The Result when I Time Leaped Chapter 30 Bahasa Indonesia


Darmawisata Sekolah - Bagian 5

Malam kedua.
Fujimoto dan yang lainnya kurang energik dibandingkan hari pertama, dan karena kelelahan, mereka cepat tertidur. Padahal, aku berharap ada semacam perang bantal ...
Melihat semuanya tertidur nyenyak. Aku juga berniat untuk tidur saat ponselku mulai bergetar.
"..."
Supaya tidak mengganggu orang lain karena cahaya ponselku, aku menutupi diriku dengan selimut.
“Apa kamu masih bangun? Aku ingin melihatmu, Seiji-kun. ”
Guu ... Hiiragi-chan langsung membuat undangan yang tak terduga.
"Tapi, Sensei, bukannya ini waktunya untuk tidur?"
"Mou, dasar pelit ~!"
Ah Imutnya…
Kalau begitu, kita ketemuan di tempat lain saja.
Karena semuanya sudah tertidur pulas, kalau aku pergi sekarang, mungkin tidak ada yang tahu. Yah, aku bilang tak ada masalah karena lampunya sudah dimatikan, jadi ayo kita lihat dewi yang terlalu imut ini. Setelah mengatur yukataku, aku memeriksa penampilanku di cermin dan meninggalkan ruangan.
"Ah, akhirnya kamu keluar juga!"
"Uwah!?"
Aku ditangkap oleh Hiiragi-chan yang sudah menunggu.
"Tunggu, ini masih di lorong!"
Aku berusaha keras melepasnya saat dia mencoba yang terbaik untuk mendekapku. Aku sangat terkejut ... Yah, kurasa dia berpikir kalau aku pasti akan keluar?
Sial, instingnya bagus juga.
"Sensei, apa yang sedang anda lakukan di sini?"
"Hiiragi-senseei, saat ini ... sedang berpatroli!"
Funya, Hiiragi-chan memberi hormat*. Dia mabuk lagi ... Dia mengenakan yukata, dan rambutnya tergerai lurus, tidak dikuncir seperti biasanya.
(TN : Hormat ala polisi atau pas upacara)
"Karena sudah masuk jam tidur, sebagai guru, aku harus memeriksa apakah ada murid nakal yang masih keluyuran."
"Benarkah?"
“Aku menangkap satu murid yang nakal, get it.”
Funi funi, dia bermain-main dengan pipiku. Astaga dia ini ...
"Tapi, kau memanggilku—"
"Kamu mencuri hati Hiiragi-sensei, dasar murid nakal."
Dia cengengesan. Uugh, dia benar-benar dalam mode mabuknya. Ayolah, dadamu itu, aku bisa melihatnya dengan jelas! Kau tidak memakai bra lagi, ya?
... Yah, kurasa itu karena cara berpakaian yukata ...?
“Seiji-kun, kamu selalu menatap dadaku. Dasar cabul
"Di-Diam. Si-Siapa juga yang melihatnya. Bukannya kau sedang bekerja? ”
"Ya."
"Karena kau selalu seperti ini, saat kau sadar, kamu akhirnya akan menyesali itu, ‘kan?"
"... Baiklah, aku minta maaf ..."
"Bar kesenangan" Hiiragi-chan terlihat berkurang pada saat itu. Ah, sekarang akulah yang merasa buruk padanya.
“Karena hanya aku guru yang lebih muda, aku dipaksa untuk melakukan tugas berpatroli, tahu? Mou. "
Sambil menyuarakan keluhannya, Hiiragi-chan cemberut. Dia merapikan yukatanya yang berantakan, dan berjalan tanpa tujuan. Jika kami ketahuan berjalan berdua seperti ini setelah lampu padam, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Hiiragi-chan yang dalam mode mabuk dan tak berdaya, mana mungkin aku membiarkannya sendirian, jadi aku mengikutinya.
"Karena aku merasa cemas, aku akan menemanimu."
"Siswa nakal akan ditahan."
Ucapnya, sembari meraih tanganku.
“Aku juga, aku menemukan seorang guru yang tak berdaya, erotis, dan imut.”
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Tentu saja, menangkapnya."
Aku juga, menggenggam tangannya yang lembut sebagai balasan.
"Kurasa, kita berdua saling menangkap."
Ayolah, jangan mengatakan sesuatu yang manis begitu. Aku nanti lebih mencintaimu, loh.
Sambil berbincang dan berpatroli, Hiiragi-chan berjalan menjauh dari tanda-tanda orang lain. Tidak ada siswa menempati kamar area ini. Kami berdua terus menyusuri lorong , lalu melewati jembatan, menuju gedung yang tidak terpakai.
Di dekat gedung itu, ada ruang istirahat kecil, dan di seberang penghalang kaca besar, ada halaman yang diatur dengan indah. Untuk bisa menikmati pemandangan itu, kami duduk di sofa dan saling berpegangan tangan dengan damai. Hiiragi-chan kemudian menyandarkan kepalanya ke pundakku.
Meski belum sepenuhnya sadar, aku bisa merasakan kehangatan telinga dan pipinya melalui yukataku. Semua lampu sudah padam, dengan disinari cahaya bulan perak yang menggantung di langit. Nnnnnnn ... mesin penjual otomatis di belakang sedang membuat suara rintihan kecil.
"... Kamu tahu, tempat ini benar-benar bagus, dan aku selalu berpikir untuk datang kesini denganmu Seiji-kun."
Aku tidak tahu bagus atau jeleknya kebun ini. Namun, sekarang aku tidak tahan untuk tidak melihatnya. Tampaknya, cara pandangmu itu tergantung pada orang yang bersamamu. Kemudian, kami berbicara satu sama lain dengan tenang. Kejadian apa saja yang terjadi hari ini. Aku pikir itu, oh, aku pikir... Ini percakapan yang tidak berarti sama sekali.
"Satu tahun dan sepuluh bulan lagi."
"Sampai aku lulus?"
"Ya. Dan, entah kenapa membuatku sedikit sedih. Diam-diam menyelinap di ruang staf, saling menyuapi, atau saling berciuman di ruang persiapan. Itu takkan terjadi lagi. ”
Terakhir kali saat aku lulus, yang bisa kulakukan hanyalah melihat Hiiragi-chan dari kejauhan, tanpa meminta nomor ponselnya dan tanpa mengungkapkan perasaanku padanya. Aku menyadari bahwa jika terus berusaha keras dan berjuang, hidupmu bisa berubah.
"Itu benar, tapi kalau di akhir pekan, kita bisa saling bertemu, kan?"
“Ini dan itu adalah hal yang berbeda. Jika Hiiragi-sensei tidak melihat Seiji-kun di sekolah, dia tidak bisa bersemangat lagi ... ”
"Aku menyukai Haruka-san yang bekerja keras."
"Aku akan melakukan yang terbaik!"
Oi,Oi apa tidak masalah kalau hanya begitu saja …... Maksudku, itu juga bagian lucu darinya.
Ayo kita beritahu dia sesuatu yang sudah lama aku pikirkan. Ini percakapan yang lumayan serius. Jadi, aku harus bisa mengatakannya sekarang.
“Haruka-san, kau pernah bilang kalau aku sudah lulus, aku tidak perlu bekerja, atau melanjutkan sekolah, ‘kan?”
"Ya. Aku akan merawatmu.”
"Tentang itu, emmm…. kupikir aku akan bekerja."
“Eh, kenapa? Kamu tidak perlu memaksakan diri. ”
Aku sama sekali tidak memaksakan diri. Itulah yang aku coba utarakan saat aku menjelaskan lebih lanjut.
“Kau terus melakukan yang terbaik sebagai guru meski itu pekerjaan yang keras, kan? Aku juga sama, aku ingin mencoba yang terbaik dalam sesuatu demi dirimu. ”
"Dan itu menjadi pekerjaan?"
"Ya itu benar."
"Pernyataan yang begitu dewasa…... meski kamu hanya kelas 2 SMA ..."
Mungkin karena terkejut, Hiiragi-chan berkedip beberapa kali. Karena di dalam diriku sudah bermental dewasa, aku sangat memahami apa artinya bekerja.
“Kurasa itu tidak baik untuk mendorong semua hal yang merepotkan pada Haruka-san. Selain itu, jika aku memperkenalkan diri kepada orang tuamu, bukannya nanti akan berakibat buruk kalau aku dicap sebagai pengangguran?. ”
Uuuuu, kamu ini masih SMA, banyak pilihan masa depan yang bisa kamu pilih ...”
Merengek sedikit, Hiiragi-chan hampir menangis.
"Jangan menangis."
"Tapi aku sangat senang …….. kamu sudah memikirkan masa depan kita bersama ..."
Fumiii, dan dengan cara yang aneh, air matanya jatuh mengalir di pipinya. Namun, jika aku tidak mengatakan ini dengan benar, hidupku akan berakhir seperti kehidupan benalu. Aku pikir bahwa jika itu untuk orang yang aku cintai, maka aku harus melakukan yang terbaik sambil melakukan pekerjaan yang membosankan.
Gusu gusu, setelah membersihkan hidungnya, HIiragi-chan mengusap air matanya.
“Itu adalah sesuatu yang aku harapkan ... tapi jika Seiji-kun mengatakan sesuatu seperti itu, aku akan menyerah. Lagian, itu hanya keinginan egoisku sendiri ... ”
"Apa?"
"Ya ... Jika kamu akan bekerja, bagaimana kalau kita bekerja bersama-sama?"
"Hmmm? Bersama?"
"Betul. Jika Kamu lulus dan kuliah, Kamu bisa menjadi guru. Dan kemudian Seiji-kun bisa menjadi guru di sekolah ini. ”
"Haa ... guru ... Haa!?"
"Maksudku, Kamu ‘kan pintar ... dan aku pikir kalau kamu mau bekerja, lebih baik kalau kita bekerja di tempat yang sama ... Kemudian, itu bisa seperti perkawinan di tempat kerja."
"Jika aku melakukan itu, apa kau mau menunggu sampai saat itu ...?"
Saat aku lulus SMA, dengan kesabaran yang dia miliki sampai sekarang, batas kesabarannya akan meledak pada saat itu.
“A-A-Aku bisa menunggu kok. ... Ah, tapi, menikah saat kamu masih kuliah, juga sesuatu yang mungkin ... mungkin ... ”
Dia langsung terguncang !?
“Yah, terlepas dari apa aku akan menjadi guru atau tidak, ayo sama-sama pikirkan itu nanti."
"Ya. Bersama."
Dug, dahi kami saling menempel dan kami pun berciuman. Saat aku membuka mataku, Hiiragi-chan sedang menatapku, dan entah kenapa itu membuatku tersipu malu dan kami berdua tertawa satu sama lain. Sampai fajar menyingsing, kami berdua terus bermain mata seperti ini.

Beberapa hari kemudian.
Cangkir yang dibuat di bengkel keramik sudah sampai di sekolah. Sentuhan akhir yang dibuat untuk kali ini ternyata cukup baik. Aku meminjam pita dari ruangan klub dan mendekorasinya seperti hadiah. Saat istirahat makan siang, aku menaruhnya di kantong kertas, dan membawanya ke ruang persiapan sejarah dunia.
“... Sensei. Aku punya sesuatu yang ingin aku berikan kepada anda. ”
"Ya. Aku juga sama, ada sesuatu yang ingin kuberikan pada Sanada-kun. ”
Seperti yang direncanakan, ini adalah pertukaran hadiah yang harmonis. Tapi, dia masih merasa senang.
"Terima kasih. Aku akan menghargainya!"
Ucapnya dengan senyum cerah seraya memeluk kantong kertas pemberianku.


Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya



Kimitsuki Chapter 1.1 Bahasa Indonesia



Chapter 1 : Short Season, Cold feeling

Bunga sakura bermekaran di sepanjang jalan di atas bukit. Saat aku selesai mendakinya, logo rumah sakit baru bisa terlihat dalam pandanganku. Itu adalah bangunan baru dan relatif bersih, dan entah bagaimana tidak terasa  seperti ada orang tinggal di sini. Meski ini adalah rumah sakit, namun memiliki nuansa yang mirip seperti bangunan kantor. Hal tersebut membuatku merasa sedikit lebih nyaman. Aku memberitahu resepsionis tentang keperluanku di sini dan segera diberitahu kamar mana yang di tuju.
Berpikir tentang bagaimana aku akan segera bertemu orang asing, Aku merasa sedikit gugup. Belum lagi fakta bahwa orang tersebut adalah seorang gadis yang telah dirawat di rumah sakit karena penyakitnya.
Aku merasa sedikit gelisah saat menunggu lift datang.
“Kudengar dia sangat cantik,” Seseorang mengatakannya padaku.
Nama gadis tersebut adalah Watarase Mamizu.

****

Selama jam pelajaran pertama di kelasku, Yoshie-sensei, guru wali kelas kami, berbicara dengan suara yang lantang.
“Watarase Mamizu-san telah dirawat di rumah sakit sejak SMP karena penyakit serius,” katanya. “Aku berharap bahwa dia bisa keluar dari rumah sakit secepat mungkin dan menikmati kehidupan sekolahnya dengan semua orang.”
Ada satu kursi kosong di kelas. Sekolah kami merupakan gabungan dari sekolah SMP dan SMA, sehingga murid yang hadir  tidak banyak berubah sejak dari SMP. Meski begitu, kelihatannya banyak yang tidak mengetahui siapa Watarase Mamizu.
“Aku dengar kalau itu penyakit luminesensi.”
“Jadi, dia mungkin takkan bisa datang ke sekolah, ya.”
"Siapa dia?"
“Rupanya dia belum pernah ke sekolah sejak Mei kelas 1 SMP.”
“Aku tidak ingat sama sekali.”
“Apa tidak ada yang punya fotonya ?”
Semua murid di kelas mulai sedikit bergosip tentang dia, tapi karena kurangnya informasi mengenainya, sehingga itu cepat berhenti.
Jika itu penyakit luminesensi, mungkin akan sulit baginya untuk kembali ke sekolah. Ini dikenal sebagai penyakit yang tak bisa disembuhkan.
Penyebabnya masih belum diketahui, metode pengobatannya pun belum ada.
Sangat mustahil untuk menyembuhkan penyakit ini. Itu sebabnya, kebanyakan orang yang menderita penyakit seperti ini akan menghabiskan seluruh hidupnya di rumah sakit.
Penyakit tersebut akan berkembang seiring  pasien tumbuh dewasa, dan gejalanya tiba-tiba muncul. Dikatakan bahwa kebanyakan pasien mengembangkan gejala-gejala di masa remaja mereka atau di usia dua puluhan. Setelah gejala muncul, tingkat kematiannya akan sangat tinggi; kebanyakan pasien meninggal sebelum menjadi dewasa. Ada banyak gejala yang berbeda, tapi ada satu karakteristik yang khas, yaitu fenomena aneh yang terjadi pada kulit pasien.
Kulit mereka bersinar.
Dikatakan bahwa pada malam hari, ketika cahaya bulan menyinari tubuh seseorang dengan kondisi tersebut, akan memancarkan cahaya samar-samar. Rupanya,  cahaya yang dipancarkan akan menjadi kuat seiring kondisi berlangsung. Itulah mengapa penyakit ini disebut penyakit luminesensi.
... Bagaimanapun juga,  tidak mungkin kalau gadis yang bernama Watarase Mamizu ini bisa kembali ke sekolah, pikirku, dan memutuskan untuk segera melupakan semua ini.

uuu

Beberapa hari kemdian, selama waktu istirahat, ada sebuah  kertas berwarna yang disodorkan di hadapanku.
“Okada, tulis sesuatu di sini,” kata orang yang  memberi kertas padaku.
“Apa ini?” Tanyaku.
“Kau tahu, apa lagi itu? Seseorang-san, orang yang menderita penyakit luminesensi. Semua orang harus menulisnya dan kemudian itu akan diberikan kepadanya.”
Tidak tertarik , pikirku sembari menggerakkan pulpenku di atas kertas berwarna.
Aku harap penyakitmu segera membaik. Okada Takuya.
Aku menulis kata-kata tersebut dengan lancar dalam waktu tiga detik dan kemudian melihat sekeliling untuk memberikan kertas tanda tangan untuk orang yang selanjutnya.
“Wow, Okada, itu polos sekali.”
“Selanjutnya, harus kuberikan pada siapa?”
“Semua orang di sini sudah mengisinya. Ah, kurasa Kayama masih belum. Pergi dan berikan padanya. Kau dan Kayama cukup dekat, bukan?”
“Kami tidak sedekat yang kau kira,” jawabku sebelum mendekati kursi Kayama.
Kayama Akira selalu berantakan seperti biasanya. Baju seragamnya keluar dari celananya, dan ia sedang berbaring di atas mejanya, terlelap seperti kayu. Dia memiliki tubuh yang tinggi serta rambut yang panjang. Namun Ia tidak memberikan suasana yang mirip seperti anak berandalan dan tidak memiliki kecenderungan terhadap kekerasan, tapi Ia bisa digambarkan sebagai orang yang  “tidak serius.”
Dia masih populer dengan kalangan gadis karena dia memiliki wajah yang cukup tampan, tapi Ia biasa menanggapi orang dengan sikap yang agak arogan. Oleh karena itu, sebagian besar dari siswa laki-laki sedikit menghindarinya.
“Kayama, bangunlah,” kataku.
“Tak kusangka kalau aku terpilih sebagai manajer asrama perempuan yang dipenuhi dengan gadis-gadis cantik ...”
Kayama mengigau dalam tidurnya. Sepertinya, dia sedang mengalami mimpi yang sangat indah, Namun aku terus mengguncangnya, mengembalikannya pada kenyataan.
"Hah? Okada? Ada apa?” Tanya Kayama.
Jika aku mempunyai pilihan, aku benar-benar tidak ingin mendekatinya. Tapi itu bukan karena ada hubungannya dengan diriku yang tidak bisa berurusan kepribadian menyimpangnya.
Di masa lalu, Kayama melakukan sesuatu yang membuatku berhutang budi padanya. Itu sebabnya, hal itu kurang benar untuk mengatakan bahwa kita ini adalah teman. Kata “penyelamat” adalah yang paling tepat untuk mendeskripsikan Kayama bagiku.
Ada sesuatu yang aneh tentangku saat aku berinteraksi dengan Kayama – entah kenapa aku merasa gugup di dalam diriku, bahkan ketika kami hanya sekedar mengobrol.
“Ini surat bersama,” kataku. “Kau tahu, untuk seseorang dengan penyakit luminesensi.”
“Ah.” Kayama mengambil kertas berwarna, dan kemudian menatap dengan pandangan agak linglung. “Watarase Mamizu, ya.”
Ekspresi dan suaranya tampak seperti sedang mengingat sesuatu di masa lalu.
“Apa kau mengenalnya?” Tanyaku, merasa terkejut.
“Tidak ......yah  sedikit, di masa lalu. Jadi, dia bermarga Watarase sekarang,” kata Kayama, seakan berbicara pada dirinya sendiri. “Yah, aku akan menulisnya.”
Setelah dia berkata begitu, aku kembali ke tempat dudukku sendiri.
“Okada, bagaimana akhir-akhir ini?” Tanya Kayama padaku.
“Bagaimana apanya?”
"Apa kau baik baik saja?"
“Aku baik-baik saja,” jawabku, sambil menekan rasa jengkelku.
“Kau selau menderita dari waktu ke waktu,” kata Kayama dengan nada yang terdengar seolah-olah dia bisa melihat apa yang kurasakan.
“Aku normal,” kataku. Ini bukan urusanmu, pikirku, namun aku tidak bisa mengatakan ini dengan keras.

*****
“Surat bersama yang ditulis oleh semua orang akhirnya telah selesai, jadi aku berpikir untuk meminta seseorang untuk membawa surat ini kepada Watarase-san di hari libur nanti. Aku yakin Watarase-san akan jauh lebih senang jika siswa yang mengantarnya dibandingkan diriku. Apa ada yang ingin pergi?” Tanya Yoshie-sensei.
Yoshie-sensei adalah wanita yang cukup cantik yang berusia awal dua puluhan, tapi mungkin karena dia belum lama menjabat menjadi seorang guru, cara dia melakukan homeroom masih agak kaku.
Bahkan setelah diberitahu semua ini, tidak ada seorang pun yang mengajukan diri dan hanya berpikiran, “merepotkan sekali.”
Tidak ada satu murid pun yang mengangkat tangan. Semua orang sudah menduga ini. Jika terus seperti ini, Yoshie-sensei pasti akan menunjuk seseorang untuk melakukan tugas tersebut. Semua orang menutupi wajah mereka,  tidak mencoba untuk menyembunyikan fakta bahwa mereka berharap tidak akan terpilih.
Dan kemudian, tiba-tiba, Kayama mengangkat tangannya. Semua orang terkejut dan menatap ke arahnya secara bersamaan.
“Aku akan pergi,” katanya.
“Ah, kalau begitu, maaf tentang ini, tapi kurasa aku bisa mengandalkan hal ini padamu,” kata Yoshie-sensei.
Pada saat itu, ada sesuatu jejak misterius di dalam ekspresi Kayama. Sesuatu yang menyerupai keberanian suram. Sulit untuk membayangkan bahwa dia rela menjadi sukarelawan.
... Jika memang tidak menyukainya, seharusnya Ia tidak mengatakan apapun. Mengapa Kayama mengatakan bahwa ia akan pergi? Pikirku, merasa sedikit penasaran.

*****

Akhir pekan pun tiba, dan pada hari Minggu, Kayama tiba-tiba meneleponku dan memintaku untuk menemuinya.
“Aku ingin minta bantuanmu,” katanya.
Kami tidak terlalu dekat untuk membuat kebiasaan bertemu satu sama lain pada hari libur, jadi ini bisa dianggap sebagai kejadian yang langka.
Merepotkan sekali, tapi aku menuju ke rumahnya karena aku sudah diberitahu.
“Aku terkena demam,” kata Kayama, yang datang ke pintu depan dengan menggunakan piyama, dan memakai masker. “Kau bisa lihat sendiri.”
Tapi Ia tidak terlihat seperti orang yang sedang menderita demam. Seolah-olah dia hanya menunjukkan cosplay orang sakit padaku.
“Jadi, bantuan apa?” Tanyaku, sedikit kesal.
"Ah, jadi ... aku tidak bisa pergi mengunjungi Watarase Mamizu," kata Kayama.
“Dan kau memintaku untuk pergi menggantikanmu?” Tanyaku, memastikan situasi.
“Yeah,” Jawab Kayama.
Dia kembali ke dalam rumahnya, dan setelah beberapa saat, dia kembali dengan tumpukan kertas dan barang-barang yang harus diberikan kepada Watarase-san.
“Aku mengandalkanmu,” katanya sambil memberikannya padaku.
Seakan tidak ingin memperpanjang percakapan lebih lanjut, Kayama masuk kembali ke dalam rumahnya. Sejujurnya, aku tidak bisa mempercayai semua ini.




The Result when I Time Leaped Chapter 29 Bahasa Indonesia


Darmawisata Sekolah Bagian 4

Hari kedua wisata sekolah.
Sesudah sarapan, kami mengunjungi tempat pembuatan keramik terdekat.
"Kenapa ke lokakarya keramik sih, kita ini bukan orang tua ..." (Murid jomblo A)
"Membosankan sekali ..." (Murid jomblo B)
"Ah ... ini sangat menyebalkan ..." (Fujimoto)
Semua siswa termasuk Fujimoto menyuarakan keluhan mereka. Terakhir kali, aku juga memiliki pendapat yang sama seperti omereka. Namun, kali ini aku merasa ini lumayan menarik.
“Jangan banyak mengeluh! Jika kita berpartisipasi dengan serius, aku yakin itu akan menyenangkan. Oke?"
Hiiragi-chan tersenyum pada Fujimoto dan siswa lainnya yang mengeluh.
"" "Ya ... jika Hiiragi-chan bilang begitu ..." "”
Kekuatan senyum sang Dewi memang sungguh luar biasa. Sebaliknya, semuanya benar-benar tersipu! Apa mereka benar-benar senaif ini !? Sepertinya mereka tidak terguncang karena itu Hiiragi-chan, tapi karena itu adalah senyum dari lawan jenis.
"Aku minta maaf karena terlalu berlebihan kemarin, oke ...? Aku… terlalu gegabah…. ”
Sambil menjatuhkan bahunya dan menunduk ke bawah, Hiiragi-chan akhirnya meminta maaf tentang kemarin. Setelah kembali ke kamarnya sendiri, dan menjernihkan pikirannya dari mabuk, tampaknya dia sangat merenungkan tindakannya, jadi aku tidak berhak untuk memarahinya. Sepertinya dia tidak mabuk, tapi kurasa dia masih banyak minum.
"Ti-Ti-Tindakan seagresif begitu ... Rasanya memalukan sekali ..."
Sepertinya dia berguling-guling di tempat tidurnya karena malu pada waktu itu.
“Kau bebas minum-minum dalam perjalanan ini, dan yah… aku tidak benar-benar menolaknya. Namun, lain kali, tolong jangan terlalu berlebihan lagi.”
Saat aku bilang begitu padanya, Hiiragi-chan mengangguk dengan sekuat tenaga. Semuanya sudah dikatakan dan selesai, kami berdua masih pemula dalam hal percintaan, jadi pengendalian diri kami masih sedikit longgar. Ketika kami tiba di lokakarya, kami memakai saat menguleni tanah liat sesuai dengan ajaran instruktur. Aku sangat suka bekerja dengan tenang dan hening seperti ini.
Sebelumnya, aku mengeluh dengan Fujimoto dan siswa lainnya sambil mengadoni tanah liat. Namun, kali ini, Fujimoto dan yang lainnya tidak bisa mengatakan sepatah kata pun setelah melihat senyuman Hiiragi-chan.
"Sedikit lagi di ujung ..."
“Hei, Fujimoto. Kau lagi buat apa sih?"
"Kau bisa tahu hanya dengan melihatnya."
"Apa maksudmu…?"
Apa ini? Apa itu lobak?
"Ini adalah kepala kura-kura."
“Jangan membuat hal-hal yang aneh seperti itu. Sebaliknya, tidak ada gunanya memberi bentuk sekarang, tahu? ”Beshan, kepala kura-kura itu dihancurkan dengan kepalan tangan.
"Tidaaaaaaaaaakkk!? Kon*** ...! "
Sudah kuduga. Saat aku melirik Hiiragi-chan, yang berada di dekatnya, wajahnya merah padam.
"Lihat, wajah Sensei memerah karena kau membuat bentuk cabul seperti itu."
"Jika kau ingin melihat yang asli maka kita bisa —"
"Hentikan itu. Dasar cabul. "
Hiiragi-chan melirik ke arah kami dan mengangguk seolah mengerti.
"Jadi itu ... Ja-jadi begitu ya bentuknya ..."
Dia benar-benar tertarik !? Dia juga sedang menguleni tanah liatnya, membuatnya menjadi bentuk semacam binatang.
"Selesai! Ini trenggiling! ”
Jika kau mau membuat sesuatu, buatlah sesuatu yang lebih bagus!
“Sensei, apa Anda membuat cangkir teh, atau mangkuk sup?” (Siswi A)
Gadis di sebelahnya bertanya. Gaan, Hiiragi-chan yang mendengar pertanyaan itu terlihat kaget.
"Ah, tapi, ini bukan trenggiling biasa, loh, ini trenggiling raksasa."
“Sensei, tidak masalah yang mana. Tapi, bukan itu masalahnya. ” (Siswi A)
Gadis di sebelahnya menbalasnya dengan serius, jadi aku bisa menonton dengan lega. Sebaliknya, Kenapa kau berpikir itu bagus selama itu adalah trenggiling raksasa.
"Jadi ini masalah kualitas, ya?"
"Baik kualitas tinggi maupun kualitas rendah, bukan itu poin utamanya." (Siswi A)
Ada seseorang yang benar-benar serius di sebelah Hiiragi-chan, jadi aku harus berkonsentrasi pada pekerjaanku sendiri. Aku memiliki pengalaman dari waktu sebelumnya, jadi kali ini sudah menjadi yang kedua bagiku. Aku yakin kalau aku bisa melakukannya lebih baik ketimbang terakhir kali.
Setelai selesai menguleni tanah liat, sekarang saatnya menggunakan roda tembikar untuk membentuk tanah liat. Perasaan dari tanah liat terasa cukup bagus. Melihat di sekelilingku, tidak peduli bagaimana kau melihatnya, aku adalah orang yang melakukan yang terbaik. Instruktur, di sisi lain, berkeliling membantu siswa membentuk tanah liat mereka, yang semuanya menjadi keras dan kaku.
"Ah."
Saat Hiiragi-chan mengangkat suaranya, mata kami saling bertatapan.
... Keramik, roda tembikar, kekasih ...
Apa yang terlintas dalam pikirannya, aku langsung mengerti. Aku tidak tahu namanya, tapi ini mirip  itu. Adegan terkenal yang sering ditampilkan di film.
