Chapter 1 — Tahun Pertama Perkuliahan, Awal Agustus, Ayase Saki
Pada pagi
hari setelah satu minggu memasuki bulan Agustus, atau lebih tepatnya, tepat
setelah matahari terbit.
Suasana pagi
di pusat kota yang dikelilingi gedung-gedung tinggi tidak memperlihatkan sinar
matahari. Perbukitan di sebelah
timur berwarna merah, dan puncaknya masih berubah dari ungu menjadi biru,
gedung-gedung tinggi menjulang ke arah langit yang bergradasi, seperti gigi
sisir yang hilang.
Dalam
perjalanan pulang menuju Shibuya dari
Nakanosakaue, tempat
di mana terdapat 『Lucca
Design. Studio』 . aku melihat pemandangan kebangkitan kota tersebut dari jendela
kereta awal.
Kereta
awal—yaitu kereta pagi pertama.
Tentunya,
inilah pengalaman pulang di pagi hari untuk pertama kalinya dalam kehidupanku.
Aku
berhasil menjaga kesadaranku
hingga stasiun Shinjuku-sanchome,
tetapi tiga stasiun berikutnya menuju Shibuya sangat mengerikan. Begitu aku duduk di kursi, aku hampir tertidur. Aku dengan panik berdiri dan pindah ke
dekat pintu kereta.
Jika aku
duduk, aku pasti akan tertidur.
Aku
merasa lelah... sangat lelah.
“Haa...”
Tanpa
sadar, aku menghela napas.
Perjalanan
melintasi tiga stasiun terasa seperti berada dalam mimpi, dan
saat kereta meluncur ke peron yang sudah familiar, aku mendengar suara lonceng
tanda keberangkatan dan melompat turun tepat waktu.
Setelah
melewati gerbang tiket, aku keluar dari stasiun
dengan langkah goyah.
Sekarang
sudah memasuki pukul 5:30 pagi. Sambil menggosok kelopak mata
yang hampir terpejam, aku
memaksakan diri untuk membuka mata dan mengikuti jalan pulang yang sudah biasa.
Meskipun dalam keadaan setengah
tertidur, pikiranku penuh dengan persiapan acara yang akan datang.
Pameran [Roppongi Art Festa], yang
merupakan pekerjaan terbesar yang pernah dilakukan oleh kantor desain Ruka-san,
sedang memasuki tahap akhir persiapan.
Kami
sudah berada di tahap penyelesaian menjelang acara.
Atasanku,
Akihiro Ruka, memegang posisi sebagai
direktur kreatif keseluruhan. Dia bertanggung jawab untuk mengawasi penempatan
dan struktur semua karya seni yang akan dipamerkan, serta menghadiri
pemasangan, memeriksa pengiriman, dan menangani masalah darurat.
Sebagai
sekretaris Ruka-san, pekerjaanku semakin menumpuk. Dan kali ini, aku harus melakukan ‘pekerjaan lembur’
untuk pertama kalinya.
Ciri
utama pameran ini adalah menggunakan kota itu sendiri sebagai lokasi
acara.
Artinya,
kami memanfaatkan rute yang biasa dilalui orang-orang untuk berbelanja dan
bekerja sebagai area pameran, sehingga meskipun tempat tersebut adalah lokasi
seni, lalu lintas orang tidak pernah berhenti dari siang hingga malam.
Akibatnya, ada lokasi tertentu di mana pekerjaan besar hanya dapat dilakukan
pada larut malam. Dalam kasus semacam itu,
kami tidak punya pilihan lain selain
harus hadir hingga larut malam di tempat-tempat itu.
Biasanya,
meskipun sudah waktunya pulang, aku tetap tinggal di kantor, menangani
panggilan yang terus-menerus masuk, dan menunggu hingga waktu yang dijadwalkan
untuk hadir. Karyawan kantor yang biasanya mengerjakan tugas lain juga ikut
membantu kemarin. Banyaknya jumlah karya yang dipamerkan berarti banyak kontak
yang harus dihubungi, dan hanya untuk berkomunikasi saja memerlukan banyak
tenaga. Yang paling membuat panik adalah ketika menerima laporan bahwa video
untuk strategi promosi tidak selesai sesuai jadwal dan mengalami keterlambatan.
Untuk menyelesaikannya, kami membutuhkan lebih banyak tenaga, jadi aku
menghubungi pihak-pihak terkait untuk meminta bantuan.
Demi
menyesuaikan jadwal yang molor, waktu pengiriman malam itu tidak bisa diubah,
dan meskipun aku sudah dewasa, pengawas tertua, Wada-san, yang awalnya menolak
membiarkanku, yang belum genap 20 tahun, tetap akhirnya mengalah.
Aku juga
mengangkat tangan untuk berpartisipasi karena kuliahku sedang libur.
Bohong
rasanya jika aku bilang bahwa aku tidak sedikit pun
mengidamkan pengalaman begadang untuk bekerja. Namun, begitu dimulai, pekerjaan
tetaplah pekerjaan.
Aku tidak
bisa menyamakannya dengan suasana festival seperti persiapan
festival budaya.
Meskipun
begitu, tugasku tetaplah sebagai asisten Ruka-san, jadi meskipun ada kelelahan
fisik karena mengikutinya seperti anak bebek, itu bukan
pekerjaan yang membuat sarafku terkuras seperti yang dialami Ruka-san.
Hanya melihatnya dari samping saja sudah membuat
perutku terasa sakit.
Apalagi,
hal yang membuat Ruka-san sangat
stres adalah berurusan dengan para seniman. Semakin serius masing-masing dari
mereka terhadap karya mereka, semakin kuat pula keinginan mereka terhadap
pameran. Akibatnya, mereka sering mengatakan bahwa mereka tidak puas dengan
penempatan karya dan meminta penyesuaian posisi menjelang acara.
Ruka-san,
sambil memijat pelipisnya, harus bolak-balik menjawab setiap panggilan yang
masuk.
“Bukannya
tidak masalah jika kita hanya bertahan pada apa yang sudah
ditentukan sebelumnya?”
Ketika
aku mengatakannya di lokasi pemasangan, Ruka-san hanya tersenyum pahit dan
menjawab.
“Pekerjaan
kita adalah memahami dan menjaga jadwal, tapi bukannya berarti semuanya harus selesai
tanpa masalah.”
Aku
mengerutkan alis. Apa maksudnya?
“Tapi,
keputusan tersebut sudah
ditentukan sejak lama.”
"Meski
begitu, seorang pembuat karya akan selalu ingin memikirkan kembali dan
memperbaiki hingga menit-menit terakhir. Begitu juga saat kita mendesain. Tentu
saja, menjaga tenggat waktu itu penting. Itulah prasyarat utama, tetapi jika
kualitas acara menurun, itu juga akan
menimbulkan masalah tersendiri.”
“Tapi—”
Aku
berkata sambil memperhatikan pekerjaan yang sedang dilakukan untuk menampilkan
panel besar satu meter lebih tinggi dari lokasi yang direncanakan.
“Itu
hanya perbedaan kecil...”
“Itulah
yang menentukan kualitas, apa itu diperhatikan atau tidak. Tuhan ada di dalam
detail. Coba lihatlah dari
sini.”
Setelah
aku bergerak ke posisi Ruka-san dan berbalik.
“Apa kamu bisa melihatnya? Pada
waktu ini, ketika lampu neon menyala, cahaya dari lampu itu akan memantul di
panel itu.”
Memang,
itu hanya bisa terlihat jika aku mengerutkan mata. Namun, seperti yang
dikatakan Ruka-san, warna merah cahaya lampu memantul di kaca dinding gedung
dan cahaya itu sedikit memantul.
“Tapi,
nuansa lukisan itu akan berubah saat
dilihat di bawah sinar matahari dan saat dilihat di malam hari.”
“Itulah
poin yang bagus. Memang, pameran di tengah kota seperti ini berbeda dengan seni
yang dilihat dalam lingkungan permanen seperti museum. Namun, pihak
penyelenggara harus mempertimbangkan perbedaan itu dan merancang agar tampil
sebaik mungkin. Dan bagi seniman yang melukis gambar itu, perbedaan yang
dihasilkan oleh pencahayaan malam mungkin sudah melampaui batas toleransi
mereka.”
“Hmm.”
Ternyata,
perbedaan kecil yang tidak bisa diketahui tanpa mencoba memamerkannya, terasa
seperti perbedaan besar bagi para peserta
pameran.
“Tentu saja
aku tidak mendengarkan semua permintaan dengan sembarangan.
Tapi tujuan kita bukan
hanya untuk menjalankan acara tanpa hambatan, melainkan untuk berhasil. Jika kita merasa ada cara untuk membuatnya
lebih baik, kita harus
melakukan yang terbaik.”
Meskipun
begitu, terkadang ada orang-orang yang hanya ingin mengeluh, dan harus melayani
mereka juga adalah sumber stres, kata Ruka-san sambil
mengangkat bahunya. Mungkin
itu menunjukkan bahwa di lapangan, tidak semuanya berjalan sesuai rencana.
Untungnya,
penyesuaian posisi karya itu tidak memakan waktu lama untuk diselesaikan.
Ruka-san
menuju lokasi pameran berikutnya.
Aku
mengikuti di belakangnya dengan tablet yang berisi perangkat lunak manajemen
jadwal. Aku terus-menerus menjawab telepon dan meneruskan panggilan, sambil
sesekali membalas email. Pekerjaan semacam itu berlangsung terus hingga akhir
waktu pengiriman.
Ketika
akhirnya kami selesai dan dibubarkan, waktu sudah melewati kereta terakhir dan
mendekati waktu kereta pertama.
Aku ingin
segera masuk ke tempat tidur dan tidur lelap.
Itulah
yang terus-menerus berputar di kepalaku.
Ketika
aku tiba di apartemenku, pikiranku benar-benar tidak bisa berfungsi lagi.
Setelah
melewati lobi, aku menekan tombol untuk memanggil lift dan akhirnya bisa menghela
napas lega.
Sekarang yang tersisa hanyalah tidur.
“Ara,
Saki, kamu baru pulang?”
Aku
terkejut mendengar suara yang sudah familiar dan menoleh.
“Ah...
Ibu? Kenapa ada di sini?”
“Eh?
...kamu baik-baik saja?”
“Aeh?”
Sejenak, aku tidak mengerti mengapa dia
khawatir, kemudian menyadari bahwa aku sulit berbicara.
Tidak
boleh, tidak boleh.
“Aku
sudah bilang di pagi hari kalau malam
ini aku harus membantu di toko, jadi aku baru
bisa pulang pagi-pagi sekali.”
“Ah...”
Ibuku
yang sedang cuti kerja, tapi ternyata dia dipanggil untuk membantu di bar
tempatnya bekerja karena kekurangan tenaga kerja, dan kadang-kadang dia dipanggil saat toko sedang
sibuk.
Aku
memang ingat pernah membahas hal itu saat
sarapan.
Kami kemudian menaiki lift yang tiba, dan ibuku
menekan tombol “tutup”. Di dalam kotak lift yang naik
di pagi hari, aku dan ibuku saling memandang.
“Aku tidak
pernah menyangka akan tiba saatnya aku akan pulang pagi-pagi bersama putriku,” katanya.
“Rasanya
memang... agak
aneh.”
Ibuku mulai bekerja di bar sekitaran aku kelas empat SD, jadi dia
berangkat kerja di sore hari dan pulang di pagi hari. Ritme kehidupan
sehari-hari kami benar-benar terbalik, sehingga percakapan dengan ibu saat aku
kecil biasanya dilakukan melalui catatan yang ditinggalkan, dan setelah aku
diberi smartphone, kami lebih sering berkomunikasi melalui aplikasi pesan.
Artinya, pengalaman untuk pergi dan pulang bersama sangatlah sedikit.
“Meski
begitu, kamu bekerja cukup larut malam, ya.”
“Karena kami sedang memasuki tahap akhir.”
“Jangan lupa
untuk menjaga kesehatanmu juga. Jangan terlalu memaksakan diri.
Saki masih pelajar, ‘kan?”
“Aku
tahu. Ibu juga sama, sudah lama tidak berbalik pola
waktu seperti ini. Apa ibu
baik-baik saja?”
“Aku
tidur siang hingga sore sebelum berangkat kerja. Saki sendiri bagaimana?”
Dia
menapatku dengan tatapan cemas seakan-akan menanyakan apa
aku baik-baik saja. Aku menanggapinya dengan senyuman tipis untuk
mengusir kekhawatiran itu.
“Ya.
Mungkin ini pertama kalinya aku berjalan di Shibuya di pagi hari. Rasanya cukup
menyenangkan. Ternyata ada orang yang membawa anjing jalan-jalan pada jam
segini di musim panas.”
Ada
seseorang yang sedang mengajak anjingnya berlari di taman yang hanya terdengar
suara burung gagak. Sekarang, setelah pukul tujuh, cuacanya sudah mulai panas, jadi mungkin
mereka ingin berjalan-jalan dengan anjing sebelum terlalu panas.
“Menarik sekali, iya ‘kan? Pemandangan yang biasanya tidak
terlihat.”
“Ya.”
Di dalam
lift yang menuju rumah, mungkin karena suasana setelah begadang, kami berdua
tertawa bersama. Suara tawa itu mungkin terdengar merusak ketenangan pagi,
tetapi karena berada di dalam lift, kurasa tidak ada yang mendengarnya.
Setelah
berjalan sampai depan rumah, aku mengeluarkan kunci dari dalam tas, dan ibuku mengeluarkan kunci
pada waktu yang sama.
“...”
“...”
Ibuku
perlahan memasukkan kunci kembali ke tasnya, lalu dengan tangan memberi isyarat
untuk mempersilakanku untuk melakukannya.
Karena
kuncinya sama, siapa pun yang membukanya tidak masalah, tetapi mungkin karena
aku berdiri tepat di depan pintu. Entah mengapa, aku merasa sedikit malu.
Saat itu,
aku menyadari bahwa gerakan mengeluarkan kunci dari tas dan memutarnya sangat
mirip dengan ibuku. Mungkin aku sudah melihatnya sejak kecil, dan secara tidak
sadar menirunya. Hal kecil seperti ‘meniru’ seperti itu membuatku merasa
kami seperti ibu dan anak.
Kesamaan
terbentuk bukan karena gen, tetapi karena akumulasi waktu yang dihabiskan untuk
hidup bersama.
Setelah
mengucapkan “aku pulang” dengan
suara pelan, aku melepas sepatuku. Karena semua orang masih
mungkin tidur.
Namun,
saat aku berpikir begitu, terdengar suara pintu dibuka dari ujung lorong dan
wajah Yuuta muncul dari balik sudut. Aku
terkejut karena itu Yuuta.
“Selamat
datang. Kamu bangun sangat pagi, ya.”
Karena sekarang liburan musim panas, mungkin ia
baru saja begadang, tetapi sejauh yang aku tahu, Yuuta adalah seseorang yang cukup menjaga ritme
hidupnya.
“Maaf ya, Yuuta-kun, apa kami membangunkanmu?”
Yuuta menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan ibu.
“Tidak.
Bukan itu... umm, selamat
datang kembali.”
“Ya.
Aku pulang.”
Ibu
tersenyum manis, tapi Yuuta tampaknya ingin mengatakan sesuatu sambil
bergantian melihat wajahku dan ibu.
Kira-kira
ada apa ya? Namun, jika aku bersuara lebih keras, aku pasti akan membangunkan Ayah tiri. Aku berjalan pelan-pelan di
lorong menuju ruang makan. Seperti yang kuduga, Yuuta menunggu di sana. Ibu
mengikuti di belakangku.
Aku
meletakkan tas di kursi ruang makan dan bertanya kepada Yuuta.
“Umm,
ada apa?”
“Bukan
apa-apa... karena aku belum
mendengar kabar darimu sama sekali.”
Ia
mengatakannya dengan ragu-ragu.
“Eh?”
“Saki?”
Ibu
menatapku, dan aku mencari-cari dalam pikiranku.
...Ah.
Aku
cepat-cepat mengeluarkan smartphone dari tas. Ada notifikasi pesan masuk. Gawat, aku melupakannya.
“Saki,
kamu jangan-jangan tidak menghubunginya?”
“Aku
sudah menghubunginya! Aku
sudah bilang akan pulang terlambat. Tapi... itu....”
Menjelang waktu
makan malam kemarin, aku sudah memastikan bakalan
ada lembur. Jadi, aku sudah memberi tahu bahwa malam ini
akan pulang terlambat.
Namun,
saat itu aku masih berpikir mungkin bisa pulang dengan kereta terakhir. Rencana
untuk hadir di pekerjaan larut malam ditentang oleh Wada-san. Namun, jadwalnya terus-menerus meleset, dan aku mengatakan “aku akan melakukannya.”
Saat itu,
aku sudah tahu akan pulang pagi, tetapi karena sudah sibuk, aku benar-benar
lupa untuk memberi tahu bahwa aku akan pulang dengan kereta pertama. Setelah
itu, aku terus menatap komputer dan smartphone yang diberikan perusahaan untuk
urusan pekerjaan, sehingga smartphone milikku tertidur di dalam tas.
Aku sama
sekali tidak menyadari ada panggilan
masuk.
“Ada
kemungkinan kamu akan melewatkan
kereta terakhir, jadi aku menunggu hingga kereta beroperasi. Kupikir, jika itu Saki yang
biasanya, dia mungkin akan memberi
kabar sebelum pulang. Yah, aku
tidak terlalu... khawatir sampai sejauh itu sih.”
Yuuta
mengatakannya dengan raut wajah yang merasa lega.
“Maaf.
Aku seharusnya memberi kabar dengan baik.”
“Ah,
tidak. Mungkin kamu sedang sibuk. Ayah juga bilang aku harus sedikit lebih
percaya padamu. Tapi yah... ini yang pertama kalinya.”
Mata Yuuta
terlihat bengkak. Dari apa yang dia katakan, sepertinya dia tidak bangun pagi
untuk menyesuaikan dengan waktu kereta pertama, melainkan menunggu tanpa tidur.
Aku merasa sangat bersalah.
“Maafkan
aku! Aku sangat lelah dan sedikit linglung.”
Karena
tanpa sengaja aku mengatakan “lelah”, wajah Yuuta semakin terlihat
khawatir, dan aku cepat-cepat menggelengkan kepala di depan wajahnya untuk
menolak.
“Ah,
tidak apa-apa. Aku sudah tidur sebentar.”
“Syukurlah
kalau begitu.”
“Yah, sepertinya Saki juga merasa
menyesal. Mari kita cukupkan sampai di sini. Saki, jangan bikin Yuuta-kun
khawatir.”
“Aku
merasa menyesal...”
“Ya.
Aku juga sedikit terlalu protektif.
Maaf.”
“Jadi,
Taichi-san sedang tidur?”
Yuuta
mengangguk.
“Yah, ia sudah terbiasa.”
Setelah
dipikir-pikir, memang begitu. Ibuku pulang setiap hari pada waktu
yang bisa disebut sebagai pulang pagi.
Namun,
itu karena ibuku sudah dianggap cukup dewasa oleh Ayah tiri, dan faktanya aku masih berusia
18 tahun. Aku mengerti mengapa Yuuta khawatir. Aku merasa saat itu bahwa
ketidakpahaman seperti ini tidak baik.
“Aku
akan memberi kabar dengan baik.”
Yuuta
dengan lembut mengatakan bahwa selama aku baik-baik saja, itu sudah cukup,
tetapi aku tidak boleh terlalu bergantung pada
kebaikannya. Ibuku bertepuk tangan kecil untuk
mengubah suasana. Dia melakukan itu agar tidak membangunkan Taichi.
“Yang
penting kamu mengerti. Jadi, mari kita sudahi
masalah itu di sini. Saki, tidur yang cukup. Yuuta-kun juga
masih pagi, jadi kamu bisa tidur lagi.”
“Ibu
juga, kan?”
“Aku
akan membuatkan sarapan untuk Taichi-san terlebih dulu. Waktuku sudah hampir tiba
untuk berangkat kerjanya.”
Setelah
ibu berkata begitu, Yuuta dengan ragu-rahu mengangkat tangan.
“Oh,
aku sudah menyiapkannya. Karena aku punya waktu luang.”
Baru saat
itulah aku akhirnya menyadari ada sesuatu yang tertutup
oleh penutup hangat di atas meja makan. Ketika aku sedikit mengangkat
penutupnya, aku melihat ada ikan masak, rumput laut, dan salad yang disiapkan.
Cangkir teh dan mangkuk sup kosong, hanya wadahnya saja. Di atas kompor IH, ada
sup miso yang baru dibuat, dan nasi sudah dipanaskan di penanak nasi, jadi sisanya tinggal disajikan saja.
“Terima
kasih, Yuuta-kun. Nah, aku juga akan tidur tanpa ragu,” kata ibuku sambil menguap
sebelum menuju kamar tidur.
“Maaf
sudah menyerahkan semuanya padamu.”
“Kita
saling membantu. Aku juga mungkin akan bekerja hingga larut nanti.”
“Ya.
Saat itu tiba, serahkan saja padaku.”
Kami
saling memandang dan tersenyum. Namun, aku pasti telah membuatnya khawatir.
Setelah sedikit menundukkan kepala, aku kembali ke kamarku.
Aku dan
ibuku tidur nyenyak hingga siang.
Setelah
begadang semalaman, hari itu adalah hari Jumat di tengah musim panas.
Meskipun
aku sudah pergi ke kantor sejak pagi, tapi
semua persiapan untuk ‘Roppongi
Art Festa’ telah
selesai kemarin, jadi tidak ada pekerjaan mendesak yang harus kulakukan.
Aku
bersandar di meja kantor, menikmati hembusan angin sejuk dari AC.
Setelah
begadang semalaman, hari itu adalah hari Jumat di tengah musim panas. Aku
menatap peta Roppongi yang menunjukkan lokasi-lokasi seni yang dipamerkan. Peta tersebut menampilkan area yang cukup luas,
dan aku menyadari betapa besar skala acara ini.
Ruka-san
mengatakan bahwa acara sebesar ini masih dianggap kecil...
Aku
teringat percakapan setelah melewati masa-masa sulit dengan Ruka-san.
“Acara
kali ini berfokus pada pameran seni, dan tidak ada acara langsung sama sekali,
jadi ini masih lebih mudah.”
“Mudah?
Acara yang begini?”
“Kamu
sudah melihat desain ruang konser solo Melissa yang kukerjakan, ‘kan?”
Ruka-san
bertanya, dan aku membalasnya dengan
mengangguk.
Melissa
adalah temanku yang kutemui saat perjalanan sekolah di Singapura. Aku diundang
ke konser Melissa, dan poster yang kulihat di sana menjadi alasanku bekerja di
kantor desain Ruka-san. Ruka-san adalah orang yang mendesain dekorasi tempat
konser.
“Coba
bayangkan acara seperti itu berlangsung di beberapa lokasi di kota secara
bersamaan. Mungkin kita bisa
membuat konsep utama, tetapi mengatur desain ruang acara yang berlangsung
secara real-time di beberapa lokasi sangat berbeda dari acara statis seperti
kali ini. Saat ini, aku masih kekurangan pengalaman dan jaringan. Meskipun
menyedihkan, jika aku diundang ke acara seperti itu, mungkin aku akan
merendahkan diri dan meminta bantuan Iwamoto-san.”
Ruka-san
berkata demikian, dan aku tanpa sadar mengerutkan
wajah. “Iwamoto-san,” yang disebut Ruka-san, adalah
seseorang yang memiliki posisi sebagai atasan di tempat kerja Ruka-san
sebelumnya. Dalam hal pengalaman sebagai desainer, dirinya lebih berpengalaman daripada
Ruka-san dan cukup kompeten (katanya).
Namun, ia
memperlakukan Ruka-san seolah-olah “aku
yang membesarkan anak buahku,”
jadi kesanku terhadapnya tidak baik. Mungkin karena aku menunjukkan wajah yang
jelas-jelas tidak senang, Ruka-san tersenyum getir.
“Jangan
buat wajah seperti itu. Ia
memang orang yang berbakat.”
“Tapi...”
“Aku
tahu. Namun, jika aku mengakui bahwa
ia diperlukan untuk menyelesaikan permintaan yang diterima, aku akan meminjam
bantuan siapa pun. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan banyak artis hanya
karena emosiku sendiri.”
“Tapi,
perasaan Ruka-san juga penting.”
Ketika
aku menjawab demikian, ekspresi Ruka-san sedikit berubah. Senyum pahitnya
menghilang, dan matanya tampak seperti melihat sesuatu yang mengejutkan.
“Saki,
kamu benar-benar gadis
zaman sekarang. Tapi, ya, mungkin itu benar. Orang yang bertindak seolah-olah
mereka bisa hancur cenderung acuh tak acuh terhadap kehancuran orang lain. Jika
kita ingin memikirkan perasaan artis yang berpartisipasi, kita juga harus
menghargai perasaan kita sendiri. Hmm, aku belajar sesuatu.”
“Itu
berlebihan.”
Aku hanya
mengungkapkan apa yang kurasakan.
“Tidak,
tidak. Orang tua sepertiku bisa bertahan hidup dengan bekerja sama dengan anak
muda dan menyerap energi muda. Aku akan menghisap apa pun yang bisa kuhisap. Chuu~chuu~”
Dia
mengatakan hal aneh sambil tersenyum lebar. Ruka-san, bukannya kamu tidak jauh lebih tua
dariku? Entah mengapa, aku merasa sedikit nostalgia saat berinteraksi dengan
Ruka-san. Oh, aku ingat. Yomiuri Shiori.
Dia juga orang yang mengekspresikan diri dengan cara seperti ini sambil
bercanda.
“Yah,
di masa depan, aku ingin memperbesar perusahaan ini dan mencoba mendesain acara
yang lebih besar.”
Melihat
Ruka-san yang berbicara tentang ambisi ini, aku kembali merasa bahwa orang yang
berani mandiri dan mendirikan perusahaan desain di usianya adalah orang yang
sangat ambisius.
Masa
depan, hal-hal yang ingin kucoba, ya.
Saat ini, aku bahkan tidak bisa membayangkan apa yang ingin kulakukan di masa
depan. Apakah akan ada hari ketika aku juga bisa membayangkan masa depan
seperti itu? Tiba-tiba, aku teringat album foto yang kuberikan kepada Yuuta.
Buku kulit dengan gambar kompas di sampulnya. Ketika itu penuh, apa aku sudah
bisa menentukan jalan yang akan kutempuh...?
Album itu
bertujuan untuk tidak melupakan kenangan dan merasakan ikatan antara aku dengan Yuuta.
Namun,
gambar kompas itu membangkitkan satu pemikiran lain dalam diriku. Kompas—yang
berarti kompas magnetik—adalah alat navigasi yang selalu menunjukkan arah
utara.
Sekalipun
aku memegang peta dunia di tanganku,
jika tidak tahu arah, aku tidak akan bisa mengetahui di mana aku berdiri dan ke
arah mana aku harus melangkah. Mungkin album foto itu bisa menjadi kompas
bagiku. Ada firasat seperti itu. Di balik tumpukan kenangan masa lalu, mungkin
aku akan menemukan apa yang ingin kulakukan dan jalan yang harus
kutempuh...
Setelah
ibuku menikah lagi, aku mulai tinggal bersama kakak
tiri seumuran—Yuuta, dan aku mulai bingung apakah harus mengekang perasaanku
yang tiba-tiba tertarik padanya atau tidak. Karena itulah, aku berdialog dengan Asisten profesor Kudo, seorang dosen
etika. Dari situ, aku mulai tertarik pada etika dan memutuskan untuk melanjutkan
studi di Universitas Wanita
Tsukinomiya, tempat beliau mengajar.
Namun,
aku tidak mengikuti seminar Kudo (mungkin karena
aku masih tahun pertama), dan selama liburan musim panas, aku terus datang
ke kantor desain Ruka-san. Aku merasa bahwa perjalanan hidup tidak selalu
lurus. Kurasa menapaki jalan yang berlika-liku adalah hal yang biasa dalam
kehidupan manusia──
“Saki.”
Aku
terkejut mendengar suaraku dipanggil.
Ketika
aku menoleh, Ruka-san berdiri dengan secangkir kopi di tangan. Tidak ada lagi penampilan lelah
dengan lingkaran hitam di bawah matanya seperti beberapa hari yang lalu.
“Kamu ada
waktu luang? Aku berpikir untuk pergi melihat Art Festa dengan teman-teman yang tidak memiliki
pekerjaan mendesak.”
“Kita akan
pergi sekarang?”
Aku tanpa
sadar melihat ke luar jendela. Matahari
masih menggantung tinggi. Sekarang sudah lewat siang
sedikit, dan pasti tidak banyak orang karena panas.
“Apa
kamu membawa payung?”
“Ya.”
“Krim
tabir surya juga penting. Jadi, ayo kita
pergi?”
Aku meninjau kembali rencana hari ini dan
memastikan tidak ada pekerjaan mendesak, lalu menjawab, “Aku ingin pergi.”
◇◇◇◇
Persis
seperti namanya, “Roppongi Art Festa” adalah pameran yang menjadikan
seluruh kota Roppongi sebagai tempat pameran, seperti yang tersirat dari
namanya.
Jadi, di
mana sebenarnya Roppongi?
Menurut
peta yang kubuat dengan menganggap Stasiun Shibuya sebagai pusat dunia,
Roppongi terletak sekitar 30 hingga 40 menit berjalan kaki ke timur dari
Stasiun Shibuya.
Meskipun
tidak bisa dibilang dekat, jaraknya juga tidak terlalu jauh. Jaraknya hanya 15 menit jika menggunakan kereta. Jika menaiki taksi, waktu yang dibutuhkan sekitar
10 menit.
Kami
berempat menaiki taksi menuju Roppongi.
Pesertanya adalah Ruka-san sebagai CEO, Wada-san yang secara resmi adalah staf
tetapi sebenarnya wakil presiden tertua, desainer Tatsumi Shou-san (seorang pemuda berambut pink
yang ceria), dan aku.
Kami tiba
di Roppongi Hills dengan menggunakan taksi,
dan dari sana kami berkeliling mengunjungi lokasi pameran berdasarkan peta yang
ada di brosur.
Aku
melihat kembali nama-nama fasilitas dan perusahaan yang tertera di brosur. Pusat Seni Nasional, Tokyo
Midtown, Mori Building, Asosiasi Promosi Toko Roppongi, dan seterusnya. Sekali
lagi, aku merasakan betapa besar skala acara ini, dan di peta terlihat bahwa
lokasi pameran tersebar di area yang cukup luas.
Jika
tidak berjalan dengan sadar, kami takkan bisa melihat semuanya, dan mungkin
saja kami tidak menyadari bahwa itu adalah pameran di dalam acara yang
sama.
Meskipun sudah menggunakan payung, pantulan dari
permukaan aspal sangat menyengat. Fatamorgana muncul di mana-mana, membuat
jalan tampak berkabut. Sambil mengusap keringat dengan sapu tangan, kami dengan
giat menjelajahi lokasi pameran.
Meskipun itu hari kerja, mungkin karena
liburan musim panas, ada banyak
keluarga yang membawa anak-anak. Ada banyak
juga turis asing.
Semua
orang begitu asyik berjalan menuju tujuan mereka sehingga hanya sedikit yang
berhenti untuk melihat pameran. Karena aku terlibat dalam acara ini, aku merasa
cukup terkejut ketika orang-orang hanya lewat begitu saja. Mungkin perasaanku
terlihat di wajahku, Ruka-san pun berkata,
“Apa
kamu merasa tidak puas karena mereka tidak
melihat?”
“Ya...
Aku mengerti semua orang pasti punya urusan
masing-masing.”
“Kalau
di museum, orang-orang yang datang pasti ingin melihat pameran. Mereka membayar
untuk itu. Tapi seni jalanan seperti ini pada dasarnya adalah seni pertunjukan.”
“Seni
pertunjukan jalanan...”
“Ya.
Kamu menargetkan sejumlah orang yang
tidak ditentukan, bukan hanya penonton; tapi juga orang-orang
yang bahkan tidak tertarik sama sekali.”
Tatsumi-san yang berambut pink, bergabung
dalam percakapan kami sambil menyilangkan tangan di belakang kepalanya.
“Itulah sebabnya menarik perhatian sangat
penting.”
Menarik
perhatian, artinya membuat orang tertarik...
“Begitulah.
Jika mereka tidak melihat, tidak ada perasaan atau penilaian. Sebenarnya, hal
ini juga berlaku untuk karya seni yang dipajang di museum. Karya kita harus
menarik perhatian di antara banyak lukisan dan patung yang dipajang.”
Aku
merenungkan apa yang dikatakan Ruka-san.
Oh, aku
mengerti... Aku adalah sekretaris Ruka-san. Karena aku melihat keseluruhan
acara, mungkin aku kehilangan perspektif itu. Setiap karya seni bekerja sama
untuk mencapai konsep keseluruhan acara, namun di sisi lain, setiap seniman yang berpartisipasi juga
adalah pesaing.
Mereka
harus membuat orang-orang terhubung dengan karya
mereka di antara banyak seni lainnya. Jika tidak, mereka tidak tahu apakah mereka bisa berpartisipasi di pameran
seperti ini lagi atau akan diundang kembali.
Agar dipilih, karya mereka
harus menarik perhatian lebih dibanding yang lain.
Bagaimana
cara membuat orang lebih memperhatikan karya mereka
di antara banyak yang lain?
Para seniman
pasti akan berpikir tentang itu.
Tidak ada
perbedaan mendasar antara emikirkan cara mendapatkan lebih banyak perhatian dari
orang lain dan memikirkan bagaimana menarik perhatian pada seni
yang diletakkan di tengah pemandangan biasa. Kurasa
itulah yang ingin dikatakan Ruka-san.
Pekerjaan
yang dilakukan Ruka-san adalah mengintegrasikan karya seni yang diajukan ke
dalam lanskap kota sambil tetap membuatnya menonjol.
Aku
menatap kembali lukisan besar yang dipajang tepat di depanku.
Itu
adalah karya yang diputuskan untuk dipajang sedikit lebih tinggi dari posisi
dekorasi yang direncanakan pada hari kerja larut malam. Sebuah lukisan abstrak
di atas kanvas besar. Lingkaran dan elips yang dipadukan dengan rumit. Warna
merah yang mencolok dan menarik perhatian... Ah, jadi itu sebabnya pembuatnya
tidak ingin cahaya merah neon tercermin. Bagi orang lain, itu mungkin tampak
seperti perbedaan kecil. Namun, jika hal itu bisa menarik perhatian orang lain
bahkan selama 0,1 detik saja mungkin
sangat penting. Atau mungkin juga dalam mengekspresikan apa yang ingin
disampaikan dan menunjukkan teknik yang dimiliki.
“Menakjubkan,
ya. Semua orang... benar-benar memikirkan hal ini.”
“Kamu ini
bicara apa...”
Ruka-san
berkata dengan nada terkejut.
“Termasuk
dirimu juga, kami semua pasti banyak memikirkannya.”
Wada-san
menambahkan dengan suara tenangnya yang biasa.
“Benar.
Karena itu, lihat, ada orang-orang yang berhenti.”
Ada
pasangan muda yang sedang berfoto selfie di depan karya seni.
Mereka
tidak membawa brosur seperti yang kami miliki, dan tampaknya mereka juga tidak
membaca penjelasan yang terletak di samping karya tersebut, jadi bisa
diasumsikan bahwa mereka tertarik murni dan hanya ingin mengambil foto.
Mengetahui hal itu membuatku merasa bangga.
“Rasanya
menyenangkan, ya ‘kan, melihat
hal-hal seperti itu.”
Wada-san
berkata, dan Ruka-san mengangguk.
“Benar. Ayolah, Saki, kamu seharusnya merasa bangga dan menikmati ini sebagai bagian dari
dirimu. Kamu juga terlibat.”
Setelah
mendengar itu, aku merasa sedikit lebih bersemangat. Mendapat pujian seperti itu membuatku
sangat senang karena aku bisa berkontribusi sedikit dalam acara besar ini.
“Acara
ini pasti kelihatan lebih
keren di malam hari,” kata Tatsumi-san.
“Benarkah?”
“Jika
diterangi dengan
pemandangan malam Hills sebagai latar belakangnya,
pasti akan sangat Instagrammable.”
“Kalau
begitu, apa sebaiknya kita menunggu hingga malam untuk melihatnya lagi?”
Ketika
aku bertanya pada Ruka-san, dia tampak berpikir sejenak sebelum menjawab, “Sebaiknya
kamu menyimpannya nanti saat kamu datang dengan pacarmu.”
“Akhir-akhir
ini, aku membuatmu sibuk. Pacarmu yang itu... Yuuta-kun, ‘kan?
Kamu bahkan belum sempat berkencan dengannya, kan?”
Nama Yuuta
muncul di waktu yang tidak terduga, dan aku terdiam.
“Itu...
ah. Ehm... terima kasih atas perhatiannya.”
Tapi,
aku merasa bimbang untuk mengatakannya.
“Rasanya
seperti sedang memamerkan hasil kerjaku, jadi...”
Tiba-tiba
Ruka-san membuka mulutnya dengan terkejut.
“Eh...?
Jad Saki berpikiran begitu ya?”
“Eh,
memangnya aneh?”
“Ah,
tidak. Ya, mungkin ada tipe orang seperti itu...”
Di
samping Ruka-san, Wada-san tertawa kecil.
“Yah,
itu mungkin terasa aneh bagi Ruka-san. Tapi, Saki-san,
menurutku ketika seseorang melakukan suatu pekerjaan, mereka seharusnya bangga
selama mereka bisa mengatakan, 'Aku telah melakukan pekerjaan dengan baik’.”
“Jadi,
terlepas dari sukses atau gagal... eh, tanpa menghiraukan hasilnya, maksudnya begitu?”
Wada-san
mengangguk.
“Ya.
Lagipula, kamu dibayar untuk
pekerjaan yang dilakukan. Jika kamu melakukan lebih dari sekadar menyelesaikan
pekerjaan, yaitu jika kamu mencapai hasil, maka gajimu juga harus naik.”
Kata-kata
Wada-san membuatku terkejut. Ngomong-ngomong,
aku pernah membahas hal serupa
dengan Tatsumi-san
sebelumnya.
“'Apakah
gaji tahunanmu naik atau turun tergantung pada apa kamu bisa membuahkan hasil.'” begitulah katanya.
Jika
hanya menyelesaikan pekerjaan saja,
gaji yang diterima akan tetap,
tetapi jika berhasil (yang berarti itu adalah hasil), gaji akan naik,
dan jika gagal, gaji akan turun. Ia
bilang ‘Lucca Design. Studio’ adalah perusahaan yang seperti itu.
Namun,
Wada-san mengatakan bahwa kita seharusnya merasa bangga.
“Sukses
dan gagal juga melibatkan keberuntungan. Ada kalanya hal itu tidak bisa dihindari. Tapi jika
kamu melakukan pekerjaan dengan baik, kamu akan mendapatkan gaji dan bisa menghidupi
diri sendiri. Itu sudah merupakan hal yang luar biasa menurutku. Apalagi ketika
kamu mendekati usia pensiun, perasaan itu semakin kuat.”
Ketika
seorang veteran seperti Wada-san mengatakannya dengan tulus, aku merasa
seolah-olah itu benar.
Mungkin
aku tidak ingin menunjukkan hasil kerjaku karena teringat pada ayahku. Terutama
tentang orang yang selalu memamerkan kesuksesannya dan yang berlebihan
menyalahkan diri sendiri saat gagal.
Namun,
ketika seseorang seperti Wada-san mengatakan, “Hanya
dengan bisa menghidupi diri sendiri itu sudah luar biasa, jadi kamu boleh merasa bangga,” ada bagian dari diriku yang
setuju dengan itu.
Aku
berpikir, meskipun hal yang sama diucapkan oleh orang yang berbeda, kesannya
bisa berbeda.
“Meski begitu,
tapi kupikir Wada-san melakukan lebih dari sekadar menyelesaikan pekerjaan.”
“Jadi,
apa itu berarti gajiku akan naik tahun depan?”
Ruka-san
berkata, dan Wada-san membalas dengan senyuman.
“...Akan
kupikirkan. Nah, kesampingkan hal itu.
Saki juga telah bekerja keras. Kamu telah
membantu menyelesaikan semua pekerjaan yang merepotkan. Jadi, kamu bisa merasa bangga
pada pacarmu!”
“Ah.”
“Jika
kamu melakukan pekerjaan yang baik, kamu harus memamerkannya. Jika pria itu
merasa repot dengan hal itu, mendingan kamu
meninggalkannya saja.”
“Itu...
agak. Itu pemikiran yang cukup liar.”
Tapi,
yah...
Aku
menatap lukisan di depanku dan berpikir. Setelah berkeliling, aku merasa sangat menikmati acara pameran ini
daripada yang kubayangkan. Meskipun aku menjadi
pihak penyelenggara, aku tetap merasa itu menarik.
“Terima
kasih atas nasihatnya.”
Aku ingin
berbagi perasaan menarik itu dengan Yuuta. Aku benar-benar berpikir demikian.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
