true became fiction when fiction's true

Saturday, 21 September 2019

The Result when I Time Leaped Chapter 68


Situasi Keluarga Hiiragi Bagian 1

Karena Hiiragi-chan mudik ke rumah orang tuanya, apartemennya jadi kosong selama dua hari. Dia memberitahuku kalau aku bebas menggunakan apa saja yang ada di apartemennya, tapi gagasan pergi ke sana tanpa adanya Hiiragi-chan memberiku perasaan aneh, jadi aku memutuskan untuk menunggunya kembali.
Kami masih menjaga komunikasi melalui SMS dan telepon seperti biasa, tapi pada hari itu, ada panggilan telepon yang bukan dari Hiiragi-chan.
“Halo? Dorobo-kun?”
“Eh? Natsumi-chan? Kenapa kau menelepon dari ponsel Haruka-san ...?”
“Itu karena aku tidak tahu nomor ponselmu, jadi aku meminjam ponsel Haru-chan. Yang lebih penting lagi, ini gawat sekali! ”
“Eh, memangnya ada apa?”
“Haru-chan — dia mungkin akan menikah!”
“Haaaaaaaaaaaah!?”
Apa-apaan ituuuuuuuu !?
“Ah. Apa mungkin dia akan menikahiku?”
“Nggak. Itu sepenuhnya salah.”
Ya, tentu saja, sih.
“Tunggu. Apa sebenarnya yang terjadi?”
“Kamu tahu kalau Haru-chan sebenarnya tidak ingin pulang ke rumah, ‘kan?”
“Eh ..... Apa?”
“Jika kamu tidak tahu, itu berarti ini bukanlah sesuatu yang harus aku katakan jadi aku takkan memberitahumu ... Bagaimanapun juga, ini sudah diputuskan kalau nanti akan ada wawancara pernikahan."
Hiiragi-chan memang tak pernah membicarakan tentang keluarganya atau orang tuanya. Aku tidak ingin memaksanya untuk memberitahuku, karena aku percaya pasti akan tiba waktunya di mana dia sendiri akan memberitahuku tentang hal itu. Namun, tampaknya hal itu datang dalam bentuk yang tidak terduga.
“Tentu saja, karena dia sudah berpacaran denganmu, jadi dia menolak terus-terusan. Namun, dia terpaksa menerimanya. ”
“Bagaimana dengan Haruka-san? Bagaimana keadaannya sekarang?”
“ Saat ini, dia jadi tahanan rumah ... kurasa dia tak ingin kamu mengetahui hal ini.”
Tahanan rumah? Apa yang sedang terjadi, sih? Dia seperti gadis yang penuh kepedihan.
Suara Natsumi-chan di sisi lain telepon tampak lebih panik dari biasanya, ketika dia mengulangi kalimat, “Apa yang harus aku lakukan !?” .
“Tenanglah dulu. Kapan pertemuan pernikahan itu terjadi?”
“Besok!”
Apa itu akan berubah dari pertemuan pernikahan paksa menjadi pernikahan yang sebenarnya? Jika aku menunggu, Hiiragi-chan pasti akan kembali — Tidak,  jika dia terus menolak, bukannya nantinya dia akan dimasukkan dalam tahanan rumah oleh keluarganya lagi?
“Aku akan pergi besok. Apa kau tahu tempatnya di mana?”
“Y-Ya. Aku mendengar info ini dari pembantu yang bermulut ember. "
Mungkinkah keluarga Hiiragi-chan benar-benar orang tajir? Natsumi sendiri pergi ke sekolah bonafid khusus perempuan. Dia barusan bilang pembantu tanpa ragu sama sekali.
Kalau dipikir-pikir lagi, aku tidak tahu Hiiragi-chan dari alumni mana. Mungkin itu sama dengan sekolahnya Natsumi-chan ...?
“Tempatnya di Youto Hotel, lantai 32. Waktunya pukul 12 siang tepat! Maaf, hanya itu yang aku tahu.”
“Tidak, itu saja sudah cukup. Terima kasih banyak.”
Mengakhiri panggilan, aku menutup ponselku.
Youto Hotel adalah hotel mewah yang bertempat di prefektur sebelah. Dari sini, perlu sekitar 2 jam dengan naik kereta api.
Meski aku bilang aku akan pergi, tapi apa yang bisa kulakukan nanti di sana. Kabur bersama Hiiragi-chan? Layaknya pangeran dalam sebuah dongeng?
Pada wawancara pernikahan, orang tua dari kedua belah pihak mungkin akan hadir satu sama lain. Jika aku bertindak seperti orang jahat dan kabur dengan Hiiragi-chan. Bagaimana setelah itu — bagaimana dengan masa depan kami  nanti?
Jika diriku yang sekarang cuma datang untuk mengatakan salamku kepada Hiiragi-chan ... Mana mungkin kesan mereka akan baik padaku. Masih ada faktor negatif diriku yang berstatus murid SMA dan Hiiragi-chan yang menjadi guruku.
Tetap saja, aku tidak bisa duduk dan berdiam diri terus. Mereka adalah orang tua Hiiragi-chan, yang bahkan pada masa ini, bersikeras untuk melakukan wawancara pernikahan, dan memaksa jika Hiiragi-chan menolak. Jika aku membiarkannya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Hiiragi-chan.
Menghabiskan malam tanpa tidur, aku memasukkan uang sebanyak mungkin ke dompetku, dan meninggalkan rumah.
Untung saja kemarin aku bekerja part-time.
[Dorobo-kun, kamu bilang akan menghentikan wawancara pernikahan, tapi bagaimana caranya?]
Aku menerima pesan SMS dari Natsumi-chan. Sepertinya dia menyalin nomorku dari ponsel Hiiragi-chan.
Jika aku berhenti di sini, pada akhirnya, hal yang sama mungkin akan terulang kembali.
[Meski begitu, aku tidak bisa berdiam diri terus.]
Namun, cara khusus untuk menangkalnya masih belum terlintas di dalam pikiranku.
Aku berusaha menyangkal Natsumi-chan sebanyak mungkin. Masa depanku bersama Hiiragi-chan akan jatuh ke tempat yang buruk, tapi jika aku tidak melakukan apa-apa, hal itu akan bertambah menjadi lebih buruk.
[Itu bagus. Haru-chan benar-benar sangat dicintai.]
Nishishi, bayangan tawa cekikikan Natsumi melayang di pikiranku.
[Dorobo-kun, lakukanlah yang terbaik! Aku akan mendukungmu!]
Setelah naik kereta dan tiba di stasiun terdekat, aku segera menemukan hotel yang akan menjadi tempat pertemuan.
Itu adalah gedung tinggi yang bisa dilihat sampai harus mendongakkan kepala, dan begitu aku masuk, aku melihat panduan hotel. Di lantai paling atas ke-32 adalah restoran kelas atas. Pemandangan kota dari sana mungkin terlihat sangat bagus.
Untung saja aku tidak datang dengan seragam sekolah. Aku tahu kalau tempat pertemuannya di hotel, jadi hari ini, aku diam-diam meminjam setelan dari ayahku. Jika kau melihanya secara seklias, rasanya tidak terasa aneh. Tapi jika kau melihat wajahku, aku langsung bisa dikenali sebagai terlalu muda.
Aku akan mengambil Hiiragi-chan sebelum wawancara pernikahan dimulai dan bertanya tentang situasinya.
Sementara aku menunggu dewi pujaanku di lobi, meski waktunya semakin dekat, aku masih belum melihatnya sama sekali.
Dia pasti akan lewat sini. Sekarang sudah lewat 12.
Aku mungkin terlalu parno, tapi mungkin ada beberapa jalur khusus atau lift untuk VIP …... Misalnya, lift yang memungkinkanmu untuk pergi dari tempat parkir bawah tanah ke lantai paling atas.
Ya, masih ada kemungkinan seperti itu.
Karena panik, aku langsung naik lift dan menuju ke lantai 32.
Setelah keluar dari lift, aku cepat-cepat memasuki restoran dan meminta pelayan membawaku ke tempat duduk.
Setelah melihat sekeliling sebentar, aku bisa menemukan Hiiragi-chan.
Hari ini, dia mengenakan gaun malam yang dewasa, area bahu, dan bagian dadanya sedikit terbuka. Gaun itu terlihat seksi dan cocok untuknya, tapi aku merasa itu bukan sesuatu yang cocok dengan selera Hiiragi-chan.
Saat ini, Dia sedang tersenyum canggung. Di sebelahnya ada orang yang tampak seperti Papa dan Mama Hiiragi-chan. Di seberangnya ada kandidat wawancara pernikahan hari ini dan orang tuanya.
Kandidat pernikahannya tampak berada di usia awal 30-an. Ia terlihat seperti orang kaya dengan usia yang cukup untuknya.
Demi bertanya mengenai situasinya secara lebih rinci, pertama-tama aku harus memberitahu Hiiragi-chan kalau aku ada di sini. Namun, dia mungkin tidak membawa ponselnya ... Bagaimana aku harus melakukannya ...?
Aku melihat seorang pelayan mendekati meja Hiiragi-chan dan langsung mendapat ide.
Aku mengangkat tanganku.
“Tolong sebotol anggur merah untukku.”
“Dimengerti.”
Karena merek yang murah takkan mempan, aku memesan merek anggur yang sedikit mahal.