"Aku cukup khawatir dengan yang lainnya, jadi aku akan pergi berkeliling dan memeriksa semuanya ♪."
Kau mengatakannya pada siapa, sih. Rasanya mencurigakan sekali karena dia tidak langsung datang ke tempatku berada. Setelah membuat jalan memutar, aku  menjadi orang terakhir untuk diperiksanya ...!
Aku melihat karya Hiiragi-chan sendiri, dan menyadari kalau karyanya berubah  menjadi sangat kaku. Kau bukan dalam posisi membimbing orang lain, tahu!
“Kalian terlihat hebat! Hmm? Hmmm? Sanada-kun, kamu belum membuat apapun. ”
"Be-Benarkah ..."
Tapi karyaku yang paling bagus!
"Aku akan membantumu . "
"Daripada mencemaskanku, anda seharusnya lebih khawatir tentang diri sendiri ..."
Hiiragi-chan yang pura-pura tuli, duduk tepat di belakangku, lalu meletakkan lengannya di pundakku, lalu telapak tangannya berada di atas tanganku. Rasanya seolah dia memelukku dari belakang.
"Kamu harus melakukannya begini ♪."
Guru jahat ini tahu kalau dia mendorong dadanya ke punggungku.
"Sensei, ini sedikit memalukan ... jadi aku ingin jika anda berhenti ..."
"Tapi jika aku tidak melakukan ini, aku takkan bisa mengajarimu dengan benar, ‘kan?"
Tatapan semua siswa laki-laki terfokus pada kami berdua.
"Sialan ... jika aku juga melakukannya dengan sangat buruk, aku juga bisa menjadi intim — maksudku, dipandu oleh Hiiragi-chan." (Murid Jones A)
“Apa-apaan itu, bikin aku iri — maksudku, aku juga ingin dipandu menggunakan gaya mengajar Hiiragi-chan.” (Murid Jones B)
“Aah. Ini buruk. Benar-benar buruk. Jika aku tidak mendapatkan bantuan, aku tidak bisa membuat apa-apa ... ” (Fujimoto)
Fujimoto, yang melirik ke arah Hiiragi-chan, akhirnya dibantu oleh instruktur pria.
"Bukan ini yang kuinginkan ...!"
Pupupu, jangan pikirkan itu, Fujimoto. Dengan bantuan tangan Hiiragi-chan, tanah liat yang kubikin mulai berubah bentuk, tapi tiba-tiba mulai berubah menjadi bentuk yang aneh.
"..."
"... Hei."
"... Un-untuk membuatnya dengan baik, terkadang butuh yang namanya kegagalan, iya ‘kan?"
Walaupun kau bilang begitu, jika kita mencoba buat ulang, mungkin tidak jauh berbeda  dengan keterampilan tanganmu yang mengerikan itu, Hiiragi-chan. Karena sudah begini, jadi apa boleh buat. Aku diam-diam meletakkan tanganku di atas tangannya.
"Biar aku coba."
"Ah ... ya ... "
Dengan suara tenang, kami melakukan percakapan rahasia.
"Di sini, kita melakukan ini, dan ini ...."
Pada akhirnya, alih-alih aku diajar oleh Hiiragi-chan, justru aku yang mengajarinya. Saat sudah selesai, Hiiragi-chan dengan enggan kembali ke tempat duduknya sendiri, dan melanjutkan karyanya sendiri.
"Mumumumu ... ini sulit ..."
Seperti yang kuduga, dia tidak mahir dalam kerajinan tangan, tapi, dia berhasil membuat sesuatu setelah berusaha. Karena butuh waktu lama untuk sentuhan akhir, produk jadi akan dikirim ke sekolah nanti.
Untuk mengetahui siapa saja yang membuat, semua siswa diminta untuk menandatangani karya mereka dengan cara yang unik. Terakhir kali, aku hanya menuliskan namaku, Sanada, tapi kali ini, aku akan mengubahnya sedikit.
S for H
Dari awal, aku berencana memberikan ini padanya, jadi aku akan membiarkannya begitu saja. Saat aku meletakkan karyaku sendiri, Hiiragi-chan datang untuk meletakkan karya miliknya.
"Ah…"
Dia mengeluarkan teriakan kecil, dan melihat bolak-balik antara wajahku dan cangkir yang telah aku buat. Fuguu, dia mengeluarkan suara lucu dan menekan dadanya.
"Hatiku berdetak sangat kencang dan kupikir aku akan mati."
"Sensei, apa yang anda buat?"
"Ini."
Dengan malu-malu, Hiiragi-chan menunjukkan vas bunga yang dia buat? Atau setidaknya itulah penampilan dari karya yang dibuatnya. Di dekat bagian bawah, ada tanda tangannya.
H for S
Dia bekerja keras demi diriku ...? Aku juga, aku harus menahan dadaku.
"Sanada-kun, ada apa?"
“Sesaat. Hatiku berdetak kencang dan kupikir aku akan mati ... ”
Mungkin karena merasa malu, Hiiragi-chan membersihkan tenggorokannya.
Kohon. Aku tidak tahu pada siapa cangkir yang kau buat itu, tapi aku kira kita berdua memiliki pemikiran yang sama, mungkin? ”
“Ya ... jadi ada orang lain yang juga berpikiran sama. Yah, meski aku tidak tahu untuk siapa vas bunga itu. ”
“Ini bukan vas bunga! Ini cangkir. Me-meski tidak terlalu bagus sih ... ”
"Ah, ini bentuknya unik, jadi tidak apa-apa."
“Itu benar, ini adalah karya unik hasil dari kerja kerasku. "
Saling bertatapan dengan Hiiragi-chan yang berkemauan keras, kami berdua tersenyum.
"Tidak apa-apa, orang yang akan anda beri nanti pasti merasa senang."
“Be-Benarkah? Syukurlah. Kamu juga, aku yakin orang yang kamu beri nanti akan sangaaaaaaaaaaaaaaat senang, loh?  Aku menantikan bagaimana produk jadinya. ”
Saat aku mengangguk, di saat tidak ada orang lain melihat, kami menyentuh punggung tangan kami masing-masing. Perasaan yang kurasakan sangat campur aduk, ada rasa malu namun juga ada rasa bahagia.
Seperti yang kuharapkan, pacarku adalah yang terbaik.