dan pergi, sehingga
aku kehilangan kesempatanku.
Sebelumnya | Selanjutnya