Mungkin karena aku terlihat seperti sudah terbiasa memesan, atau mungkin karena setelan yang aku kenakan, atau mungkin juga karena kesan yang aku miliki seperti kesan seorang pria dewasa, si pelayan tidak keberatan dengan usiaku dan membawa sebotol anggur merah yang aku pesan. Tanpa disangka-sangka, menjadi sedikit berani kelihatannya membuat lebih sulit untuk diperhatikan.
Meski aku tidak akan minum anggur ini, sih.
Untuk menjalankan ideku, aku pergi ke kamar kecil dan mengatur pakaianku agar terlihat seperti pelayan. Aku juga mengubah gaya rambutku agar serasi.
Memegang bagian bawah botol dengan tanganku, aku mendekati meja Hiiragi-chan dengan wajah tenang.
Bingo, mereka sedang sesi makan malam seperti yang aku kira. Apalagi menunya daging, waktu yang pas untuk munculnya anggur merah.
Dengan ekspresi serius, aku memegang sebotol anggur yang aku beli dan berkata, "Sebotol anggur merah Bordeaux tahun 1996," atau sesuatu seperti itu. Aku tidak pernah menyangka kalau pengetahuan yang aku pelajari selama bekerja part-time waktu kuliah dulu akan berguna di sini.
Dengan sikap seperti pelayan, aku menuangkannya ke gelas Hiiragi-chan. Para Orang tua tersenyum, tapi karena Hiiragi-chan terus menunduk ke bawah dan tertekan, dia tidak melihat ke arahku sama sekali jadi dia tidak menyadari keberadaanku.
Tring, aku mengetuk gelas dengan botol. Dan pada volume yang mudah didengar, aku segera meminta maaf.
“Maaf atas keteledoran saya.”
Dia melirik sekilas, dan mata kami saling bertatapan.
“Ah.”
“Ketimbang anggur, apa bir lebih sesuai dengan selera anda, nyonya?”
“Ya…”
Hiiragi-chan berusaha keras agar air matanya tidak jatuh.
“Kamar kecil terletak di sebelah sana, silahkan digunakan jika perlu.”
Lebih baik menyelinap dulu.
Terlepas niatku tersampaikan atau tidak, Hiiragi-chan mengangguk berulang kali.
Baik. Sebelum aku ketahuan, aku membungkuk ringan dan menjauhkan diri dari meja.
Hiiragi-chan berdiri dari kursinya, dan menuju ke kamar kecil. Aku buru-buru mengikuti dan mengejarnya.
“Seiji-kun.”
Tanpa masuk ke dalam, Hiiragi-chan sedang menunggu di pintu masuk, dan saat melihat kedatanganku, dia langsung memelukku.
“Fueeeeeee ... Seiji-kun ... Seiji-kun ...”
Dengan cara menangis yang aneh, Hiiragi-chan membenamkan dirinya dan menangis di dadaku.
“Tung—— !? Berhenti. Masih ada banyak orang di sini.”
Ya, di dalam hotel.  Masih ada banyak orang berlalu lalang.
Aku kemudian menemukan pintu tangga darurat, dan menarik lengan Hiiragi-chan menuju area yang sepi.
“Apa kamu bekerja di sini ...?"
Hiiragi-chan bertanya sambil masih memelukku.
“Tentu saja tidak. Aku datang ke sini karena mendengar kabar dari Natsumi-chan ... Apa kau baik-baik saja? Rasanya pasti berat, ya? ”
“Terima kasih sudah datang. Dan juga, aku minta maaf sudah membuatmu khawatir, aku baik-baik saja sekarang. Aku dipaksa mengikuti wawancara pernikahan kali ini. Tentu saja, aku merasa tidak enak untuk pihak lain, tapi aku menolaknya. ”
“Begitu ya. Syukurlah…"
Tetap saja, bukannya ini terlalu memaksa? Kesampingkan diriku, jika itu Hiiragi-chan, mungkin masih ada banyak yang bersedia meminang Hiiragi-chan sebagai pengantin bahkan tanpa wawancara pernikahan.
“Kamu datang untuk membantuku, kan?”
“Bukan, tapi ... Tidak, iya sih, tapi ...”
“Ya ampun, mana yang bener jadinya?”
Ucapnya sambil tersenyum.
Itu adalah senyum yang aku kenal dengan baik. Kali ini, kepalaku yang dibelai.
“Aku baik-baik saja. Jika aku sudah tidak tahan, aku akan langsung pulang dari tempat ini, dan itu akan sangat super membosankan, tapi aku akan berhasil dengan senyum palsu.”
“Sepertinya kau baik-baik saja.”
Dia membelai dadaku dengan cara normal.
“Tidak. Itu karena Seiji-kun datang untukku, tahu?”
Dia tersenyum, dan mencium pipiku.



1 comment:

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat