The Result when I Time Leaped Chapter 119



Hiiragi-chan dan Rumah Hantu - Bagian Kedua

Ketika aku akhirnya terbiasa dengan suasana gelap rumah berhantu, aku jadi lumayan tenang.
“Ji-Jika dilihat dari dekat, de-dekorasinya agak murahan ... Kau bisa melihat ada kardus di beberapa tempat.”
“Dorobo-kun, ucapanmu cukup kasar bagi orang-orang yang sudah berusaha untuk membuatnya, lho?”
It-Itu benar ... Aku perlu mengakui dengan benar para anak kelas 1 yang bekerja paling keras untuk ini.
“Aku juga berpikir itu tidak sopan untuk orang-orang yang membuatnya jika matamu terus tertutup.”
Fufufu, Natsumi-chan menatap Hiiragi-chan dan tertawa.
“Aku mau pulang saja…”
Keadaan mental Hiiragi-chan sudah berantakan.
“Ketika aku pulang, aku akan membungkus diriku dengan selimutku ...”
Hiiragi-chan gemetaran seperti anak rusa yang baru lahir. Aku harus melindunginya ...!
Saat kami mengikuti arah panah samar yang terletak di bawah kaki kami, langkah kaki bisa terdengar mengejar kami. Picha, picha.
“Eh, apa? Si-Siapa? Kedengarannya ada sesuatu yang akan datang, Natsumi-chan! ”
“Sesuatu akan datang!”
Dia sangat kegirangan sekali ... Aku pikir dia akan merusak segalanya dan berkomentar seperti, "Sebenarnya, ini ..." , tapi dia tidak melakukannya sama sekali! Kenapa dia jujur ​​di tempat seperti ini!
Aku mempercepat langkah kakiku untuk pergi saat…..
“Ginyyaaaaaaaaaah!?”
Hiiragi-chan menjerit seperti kucing.
“Uuuuooowaaaahh !? Eh, apa !? ”
Je-Jeritan itu mengejutkanku ...! 
Saat itu, sesuatu yang dingin menyentuh leherku.
“Fuuooooowwaaaaaaann!?”
Kupikir jantungku bakal copot tadi. Jadi, inilah alasan Hiiragi-chan berteriak—
Ada suara bisikan yang terdengar di telingaku. Suara ... perempuan.
“... ke ... pa ... ku ... Apa kamu ... me ... li ...”
Apapapapapa!
“... Kepalaku ... Apa kamu melihatnya?”
Ketika aku menoleh ke belakang, seorang perempuan berpakaian putih tengah berdiri. Sesuatu yang tampak seperti darah berceceran di pakaiannya, dan di atas leher tidak ada apa-apa.
“————!?!?!?!?!?”
Dia perlahan-lahan mengulurkan tangannya ke arahku.
“Kepalaku ... Apa kamu melihatnya ...?”
“Ak-Aku tidak tahu ...”
Mataku berkaca-kaca. Kenapa tidak ada di sana? Kepalanya. Apa itu riasan spesial !?
“... Te ... itu ... Temukan ... itu ...”
“Tidak tidak Tidak. Aku tidak bisa, tidak bisa. Lagipula aku tidak tahu wajahmu! Aku harus bergegas ... tujuannya adalah — pintunya tidak terbuka! ”
Pintunya terkunci. Ah, jadi ini adalah tipe di mana kau harus menyelesaikan teka-tekinya dulu (suara gemetar).
“Apa? Apa yang sedang kamu bicarakan? Kita masih belum bisa keluar juga ?? ”
Hiiragi-chan berbicara dengan suara yang sama gemetarannya.
“……!”
Hantu tanpa kepala mencengkeramku dengan kuat dan mencoba memisahkanku dari Hiiragi-chan. Tetap saja, kekuatan cengkeraman Hiiragi-chan masih lebih kuat, dan sepertinya dia tidak mau melepaskannya.
“……!”
“Kamu baru saja ditarik. Kenapa?? Apa itu???”
Hiiragi-chan terlihat sangat panik. Natsumi-chan berusaha menahan tawanya, tampak seperti hamster yang mengisi mulutnya dengan biji bunga matahari.
Ah. Aku menegerti. Apa yang itu! Apa itu, benar? Gadis tanpa kepala, ‘kan?
“Sensei, ayo kita kembali sebentar.”
“Kenapa kita harus kembali !? Kita akhirnya bisa sampai di sini ... Natsumi, coba katakan sesuatu! ”
“Ku-fufufu ... fufufu, in-ini buruk ... aku mungkin mati karena kebanyakan tertawa ...”
Sambil menyeret Hiiragi-chan, yang tidak mau bergerak sedikit pun, aku pergi ke tempat kami melihat manekin yang ada kepalanya saja dan memberikannya kepada gadis tanpa kepala.
“Ini! Apa baik-baik saja dengan ini?”
“……Teri……ma……kasih…”
Dengan semacam mekanisme, gadis tanpa kepala itu tiba-tiba menghilang.
“Aaaaaaa-ayolah, emangnya dia tidak bisa menemukannya sendiri !? Padahal cuma di sebelah sana! Hei kau! Cari tahu apa artinya saat pepatah bilang tempat paling gelap itu ada di bawah tiang lampu !! ”
Sejak dia pergi, aku menjadi marah.
“Dorobo-kun ... Tidak bisa mengatakannya langsung, itu payah, lucu sekali...”
Be-Be-Berisik.
Pachin, saat kami menuju ke arah itu, pintu keluar yang baru saja ditutup, mulai terbuka.
Begitu kami keluar, ini mungkin sudah jelas, tapi kami berada di gedung sekolah yang sangat aku kenal. Karena aku kembali ke sesuatu yang aku kenali setiap hari, aku mengelus dadaku dengan lega.
Hiiragi-chan terduduk tak berdaya.
“Kakiku jadi lemas ...”
“Apa kau baik-baik saja?”
“Tidak ... aku mungkin sudah ...”
Tampaknya dia menerima lebih banyak kerusakan dari yang diperkirakan.
“Haaah, itu menyenangkan ... aku bisa hidup dengan ingatan itu selamanya ...”
“Kamu…!”
“Pada pertengahan jalan, kamu bisa melihat sosok sebenarnya dari hantu itu, dan sungguh, itu sangat lucu sampai-sampai perutku jadi sakit.”
Sosok hantu yang sebenarnya? ... Itu benar, di mana Sana ...?
“Kenapa kamu melongo begitu? Dia itu Sana-chan. Gadis tanpa kepala itu adalah dia, tahu? ”
“Eh, tadi itu, Sana?”
Benarkah…? Pada makan malam hari ini, bila dia membicarakan tentang diriku ...! Aku memeluk kepalaku. Martabatku sebagai kakaknya ...! Aku tidak akan bisa menjaganya ... !!
“Yang benar saja…?”
“Aku disuruh diam oleh Sana-chan, jadi kupikir aku akan melakukan itu.”
Tampaknya pengunjung berikutnya telah masuk, karena jeritan datang dari dalam. Hiiragi-chan tiba-tiba mengejang saat itu terjadi.
“Ya ampun, Haru-chan, kamu sudah dewasa, dan kakimu masih seperti itu.”
“Mau bagaimana lagi, ‘kan? Aku tidak terbiasa dengan yang beginian ...”
Hiiragi-chan mengeluh dengan mata berkaca-kaca.
“Sensei, apa Anda mau ke ruang UKS? Anda tidak bisa bergerak dengan baik, bukan? ”
“Ya…”
Karena masih ada banyak orang, mana mungkin aku bisa menggendongnya. Dengan bantuan Natsumi-chan, kami menuju ke ruang UKS.
Tampaknya guru UKS tidak ada di sana, dan bagian dalamnya sepi karena ada hiruk-pikuk festival sekolah. Aku menyuruh Hiiragi-chan duduk di tempat tidur.
“Maaf ... Kenapa kalian tidak pergi bersenang-senang saja? Lagipula, besok aku masih bisa ke sini lagi. ”
Apa yang ingin kamu lakukan? Natsumi-chan bertanya padaku dengan matanya.
Terakhir kali, aku bersama Fujimoto mengutuk sambil cemburu pada semua pasangan. Kali ini, aku membawa Natsumi-chan, dan aku bisa menikmati festival sekolah —— Hmm? Tunggu sebentar. Terakhir kali aku melompati waktu, di masa depan nanti aku malah bertunangan dengan Natsumi-chan. Aku seharusnya putus dengan Hiiragi-chan begitu aku kelas 3. Menjadi seperti itu, karena aku tidak tahu bahwa masa depan akan jadi seperti itu ...
“Aku agak lelah, jadi aku mau beristirahat di sini juga.”
“... Dorobo-kun ... kamu pasti berpikir untuk melakukan sesuatu yang aneh-aneh, kan?”
“Kau salah.”
“Tidak perlu menyangkal sampai segitunya. Shishishi. Bahkan Mama sudah memberi kalian lampu hijau.”
“Kalau itu, yah, kau tahu sendiri. Semua orang punya temponya masing-masing. ”
“Ya ya, aku akan pergi dan menggoda Sana-chan.” ucap Natsumi-chan dengan acuh tak acuh saat keluar dari ruang UKS, tampaknya dia mau kembali ke rumah berhantu.
“Apak itu tidak apa apa? Seiji-kun?”
“Ya. Karena aku sudah banyak bergerak berkat stan kari dan kafe. ”
Memang benar aku lelah.
“Begitu ya.”
Hiiragi-chan mengendurkan mulutnya, dia tampak agak senang.
“Apa itu membuatmu membenciku ...? Rumah berhantu.”
“Aku sedikit terkejut, kau terus-terusan menutup matamu.”
“Aku belum pernah mengunjungi tempat yang begituan …... dan aku tidak pernah menonton film horor ...”
Mungkin karena dia mengingatnya, tapi Hiiragi-chan mengerang dengan ekspresi pahit. Bahkan saat kita menonton DVD di apartmennya, film yang ditonton tidak pernah bergenre horor atau yang penuh ketegangan.
“Sesuatu mungkin bakal tumbuh di antara cowok dan cewek yang tidak berpacaran jika mereka mengalami kejadian tadi.”
“Di sisi lain, kamu mungkin merasa kecewa.”
Membuat candaa mencemooh diri sendiri, Hiiragi-chan tersenyum gelap.
“Aku sama sekali tidak kecewa. Bersamamu membuatku merasa lebih kuat.”
“Benarkah? Aku tidak ingin melepaskan tangamu bahkan jika aku mati, tahu?”
Nah, genggamannya memang cukup kuat.
“… Itu benar. Aku tidak bermaksud hanya pada saat itu ... Selama sisa hidupku, aku tidak akan melepaskannya …...”
Hiiragi-chan memelukku. Menanggapi perasaannya, aku balas memeluknya
Menarik tirai yang ada di samping tempat tidur, aku melakukannya supaya tidak ada yang bisa melihat kita.
Satu tangan kami masing-masing memeluk pinggang, dan tangan yang lainnya saling menggenggam. Kami, yang telah sepenuhnya mengalami efek jembatan gantung, saling berpelukan saat kami saling berciuman dengan sangat mesra dan bergairah. Melupakan kelelahan dari festival sekolah, kami sepenuhnya memanjakan satu sama lain.


close

1 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama